LONDON HAS FALLEN: ‘80S CANNON SHOWCASE WITH LOT MORE BUDGETS

LONDON HAS FALLEN

Sutradara: Babak Najafi

Produksi: Focus Features, Gramercy Pictures & Lionsgate Films, 2016

London has Fallen

            Walau arahnya terlihat dan potensinya ada, tak banyak mungkin yang menyangka bahwa ‘Olympus Has Fallen’, action tahun 2013 besutan Antoine Fuqua bisa berkembang menjadi sebuah franchise. Bukan saja karena saingan terang-terangan di balik kasus klise curi-mencuri ide antar studio di Hollywood dengan ‘White House Down’ yang sama-sama punya premis ‘Die Hard on The White House’, dimana filmnya Roland Emmerich itu memang terkesan lebih all-out sebagai A-list blockbuster studio gede ketimbang style Fuqua yang sering masih mementingkan struktur ketimbang aksi.

            However, selain memang punya cast yang kuat dengan Gerald Butler sebagai terjemahan total genre aksi di lini terdepannya, film itu memang sangat tak salah untuk berlanjut jadi sebuah franchise. Berpindah dari Millennium Films ke hak distribusi baru yang dipegang Focus dengan divisi (lebih) komersilnya yang hampir kolaps, Gramercy, trio produsernya; Mark Gill, Alan Siegel dan Butler sendiri, menaikkan levelnya menjadi sesuatu yang agak beda dengan pendahulunya. Apalagi, adanya nama Danny Lerner di deretan produser yang baru tutup usia tahun kemarin, adiknya Avi Lerner dari Millennium Films yang memang mengadopsi template Cannon Group, Inc.-nya Golan-Globus di era ’80-an. Fondasinya masih tetap sama, dengan feel American Jingoism yang kuat di balik tema penyerangan orang nomor satu. Tapi ‘London’ tak lagi malu-malu untuk menggebrak sisi aksinya jauh lebih.

            Ketenangan Mike Banning (Gerald Butler), Secret Service agent andalan Presiden AS Benjamin Asher (Aaron Eckhart) menantikan anak pertama dari istrinya, Leah (Radha Mitchell) setelah peristiwa di film sebelumnya ternyata tak lama. Menemani Asher bersama direktur agensi Lynne Jacobs (Angela Bassett) ke pemakaman PM Inggris, ternyata mereka kembali menjadi sasaran, kali ini oleh gembong teroris Pakistan Aamir Barkawi (Alon Moni Aboutboul) yang melancarkan serangan balik atas dendamnya kehilangan seluruh keluarga dalam sebuah serangan drone. Dan serangan kali ini memang tak main-main. Bukan saja menewaskan sejumlah pimpinan negara-negara dunia sambil meluluhlantakkan London dan semua landmarks-nya, Asher mereka buru sebagai sasaran pribadi untuk dieksekusi di depan mata seluruh dunia. Bergabung dengan agen MI6 Jax Marshall (Charlotte Riley) di tengah komando yang mulai disusupi, Banning pun kembali harus menyelamatkan Asher serta dunia, nyaris seorang diri dengan segala taktik yang ia miliki.

            Penyutradaraan yang berpindah dari Fuqua ke tangan Babak Najafi, sineas Swedia berdarah Iran yang meski pernah menyabet penghargaan Berlinale untuk film pertamanya namun belakangan lebih sering membesut film-film Swedia komersil, termasuk satu action Swedia yang paling dikenal dalam skup internasional; ‘Snabba Cash / Easy Money 2’ ternyata tak membuat ‘London’ jadi punya ciri beda, or at least lebih Eropa, sebagai film aksi. Malah, dibandingkan pendahulunya, bahkan ‘White House Down’ yang mengambil template lebih kontemporer, sekuel ini seperti terjun bebas tak tanggung-tanggung menggelar nonstop showdown-nya. Budget-nya tak jadi soal lebih kecil, tapi yang kita lihat di layar lebar justru sebaliknya. A pure Hollywood dream dengan kualitas total popcorn ala Cannon, dari ‘Invasion USA’ ke ‘The Delta Force’ semua elemennya ada di sini, bahkan sampai ke feel dari scoring Trevor Morris yang sudah cukup lama tak kita temukan di film-film sekarang, tapi tak kedodoran di sisi teknis, koreografi sampai VFX-nya.

            Skrip dari Creighton Rothenberger & Katrin Benedikt dari ‘Olympus’, Chad St. John & Christian Gudegast yang bukan juga nama-nama screenwriter kelewat dikenal, memang hampir tak menyisakan ruang lebih untuk elemen lain kecuali untuk cat & mouse action-nya kali ini. Menggelar aksi, aksi dan aksi di balik kombinasi destruction porn, hard boiled action dan jingoism yang tetap terasa sangat ‘fun’ dalam intensitas aksi di tengah streets of London yang dikosongkan bak sebuah zombie thriller, ‘London’ memang punya resiko meminggirkan nama-nama besar di deretan cast-nya. Dari Radha Mitchell, Angela Bassett, Robert Forster, Melissa Leo hingga Morgan Freeman kali ini ditahan hanya benar-benar sebagai pendamping yang nyaris tak penting. Masih ada pula Jackie Earle Haley yang bahkan lebih tersia-sia dari semuanya.

            Then again, mungkin itu memang tujuannya. Dan memang benar, berisi plot tipis bahkan untuk sebuah aksi berlatar intrik dan aktivitas terorisme, plus dialog-dialog yang kerap lebih kedengaran tolol ketimbang relevan, anehnya, ‘London Has Fallen’ tak terjebak menjadi action kelas B yang biasanya lewat begitu saja. Dalam segala sisinya, ia benar-benar mendorong pendahulunya jauh ke belakang lewat permainan intensitas aksi yang solid, adrenaline ride dengan ketepatan timing luarbiasa. Ridiculous, sinting, call it whatever you want, tapi kala sebuah konsep bisa bekerja sekuat ini di pakem-pakem serba klise dan mostly predictable, causing sheer ecstasy kala karakter-karakter jagoan kita bisa selamat dalam presisi detik, bahkan dengan sepenggal strong-punching sequence di penutup yang membuka kemungkinan petualangan Banning – Asher bermain superpower jingoism lain sambil memporakporandakan para seterunya nanti, penerjemahannya hanya satu. Mereka berhasil menaikkan formulanya ke titik yang kita inginkan. ‘London Has Fallen’ adalah salah satu action showcase paling menyenangkan yang pernah ada. Bloody hell. (dan)

~ by danieldokter on March 13, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: