INDEPENDENCE DAY: RESURGENCE; A FUN SEQUEL BUT NEVER MORE

INDEPENDENCE DAY: RESURGENCE

Sutradara: Roland Emmerich

Produksi: Centropolis Entertainment, Electric Entertainment, TSG Entertainment, 20th Century Fox, 2016

ID4

            Jadi sebuah fiksi ilmiah klasik di tahun 1996, ada perbedaan yang diusung ‘Independence Day’, sering disingkat ID-4 dalam subgenre perang manusia lawan alien. Bukan semata karena feel patriotik yang disemat sekalian ke perayaan hari kemerdekaan AS buat mewakili heroisme dunia lewat skrip pidato legendaris Bill Pullman yang memerankan Presiden Whitmore, juga nama besar Will Smith – ataupun desain alien yang sempat dijual dalam merch action figure atas bentuk dan rancangan detilnya yang unik.

               Namun di film itu lah Roland Emmerich (bersama Dean Devlin yang belakangan kerap hanya duduk di kursi produser) memantapkan signature-nya di tema-tema disaster, memuat penghancuran dunia dalam skala katastropik, apapun genre filmnya dan mencetak banyak rekor box office dari ‘Godzilla’, ‘The Day After Tomorrow’, ‘2012’ ke ‘White House Down’. Kembali ke homage film-film monster atau scifi klasik, mereka menggagas racikan yang sejalan dengan sebuah gambaran kehancuran global.

           Di sana, jadi muncul koneksi kuat yang ditopang dengan baik oleh desain karakter-karakternya, dari sentral hingga yang terkecil, membuat pemirsanya begitu peduli dan masuk ke perjuangan mereka untuk mencegah kehancuran dunia. Bahkan seekor anjing kecil di tengah bahaya bisa membuat kita tak rela membiarkannya jadi korban, dan itu sebabnya kenapa pidato Presiden Whitmore jadi terasa begitu heroik. Rencana sekuel yang sudah tertunda lama pun akhirnya terwujud setelah 20 tahun dengan ‘Resurgence’ menggantikan judul awal ‘Forever’ yang digagas dengan timeline fiktif yang luarbiasa panjang selama rentang waktu itu. Tapi mengulang sebuah keberhasilan gemilang yang menjadi penanda perkembangan sinema dan genre-nya, sebuah breakthrough, jelas bukan hal yang mudah, apalagi selama itu.

              Perang manusia lawan alien dalam ‘ID-4’ ternyata tak lantas berakhir di sana. Selagi umat manusia dan PBB merancang ESD (Earth Space Defense) dengan teknologi yang diadopsi dari kemenangan mereka, pihak alien ternyata juga menyiapkan kekuatan lebih besar lagi buat menyerang kembali. Bersama satuan pilot-pilot muda Jake Morrison (Liam Hemsworth), Rain Lao (Angelababy), Charlie (Travis Tope), Patricia (Maika Monroe) putri Whitmore yang sudah meletakkan jabatan berganti ke Presiden Lanford (Sela Ward) dan Dylan (Jessie Usher), putra alm. Steven Hiller (Will Smith di film pertama), Whitmore, Dr. Brackish (Brent Spiner) dan ilmuwan David Levinson (Jeff Goldblum) pun kembali harus menghadapi serangan ini – menerjemahkan setiap koneksi dan teknologi yang lebih lagi.

            Gagal mendapatkan Will Smith yang lebih memilih ‘Suicide Squad’, rentang waktu 20 tahun itu pun dimodifikasi oleh Emmerich, Devlin, Nicolas Wright, James A. Woods hingga James Vanderbilt dengan kisah-kisah suksesor karakter-karakter intinya. Tak ada yang salah dengan itu, apalagi bersama tim VFX-nya Emmerich sudah merancang katastropik lebih lagi bersama serangkaian heroisme senada perang umat manusia melawan alien berikut latar psychic war yang jadi bagian menarik tapi sering terlewat dalam ingatan ke film pertamanya. Ada pula potensi pengembangan ke perang antar galaksi yang direncanakan ke sekuel berikutnya.

            Sebagian karakter seperti istri Hiller (Vivica A. Fox), Dr. Brackish Okun (Brent Spiner, pemeran Data dalam ‘Star Trek: The Next Generation’), ayah David (Judd Hirsch) hingga Jenderal Grey (Robert Loggia) yang tampil sekilas ikut muncul kembali dengan penambahan banyak karakter baru yang walau terasa agak sesak tapi memberi jalan untuk sematan elemen-elemen yang lebih fresh di tengah jingoism comedy ala Emmerich hingga elemen-elemen kadet ala ‘Starship Troopers’, namun tak semuanya bisa dieksekusi dengan baik walau sudah dimulai cukup kuat.

           Satu yang menarik di luar kepentingan Hollywood menggamit pasar China sekarang ini adalah membuat feel global warfare-nya lewat karakter-karakter lintas negara dari Angelababy, aktor Singapore Chin Han, warlord Umbutu yang diperankan oleh Deobia Oparei dari Kongo berikut latar kawasan mereka yang dipilih alien sebagai tempat pendaratan lanjutnya, hingga Charlotte Gainsbourg yang lebih dikenal sebagai aktris arthouse Perancis putri pasangan seleb Perancis legendaris Jane Birkin dan Serge Gainsbourg sebagai Dr. Catherine Marceaux, scientist ESD yang punya hubungan lama dengan David. Masih banyak lagi tambahan karakter yang diperankan Joey King, penulis skrip Nicolas Wright dan William Fichtner.

            Hanya saja, memang, absennya Will Smith tak bisa benar-benar tergantikan dengan satu pun karakter yang sebanding. Ansambelnya lebih besar dan meriah tapi sama sekali tak sekuat dulu. Dan penuh sesak karakter itu membuat masing-masing yang seharusnya menonjol sebagai benang merahnya jadi gagal mendapat justifikasi seimbang. Sebagian karakter penting itu mendapat eksekusi final begitu sia-sia sementara sematan lucu-lucuan tak penting justru kadang kelewat ditonjolkan tanpa diperlukan, sementara dalam kapasitas katastropiknya, alien soldiers-nya pun kini sekedar lewat begitu saja menyisakan hanya satu yang benar-benar menonjol, itu pun jauh dari kesan unbeatable.

             Impact terparahnya jatuh pada nafas patriotisme yang jadinya juga gagal menyamai ID-4. Kita tak lagi se-peduli dulu dengan karakter-karakter utamanya, dan ada miscast yang terlihat jelas juga dari pemilihan Liam Hemsworth yang tak cukup convincing sebagai rebel, pun Maika Monroe dalam interkoneksinya ke Whitmore serta Jessie Usher yang walau punya kemiripan dengan Will Smith tapi tak pernah sekalipun tampak kelewat tangguh.

               Menyisakan pameran VFX yang lebih memang ada di kapasitas lebih wah, cantik serta meriah, juga main theme ala John Williams dari David Arnold (kini dikomposisi ulang oleh Harald Kloser dan Thomas Wanker dan muncul di penutup film), ini tetap sekuel blockbuster musim panas yang sangat seru, tapi sayangnya, masing-masing elemen itu tak benar-benar bisa memuncak ke titik klimaks seheboh pendahulunya. Coba nikmati saja boom-bang ala Emmerich yang memang lagi-lagi kosong seperti film-filmnya pasca ‘ID-4’, dan jangan pernah mengharap lebih – apalagi membandingkannya satu-persatu dengan pendahulunya. A fun sequel, but never more. Sayang sekali. (dan)

 

 

~ by danieldokter on June 29, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: