AACH… AKU JATUH CINTA: A WILD, CHAOTIC YET BEAUTIFUL MESS

AACH… AKU JATUH CINTA

Sutradara: Garin Nugroho

Produksi: MVP Pictures, TreeWater Productions, 2015

AAJC

            Di tengah arus drama reliji, biopik dan melodrama remaja dalam stagnansi genre film kita sekarang ini, yang memang paling jelas jualannya, romcom dengan profil bagus mungkin terasa melegakan. Paling tidak. Apalagi, ada usaha-usaha dengan pendekatan variatif untuk membuat kualitasnya jadi berbeda. ‘Aach… Aku Jatuh Cinta (AAJC)’, film dengan judul unik dan terasa jadul ini termasuk satu di antaranya. Digagas langsung oleh Garin Nugroho lewat skrip yang juga ia tulis, ada usaha yang jelas terlihat dalam mendekati subgenre romcom-romcom Asia; China, Korea atau yang paling jelas, Thailand – untuk menyemat percikan perjalanan sejarah buat mengantarkan template utamanya, a ‘Boy Meets Girl’ story yang di sini merupakan rendition lain lagi dari Romeo & Juliet.

            Kolaborasi Garin dengan MVP yang membawa serta Chicco Jerikho dan Pevita Pearce ke dalam pilihan cast untuk mengisi karakter bernama Rumi dan Yulia itu juga jadi faktor yang menarik. Begitupun, sempat ditangguhkan rilisnya sambil dijual ke luar dengan judul internasional ‘Chaotic Love Poems’, sebagian dari kita juga tahu bahwa romcom-nya Garin, tentu punya resiko terhadap pasar. Walau Garin sekarang adalah Garin yang jauh berbeda, ia tak pernah juga terlalu meninggalkan idealismenya di belakang. Then again, katanya, film yang baik, akan selalu bisa menemukan penontonnya – tak peduli sebatas apa dalam segmentasi yang tercipta bersamanya. And to some others, yang paling penting, jelas bagaimana pendekatan tadi tercapai untuk membuat ‘Aach… Aku Jatuh Cinta’ jadi punya batasan beda dengan yang lainnya.

            Entah sengaja atau tidak, Romeo & Juliet rendition di sini memang dibangun atas konsep chaotic sesuai judul internasionalnya, bukan hanya dari plot hingga ke eksplorasi set hingga props-nya. Sebuah narasi buku harian mengantarkan kita ke naik turun hubungan Rumi (Bima Azriel, dewasanya diperankan Chicco Jerikho) dan Yulia (Angelista, dewasanya diperankan Pevita Pearce) yang hidup bertetangga sejak kecil hingga dewasa selama tiga dekade (’70 ke ’90-an). Hubungan yang kerap diwarnai kekacauan atas ulah Rumi, tapi juga sekaligus jadi benang merah yang selalu kembali menyatukan hati keduanya.

            Plot itu memang terlihat sangat simpel, tapi sama seperti konsep perjalanan lintas dekadenya, apa yang ada sepanjang proses ngalor-ngidul itulah justru yang memperkuat storytelling-nya. Lagi-lagi, entah disengaja atau tidak, ketidakrapian teknis dari artistik (oleh award winning Allan Sebastian), tata rias (Darto Unce) hingga kostum (award winning Retno Ratih Damayanti) di atas rancangan produksi Ong Hari Wahyu yang terasa seenaknya membenturkan tiap detil dekade yang dihadirkan Garin bersama penggalan-penggalan adegan panggung dan sesekali, musikal – tapi tak pernah sampai jadi sorotan utama, justru diisi dengan jejak rekam peristiwa lintas dekadenya; dari minuman botol impor yang menggantikan pabrik limun lokal, gambaran ekonomi awal zaman kredit sampai politik-politik gerakan mahasiswa zaman Orba yang cermat. Di layer teratasnya, tetap ada keunikan penyampaian lewat bahasa-bahasa buku sampai puitis di dalam dialog-dialog buat menyemat interaksi karakter-karakter yang ada di dalamnya.

           Dan karena ini adalah sebuah free rendition, termasuk latar nama Rumi yang dicampurkan ke selipan sastra, tentu ada masalah pertikaian di antara orang tua meskipun dikemas cukup halus-halus saja, berikut template konklusi romansa jadul dan tipikal dimana pada akhirnya Yulia harus memilih calon suami atau Rumi yang keberadaannya tak pernah jelas. Sisanya, adalah kenakalan Garin yang memang sulit hilang dari hampir seluruh karya-karyanya. Dari pakaian dalam berwarna merah yang jadi salah satu highlight-nya, terserah apakah Anda menganggapnya sebagai simbol atau gimmick, hingga ke adegan pembuka aktifitas di sungai yang sebenarnya, maaf, tak perlu ada – apalagi sampai niat-niatnya divisualisasikan.

          Jadi ‘Aach… Aku Jatuh Cinta’ ini memang serba kacau-balau. Chaotic dan liar luarbiasa. Namun justru di situ, bersama chemistry dan interaksi akting Chicco JerikhoPevita Pearce, hingga sederet supporting-nya termasuk Annisa Hertami dan Nova Eliza, tiap perpaduan elemennya menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk diikuti. Seperti puisi tanpa aturan rima, visual dari tata kamera M. Batara Gumpar Siagian dan storytelling nyeleneh Garin yang lagi-lagi di-set mengeksplorasi eksotisme Jogja, plus scoring Charlie Meliala berikut iringan lagu-lagu klasik Ismail Marzuki (termasuk ‘Dari Mana Datangnya Asmara’ yang kabarnya sempat dijadikan judul filmnya) tetap bisa membuat kita yakin bahwa sekacau apapun, ini memang adanya sebuah puisi, yang tetap terdengar sangat cantik pula saat disampaikan. Bersama ending yang berhasil mengemulasi feel inspirasi-inspirasi romcom Asia-nya lewat rangkaian romantisme yang membuat semua kekacauan itu menjadi relevan, ‘Aach… Aku Jatuh Cinta’ memang berhasil mendapatkan jiwanya, dan sulit membuat kita tak jatuh cinta. A wild, chaotic yet beautiful mess. Sayang sekali bahwa lagi-lagi perolehan penontonnya tak seperti yang diharapkan, tapi ini, benar-benar tak boleh dilewatkan. (dan)

~ by danieldokter on February 9, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: