MONEY MONSTER: A HOSTAGE DRAMA WITH SATIRICAL LENS ON TODAY’S MEDIA MORES

MONEY MONSTER

Sutradara: Jodie Foster

Produksi: IM Global, Smoke House Pictures, TriStar Pictures, Sony Classics, 2016

COL_BILL_TEMPLATE_21

            Tak terlalu banyak mungkin film drama atau thriller penyanderaan – apapun latar belakangnya. Di antara yang terbaik ada ‘Dog Day Afternoon’, ‘The Negotiator‘, ‘Inside Man’ – atau yang sedikit lebih punya penekanan emosional; ‘John Q’. ‘Money Monster’ juga ada dalam kotak yang sama, namun statusnya sebagai sebuah film yang disutradarai Jodie Foster – lebih dikenal sebagai award winning actress, memang meletakkannya pada ekspektasi berbeda; karena karya-karya penyutradaraannya, dari ‘Little Man Tate’ ke ‘The Beaver’ memang hampir tak pernah ada di ranah terlalu pop atau komersil. Begitu pula film-film yang digawangi Clooney dan rekannya Grant Heslov.

            Punya elemen yang mirip dengan ‘Inside Man’ yang juga ikut diperankan olehnya, sama-sama berupa thriller penyanderaan dengan latar Wall Street dan tema ekonomi, ‘Money Monster’ jelas punya profil lebih dari dua pemeran utamanya; George Clooney dan Julia Roberts. Bedanya, skrip yang dibesut oleh Alan DiFiore, Jamie Linden dan Jim Kouf; yang terakhir ini adalah penulis kawakan dari banyak blockbuster Hollywood, memang senada ke gaya Foster yang menyorot subjeknya secara lebih mendalam.

          Di sini, selain Wall Street dan bisnis saham, mereka juga menyemat satir tentang manipulasi dan kegilaan media terutama TV sebagai sorotan utamanya. Memuat mashup-nya ke genre yang juga cukup jarang; dua di antara yang terbaik adalah ‘Network‘ dan ‘Broadcast News‘, ini mungkin yang membuat ‘Money Monster’ terasa sedikit berbeda dari yang lain, dan karena itu juga skrip DiFiore, Linden dan Kouf tak perlu terlalu repot memfokuskan latar carut-marut Wall Street dan soal stock trading-nya, tapi cukup dengan layer informasi untuk motivasi penyanderaannya. Fair enough.

            Sebagai pentolan talkshow finansial televisi ‘Money Monster’ yang sudah menjadi acuan banyak pemain saham, Lee Gates (George Clooney) sama sekali tak menyangka bahwa kasus kejatuhan saham IBIS Clear Capital yang merugikan investor hingga ratusan juta dolar AS akan berujung ke sebuah drama penyanderaan. Kyle Budwell (Jack O’Connell), seorang pekerja yang mempertaruhkan seluruh simpanannya terhadap saham tersebut nekat menerobos stasiun televisi dan menyandera Gates dengan rompi peledak. Bersama sutradara acara sekaligus kekasihnya, Patty Fenn (Julia Roberts) dan juru bicara IBIS Diane Lester (Caitriona Balfe) mereka pun mencoba mengulur waktu hingga sebuah konspirasi yang melibatkan banyak pihak pelan-pelan mulai terbuka selama prosesnya.

            Selagi soal stock trading tetap menjadi dasar motivasi para karakternya, sorotan satir yang disemat Foster tentang keadaan sosial ekonomi berikut praktik media sekarang memang membuat ‘Money Monster’ tampil sedikit beda di tengah sajian thriller penyanderaan yang tertata cukup baik. Detil kontennya tak pernah mencapai apa yang kita lihat dalam ‘Network‘ atau ‘Broadcast News‘, tapi sorotan satirikalnya bisa dibilang kuat. Sebagai fokusnya, Clooney dan Roberts jelas bermain baik walaupun chemistry mereka ke subplot soal hubungan Gates dan Fenn kerap hanya terasa tampil tak lebih dari gimmick.

        Namun yang benar-benar mencuri perhatian di tengah keduanya adalah Jack O’Connell, aktor muda Inggris yang sedang naik daun lewat action ‘71’ dan ‘Unbroken’-nya Angelina Jolie tahun lalu. Ada dukungan bagus juga dari Caitriona Balfe serta Giancarlo Esposito dan Dominic West sebagai karakter yang seperti biasanya, hampir selalu diserahi porsi antagonis di film-filmnya.

            Begitupun, benar juga bahwa ke manapun larinya, film-film senada soal penyanderaan yang kebanyakan dibangun lewat motif ekonomi memang hanya punya dua pilihan ending di tengah ironi-ironi yang ditampilkan. Walau penggabungan elemen-elemen tadi bisa dirangkum skripnya dengan keseimbangan cukup, ‘Money Monster’ melupakan satu hal soal bangunan emosi yang tak bisa benar-benar memuncak dalam proses penceritaan dan penyampaian ironinya di ending yang agak sedikit terburu-buru. Ia memang membuka mata lewat informasi-informasi yang ada, a hostage drama with Jodie Foster’s satirical lens on today’s media mores, namun belum cukup untuk membuatnya tampil sebagai yang terbaik di genre-nya. (dan)

~ by danieldokter on June 8, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: