TALAK 3: A FAIR SHARE OF PLAY BETWEEN STARS

TALAK 3

Sutradara: Hanung Bramantyo & Ismail Basbeth

Produksi: MD Pictures, 2016

Talak 3

            Ada kecenderungan sekarang di film kita untuk mengeksplorasi setting Jogja dan talenta-talenta lokal sekitarnya, atau at least yang punya latar dari sana. Tak mengapa juga, karena daerahnya memang merupakan salah satu penghasil terbesar sineas kita selain ibu kota, selain punya atmosfer seni sangat kuat dari budaya-budaya yang ada. Tapi yang lebih menarik, dalam kolaborasi style yang beragam terhadap kepentingan industri, ada usaha-usaha untuk menyandingkan ide-ide buat menyajikan tontonan yang lebih berbobot. Memihak pasar di satu sisi, tapi tak melupakan idealisme orang-orang yang ada di baliknya. Setelah ‘Mencari Hilal’, Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth kembali berkolaborasi dengan pola kemudi berbeda dalam sebuah romcom, yang mungkin tak tepat juga disebut sekedar romcom, karena ada konten drama yang kuat di dalamnya.

            Lebih dari itu, tentulah kolaborasi aktor-aktor yang ada di dalamnya sebagai star factor yang kuat, yang jelas masih jadi salah satu faktor terpenting dalam konteks film sebagai komoditi. Vino G. Bastian, Reza Rahadian dan Laudya Cynthia Bella dalam kolaborasi pertama mereka, jelas sudah memberi dayatarik lebih buat ‘Talak 3’. Apalagi wrapping taktisnya untuk memuat unsur reliji di luar sosok Bella yang sekarang mengenakan hijab tak lantas harus jadi tipikal, tanpa juga harus terlalu beresiko menyentil, satu yang kerap jadi high risk issues bagi sebagian pemirsa sensitif di film-filmnya Hanung, karena pendekatan isu sosialnya diarahkan penulis naskah Bagus Bramanti, Salman Aristo dan tim Wahana Penulis ke elemen-elemen berbeda soal korupsi di skup-skup terkecil tatanan sosial tadi. Okelah, ia mungkin dijual sebagai romcom, tapi percayalah, ‘Talak 3’ lebih dari sekedar itu, dan punya pula serangkai gimmick lain yang tak kalah memikat.

            Kita pun dibawa ke permasalahan karakter-karakternya begitu film dibuka. Di balik motivasi soal kredit macet atas rumah yang nyaris disita bank, pasangan suami istri pekerja EO Bagas (Vino G. Bastian) dan Risa (Laudya C. Bella) yang sudah bercerai dengan status talak 3 – yang dijatuhkan Bagas setelah riwayat perselingkuhannya dengan penyanyi dangdut Siska Gotik (Mozza Kirana), terpaksa bekerja sama merayu Inggrid (Tika Panggabean) untuk mendapatkan sebuah proyek ekshibisi buat menyelesaikan masalah finansial ini. Proses itu membuat mereka menyadari masih saling cinta dan memutuskan rujuk kembali, namun tentu saja tersandung putusan talak 3, dimana untuk rujuk, selain perlu waktu, harus pula melalui Muhalil yang terlebih dahulu menikah dengan Risa untuk kemudian bercerai. Mencoba mengakali segala aturan yang ada namun gagal karena birokrasi jujur, mereka akhirnya memilih Bimo (Reza Rahadian), partner sekaligus sahabat Risa sejak kecil untuk berpura-pura menjadi Muhalil. Meski awalnya menolak, Bimo akhirnya setuju membantu Bagas dan Risa. Bukannya makin mulus, masalah baru pun muncul kala rahasia yang selama ini disimpan Bimo rapat-rapat dari kehidupan mereka bertiga mulai terkuak pelan-pelan. The heart won’t lie.

            Bukan berarti paduan visi komersil Hanung dan idealisme Basbeth tak menyatu dengan padu, namun fondasi terkuat ‘Talak 3’ harus diakui memang ada pada skrip yang dirancang Bagus Bramanti, Salman Aristo dan tim Wahana Penulis dengan sangat rapi. Satu dari segelintir yang ada, kita bisa melihat proses brainstorming yang mungkin berjalan cukup ketat dalam perwujudannya menjadi sebuah plot utuh. Dan bagusnya, mereka tak serta-merta menempatkan tiga aktor dengan status ‘bintang’ ini ke dalam bentukan karakternya, tapi membiarkan ketiganya masuk ke dalam karakterisasi tadi. Potensinya jelas ada dengan status keaktoran mereka, namun di situ pula, resiko-resiko yang ada dalam plot love rivalry – ini sering terjadi pada film India atau Asia termasuk banyak film kita – dimana saat salah satu aktor dengan fanbase tak main-main harus di-setup untuk jadi pelengkap penderita di pengujungnya, resikonya juga tak sedikit dan sulit juga menghindari ending klise di mana semua bisa mendapatkan pasangan. Apalagi, konflik di third act-nya juga berpotensi membelokkan atmosfer komedi yang sudah kuat sejak awal secara cukup drastis.

           Tapi untungnya, mereka berhasil mengatasi itu. Walau konfliknya terasa dibelit terus sejauh mana mereka bisa, konklusinya tak lantas jadi serba permisif demi happy ending yang menyenangkan semua, dan sematan subplot-subplot yang juga tak bisa dihindari dalam statusnya sebagai film dengan sentuhan reliji, ternyata bisa membentuk blend yang kaya serta informatif pula, tak hanya di soal agama menyangkut aturan Talak 3 – rujuk serta muhalil, tapi juga budaya lokal sesuai setting yang tergambar jelas sampai kulinernya bahkan sepenggal soal intrik EO hingga kritik sosial soal birokrasi. Benar bahwa Hanung dan timnya juga mesti mengorbankan comedy sparks -yang sangat kental di poster serta trailer-nya di paruh akhir ‘Talak 3’ dalam turnover-nya ke dramatisasi yang ada, tapi toh tetap tak lupa membangun relevansi subplot-subplot tadi untuk sesekali meledakkan tawa di tengah emosinya. Dan yang terpenting, membuat kita, pemirsanya, bisa masuk, peduli serta setuju dengan kewajaran motivasi serta pilihan-pilihan karakternya. Tak langsung diselesaikan saja, tapi melalui proses yang tak juga membuat pacing-nya jadi terganggu. Itu, terus terang, bukan suatu pencapaian yang mudah.

            Benar pula agaknya, sulit membayangkan penerjemahannya bisa sesukses itu bila cast-nya bukan VinoReza dan Bella. Interaksi akting dan chemistry mereka, yang hadir tanpa canggung satu sama lain kala dihadapkan bersama, menghidupkan tiap porsi pembagian karakternya yang digagas dengan rapi di atas balance yang sangat baik, memang membuat ‘Talak 3’ jadi terasa begitu hidup bersama dukungan supporting cast yang rata-rata juga tampil sangat proporsional. Ada para standup comedian seperti Mo Sidik dengan quote highlight bergestur asyik ‘Salam Cinta’-nya, Cak Lontong, Gareng Rakasiwi dan Totos Rasiti, lantas Tika Panggabean, Mike Lucock dan Sitoresmi Prabuningrat (credited as H.J. Ray Sitoresmi), tapi yang paling mencuri perhatian adalah Dodit Mulyanto sebagai Basuki si PNS idealis dan Hasmi, kreator legendaris superhero IndonesiaGundala’ yang tanpa diduga bisa melucu sehebat kru Srimulat lengkap dengan hints ke karakter ciptaannya.

            Selebihnya, ‘Talak 3’ juga masih punya kekuatan dari tata teknisnya yang sekilas boleh jadi terlihat biasa saja, tapi di antara yang ada, termasuk yang sangat relevan mengeksplor ragam set Jogja-nya dari sinematografi Satria Kurnianto, tata artistik Hastagus Ekayana,  scoring dan lagu besutan Krisna Purna yang jauh lebih eksploratif dari film yang menyemat kemenangannya di FFI barusan, serta penyuntingan Wawan I. Wibowo yang bisa meng-handle timing-timing komediknya dengan tepat. Ini semua memang bekerja dengan baik di balik kolaborasi talenta-talenta yang ada, membuat ‘Talak 3’ jadi salah satu romcom terunggul dalam sinema kita. A fair share of play between stars with good laughs, and great hearts, too. (dan)

~ by danieldokter on February 7, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: