POINT BREAK: GREAT VISUALS OVER AN UNEVEN REMAKE OF THE ‘90S ACTION CLASSIC

POINT BREAK

Sutradara: Ericson Core

Produksi: Alcon Entertainment, DMG Entertainment, Taylor/Baldecchi/Wimmer Production, Studio Babelsberg, 2015

point break

            Tak terlalu banyak generasi penonton kita sekarang yang benar-benar mengenal ‘Point Break’ sebagai salah satu showcase terbaik Keanu Reeves preThe Matrix’ di tahun 1991 yang dibesut oleh Kathryn Bigelow. Sebagian lagi, menganggapnya sebagai cult action classic. Mungkin ini tak juga sepenuhnya tepat, karena dalam ukuran masa rilisnya, ‘Point Break’ yang mengacu pada sebuah surfing term, sebenarnya termasuk dalam box office success, dan memang masuk ke hampir semua list action bible. Dan ini bukan tak punya alasan sama sekali.

            Di luar pengarahan Kathryn Bigelow yang memang punya visi berbeda sejak awal karirnya di genre aksi (‘Blue Steel’ adalah salah satunya), skrip asli ‘Point Break’ oleh W. Peter Iliff memang bekerja seperti sebuah keajaiban yang jarang-jarang terjadi. Menyemat dua karakter memorable-nya, Johnny Utah (Reeves) dan Bodhi (Patrick Swayze), walau bukan baru sekali tema-tema undercover cop masuk terlalu dalam ke sebuah sindikat perampok sasarannya (sebelumnya sudah ada ‘No Man’s Land’ – 1988 yang disini beredar dengan judul ‘The Trap’), skrip itu tak sekalipun terlihat mencoba membangun karakter antagonis yang diperankan Swayze jadi seolah pahlawan buat penontonnya. Mengepalai gang perampok bank bertopeng mantan Presiden AS di balik ide-ide anti kemapanan yang terjelaskan luarbiasa gamblang lewat aktivitas-aktivitas extreme sports, dari surfing bahkan terjun bebas, Swayze pasca ‘Ghost’ memerankan Bodhi persis seperti yang dimaui storytelling-nya dengan aura spiritual yang kuat bersama nama itu, menyita empati penonton hingga tak lagi sadar posisinya adalah seorang antagonis.

           Sementara di sisi lain, tak ada yang menyangka Keanu Reeves yang biasa tampil cemen dengan potongan rambut aneh di film-film remaja dan komedi bisa bertransformasi jadi seorang action hero dengan kharisma yang juga luarbiasa. Perpaduan dua karakter di balik hubungan kompleks dan dilematis mentor – protege ditambah supporting cast yang kuat dari gang peselancar, female lead Lori Petty yang juga ikut terangkat setelah ‘Point Break’ hingga atasan Utah yang diperankan Gary Busey ini masih diwarnai oleh extreme action sebagai elemen terbesar pacuan adrenalinnya.

             So, there are two sides of coin to that quality. Di satu sisi, elemen dan aspek-aspek yang ada di dalamnya, terutama extreme action tadi, jelas menjanjikan eksplorasi visual yang luas dalam sebuah remake, apalagi, saat remake-nya diarahkan oleh salah satu nama kunci dalam franchise raksasa yang (kabarnya) diilhami oleh premisnya. Ericson Core, DoPThe Fast and The Furious’ dalam debut penyutradaraannya. And imagine this in 3D. Tapi sebaliknya, mungkin sulit memang mengulang kedalaman pencapaian ‘Point Break’ dalam character arcs yang begitu kuat dibawakan oleh Swayze dan Reeves. Ini sudah dibahas sejak rencana remake-nya dipublikasi, dan mungkin ada harapan yang baik dengan cast yang akhirnya jatuh ke Edgar Ramirez dan Luke Bracey. While Ramirez is obviously tak sebanding dengan Swayze di masa itu – namun punya kredibilitas cukup dalam genre sejenis, sebagai talenta aksi baru, Luke Bracey sebelumnya sudah menyita perhatian dalam ‘The November Man’. Ingat lagi bahwa sebelum versi 1991-nya, Keanu Reeves pun tak pernah terbayangkan akan merambah genre aksi.

            Tak jauh dari premis asli versi 1991-nya, FBI rookie Johnny Utah (Luke Bracey) ditugaskan atasannya (Delroy Lindo) untuk menyusup ke sebuah kelompok penyuka extreme sports yang dipimpin oleh Bodhi (Edgar Ramirez). Dicurigai sebagai mastermind di balik serangkaian perampokan bank, kasus ini menjadi spesial karena hasil rampokan itu mereka bagi-bagikan bak Robin Hood ke tengah-tengah masyarakat miskin di berbagai negara hingga mengancam kestabilan ekonomi dunia. Untuk menarik perhatian Bodhi, Utah pun terpaksa mengikuti aktivitas-aktivitas berbahaya mengarungi berbagai negara mulai dari snowboarding, wingsuit flying, rock climbing, high speed motocross hingga ikut mengejar ombak raksasa buat berselancar. Namun ini juga yang membuatnya masuk semakin dalam bahkan mulai mengagumi Bodhi, juga sikap dan pilihannya hingga mengundang kecurigaan agen lapangan Pappas (Ray Winstone) yang dikirim atasannya untuk mengawasi Utah. Apalagi ada Samsara (Teresa Palmer), satu-satunya anggota wanita sekaligus punya kaitan spesial dengan Bodhi yang menarik perhatiannya sejak pertama kali menyusup.

           Untuk penyuka ‘Point Break’ versi 1991, jelas ada satu bagian paling krusial yang pupus sama sekali disini. Benar bahwa di bawah arahan director –DoP Ericson Core yang punya kredit sinematografi di adegan-adegan aksi dalam ‘The Fast and The Furious’ itu extreme action scenes di versi baru ini tampil luarbiasa impresif dengan detil-detil tak terbayangkan bak sebuah dokumentasi extreme sports yang direkam dengan action camera resolusi tinggi. Sama dengan tampilan stunts yang jadi dayajual utama versi 1991 (yang kabarnya benar-benar menempatkan Keanu Reeves dan Patrick Swayze melakukan wingsuit flying tanpa stuntman), faktor ini muncul begitu cantik dalam versi barunya. Namun kedalaman storytelling Kathryn Bigelow dalam penyajian character-arcs dan chemistry-nya, juga tak boleh dilupakan sebagai elemen terbaik mengapa ‘Point Break’ versi 1991 jadi berstatus klasik, benar-benar hampir nol besar.

           Faktor pertama mungkin ada di nama penulis Kurt Wimmer, director/writer yang sebelumnya memang sudah teruji di genre aksi. Walau mungkin kiprahnya sebagai penulis di ‘The Thomas Crown Affair’, ‘Street Kings’, ‘Salt’ dan ‘The Recruit’ masih mampu bekerja sebagai paduan utuh aksi dengan intriguing plot, apa yang ia hadirkan di ‘Point Break’ lebih ke film-film lain dalam filmografinya sebagai sutradara seperti ‘Equilibrium’, ‘Ultraviolet’ atau debut B-movie-nya ‘One Tough Bastard’ (that’s if you’re not forgetting his failed writing works in ‘Total Recall’), dimana action-nya bekerja secara superfisial namun di atas plot setipis kertas. Sementara sedikit tambahan latar Johnny Utah sebenarnya bisa menambah penekanan motivasinya, entah memang merasa tak mungkin mengulang kekuatan Bigelow, eksistensi Bodhi dan gang-nya harus sejelas mungkin digagas dengan pesan-pesan kebaikan demi membangun empati spiritual terhadap karakternya, yang akhirnya justru terasa bertolak belakang dengan kebanyakan penokohannya, dan makin membuat konklusinya jadi begitu kedodoran.

        Belum lagi hal-hal obvious lain seperti sematan nama Samsara menggantikan Tyler-nya Lori Petty buat semakin menekankan aspek spiritual tadi. Kelihatan terlalu sibuk membangun action scenes-nya, namun melupakan juga bank-robbing scenes yang harusnya bisa saja digantikan sama kuat dengan aksi-aksi pembagian jatah ala ‘Robin Hood’ tadi, kalaupun itu pilihan akhirnya, ia juga melupakan pace versi 1991 yang dibangun dengan perlahan tapi begitu kuat memicu adrenalinnya menjadi serba terburu-buru ke second dan final act-nya dengan hanya menyisakan adrenalin itu sebatas extreme sports scenes-nya saja. Physical action-nya pun kesannya hanya tempelan.

        Sudah begitu, dua pentolan utamanya pun gagal menyamai kharisma serta chemistry Swayze dan Reeves di versi 1991. Kala sebuah remake, apalagi yang digagas di atas pencapaian tinggi source-nya yang berstatus klasik memang mau tak mau tak bisa menghindari perbandingan, Ramirez terlihat sangat lemah walau secara fisik punya potensi, sementara Bracey yang mungkin sedikit terlihat terlalu berumur untuk disandingkan sebagai protege terhadap Ramirez pun tak terlihat berusaha menciptakan the whole new Johnny Utah tapi malah sibuk meniru intonasi Reeves di film aslinya. Bro-themes yang kuat dalam versi 1991 di antara Bodhi & the gang bersama Utah itu muncul luarbiasa awkward, not believable bahkan ke porsi Bracey dan Palmer yang seharusnya jadi distraksi kuat di tengah hubungan-hubungan kompleks itu. Hanya Ray Winstone yang terlihat cukup kuat mengimbangi part Gary Busey sebagai Pappas, tapi itu pun tak diberikan ruang sama oleh skrip Wimmer buat mendistraksi pilihan Utah terhadap Bodhi yang sama-sama berada di porsi mentor buatnya.

         So, apa boleh buat. Trailer serta potensi-potensi lain yang sebenarnya bisa sangat menjanjikan itu akhirnya benar-benar tak bisa tampil seperti yang diharapkan, bahkan hampir seperti langit dan bumi bila dibandingkan dengan source aslinya. Penonton lain yang belum pernah menyaksikan versi 1991-nya mungkin tak terlalu terganggu karena masih ada sajian extreme sports action yang secara visual tergolong sangat baik dan luarbiasa menarik, tapi sayangnya, itu pun belum cukup untuk mengemas penceritaannya secara keseluruhan. Having lack of emotions, this is an uneven remake of the ‘90s action classic. Sayang sekali. (dan)

~ by danieldokter on December 15, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: