THE GOOD DINOSAUR: POSSIBLY THE MOST VIOLENT PIXAR ANIMATION EVER

THE GOOD DINOSAUR

Sutradara: Peter Sohn

Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios, Walt Disney Studios Motion Pictures, 2015

The Good Dinosaur

            No, ini bukan kali pertama Disney merambah ranah zaman purbakala dengan dinosaurus sebagai fokusnya. Sudah ada ‘Dinosaur’ tahun 2000 yang menampilkan teknik animasi gabungan live action dan computer animated secara berbeda sehingga tak dianggap dalam list resmi Walt Disney Animated Classics di beberapa negara hingga pihak Disney akhirnya mengklarifikasinya secara personal beberapa tahun setelahnya. Resepsinya tak terlalu baik walaupun masih dipuji atas pencapaian visual berbeda yang menampilkan animasi Disney bak dokumentasi realistik namun lagi, terbentur dengan kritik tampilan dialog sebagai fabel biasa yang tak sejalan dengan feel realistik tadi.

            However, ini adalah effort pertama Pixar di ranah temanya. Di tengah kebingungan John Lasseter dan para eksekutifnya atas kelangsungan animasi Pixar, oh yes, it’s true, walaupun ‘Inside Out’ mencetak beberapa rekor termasuk rave reviews dan kesempatan besar sebagai Oscar contender sebelum tahun depan mereka kembali menelurkan sekuel-sekuel atas karya terbaiknya, ‘The Good Dinosaur’ yang dirilis hanya beda beberapa bulan di tahun yang sama dengan ‘Inside Out’ pun masih diwarnai dengan kasus gonta-ganti kru utama seperti yang terjadi pada ‘Brave’. Bob Peterson, sutradara ‘Up’ dan penulis beberapa animasi Pixar akhirnya diganti secara resmi dengan Peter Sohn, animator dan storyboard artist dari ‘Finding Nemo’, ‘The Incredibles’ dan ‘Ratatouille’. Lupakan dulu soal kemenangannya di Oscar, namun seperti ‘Brave’, ini sudah menunjukkan adanya kisruh soal ide-ide kreatif dalam pembuatannya. Toh trailer dan promo-promo-nya tetap kelihatan meyakinkan meski lagi-lagi terpaksa berada di bawah bayang-bayang pencapaian tinggi ‘Inside Out’ dalam effort spesial Pixar.

            Satu hal spesial lagi adalah ‘The Good Dinosaur’ (di luar ‘Wall-E’ yang sempat di-dubbing bahasa kita di dialognya yang berjumlah minim saat dirilis tahun 2008) merupakan pertama kalinya animasi Disney secara resmi dirilis dalam judul lokal. Dibandrol dengan judul ‘Dino yang Baik’, tak peduli seberapa banyak cibiran yang muncul menjelang perilisannya, sungguh bukan hal gampang mendapatkan kepercayaan Disney dalam masalah dubbing di perilisan luar negaranya. Negara tetangga terdekat kita, Malaysia saja sudah diberikan kepercayaan ini sejak ‘Tarzan’ belasan tahun lalu sampai ke theme songYou’ll Be in My Heart’ yang dibawakan penyanyi terkenal mereka Zainal Abidin dengan judul ‘Kau di Hatiku’. So yes, di luar ketidaksukaan kita menyaksikan film luar dengan dubbing lokal, ini tetap sebuah hal yang boleh dibanggakan. Next, mungkin akan ada film TV atau bioskop resmi produksi Disney, siapa tahu?

            Ber-setting seolah di alternate timeline sejarah kepunahan dinosaurus, keluarga Apatosaurus yang hidup sebagai petani jagung di sebuah hamparan pegunungan; Henry dan Momma Ida (Jeffrey Wright dan Frances McDormand) melahirkan tiga anak; Libby (Maleah Padilla), Buck (Marcus Scribner) dan si bungsu Arlo (Raymond Ochoa) yang agak berbeda. Tak seperti orangtua dan saudara-saudaranya, Arlo yang berpostur kecil dan agak penakut memang kerap dianggap tak mampu diandalkan. Usaha Henry untuk menanamkan keberanian dalam sebuah misi yang diberikannya pada Arlo sayangnya berakhir mengenaskan akibat hujan badai yang menghanyutkan Henry di sungai deras. Kegalauan Arlo mempertemukannya dengan seorang bocah purbakala – belakangan diberi nama Spot – yang terdampar di ladang mereka, dan lantas memisahkan Arlo jauh dari rumah dan keluarganya ke sebuah petualangan keras di zamannya. Menghadapi sekumpulan Pterodactyl jahat; Thunderclap (Steve Zahn), Downpour (Mandy Freund) dan Coldfront (Steven Clay Hunter), Velociraptor ganas yang dipimpin Bubbha (Dave Boat), untunglah ada keluarga T-Rex; Nash (A.J. Buckley) dan Ramsey (Anna Paquin) serta ayahnya Butch (Sam Elliot) yang membantu Arlo dan Spot. Di tengah kerasnya tempaan alam ini, dua spesies beda yang berkembang jadi unlikely friend ini saling membantu untuk menemukan jati diri mereka sebenarnya.

            Skrip yang ditulis Meg LeFauve, juga penulis ‘Inside Out’ bersama Pete Docter, memang memilih cara unik untuk menyampaikan storytelling atas ide keroyokan Peter Sohn, Erik Benson, Kelsey Mann, Bob Peterson dan LeFauve sendiri – yang mengalami masalah tadi dalam prosesnya. Memindahkan setting zaman purbakala ke sebuah alternate timeline dimana dinosaurus-dinosaurus ini tak sepenuhnya punah sejak kejatuhan asteroid 65 juta tahun lalu seperti sejarahnya, ia memasang set southern American farm untuk menggelar petualangan para karakternya bak sebuah drama western. Disini pula, sentuhan fabelnya dipertahankan dimana dinosaurus-dinosaurus ini merupakan talking characters, sementara cavemen termasuk caveboy Spot sebagai karakter manusia justru sebaliknya.

       Tak ada juga yang salah dengan itu sebagai pilihan mereka untuk menyampaikan penceritaannya. Walau di satu sisi sebagian penonton awam mungkin akan bertanya-tanya atas alasannya, di sisi lain, ini adalah pilihan efektif serta secara tak biasa, terasa cukup cerdas buat genre-nya. Di situ, reference terhadap film-film live action atau kombinasi animasi komputer dengan set dan moral pencarian jati diri sama seperti ‘City Slickers’ (lihat karakter Butch-nya Sam Elliot yang sangat mengingatkan ke karakter klasik Jack Palance disana) atau ‘Babe’ dan seabrek tema-tema alam Barat yang keras sangat terasa muncul ke tengah-tengah skrip LeFauve dalam menampilkan petualangan dua karakter utamanya. Menambah feel heartwarming serta satu sasaran yang tak tahu kenapa akhir-akhir ini jadi seperti satu syarat pencapaian dalam film-film animasi Pixar. Tearjerker dan airmata sebagai titik tolak keberhasilan mereka.

            Salahnya, skrip LeFauve, pengarahan Peter Sohn dan usaha-usaha senada dari Lasseter sebagai penanggungjawab tertinggi studionya belakangan ini, entah karena sedemikian terpengaruh oleh animasi-animasi Ghibli dan Hayao Miyazaki, justru seperti agak kebingungan menyatukan blend atas eksistensi animasi Pixar, terlebih dengan bandrol Disney yang tetap membidik semua kalangan usia dengan ide-ide realistis buat menggambarkan kerasnya tempahan alam liar di zaman purbakala. Nanti dulu soal deceased characters, no matter how traumatic to some ages, karena ini juga sebenarnya sudah dimulai Disney lewat ‘Bambi’ ke ‘The Lion King’.

          Selagi ‘Inside Out’ punya ketidakseimbangan itu dengan penelaahan kompleks soal psikologisnya, disini, secara visual, ‘The Good Dinosaur’ malah membentuk racikannya dengan violent ideas dari chopping out heads, smashing other species, eating them alive and scrapping body parts ke tengah-tengah pengadeganannya. Bahkan film-film live action seperti ‘Jurassic Park‘ bisa meng-handle hal-hal sejenis dengan lebih layak buat tontonan segala umur, tapi apa yang hadir dengan blend-nya di ‘The Good Dinosaur‘ sungguh tak sehalus itu. Benar bahwa ada ide-ide mengagumkan soal lingkup dan makna keluarga serta persahabatan yang tersampaikan dengan luarbiasa menyentuh, namun adegan-adegan sadis ini dengan sendirinya justru membatasi persepsi-persepsi child-friendly tadi untuk benar-benar aman disaksikan kalangan pemirsa usia belia terutama balita.

            However, tak bisa dipungkiri bahwa bahkan dibanding ‘Inside Out’ dan sejumlah animasi Pixar lainnya, ‘The Good Dinosaur’ punya top notch visual design yang membuat cinematic experience-nya jadi cukup luarbiasa. Penggambaran panorama alam yang mendominasi ‘The Good Dinosaur’, menjelaskan keras, lembut bahkan keindahan melebihi desain animasi karakternya, terutama visual air sampai ke gerakan-gerakan alirannya, apalagi dibantu penempatan 3D dengan depth yang kuat, tak spesial namun menambah detil – adalah sebuah notable achievement di antara animasi-animasi Pixar yang ada. Ini jelas tak mudah, dan masih ada scoring cantik dari Mychael Danna dan Jeff Danna untuk mengiringi letupan-letupan emosinya, satu yang lagi-lagi jadi signature Pixar akhir-akhir ini. Add a country theme song sebenarnya tak salah juga.

          So, sama seperti sejumlah karya-karya Pixar, ‘The Good Dinosaur’ tetap bisa menyampaikan perpaduan antara animasi dengan sentuhan realisme yang kuat buat menjelaskan perbedaan tegasnya dengan Walt Disney Animated Classics. Hanya saja, buat sebagian kalangan umur, statusnya sebagai (mungkin) the most violent Pixar animation, ever, jelas punya resiko cukup besar. (dan)

~ by danieldokter on December 8, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: