STAR TREK BEYOND: FAST AND FURIOUS IN SPACE

STAR TREK  BEYOND

Sutradara: Justin Lin

Produksi: Paramount Pictures, Bad Robot Prod, Skydance, Alibaba Group, 2016

star trek beyond

            50 tahun setelah serial TV orisinil kreasi Gene Roddenberry ditayangkan pertama kali, ‘Star Trek’ kini sudah mencapai film layar lebar ke-13-nya, dan instalmen ke-3 reboot baru yang digagas oleh J.J. Abrams. Menaikkan level-nya ke trend blockbuster yang penuh efek spesial dan action seru dalam genre fiksi ilmiah, Abrams kini mempercayakan penyutradaraannya ke Justin Lin yang karirnya melonjak setelah serangkaian seri ‘Fast and Furious’. Selain Leonard Nimoy, pemeran Spock asli yang tutup usia bersama Anton Yelchin di tahun ini, hype-nya juga semakin bertambah dengan keikutsertaan Joe Taslim sebagai salah satu villain bernama Manas. Pertanyaannya sekarang, ke mana Justin Lin membawa franchise ini?

            Setelah insiden yang terjadi di film sebelumnya, kru USS Enterprise; Kapten James T. Kirk (Chris Pine), Spock (Zachary Quinto), McCoy/Bones (Karl Urban), Chekov (Anton Yelchin), Sulu (John Cho), Scotty (Simon Pegg) dan Uhura (Zoe Saldana) kini terperangkap di sebuah planet tak dikenal setelah Enterprise diluluh-lantakkan oleh musuh baru bernama Krall (Idris Elba). Saling terpisah dan menyelamatkan diri, mereka lantas bergabung dengan Jaylah (Sofia Boutella), korban Krall sebelumnya yang tanpa mereka sadari menyimpan rahasia terhadap sebuah misi masa lalu Starfleet.

            Abrams mungkin merasa dua instalmen untuk membalik universe reboot ini secara cerdas, menghadirkan alternate universe dengan karakter-karakter yang sama, sudah cukup sebagai introduksi ke penggemar baru sekaligus fans service ke para penggemarnya. Untungnya, reboot itu memang punya pilihan cast yang tepat. Chris Pine jelas punya kharisma se-level William Shatner di masa mudanya, selagi Zachary Quinto begitu mengingatkan kita ke awkward style Leonard Nimoy menokohkan Spock, dan tentu Karl Urban ke DeForest Kelley yang di dua instalmen pertamanya terasa masih underused.

        Dan sebuah franchise tentu tak akan bisa lama bertahan dengan formula serupa terus-menerus. Menaikkan level-nya ke pameran aksi jauh lebih lagi, penggagasnya melakukan langkah berani ke pameran aksi yang menyamai bahkan melebihi franchise yang sering dianggap – walaupun sebenarnya tidak – pesaingnya, ‘Star Wars’ dengan boom and bang action lewat sentuhan Justin Lin. But more than that, skrip yang berpindah ke tangan Simon Pegg (bersama Doug Jung) juga tergolong berani – karena Pegg yang dipasang sebagai Scotty baru memang punya signature di ranah komedi. Dua elemen racikan ini memang hanya punya satu terjemahan – blockbuster musim panas yang sangat meriah.

            Walau sangat potensial buat kelangsungan franchise-nya dari sisi box office, di lain sisi, sebenarnya ini sekaligus sangat beresiko bagi para Trekkies, nama yang disemat untuk fans setia franchise-nya. Namun rentang waktu begitu jauh mungkin juga sudah menyisakan sangat sedikit Trekkies purist dengan masuknya fans dari barisan generasi baru. Pakem penceritaannya memang secara drastis berubah lebih serba menonjolkan aksi bercampur komedi – bahkan bermain-main dengan hingar-bingar pop kultur – rock n’ roll dan Beastie Boys, termasuk theme songSledgehammer‘ dari Rihanna plus dialog-dialog komedik yang cenderung konyol hingga lebih menyerupai ‘Fast and Furious’ di set luar angkasa.

            Namun tanpa bisa disangkal, semua racikan itu memang luar biasa seru di tengah pameran VFX dan CGI kelas satu, dan yang terpenting, mereka tetap menyisakan respek – walau tak terlalu banyak, ke source material orisinil yang disesuaikan di sana-sini ke universe baru yang diciptakan Abrams bersama Roberto Orci dan Alex Kurtzman di dua film sebelumnya. ‘Star Trek Beyond’ memang berubah menjadi Star Trek yang serba hantam kromo ketimbang menonjolkan strategi, tapi team play-nya tetap muncul dengan solid dan tak sekalipun tertinggal di belakang. Malah, Pegg bersama Lin menambahkan lagi karakter-karakter baru serta elemen penting yang selama ini sedikit terlupa di chemistry dan relationship Spock dan Bones (McCoy) dengan porsi Karl Urban yang menanjak cukup jauh.

            Sisanya adalah performa. Menambah daya jual dari deretan cast reboot yang sudah cukup masuk ke para pemirsanya, kemunculan Idris Elba sebagai Krallvillain utama dengan twist di pengujungnya juga menjadi salah satu daya tarik lebih bersama Joe Taslim yang mendapat porsi lumayan banyak buat penonton Asia khususnya Indonesia. Benar bahwa ia kebanyakan muncul dalam full makeup sebagai Manas, namun jika benar-benar jeli, ada flashback scene lewat layar televisi berikut foto yang menampilkan wajah asli Joe, dan masih ada Sofia Boutella sebagai calon kru baru yang memainkan perannya dengan menarik sekaligus jadi scene stealer yang tetap ingin kita lihat di sekuel berikutnya.

          So be it. Resepsinya boleh saja berbeda-beda sesuai dengan referensi tiap generasi fans-nya. Tapi apapun ceritanya, 50 tahun mungkin sudah cukup untuk membuka ranah baru pengembangannya, dan Abrams dkk. tergolong sukses menjaga balance-nya. Boldly go where no entries have gone before, benar bahwa Star Trek sekarang lebih mirip ‘Fast and Furious in Space’ tapi tetap di atas respek ke elemen-elemen wajib yang ada di franchise aslinya. (dan)

 

~ by danieldokter on August 4, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: