MY MOVIE JOURNAL : THE BEST INDONESIAN MOVIES OF 2015

MY MOVIE JOURNAL : THE BEST INDONESIAN MOVIES OF 2015

image (37)

            Sedikit berubah lagi dari catatan tahun lalu, dengan penurunan jumlah penonton kita di slot akhir tahun yang dianggap sebagai golden moments, bahkan di beberapa tahun belakangan melebihi masa-masa lebaran, film-film blockbuster lokal (terserah memilih sebutan apa, tapi saya memilih menyebutnya dengan istilah ini) akhir tahun ini justru bisa berada di angka perolehan penonton (oh ya, kita memang tak mengambil pattern jumlah nominal hasil penjualan tiket) yang stabil, dengan ‘Star Wars: The Force Awakens’ sebagai rintangan seriusnya, juga ‘Dilwale’ dan ‘Ip Man 3’.

           Ada memang film-film unggulan yang memilih memundurkan jadwal rilisnya, tapi mungkin, dalam masalah struggling di industri perfilman kita serta keterbatasan-keterbatasan lain termasuk sarana ekshibisi, sebagian dari produsennya mulai bisa belajar lebih dalam pengaturan strategi jadwal edar dan hal-hal taktis lain menyangkut pemasarannya. Paling tidak, 5 film yang tetap berani bertaruh di sana; ‘Single’, ‘Bulan Terbelah di Langit Amerika’, ‘Sunshine Becomes You’, ‘Negeri Van Oranje’ dan ‘Ngenest’, terlepas dari bagus atau tidak kualitas keseluruhannya, memang lebih memenuhi syarat untuk tetap bisa menggamit pasar mereka; straight & well known comics showcases, high profile religious movie, serta adaptasi novel kisah cinta yang tak perlu terlalu njelimet di balik star factors-nya.

         Ini, paling tidak tetap memberikan harapan terhadap kelangsungan industri film kita nanti. Di saat sebagian produsen tetap memilih cara-cara gampang dengan produk-produk kacangan berbiaya murah buat jualan bersama selera penonton yang masih sangat besar rentang batasnya, sementara militansi-militansi yang tetap mau mengubah arah (dan terkadang dibantu endorsement pihak luar yang bermain jauh dalam politisasi festival-festival film internasional) serta kepentingan-kepentingan tertentu semakin menancapkan tajinya dengan kemenangan ‘Siti’ dan beberapa kategori utama di FFI (Festival Film Indonesia) kemarin, dukungan paling layak sebenarnya ada pada jalur yang berjalan di tengah-tengah. Sineas dan filmmaker yang berjuang lebih untuk membuat konten baik namun tetap komersil.

             So again, let’s keep on hoping. Paling tidak, meski harapan-harapan ini tampaknya semakin blur di tengah visi dan pandangan yang saling berbeda di antara asosiasi-asosiasi insan perfilman yang mulai terpecah-pecah, BPI (Badan Perfilman Indonesia) yang sejak tahun lalu sudah mulai menarik penyelenggaraan event-event awarding ke tangan mereka bisa terus berjalan dengan seimbang. Dan tetap, usaha-usaha dari pencinta film Indonesia seperti yang ada di Piala Maya, dengan penyelenggaraan ke-4-nya Desember barusan semoga tetap bisa menjadi jembatan untuk mengajak semua stakeholder film Indonesia duduk bersama tanpa batasan-batasan kepentingan serta jadi alternatif untuk tolok ukur yang lebih bisa diterima kalangan masyarakat yang lebih luas sambil terus mengkampanyekan jargon-jargon #BanggaFilmIndonesia ,dan bahwa tetap ada film-film baik yang layak mereka tonton, apresiasi tanpa harus mengorbankan selera dan unsur-unsur hiburan.

         So here’s my list of this year’s best Indonesian movies. Really want it to be 15, tapi apa boleh buat, mudah-mudahan tahun depan akan lebih banyak lagi. Di luar pencapaian-pencapaian mutlak sebagian karya, sebagian diantaranya mungkin masih punya kekurangan yang jelas, tujuannya lagi-lagi hanya satu. Bahwa perjuangan bersama selalu dimulai dari pribadi-pribadi yang peduli, dan untuk film Indonesia agar ia bisa hidup terus, tanpa harus meletakkan standar terlalu kaku dalam sisi penilaian melainkan lebih ke effort-effort yang patut diberi apresiasi lebih. Mari dukung terus, dan terus Bangga Film Indonesia.

 

1. GURU BANGSA TJOKROAMINOTO (Pic[k]lock Productions, Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto, MSH Films; GARIN NUGROHO)

FI Tjokro

Benar bahwa mungkin dalam usahanya melestarikan visi-visi perjuangan Tjokroaminoto secara mendetil, film ini belum bisa sampai ke tahapan itu melainkan baru hanya sekedar membuat kita semakin kenal siapa beliau. Namun dalam rentang (terlalu, mungkin) panjang sejak ‘November 1828’-nya Teguh Karya sebagai sebuah kisah perjuangan yang dikemas dalam style historical opera, di tangan Garin Nugroho dan para penggagasnya; Dewi Umaya, Christine Hakim dan Nayaka Untara sebagai pemegang langsung family legacy-nya, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ adalah karya yang benar-benar mengingatkan kita pada pencapaian-pencapaian monumentalnya. Serius, grand, megah, menyemat banyak aspek yang relevan, detil dalam tiap kategori teknis sekaligus luarbiasa indah. Paling tidak, ia tak henti mengingatkan kita bahwa sebuah rekonstruksi visual, apalagi kala kita tengah bicara sejarah, bukanlah sesuatu yang bisa digagas hanya dengan sekedar main-main. Sayang sekali momen yang sangat pas dan kena dengan tema ‘Tribute to Teguh Karya’ di FFI barusan tercuri oleh ‘Siti’ – oleh kepentingan-kepentingan dan euforia kelompok tertentu, yang jelas tak mewakili segmentasi terbesar pencinta film kita.

 

 

2. 3 (ALIF – LAM – MIM) (FAM Pictures, MVP Pictures; ANGGY UMBARA)

FI Alif Lam Mim

Nanti dulu soal style storytelling dan sinematis Anggy Umbara yang mungkin masih sulit diterima sebagian kalangan dari pelaku industri hingga penonton. Tapi apa yang ada dalam ‘3’ adalah sebuah bold and daring effort yang menolak berkompromi pada keterbatasan-keterbatasan yang selama ini ada. Cara Anggy menaikkan lagi standar aksi yang sudah dimulai lewat ‘Comic 8’ walaupun hampir sepenuhnya bertumpu pada penggunaan efek – sebenarnya sudah punya potensi besar untuk membentuk franchise baru dengan penokohan kuat di tengah conspiracy plot yang berani, sekaligus membawa pattern baru dalam stagnansi genre film-film kita. Sayang resepsinya masih jauh dari yang diharapkan. However, apa yang sudah ia mulai, seharusnya tak cukup hanya berhenti disini.

 

 

3. MENCARI HILAL (MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film Productions, Argi Film, Mizan Productions; ISMAIL BASBETH)

FI Hilal

Sulit untuk tak terlalu teringat dengan ‘La Grand Voyage’ yang memang masih jadi ‘one of a kind’ dalam genre-nya. Tapi paling tidak, setelah selama ini kita tidak punya official movie buat menyambut momen Lebaran yang benar-benar layak, apa yang dihadirkan Ismail Basbeth – tanpa harus terlalu banting stir mengorbankan idealismenya di ranah indie dan arthouse (kecuali di beberapa filmnya yang lagi-lagi mengumbar kenakalan) bisa menyajikan kehangatan luarbiasa di tengah tema father to son, chemistry Deddy Sutomo – Oka Antara serta suntikan reliji yang tak harus jadi tipikal seperti film-film bernuansa reliji yang lain.

 

4. NADA UNTUK ASA (MagMA Entertainment, Sahabat Positif – Komsos KAJ; CHARLES GOZALI)

FI Nada Untuk Asa

Being something that I’m involved in, as a creative consultant in MagMa Entertainment, bukan berarti pemilihannya harus melulu berarti personal. The truth, this is one of the most well-received Indonesian movie this year by our critics in http://www.idfilmcritics.com. Tetap ada kritikan yang mungkin dialamatkan ke cinematic looks-nya secara keseluruhan – atas keterbatasan yang ada – namun sebagai bagian dari tim produksinya, hasil yang dicapai Charles Gozali dalam ‘Nada Untuk Asa’ tetap membuat saya bangga terlibat di dalamnya. Satu karena ‘Nada Untuk Asa’ tetap ada di garis batas tegas untuk tak terjebak sepenuhnya ke tipikalisme disease porn ala film kita, HIV/AIDS in this case, yang walau sebagiannya inevitable tapi sejak awal dimaksudkan untuk tetap berada sebatas latar motivasi justru untuk memuat rare – uplifting fest di ujung satunya. Dalam storytelling paralel yang tak biasa dan penempatan ending yang tak juga harus serba klise, ia tak bermaksud mengajak pemirsanya untuk bertangis-tangis dalam sebuah suffering scenes, tapi lebih dari itu, to celebrate life dan berjuang untuk orang-orang yang kita cintai sejauh mana pun tantangannya. How far would you go for someone you loved ?. Selain kuat di segi performa terutama oleh Marsha TimothyAcha SeptriasaDarius SinathryaMathias Muchus dan Wulan Guritno, ada muatan info medis yang bukan serba salah kaprah seperti rata-rata disease porn kita, ajakan untuk tak sekedar melakukan blind campaign buat memupus stigma-stigma ODHA melainkan dari dua arah, dan satu lagi catatan penting. Bahwa skrip yang ditulis Charles, dalam kepentingan joint production-nya bersama KOMSOS KAJ dengan balance ke sebagian besar unsur produksi yang bukan pula pemeluk agamanya, bisa memuat nilai dan simbol-simbol Katolik tanpa harus jatuh lagi-lagi ke genre reliji yang serba preachy.

 

5. A COPY OF MY MIND

FI ACOMM

Ada perbedaan jelas antara kebanyakan arthouse – indie kita yang sulit menghindari persepsi-persepsi fetishisms, di antara mencoba-coba nakal atau memang sengaja nakal. Joko Anwar adalah seorang sineas terdepan industri kita yang memang selalu sangat bold menyampaikan ide-ide dalam karyanya tanpa harus lari jauh serta melebar kemana-mana untuk kepentingan sambil-sambilan. Menawarkan sensualitas dan intimacy – never before seen – di film Indonesia mana pun,  apa yang dihadirkan Joko lewat karakter utamanya (Chicco Jerikho & Tara Basro dalam chemistry juara mereka) punya relevansi kuat ke tiap twists and turns plot-nya. Sebuah extreme romance yang luarbiasa liar, distinctive, namun tanpa harus kehilangan feel serta inner beauty-nya sebagai widely acceptable arthouse yang tetap punya ‘rasa’.

 

6. TOBA DREAMS (TB Silalahi Center, Semesta Production; BENNI SETIAWAN)

FI Toba Dreams

Not without flaws, bahkan ada satu kepentingan yang sangat krusial, tapi ‘Toba Dreams’ adalah film yang menunjukkan bahwa usaha-usaha lintas genre, serba ada, campur aduk ala Bollywood atau apapun sebutannya, dalam menyajikan hiburan tetap bisa berjalan tak tumpang tindih bersama nilai-nilai yang bisa tersampaikan tanpa mesti cerewet ala tetek bengek pesan moral, dan tetap pula bisa tampil sangat berkelas di tengah dukungan sineas dan aktor-aktor yang tepat. ‘Toba Dreams’ jelas menjadi contoh jarang dalam pencapaian-pencapaian yang banyak kita jumpai dalam film-film klasik kita dulu. Father to son drama-nya terasa begitu kuat di chemistry Vino G. Bastian dan Mathias Muchus, pengenalan kultur-nya kaya, ada lovestory, keluarga dan kisah persahabatan juga, bahkan nilai-nilai multiras-agama hingga isu lingkungannya pun tak lantas terkesan jadi tempelan tak penting. Kiprahnya bertahan selama 3 bulan walaupun hanya di satu kota seharusnya diikuti juga dengan antusiasme yang sama.

 

7. BULAN DI ATAS KUBURAN (MAV Production, Sunshine Pictures, FireBird Films; EDO W.F. SITANGGANG)

FI BDAK

Lagi-lagi tentang kultur Batak, namun sebagai remake dari film klasik karya Asrul Sani yang totally lebih serba nihilistik sesuai trend di eranya, remake ini bisa keluar sebagai social sarcasm melebihi sekedar satire dengan flow yang jauh lebih mengalir di tengah dukungan solid ensemble cast dengan akting-akting juara masing-masing.

 

8. FILOSOFI KOPI (Visinema Pictures; ANGGA DWIMAS SASONGKO)

FI Filkop

Lebih dari sekedar coffee-porn yang memang asyik terutama buat penikmat kopi di luar product placement namun tertutupi dengan usaha pemasaran tak biasa sampai membangun fisik asli kafe-nya, ‘Filosofi Kopi’ menyelam lebih dalam ke filosofi-filosofi lain tentang persahabatan dua karakter utamanya. Ada chemistry bagus dan sangat believable dari Rio Dewanto dan Chicco Jerikho lewat skrip Jenny Jusuf yang tak serta-merta mengadaptasi mentah-mentah begitu saja source-nya, tapi dengan kreativitas lebih buat membaca gagasan. Heartwarming, nyaman serta selezat mencium aroma kala kita menyeruput kopi yang nikmat.

 

9. HIJAB (Dapur Film Production, MVP Pictures, Ampuh Entertainment; HANUNG BRAMANTYO)

FI Hijab

Lagi sebuah film yang bisa melarikan diri dari tipikalisme genre reliji yang kebanyakan menghiasi sinema kita. Memuat satir terhadap sosialita dan atribut-atribut relijinya melalui ensemble act yang solid, Hanung Bramantyo kembali ke energi terbesarnya di signature tema-tema persahabatan seperti ’Jomblo’ dan ’Catatan Akhir Sekolah’, bahkan ’Get Married’ – namun di atas fondasi yang sama sekali berbeda. Nakal, lucu, menyentil, tapi juga dipenuhi hati.

 

10. KAPAN KAWIN? (Legacy Pictures; ODY C. HARAHAP)

FI Kapan Kawin

Sinema kita mungkin sudah banyak punya genre rom-com yang bagus, tapi ada sesuatu yang lain yang dimiliki ’Kapan Kawin?’ dengan amunisinya. Selain salah satu akting paling lepas dari Reza Rahadian yang kelihatan menikmati sekali karakternya disini, skripnya yang sekilas terlihat klise punya kekuatan membuat karakternya jadi sangat memorable. Ada atmosfer warmthness dan delightfulness spesial yang sangat terasa juga dari dukungan Adi Kurdi di atas set sempit yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu karakter penting.

P.S.:

Ada special mention juga terhadap usaha-usaha yang bagus dari sineas kita untuk merambah cinematic trend tanpa mesti terjebak ke mediocrity biasanya. Pertama, di genre horor yang biasanya lebih banyak diwarnai flaws dalam deretan film-film kita, baik ’Badoet’, ’Tuyul Part 1’, dan surprisingly, sebuah claustrophobic – almost a single set horror ber-subjudul agak nakal, ’Deja Vu: Ajian Putar Giling’, ternyata tampil dengan kualitas jauh ketimbang judulnya. Meski horor-horor kacangan tetap cukup banyak, namun judul-judul ini bisa jadi contoh, bahwa genre horor – dalam tendensi yang tetap berupa hiburan – bukan tak bisa digarap dengan baik.

             Kedua, di genre comics showcase. Okay, ‘Comic 8: Casino Kingsis another matter, dan kita masih harus menunggu bagian keduanya tahun depan. Namun membawa style dan signature komika-komika pentolannya sendiri-sendiri, ada dua judul yang sangat layak buat diberi apresiasi lebih, selain tetap jadi jaminan untuk dipenuhi antusiasme penonton. Raditya Dika mungkin sudah teruji dari beberapa showcase yang baik; tetap membawa signature komedi dengan konklusi-konklusi soal hati seperti ‘Marmut Merah Jambu’ dan ‘Cinta Dalam Kardus’; namun ‘Single’ benar-benar membawanya naik kelas dengan konsep yang lebih paripurna dari sisi sinematis lewat effort produksi Soraya yang selalu mementingkan looks.

           Sementara film penutup tahun ini, ‘Ngenest’ yang melaju kencang sejak pemutaran hari pertamanya, memang menunjukkan bahwa talenta-talenta komika ini tak boleh disepelekan begitu saja sampai ke departemen penulisan dan penyutradaraan. Ada alasan kenapa mereka bisa menciptakan arus  trend dengan sejumlah nama yang menonjol lebih dari yang lain atas inovasi-inovasi comedic signature yang berbeda. Ernest Prakasa adalah salah satu yang terkuat di generasi-nya dengan self-mocking jokes menyenggol-nyenggol masalah ras dari satir hingga sarkasme, tapi tak melupakan dukungan rekan-rekannya sesama komika, serta juga punya dose of hearts yang membentuk blend bagus ke keutuhan storytelling-nya. Happy New Year, dan tetap #BanggaFilmIndonesia ! (dan)

~ by danieldokter on December 30, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: