THE LEGEND OF TARZAN: A WEIRD YET THE TRUEST ADAPTATION TO DATE

THE LEGEND OF TARZAN

Sutradara: David Yates

Produksi: Village Roadshow Pictures, Jerry Weintraub Productions, Riche/Ludwig Productions, Beaglepug Productions, RatPac Entertainment, 2016

The Legend of Tarzan

            Semua pasti tahu atau at least pernah mendengar soal Tarzan. Tapi coba tanya generasi sekarang. Sudah berapa film adaptasi tokoh rekaan Edgar Rice Burroughs (dipublikasi pertama kali tahun 1912 – majalah, 1914 – buku) yang mereka tonton dari puluhan jumlah yang ada sejak yang pertama di tahun 1918. Dua yang selalu muncul paling ‘Tarzan’ –nya Walt Disney (1997) atau malah porn version-nya – ‘Tarzan X’ yang sangat populer di sini.

             Hanya sebagian mungkin yang masih mengingat film series terbanyaknya yang diperankan oleh Johnny Weissmuller dan dulu populer sekali di bioskop-bioskop kita dari era ‘70 ke awal ‘80an, meski aslinya dirilis jauh sebelum itu. Atau versi Bo Derek ‘Tarzan the Ape Man‘ yang sempat dihebohkan juga di tahun 1981, atau yang jauh lebih serius – ‘Greystoke’-nya Christopher Lambert, apalagi versi lokal yang diperankan Barry Prima. So, meski jauh lebih well known, ini jatuhnya lebih ke character franchise yang kalau tak mau dibilang usang – tapi sudah ada di rentang terlalu jauh ke generasi sekarang, dalam kotak yang sama dengan katakanlah, ‘The Lone Ranger’, ‘John Carter’ atau ‘Flash Gordon’.

            Versi terbaru setelah adaptasi animasinya tahun 2014 yang disuarakan Kellan Lutz dan berlalu begitu saja kini datang dari David Yates yang dikenal luas sejak kiprahnya di ‘Harry Potter’ sejak ‘The Order of the Phoenix’ hingga instalmen terakhir termasuk spinoffFantastic Beasts’ yang akan datang. Legenda origin-nya yang punya elemen Inggris sangat kental memang agaknya lebih pantas dibesut oleh sutradara Inggris ketimbang Amerika. Dan seperti biasa, di mana karakter Jane seringkali justru lebih dijual ketimbang Tarzan karena rata-rata harus menonjolkan exquisite sexiness bersama karakter anak hutan bak superhero dengan sebutan raja rimba atau ‘King of the Apes’ ini, faktor Margot Robbie agaknya lebih menarik ketimbang Alexander Skarsgård yang didapuk menjadi Tarzan mengalahkan perenang Michael Phelps, Henry Cavill, Charlie Hunnam hingga Tom Hardy.

            Didahului serangkaian latar sejarah Berlin Conference yang membuat kekuasaan di Kongo terpecah, Kerajaan Belgia yang berada di ambang kebangkrutan lantas mengirim Leon Rom (Christoph Waltz) mencari permata legenda Opar ke sana (fabled diamonds of Opar ini memang beberapa kali dimunculkan dalam buku dan beberapa adaptasi Tarzan). Permata itu ternyata bukan tahayul, namun dikuasai oleh pemimpin suku Chief Mbonga (Djimon Hounsou) yang menawarkan pertukaran dengan Tarzan atas sebuah dendam lamanya. Padahal, Tarzan tak lagi berada di rimba Afrika setelah identitas aslinya sebagai John Clayton II a.k.a. Lord Greystoke sudah membawanya bersama Jane, menikah dan kembali ke kehidupan aristokrat Inggris. Bertepatan dengan itu, melalui PM Inggris (Jim Broadbent), tokoh pejuang politik George Washington Williams (Samuel L. Jackson – diambil dari real life character bernama sama) meminta Tarzan mengunjungi Kongo buat menjadi saksi pelaporan kasus perbudakan yang dilakukan oleh Belgia. Maka petualangan baru Tarzan pun dimulai di balik kesepakatan jahat Rom dan Mbonga.

            Meski karakternya merupakan tokoh fiktif rekaan Burroughs, plot kisah-kisah petualangan Tarzan memang bukan baru sekali ini menggabungkan elemen historis dalam bangunannya. Apa yang dilakukan David Yates dan produser Jerry Weintraub lewat skrip yang ditulis oleh Adam Cozad dan Craig Brewer sebagai pembuka jalan ke reboot barunya sebenarnya cukup unik. Mereka menolak untuk kembali mengulang origin story Tarzan yang kerap kita saksikan di sejumlah film adaptasinya, tapi tak lantas menghilangkannya sama sekali. Bagian-bagian cerita yang sudah diketahui banyak orang ke elemen-elemen wajib perkenalan Tarzan dan Jane dengan dialog legendaris ‘Me Tarzan, You Jane’ itu mereka jadikan sebagai layer terdasar yang tak serupa dalam back and forth storytelling-nya.

        Di satu sisi, ini memang resiko bagi pemirsa baru yang bisa jadi merasa penceritaannya berjalan agak aneh, apalagi kalau Anda sempat membaca beberapa berita di mana Yates memasukkan elemen-elemen ‘nakal’ ke dalamnya, yang untungnya urung digunakan di final version-nya. Namun di sisi lain, ini juga merupakan keputusan cukup cerdas ketimbang kembali lagi ke hal yang itu ke itu saja. Menggabungkan banyak elemen-elemen dari film-film adaptasi yang sudah ada, plus homage-homage yang entah disengaja atau tidak ke gaya flashback dan beberapa action lawas Sergio Leone, versi Yates jadi seolah sekuel ke ‘Greystoke’ tahun 1984 yang lebih banyak membahas culture clash Tarzan yang kembali ke kehidupannya sebagai bangsawan Inggris, dan ada sensitivitas lebih ala Yates yang sangat terasa di tiap sentuhan penceritaan itu.

          Dan di sana pula, Cozad dan Brewer jadi leluasa untuk menyemat elemen historikalnya buat membangun versi update karakternya secara humanis seperti yang tengah jadi trend sekarang. Meski tetap menempatkan Tarzan sebagai hero yang lebih dari orang biasa, ia bukan lagi superhero komik yang dibesarkan kawanan kera hingga bisa berkomunikasi verbal dengan hewan-hewan penghuni hutan, tapi lebih ke komunikasi telepati yang lebih wajar seperti seorang pawang. Ada batasan-batasan intelegensia manusia, hewan sekaligus alam yang digagas dengan rapi ke dalam faktor-faktor kewajaran logika yang sangat terjaga hingga klimaksnya, termasuk ke motivasi seru pertarungan Tarzan dengan saudara-saudara kera-nya dalam hukum rimba berikut pilihannya menghadapi suku pedalaman Mbonga.

             Begitupun, bukan berarti Yates melupakan sisi action-nya. Dari banyak adaptasi Tarzan setelah era Johnny Weissmuller, ‘The Legend of Tarzan’ justru jadi salah satu yang paling setia ke old skool pattern-nya tanpa harus terus bermodalkan teriakan legendarisnya. Might be a flaw to some, tapi yang lebih penting, bahwa Tarzan bukan hanya sekedar berperang dengan musuhnya yang rata-rata perusak alam dan lingkungannya dengan ayunan-ayunan mautnya dari pohon ke pohon yang di sini ditampilkan jauh lebih seru dengan sentuhan VFX dan koreo yang juga up to date meski sebagiannya terasa kelewat singkat, tapi animal raid scenes yang padat, from river to land – menampilkan berbagai jenis hewan secara tidak klise ala film-film biasanya pun, muncul dengan solid di sini.

         Karakter-karakternya pun dibangun dengan taktis. Ada humor-humor ala buddy movie yang bisa jadi terasa sedikit aneh antara Tarzan dan G.W. Williams meski chemistry-nya bagus, some works and some not, tapi Jane tak mereka tinggalkan sebagai damsels in distress di tangan Margot Robbie yang selalu bisa memadukan kecantikan – keseksian dengan dominasi feminisme yang kuat. Lihat adegannya diserang kuda nil yang lebih sering digambarkan jinak di film-film lain sebagai salah satu highlight-nya.

          Christoph Waltz sebagai villain dibiarkan berada dalam garis kontras bersama Djimon Hounsou – antara komikal seperti penampilannya yang biasa dengan Mbonga yang lebih humanis lewat motivasi karakternya, namun menyemat gambaran dilematis Tarzan secara psikologis yang sadar betul dirinya dijadikan eksploitasi sebagai manusia rimba bahkan dijual ke dalam bentuk komik – bukan buat berkomedi ria – that’s a really smart one. Di situ, sosoknya jadi terasa begitu humanis untuk memulai sebuah franchise baru Tarzan yang up to date ke trend sekarang. Dan Skarsgård memang melakonkannya dengan baik, termasuk membangun chemistry bagus ke Robbie menuju romance conclusion dari penggalan-penggalan flashback-nya di adegan penutup yang sayangnya di sini dibabat lembaga sensor kita tanpa kira-kira.

        Selebihnya, ‘The Legend of Tarzan’ masih punya sinematografi jempolan dari Henry Braham bersama gimmick 3D yang baru ini muncul dalam adaptasi live action-nya dan scoring bagus dari Rupert Gregson-Williams. So, ini memang kembali lagi ke soal-soal reference dari sebuah franchise dengan instalmen ratusan bahkan epigon lebih banyak lagiyang memang punya rentang kelewat jauh dari generasi dulu ke generasi sekarang. Para pemirsa yang sudah lebih banyak menikmati berbagai variasi adaptasi atau lebih mendalami source material-nya memang akan lebih bisa merasakan effort baru dalam segala elemen dari penceritaan ke gelaran aksi yang ada ketimbang yang seumur hidupnya baru menyaksikan dua atau tiga instalmen Tarzan tanpa sederet classic series Johnny Weissmullerno, it’s not Disney’s – yang jadi signature terkuat franchise-nya.

          Dan oh ya, pemilihan awal Michael Phelps-pun, memang digagas produser Jerry Weintraub yang tak punya hubungan dengan produser Sy Weintraub dari film-film Tarzan Weissmuller, yang juga seorang atlit renang, untuk menyamai trivia ini. So, ini jelas bukan sebuah adaptasi atau reboot Tarzan yang gagal, if you think so. Fun, seru tanpa meninggalkan romantic glimpse antara Tarzan – Jane yang jadi racikan wajibnya, it might felt a little bit weird at some parts, but also the truest adaptation to date. (dan)

~ by danieldokter on July 20, 2016.

2 Responses to “THE LEGEND OF TARZAN: A WEIRD YET THE TRUEST ADAPTATION TO DATE”

  1. Wah ada bagian yg disensor ya… Padahal ingin nonton. Agak geli juga pas Mas Dan nyebut ‘Tarzan X’ hehehehhe…

  2. Kalau saya setuju adegan romancenya banyak yg disensor…kaŕena ternyata banyak anak anak ikut nonton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: