AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA; PESAN KLISE DENGAN PENGGARAPAN SEIMBANG

AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA

Sutradara: Herwin Novianto

Produksi: Film One Productions, 2016

Aisyah

            Biar sekarang tengah sangat berkembang di sinema kita, film luar bukannya sama sekali tak punya artikulasi terhadap tema-tema religi. Ada yang menyebutnya biblical genre, religious films dan banyak crossover yang memuat unsurnya, tak salah juga bila ia disebut genre ataupun subgenre. Lagi-lagi, film bukanlah ilmu pasti, bukan pula berdasar teori dari satu literatur. Semua tentangnya dibangun atas persepsi dan pergerakan macam-macam industri yang berbeda. Satu yang jelas, kala kita memuat keyword-nya di mesin pencari, sejauh list film-filmnya muncul, terserah mau menyebutnya apa, dan tak ada definisi baku soal itu.

            Membentuk trend di sinema Indonesia, baik dari nama maupun sematan love story yang selalu paling populer berjalan bersamanya, ‘Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara’ yang lebih ke drama atau bisa pula disebut film anak awalnya juga dihujani nyinyiran pengguna sosmed sebagai ciri khas publik kita. Film yang datang dari rumah produksi yang sebelumnya melempar ‘My Idiot Brother’ dan ‘Sebuah Lagu Untuk Tuhan’, keduanya bukan film yang menonjol ini – memang awalnya melansir teaser poster dengan banyak kesalahan penulisan sehingga jadi sasaran socmed bully. Tampilannya yang bersahaja juga tak terlalu menarik minat banyak orang, hingga di satu titik kita tahu setelah mereka melakukan perbaikan posternya; dalam jualan paket yang tak jauh berbeda dengan film-film religi, ada premis menarik yang diembannya, soal guru wanita berhijab yang mengajar anak-anak Atambua yang beragama Katolik.

            Lantas, dalam filmografinya, Herwin Novianto, juga mungkin tak terlalu dilirik oleh banyak orang. Baru membuat tiga film layar lebar, debutnya ‘Jagad X Code’ yang cukup unik kemudian berlanjut ke ‘Tanah Surga… Katanya’ yang meski membuahkannya Piala Citra (berikut Vidia di tahun yang sama untuk sebuah FTV produksi Demigisela) yang bukan sama sekali tak layak menang, tapi sempat diwarnai kericuhan dan tuduhan-tuduhan kontroversial soal lobi-lobi di seputar event-nya, Herwin sebenarnya cukup konsisten menghasilkan karya-karya yang baik.

            Toh pertanyaan terpentingnya tetap adalah ‘Aisyah’ dengan subjudul ‘Biarkan Kami Bersaudara’ ini akan mendarat ke arah mana. Ada banyak sekali film kita yang dibangun dengan pengenalan wilayah-wilayah remote area untuk menyemat pesan-pesan edukatif baik sebagai film anak atau religi, dan tak banyak yang berakhir sebagai sekedar polesan tanpa makna yang tersisa. Tak ada juga yang salah dengan pesan dalam film, moral ini atau apapun sebutannya, sejauh bukan disampaikan dengan preachy dan menggurui ke hadapan wajah kita. Toleransi itu penting dan terus mesti disuarakan, kita semua tahu itu. Dari sana, persepsi ini mulai berubah kala resepsi-resepsi di gala premiere-nya menyiratkan sesuatu yang sangat menggembirakan.

            Memegang pesan mendiang sang ayah untuk selalu membagi ilmu, Aisyah (Laudya Cynthia Bella) yang tinggal di sebuah desa di Ciwidey, Jawa Barat, mengejar cita-citanya menjadi seorang guru. Walau ditentang ibunya (Lydia Kandou) yang menganggap Aisyah hanya mencari pelarian atas calon suaminya, Jaya (Ge Pamungkas) yang dikirim untuk bertugas ke Aceh, Aisyah menerima tawaran dari sebuah yayasan untuk mengajar di Dusun Derok, Desa Motadik, Kabupaten Timor Tengah Utara – yang terpencil dan jauh dari peradaban modern. Menghadapi lingkungan baru ini Aisyah tak bisa langsung beradaptasi dengan baik. Satu karena sosoknya yang berhijab ternyata dikirim untuk menggantikan Suster Maria secara bertolak belakang, ia harus berhadapan dengan perbedaan tradisi, kepercayaan sekaligus penolakan.

            Premis itu mungkin tak terdengar spesial di balik pesan-pesan klise soal perbedaan dan kerukunan beragama. Tapi tak seperti trailer-nya yang terus terang, agak berpotensi provokatif dan memihak atas tampilan penuh prasangka para objeknya, bersama penyutradaraan Herwin, skrip yang dibesut Jujur Prananto, tetap merupakan salah satu penulis skrip kita yang paling konsisten – ternyata bisa menyemat elemen-elemen plot-nya secara luarbiasa seimbang. Menyusun penggal demi penggal kisahnya, bangunan karakter serta konfliknya mereka gagas di garis batas jelas dan sangat tak biasa dari film-film yang biasa kita lihat.

          Terpeleset sedikit, ia bisa menjadi sama klise, tapi ‘Aisyah’ tak begitu. Ia juga tak terlihat kelewat berusaha menahan emosi-emosi konfliknya berada dalam batas tampilan serba berkelas, termasuk lewat scoring grande Tya Subiakto tapi justru memberi warna kontras terhadap setnya yang serba kering buat jadi sesuatu yang spesial di atas segala kesederhanaan yang ada. Tata kamera dari Edi Santoso pun sama megahnya. Bermain dengan teknik pencahayaan yang berhasil memberi simbol ke shot-shot panoramik namun tahu batas, juga tata suara yang bagus dari Hadrianus Eko Sunu, mereka bersinergi begitu baiknya mengiringi penggalan jelas plot yang membagi dua momen dengan seimbang dalam kontras-kontras konflik antar religinya.

         Selain elemen misi edukasi yang juga digagas dengan pemikiran simpel namun relevan dan penuh makna – saat yang lain bicara terlalu jauh, ia cukup memuat soal penyulingan air bersih – misalnya, turnover karakternya pun tak serta-merta jatuh ke konklusi serba gampang tapi bergerak dengan wajar, manusiawi dan tak pula preachy. Selagi Laudya Cynthia Bella terlihat makin matang meng-handle porsi female lead-nya setelah ‘Talak 3’, tak peduli resiko segmentasi tampilannya yang sekarang berhijab, Herwin bersama pelatih akting Rikrik El Saptaria dan Deky Liniard juga meng-handle supporting cast-nya dengan juara.

          Bukan hanya ke anak-anak Atambua yang tampil sangat natural – terutama Dionisius Rivaldo Moruk sebagai Siku Tavares dan Agung Isya Almasie Benu sebagai Lordis Defam, juga Putri Moruk dari ‘Atambua 39 C’ dalam sematan jokes-nya dan yang paling menonjol meski dialeknya banyak dinilai tak sempurna – masih terlalu Ambon, bukan NTT, Arie Kriting sebagai Pedro. Seperti Mo Sidik dalam ‘Juara’ kemarin, bukan ia tak berfungsi dalam bangunan komediknya, namun ia sukses melepas atribut komikanya untuk beralih benar-benar menjadi seorang aktor pendukung kuat yang penampilan karakternya begitu kita tunggu sepanjang film.

             Di situ pula, Jujur justru bisa leluasa menyemat sindiran-sindirannya menjadi joke-joke lepas yang sama sekali tak sampai menyinggung kedua subjek religinya, bahwa proses interaksi dan pencerahan hati tiap-tiap karakter yang tampil di layar juga bisa terasa begitu menghujam nurani semua kalangan pemirsanya. Begitu banyak adegan yang berpotensi jadi klise dalam menggambarkan toleransi dan kepedulian antar agama tapi lagi-lagi naskah Jujur dan pengarahan Herwin membuatnya muncul dengan sangat halus, indah sekaligus tak pernah gagal membuat pemirsanya tersentuh luarbiasa. Lagi-lagi, tak banyak film sejenis yang bisa begini. Tampilan luarnya boleh saja bernuansa lebih Islami, tapi bukan ia tak memberi balance ke kontras dua religi yang disorot. It’s relieving, too, bahwa di tengah banyaknya pergerakan sinema yang mencoba kelewat ekstrim mendobrak batasan, masih ada orang-orang, para pelaku industri dengan clear conscience yang mau mencurahkan hati ke film-film seperti ini.

            Now go ask yourself. Kapan kita terakhir bisa melihat film Indonesia dengan pesan sejenis yang bisa dengan rapi menampilkan keseimbangan itu. ‘Aisyah’ punya Christmas montage – satu yang sangat jarang ada di film kita – memukau pula bersama hymneGloria in Excelsis Deo’ yang tampil begitu megah buat menengahi film bak intermission di film-film Bollywood, tapi tak lupa juga menyemat kekhidmatan Ramadhan yang membuat pemeluknya ingin segera pulang, berkumpul dengan keluarga saat Lebaran bersama simbol-simbol lain yang bahkan tampil lebih bermakna dari film-film yang dikemas dalam genre sama secara sepihak.

           Jawabannya, mungkin tak pernah. ‘Aisyah’, bagaimanapun adalah sebuah pionir, yang bahkan layak dijadikan sajian menyambut Lebaran dan Natal sekaligus dalam usaha-usaha keberagaman itu. Dengan pesan klise yang disampaikan dengan penggarapan seimbang, surprisingly, this is a gem everyone must see. (dan)

~ by danieldokter on May 25, 2016.

2 Responses to “AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA; PESAN KLISE DENGAN PENGGARAPAN SEIMBANG”

  1. Layak dapat 5 bintang gak Aisyah?

  2. bahaya… ini mah namanya pak dokter suka banget, buka sekadar suka aja…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: