THE REVENANT: REVENGE IS A DISH BEST SERVED COLD

THE REVENANT

Sutradara: Alejandro G. Iñárritu

Produksi: Appian Way, RatPac – Dune, Regency Enterprises, 20th Century Fox, 2015

the revenant

          Dari ‘Amores Perros’, ‘21 Grams’, ’Babel’ ke ‘Birdman’, selalu ada yang spesial dari Alejandro G. Iñárritu dan kualitas award contender-nya. ‘The Revenant’ sejak jauh-jauh hari juga sama. Sudah mendapat sorotan spesial atas usaha yang ditempuh Iñárritu bersama seluruh kru termasuk Leonardo DiCaprio bertarung melawan kerasnya alam dari Calgary dan Fortress Mountain, Alberta ke Squamish, British Columbia hingga ujung Selatan penuh salju di Argentina demi gambaran realitanya, melawan hipotermia bahkan memakan hati bison dan tidur di perut bangkai binatang, ini memang jauh lebih spesial ketimbang dua elemen plot biasa-nya; soal balas dendam dan pertahanan hidup – yang digabungkan menjadi sesuatu yang kelihatan baru. Belum lagi, soal pencapaian visualnya. Deeply visceral and also beautifully poetic – oh ya, ‘The Revenant’ memang di-shot dan di-desain oleh kru-kru sutradara Terrence Malick biasanya, yang selalu mengedepankan visual, packaging keseluruhannya memang jadi sangat beda.

            Diinspirasi dari pengalaman nyata frontiersman – fur trapper (penangkap hewan liar/pemburu kulit hewan) di Montana, South Dakota tahun 1823 lewat buku karya Michael Punke, pemburu berpengalaman Hugh Glass (DiCaprio) di bawah komando Andrew Henry (Domnhall Gleeson) dari The Rocky Mountain Fur Company dan kelompoknya terpaksa meninggalkan perahu, meneruskan ekspedisi berjalan kaki setelah serangan Indian Arikara. Keputusan ini ditentang sebagian kru-nya, terutama John Fitzgerald (Tom Hardy) yang belakangan membunuh anak angkat Glass, Hawk (Forrest Goodluck), seorang keturunan Indian saat Glass terluka parah akibat diserang beruang grizzly dan meninggalkan Glass terkubur hidup-hidup. Mencoba bertahan hidup hingga ia bertemu seorang Indian Pawnee, Hikuc (Arthur Redcloud) yang memberinya pertolongan, Glass pun kemudian bertolak memburu Fitzgerald untuk membalaskan dendamnya.

            Tak seperti film-film Iñárritu lainnya, sentuhan inovatif-nya dalam ‘The Revenant’ yang baru saja memenangkan Golden Globe untuk Film Drama Terbaik, DiCaprio dan Iñárritu sendiri, memang lebih terletak pada presentasi film ketimbang plot-nya. Benar bahwa subplot-nya menawarkan informasi lebih atas gambaran kehidupan alam liar di set tempat dan waktunya, soal ekspedisi dan intrik perdagangan kulit plus serbuan suku Indian liar, namun visualnya-lah yang paling luarbiasa.

             Tetap dibesut Emmanuel Lubezki yang juga memenangkan Oscar lewat ‘Birdman’, rentetan visual dan usaha tanpa kompromi menggambarkan keganasan alam lewat rangkaian adegan luarbiasa sadis, challenging our guts over and over – termasuk adegan jagoan ‘bear-rape‘ dengan sentuhan CGI groundbreaking itu, turut jadi salah satu peran utama dalam ‘The Revenant’. Bahkan tanpa harus melulu dipenuhi set bersalju, bisa membuat tampilan keseluruhannya terasa sama dingin dengan hypothermic atmosphere-nya. Sungguh tak mudah membangun set yang bisa seolah ikut berbicara dalam penceritaan keseluruhannya.

               Seindah visual film-film Terrence Malick, tapi pendekatan puitisnya tak sampai menahannya buat tak bisa bercerita secara universal lewat skrip yang ditulis Iñárritu dan Mark L. Smith (‘Vacancy’ dan ‘The Hole’-nya Joe Dante). Skrip itu tak spesial, tapi bagusnya, eksploitasi kesadisannya dihadirkan dengan cara berbeda buat menggedor jantung pemirsanya. Plus dukungan scoring menyayat-nyayat dari Ryuichi Sakamoto dan Alva Noto, Iñárritu memang membesut ‘The Revenant’ dengan eksplorasi rasa, dan itu yang membuatnya luarbiasa. One of the most astounding cinematography ever in movie history.

              Selebihnya, jelas akting DiCaprio yang kali ini seperti tanpa tanding. Sekilas boleh jadi kelihatan tak sehebat rival-rival-nya – di luar usahanya bersama kru lain melawan tempaan alam, namun menerjemahkan penderitaan dan rasa sakit mendalam dari karakter Glass, defining human threshold dengan body act dan ekspresi luarbiasa, tak salah rasanya kalau kali ini DiCaprio mendapatkan Oscar pertama setelah kemenangannya di Golden Globe. Masih ada pula dukungan tak kalah hebat dari Domhnall Gleeson, Will Poulter dan Tom Hardy yang masuk belakangan menggantikan Sean Penn, serta native actors yang bermain sangat meyakinkan memerankan karakter mereka masing-masing. While survival might be another thing, here, dengan hampir semua elemen yang ada dalam ‘The Revenant’, revenge is a dish best served cold. (dan)

~ by danieldokter on February 3, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: