THE JUNGLE BOOK: BARE NECESSITIES OF VISUAL AND HEARTS

THE JUNGLE BOOK

Sutradara: Jon Favreau

Produksi: Walt Disney Studio Pictures, 2016

The Jungle Book

            Dalam sejarahnya, walaupun termasuk salah satu kumpulan cerita klasik dari Rudyard Kipling berdasar pengalamannya selama hidup di India (1893-4), ‘The Jungle Book’ dengan karakter utamanya si anak rimba Mowgli dan beruang Baloo mungkin lebih dikenal sebagai karakter Disney. Tak juga sepopuler karakter Disney princess dan animasi klasik lainnya, meski ratingnya rata-rata sempurna, versi animasi Disney tahun 1967 (berikut live action-nya di tahun 1994; cukup bagus dengan theme song berelemen kultural India yang apik, ‘Two Different Worlds’ dari Kenny Loggins namun agak miscast oleh Jason Scott Lee yang melempar Mowgli ke petualangan lebih dewasa dan sekuel animasi 2003 yang tak terlalu diingat banyak orang) pun sebenarnya bukan yang pertama karena sebelumnya di tahun 1942 sudah ada versi yang juga dianggap klasik dibintangi oleh aktor cilik bernama Sabu, juga produk dengan critics praise selangit hingga sekarang.

            But Disney really knows how to sell, itu benar. Inilah kedigdayaan Disney menjual kontennya, sekaligus menunjukkan mengapa mereka sekarang mereka berada paling depan dalam industrinya, apalagi setelah mengakuisisi franchise-franchise  perusahaan-perusahaan jempolan dari Marvel hingga Lucas Film dengan ‘Star Wars’-nya. Sejak trailer-nya diluncurkan dengan Jon Favreau yang lekat ke franchiseIron Man’ sebagai sutradara, popularitasnya semakin menanjak lagi. Tampilan visualnya sangat eye-catching, apalagi dibantu oleh pengisi suara yang rata-rata menampilkan aktor kelas satu Hollywood di balik visual luarbiasa megah itu. Usaha itu tak meleset, dengan rekor box office hebat di mana-mana. Tapi sebaik apa sebenarnya versi 2016 ini secara keseluruhan dibanding pendahulunya?

            Diasuh oleh kawanan srigala pimpinan Akela (Giancarlo Esposito) dengan Raksha (Lupita Nyong’o) yang dianggapnya ibu, Mowgli (Neel Sethi) tetap dilindungi oleh macan kumbang Bagheera (Ben Kingsley) yang dulu menemukannya sebatang kara sewaktu bayi. Tapi hukum rimba yang ditegakkan oleh harimau Shere Khan (Idris Elba) lantas membuatnya menolak keberadaan Mowgli seiring usianya. Menyimpan rahasia masa lalu Mowgli yang akhirnya ditunjukkan oleh ular raksasa Kaa (Scarlett Johansson) yang hendak memangsanya, tujuan Shere Khan hanya satu; membunuh Mowgli, walaupun Mowgli sudah didorong Bagheera untuk melarikan diri bergabung ke pemukiman manusia. Dalam pelarian itulah Mowgli justru bertemu dengan Baloo (Bill Murray), beruang yang kemudian jadi sahabat setianya.

            Kecuali pembelokan cerita tentang Kaa yang kini menjadi ular betina dan tetap menjadi sosok jahat sama seperti animasi Disney berikut beberapa sekuens yang mungkin walaupun senada tapi jatuh cukup menakutkan buat pemirsa sangat belia (no wonder, ada keterlibatan besar dari John Lassetter dan Pixar Animation Studios dalam development-nya), tak banyak yang berubah dari kisahnya. Hanya saja, skrip yang ditulis oleh Justin Marks mencoba lebih setia ke karya asli Kipling di sisi lain selebihnya ketimbang didominasi melucu-lucu ala Disney animated classics.

            Begitupun, Favreau tetap mempertahankan feel animasinya terutama lewat semua tampilan musikal klasik dengan komposisi ulang John Debney ke lagu-lagu soundtrack Disney legendaris ‘The Bare Necessities’, ‘I Wanna Be Like You’ bahkan ‘Trust in Me’ dalam scarier ambience yang dinyanyikan Scarlett Johansson di kredit akhirnya. Masih ada juga penampilan menarik Christopher Walken sebagai orangutan raksasa King Louie yang bukan saja me-rendisi ulang ‘I Wanna Be Like You’ sekaligus menjadi salah satu sekuens action dan klimaks paling seru dalam ‘The Jungle Book’.

            ‘The Jungle Book’ versi 2016 ini juga berhasil menemukan jiwanya dalam sosok Neel Sethi, aktor cilik berdarah India lewat proses open casting ekstensif antar negara yang melibatkan ribuan calon. Menjelma sangat mendekati Mowgli yang selama ini kita kenal lewat animasi klasik dan komik-komik Disney, Sethi memang punya kualitas itu dalam tampilan dan kepolosan akting, bahkan kelincahannya yang harus menempuh pelatihan parkour selama pre-produksi. Ber-chemistry dengan karakter-karakter CGI yang disuarakan aktor-aktor hebat, Sethi adalah elemen jagoan dalam kapasitas sama dengan sejumlah nama besar itu.

            Namun hal terbaik dalam ‘The Jungle Book’ memang tetap ada pada visual CGI beserta setnya berikut sinematografi DoP kawakan Bill Pope dari film-film Sam Raimi dan ‘The Matrix Trilogy’ dalam pencapaian luarbiasa. Presentasi 3D-nya juga punya beauty of depth yang tak main-main. Bersinergi dengan chemistry voice cast yang juga ‘raksasa’ berikut penampilan Neel Sethi bersama mereka, tak heran kalau ia lantas jadi salah lebih seru dengan satu adaptasi terbaik yang pernah dibuat. Petualangan yang dibalut teknologi sinematik itu luarbiasa seru, tapi tetap tak pernah lupa memuat komedi dan hati ke tengah-tengah presentasinya. Di sini pula, idiom andalan ‘bare necessities’ dalam ‘The Jungle Book’ versi Disney menemukan penerjemahan terbaiknya. Over hearts, and visuals. (dan)

~ by danieldokter on April 18, 2016.

2 Responses to “THE JUNGLE BOOK: BARE NECESSITIES OF VISUAL AND HEARTS”

  1. I like its….. Exciting !!!

  2. Sngt direkomendasikan utk ditonton, film dngn cerita&visual yg seimbang, kita jd ikut merasakan knpa Harimau disebut si Raja Hutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: