ADA APA DENGAN CINTA? 2: THE MAGIC RECAPTURED

ADA APA DENGAN CINTA? 2

Sutradara: Riri Riza

Produksi: Miles Films, Legacy Pictures, Tanakhir Films, 2016

AADC2

            Banyak mungkin orang yang bertanya, film apa yang dianggap sebagai monumen kebangkitan film nasional setelah mati suri di akhir ‘90an? ‘Petualangan Sherina’-kah? ‘Jelangkung’-kah? Atau ‘Ada Apa Dengan Cinta?’? Dari banyak konteks, entahlah jumlah penonton, antusiasme atau berapa bulan lamanya film itu bertahan di jumlah layar yang sangat terbatas karena bioskop yang mati satu-persatu di zaman itu, kita mungkin tak benar-benar punya jawabannya.

           Tapi yang jelas, kecermatan Mira LesmanaRiri Riza lewat Miles Films membuat ‘Petualangan Sherina’ di tahun 2000 dalam membaca pasar anak-anak dan orangtua yang kala itu jengah dengan konten anak-anak yang ada, memindahkannya ke template lagu-lagu penyanyi cilik Sherina Munaf yang jauh lebih berkelas dengan orkestrasi penuh tapi tetap child-friendly, membuahkan sambutan yang bagus sekaligus menciptakan brand yang kuat buat Miles sendiri. Itu, harus diakui punya peranan dalam meletakkan dasar yang kuat untuk ‘Ada Apa Dengan Cinta? (AADC)’ dua tahun berikutnya.

        And okay. Ada banyak film kita di genre yang sama, film remaja yang tak juga pernah mati – dalam gambaran tipikal kisah cinta. Tapi yang bisa membuat karakternya jadi punya status legendaris, hanya segelintir. Rangga dan Cinta adalah sebuah fenomena yang menyamai Romi dan Yuli ataupun Galih dan Ratna dari ‘Gita Cinta dari SMA’. Ia tak sepenuhnya bermain dengan trend, tapi justru menciptakan trend di tengah banjirnya film remaja luar dengan gang cewek SMU lantas menyemat sosok anak muda introvert yang menggemari puisi sambil membawa tribute ke ‘Aku’-nya Chairil Anwar buat jadi idola di atas interaksi bahasa yang tak seperti remaja dan orang-orang kebanyakan. Dian Sastro, Nicholas Saputra, semua pemeran pendukung, musik dan lagu hingga keberadaan Miles Films-nya Mira Lesmana dan Riri Riza sebagai salah satu brand terbesar rumah produksi film nasional bersinergi begitu kuat menerjemahkan elemen-elemen tak biasa-nya, menghantarkan ‘AADC’ bak sebuah keajaiban, sebagai sebuah simbol kesuksesan baru.

            Butuh 14 tahun bagi Miles untuk akhirnya menggelontorkan sekuelnya, berkolaborasi dengan Legacy Pictures-nya Robert Ronny dan Tanakhir Films-nya Mandy Marahimin, di tengah banyaknya anggapan miring sejalan dengan fenomena industri kita – bahwa kebanyakan sekuel biasanya jadi penanda rumah produksinya butuh pengembalian modal atas sederet karya yang gagal di pasaran – atau kasus ‘Pendekar Tongkat Emas’ yang tak mencetak box office sebanyak yang diharapkan. Tapi toh terbukti bahwa rentang selama itu ternyata tak membuat penonton melupakan Rangga dan Cinta. Sementara film pendek yang diproduksi salah satu brand aplikasi komunikasi sosmed tempo hari juga jadi tools buat uji pasarnya, walau tak secara langsung berhubungan, kisah Rangga dan Cinta kini berlanjut.

            Dengan penyutradaraan yang berpindah dari Rudy Soedjarwo ke Riri Riza, ‘AADC 2’ mempertemukan kembali Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) yang menghilang beratus-ratus purnama setelah pertemuan mereka 9 tahun yang lalu di New York. Bertemu di Jogja saat Cinta mengadakan perjalanan reuni bersama teman-temannya (Adinia Wirasti, Sissy Priscillia, Titi Kamal) sebelum menikah dengan Trian (Ario Bayu), Cinta sekali lagi harus diombang-ambingkan oleh perasaan untuk benar-benar bisa menentukan pilihan hatinya.

            Selagi feel reuni dan nostalgia menjadi salah satu titik kesuksesan Mira-Riri mengulang kembali keajaiban dan status pionir-nya di tengah sulitnya film kita mengumpulkan penonton, sebenarnya ‘AADC 2’ bukan sama sekali tak punya kekurangan. Musiknya, tetap dari Melly Goeslaw dan Anto Hoed dengan theme song berjudul ‘Ratusan Purnama’ mungkin tak sekuat pendahulunya. Kala kita punya lebih dari tiga tracklist favorit di soundtrack AADC yang masih memorable hingga sekarang, ‘Ratusan Purnama’ yang dibawakan Melly bersama Marthino Lio menjadi satu-satunya yang paling kuat, itu pun butuh waktu untuk bisa jadi addictive bagi para pemirsanya tanpa langsung menempel seperti AADC-nya Melly dan Eric dulu.

            Sementara elemen puisi yang kini terasa jauh lebih kontemporer oleh Aan Mansyur juga lebih segmental ke penikmat bait-bait puisi yang lebih free-style ketimbang berima seperti apa yang dilakukan Rako Prijanto di AADC. Jangan lupa juga, bagi sebagian orang, kegagalan mereka mengajak Ladya Cheryl kembali menokohkan Alya, side characters yang paling menohok di film pertamanya di atas visi-visi yang sudah jauh berbeda, walau ini tak relevan karena AADC memang berbicara tentang Cinta bukan Alya, sedikit banyak jadi disappoinment bagi penyuka karakternya.

             Dan kalaupun mau menyebut satu lagi, kehadiran karakter baru bernama Sukma yang harusnya jadi benang merah penting ke re-interaksi itu tak sepenuhnya berhasil dibawakan oleh Dimi Cindyastira yang nantinya akan bermain dalam produksi Miles berikut, begitu pula side characters baru lainnya yang tak bisa masuk ke tengah-tengah yang sudah ada dengan percikan kekuatan yang sama baik dari akting maupun screen presence mereka – termasuk Ario Bayu bahkan Christian Sugiono yang tak lebih dari sekedar cameo.

            Namun begitu, hal terbaik dalam ‘AADC 2’ sebagai sekuel adalah bagaimana Riri menerjemahkan skrip Mira dan Prima Rusdi yang mentransformasi kelanjutan kisah Rangga dan Cinta ke dalam sebuah road trip semalam berkeliling Jogja – dalam membangun sisi-sisi re-interaksi karakter-karakternya. Tidak hanya terhadap Rangga dan Cinta sebagai fokus utamanya – tetap dimainkan Dian dan Nico dengan charm dan magnetic sparks yang berproses sama kuat ke film pertamanya, tapi juga side characters yang sudah kita kenal seperti Milly – dibawakan dengan sangat luwes oleh Sissy Priscillia, Karmen (Adinia Wirasti) yang kini punya porsi lebih untuk menggagas subplot dan motivasinya, Maura (Titi Kamal) bahkan Mamet (Dennis Adhiswara) lewat sebuah twist lucu.

              Bertolak ke template trilogi ‘Before Sunrise’ yang juga melontarkan karakter Jesse – Celine-nya Ethan Hawke dan Julie Delpy sebagai salah satu on-screen couple legendaris, re-interaksi ini dibangun Mira dan Riri dengan cermat bukan hanya pada gambaran ataupun kepentingan promosi Miles biasanya atas situs-situs wisata eksotis Indonesia yang belum tergali – di sini, Jogja secara lebih kuat dari film apapun dengan jualan set yang sama, tapi lebih ke esensi mengapa trilogi itu begitu berhasil dengan rentang panjang kisah asmara dua karakternya.

              Bahwa ada detil-detil ‘grown-up process’ dan ‘the loss of innocence’ berbeda dari perjalanan usia karakter di tiap dekade instalmennya, ‘AADC 2’ hadir dengan sensitivitas tinggi di atas sense of playfulness dari Riri menampilkan tahapan-tahapan itu, yang akhirnya membuat proses re-interaksi itu mengalir luarbiasa rapi dan lancar di atas detil-detil juara dari gestur, ekspresi hingga chemistry mereka yang tampil begitu apa adanya. Kekakuan serta awkward romanticization yang makin mencair secara bertahap dan membuat penonton meleleh serta bereaksi kuat di tiap adegannya juga punya fondasi luarbiasa kuat ke nostalgic glimpse-nya, termasuk keberadaan musik dan puisi sebagai unsur yang padu, sebagai sebuah reuni yang sangat berhasil mengulang keajaiban film pertamanya.

           Selebihnya adalah sisi teknis yang juga tergarap dengan baik, menunjukkan production values sepadan melebihi ekspektasi ke teaser dan trailer-nya yang masih cukup jauh berada di bawah feature pendek yang digarap Mira bersama brand aplikasi komunikasi sosmed sebelumnya. Ada sinematografi cantik dan konseptual dari Yadi Sugandi di balik kompromisme Riri ke beberapa shots yang mungkin tak seperti karya dia biasanya – namun tak lantas mendarat kelewat aji mumpung termasuk beberapa placement serta ending yang dikeluhkan sebagian orang namun punya relevansi jelas terhadap tujuannya sebagai produk yang memang mau menjual nostalgia.

           Apapun itu, di atas semuanya, ‘AADC 2’ punya kekuatan jelas untuk menyadarkan kita bahwa kontinuitas sebuah brand besar tak akan bekerja tanpa keputusan cermat orang-orang yang ada di balik penciptaannya. At last, a huge box office we all deserve di atas rekor mengembalikan jumlah penonton yang sudah bertahun-tahun tak mampu dicapai banyak film kita yang laku di pasaran, bahkan saat harus bersaing jumlah layar dengan blockbuster luar sebesar ‘Captain America: Civil War’. Penantian panjang para fans-nya yang merambah ke negara-negara tetangga secara begitu fenomenal akhirnya terpuaskan tak hanya dengan pencapaian yang layak, tapi juga seperti produk awalnya, membuat kita ingin selalu menikmatinya lagi dan lagi. It’s not easy to recapture the magic, but ‘AADC 2’ just did it smoothly after hundreds of full moons. Ini luarbiasa. (dan)

~ by danieldokter on May 15, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: