CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR; THE REAL DEAL OF COLLATERAL DAMAGE

CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR

Sutradara: Anthony & Joe Russo

Produksi: Marvel Studios, Walt Disney Studios Motion Pictures, 2016

Civil War

            Ada kata bergaris bawah tebal yang jelas-jelas menunjukkan mengapa adaptasi komik superhero DC tak pernah bisa mengungguli Marvel, secara rata-rata baik dari resepsi kritikus maupun angka penjualan. Bahwa Marvel, di tangan presidennya Kevin Feige, adalah kekuatan konsep. Benar, dalam konsep yang mereka namakan Marvel Cinematic Universe (MCU) itu, mereka berproses, bermetamorfosis, punya modifikasi juga sesekali, tapi, mereka jelas tahu benar konten yang mereka miliki. Bukan sekedar mencoba-coba lewat proses trial and error tanpa bisa move on dari satu kesuksesan.

            Ada keputusan tertentu juga mengapa ‘Civil War’, salah satu bagian terpenting komiknya yang menempatkan para superhero Marvel ini dalam perseteruan hebat didapuk menjadi instalmen soloCaptain America’, selagi bagian cerita lain yang memuat perseteruan lain para karakternya, ‘Infinity War’ nanti jadi instalmen gabungannya di ‘The Avengers’.

            Satu hal lagi yang terpenting, dalam persaingan sengit dua kubu produsen franchise superhero ini, selagi DC suka terlihat mencari peluang tanpa perhitungan cermat, Marvel justru sering seperti memperbaiki kesalahan yang dilakukan DC. Lihat ketika ‘Man of Steel’ dicerca karena soal collateral damage, di ‘Age of Ultron’, mereka memberi fokus lebih ke perjuangan para karakternya menyelamatkan penduduk sekitar. Sekarang, saat ‘Batman v Superman’ barusan dinilai gagal meneruskan kesalahan itu ke plot-nya sebagai motivasi utama yang malah tenggelam dengan banyaknya sempalan, ‘Civil War’ – tanpa disangka banyak orang atas usaha rapi menyimpan plot-nya – menggagas motivasinya dari hal yang sama. So where it all leads, mari kita lihat.

            Dari aksi Captain America (Chris Evans) dkk. menghentikan Crossbones (Frank Grillo) di Nigeria, bibit perpecahan yang sudah dimulai di ‘Age of Ultron’ jadi semakin meruncing ketika sekretaris negara Thaddeus Ross (William Hurt) yang mulai resah dengan banyaknya korban sampingan meminta mereka jadi organisasi resmi PBB di bawah pengawasan. Terpecah jadi dua kubu, penandatanganan perjanjian di Sokovia kembali mengambil korban dengan Bucky Barnes (Sebastian Stan) sebagai tersangka utamanya. Maka pecahlah perang di antara dua kubu The Avengers – satu yang sangat dijual sebagai tagline promosinya tanpa harus sok asyik dengan singkatan ‘vin depicting the wordversus’, #TeamCap dan #TeamIronMan – sementara Black Panther (Chadwick Boseman) masuk ke tengah-tengah atas kematian ayahnya, Raja Wakanda yang turut jadi korban, juga sosok misterius bernama Helmut Zemo (Daniel Bruhl). Selagi Tony Stark/Iron Man (Robert Downey, Jr.) mau meringkus Bucky, Captain America justru mencoba melindunginya karena tetap menganggap bahwa sosok Bucky sebagai The Winter Soldier adalah korban rekayasa HYDRA yang perlu diselamatkan.

            Di luar adegan-adegan aksi body combat seru dengan templateThe Raid’ yang sangat terasa tetap digarap oleh Joe Russo dan Anthony Russo, berikut kemunculan satu tokoh Marvel yang sudah lama ditunggu-tunggu kembali ke rumahnya (yang sudah menyaksikan trailer-nya tentu tahu) plus Ant-Man (Paul Rudd), kekuatan utama ‘Civil War’ adalah skrip yang digarap Christopher Markus dan Stephen McFeely. Tak sepenuhnya mengambil source instalmen ‘Civil War’ versi komik, mereka lebih berpegang pada konsep yang selama ini sudah menjadi gagasan instalmen baik kolaborasi maupun solo acts karakter-karakternya.

            Di skrip itu, elemen-elemen genre-nya bisa berpadu luarbiasa erat, dari bentukan karakter yang sudah digagas sebelumnya ke konflik perpecahan yang jelas ketimbang hanya menyemat kata ‘versus’ seperti ‘Batman v Superman’ tempo hari, membuat pemirsanya dengan mudah bisa menyatu dan memilih keberpihakan mereka ke tagline promosi tadi di atas opsi dan prinsip abu-abu buat penekanan manusiawi kisahnya. Tak hanya Captain America dan Iron Man sebagai pentolannya, semua karakternya mendapat story-arcs yang jelas dalam memilih kubu dan menyuarakan pilihan keberpihakannya, bahkan menyemat atmosfer dan subgenre khas dengan benang merah jelas dari instalmen solo para karakter itu.

            Di sana pula, kolaborasi aktor-aktornya bukan jadi sekedar meramaikan, tapi masing-masing tampil dengan solid menokohkan karakter masing-masing. Chris EvansRobert Downey, Jr.Sebastian Stan adalah fokus utamanya, sementara Don Cheadle, Anthony Mackie, Scarlett Johannson, Jeremy Renner, Paul Bettany dan Elizabeth Olsen mendapat porsi bak peran mereka di ‘The Avengers’. Masih ada dukungan Emily Van Camp, Frank Grillo, Alfre WoodardMartin Freeman dan William Hurt dari instalmen Hulk yang belum berlanjut, tapi spotlight terbesar selain fokus utama itu adalah Chadwick Boseman, Paul Rudd dan Tom Holland plus Marisa Tomei dengan reunion hint bersama Downey, Jr. dari romcom hit tahun 1994, ‘Only You’. Sebagai Black Panther, Boseman bahkan sebentar lagi mendapatkan instalmen solo-nya. Terakhir adalah Daniel Bruhl dalam konsep karakter biasa – tak seperti komiknya – namun walau motivasinya klise, menyimpan potensi kuat sebagai seorang villain dengan balutan hati.

            But above all, hal terbaik dalam ‘Civil War’ adalah bagaimana Russo bersaudara bersama Markus dan McFeely menggagas motivasi collateral damage-nya buat semakin membelokkan franchise raksasa ini ke ranah-ranah serba dark menjadi sebuah instalmen paling heartbreaking, punya segudang hati dengan luka-luka akibat perseteruan yang sangat terasa, tanpa lantas menggampangkan penyelesaiannya seperti ‘BvS’ dengan faktor Martha yang lebih berupa blunder konyol kemarin. Tampilannya lebih ke full combat action ala Russo sehingga sinematografi Trent Opaloch tak perlu terlalu panoramik seperti Larry Fong dalam ‘BvS’, begitu pula tampilan bombastic VFX dan gimmick 3D-nya, namun guliran plot itu benar-benar dibalut dengan big hearts, tak pula melupakan sisi fun excitements-nya lewat comedic scenes dan punchlines seru, termasuk dari scoring Henry Jackman yang tetap memberi ruang ke bagian-bagian komposisi utama ‘Captain America’-nya Alan Silvestri buat mempertegas bandrol instalmennya.

            So, lagi-lagi inilah digdaya Feige dan Marvel Studios menggagas konsep universe-nya, dari keseluruhan film ke hint-hint menarik di after credits scene-nya. Salah satu instalmen terbaik Marvel yang akan sulit buat bisa disaingi pesaingnya sekaligus lagi-lagi memberi contoh telak dalam menggagas motivasi utama yang sama. Selagi DC mengaku berserius ria namun gagal menyentuh kedalaman plot-nya, Marvel tetap melaju dengan konsep fun tapi bisa menjadi luarbiasa dalam. So you want collateral damage? This IS collateral damage. The real deal in the genre. (dan)

~ by danieldokter on May 19, 2016.

One Response to “CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR; THE REAL DEAL OF COLLATERAL DAMAGE”

  1. Wah lama banget baru keluar review nya. Pasti keasyikan di jepang ya. Saya sendiri sangat menyukai film ini. Gak sia-sia ngantri dan desak-desakan dari jam 10 pagi. Sampai ingin nonton 2 kali. Agak sedih liat Avengers cuman tersisa Iron Man, War Machine dan Vision. Padahal bentar lagi Thanos bakalan nyerang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: