FINDING DORY: PIXAR’S AT ITS PUREST HEARTS, VISUALS AND FUN

FINDING DORY

Sutradara: Andrew Stanton, Angus MacLane (co-dir)

Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios, 2016

finding dory

            Tak seperti ‘Toy Story’ atau ‘Cars’ dengan semua pengembangannya – dari sekuel ke animated shorts dan semua bentuk merch – companion lainnya, ‘Finding Dory’ memang butuh waktu sedikit kelewat lama untuk menyambung pendahulunya ‘Finding Nemo’. Bukan animasi itu tak sukses dulunya. ‘Finding Nemo’ justru mencetak banyak rekor dari awards ke box office sekaligus jadi sebuah instant classic, walau mungkin memang tak sekuat yang dua tadi dalam hal penciptaan dan branding efforts dari Pixar – Disney. Bandingannya mungkin lebih ada di lini ke-2 berdasarkan kekuatan brand, bersama ‘Monsters, Inc.’ yang sekuelnya juga memakan waktu cukup lama.

            Di sisi lain, ini mungkin jadi kecermatan tim Pixar sendiri untuk mengulik produk-produk lama mereka karena sedikit banyak mereka tahu, sekuel dari produk yang punya potensi – selalu bekerja lebih baik dari instalmen orisinil sebagai awal. Tapi jelas, throw themall the characters, into any toy stores, ini adalah karakter-karakter yang langsung bisa dikenal luas oleh kebanyakan orang. Sebagian dari produk-produk Pixar yang bisa punya strong – everlasting brand. Ingat, tak semua animasi Pixar punya itu, dan semua pada asalnya juga merupakan Pixar’s original. Hanya saja, ada yang berhasil jadi franchise, ada yang dari awal memang tak punya potensi sebesar itu berapapun hasil perolehan box office atau rekor-rekor lainnya termasuk meraih Oscar.

            Ini mungkin yang membuat pengembangannya jadi semakin lama seperti diakui oleh Andrew Stantonalways the core of Pixar’s hearts untuk memberi keseimbangan ke inovasi John Lasseter yang kadang terlalu liar (baca= dewasa); di mana brand-brand terbaik dari sebagian karya Pixar tadi, lahir dari skrip atau penyutradaraan Stanton – untuk berkali-kali merombak skripnya bersama Victoria Strouse. Bahkan sudah terlalu jauh melewati momen yang tepat saat ‘Finding Nemo’ dirilis ulang tahun 2010 dalam format 3D, Stanton hanya ingin ‘Finding Dory’ tak lantas jadi sekuel yang sekedar aji mumpung dan lewat begitu saja. Oh yeah, ‘Monsters University’ kemarin ada di sana, menjadi seolah sempalan tak terlalu penting walaupun tetap charming. So what’s the result, then?

            Ber-setting setahun setelah endingFinding Nemo’, ‘Finding Dory’ pun membawa kita ke introduksi ulang yang cerdas soal short term memory loss yang diderita Dory (disuarakan Ellen DeGeneres) kepada storytelling barunya, yang mungkin diperlukan bagi pemirsa lama yang sudah sedikit lupa maupun generasi baru yang belum terekspos film pertamanya. Lewat serangkaian flash of memories itu, Dory pun akhirnya tergerak untuk mencari kedua orang tuanya; Jenny dan Charles (disuarakan Diane Keaton & Eugene Levy). Perjalanan yang membawa serta Marlin (Albert Brooks) dan Nemo (kini disuarakan Hayden Rolence) untuk mendampingi Dory pun membawa mereka menuju perairan California dengan petualangan tak terduga yang menunggu di sebuah Lembaga Kelautan. Bertemu sahabat-sahabat baru, lama bahkan kembali kehilangan satu sama lain berkali-kali di tengah laut lepas, mereka mesti bertahan demi mengantar Dory menemukan kembali rumah dan kedua orangtuanya.

            Menyemat fokus petualangan seru, journey and quest yang bergeser ke karakter Dory yang memang punya character arcs paling menarik dalam ‘Finding Nemo’, skrip Stanton dan Strouse bagusnya tetap tak melupakan Marlin dan Nemo sebagai pendamping yang cukup seimbang. Bersamanya, muncul ide-ide mendasar soal overcome fear dan looking for home dalam balutan penceritaan sederhana dan ide-ide kunci yang sangat menyentuh soal shell, memory and home – termasuk scoring Thomas Newman dan theme song recycle Nat King Cole ke Sia dengan ‘Unforgettable’ yang mampu diserap semua kalangan usia dan selalu mengingatkan kita tentang hubungan terdalam soal keluarga.

          Di sana pula, mereka dengan leluasa memunculkan karakter-karakter baru yang kuat seperti Hank (disuarakan Ed O’Neill),  red octopus temperamental yang sama-sama menarik perhatian bersama sahabat masa kecil Dory, whale shark rabun tapi genit Destiny (Kaitlin Olson) dan tetangganya, paus Beluga Bailey (Ty Burrell) dengan sematan informasi echolocation paus yang menarik buat pemirsa segala usia untuk pengenalan fauna bersama aspek-aspek Marine Life Institute-nya. Semua masih digagas dengan excitement sama yang menempatkan pemirsanya seolah berada dalam akuarium raksasa dengan visual yang sangat memanjakan mata termasuk gimmick 3D-nya.

            Masih lagi ditambah oleh duo singa laut Fluke dan Rudder (Idris Elba & Dominic West) serta Gerald dan aquatic bird Becky (Torbin Xan Bullock) buat mengisi part komediknya, dua orangtua Dory – dan Sigourney Weaver, tentunya; karakter-karakter ini bekerja dengan baik untuk memberi excitement baru ke tiap sisi petualangannya. Sisanya masih ada karakter yang memunculkan nama-nama terkenal seperti Bill Hader, Stanton sendiri hingga Willem Dafoe bersama karakter-karakter film pertama yang muncul sebagai kejutan di after credits scene-nya dengan luarbiasa menarik dan menjadikannya sangat layak buat ditunggu.

            Namun hal terbaik yang membuat mengapa ‘Finding Dory’ menjadi sekuel Pixar terbaik dalam hitungan rentang waktu begitu panjang (berbeda dengan ‘Toy Story’ tak peduli sebagus apapun bahkan ‘Cars’ yang masih digagas dalam rentang normal) adalah glimpse of hearts yang bisa menyamai pendahulunya. Bahwa dengan ‘Finding Dory’, Stanton membawa Pixar kembali ke rumahnya, ke ranah klasik yang membuat mengapa Pixar punya batasan berbeda dengan Disney Animated Classics pada awalnya dulu. Hearts, visual and fun jauh di atas inovasi-inovasi plot njelimet, serba dewasa dan over-dramatization di mana sebagian karya-karya orisinil Pixar di tangan Lasseter membuat penonton sibuk mencari airmata di tengah sajian animasi segala umur yang akhirnya lebih pantas jadi tontonan usia lebih dewasa. This is Pixar’s at its purest hearts, visual and fun.

            Tak pernah sekalipun mencoba terlihat lebih pintar menuangkan rich ideas paling dasar soal rumah, hubungan keluarga dan persahabatan termasuk latar soal short term memory loss ke karakter utamanya, satu lagi yang menarik adalah privilege yang kita dapatkan dari Disney dalam soal official dubbing-nya menyusul ‘The Good Dinosaur’, jauh setelah Malaysia sudah mendapatkannya sejak ‘Tarzan’ di tahun 1997 dulu.

             Dirilis dengan judul ‘Mencari Dory’, tak hanya bahasanya yang di-dubbing ke dalam bahasa Indonesia dengan ketepatan pemilihan voicecast Syahrini dan Raffi Ahmad, sebagai highlights untuk mengisi suara Destiny dan Baileyand above all, Maria Oentoe untuk menggantikan Sigourney Weaver –  meskipun belum bisa sepenuhnya menghilangkan kekakuan penggunaan bahasa-bahasa baku, title boards animated props hingga end credits title-nya juga ikut diterjemahkan. Mari tak lagi memandang dubbing efforts secara skeptis, menyamakan semuanya, terutama ke official privilege yang sebenarnya bisa menyediakan sarana bagus buat menyemat budaya lokal sekaligus merupakan acknowledgement penting dari Disney buat pasar kita. (dan)

~ by danieldokter on June 26, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: