DEADPOOL: A WHAM! BAM! R-RATED SUPERHERO FLICK

DEADPOOL

Sutradara: Tim Miller

Produksi: 20th Century Fox, Marvel Entertainment, Kinberg Genre, 2016

Deadpool B

            Sempat tertunda sekian lama setelah kemunculan yang mencuri perhatian di ‘X-Men Origins: Wolverine’, ‘Deadpool’, tokoh antihero nyentrik dari X-Men Universe komik Marvel akhirnya jadi juga mendapat instalmen solo-nya. Tanpa embel-embel serial spinoff X-Men Origins yang awalnya direncanakan, walau memang menceritakan asal-usul karakternya, ini film superhero yang sedikit berbeda. Bukan karena sosoknya adalah antihero, namun bentukan karakter komedi nyeleneh yang dipenuhi elemen kesadisan dan bahasa eksplisit serta sedikit seks – memang riskan disaksikan pemirsa di bawah umur rating dewasanya. R-rated superhero flicks, walau sebelumnya bukan tak ada, memang lebih sering dianggap punya resiko besar dalam perolehan box office yang maksimal, menjadi momok bagi banyak studio.

            Penundaan demi penundaan yang terkesan kurang percaya diri itu juga mungkin yang membuat Fox seakan tak mau menggagasnya dengan polesan yang benar-benar wah. Tanpa gimmick 3D, even post-conversion, menyerahkannya ke sutradara Tim Miller, creative director dan visual effects artist nominee Oscar untuk Best Animated Short FilmGopher Broke’ namun belum punya kredit banyak kecuali opening sequenceThe Girl with the Dragon Tattooremake dan ‘Thor: The Dark World’, penulis skripnya, Rhett Reese & Paul Wernick, duo writer dari ‘Zombieland’ dan ‘G.I. Joe: Retaliation’ pun masih jauh dari status A-list. Sementara Ryan Reynolds yang sudah punya performa bagus di ‘X-Men Origins: Wolverine’ tapi gagal di proyek saingan mereka, DC‘s ‘Green Lantern’, jelas tetap jadi sebuah kesempatan besar untuk didongkrak kembali.

      Tapi agaknya mereka memang punya konsep yang bagus, selain tetap mempertahankan julukannya sebagai ‘Merc with a Mouth’ yang punya tendensi ‘breaking the fourth wall’ di komik-komiknya. Pun di satu sisi, perkembangan jauh karakternya dari supervillain sebelum berevolusi pelan-pelan menjadi antihero, pasti membuat segudang kesulitan. Toh mereka cukup pede untuk membentuk kisah origin-nya dibalut konsep Marvel Studios dalam mengeksplorasi genre. Belum sehebat visi-visi Kevin Feige dan para director/writer-nya, memang, tapi paling tidak, menyemat atmosfer romance sebagai salah satu layer terpentingnya, apalagi seabrek referensi pop kultur ke dalamnya, ini, tidak biasa.

            Sebagai serdadu bayaran yang memilah-milih klien, Wade Wilson (Ryan Reynolds) yang jatuh cinta dengan cewek panggilan Vanessa Carlylsle (Morena Baccarin) seketika merasa impiannya pupus ketika didiagnosa menderita kanker terminal. Nekad demi cintanya pada Vanessa, ia diam-diam menerima ajakan untuk masuk ke dalam eksperimen misterius Francis Freeman (Ed Skrein from the new ‘The Transporter’) dan asistennya Angel Dust (Gina Carano) tanpa menyadari kemudian konsekuensinya. Berubah menjadi sosok monster dengan kekuatan self-healing, ia pun memutuskan menjadi vigilante bertopeng bernama ‘Deadpool’ dengan satu tujuan: memburu Francis untuk mengembalikannya ke keadaan semula.

            Oh yeah. ‘Deadpool’ memang muncul dengan nuansa komedi action yang sangat nyeleneh. Walau sebelumnya sudah ada ‘Kick-Ass’ dan karakterisasi Reynolds yang agak mirip di dua instalmen terakhir ‘Blade’, Miller bersama Reese dan Wernick mendobrak batasannya lebih jauh lagi. Action sequence-nya mereka gagas di high level goryness yang jelas hanya bisa diganjar paling rendah dengan rating dewasa, sementara komedi nyeleneh yang nyaris jadi sebuah parodi ‘breaking the fourth wall’ (dimana karakter film kerap berbicara langsung pada penontonnya) terhadap banyak hal, penuh dengan harsh dialogue, explicit language dan ‘disease pornsporn pula, menyenggol inkonsistensi karir Ryan Reynolds, penggabungan universe dengan film-film X-Men dari self-mocking jokes sampai kemunculan karakter Collosus dan Negasonic Teenage Warhead yang diperankan Stefan Kapičić dan Brianna Hildebrand (juga sangat komedik) sebagai benang merah ke universe X-Men hingga ke kultur pop 80-90an – dari musik (dari Sinead O’Connor ke Mohammed Rafi‘s Bollywood classics ada di dalamnya) hingga film, dari ‘The Matrix’ ke post credits sequence yang jelas-jelas jadi perfect gimmick untuk pemirsa yang mengenal karakter Ferris Bueller dari teen movie trend ’80-an.

              Di tengah-tengahnya, ada blend yang cukup menyatu dengan hadirnya sempalan romance sebagai motivasi terbesar plot dan origin karakternya. Jadi jangan heran kalau referensi pop culture tadi jadi amunisi yang tepat sebagai pengiringnya. Dari George Michael & Wham! reference ke lagu-lagu golden love songs macam ‘Careless Whisper’ bahkan ‘You’re the Inspiration’-nya Chicago yang di-set untuk muncul di sekuens-sekuens penting secara sangat unlikely. Ini memang kelihatan seperti konsep yang agak kacau-balau, super-meta campur aduk yang tak juga benar-benar maksimal baik di satu sisi menjadi aksi superhero dengan CGI dan action super spektakuler sekelas film-film Marvel lain, ataupun di sisi lain, sebuah extreme romance solid a laTrue Romance’ atau ‘Drive’. Namun paling tidak, feel-nya terbaca dan tergarap bukan sembarangan. Salah satu pendorong terkuat di sisi romance ini tentulah chemistry yang bagus antara Reynolds dengan female lead yang diperankan oleh Morena Baccarin, aktris TV dari ‘Firefly’, ‘Stargate SG-1’ ke ‘Homeland’ dan ‘Gotham’ dengan screen presence cantik dan sangat menjanjikan karirnya ke depan.

            Tapi yang jauh lebih menarik dari semua crossover concepts yang memang bekerja menjadi sebuah tontonan seru, heboh serta tak biasa dengan penerjemahan ‘laku’ di setiap sisinya itu memang ada di konten marketing-nya. Dari menjual pakem romance-nya membuat ‘Deadpool‘ sebagai official blockbuster Valentine’s Day, plus seabrek poster-poster promosi yang aneh tapi nyata dan icon penulisan ‘Deadpool‘ dengan emoji tengkorak (for Dead) – kotoran (for Poo) + L, tim marketing-nya juga bisa memanfaatkan concern berlebih di era sosmed terhadap resiko-resiko R-rated and up-movies antara larangan orangtua dengan antusiasme pemirsa bawah umur, dan oh well, memang benar, such things called ignorance for some yang ada di tengah-tengah keduanya buat makin mendorong lagi hype-nya. Layaknya film-film seperti ‘Ted’, tapi di-push lagi dengan kepadatan gory action dan status superhero flick-nya.

             Apapun itu, silahkan sibuk memperbincangkan arus hype oleh konten marketing tadi. Take sides or not, just chill. Toh bagi penonton kebanyakan, perpaduan elemen yang berbeda dari film superhero biasanya-lah yang menjadi dayatarik utama ‘Deadpool’, dan ia berhasil, bahkan dengan banyak rekor box office buat R-rated superhero movies termasuk instalmen-instalmen solo Wolverine. Action sadis penuh efek CGI dan komedi yang mengandalkan celotehan-celotehan nyentrik karakternya memang berhasil menciptakan formula baru yang sangat menghibur, sementara wujudnya sebagai instalmen X-Men memang membuat sulit menahan pemirsa di bawah umur untuk tetap datang bahkan dibawa orangtua mereka memenuhi bioskop. Lagi-lagi, pembatasan usia penonton pun masih akan terbentur lagi ke tahapan-tahapan perkembangan usia pemirsanya, dimana saat anak-anak usia balita mungkin akan tetap mengingatnya sebagai aksi superhero bertopeng, usia menjelang remaja justru sudah sangat terbiasa mendapatkan konten yang sama dari seabrek tontonan R-rated yang lain. Like listening to ‘80’s golden love songs album, drunk while talking to the wall, ‘Deadpool’ is a Wham! Bam! funny R-rated superhero flick! (dan)

~ by danieldokter on February 18, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: