NEGERI VAN ORANJE: CATCHY LOOKS AND STRONG ENSEMBLE CHARM

NEGERI VAN ORANJE

Sutradara: Endri Pelita

Produksi: Falcon Pictures, 2015

Negeri Van Oranje

            Ada banyak mungkin cerita mengapa Belanda identik dengan warna oranye, namun kita tentu tak tengah membahas itu. Yang jelas, ‘Negeri Van Oranje’ yang memang merupakan adaptasi dari novel yang ditulis keroyokan oleh (Raden) Wahyuningrat, Adept Widiarsa, (An)Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana ini memang bercerita tentang sekelompok sahabat, lima anak Indonesia dalam perkuliahan S2 mereka di Belanda. Walau memang intinya adalah kisah persahabatan dengan bumbu cinta, tetapi begitu detilnya novel dengan tebal 478 halaman ini berperan seolah sebuah panduan lengkap untuk bersekolah disana plus tips-tips lain selayaknya panduan Lonely Planet, begitu kabarnya.

            Dalam konteks film, tentu saja ini bukan sebuah ‘dummies’. No, meski kita gemar sekali menjual lokasi luarnegeri sebagai gimmick, tak ada juga produser gila yang mau membuat film panduan untuk layar lebar. Oleh Titien Wattimena dan keempat penulisnya, skrip adaptasinya pun diarahkan ke friendship theme lebih efektif untuk dikemas dalam durasi rata-rata film, namun memang yang dikedepankan tetaplah sebuah pameran keindahan yang sering disindir banyak orang sebagai ‘jualan mimpi’. Toh tak ada salahnya, karena selain setting asli di Belanda dan negara-negara Eropa sekitarnya, mereka bisa mengumpulkan ensemble cast yang tak kalah ‘wah’-nya.

           Selain Chicco Jerikho dan Abimana Aryasatya, ada Arifin Putra plus satu komika Ge Pamungkas mengelilingi satu-satunya karakter wanita yang diperankan oleh Tatjana Saphira. So go guess. Masa sih lineup cast ini masih tak bisa menarik penonton lokal kita buat datang ke bioskop? Karena itu juga mungkin ia tak gentar berhadapan dengan tiga blockbuster antar negara sekaligus: ‘Ip Man 3’, ‘Dilwale’ bahkan ‘Star Wars: The Force Awakens’ – sementara banyak film-film dengan profil lebih tinggi lainnya memilih mundur.

            Tak ada yang spesial juga dari plot-nya. Dengan penceritaan per karakter yang memakan lebih dari separuh durasinya, ada Geri (Chicco Jerikho), Wicak (Abimana Aryasatya), Banjar (Arifin Putra), Daus (Ge Pamungkas) dan Lintang (Tatjana Saphira) sebagai satu-satunya wanita diantara empat jejaka ini. Konfliknya sudah jelas mengarah kemana. Di momen pernikahannya, siapa yang dipilih Lintang pada akhirnya setelah semua hubungan mereka diuiji dalam sebuah roadtrip ke Praha?

            Kecuali secuil twist yang juga sudah terdengar sejak jauh-jauh hari (oh ya, media kita memang hampir tak pernah pintar menyimpan twist film apalagi memang ini bukan sesuatu yang harus disimpan se-rapat ‘Star Wars’), Titien dan keempat co-writer skrip adaptasinya memang bermain di wilayah yang aman-aman saja. Mungkin tahu mereka sudah punya amunisi dan set luar negeri yang bisa sangat leluasa dieksploitasi dan toh masih ada ‘twist’ (if you consider it so) lain di bagian pengujungnya yang mudah membuat pemirsa kita penasaran atas pilihan karakternya, Titien dkk akhirnya memilih cara mudah saja buat menyampaikan storytelling-nya. Cukup dengan info singkat dengan flashback pertemuannya, dan kemudian berpindah ke satu karakter ke karakter yang lain untuk memenuhi durasinya. Mereka memang tak pernah melangkah ke ranah-ranah yang lebih dalam untuk membahas konfliknya lebih jauh, sehingga ‘Negeri Van Oranje’ cukup kelihatan sedangkal ruas jari saja.

            However, kedangkalan bahasan dan storytelling itu bukan berarti membuat ‘Negeri Van Oranje’ jadi film yang tak layak buat disaksikan. Fortunately, elemen-elemen yang ada, tanpa juga memerlukan effort lebih ke sutradara Endri Pelita atas skrip tadi, selain memang sudah punya daya jual masing-masing, memang bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Tahu bahwa mereka punya Chicco Jerikho, satu dari segelintir aktor besar kita dengan status lebih sebagai ‘superstar’, ia benar-benar dieksploitasi bak sebuah kapstok berjalan dengan kerja bagus dari departemen kostum Quartini Sari, juga tata rias oleh Tomo dan Daniel Putra, seolah tengah merancang sebuah peragaan busana. Ini juga ikut memoles Arifin Putra termasuk Ge Pamungkas yang paling minim dalam faktor looks di antara mereka walau kurang kena ke latar karakternya, seorang PNS departemen agama, tapi tetap bisa bekerja dengan cukup baik; sementara Abimana Aryasatya dibiarkan berjalan di samping sebagai sosoknya yang biasa – lebih buat menyemat simbol-simbol karakternya, namun selain Chicco, ia juga satu yang paling masuk ke karakternya sebagai Wicak. Ada tambahan tatanan rambut yang menambah penjelasan karakternya tapi ini juga tak sepenuhnya relevan.

            Di tengah-tengahnya, tentu Tatjana Saphira yang memang punya semua faktor dalam termlooks’. Tanpa harus berakting terlalu dalam pun pemirsa akan mudah jatuh hati pada sosoknya. Apalagi departemen kostum itu tak pernah lupa memainkan peranan mereka dengan maksimal di tengah color grading dan meski dikritik sebagian orang, permainan lens flare – yang memang harus diakui mampu menghadirkan nuansa colorful sangat catchy dan blending pula dengan nuansa orange di sentralnya. Seperti mix-and-match play ke boneka-boneka barbie, faktor ini memang jadi salah satu hal terbaik dalam ‘Negeri Van Oranje’. Dan dengan chemistry yang juga terasa santai-santai saja, namun bukan berarti lemah, looks like they enjoyed it a lot.

         Selain itu, masih harus diakui juga ada faktor teknis yang tergarap cukup baik buat mengiringi show of beauty ini. Ada sinematografi yang bagus walaupun pemilihan lokasi dan set-nya memang sudah sangat mendukung untuk itu dari Yoyok Budi Santoso, scoring yang cantik dari Andhika Triyadi, tata artistik dari Tri Israni Arayana serta editing yang walau tak spesial tapi tetap membuat flow-nya tak jatuh sekalipun jadi membosankan oleh Cesa David Luckmansyah dan Wawan I. Wibowo. Masih kurang? Ada alunan theme song yang sejak awal sudah di-publish lewat video klip promosi dari WizzyPuzzle Pieces’ dan satu end credit song darinya dan Sandhy Sondoro, ‘Cinta Cinta Cinta’.

         So yes, benar memang, kalau ‘Negeri Van Oranje’ tak pernah menyelam lebih dalam ke ranah-ranah konfliknya soal persahabatan, cinta, ataupun kedalaman lebih dari latar tiap karakternya. Tapi tetap ada beberapa dialog ala Titien yang terasa cukup menohok terutama buat pemirsa yang suka dengan romantisme simbol dan kata-kata, dan jelas, bahkan membuat kita jadi tergerak untuk melakukan traveling ke lokasi-lokasinya, kita tak juga bisa menampik keindahan yang ditampilkan dalam setiap aspeknya dengan charming factor sebesar itu. Catchy looks and strong ensemble charm, itu rasanya sudah cukup untuk membuat ‘Negeri Van Oranje’ tampil se-ngejreng judulnya. Quite the feast for the eyes, and an enjoyable year-end treat, too. (dan)

~ by danieldokter on December 29, 2015.

One Response to “NEGERI VAN ORANJE: CATCHY LOOKS AND STRONG ENSEMBLE CHARM”

  1. good review..

    bener sich flat aja dramanya, apalagi pengenalan karakternya lebih dr sejam, yach bikin boring, kecuali Lintang yg bening bikin mata tetap betah nonton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: