SABTU BERSAMA BAPAK: A MISGUIDED ESSENCE OF A POTENTIAL FAMILY DRAMA

SABTU BERSAMA BAPAK

Sutradara: Monty Tiwa

Produksi: Max Pictures, Falcon Pictures, 2016

SBB

INT. RUANG TAMU (MASA KINI) – DAY

CAKRA duduk di tengah-tengah SATYA dan ibu mereka, ITJE, menunggu gambar keluar dari layar. Rasa berdebar-debar bercampur kangen, bukan saja karena ini pertama kalinya sejak waktu cukup lama mereka melihat rekaman di layar televisi, tapi juga karena mereka akan kembali melihat Bapak.

Gambar muncul di layar.

INTERCUT:

INT. RUANG TAMU (MASA LALU) – DAY

Tempat sama di mana mereka kini duduk, tapi dulu. Tanggal di sudut menunjukkan tanggal rekaman. “27 Desember 1991”. Sosok yang tidak asing bagi mereka muncul. GUNAWAN. Bapak bagi Cakra dan Satya. Kakang bagi Itje. Gunawan mengenakan setelan jas lengkap, menatap ke kamera sambil tersenyum lebar.

GUNAWAN

Hai Satya ! Hai Cakra !

Satya dan Cakra bagai kembali menjadi anak kecil mendengar ucapan itu. Ucapan sama yang dulu mengawali tiap Sabtu mereka.

SATYA & CAKRA

Bapak…

GUNAWAN

Kalian sedang melihat rekaman bapak paling terakhir. Tapi sebenarnya ini adalah pesan yang paling pertama bapak rekam. Bapak lakukan ini agar karena di hari yang spesial ini, bapak ingin kalian lihat bapak saat masih dalam kondisi sehat.

Gunawan muda menengok ke ruang sebelah, menanti seseorang datang, lalu berkata lagi ke kamera.

GUNAWAN

Satya, Cakra, hari pernikahan adalah hari paling penting dalam hidup. Hari pertama dari sisa hidup kalian menjadi kepala rumah tangga. Menjadi imam pasangan kalian. Kalian harus kuat. Tidak boleh lemah, ya…

Sosok Itje muda muncul. Ia juga mengenakan gaun yang amat indah.

ITJE

Kang, gagah dan senang sekali kamu hari ini.

Gunawan berdiri dan menggamit tangan Itje dan tersenyum. Mata Itje tampak berkaca-kaca.

Gunawan menekan tombol tape deck di belakangnya. ‘LAGU CINTA’ oleh Iwan Fals melantun. Gunawan membawa Itje melantai, berdansa pelan sambil berpelukan dengan sangat erat.

GUNAWAN

Kamu tahu kenapa saya begitu senang ? Karena hari ini saya berbahagia. Saya mengantar anak kita ke pelaminan.

Satya, Cakra dan Itje menatap rekaman dengan mata berkaca-kaca. Rindu yang tadi menggumpal tumpah di air mata mereka.

Gunawan dan Itje muda berdansa sampai lagu selesai. Gunawan muda mencium tangan Itje dan kembali duduk lantas berkata ke kamera.

GUNAWAN

Ibu kalian, wanita yang paling cantik di hadapan bapak. Kalian sayang ibu kalian, kalian juga harus sama sayangnya sama istri kalian, ya.

Gunawan menatap ke kamera sambil tersenyum lama.

GUNAWAN

Hari ini, bapak hadir untuk mengantar kalian ke pelaminan. Walau sudah tiada,bapak selalu ada.

Gunawan berdiri sambil mematikan kamera.

Kerongkongan Cakra tercekat. Air matanya mengalir pelan. Di kiri dan kanannya, ada Satya dan Itje yang menggenggam kedua tangannya. Erat.

CUT TO :

            Okay. Itu hanya sekedar berandai-andai, ke adegan yang seharusnya menjadi konklusi terdalam dari adaptasi novel ’Sabtu Bersama Bapak’ karya Adhitya Mulia, penulis yang popularitasnya cukup besar di kalangan sosmed, yang diangkat ke film oleh sutradara Monty Tiwa. Adaptasi novel memang masih jadi komoditas nomor satu dalam film kita. Apalagi, yang menjual kesedihan di balik tema-tema penderitaan akibat penyakit. Sebagai novel berstatus best seller yang sebenarnya berdiri di atas elemen itu, ‘Sabtu Bersama Bapak’ sebenarnya bisa sedikit menutupi eksploitasi soal tadi lewat sebuah pendekatan interaksi keluarga yang menyentuh. Itu juga yang membuat adaptasi filmnya cukup ditunggu-tunggu setelah deretan pemerannya yang memuat nama-nama terkenal diumumkan, bersama nama Monty yang punya kredibilitas cukup baik di film kita. Seringkali miss saat duduk menjadi sutradara, tapi sebagai penulis skrip, dalam memuat ide-ide witty atau kritik sosial, ia jempolan.

            Mengetahui bahwa dirinya berada dalam kondisi terminal akibat kanker yang dideritanya dengan vonis hanya setahun, Gunawan (Abimana Aryasatya) memilih menyerah namun menyiapkan pendidikan ke anak-anaknya lewat video yang ia buat untuk diputar setiap Sabtu. Berpegang pada nasehat-nasehat itu, kehidupan Itje (Ira Wibowo), istri berikut kedua putranya pun berlanjut hingga Satya (Arifin Putra) sudah membina rumahtangga dengan Rissa (Acha Septriasa) dan berdomisili di Perancis, sementara Cakra (Deva Mahendra) masih sibuk mencari tambatan hatinya pada sosok karyawan baru di kantornya, Ayu (Sheila Dara Aisha). Namun muncul lagi masalah baru kala Itje kembali didiagnosis dengan tumor yang beresiko merenggut nyawanya.

            Plot itu memang klise a la banyak film kita; didasari hal-hal tak kalah klise soal sudah jatuh tertimpa tangga dan masih ditimpa musibah lain lagi. Tapi meminjam elemen dari film luar ‘My Life’ (Bruce Joel Rubin, 1991 – dibintangi Michael Keaton dan Nicole Kidman) soal bapak di ambang kematian yang menyiapkan video bagi anak-anaknya berikut subplot soal keluarga, Adhitya yang menulis skripnya bersama Monty mungkin berusaha untuk menutupi klise-klise tadi, juga terhadap kewajaran dan motivasi karakter yang beresiko untuk dipertanyakan; ke harga kaset video 8 untuk model handycam di tahun itu terhadap pilihan berobat, misalnya. Di satu sisi, tetap ada potensi kuat yang membuatnya jadi terasa beda. Menyampingkan layer yang sangat digandrungi sineas kita terhadap elemen-elemen medis tadi buat hanya tampil sebagai latar terhadap grand idea soal banyak aspek dalam inter-relasi keluarga yang kaya, sayangnya, ‘Sabtu Bersama Bapak’ tak lantas bisa jadi maksimal karena lagi-lagi diwarnai salah kaprah informasi yang jadi salah satu kelemahan terbesar penulis-penulis kita.

          Selain pada dasarnya tak bisa membedakan kanker dengan tumor dalam penelusuran utama plotnya, berikut tampilan Hengky Solaiman sebagai dokter yang seakan memvonis diagnosis pasien dengan sugesti penuh ancaman, ada hal yang sangat fatal soal diagnosis kanker lewat surat kiriman dari yayasan terkait – bukan dokter lewat pemeriksaan pendukung, yang sangat mengganggu serta menyalahi etik bagi pemirsa yang paham. Ini menjadi flaws yang banyak sekali mendasari film kita dalam soal penyematan informasi umum yang akhirnya ikut membuat persepsi pemirsanya terhadap hal-hal yang menyangkut keahlian jadi salah kaprah – satu yang harusnya bisa dihindari dalam konten-konten sejenis, walau mungkin alasannya menghindari klise-klise aspek adegan dokter menginformasikan diagnosis pada pasiennya.

              Dan bukan hanya itu, secara visual; ‘Sabtu Bersama Bapak’ masih terasa agak mengganggu dari beberapa tone warna, tampilan gambar terutama penggunaan teknik lens flare di penyampaian flashbacks-nya yang sebenarnya tak lazim, mendistraksi sinematografi Rollie Markiano dan tak diperlukan dalam menambah bangunan emosinya, yang memang tak digagas Adhitya dan Monty sebagai penulisnya dengan kepekaan lebih seperti penggagas yang benar-benar mencintai source material-nya sepenuh hati. Instead, mereka cukup membiarkan saja aspek-aspek adaptasi filmisnya berjalan sebagaimana adanya bahkan sibuk menambah konflik dan subplot tanpa mencoba lebih memberi kesan dan penekanan esensi dalam tatanan emosi yang harusnya tampil paling depan dalam tema-tema sejenis. Belum lagi scoring Andhika Triyadi yang terasa kelewat stirring untuk menggiring kesedihan penonton di elemen-elemen drama yang sebenarnya terkesampingkan dari sematan komedinya.

             Di sini, justru elemen komedi-nya lah yang justru sangat berhasil, seperti signature Monty yang memang kuat buat menyentil kelucuan dalam karya-karyanya. Bukan berarti Abimana Aryasatya dan Ira Wibowo tak bermain kuat sebagai Gunawan dan Itje di tengah perbedaan usia dan balutan tata rias yang cukup detil dari Rinie May buat meng-handle resiko itu. Acha Septriasa malah tampil paling menonjol – all out dan tak sekalipun overacting men-tackle emosinya walaupun kerap kali tak mendapat interaksi sebanding dari Arifin Putra. Lihat salah satu adegan dramatis yang paling bekerja saat Rissa menelefon Itje yang tengah berjuang dengan penyakitnya untuk mengadukan masalahnya dengan Satya. At least, chemistry mereka masih cukup believable, dan masih ada tata artistik yang niat dari Angga ‘Bochel’ Prasetyo namun memang tenggelam oleh elemen-elemen komedi dari subplot Cakra yang diperankan Deva Mahenra bersama pendatang baru Sheila Dara Aisha yang bisa begitu mencuri perhatian.

            Inilah yang menjadi highlight terbaik untuk menutupi banyaknya kekurangan tadi, termasuk para pemeran ciliknya yang kaku, bahwa Deva – memainkan Cakra sesantai dan sekocak penampilannya di sitcom sebuah TV swasta kita, bermain lepas membangun kelucuan bersama dukungan Ernest PrakasaJenny Arnelita plus Sheila bahkan komedian Mongol yang tampil di salah satu momen komedi terbaik dengan timing pas yang meledakkan tawa. Namun lagi, ini sebenarnya adalah bumerang, dimana sematan komedinya justru jadi elemen terdepan yang menenggelamkan sisi drama yang jadi inti cerita hingga plot utamanya soal Bapak dan keluarga. Masih ada yang bisa menyentuh, namun tak pernah terasa dibesut benar-benar maksimal dengan lebih banyak miss ketimbang hit.

            Walaupun ini jadi bagian terbaiknya untuk bisa nyaman dinikmati buat menutupi aspek-aspek disease/suffering porn berbalut banyak kesalahan informasi tadi, rasanya salah juga kalau sasarannya justru berpaling ke komedi. Judulnya ‘Sabtu Bersama Bapak’. Plot-nya maunya menyentuh dan mengingatkan kita tentang sosok Bapak serta hubungan-hubungan intern antar keluarga secara dramatis. Hashtag promo-nya pun #RinduAyah. But like a misguided essence of a potential family drama, kala kita melangkah ke luar bioskop setelah bangunan emosi yang gagal memuncak bahkan berlalu begitu saja di konklusi klimaksnya, yang lebih menempel di benak kita justru banyolan Cakra dan rekan-rekan kantornya; Firman dan Wati (Ernest dan Jennifer) yang berduet luarbiasa kocak – bahkan Mongol, lebih daripada Bapak. Jatuh lagi-lagi menjadi film dengan penggarapan tak maksimal yang harus diselamatkan oleh performa ensemble cast dan elemen lucu-lucuan yang sama sekali bukan sasaran utamanya, ini sayang sekali. Sayang sekali. (dan)

 

~ by danieldokter on July 16, 2016.

2 Responses to “SABTU BERSAMA BAPAK: A MISGUIDED ESSENCE OF A POTENTIAL FAMILY DRAMA”

  1. Salam,

    Terimakasih banyak Mas Daniel unt review dan tanggapannya. Saya ingin menyampaikan koreksi mengenai penata musik unt SBB, dimana sebetulnya saya yg mengerjakan, bukan Mas Ganden.

    Betul nama di poster tercantum nama Ganden Bramanto, tetapi krn satu dan lain hal akhirnya digantikan oleh saya, dan saat itu poster promo sdh terlanjur dicetak, jadi nama saya hanya ada di credit title.

    Terimakasih banyak sebelumnya, maaf merepotkan =)

    Andhika Triyadi

  2. Sama-sama, thanks sudah mengingatkan mas. Segera diralat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: