NGENEST: A CRACKERJACK IN OUR COMICS SCENE

NGENEST

Sutradara: Ernest Prakasa

Produksi: Starvision, 2015

Ngenest

       Dalam trend sekarang, kita punya banyak sekali comics/komika/standup comedians atau apapun pilihan sebutannya, yang punya talenta. Tapi lagi, comedy means signature. Tak jadi masalah mungkin kala mereka disatukan sebagai ensemble dalam film-film seperti ‘Comic 8’ dengan penggalan-penggalan masing-masing, meski ada kesulitan tersendiri lagi buat membentuk chemistry. Tapi ujian sebenarnya adalah kala mereka diserahi film solo-nya. Benar sekarang kita punya salah satunya, Raditya Dika. Then again, sebut berapa yang sudah mencoba, berapa yang sudah berhasil, dan berapa yang butuh waktu lama atau bahkan masih terus mencari kelas yang pas?

            In that case, Ernest Prakasa mungkin ada di segelintir deretan nama yang lebih beruntung. Nanti dulu soal looks yang jatuh-jatuhnya ke soal potensi buat bisa atau tidak dijadikan lead dalam presentasi genre-nya, namun kala yang lain masih mencoba-coba mencari titik beda, dengan racist jokes-nya – tapi ini lebih ke sindiran atas kondisi sosial yang ada – bukan melulu mengejek etnisnya sendiri, walaupun kategorinya ada di self-mocking jokes, Ernest memang sudah punya amunisi kuat.

           Tiga novel series best seller-nya, ‘Ngenest: Ketawain Hidup a la Ernest’ dan apa yang ditampilkannya di tiap standup showcase hingga end credits gimmickComic 8’ sudah menunjukkan itu. Mengulik isu etnis pribumi versus keturunan ke skup pasangan keluarga yang sebenarnya dulu sudah pernah ada di ‘Putri Giok’ (Maman Firmansyah, 1980) yang kontroversial karena memplontoskan kepala aktris utamanya, Dian Ariestya, tapi sangat typically dramatic, ‘Ngenest’ menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Isu yang meski sudah sangat terbuka tapi masih kerap jadi sesuatu yang sensitif bak bom waktu di negeri ini, dijadikan landasan buat berkomedi ria.  Joke-joke Ernest yang kita lihat selama ini, sedikit banyak, let’s admit it, too, memang bisa membuat perbedaan itu tak lagi berjarak – menyamakan dua sisi objeknya lewat tawa. So, tak salah sepertinya kalau gayung itu bersambut dengan Starvision yang memberi keleluasaan lebih terhadapnya, sama seperti Raditya Dika pasca ‘Manusia Setengah Salmon’, langsung menempati posisi penulis, sutradara bahkan aktor – walau ini adalah debut solo-nya. Kontennya, ya sama juga, secara itu memang letak andalan joke-nya sebagai komika; dimana sebagian besar memang berasal dari kisah hidupnya sendiri.

              Kisah Ernest (Marvel; kecil – Kevin Anggara; remaja dan Ernest Prakasa; dewasa) pun dimulai dengan traumanya sejak kecil terus-terusan di-bully sebagai etnis Cina yang masih dianggap minoritas. Walau ditentang sahabatnya, Patrick (Winson; kecil – Brandon Salim; remaja dan Morgan Oey; dewasa), Ernest pun terus mencari cara untuk dapat membaur diakui empat bullier-nya; Fariz (Ardit Erwanda), Bowo (Fico Fachriza), Bakri (Bakriyadi Arifin) dan Ipeh (Amel Carla). Trauma ini yang terus terbawa hingga Ernest punya niat menikah dengan pribumi untuk menyelamatkan keturunannya. Di sebuah pusat les bahasa Mandarin sewaktu kuliah akhirnya niat ini terwujud kala ia bertemu dengan Meira (Lala Karmela), yang setelah melewati berbagai rintangan dari orangtua Meira (Budi DaltonAde Fitria Sechan) berhasil dinikahinya, tapi masalah tak lantas berhenti sampai di situ. Ketakutan Ernest atas trauma yang sama masih membuatnya menunda-nunda keinginan Meira dan kedua orangtuanya (Ferry SalimOlga Lydia) buat memperoleh keturunan.

           Yes, it’s not thoroughly sounds like a comedy, tapi di tangan Ernest yang menulis skrip adaptasinya sendiri, menggabungkan tiga buku dalam novel series-nya, plot-nya memang berhasil dibangun dengan joke-joke khas Ernest yang sekaligus memunculkan sebuah signature yang kuat. Tak hanya dalam soal racism, dari segala sindiran sampai aspek-aspek sosial lain masyarakat modern yang memang sedikit banyak agak melawan tradisi, tapi juga ke segmentasi alur yang menempatkan karakter-karakternya ada di ranah berbeda dengan kebanyakan film-film komedi komika lainnya yang lebih sering bicara soal dunia remaja. Di sini, lebih dari separuh penceritaan itu membentuk latar berbeda yang berbicara hubungan-hubungan keluarga secara jauh lebih matur, dan banyak sekali detil-detil sosial bahkan profesi yang belum pernah terlihat bahkan ter-representasikan dalam film-film kita. Salah satu yang paling kuat untuk yang benar-benar mengenal budayanya adalah tokoh MC kawinan Cina, Koh Hengky yang diperankan sangat menarik oleh Elkie Kwee. Namun semuanya tetap tak meninggalkan status utamanya sebagai sebuah komedi dengan signature kuat di self-mocking jokes – sesuai dengan judul novelnya sendiri dan dose of hearts yang membentuk blend cukup seimbang. The laughs are mostly hilarious with more hit than missed, juga momentum dan comedic timing yang tepat – menunjukkan kemampuan Ernest meng-handling genre-nya, dan ada emosi saat alurnya mengharuskannya bergerak ke sana.

            Lagi, bahwa Ernest, memerankan sosoknya sendiri dengan estafet yang bagus dari gestur dan ekspresi bagus Kevin Anggara di tengah seabrek karakter yang dengan bagus dipoles oleh skrip tadi buat memperkuat sentralnya bersama Lala Karmela – penyanyi kita yang sempat berkarir di Filipina, yang tanpa terduga setelah pernah juga menjadi cameo dalam ‘SKJ’, bermain sangat cemerlang sebagai Meira – bisa tampil tanpa canggung sebagai lead yang kuat bahkan saat harus masuk ke dalam dramatisasi skripnya buat menerjemahkan ketakutan-ketakutan karakternya tadi. Mungkin belum lagi sempurna, tapi sungguh bukan kelihatan seperti seorang debutante yang masih benar-benar mentah.

             Lantas, faktor pendukung yang jumlahnya juga tak main-main, jelas sangat tak boleh dilupakan. Mengajak begitu banyak rekan-rekan komikanya melebihi showcase-showcase comics lainnya, dengan porsi peran yang juga sangat terlihat diberi celah lebih buat bisa jadi menonjol bak seorang Adam Sandler sebagai sosok ‘Big Daddy’ terhadap para kolega di film-filmnya, ada Ge PamungkasMuhadkly AchoAwweAdjis Doaibu dan Lolox Ahmad yang paling mencuri perhatian sebagai komika pendamping, sementara penampilan Brandon Salim dan Morgan Oey sebagai Patrick juga menjadi dayatarik tak kalah kuat. Bertransformasi dari peran-peran tipikalnya di film reliji, Morgan menunjukkan bahwa ia sangat layak mendapat sorotan lebih bahkan saat dipaksa melucu dan membentuk bromance chemistry dengan Ernest. Masih ada cameo-cameo menarik dari Henky Solaiman, Ence Bagus, Franda, Arie Kriting, bahkan Meira asli dan dua putra-putri Ernest plus tentunya The Overtunes yang juga menyumbangkan dua single baru bagus mereka, ‘Mungkin’ dan ‘Ku Ingin Kau Tahu’.

          So, dalam genre-nya, apa yang dihadirkan Ernest dan timnya disini, memang punya nilai di atas rata-rata. Jauh di atas gelak tawa kelas heboh yang digulirkan bersama comedic play-nya, ada signature yang kuat terhadap self-mocking jokes khas Ernest – isu-isu ras / etnis yang relevan dan bisa membuat kita menertawakan diri masing-masing ketimbang tersinggung, serta juga segmentasi lebih dewasa dan beda ketimbang tema-tema pre-marital yang menghiasi showcase comics biasanya, plus konklusi berbalut masalah hati yang tak bisa tidak memang jadi bagian dari trend-nya kebanyakan, namun bisa dihadirkan dengan kadar yang tak lantas jadi berlebihan. Bukan hanya jadi blockbuster lokal penutup tahun yang meriah, tapi juga komedi lokal terbaik tahun ini. Tasty, delicious and exceptionally good, a crackerjack in our comics scene. Cengli! (dan)

~ by danieldokter on January 4, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: