13 HOURS: THE SECRET SOLDIERS OF BENGHAZI; SAME BANG, DIFFERENT BAY

13 HOURS: THE SECRET SOLDIERS OF BENGHAZI

Sutradara: Michael Bay

Produksi: 3 Arts Entertainment, Platinum Dunes, Paramount Pictures, 2016

13-Hours

            Diangkat dari novel berjudul sama karya Mitchell Zuckoff berdasar kisah nyata sebuah tim militer rahasia yang bertugas melindungi kedutaan AS di Benghazi, Libya pasca serangan 9/11, ’13 Hours’ memang adalah film perang-nya Michael Bay. Buat sebagian orang, nama Bay yang belakangan jadi identik dengan franchiseTransformers’ lebih berkaitan dengan sajian film sebagai hiburan murni, namun di sini secara konten memang ada yang menahan pakemnya untuk tetap menawarkan sesuatu yang lebih ketimbang sekedar seru-seruan ala Bay.

            Pasca serangan 9/11, Benghazi, Libya, dianggap AS sebagai situs paling beresiko bagi mereka. Begitupun, mereka tetap mempertahankan kedutaannya tetap dibuka, namun di bawah perlindungan CIA bersama sekelompok tentara rahasia. Jack Da Silva (John Krasinski) yang baru tiba untuk mengisi posisi tadi bergabung dengan Tyrone (James Badge Dale), mantan marinir Mark (Max Martini) dan sekumpulan rekannya tak lama kemudian menemukan dirinya terjebak dalam sebuah serangan kelompok militan yang mulai menghabisi mereka satu-persatu.

            Meskipun premisnya simpel, skrip yang ditulis Chuck Hogan, penulis novel ‘Prince of Thieves: a Novel’ yang diadaptasi menjadi ‘The Town’-nya Ben Affleck, cukup mewarnai ’13 Hours’ dengan selipan unsur biopik dari masing-masing karakter-karakter nyatanya.  Meski mungkin bukan menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, ada balance yang kuat di antara hati, pilihan-pilihan prinsip, patriotisme berikut intrik-intrik politik soal kontraktor CIA ke dalamnya, membuatnya tak sekedar jadi gambaran American jingoism yang biasa hadir di film-film komersil bertema sejenis.

         Namun yang paling menarik tetaplah sekuens-sekuens adegan perangnya yang dirancang dengan taktis dan terasa sangat seru dengan salah satu spesialisasi Bay di film-filmnya, begitupun unsur boom-bang ini tak pernah jadi kelewat over the top. Sinematografi peraih Oscar Dion Beebe (lewat ‘Memoirs of a Geisha’) juga sangat membantu mengarahkan feel-nya seolah membawa pemirsanya tengah memainkan POV war games ke tengah-tengah situasi chaos yang sedang dialami oleh para karakternya.

       Di tengah durasinya yang mungkin akan terentang sedikit terlalu panjang, tetap ada tight pace editing juga dari Pietro Scalia, editor kawakan yang terakhir membesut ‘The Martian‘ berikut scoring Lorne Balfe yang memperkuat sisi patriotisme dan pacuan adrenalinnya di sepanjang film. Ini paling tidak sangat membantu membuat durasi panjang itu sama sekali tak terasa membosankan.

       Pilihan cast adalah nilai tambah selanjutnya. Benar bahwa aktor-aktor seperti James Badge Dale dan Max Martini punya gestur yang tepat untuk peran-peran gahar seperti ini, apalagi dengan tampilan brewokan yang kadang membuat kita agak terdistraksi membedakan karakternya, namun keluar dari zona aman biasanya di film-film drama atau komedi romantis, John Krasinski-lah salah satu pemenang terbesar dalam ’13 Hours’.

       Dalam keseimbangan antara sekuens-sekuens aksi, politik dan juga hati sebagai sorotan kisah nyatanya, ’13 Hours’ ini bisa jadi tetap sangat Bay dalam banyak pola penyajiannya terutama dalam presentasi aksi, tapi semacam ada restriksi yang membuatnya bahkan lebih restrained dari film-film Bay lain macam ‘Pain and Gain’ ataupun ‘The Island’. Same bang, different Bay. (dan)

~ by danieldokter on April 18, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: