I AM HOPE: AN AWARENESS TO SURVIVE AND THRIVE

I AM HOPE

Sutradara: Adilla Dimitri

Produksi: Alkimia Production, Kaninga Pictures, Wardah, 2016

 

I am Hope

            Ada banyak memang film kita yang membahas soal penyakit untuk alasan melodramatis. Menjual derita di balik tangisan buat jadi daya tarik buat penonton sebagai sebuah ‘disease (not poverty) porn‘. Sebagian dari mereka, ada pula yang dikemas sebagai PSA (Public Service Announcement) secara terang-terangan. Kadang diiming-imingi niat baik yayasan peduli ini dan itu, tapi justru membuat pemirsa terutama yang punya riwayat kaitan dengan penyakitnya bukan jadi terangkat, malah jadi paranoid luarbiasa dengan pessimistic ending tak kepalang. Sementara, yang didasari sebuah gerakan dalam nilai-nilai positif, baik dalam memberi info, spreading awareness, and above all – an effective campaign, mungkin tak banyak.

         Menyebarkan kesadaran terhadap kanker dan harapan bagi penderitanya untuk bertahan menjadi pemenang, ide ini berawal dari gerakan gelang harapan (bracelet of hope) yang digagas oleh Wulan Guritno bersama Janna Soekasah dan Amanda Soekasah atas rancangan ibu Janna dan Amanda, desainer kondang Ghea Panggabean untuk tujuan donasi buat para penderitanya. Sadar bahwa kepedulian itu tak boleh hanya terbatas sampai di sana, sebagai film, ‘I am Hope’ sebenarnya berupa aktivitas untuk menyokong niat tadi menjangkau kesadaran lebih jauh lagi. Niatnya jelas tak salah dan patut didukung, sekarang mari lihat presentasinya termasuk ke golongan yang mana dari film-film dengan fondasi yang tak jauh beda tadi.

            Mia (Tatjana Saphira), penulis yang hidup sederhana bersama ayahnya, Raja (Tio Pakusadewo) – seorang komposer, sepeninggal ibunya (Febby Febiola) karena kanker, bermimpi mewujudkan pertunjukan teaternya sendiri. Sayang, luka itu terulang lagi saat Mia divonis menderita kanker paru-paru stadium lanjut. Sadar waktunya tak banyak, bersama sahabat rahasianya, Maia (Alessandra Usman) dan David (Fachri Albar), aktor yang baru dikenal Mia dan mulai jatuh hati kepadanya, Mia menjadikan mimpi dan harapannya ke sebuah skrip yang akhirnya disambut baik oleh seorang produser teater Rama Sastra (Arriyo Wahab). Namun tantangannya tetaplah kondisi Mia yang kian rapuh sambil menjalani program kemoterapi, sementara dukungan satu-satunya adalah cinta dari orang-orang terdekatnya.

            Benar bahwa ‘I am Hope’ memang tak bisa lari sepenuhnya dari hal-hal klise yang ada di genre drama atau PSA sejenis soal penyakit, secara layer terdasar penceritaannya memang diilhami dari kisah-kisah sejati para cancer warriors or survivors. Namun skrip (bersama Renaldo Samsara) dan penyutradaraan Adilla Dimitri terlihat sekali berusaha menghindari pakem-pakem tipikal itu dalam banyak detil adegan, penyuntingan Aline Jusria (lihat bagaimana mereka menggagas scene batuk darah yang biasanya tampil dengan rentetan yang sangat tipikal di film-film kita) hingga bangunan interaksi para karakternya. Selagi banyak tampilan kesedihan tak terhindarkan, mereka tak serta-merta menggagas interaksi ini jadi senada dengan disease melodrama yang lebih serba terang-terangan.

         Walau beberapa di antaranya punya resiko menahan emosi seperti yang banyak diharapkan penonton kita secara tipikal, ada restriksi yang jelas untuk menjaga itu. Avoiding these cliches, Adilla mengalihkannya lewat selipan-selipan info lebih detil termasuk aspek-aspek genetik dalam kasus-kasus kanker namun cukup halus, berikut gimmick soal teater, yang meski tak lantas sepenuhnya sukses jadi simbol mendalam namun tetap memberi batasan beda buat banyak tema sejenis, untungnya juga ada permainan ensembel yang menarik dari deretan cast-nya terutama Tio Pakusadewo (lagi-lagi menampilkan kepiawaiannya memainkan instrumen dan bernyanyi) dan pendatang baru Alessandra Usman di atas chemistry kuat mereka bersama Tatjana Saphira. Fachri Albar yang cukup lama tak muncul juga terlihat berusaha bertransformasi agak berbeda dari biasanya, dan walaupun tak sekuat mereka, tetap punya charming presence yang terjaga. Pemeran pendukung seperti Kenes Andari dan seabrek cameo yang dimunculkan juga tampil bagus, terutama Arriyo Wahab. Tata musik dari Aghy Narottama dan Bemby Gusti serta beberapa lagunya mungkin ditempatkan agak berlebih di sebagian adegan, tapi tak sampai jatuh jadi kelewat stirring sebagai latar.

            Namun hal terbaik dalam ‘I am Hope’ memang adalah uplifting atmosphere yang tak lantas membuat alunan plot-nya jatuh menjadi cengeng dan berpegang pada rasa kasihan pemirsanya. Mengusung gerakan tadi sebagai dasar, advokasi-advokasi terhadap semangat pengharapan menuju konklusi atas twist kecil, yang meski tak terlalu rapi dalam distraksi-distraksi storytelling yang berusaha ditampilkan sejak awal namun tetap mengarah ke wrapping ending begitu penting ke pemilihan judulnya – bisa muncul cukup mulus di atas tampilan cantik sinematografi Yudi Datau bersama tata teknis lain yang memberi kesan keseriusan penggarapan terutama dalam penjagaan detil medis. Sayang sekali lagi-lagi sambutannya belum berbanding sama dengan antusiasme atas gerakan dasarnya, tapi niat baik terhadap sebuah kepedulian memang tak boleh sampai di sini saja. In the most uplifting note, cukup sejalan pula dengan gerakanya, ‘I am Hopespreads the awareness to survive and thrive through love, dan itu sudah cukup untuk membebaskannya dari label-label klise sebuah ‘disease porn’. (dan)

~ by danieldokter on March 1, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: