SURAT DARI PRAHA: A WONDERFUL SONATA OF SOUL-SEARCHING AND BROKEN PROMISES

SURAT DARI PRAHA

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko

Produksi: Visinema Pictures, Tinggikan Production, 13 Entertainment, 2016

Surat dari Praha

            Filmmaking adalah konsistensi. Tak banyak mungkin sineas kita yang punya itu. Tapi dari sedikit yang ada, Angga Dwimas Sasongko adalah salah satunya. Oke, ‘Jelangkung 3’ (2007) – yang berada di antara dua film dengan cast bagus namun tak banyak dikenal karena tak mampir ke bioskop; ‘Foto, Kotak dan Jendela’ (2006; film perdananya) dan ‘Musik Hati’ (2008) dalam filmografinya – mungkin belum lagi apa-apa. Tapi lihat ‘Hari Untuk Amanda’ (2010) – yang masih sangat diingat sampai sekarang di balik status ‘everyone’s favorite’ dan 8 nominasi FFI (Festival Film Indonesia) 2010, berlanjut ke produksi dari rumah produksinya sendiri, Visinema Pictures; ‘Cahaya Dari Timur: Beta Maluku’ yang memenangkan Piala Citra untuk Film Terbaik 2014 dan ‘Filosofi Kopi’. Ada batasan berbeda sebagai tontonan komersil namun berkelas di film-film itu, dan seperti kata Angga, ia tak pernah muluk-muluk mengejar angka sejuta penonton dalam idealismenya sebagai sutradara.

            ‘Surat dari Praha’ merupakan eksplorasi berbeda lagi sebagai karya selanjutnya dari Angga. Memuat idealismenya tentang politik – oh ya, sebelum disibukkan oleh proyek-proyeknya di Visinema, Angga memang sering terdengar cukup vokal di sosmed – atas hobinya melahap buku-buku sejarah yang akhirnya membawa Angga pada sebuah film pendek karya Farishad LatjubaKlayaban: A Tale of an Outcast’ (2004) tentang para eksil Indonesia 1965 di Praha yang tak bisa pulang ke kampung halaman mereka atas situasi politik dan status ‘stateless’ tanpa kewarganegaraan (so no, ini sudah menjawab tuduhan-tuduhan tak mengenakkan tentang plagiarisme atas sebuah novel berjudul sama yang marak menjelang filmnya dirilis). Begitupun, ide ini tak lantas membuat ‘Surat dari Praha’ menjadi film politik.

            Instead, menjadikannya sebuah latar yang kuat, Angga mengarahkan ‘Surat dari Praha’ tetap sebagai sebuah romansa yang dikombinasikan bersama kolaborasi ketiganya dengan Glenn Fredly – dimana musik tetap jadi sebuah elemen penting dan di sini makin menguat menjadi salah satu soul terbesar dalam elemen storytelling dari skrip Irfan Ramli (‘Cahaya dari Timur’) lewat dua lagu Glenn dalam rendition baru dari cast-nya sendiri, Julie Estelle dan Tio Pakusadewo (credited as Tyo Pakusadewo). Tak main-main, ia sampai melakukan riset selama sebulan, terjun langsung menggali inspirasi dari kelompok Mahasiswa Ikatan Dinas (MAHID) di sana.

            Memilih berpisah dari suami (Chicco Jerikho ; as co-producer, too) yang menyia-nyiakannya, Larasati (Julie Estelle) terpaksa memenuhi permintaan terakhir ibunya, Sulastri (Widyawati) lewat sebuah surat wasiat untuk mengantarkan sebuah kotak pada Jaya (Tyo Pakusadewo), seorang eksil 1965 yang menyambung hidup sebagai janitor concert hall di Praha. Di sana, pertemuan yang awalnya tak berlangsung mulus itu pelan-pelan mulai mengantarkan keduanya menelusuri masa lalu masing-masing, di atas luka dan kekecewaan hubungan yang mulai terkuak satu-persatu.

            No. ‘Surat dari Praha’ bukanlah sebuah rhapsody seperti penggalan salah satu lagu Glenn yang mengiringi film ini. Bukan juga sebuah simfoni yang dipenuhi orkestrasi. Lebih berupa sebuah sonata, nyaris sebuah partitur solo yang digelar bak sebentuk chamber piece untuk menggambarkan kekosongan jiwa (very) limited characters-nya, tanpa juga mengeksplorasi eksotisme set Praha – tapi justru lebih bermain di set-set indoor yang terasa agak claustrophobic – lewat skrip penuh dialog puitis dari Irfan, Angga membiarkan ‘Surat dari Praha’ bergerak sangat perlahan setelah intro dari opening scene, bak introductory remarks yang kelihatan normal-normal saja.

            Namun justru di situlah kekuatan interaksinya kemudian dibangun secara distinctive dengan pendekatan yang memang tak sepenuhnya terasa mainstream – bahkan dengan feel arthouse yang lumayan kuat – namun tanpa sekalipun menahan emosinya untuk bergerak perlahan. Seperti komposisi yang bergerak pelan lewat satu-persatu tuts piano yang mulai dimainkan, yang juga jadi bagian penting dalam penceritaannya, konfliknya mulai berbaur di atas paduan penggalan sejarah politik dan kisah romansa tentang pencarian jiwa dan janji-janji tak terwujud. Cinta, keteguhan dan kesetiaan. Angga dan timnya tak lantas juga membiarkannya dipenuhi penjelasan linear tapi membiarkan pemirsanya menerjemahkan tiap tahap proses interaksi Jaya dan Larasati hingga membentuk paduan melodi dengan iringan kuat menuju finale emosional yang meluluhlantakkan jiwa kita, membuat leher tercekat dan menyesakkan dada tapi sama sekali tak cengeng. Luarbiasa cantiknya.

            Tata teknis yang mengiringi penceritaan dan scene-building-nya pun tak kalah cantik. Sinematografi Ivan Anwal Pane yang terasa sangat dinamis memanfaatkan angle-angle sempit dari dominasi indoor set-nya, tata suara Satrio Budiono dan scoring Glenn FredlyThoersi Argeswara dalam blend ke silent atmosphere-nya, artistik dari Yusuf Kaisuku hingga penyuntingan Ahsan Adrian yang terlihat piawai sekali menerjemahkan musik bersama gaya tutur Angga di sejumlah adegan-adegan terpentingnya terutama di adegan paling juara; piano duet dengan intimacy yang halus tapi luarbiasa mendalam seolah coda sempurna yang mengantarkan kita ke finale-nya.

            Di atas semuanya, soul terkuat ‘Surat dari Praha’ memang hampir sepenuhnya terletak di tangan Julie Estelle dan Tyo Pakusadewo dengan ascending chemistry-nya yang berproses dengan begitu sempurna. Dialog-dialog dalam skrip Irfan bisa jadi terkesan lebih puitis ketimbang natural, namun penyampaian Julie dan Tyo berhasil mengantarkannya jadi satu komposisi yang padu. Kapasitas Tyo mungkin tak lagi perlu ditanya dengan kematangan akting yang terus semakin menanjak, tapi bagi Julie Estelle, ini adalah sebuah pencapaian beda yang belum pernah kita lihat di film-film dia sebelumnya. Ada beberapa karakter tambahan termasuk Dewa yang juga diperankan dengan batasan porsi yang baik oleh Rio Dewanto untuk memuat kompromismenya berikut product placement yang meski cukup rapi tapi tetap tak sepenuhnya tersembunyikan, serta jangan lupakan juga penampilan Bagong – anjing setia peliharaan Jaya yang tak lantas dihadirkan sebatas gimmick.

            Sementara penyanggah terbesarnya tetap ada pada penampilan Widyawati, yang meski tak banyak, namun ditempatkan dengan tepat, respectful atas sosoknya, bahkan hanya lewat voice act bisa mengoyak-ngoyak perasaan pemirsanya di soul-wrenching finale itu. Dan seperti sebuah partitur musik, semua berjalan di atas paranada iringan dengan harmonisasi cantik dari Glenn Fredlys ballad renditionsNyali Terakhir’ (dibawakan Julie Estelle) dan ‘Sabda Rindu’ (Tyo Pakusadewo) yang bukan lagi sekedar menjadi theme song pengisi soundtrack-nya, tapi juga peran utama sama besar dalam ‘Surat dari Praha’.

        So yes, kita memang jarang, bahkan mungkin tak punya presentasi seperti ini sebelumnya. Sebuah paduan drama romansa, both a beautiful love letter or love poem yang penuh luka yang menyayat di balik traumatic ideas soal sejarah gelap politik – tetap vokal dengan bisikan, bukan harus lantang berteriak, yang dibalut sempurna dengan penerjemahan musik yang begitu menyatu dalam penceritaan yang begitu sulit membuat kita tak jatuh cinta hingga memandangnya jadi sempurna. Mungkin ia hanya sonata, tapi kekuatannya menyentuh rasa, luarbiasa. Like a wonderful one, ‘Surat dari Prahacrawls into your heart and lead you to a soul-wrenching finale. Luarbiasa. (dan)

~ by danieldokter on January 29, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: