STAR WARS: THE FORCE AWAKENS ; A HYMN TO THE FRANCHISE’S FORMER GLORY

STAR WARS: THE FORCE AWAKENS 

Sutradara: J.J. Abrams

Produksi:  Lucasfilm Ltd., Bad Robot Productions, Walt Disney Studios Motion Pictures, 2015

star wars the force awakens

            …”A long time ago, in a galaxy, far, far, away”…. 38 tahun dari instalmen inisial George Lucas lewat ‘A New Hope’, ‘Star Wars’ memang tak lagi jadi sekedar space opera franchise Hollywood, tapi jauh lebih dari itu, a lifetime culture sekaligus standar yang belum bisa tergoyahkan dalam genre bahkan elemen-elemennya hingga ke fanbase dan penjualan merchandise. Selain edisi spesial trilogi yang dilepas di perayaan ulangtahun ke -20-nya, ada usaha dari Lucas untuk mengulang kembali kesuksesan itu lewat trilogi prekuel yang dirilis bertahap setelahnya (1999 – 2005), namun sayangnya, meski tetap jadi bagian dari kebesaran franchise-nya, kualitasnya mengecewakan banyak orang. So, ketika lewat proses panjang rights-nya yang kini dipegang oleh Disney diikuti dengan rencana melanjutkan trilogi baru yang memang sudah direncanakan Lucas sejak awal, now with spin-offs, too, ekspektasi itu pun kembali melambung dimana-mana, bahkan bagi generasi baru era internet yang belum pernah merasakan keajaiban itu.

            Pencarian sutradara baru untuk menggantikan Lucas yang tetap ada di balik semuanya, tetap bersama aliansinya; Steven Spielberg dan Kathleen Kennedy – dalam suntikan ide-ide kreatif pun akhirnya jatuh ke tangan J.J. Abrams; once a young padawan yang pernah di-hire Spielberg untuk memperbaiki film 8mm-nya ketika masih berusia 16 tahun. Meniti karirnya sejak itu, dari film-film seperti penulis skrip di ‘Regarding Henry’, ‘Forever Young’ ke puncak segalanya me-rebootStar Trek’ hingga sekarang, konsepnya sebenarnya sudah bisa terbaca. Bahwa mereka memang meletakkan layer paling dasarnya ke sineas yang sangat menghargai legacy franchise-nya, dimana Abrams sepertinya merupakan pilihan tepat. Menggagas skrip baru kelangsungan trilogi ini, ada penulis kawakan Lawrence Kasdan dari ‘Empire Strikes Back’ dan ‘Return of the Jedi’ bersama Michael Arndt dan Abrams sendiri.

            Proses-proses kreatifnya tetap dipenuhi kontroversi, walaupun kembalinya pemeran-pemeran inti dari Mark Hamill, Harrison Ford, Carrie Fisher, Peter Mayhew (Chewbacca) sampai duo ikon humanoid/droid C-3PO (Anthony Daniels) dan R2-D2, plus John Williams sebagai komposer jelas tetap menjaga ekspektasi itu. Salah satunya tentulah pemilihan John Boyega di balik isu-isu warna kulit sebagai salah satu pemegang kendali utama trilogi barunya. Sementara ada Daisy Ridley yang masih tergolong wajah baru dan Oscar Isaac yang sudah lebih dikenal. Di porsi antagonisnya, ada Adam Driver sebagai main villain baru buat menggantikan porsi Darth Vader, juga sosok bertopeng bernama Kylo Ren, lantas Domhnall Gleeson beserta isu-isu cameo yang salah satunya juga menyebut nama Daniel Craig di balik kostum stormtrooper. Dari serangkaian trailer yang tetap menyimpan plot-nya rapat-rapat serta sangat penuh rahasia, penantian panjang itu akhirnya usai diikuti dengan rekor demi rekor yang menunjukkan di tangan Disney, konsep hingga pemasarannya memang tak pernah main-main. And we know, suka atau tidak secara personal, the force lives on.

            Kemenangan The Force dan para Jedi di ‘Return of the Jedi’ ternyata tak berlangsung lama. 30 tahun setelah kejatuhan Darth Vader dan Galactic Empire, kini muncul aliansi dark side – imperial galaksi baru bernama ‘The First Order’ yang mulai melancarkan serangan ke republik. Dikomandoi oleh sosok bertopeng bernama Kylo Ren (Adam Driver), The First Order pun memburu Luke Skywalker (Mark Hamill), ksatria Jedi terakhir yang mengasingkan diri entah kemana. Dalam pencariannya, pihak pemberontak – The Resistance – yang dipimpin Leia Organa (Carrie Fisher) – no longer a Princess – mengirim pilot X-wing jagoannya Poe Dameron (Oscar Isaac) ke Planet Jakku menemui tetua Lor San Tekka (Max Von Sydow) untuk mencari sambungan peta lokasi Luke yang sebagiannya tersimpan dalam memori droid BB-8 milik Poe. Poe yang sempat tertangkap melarikan diri bersama Finn (John Boyega), stormtrooper berhati emas yang menolongnya, namun sayangnya kembali terpisah oleh sebuah kecelakaan. Di situlah kemudian, Finn yang mencari BB-8 atas penjelasan Poe bertemu dengan Rey (Daisy Ridley) – pemulung angkasa yang lantas bertualang bersamanya atas legenda itu; bergabung dengan jagoan-jagoan angkasa dan sisa-sisa The Force untuk meneruskan quest pencarian Luke di tengah kejaran The First Order.

            Sebagaimana halnya The Force dan The Dark Side, di tangan Abrams dan Kasdan – Arndt, ‘The Force Awakens‘ juga punya dua sisi yang bisa jadi saling bertolak belakang terhadap resepsi banyak ragam pemirsanya. Di satu sisi, Abrams menyemat style yang hampir jadi signature tetapnya menangani ‘Star Trek’, dengan inverse elements ke source yang dipilihnya – namun bukan sekedar merombak template, but obviously over the love – dan ini sangat terasa buat pemirsa dan fans yang benar-benar menyelami universeStar Wars’ selama ini.

           ‘The Force Awakens’ memang kerap terasa seperti rehash ke ‘A New Hope’ yang mengawali segalanya buat menyemat tribute demi tribute, homage demi homage di tengah permainan fan services yang nyaris seperti sebuah hymne dengan cetak biru yang digagas nyaris step-by-step dari apa yang kita temukan dalam ‘A New Hope’. Buat fans, ini jelas merupakan penghormatan luarbiasa yang mengundang aplaus luarbiasa saat kita kembali melihat karakter-karakter legendaris itu muncul di atas glorious touch di setiap scene andalannya – lengkap dengan sparks tiap elemennya – that includes persona Ford, Fisher, Mayhew, Daniels, R2-D2 dan konsultannya Kenny Baker, beberapa karakter lama yang kembali tampil seperti Admiral Ackbar, oh yeah, Millennium Falcon and lightsabers, too, bahkan satu elemen kunci di pengujungnya plus tiap bagian komposisi scoring dari John Williams, sementara untuk yang sekedar penonton, bisa jadi sebuah lazy efforts. Tapi di situlah memang Abrams dan duo penulisnya memainkan takdir karakter-karakter ini untuk mengulang lagi konflik-konflik lama buat jadi landasan trilogi barunya.

            Di satu sisi feel nostalgic itu tampil begitu luarbiasa sebagai fan services, nyaris sebuah total recall, bukan berarti sama sekali tak ada energi baru yang berhasil mereka suntikkan lewat karakter-karakter barunya. Sebagai Poe, Oscar Isaac sudah mencuri perhatian lewat tough guy presence yang kuat sejak awal kemunculannya. Walau tak diberi terlalu banyak porsi, Poe adalah karakter yang mampu berdiri kuat dan dinanti buat muncul kembali di instalmen selanjutnya. John Boyega, surprisingly against all odds, tampil begitu memikat meng-handle porsi humor yang di trilogi sebelumnya dicoba Lucas lewat karakter Jar-Jar Binks namun jatuh jadi annoying buat banyak orang hingga gagal total. Here, in a good way, Boyega mewarnai ‘The Force Awakens’ sebagai tumpuan fun factor yang luarbiasa lepas di tengah homage-homage sematannya; menyatu dengan chemistry kuat bersama tokoh-tokoh lamanya.

      Namun bintang sebenarnya tetaplah Daisy Ridley sebagai Rey dengan masa lalu kabur yang belum lagi dibuka di Episode VII ini. Sekuat stare-act, permainan tatapannya saat melihat kembali jagoan-jagoan legendaris ‘Star Wars‘, Ridley dengan luarbiasa menerjemahkan permainan Abrams atas twists and turns karakternya; diintroduksi dengan Hamill’s Luke Skywalker dan berakhir sebagai Ford’s Han Solo. Gesturnya bisa menampung semua kekuatan karakter-karakter utama ‘Star Wars’ dalam konsep all-in-one, sama kuat dengan Carrie Fisher dulu ataupun Natalie Portman di trilogi prekuelnya. A tough space girl-scavenger yang bakal memegang takdir kunci ke keseluruhan konsep baru triloginya nanti.

            Sayangnya, ada sedikit flaws dalam bangunan konsep karakter Kylo Ren sebagai villain barunya. Ini memang terpulang lagi pada pilihan Abrams – Kasdan – Arndt dalam menggagas inverse plays mereka ke universe-nya, yang tak salah, namun tak bisa benar-benar tampil kuat di tangan Adam Driver yang agak minus dalam presentasi ekspresi-ekspresinya. Secara gestur boleh jadi ia adalah pilihan tepat untuk berada di balik sosok Kylo Ren buat berhadapan dengan karakter-karakter utamanya, namun saat Kylo Ren membuka topeng dan menerjemahkan porsi galau-galauannya di balik ambisi terpendam karakter pengganti Darth Vader itu, ekspresi Driver nyaris kosong dan ini berpengaruh ke satu key scene terpenting yang juga jadi salah satu rahasia terbesar ‘The Force Awakens’ sebelum dilepas ke publik, membuat emosinya begitu terasa tak maksimal buat jadi trigger ke banyak konsekuensi kelanjutannya nanti, apapun itu. Bahkan penampilan Hayden Christensen yang banyak menuai kritikan di trilogi prekuelnya jauh lebih kuat saat bertransformasi ke dark side dalam ‘Revenge of the Sith’ walau benar, di balik permainan make-up tambahan. Ini, apa boleh buat, jadi satu kegagalan terbesar ‘The Force Awakens’ selain sebagian fans yang jelas tak rela dengan turnover plot itu.

            Then the rest adalah pendukung lain dan semua gimmick-gimmick untuk menyambung kemegahannya sebagai peletak standar genre-nya. Dari set, efek ke gimmick 3D and ups, IMAX, treatment-treatment tandingan ataupun 4DX ride,  ‘The Force Awakens’ lagi-lagi sudah berhasil menjelaskan kenapa ‘Star Wars’ tetap ada di lini terdepan genre-nya, sementara di luar segudang uncredited cameos dan Simon Pegg sebagai Unkar Plutt, masih ada dukungan bagus dari Dave Chapman & Brian Herring sebagai puppeteersBill Hader & Ben Schwartz sebagai vocal consultants untuk BB-8 yang jadi salah satu cuteness factor baru, Lupita Nyong’o sebagai Maz Kanata, Domhnall Gleeson sebagai General Hux – menempati porsi Peter Cushing di ‘A New Hope’, Andy Serkis sebagai Supreme Leader Snoke – menempati porsi Darth Sidious / The Emperor baru, Gwendoline Christie sebagai Captain Phasma dengan tatanan kostum paling mencuri perhatian sebagai female-high rank stormtrooper, hingga tentu saja; terlebih buat pemirsa Indonesia; Yayan Ruhian, Iko Uwais (both credited as the additional fight choreographers) dan Cecep Arif Rahman masing-masing sebagai Tasu Leech, Razoo Qin-Fee dan Crokind Shand dari Kanjiklub Gang yang berseteru dengan Han Solo. No matter how some of their scenes got cut, kabarnya, ditambah treatment action figure sendiri-sendiri, ini adalah kebanggaan bagi sinema kita.

            So, menyambung legacy sebesar dan semegah ‘Star Wars’, ‘The Force Awakens’ memang tak sepenuhnya tanpa cacat. Tapi jelas apa yang dilakukan Abrams bersama comrades-nya disini jauh melebihi trilogi prekuel-nya oleh Lucas sang empunya dulu. Ada banyak sekali ‘Wow’ moments yang mengundang aplaus, tepukan panjang bahkan teriakan histeris – melepas kerinduan panjang fans bersama gimmick-gimmick-nya, hingga satu bagian terbaik yang membuat kita tak lagi bisa berkata tidak; closing sequence yang digagas di atas rangkaian shot begitu megah di balik set The Jedi Steps yang dibangun di sebuah pulau kecil di garis pantai Irlandia, Skillex Michael, bersama pembukaan twist yang lama dibicarakan orang dengan penampilan salah satu karakter legendaris franchise-nya. Sekelumit scene penutup tanpa dialog namun sepenuhnya mengandalkan kekuatan tatapan mata antara Ridley dengan – well, you know who, expensive shots bersama kepingan theme klasik John Williams yang membuat bergidik – sudah melepas kita begitu menantikan kelanjutannya nanti, sekaligus menyadari sepenuhnya bahwa meski jelas belum punya pencapaian sama dengan instalmen awalnya di tahun 1977 dulu, ‘The Force Awakens’ bukanlah sekedar a movie event ‘of the year’, tapi jauh lebih dari itu. A lifetime movie event. A hymn to the franchise’s former glory. May the force be with you! (dan)

~ by danieldokter on December 27, 2015.

3 Responses to “STAR WARS: THE FORCE AWAKENS ; A HYMN TO THE FRANCHISE’S FORMER GLORY”

  1. Iko Uwais tampil hanya untuk setor muka saja, masih mending si Yeyen Tumeyan yang ada dialog aliennya walau sedikit.🙂
    But, your rite Doc ! This is the best Starwars movie since The Return of Jedi. (Y)

  2. Sepakat semua aspeknya!

  3. […] STAR WARS: THE FORCE AWAKENS […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: