NOW YOU SEE ME 2: THE BIGGER, BUT NOT BETTER FORM OF BLOCKBUSTER FRANCHISE

NOW YOU SEE ME 2

Sutradara: Jon M. Chu

Produksi: K/O Paper Products, TIK Films, Summit Entertainment, 2016

Now You See Me 2

            Bukan sebelumnya tak ada film tentang sulap atau ilusionis, namun dalam genre ataupun subgenre film, selain jarang, apa yang dimunculkan Summit Entertainment dengan ‘Now You See Me’ di tahun 2013 memang merupakan hal baru. Menggabungkannya dengan genre heist/caper movies sebagai blockbuster bertabur bintang, kesuksesannya akhirnya mengantarkan film ini ke ranah franchise yang diperhitungkan dengan kemunculan sekuelnya tahun ini, yang di beberapa negara juga dibandrol sub judul ‘The Second Act’.

            Menaikkan lagi level-nya terhadap kisah petualangan para pesulap kelas dunia yang sudah diintroduksi sebagai ‘The Four Horsemen’, resep yang ada di film pertama pun dipertahankan cukup baik sebagai potensi utamanya. Tipu muslihat dengan twist berlapis antara pesulap, perampokan dan intrik FBI – kini ditambah sekuens-sekuens aksi yang lebih meriah dalam production values berkelas blockbuster, ‘Now You See Me’ bahkan berpotensi untuk menjadi ‘Fast & Furious’ versi sulap ini melanjutkan set-nya ke tiga tahun setelah film pertama.

            Alih-alih mengadakan comeback performance untuk membuka praktik curang sebuah multimillion-dollar gadget company, J. Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt McKinney (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco) berikut horsemen ke-5 Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) yang membawa personil baru Lula (Lizzy Caplan) malah dijebak oleh Walter Mabry (Daniel Radcliffe), partner perusahaan yang memalsukan kematiannya. Di tengah kejaran agen Natalie Austin (Sanaa Lathan) setelah identitas Rhodes terbuka, Thaddeus Bradley (Morgan Freeman) yang dijadikan sasaran atas dendam lama Rhodes juga merencanakan pembalasannya. Grup pesulap ini pun mulai terpecah untuk bisa keluar hidup-hidup dari permainan maut yang kembali membawa mereka ke musuh lama mereka, milyuner licik Arthur Tressler (Michael Caine).

            Skrip yang tetap dibesut Ed Solomon bersama penyutradaraan yang berpindah ke Jon M. Chu kini memang menaikkan level-nya lewat tampilan yang lebih wah, action yang lebih seru serta twist yang meski berulang namun dilebarkan lebih jauh dengan turnover karakter yang meski bisa tertebak tapi tetap terjahit cukup rapi. Ada sedikit resiko memang di nuansa magis detil-detil sulapnya yang jadi tak sekuat film pertama. Selagi sutradara Louis Leterrier dengan leluasa menyemat eye tricks lewat shot-shot-nya di film pertama untuk membuat langkah-langkah tricks revealing-nya luarbiasa mengejutkan, sekuel ini lebih melulu mengandalkan dominasi CGI walaupun di-supervisi oleh ilusionis fenomenal David Copperfield, juga di atas plot yang jauh lebih rumit, namun begitu masih cukup mampu tampil spektakuler terutama di adegan-adegan klimaksnya.

            Di balik itu, deretan cast-nya juga muncul dengan chemistry yang makin erat dengan konflik antar karakter yang mulai dilebarkan ke tengah-tengah petualangan mereka. Mark Ruffalo tetap menjadi yang terkuat untuk dibenturkan ke konflik leadership dengan Jesse Eisenberg, tapi porsi Dave Franco justru ditambah, bahkan Woody Harrelson yang diserahi double role pun jadi jauh lebih kompleks dari film pendahulunya. Selagi duet aktor senior Michael Caine dan Morgan Freeman tetap jadi elemen kuat di atas twist dan turnover-nya, Daniel Radcliffe – sayang sekali, terasa agak sedikit lemah melakoni peran antagonis di balik sosok dan gestur fisiknya.

         Sementara Lizzy Caplan yang masuk untuk menggantikan Isla Fisher di film pertama punya kelebihan dan kekurangan. Di satu sisi penampilannya terasa jauh lebih menarik untuk mengisi love interest ke karakter berbeda, namun sayangnya tak mendapat bentukan karakter maupun highlight magic performance yang berimbang dengan karakter lainnya. Begitupun, ia tetap bisa memberi warna baru ke ensemble hebat tadi, dan masih ada Jay Chou yang selain ikut mengisi soundtrack juga jadi daya tarik lebih buat pemirsa Asia, serta Sanaa Lathan untuk menggantikan porsi Melanie Laurent di film pertama. Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah scoring Brian Tyler yang bisa menggerakkan semua tricks dan excitements itu dengan tambahan kemeriahan.

       So, ini memang akan kembali lagi ke apa yang diharapkan tiap lapis beda pemirsanya. Buat yang menyukai ‘Now You See Me’ bak trik sulap baru dalam treatment lintas genre yang sangat cerdas di film pertamanya, mungkin akan sedikit kecewa, tapi yang menyukainya secara tak lebih dari sekedar hiburan seru bertabur bintang, sekuel ini memang tampil lebih meriah dari sebelumnya, sekaligus membuka banyak celah pengembangan ke sekuel selanjutnya. The bigger, but not better form of blockbuster franchise. (dan)

~ by danieldokter on June 16, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: