BANGKIT! : A VALIANT EFFORT OVER DISJOINTED STORYTELLING AND SUBSTANDARD CGI

BANGKIT!

Sutradara: Rako Prijanto

Produksi: Suryanation, Kaninga Pictures, Oreima Pictures, 2016

bangkit

            Genre disaster memang masih jarang-jarang ada dalam sinema kita. Kalaupun ada, pendekatannya masih hanya berupa latar atau justru lebih ke paparan dokumentasi kejadian nyata yang direkonstruksi ke film tanpa elemen-elemen yang terlalu fiktif. Dari banyak subgenre latar bencananya – dari bencana alam ke traffic/transport accident, tercatat di antaranya ada ‘Kabut di Kintamani‘ (1972),  ‘Krakatau’ (1977), ‘Operasi Tinombala’ (1977), ‘Tragedi Lembah Sinila’ (1979) dan ‘Tragedi Bintaro’ (1989). Ada pula yang menyorotnya lebih ke fantasi mistis  seperti ‘Jin Galunggung‘ (1982).

           Namun dalam pendekatan ke blockbuster pop – fiktif Hollywood ala film-film Roland Emmerich seperti ‘The Day After Tomorrow’, ‘2012’ ataupun film-film semacam ‘San Andreas’, ‘Bangkit!’ agaknya jadi yang pertama. Walau memang didukung sebuah company buat menyampaikan ide campaign yang diusung produk mereka, ini usaha yang sangat mengundang perhatian sekaligus terasa luarbiasa ambisius karena di tengah keterbatasan produksi soal standard bujet dan SDM kita, genre ini jelas bermain banyak di efek visual.

            Pertemuan dua fenomena iklim yang mengakibatkan bencana banjir yang beresiko menenggelamkan Jakarta mempertemukan petugas Basarnas Addri (Vino G. Bastian) yang tengah berjuang menyelamatkan keluarganya (Putri Ayudya, Andryan Bima & Yasamin Jasem) dengan Arifin (Deva Mahenra), analis BMKG yang batal menikah dengan kekasihnya, dokter Denanda (Acha Septriasa) akibat kejadian itu. Sambil berusaha menyelamatkan diri, mereka pun berusaha mencari jalan keluar di balik keberadaan rahasia sebuah terowongan Belanda yang hanya letaknya hanya diketahui oleh Profesor Pongky (Yayu A.W. Unru), pasien yang selama ini dirawat Denanda.

            Lewat plot yang dipilih, Anggoro Saronto yang menulis skripnya sebenarnya sudah melakukan PR-nya sesuai dengan koridor tipikal film-film yang menjadi inspirasi mendasarnya. Penelusuran multikarakter dalam usaha survival di tengah bencana itu memang terdengar sangat Hollywood, namun dibarengi drama soal interaksi keluarga hingga isu sosial lain serta sorotan profesi tokohnya tetap membuatnya terasa ikut dibalut dengan muatan lokal yang kuat.

            Dan tak ada yang salah juga dengan hal-hal yang dikenal secara filmis sebagai ‘suspension of disbelief’ dalam plot sejenis yang meninggalkan logika menempatkan tokoh-tokohnya sebagai sorotan utama di tengah kebetulan-kebetulan dalam memilih siapa selamat maupun tidak. Paling tidak dalam pakem film-film tadi, kita tahu bahwa satu-dua keluarga karakter utama yang paling disorot selalu punya cara buat menyelamatkan diri.

         Sayangnya, skrip Anggoro serta penyutradaraan Rako tak cermat menggarap kesinambungan kisahnya. Storytelling-nya melompat-lompat jumpalitan seperti jahitan tanpa kontinuitas, seperti cut yang menghilangkan satu scene di tengah-tengah dua yang tampil, dan masih disertai beberapa bloopers – seperti soal jarum suntik dalam prosedur pembersihan luka dengan spuit yang lupa dicabut jarum bahkan penutupnya, begitu juga dengan gambaran impact yang banyak mencuatkan banyak pertanyaan dalam logika-logika faktual yang bukan hanya bisa disadari pekerja-pekerja BMKG atau profesi lain yang ditampilkan. Dalam lingkup keparahan bencana yang dipaparkan, misalnya, kita masih berkali-kali melihat safe spots yang berpotensi sangat mengganggu bangunan suspense-nya, dan masih ada juga penggampangan serta kebetulan lain yang terasa kelewat melecehkan logika ketimbang masih bisa diterima sebagai ‘suspension of disbelief‘ tadi.

            Sudah begitu, penggunaan efek visual dalam usaha ambisius itu pun sayangnya gagal menyamai standar sinematis yang sudah dicapai film-film luar bahkan Asia sampai film-film dari negara tetangga terdekat kita sekali pun. Benar ia bisajadi lebih dari film-film kita yang lain dengan effort yang jelas terlihat, tapi entah karena keterbatasan waktu walau bujetnya terasa cukup mahal melebihi standar rata-rata film kita yang mesti disesuaikan dengan bidikan angka penontonnya, padahal sudah menggamit tenaga luar dari Thailand, Watcharachai Paniksuk, buat bekerja bersama VFX artist kita Raiyan Laksamana, latar CGI yang tak benar-benar menyatu dengan set aslinya jelas kelihatan di banyak adegan. Ketimbang memilih cara untuk menutupi agar VFX frame-nya tak terlalu banyak lewat celah penceritaan, mereka justru memilih ketidaksempurnaan ini buat mendominasi daya jualnya tanpa memperhitungkan respon yang akan muncul dari penonton kritis atau yang punya reference lebih.

              Begitupun, ’Bangkit!’ bukan lantas benar-benar jatuh menjadi banyak genre efforts yang gagal total di film-film kita seperti ‘Dunia Lain: The Movie‘, ‘Glitch‘ ataupun ‘Garuda Superhero‘. Ini masih jauh sekali berada di atas film-film itu. Di atas faktor teknis dan elemen lain yang masih tergarap baik seperti tata suara dari Khikmawan Santosa serta scoring Aghi Narottama yang mengadopsi scoring-scoring khas genre-nya dengan baik plus lagu tema anthemic dari Nidji, ‘Bangkit!’ masih punya faktor ansambel akting yang baik berikut fans service kuat dari para pendukungnya terutama Vino, Acha, Putri dan Deva sebagai cast utamanya.

          Dua pemeran cilik-nya, terutama Andryan Bima yang diserahi klimaks penuh emosi bersama Vino pun tampil baik, dan masih ada nama-nama pendukung lain seperti Donny Damara, Ferry Salim, Khiva Iskak, Ade Firman Hakim hingga Yayu Unru. Bersama beberapa usaha pendekatan pop yang masih bisa bekerja buat suspense dan emosinya – dari drama keluarga ke sematan romansa, terutama ke kalangan penonton awam yang memang tak mau repot mempedulikan detil-detil sinematis lain, ini paling tidak masih bisa menyelamatkan ‘Bangkit!’ sebagai sebuah effort yang tetap mesti dihargai serta didukung lebih.

         So yes, it had serious issues of disjointed storytelling over substandard CGI, namun setidaknya, mereka mau mencoba – dan ini yang terpenting, membuka jalan untuk keberanian sineas kita melangkah ke genre-genre berbeda. Jika memang ini bisa menjadi sebuah awal seperti tagline-nya yang cukup menohok – Karena Menyerah Bukan Pilihan, juga hashtag #bangkitfilmindonesia -nya, bolehlah. Quite a valiant effort in our rare disaster genre. (dan)

~ by danieldokter on July 29, 2016.

One Response to “BANGKIT! : A VALIANT EFFORT OVER DISJOINTED STORYTELLING AND SUBSTANDARD CGI”

  1. […] Irawan melalui blognya mengguratkan catatan serupa. “Skrip Anggoro (Saronto) serta penyutradaraan Rako tak cermat […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: