COMIC 8: CASINO KINGS PART 2; THE GRAND SCALE OF DUELING COMICS

COMIC 8: CASINO KINGS PART 2

Sutradara: Anggy Umbara

Produksi: Falcon Pictures, 2016

Comic 8 Casino Kings Part 2

            Lebih dari sekedar film laku, blockbuster adalah formula. Ini yang masih sering luput dari konsep banyak filmmaker kita, bahkan yang berkecimpung di arus film komersil, sekali pun. Benar memang bahwa trend yang cenderung terus berubah punya peranan besar dalam penciptaan konsep itu, tapi Anggy Umbara, dalam metamorfosisnya, plus kepercayaan Falcon PicturesPH yang sering tak segan mengelontorkan budget – terhadapnya, jelas jadi satu sineas yang punya visi cukup liar ke arah ini. Meski masih banyak yang mencibir ke gaya storytelling-nya, Anggy sudah berulang kali membesut film laku di tengah kelesuan penonton kita. Tetap ada missed shots, memang, tapi lihat rata-ratanya. Dan ‘Comic 8’ secara branding memang sudah menjelma menjadi sebuah franchise kuat – dimana banyak kasus dalam industri film kita justru membaca sekuel sebagai tanda kelesuan PH akan serangkaian karya baru yang terus-terusan gagal.

            Masih di balik banyaknya cacian akan keputusan membagi sekuel yang diberi judul ‘Casino Kings’ ini menjadi dua bagian lebaran kemarin, harus diakui juga kalau ini adalah trik dagang yang jitu. Toh bukan selebihnya – bahkan sebagian termasuk sebagian yang melemparkan omelan mereka, mungkin – berarti jadi malas, tapi justru penasaran untuk menantikan sekuelnya lewat teaser hint yang digelar Anggy di pengujung ‘Casino Kings Part 1’. Bukan hanya perhelatan gala premiere-nya jadi sebuah rekor di sisi jumlah hall, gimmick promosi termasuk standee dan undangan, angka box office-nya pun fantastis buat film kita sekarang. Tapi lebih dari itu, sekarang, paling tidak kita punya blockbuster lokal yang bisa mendominasi layar bioskop seperti blockbuster luar. Suka atau tidak, secara komedi memang tak bisa lepas dari ‘like and dislike’ terhadap subjek-subjeknya, Anggy sudah menggebrak formula itu. Dengan bandingan rata-rata jumlah penonton kita sekarang atas alasan-alasan klise kalau ditanya – mengarah ke rasa rugi mengeluarkan harga tiket untuk film Indonesia, artinya; banyak penonton yang tak merasa rugi mengeluarkan uang untuk datang ke bioskop buat ‘Comic 8’ – sama seperti film-film luar yang berapapun HTM-nya rela-rela saja mereka tonton. Whether you like it or not.

            Picked up where they left us off di ‘Casino Kings Part 1’, ‘Casino Kings Part 2’ masih melanjutkan misi Comic 8 (Arie Kriting, Babe Cabiita, Bintang Timur, Ernest Prakasa, Fico Fachriza, Kemal Palevi, Mongol Stress dan Ge Pamungkas yang menggantikan Mudy Taylor sejak bagian pertama) yang terjebak di sebuah pulau sebagai pion dalam permainan judi online internasional melawan sosok misterius bernama The King bersama konspirator sekaligus musuh lama mereka, Dr. Pandji (Pandji Pragiwaksono). Kembali harus menghadapi dua algojo The King, Isa – Bella (Donny AlamsyahHannah Al-Rashid) dan The Ghost (Yayan Ruhian) berikut sekumpulan mercenary (Barry Prima, Willy Dozan, George Rudy, Lydia Kandou plus Sacha Stevenson & Soleh Solihun), sementara Chintya (Prisia Nasution) yang bekerjasama dengan kepolisian (Boy William & Dhea Ananda) dan agen lain (Agus Kuncoro & Candil) masih terus membuntuti pimpinan mereka, Indro Warkop atas kasus perampokan bank sebelumnya.

            Tak hanya jadi film yang berhasil mengumpulkan komika/standup comedian Indonesia terbanyak (selain nama-nama di atas masih ada Cak Lontong, Adjis Doaibu, Boris Bokir, Lolox, Uus, Temon, Gita Bhebhita, Mo Sidik, Jovial & Andovi da Lopez, Arief Didu, Isman HS, Gilang Bhaskara, Akbar Kobar, Asep Suaji, Awwe, Bene Rajagukguk), ‘Casino Kings Part 2’ juga masih ditambah dengan penampilan aktor, pemusik serta komedian lintas generasi dari Ence Bagus, Joe P. Project, Gandhi Fernando, Bagus Netral sampai Ray Sahetapy dan Sophia Latjuba plus Agung HerculesNikita Mirzani yang kembali muncul.

             Pack of stars and comedians ini jelas sudah menjadi dayatarik utama ‘Comic 8’ selain jualan komedi para komika tadi, bersama gelaran action dengan sentuhan adventure fantasycreature feature (dari buaya ke sekarang, naga) yang masih jarang-jarang ada di film kita. Begitupun bukan berarti VFX dan tata teknis lainnya dikerjakan asal-asalan. Meski di soal VFX ia tetap tak bisa dibandingkan dengan film-film luar, bersama tata kostum – artistik, suara, roaring score Indra Qadarsih sampai fast paced editing Cesa David Luckmansyah Bounty Umbara dan sinematografi Dicky R. Maland yang tanpa muluk-muluk membentuk blend sempurna dengan style Anggy, ini tetap adalah sebuah effort yang cukup baik serta berani buat sinema kita. Semua bermain di batasan jelas dalam wujud tontonan hiburan murni yang membidik pasarnya tanpa pretensiusme ini itu, dan menyatukan begitu banyak comics dan cast lain di balik style personal yang berbeda-beda dengan proporsional, itu sudah jadi sebuah kejelian lebih.

            Dengan semua elemen yang memang mentranslasikan skala gede-gedean untuk sebuah ‘blockbuster’ nasional itu, Anggy memang berhasil membayar penantian fans-nya yang masih menggantung di bagian pertama sekuel ini – yang sebenarnya lebih mirip sebuah setup, bahkan dengan lagi menyisakan plot twist yang relevan buat pengembangan sekuel selanjutnya berikut tribute standup para komika bersama guliran end credits-nya. Satu yang jelas, goes to a grand scale dalam gelaran petualangannya, ‘Comic 8’ memang tak pernah bermaksud untuk ditanggapi dengan persepsi-persepsi kelewat serius kecuali dalam tata teknisnya, dan kenyataannya, dalam skala film kita, termasuk juga koreografi aksi dan keseluruhan penggarapannya, bukan sekedar main-main dan justru tampil sangat serius.

          Berpijak dengan patron 80% template komedi para subjeknya, kalaupun ia gagal menghibur, ini lagi-lagi hanya masalah klise resepsi sebuah komedi; like or dislike. Toh di situ juga mungkin sebagian yang bukan penyukanya bisa mempertanyakan kotak selera mereka dibandingkan angka penonton totalnya nanti. Sementara bagi penyukanya, yang tetap bisa menikmati seluruh ride-nya di antara racikan tawa, action serta fantasi, this is a grand scale of dueling comics. A pure – sheer entertainment. Just live with that, dan jangan merasa salah dengan itu. (dan)

~ by danieldokter on March 7, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: