THE FINEST HOURS: A CORNY, OLD FASHIONED YET ENTERTAINING DISNEY STUDIO FEATURE

THE FINEST HOURS

Sutradara: Craig Gillespie

Produksi: Walt Disney Pictures, Whitaker Ent., Red Hawk Ent., 2016

The Finest Hours poster

            Diangkat dari buku berjudul sama karya Michael J. Tougias dan Casey Sherman, ‘The Finest Hours’ adalah sebuah kisah nyata penyelamatan kru kapal SS Pendleton oleh US Coast Guard di garis pantai Cape Cod, New England tahun 1952. Genre-nya memang sebuah historical disaster drama, namun ini adalah produksi Walt Disney Pictures, yang mungkin menarik garis batas beda dengan genre sejenis seperti ‘The Perfect Storm’ yang jauh lebih grande, walaupun sama-sama berstatus blockbuster. Sutradara Craig Gillespie dari ‘Lars and the Real Girl’ dan ‘Fright Nightremake sebelumnya juga sudah pernah bergabung dengan Disney di ‘Million Dollar Arm’.

            Di tengah rencana pernikahannya dengan Miriam (Holliday Grainger), Bernie Webber (Chris Pine), petugas penjaga pantai di Cape Cod malah mendapat penugasan dari atasannya, Daniel Cluff (Eric Bana) yang tak berpengalaman untuk menyelamatkan kapal tanker SS Pendleton yang terbelah dua akibat badai Nor’Easter di tengah lautan. Masalahnya, selain kru yang terbatas – hanya tiga orang; Andrew Fitzgerald (Kyle Gallner), Ervin Maske (John Magaro) dan Richard Livesey (Ben Foster), misi yang menempatkan mereka menembus situs gosong pasir di tengah badai besar dengan kapal berkapasitas 12 orang, terlihat seperti misi bunuh diri.

            Oleh sutradara Craig Gillespie dan desain produksinya, dari awal tampilan logo Walt Disney Pictures, sebagian dari kita mungkin bisa menangkap bahwa ‘The Finest Hours’, sesuai set era kisah nyatanya, memang secara disengaja digagas di atas sebuah konsep trivial ke style konvensional film-film live action jadul klasik Walt Disney tahun ’50 ke ‘70-an dengan hampir keseluruhan bangunan set seolah di dalam studio. Begitupun skrip yang ditulis oleh Eric Johnson, Scott Silver dan Paul Tamasy, tak perlu muluk-muluk mencoba beranjak dari pakem-pakem tipikal ke one dimensional characters-nya.

       Walau efek spesialnya bukan kacangan, termasuk desain produksi Michael Corenblith yang paling terlihat di interior set SS Pendleton, namun balutan trivial ini berpotensi membuat pemirsanya bingung setelah selama ini digempur dengan teknologi jauh lebih di film-film blockbuster bergenre sejenis. Konsep konvensionalnya tadi memang menarik garis batas ‘The Finest Hours’ tampil lebih berupa tontonan keluarga tanpa ketegangan yang diharapkan banyak penonton sekarang, jauh lebih ringan dari tampilan poster serta trailer-nya. Corny luarbiasa, tapi tetap memuat rekonstruksi heroik  serta patriotik  dari miraculous true event-nya.

           Begitupun, selain ide kisah nyata penuh keajaiban tadi, ensemble cast-nya masih bisa muncul sebagai dayatarik yang cukup menghibur. Walau Eric Bana tak termasuk faktor pentingnya, ada Chris PineBen Foster, serta Casey Affleck dan John Ortiz sebagai kru kapal tanker SS Pendleton yang berjuang menunggu usaha penyelamatan berikut sinematografi Javier Aguirresarobe dan scoring bagus dari Carter Burwell. Sementara penampilan Holliday Grainger yang classic looks-nya terasa pas dan mengingatkan kita ke aktris ’90-an Gretchen Mol juga layak dilihat. Bagi yang mengerti pendekatan trivial – konvensionalnya, ‘The Finest Hours’ mungkin tak punya masalah, namun bagi yang lain, ia bisa kelihatan tak spesial dan mundur dari teknologi sinema sekarang, itu benar. A corny, old fashioned yet entertaining Disney studio feature. (dan)

~ by danieldokter on February 5, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: