MY STUPID BOSS: SEBUAH KECERMATAN MEMBACA PASAR

MY STUPID BOSS

Sutradara: Upi

Produksi: Falcon Pictures, 2016

My Stupid Boss

            Sosmed memang melahirkan banyak sekali fenomena. Dari novel ke film, ‘My Stupid Boss’ yang ditulis oleh Chaos@work ini pun begitu. Berisi kumpulan kisah seperti curhat pekerja terhadap bos-nya yang dirangkum ke dalam buku yang sudah mencapai seri ke-5, ini sudah menjadi brand kuat sebagai komoditas jualan. Kini berpindah ke layar lebar, skrip dan penyutradaraannya dipegang oleh Upi yang sudah menghasilkan film-film dari ’30 Hari Mencari Cinta’, ‘Realita Cinta dan Rock N Roll’, ‘Serigala Terakhir’ hingga ‘Belenggu’ dan segmen terakhir di ‘Princess, Bajak Laut dan Alien’.

            Sama dengan pengalaman penulisnya  yang menjadi inspirasi tweet-tweet yang dituangkan ke dalam buku tadi, ‘My Stupid Boss’ mengisahkan Diana (Bunga Citra Lestari) yang tinggal di KL bersama suaminya Dika (Alex Abbad), seorang karyawan di sana. Mencari kesibukan, Diana pun melamar ke perusahaan milik teman kuliah Dika, sosok absurd yang dipanggil dengan nama Bossman (Reza Rahadian). Bukannya senang, dengan prinsip ‘Impossible we do, Miracle we try’ yang dipegang Bossman selalu menempatkan pekerjanya bete luarbiasa bersama ulahnya yang aneh-aneh.

            Sama seperti ‘AADC 2’, saat film Indonesia berjibaku dengan jumlah penonton yang seringnya makin menipis, ‘My Stupid Boss’ adalah kecermatan membaca pasar. Jumlah besar persentase pekerja kantoran di masyarakat kita – bahkan Asia yang juga jadi sasaran pasarnya – Malaysia, Brunei dan Singapura, yang rata-rata punya masalah yang sama jelas merupakan pasar cukup besar sehingga dari hanya segelintir yang bisa, filmnya bisa sukses mencapai perolehan 2 juta penonton lebih dalam masa tayang 2 minggu dan masih terus bertahan. Mungkin, para pekerja itu butuh pelepasan yang bisa sangat related ke mereka, menertawakan atasannya, bahkan mungkin – diri mereka sendiri.

            Tapi kekuatan terbesar selain itu memang ada pada fisik Reza Rahadian yang dipermak menyamai Colin Farrell dalam ‘Horrible Bosses’ sekaligus reuninya bersama BCL dari ‘Habibie & Ainun‘. Meski lagi-lagi pendekatan memirip-miripkan fisik (walaupun berbeda dari segi peran) ini tak sepenuhnya etis, Reza (lagi-lagi membuktikan kualitas keaktorannya dengan gemilang) dan BCL begitu sukses membawakan peran mereka bersama pendukung jempolan dari negara tetangga; Bront Palarae, Iskandar Zulkarnain, Atikah Suhaime dan mostly, Chew Kin Wah sebagai Mr. Kho dengan comedic signature poker face dan suffering jokes yang nuansa komedi Asia-nya sangat kental.

       Di tangan mereka, komedi sketsa yang tampil menyerupai bukunya, yang sebenarnya tak punya skrip kuat karena selain logika-logika kecil namun penting yang terabaikan dari bentukan karakter Dika yang diperankan Alex Abbad, formula komedi repetitif di pola aksi dan reaksi yang sama terus menerus terlebih ke motivasi ending inspiratif yang datang entah dari mana, bisa tertutupi dengan kelucuan yang ada. Amunisi utamanya sebenarnya sudah habis dalam tak lebih dari 30 menit masa putarnya, tapi chemistry serta umpan-umpan komedi itu bisa dimainkan dengan baik oleh semua pendukungnya.

            Berikutnya, kekuatan lain ‘My Stupid Boss’ juga ada di tampilan keseluruhannya. Mengikuti pakem film-film produksi Falcon yang hampir selalu punya production values yang sangat bisa dipertanggungjawabkan secara sinematis – juga tak main-main soal promosi, walau apa yang ada di ‘My Stupid Boss‘ ini sebenarnya terkesan tak kreatif seperti pendekatan Upi di film-film dia sebelumnya. Di ‘Realita’ misalnya, ia menyadur gaya Gus Van Sant terutama dalam ‘My Own Private Idaho’ dan ‘Even Cowgirls Get the Blues’ – juga dalam membahas beberapa elemen yang senada pula. Dalam ‘Serigala Terakhir’, ada pengaruh dari gangster action ChinaMonga’ yang sangat terasa berikut glimpse ke ‘City of God’ di penutupnya. Di ‘Belenggu’ – ia membuat pendekatan ala David Lynch dari ‘Twin Peaks‘, ‘Lost Highway‘ ke ‘Mulholland Drive‘ serta sedikit pakem di genre nunsploitation; dan Wes Anderson di segmennya dalam ‘Princess, Bajak Laut dan Alien’ dari tone, tata artistik ke simetrisasi ala Wes yang sejenis.

          Entah ingin dikenal sebagai sutradara dengan signature copycat atau sekedar memancing perdebatan, Upi kali ini tak segan-segan menyadur konsep dan atmosfer film Perancis ‘Amelie’-nya Jean-Pierre Jeunet dari sinematografi Muhammad Firdaus, set dan artistik Ade Gimbal, kostum dan tata rias yang didominasi hijau merah termasuk tampilan gaya rambut BCL hingga ke alunan score besutan Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang biar tak mencomot komposisi tapi dipaksa muncul dengan ambience sangat mirip hingga ke pemilihan penggunaan akordion ala Yann Tiersen di film itu.

             Di satu sisi, semua ini bisa menampilkan atmosfer eye-catching yang selain tak biasa juga memberi batas-batas terhadap absurditas penceritaan serta komedinya, namun di lain sisi, ini benar-benar terasa tak kreatif mengingat source inspirasi yang diambil Upi pun bukanlah film obscure yang luput disaksikan banyak orang. Though however, sebagai sebuah hiburan, ‘My Stupid Boss’ memang berhasil tampil cukup meriah dan bisa membuat pemirsanya tertawa serta related ke subjeknya. Satu lagi yang terpenting, ia memang sudah membidik sasaran pasarnya dengan tepat. Suka atau tidak, ini sudah menjadi fenomena spesial, bahwa dalam kondisi industri film kita yang naik turun dan sangat susah diprediksi, ‘My Stupid Boss’ dalam konklusi terdalamnya – adalah sebuah kecermatan membaca pasar. (dan)

~ by danieldokter on June 2, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: