MIDNIGHT SHOW: A FUN SPLATTER FEST OVER TRIVIAL ATMOSPHERE OF OUR ‘90S CINEMA

MIDNIGHT SHOW

Sutradara: Ginanti Rona Tembang Asri

Produksi: Renee Pictures, 2015

midnight show

            Meski ada, walaupun jadi salah satu genre yang tak pernah mati in terms of movies, tak banyak film ber-genre slasher thriller dalam sejarah sinema kita, apalagi kalau bicara soal kualitas. Tipiskan lagi menjadi (blood) splatter fest, maka yang tinggal mungkin tak sampai hitungan jari. Selain Mo Brothers, tentunya, kini produksi ke-4 Renee Pictures, rumah produksi yang dimotori oleh Gandhi Fernando (bersama Laura Karina) dan terus menyuguhkan diversifikasi genre berbeda di film-film produksinya, mencoba mengeksplorasi genre ini. Biar tak punya pengalaman, bukan berarti amunisinya tak ada. Menggamit Ginanti Rona Tembang Asri, sutradara wanita pula, yang meski dulu pernah terekam kreditnya dalam salah satu melodrama kultur Batak yang terlupakan, ‘Rokkap’, namun setelah itu berada di balik ‘Rumah DaraMo Brothers dan ‘The Raid’ serta segmen ‘Safe Haven’-nya Gareth Evans di ‘V/H/S 2’ sebagai assistant director.

Sudah begitu, ide cerita dari Gandhi pun terasa cukup fresh. No, bukan tak ada sebelumnya horror berlatar gedung bioskop yang kesannya sangat trivial buat para fans dan moviegoers. Namun referensi Ginanti Rona (Gita) mungkin membuat kemasan ‘Midnight Show’ jadi berbeda selain juga tak berada di genre yang sama. So, lupakan tuduhan-tuduhan terhadap ‘Coming SoonThailand ataupun ‘Demons’-nya Dario Argento. Ada pendekatan-pendekatan giallo yang cukup kental, namun dibangun di atas atmosfer trivial ke scene sinema kita tahun ’90-an, dan mereka membangunnya dengan keseriusan tinggi dari set hingga sempalan artistik yang memang tak dimaksudkan benar-benar nyata karena kotak terbesar filmnya tetap ada di genre fantasi.

            Selanjutnya tentu saja lineup cast-nya. Okay, mungkin masih terus ada kritikan atas acting effort Gandhi yang jelas tak juga salah buat memilih kontrol penuh di film-film produksinya sendiri, sementara Ratu Felisha sudah cukup akrab dengan genre-genre sejenis, namun tentu juga naik kelas dalam skup produksinya. Tapi yang paling menarik adalah pemilihan Acha Septriasa sebagai lead-nya. Sudah terlalu lama agaknya status Acha sebagai salah satu nama di lini terdepan diva sinema kita terus-menerus diuji dalam genre drama atau romcom, hingga saat ia mencoba keluar dari comfort zone itu, hasilnya pasti sebuah ekspektasi tinggi.

            Mengambil setting di sebuah bioskop bernama Podium tahun 1998 – saat sinema kita tengah berjuang dengan film-film miskin kualitas, pemilik bioskop Pak Johan (Ronny P. Tjandra) mempertaruhkan masa depan usahanya pada pemutaran midnight show film ‘Bocah’ yang diangkat dari kisah nyata seorang anak bernama Bagas (dalam sekuens kejadian aslinya diperankan Raihan Khan) yang membantai keluarganya sendiri. Dengan tiga pegawai yang bertugas, Juna si projectionist (Gandhi Fernando), Allan (Daniel Topan) dan counter girl Naya (Acha Septriasa), penonton memang berdatangan, diantaranya ada Guntur (Ade Firman Hakim), Seno (Arthur Tobing), pasangan PSK dan pelanggannya Sarah dan Ikhsan (Ratu Felisha dan Boy Harsya), namun seketika pemutaran itu berubah menjadi teror yang menempatkan nyawa mereka berada di ujung tanduk atas amukan sosok misterius yang mulai membantai semuanya satu-persatu.

            Okay. Mengeksplorasi genre yang masih tergolong rare di sinema kita ini, ‘Midnight Show’ dengan skrip yang ditulis oleh Hussein M. Atmodjo bukan sama sekali tak punya kekurangan. Penggarapannya secara keseluruhan masih meninggalkan beberapa diskontinuitas yang agak mengganggu, and if not plot holes, kita bisa melihat bahwa ada jalinan twist – yang meski bukan tak bagus, agak berputar dengan tingkat kesulitan visual lumayan tinggi yang mungkin belum terlalu bisa diserap begitu saja proses-prosesnya oleh kebanyakan penonton kita. Penempatan dialog-dialog buat membangun motivasi dan pengenalan karakternya juga tak sepenuhnya sempurna dengan taruhan terbesar pada konsistensi pace-nya.

            However, kekurangan-kekurangan ini cukup bisa tertutupi atas kesetiaan Gita membangun wujudnya sebagai pure genre movies – yang lagi-lagi jarang-jarang ada di film kita – atas  referensi-referensi yang dimilikinya dengan pengalaman tadi. Feel splatter fest-nya memang kelihatan sekali digagas tanpa kompromi. Ada detil dan perhitungan-perhitungan yang cukup cermat dan jelas terlihat dalam bangunan feel ini secara keseluruhan, dari tata artistik Aek Bewava, pace editing Andhy Pulung serta kamera Joel Fadly Zola yang cukup taktis meng-handle single & claustrophobic set itu termasuk theme song moody-jazzy berjudul ‘Sang Penikam’ yang dibawakan penyanyi Malaysia Mohd. Noh Salleh, hingga satu elemennya yang terbaik, trivial atmosphere-nya menyemat permainan hidup dan mati para karakter itu di atas set bioskop jadul akhir ’90-an yang dibangun dengan keseriusan tinggi. Tata suara dan sound dari Jerapah pun membentuk blend yang bagus ke bombastisme feel giallo serta splatter fest-nya.

            Deretan cast-nya juga bermain cukup baik. Ada usaha dengan peningkatan cukup baik dari Gandhi sendiri, lantas sementara Ratu Felisha memang selalu bisa bekerja di genre-genre sejenis, ada beberapa yang menonjol diantaranya Gesata Stella, Ronny P. Tjandra, Ade Firman Hakim, pemain senior Arthur Tobing, pemenang Piala Citra 2014 Yayu A.W. Unru dalam penampilan singkatnya, cameo Zack Lee hingga Ganindra Bimo, news presenter – actor yang baru kali ini benar-benar mengeksplorasi aktingnya dengan hasil cukup mengejutkan. Tapi kredit terbaiknya tetap terpulang pada Acha Septriasa yang ternyata bisa beranjak dari comfort zone tadi memerankan Naya tanpa harus berlebay-lebay menjadi sekedar scream queen seperti yang dibutuhkan genre sejenis.

            So, ini memang bukan saja memberikan pencapaian paling baik dari usaha Gandhi dengan Renee Pictures-nya mengeksplorasi diversifikasi genre film-filmnya, tapi juga berhasil tampil sebagaimana yang mereka mau dengan faktor keberanian cukup tinggi dalam segala effort-nya. Dengan pameran cipratan darah yang tak berusaha buat ditahan-tahan dalam memberikan cinematic experience seru buat fans genre-nya, juga kekuatan trivial atmosphere tadi, ‘Midnight Show’ menjadi sajian pembuka tahun yang sangat layak buat disimak. A fun splatter fest over trivial atmosphere of our ‘90s cinema! (dan)

 

~ by danieldokter on January 18, 2016.

One Response to “MIDNIGHT SHOW: A FUN SPLATTER FEST OVER TRIVIAL ATMOSPHERE OF OUR ‘90S CINEMA”

  1. “Jangan saya.. Jangan jangan..”.. -Naya-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: