DRAGON BLADE (天将雄狮) : A GRAND BUT OVERBEARING HISTORICAL EPIC

•February 18, 2015 • 1 Comment

DRAGON BLADE (天将雄狮) 

Sutradara : Daniel Lee

Produksi : Visualizer Films, Huayi Brothers, Shanghai Film Group, Sparkle Roll Cultural Media, Beijing Cultural Assets, Chinese Film & Television Fund, 2015

dragon blade

            Meski tetap ditunggu, film-film Jackie Chan belakangan memang tak lagi sehebat dulu. Dan di luar faktor usia, mungkin, entah mengapa, ia lebih suka mengeksplorasi emosi akting yang justru jadi bumerang terhadap ekspektasi banyak fans-nya. ‘Dragon Blade’ ini juga kurang lebih seperti itu. Dibalik ambisi besarnya menjadi sebuah epik sejarah dengan latar inspirasi kisah nyata yang menarik dalam menggabungkan budaya Barat dengan Timur, ada banyak sekali distraksi di seputar keberadaannya.

            Pertama adalah imbas dari film-film medioker bernafas sama seperti ‘Outcast’ yang hadir lebih dulu, belum lama ini, dan memang tak didasari dengan penggarapan yang benar-benar serius. Kedua, sama seperti kredibilitas Nicolas Cage dan Hayden Christensen sebagai bintang internasional di ‘Outcast’, nama John Cusack dan Adrien Brody pun harus diakui tak lagi berada di puncak karir mereka. Sama-sama lebih sering tampil dalam produksi studio kecil di film-film DTV, ‘Dragon Blade’ jadinya agak sulit memancing ekspektasi banyak orang. Padahal, ambisinya tak main-main. Sekaligus jadi proyek pertama film yang didanai salah satu funding program baru pemerintah Cina, bujetnya tak digagas dengan sembarangan. Di tangan sutradara Daniel Lee (‘Three Kingdoms’, ’14 Blades’) yang punya kredibilitas cukup baik, penggarapannya juga sama sekali tak berada di kelas ‘Outcast’, lengkap dengan format IMAX 3D.

            Sebagai pimpinan dari Satuan Pengaman Jalan Sutra dari perseteruan puluhan suku yang punya kepentingan disana pada masa Dinasti Han, Huo An (Jackie Chan) selalu berpegang pada niat seorang Jendral yang mengasuhnya sejak kecil, untuk menegakkan perdamaian di seluruh wilayahnya. Sayang, fitnah yang kemudian menimpanya membuat Huo An dan satuannya terpaksa diasingkan ke daerah perbatasan, dimana seluruh tahanan bekerja membangun gerbang kota yang mereka namakan Wild Geese Gate. Disana, Huo An kemudian tak bisa menolak keinginan sekelompok serdadu Romawi dibawah pimpinan Lucius (John Cusack) yang awalnya berniat menduduki kota. Sebagai ganti jasa Huo An yang memberi mereka perlindungan, Lucius memerintahkan anak buahnya membantu seluruh penghuni Wild Geese Gate menyelesaikan pembangunan gerbang kota. Hubungan keduanya meningkat menjadi sebuah persahabatan ketika Huo An akhirnya menyadari bahwa Lucius tengah mengemban niat mulia di tengah pelarian dari negaranya untuk menyelamatkan seorang putra mahkota kecil (Jozef Waite) dari tindakan makar kakaknya, Tiberius (Adrien Brody). Apalagi setelah mengetahui konspirasi Tiberius dengan atasannya, Yin Po (Choi Siwon) yang berada dibalik fitnah itu. Kini bukan saja mempertahankan Wild Geese Gate, perseteruannya dengan Tiberius juga menjadi perang pribadi dibalik sebuah perang tak seimbang bersama serbuan serdadu Romawi.

            Sebagai sebuah epik sejarah, skrip yang ditulis Daniel Lee sendiri sebenarnya sudah punya latar yang bagus untuk East meets West universe building-nya. Mencoba memberi dasar ketimbang mengundang pertanyaan dibalik anggapan mengada-ada antara hubungan kerajaan Barat dan Timur masa lalu. Setup, latar dan motivasi-motivasi karakternya pun disertai dengan detil-detil yang sangat diperhatikan, misalnya dibalik kewajaran penggunaan bahasa dan culture bumps lainnya. Walaupun tak sepenuhnya sempurna, disana, friendship story yang mendasari konflik serta interaksi masing-masing karakter utama maupun sampingannya sudah terbangun baik dengan sendirinya.

            Sayangnya, usaha yang sudah baik itu agak terdistraksi dengan niat Daniel Lee menyempalkan anti-war message serta peace and harmony-nya secara berlebih. Tak ada yang salah dengan penggambaran komikal karena ‘Dragon Blade’, seperti sederet film-film Daniel Lee lainnya, adalah historical action yang dibangun diatas latar sejarah bangsanya. Namun adegan-adegan yang memuat semangat persatuan antar suku hingga bangsa yang terkesan repetitif dan bertele-tele diatas dialog verbal dan cenderung preachy membuat ‘Dragon Blade’ terasa sangat pretensius mengedepankan pesan baiknya. Berkali-kali, moral mengajak musuh menjadi teman secara terus-menerus itu menjadi terasa naif luar biasa, lengkap dengan adegan menyanyikan lagu kebangsaan dan perjuangan masing-masing. Sudah begitu, dominasinya justru menekan subplot serta penokohan karakter-karakter sampingan yang seharusnya lebih baik dijadikan fokus dalam mengeksplor dramatisasinya.

            Dan ini mau tak mau ikut juga menggerus kepentingan ‘Dragon Blade’ untuk bisa jadi action showcase khas Jackie Chan yang layak. Nantilah dulu soal elemen komedi yang juga diharapkan oleh fans Jackie Chan bersama pameran aksinya, namun membangun karakternya lebih ke arah martir dibalik persahabatannya dengan Lucius ketimbang seorang jagoan tangguh yang sebenarnya sudah disematkan sejak awal lewat sebuah adegan pertarungan jenaka, satu scene terbaik dari ‘Dragon Blade’ yang masih sangat Jackie Chan, akhirnya membuat tak satupun yang berada dalam taraf seimbang. Lee tetap terlihat berusaha membuat karakter-karakter sampingannya, yang sebenarnya diperankan dengan baik diantaranya oleh Mika Wang, berikut duo penyanyi Chopsticks Brothers (Xiao Yang dan Wang Taili) terutama aktris Lin Peng yang sangat mencuri perhatian, namun skrip itu lagi-lagi terlalu asyik bermain-main dengan pesan moralnya. Yang terparah tentu saja penampilan Choi Siwon dari Super Junior yang seharusnya bisa jadi highlight, malah tersia-sia begitu saja, begitu juga dengan aktris Amerika Sharni Vinson yang tampil tak lebih sekedar cameo.

            However, baik Jackie Chan, John Cusack dan once an Oscar winner Adrien Brody, bermain dengan baik membuat kolaborasi mereka dalam ‘Dragon Blade’ paling tidak bekerja memberi penekanan lebih pada kelas produksinya. Chemistry Chan dan Cusack tergelar bersama eksplorasi dramatis yang bagus di penampilan keduanya, sementara walaupun emosinya terkadang agak komikal, Adrien Brody bisa menjadi lawan seimbang Chan di final showdown-nya, walaupun menempatkan Chan di posisi kelewat lemah, tak seperti yang diharapkan banyak fans-nya. Penampilan singkat dari Vanness Wu dan Karena Lam juga mengisi prolog dan epilog yang sangat lumayan dalam memberi kesan lebih.

            And above all, presentasi terbaik dalam ‘Dragon Blade’ adalah desain produksinya. Memberikan tampilan yang sepadan dengan bujet gigantis produksinya, baik dalam bangunan set dan heavy costumes, tata artistik dari Jia Neng Huang, scoring dari Henry Lai serta grand / colosssal look di sinematografi bersama sejumlah battle scenes yang cukup seru, paling tidak kelebihan-kelebihan ini tetap membuat ‘Dragon Blade’ tetap secara solid ada di kelas blockbuster, bukan film-film kelas B seperti ‘Outcast’. A grand but overbearing historical epic. Lagi-lagi, bukan action showcase Jackie Chan yang diharapkan banyak orang terutama fans-nya, tapi jelas bukan sama sekali jelek, terlebih sebagai sajian khusus menyambut hari raya Imlek tahun ini. Now to those who celebrate, I’m wishing you a very happy Chinese New Year. Gong Xi Fa Cai! . (dan)

UNBROKEN : AN OVERBLOWN TALE OF MIRACLES

•February 17, 2015 • 1 Comment

UNBROKEN

Sutradara : Angelina Jolie

Produksi : Legendary Pictures, Jolie Pas, 3 Arts Entertainment, Universal Pictures, 2014

unbroken

            It’s true, kalau ‘Unbroken’, karya penyutradaraan Angelina Jolie yang banyak diramalkan jadi salah satu award contender di akhir tahun kemarin ini, diangkat dari sebuah kisah nyata berdasar buku karya Laura Hillenbrand, ‘Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience and Redemption’. Berisi biografi kepahlawanan seorang Louis ‘Louie’ Zamperini, atlit pelari olimpiade AS berdarah Italia yang juga seorang saksi hidup Perang Dunia II lewat pengalamannya sebagai P.O.W. (Prisoner of War) kamp Jepang, ‘Unbroken’ memang merupakan kisah inspiratif dibalik status Zamperini di sisa hidupnya sebagai seorang Christian inspirational speaker.

            It’s true, too, kalau novel serta adaptasi filmnya juga lantas banyak dimasukkan ke dalam Christian literature atas pendekatan-pendekatan testimonial Zamperini yang mengalami begitu banyak mukjizat selama jatuh bangun masa-masa tersulitnya sepanjang perang. Okay, tak ada yang salah dengan itu. Secara kisah-kisah sejati seperti ini memang bertujuan menyebarkan inspirasi pada tiap pemirsanya. Sementara agama mungkin hanya jadi sebuah simbol, tapi pesannya terhadap sebuah penghargaan hidup, luarbiasa universal. Apalagi, baik Jolie maupun Hillenbrand adalah aktivis-aktivis perdamaian yang masih aktif berjuang hingga sekarang.

            Tumbuh besar sebagai anak bengal di lingkungannya, Torrance, California, atas temuan kakaknya, Louie Zamperini (Jack O’Connell) meraih kesuksesan di usia remaja sebagai pelari olimpiade yang bukan hanya masuk ke dalam kualifikasi Olimpiade Musim Panas di Berlin, Jerman, tahun 1936, tapi juga mencetak rekor putaran terakhir dalam lomba lari 5000 meter. Sayang pecahnya Perang Dunia II tak membiarkannya berlama-lama mengecap karir gemilang itu. Bergabung bersama US Air Force sebagai pembom pesawat bombardir, sebuah kecelakaan kemudian membuat Louie dan dua kru yang tersisa, Mac (Finn Wittrock) dan Phil (Domhnall Gleeson) terkatung-katung selama 49 hari di tengah lautan. Melawan hiu hingga pesawat bombardir Jepang hingga akhirnya menjalani hari-harinya sebagai tawanan perang di sebuah kamp Jepang bersama Phil. Terpisah dengan Phil setelah mengalami penyiksaan berat, penderitaannya tak berhenti disini. Kamp-nya di Tokyo malah dikepalai tentara Jepang Mutsuhiro ‘The Bird’ Watanabe (Takamasa Ishihara a.k.a. Miyavi, gitaris dan penyanyi terkenal Jepang) yang kejamnya tak kepalang, apalagi setelah mengetahui latar Louie sebagai pelari olimpiade. Dan ia tetap tak bisa melepaskan diri dari The Bird bahkan setelah kampnya dibom Amerika. Namun justru disinilah Louie mendapat pencerahan baru yang membuatnya bisa terus bertahan menempuh saat-saat tergelap dalam hidupnya.

            Tak ada yang sebenarnya terlalu salah dengan pendekatan tipikal kisah-kisah sejati tawanan perang berbalut kepahlawanan yang bukan baru sekali ini juga diangkat ke layar lebar. Mau berada di kelas apapun sejauh tak lebih segmented dari tipe-tipe Oscar contender, dari ‘Bridge on the River Kwai’, ‘Merry Christmas Mr. Lawrence’ sampai ‘Schindler’s List’ termasuk film-film tawanan perang kelas dua sampai tiga, film-film dalam genre sejenis tetap menampilkan elemen-elemen yang sama. Cenderung mengeksploitasi penderitaan karakter utamanya lewat karakter antagonis prajurit musuh yang kejamnya luarbiasa, dan mengakhirinya dengan moral penting, sesekali dengan unsur redemption seperti yang baru kita saksikan lewat ‘The Railway Man’ tahun lalu.

            Namun sulit dipungkiri juga bahwa pendekatan testimonial terhadap source-nya, yang jauh lebih terus terang menyentuh batas-batas inspiratif sebuah kisah penuh simbol-simbol reliji diatas pengalaman pribadi Zamperini untuk beralih menjadi God’s servant, memang membuat ‘Unbroken’ sedikit banyak jadi terasa pretensius luarbiasa. Bahkan 4 kredit penulis, kesemuanya punya kredibilitas kelas satu, dari Oscar winner ke nominee, Coen Brothers (Joel Coen & Ethan Coen), Richard La Gravanese (‘The Fisher King’, ‘The Bridges of Madison County’ dan ‘Behind the Candelabra’) dan William Nicholson (‘Gladiator’, ‘Les Miserables’ dan ‘Mandela: Long Walk to Freedom’) tak bisa menyelamatkan plot-nya untuk tak sedikitpun mencoba menelusuri sisi lebih wajar ketimbang terus-menerus selama dua jam lebih mengedepankan mukjizat yang terjadi sepanjang penderitaan Zamperini.

            Berulang kali, skrip dan penyutradaraan Angelina Jolie, yang meskipun tak jelek, terasa overblown dalam penyampaian ide ‘If you can take it, you can make it’ yang selain repetitif juga ikut tersampaikan dalam dialog preachy yang benar-benar harafiah. Ini terus dan terus hingga ke batas, sorry if this might sounds cruel, dimana penontonnya secara universal harusnya bisa tergugah tapi malah bergumam ‘yeah, right’ dan ‘oh come on’ dengan senyuman atau tawa di sepanjang film. Bukannya skeptis, tapi apa yang digambarkan Jolie dalam pengadeganannya mau tak mau membuat sebagian jadi balik mempertanyakan kebenaran true story-nya sendiri. ‘Unbelievabletrue story in a much different ways. Dan ini masih diperparah lagi dengan konklusi klise yang lagi-lagi, walaupun bermaksud menggugah menggunakan simbol-simbol reliji yang seharusnya bisa menyentuh, jadi jatuh sangat ridiculous seperti antagonis yang tiba-tiba bisa menangis di depan ratusan tawanannya.

            Bukannya Jack O’Connell, the rising English actor yang melesat bagaikan komet dengan 3 respectable showcase (‘Starred Up’, ‘71’ dan ‘Unbroken’) plus sebuah blockbuster (‘300: Rise of an Empire’) dari akhir 2013 ke 2014, tak bermain bagus. Dibalik fisiknya yang sangat memenuhi syarat bahkan sebagai seorang bintang, O’Connell benar-benar berhasil meng-handle porsi lead-nya dengan kuat, meyakinkan kita bahwa karirnya ke depan punya kans jauh lebih besar lagi. Pendukungnya yang rata-rata diisi nama-nama aktor muda cukup dikenal, dari yang punya porsi lumayan seperti Garrett Hedlund, Domhnall Gleeson, Finn Wittrock hingga yang sekedar numpang lewat seperti Jai Courtney, Luke Treadaway dan Alex Russell pun punya andil menambah dayatariknya. Takamasa Ishihara, gitaris-penyanyi Jepang yang lebih dikenal dengan nama Miyavi pun sebenarnya sama sekali tak jelek, malah punya fungsi penting membangun karakternya sebagai salah satu highlightUnbroken’ yang bakal diingat banyak pemirsanya setelah ini. Aktingnya kuat, sama baiknya dengan apa yang dilakukan Ryuichi Sakamoto (juga musisi terkenal Jepang) dalam ‘Merry Christmas Mr. Lawrence‘), hanya saja, pendekatan yang terlalu komikal ini tak sepenuhnya membentuk blend yang bagus dengan toneUnbroken’ sebagai sebuah inspirational true story, dan ini membuat beberapa adegannya terasa begitu over.

            Tapi jangan debat soal presentasi teknisnya. Production design ‘Unbroken’ memang tak digagas sekedar main-main oleh Jolie, jauh melebihi debut penyutradaraannya di ‘In the Land of Blood and Honey’, dan jelas-jelas menorehkan tulisan ‘award contender’ di segala sisinya. Di tangan Roger Deakins, sinematografinya tampil dengan luarbiasa sejak air raid opening scene yang meskipun sedikit terlalu singkat namun menampilkan detil-detil POV yang jarang-jarang kita lihat di adegan-adegan serupa sekaligus satu yang terbaik dalam sejarah sinemanya, dan tetap konsisten di sepanjang film. Editing dari Tim Squyres pun cukup baik, bahkan scoring Alexandre Desplat yang walau dituding banyak pihak kelewat stirring itu tetap bisa bekerja sebaik dan se-majestis komposisi Desplat lainnya. At least, tak seperti ‘The Railway Man‘, ‘Unbroken‘ masih punya emosi yang cukup solid. Masih ada juga theme songMiracles’ dari Coldplay yang mengiringi epilog berisi potret asli kehidupan Zamperini pasca Perang Dunia II dan masa-masa akhir hidupnya sebagai salah satu bagian paling menyentuh dari filmnya.

            So, begitulah. ‘Unbroken’ jelas bukan sebuah film yang gagal, terlebih dari kekuatan ekstra di presentasi teknisnya. Sebagai sutradara, storytelling Jolie pun secara keseluruhan tak jelek serta menunjukkan pengembangan dari debutnya. Hanya saja, sebagai inspirational true story yang digagas diatas sisi testimonial yang begitu mendominasi, gambaran mukjizat dan keajaiban terus-menerus secara verbal dan cenderung preachy hingga harus lewat dialog itu mau tak mau membuat ‘Unbroken’ jadi mirip sebuah khotbah panjang tentang perjalanan spiritual yang sangat pretensius, hingga tak heran kalau dampaknya, di luar hal-hal teknis, ia justru tak berhasil jadi award contender di major categories se-solid seperti yang diperkirakan sebelumnya. An overblown tale of miracles. Really, really, overblown. (dan)

MORTDECAI : A FUN BUT HALF-BAKED SPY ADVENTURE SPOOF

•February 16, 2015 • 1 Comment

MORTDECAI 

Sutradara : David Koepp

Produksi : Infinitum Nihil, Mad Chance Productions, Odd Lot Entertainment, Lionsgate, 2015

mortdecai

            Oh yes. Meski genre-nya dinamakan espionage atau spy, trend-nya dari era golden age cinema ke dekade ’70-’80an memang punya penelusuran beragam, baik dalam film, novel, komik ataupun pop culture lain. Bukan selamanya berpusat pada karakter-karakter agen rahasia, tapi juga various kinds of heroes or so-called-heroes dari profesi yang beragam, malah sebagiannya, bentuk-bentuk antagonis seperti pencuri atau mercenaries. ‘Mortdecai’, showcase Johnny Depp terbaru yang diangkat dari karakter utama dalam novel series berstatus cult karya penulis Inggris Kyril Bonfiglioli ini juga ada di genre itu. By atmospheres, sebagian ahli literatur juga menyebutnya Picaresque, cerita-cerita kepahlawanan dari lingkungan korup yang cenderung mengedepankan karakter abu-abu. The most heroic forms among criminals. Disinilah biasanya subgenre adventure atau heist story menjadi pendamping yang sangat sesuai. So yes, dalam genre-genre seperti ini, baik yang straight maupun spoof, reference adalah hal yang sangat dibutuhkan.

            In examples, dalam banyak pendekatan berbeda namun punya pakem serupa, penonton ‘Mortdecai’ boleh kembali mengulik sebuah film lama ‘Hudson Hawk’ yang dibintangi Bruce Willis dan Andie McDowell, yang baik dalam resepsi penonton maupun box office bernasib hampir sama seperti ‘Mortdecai’. Selebihnya adalah spy adventure dengan karakter-karakter jagoan bersama tough sidekick-nya. Sebut diantaranya, a bunch of Charlie Chans, The Green Hornet, Pink Pantheror even Batman atau Sherlock Holmes, dengan elemen intrik ala spionase yang hampir selalu menyeruak ke lapisan teratasnya.

            Salahnya, ini adalah filmnya Johnny Depp dengan Infinitum Nihil-nya. Entah mengapa, kecuali di franchise atau adaptasi berdasar source yang sudah jauh lebih dikenal orang banyak, kebanyakan film-film Depp, dimana siapapun pengarahnya selalu harus berkompromi dengan statusnya sebagai A-list Hollywood Star dan pemilik Infinitum, Depp memang punya kecenderungan aneh untuk tak membiarkan penontonnya bisa menebak genre filmnya hanya lewat tampilan poster. ‘Mortdecai’ pun seperti itu. Ketimbang bergerak mulus sebagai sebuah spy spoof dalam jadwal rilis yang berdekatan dengan ‘Kingsman’ yang punya genre hampir mirip, Depp lebih memilih kemisteriusan itu dalam konsep promonya dengan menampilkan comedic tone lebih diatas elemen lain yang sebenarnya bisa lebih menjual.

            Sebagai seorang art-dealer eksentrik, Charlie Mortdecai (Johnny Depp) yang selalu didampingi oleh pelayan setianya, jagoan tangguh serta womanizer Jock (Paul Bettany), tengah berada di ambang kebangkrutan atas hutang-hutangnya, apalagi kala misinya di sebuah transaksi vas antik dengan mafia-mafia Hong Kong berujung kekacauan. Memilih untuk mengubah penampilannya dengan curly moustache yang malah dibenci setengah mati oleh istrinya, Johanna (Gwyneth Paltrow), Mortdecai mencoba sekali lagi peruntungannya lewat kasus misterius dibalik sebuah lukisan Goya yang sudah memakan korban oleh seorang pembunuh misterius. Bekerja sama untuk mendapatkan bagian dari saingan masa kuliahnya, Inspektur Alistair Martland (Ewan McGregor) yang tengah menginvestigasi kasus itu, Mortdecai pun bertualang hingga ke Los Angeles untuk menemui milyuner Milton Krampf (Jeff Goldblum) dan putrinya yang nymphomaniac, Georgina (Olivia Munn). Dari sana, kekacauan demi kekacauan pun mulai terjadi dengan Johanna yang menyusul karena rasa cemburunya terhadap Georgina.

            Atas status adaptasinya, tentu tak ada yang sepenuhnya salah dengan ‘Mortdecai’. Wujudnya memang mirip sebuah spoof, dan oleh penulis skrip Eric Aronson bersama sutradara David Koepp, lebih dikenal sebagai scriptwriter terkenal dari sejumlah film-film terkenal dari ‘Mission: Impossible’ ke ‘Indiana Jones’, ‘Spider-Man’ dan ‘Jurassic Park’, plot-nya sudah disusun diatas banyak referensi ke campur aduk elemen lintas zaman dalam genre itu. Mengikuti tone asli novelnya yang memang sama sekali bukan parodi gila seperti ‘Austin Powers’, bukan pula action showcase seru dan hip alaJames Bond’ atau ‘Kingsman’ barusan, light comedy-nya, meski dipenuhi oleh hit and miss karena mengadopsi gaya Inggris yang kental, juga tak jelek. Hanya saja, tentu bagi banyak orang, ini seperti pilihan yang serba tanggung.

            Chemistry-nya, walau tak jelek, juga tak sempurna. Namun baik Gwyneth Paltrow yang memerankan Johanna yang elegan, Ewan McGregor sebagai clean and suave Inspector Martland, terlebih Paul Bettany yang paling menarik sebagai sidekick tangguh sekaligus menonjolkan sexual comedy-nya, bisa menutupi akting Depp yang memang masih tak bisa meninggalkan Jack Sparrow’s curse dengan gaya nyelenehnya. Pendukung-pendukung lainnya pun masih bisa memberikan dayatarik seperti Jeff Goldblum, Ulrich Thomsen dan mostlyOlivia Munn dalam eksploitasi keseksiannya.

           Selain itu masih ada presentasi teknis yang bagus dari production design dan sinematografi DoP asal Jerman Florian Hoffmeister yang karyanya sudah kita saksikan dari ‘In Secret’ dan ‘The Deep Blue Sea’. At many scenes, kita mungkin lebih sering tersenyum ketimbang tertawa, namun pemaparan heist intrigue lewat storytelling-nya yang cukup stylish, dan memang sophisticated seperti tagline-nya, paling tidak masih bisa menyisakan keseluruhan tontonan yang masih cukup fun. Ini memang mirip sekali dengan kasus ‘Hudson Hawk’ dulu, dengan konsep bagus yang sayangnya tergarap serba tanggung. Melihat hasilnya, rasanya tak yakin kalau niat Depp menjadikan ‘Mortdecai’ sebagai franchise bisa benar-benar terlaksana. A fun but half-baked spy adventure spoof. Sayang sekali. (dan)

KAPAN KAWIN? : WHEN CHEMISTRY MATTERS MOST

•February 13, 2015 • Leave a Comment

KAPAN KAWIN? 

Sutradara : Ody C. Harahap

Produksi : Legacy Pictures, 2015

Kapan Kawin

            Romcom Indonesia ada banyak, benar. Dibandingkan genre lain yang terasa jauh lebih melelahkan ketimbang low budget urban legend horror atau film-film inspiratif, genre ini lebih banyak menghasilkan karya yang bagus, itu juga benar. Tapi masalahnya, tak banyak yang jeli mengangkat permasalahan yang lebih menarik buat jadi latar temanya. ‘Kapan Kawin?’ yang lahir dari skrip Monty Tiwa, produser Robert Ronny dan sutradara Ody C. Harahap sebagai bayi pertama Legacy Pictures yang digagas Robert, bisa dibilang ada di ranah yang jarang-jarang tadi.

             Sejak lama, apalagi setelah makin disadarkan oleh sebuah iklan yang dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman, pertanyaan itu memang kerap menjadi public jokes atas pilihan-pilihan dilematis yang cenderung jadi trauma, sekaligus alasan untuk menghindari acara-acara keluarga bagi orang-orang yang menanggung masalahnya. ‘Kapan Kawin’ mungkin sedikit terlambat mengulasnya dalam film, tapi bukan berarti isunya tak lagi punya relevansi. Dan kenyataan juga, bahwa sekarang ini, adult romcom memang punya banyak pendekatan lebih menarik ketimbang teen-romcom yang malah sering ngalor ngidul menjual tampang-tampang cantik tapi gagal dalam banyak hal. Apalagi, Monty Tiwa memang punya kemampuan lebih buat menyorot isu-isu sosial seperti ini dan memindahkannya ke chaos comedy penuh sentilan.

            Terlalu asyik meniti karirnya sebagai seorang pegawai hotel dengan jabatan bagus di Jakarta, Dinda (Adinia Wirasti) kalang-kabut ketika dirinya mendapat ultimatum dari kedua orangtuanya (Adi KurdiIvanka Suwandi) di hari ulangtahunnya yang ke-33. Usia yang dianggap sudah melewati batas usia pernikahan bagi seorang wanita, terlebih kakaknya (Feby Febiola) sudah sejak lama menikah dengan lelaki sukses, Jerry (Edwin Sutodihardjo) dan punya momongan yang sudah menginjak usia sekolah (Firman Ferdiansyah). Atas saran rekannya (Ellis Alisha), Dinda pun menyewa jasa seorang aktor idealis, Satrio (Reza Rahadian) untuk pura-pura menjadi calon suaminya buat menghadiri ulangtahun pernikahan orangtuanya di Yogyakarta. Meski kerap bertentangan dengan kemauan Dinda,  rencana ini berjalan cukup mulus hingga akhirnya Satrio perlahan tak bisa mengingkari hatinya. Resikonya bukan saja kebohongan yang sewaktu-waktu bisa terbongkar, tapi juga mengungkap latar ketakutan Dinda untuk menentukan sikapnya selama ini. But love, will find its way.

            Kredibilitas Monty, Ody dan Ronny dalam karya mereka selama ini, walaupun tak semuanya selalu berhasil, mungkin sudah bisa memberi gambaran ‘Kapan Kawin?’ akan jadi seperti apa. Nanti dulu soal cast-nya yang di lapisan teratas punya dua talenta papan atas peraih Piala Citra, tapi ‘Kapan Kawin?’ memang tak mau hanya jadi romcom yang berisi sekedar kisah cinta lucu-lucuan seperti judulnya. Isunya tetap jadi dasar untuk membangun subplot-subplot-nya, yang walau terlalu penuh sesak, tetap mencoba memberikan konten lebih dalam menyematkan moral serta makna mendalam bukan saja dari soal-soal hubungan keluarga tapi juga menyentil industri seni terutama film kita.

             Walau niat itu baik, bukan juga berarti tak punya resiko. Ide-ide tambahan yang terasa kelewat banyak itu mau tak mau sedikit menutupi plot utamanya, apalagi skrip itu seakan terlalu lama bermain-main di komedi kucing-kucingan sebelum mulai memunculkan tiap konflik dalam subplot-nya satu demi satu. Seakan tak menyadari bahwa semakin banyak mereka menambahkan konfliknya, maka jadi semakin repot pula mereka mencari solusi buat konklusinya. Akibatnya, bukan saja konklusi itu terasa overloaded, tapi juga sedikit terburu-buru karena sudah tergerus oleh durasi yang melebar.

               Plot utama yang terus dicoba dibalut dengan sentilan-sentilan terhadap industri dan idealisme pekerjanya lewat dialog masih ditambah lagi dengan elemen-elemen sampingan mulai dari hubungan tiap karakter yang ada dalam keluarga Dinda, trauma-trauma perlakuan orangtua yang merembet ke soal-soal pengambilan sikap, sibling rivalry hingga masalah KDRT yang datang hampir tanpa peringatan. Belum lagi, storytelling Ody tak sepenuhnya berhasil memberi balance antara sisi komikal dalam usaha membangun komedinya, yang memang tetap lucu, dengan realisme yang membungkus third act-nya yang mengubah tone filmnya menjadi sangat dramatis dan hampir sama sekali kehilangan chaos comedy-nya. Adegan Reza bernyanyi, misalnya, walau di satu sisi bisa jadi romantic highlight, tapi juga dipenuhi unrealistic absurdity dan masih berlanjut ke identity revealed yang lebih absurd lagi. Biarpun bukan sama sekali tak berhasil, ini menyisakan begitu kecil ruang buat mempertahankan feel dan reaksi wajar dari para karakter setelahnya.

              However, kekurangan-kekurangan ini memang berhasil begitu tertutupi oleh chemistry yang ter-handle dengan sangat baik di tangan Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Lewat charming chemistry ini pula, presentasi komedinya tetap bisa bergulir dengan lucu dan di beberapa titik pengadeganan, hilarious, termasuk penutupnya yang romantically, bisa membuat kita memaafkan semuanya. Tak banyak yang berubah dari akting Adinia yang tetap kuat seperti biasanya, namun transformasi Reza menampilkan sisi komikalnya memang cukup luarbiasa. Semakin meyakinkan kita bahwa dirinya memang punya potensi sangat besar untuk bisa jadi apa saja, Reza mengeksplorasi karakter Satrio dan turnover-turnover-nya dengan sangat luwes seperti pemain yang benar-benar tahu dirinya bisa menguasai lapangan. Karena Reza pula, sentilan-sentilan terhadap idealisme keaktoran dan industri film itu jadi menyatu dengan plot-nya. Deretan pendukungnya, Adi Kurdi dan Ivanka Suwandi juga bermain baik menambahkan kehangatan di interaksi karakter-karakternya walaupun tak diberi justifikasi yang konsisten dalam skripnya, dan aktor pemeran Bendot yang memang dieksploit buat banyolan-banyolannya tetap bisa memancing gelak tawa penonton.

            Sudah begitu, penggarapan teknisnya pun tak kalah baik. Sinematografi Padri Nadeak berhasil menyuguhkan gambar-gambar yang cantik dibalik desain set dari pengarah artistik Alfissyahri. Walau belum punya banyak kredit yang dikenal kecuali ‘Brandal-Brandal Ciliwung’, Alfi mampu memfasilitasi kebanyakan set indoor yang diperlukan ‘Kapan Kawin?’ lebih dari sekedar memadai. Sudut-sudut rumah kecil dengan tata interior yang juga bisa berbicara membangun warm and loving atmosphere-nya benar-benar jadi satu kelebihan yang patut dicatat selain tata kostum dari Ogheholic, Inezia Chriztia dan Lulu Luthfi Labibi, editing Aline Jusria dan scoring Aghi Narottama & Bemby Gusti bersama theme song Afgan, ‘Panah Asmara’ yang sudah lebih dulu dikenal dimana-mana.

          So, ‘Kapan Kawin?’ memang bukan tak punya kekurangan. Tapi disinilah, dalam konteks genre-nya yang dirilis tepat menjelang perayaan Valentine’s Day, Monty Tiwa, Robert Ronny dan terutama Ody C. Harahap membuktikan bahwa sebuah romcom memang membutuhkan kekuatan main cast dan chemistry karakter-karakter utamanya sebagai syarat mutlak buat keberhasilannya secara keseluruhan. Now I urge you to go watch this, dan buat yang merayakan momennya, I’m wishing you a wonderful Valentine’s Day! (dan)

KINGSMAN: THE SECRET SERVICE : A ROYAL HOMAGE TO ESPIONAGE CLASSICS

•February 12, 2015 • 1 Comment

KINGSMAN: THE SECRET SERVICE

Sutradara : Matthew Vaughn

Produksi : Marv Films, 20th Century Fox, 2015

Kingsman

            Ketika film-film adaptasi komik atau karakter-karakter fantasi digagas dengan pendekatan dark, gritty and realistic sebagai sebuah trend sekarang, sebagian filmmaker, terutama true fans ke pop cultures ini, memilih untuk melakukan pendekatan yang berbeda. Tetap mempertahankan pakem klasiknya, mereka memilih satu atau dua elemen baru untuk menciptakan balance yang lebih baik. Nama Matthew Vaughn agaknya ada di ranah yang terakhir ini. Deretan filmografinya baik sebagai produser, penulis dan sutradara, sudah menunjukkan bahwa ia adalah sineas yang senang bermain-main dengan reference. Dari sanalah lahir karya-karya hebat seperti ‘Layer Cake’, ‘Stardust’ hingga ‘Kick-Ass’ dan tentu saja ‘X-Men: First Class’ yang mengkombinasikan genre superhero dengan classic spy flicks ala James Bond era ’60-‘70an, membawa instalmen ‘X-Men‘ ke puncak yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dan bagusnya, ia punya partner yang bagus dalam gagasan-gagasan itu, scriptwriter Jane Goldman, yang juga punya pendekatan reference yang sangat kental.

            Dengan kredibilitas itu, Vaughn jelas jadi orang paling tepat untuk film yang diadaptasi dari comic series berjudul ‘The Secret Service’ besutan Mark Millar dan Dave Gibbons. Sama seperti source-nya yang sangat terasa diilhami James Bond dan spy thrillers lain, visi Mark Millar dengan kegilaannya jelas sejalan dengan apa yang sudah dilakukan Vaughn dengan gore presentation-nya dari ‘Layer Cake’ dan makin meningkat lagi di ‘Kick-Ass’ yang ajaib dan ‘one of a kind’ itu. Bersama Goldman, ia memilih pendekatan yang lebih ke sebuah loose adaptation dengan perombakan plot dan nama-nama karakternya, selain juga menambah goriness level-nya. Katakanlah, ini seperti dua special signature seorang Matthew Vaughn yang menemukan jalannya lewat source yang tepat.

            Merasa berhutang budi dengan rekannya sesama agen rahasia yang tewas saat menyelamatkan dalam sebuah misi di Timur Tengah, Harry Hart (Colin Firth) berjanji untuk menjaga keluarga sang kolega termasuk putra kecilnya, Eggsy (dewasanya diperankan Taron Egerton) yang malah tumbuh besar menjadi remaja bermasalah. Sementara itu kegagalan seorang agen rahasia dari agensi mereka, Lancelot (Jack Davenport) dalam menyelamatkan penculikan ilmuwan Professor James Arnold (Mark Hamill ; source-nya memang menggunakan Hamill sebagai karakter asli bersama selebritis terkenal lainnya) membuat agensi mereka memutuskan untuk merekrut bakat-bakat muda secara rahasia. Eggsy kemudian direkrut Hart menjadi salah satu kandidat buat agensi yang belakangan dikenalnya sebagai ‘Kingsman’ berkedok tailor shop (penyamaran yang lazim digunakan kisah-kisah spionase klasik). Disana, dibawah bimbingan Merlin (Mark Strong), Eggsy pun bersaing bersama kandidat lain, diantaranya Roxy (Sophie Cookson) dan Charlie (Edward Holcroft) dan menemukan dirinya tak lama kemudian berada dalam intrik spionase dibalik rencana jahat tech-tycoon Richmond Valentine (Samuel L. Jackson) dan tangan kanannya, sword-legged assassin Gazelle (Sofia Boutella) untuk mengacaukan dunia.

            ‘Kingsman: The Secret Service’ adalah sebenar-benarnya kecerdikan visi Vaughn dan Goldman meracik kombinasi yang ada di dalamnya, membawa adaptasinya bahkan lebih lagi dari source-nya yang memang sudah dipenuhi homage dan reference. Walaupun film-film spy spoof bukan tak ada selama ini, dari ‘Casino Royale’ lama, dwilogi ‘Our Man FlintIn Like Flint’, ke ‘Austin Powers’ franchise bahkan ‘Mortdecai’-nya Johnny Depp yang hadir hampir bersamaan, ‘Kingsman’ bisa dibilang adalah juaranya.

            Tak hanya menggelar nods-nya ke elemen-elemen old-fashioned british spy flicks (tak hanya James Bond seorang) dari pakem plot (opening action sequence and naughty closing) serta plot logic ke desain karakter, set, kostum, gadgets, teaser dan official poster hingga production values lainnya (yes, that includes space suit and snowy mountain) termasuk scoring dari Henry Jackman Matthew Margeson dan sinematografi George Richmond, reference-reference ke pop kultur klasik dari film ke lagu yang terentang dari era ’60-an ke ’90-an juga turut mewarnai keseluruhan filmnya. Ada alunan soundtrack dari Dire Straits, KC & The Sunshine Band dan Lynyrd Skynyrd, sementara dalam salah satu nods terbaiknya, film-film seperti ‘Trading Places’, ‘Pretty Woman’, ‘La Femme Nikita’ dan ‘My Fair Lady’ juga ikut disempalkan dalam relevansi dialog-dialognya. Belum lagi nama-nama agen rahasia Kingsman yang mengacu pada Excalibur legend. Dan ini semua dipadukan dengan gory and comical signature Vaughn dalam membesut action scenes intens dengan koreografi aksi bukan sekedar main-main ala ‘Kick-Ass’ sebagai modern approach-nya plus theme songGet Ready For It’ dari Take That. Sayang church massacre scene-nya yang mungkin dikhawatirkan sensitif bagi sebagian pihak namun sebenarnya punya poin sangat penting terhadap turnover karakter utamanya, disini disensor kasar atas aturan baru LSF hingga mencapai durasi 12  menit.

            Pemilihan cast-nya pun juara. Vaughn sudah membuat kita sadar bahwa Colin Firth yang lebih sering tampil di film-film romance punya potensi untuk jadi setangguh James Bond, lantas ada Michael Caine, aktor Inggris legendaris yang lekat sekali dengan genre-nya hingga Jack Davenport dalam penampilan singkatnya sebagai Lancelot. Samuel L. Jackson sudah jelas pas sebagai comical villain, Mark Strong was strong, sementara Taron Egerton yang baru memulai debut layar lebarnya bermain baik sekali sebagai Eggsy dan yang paling menyita perhatian, Sofia Boutella yang sebelumnya tampil di ‘Street Dance 2’ sebagai Gazelle.

            So yes, seolah jadi penggabungan antara ‘X-Men: First Class’ di classic superspy tribute dengan ‘Kick-Ass’ di presentasi action – comedy yang fun tapi juga punya sisi emosional yang tertata tak kalah baiknya, ‘Kingsman: The Secret Service’ memang cukup luarbiasa. Sepenggal tribute note dari Vaughn untuk sang Ibu di awal end credits-nya pun jadi penutup sempurna setelah after credit scene yang jadi repetisi penting ke titik tolak origin story-nya. Bukan mustahil kalau adaptasi ini akan berkembang menjadi franchise Vaughn berikutnya. Now this goes ‘For Your Eyes Only’ : Being all old fashioned british spy flicks rolled into one, with more first class style, ‘Kingsmanreally kicks ass. A royal homage to espionage classics. Keren sekali! (dan)

JUPITER ASCENDING : A FUN BUT EMPTY SPACE OPERA

•February 11, 2015 • Leave a Comment

JUPITER ASCENDING

Sutradara : The Wachowskis

Produksi : Village Roadshow Pictures, Anarchos Productions, Warner Bros, 2015

Jupiter Ascending

            Ah. Siapa yang tak tertarik dengan kombinasi genre space opera dengan nama The Wachowskis (Lana Wachowski & Andy Wachowski) ? Siapapun tahu, apa yang mereka lakukan dalam trilogi ‘The Matrix’ hingga sebagian segmen dalam ‘Cloud Atlas’, dalam konteks sci-fi, sudah membuat nama mereka menjadi hottest candidates untuk genre ini. Dan ini bukan berarti hanya presentasi kelas blockbuster serta fun factor-nya, tapi juga ada sebuah konsep kuat yang diharapkan dalam universe-nya, sebagai salah satu persyaratan mutlak yang harus dimiliki sebuah space opera.

            Sejak lama pula, konsep-konsep yang katanya diinspirasi oleh kisah epik Odysseus bercampur ‘The Wizard of Oz’ dibalik atmosfer spiritual – humanis yang hampir tak pernah tertinggal dalam karya-karya mereka, sudah mengundang perhatian. Main cast-nya, Mila Kunis dan Channing Tatum, bisa jadi relatif, tapi deretan crew yang sudah lama berkolaborasi dengan mereka, incl. Dan Glass di supervisi VFX – pionir efek ‘Bullet TimeJohn Gaeta di desainnya (‘The Matrix’), komposer Michael Giacchino (‘Speed Racer’) dan DoP John Toll (‘Cloud Atlas’) sudah jadi seakan janji terhadap proyek yang tak digagas sekedar main-main. Walau akhirnya jadwal rilis di summer 2014 digeser ke masa-masa sepi awal 2015 dengan alasan memaksimalkan lebih dari 2000 shot dengan polesan VFX mau tak mau memberi kesan ketidakpuasan mereka terhadap hasilnya, antusiasme itu tetap tak berkurang saat trailer-nya dilansir buat publik.

            In the near future, Jupiter Jones (Mila Kunis), seorang gadis biasa keturunan Rusia yang bekerja sebagai pembersih fasilitas gedung terpaksa menghadapi takdirnya sebagai reinkarnasi dari ratu sebuah dinasti alien terbesar, Abrasax, yang memperdagangkan serum awet muda yang terbuat dari kehidupan galaksi lain di alam semesta termasuk manusia-manusia bumi. Kenyataan ini membuat Jupiter diperebutkan oleh tiga penerus sang ratu, Balem (Eddie Redmayne), Kalique (Tuppence Middleton) dan Titus (Douglas Booth) yang tengah bersaing memperebutkan kekuasaan di planet mereka. Bersama Caine Wise (Channing Tatum), prajurit bayaran intergalaksi yang awalnya diutus Titus namun belakangan berbalik bersimpati padanya, Jupiter pun harus menentukan nasibnya. Menyelamatkan keluarganya yang dijadikan sandera oleh Balem, or for the greater good, seluruh peradaban umat manusia.

            Seperti tagline menarik yang diusung filmnya, ‘Expand Your Universe’, The Wachowskis yang menggarap sendiri skripnya sebenarnya sudah punya konsep bagus untuk memulai space quest Jupiter. Latarnya dari seorang ayah dengan obsesi peneliti objek luar angkasa (diperankan oleh James D’Arcy), the seeding of Earth populations, serum hingga simbol-simbol fountain of youth yang menjelaskan durasi hidup lintas milenium dinasti Abrasax yang digambarkan sebagai Intergalactic Empire berikut Intergalactic Police Force (Aegis, dengan female captain yang diperankan oleh Nikki Amuka-Bird) and mercenaries (salah satunya Stinger, partner lama Wise yang diperankan oleh Sean Bean dengan bagus) dengan sendirinya sudah membentuk potensi sangat kuat untuk pengembangan universe, lengkap dengan filosofi-filosofi sci-fi yang tetap dibangun diatas dasar humanisme yang kuat. Ada elemen-elemen sci-fi hingga space opera yang iconic dari ‘Star Trek’ hingga ‘Star Wars’ di dalamnya, yang jelas sudah memberikan celah buat menggagas fun factors diatas latar serius serta filosofis.

            Sayangnya, hasilnya tak seperti itu. Kegagalan terbesarnya ada di chemistry dua karakter utamanya yang sebenarnya bukan tak di-handle Mila Kunis dengan akting yang baik, walau tetap terlihat kelewat cantik sebagai seorang janitor pembersih toilet. Namun sebagai Caine Wise, dibalik makeover tampilan plus those crazy blonde beard yang malah jatuh jadi kelewat aneh ketimbang meyakinkan, Channing Tatum seakan bermain dengan zero emotions. Tak hanya di part dramatisasi dengan tendensi sempalan intergalactic lovestory-nya, tapi juga tak terlihat terlalu badass dengan tata koreografi aksi serba minus yang baru agak membaik menjelang final showdown-nya. Ini, mau tak mau, membuat beberapa dialog yang seharusnya bisa jadi punchlines benar-benar tak bisa bekerja dengan maksimal.

            Sudah begitu, skrip The Wachowskis pun tak berhasil membangun Abrasax universe dengan sibling rivalry over inheritance plot yang lebih dalam. Jatuh menjadi kelewat dangkal dengan informasi-informasi sambil lewat saja, pembagian karakter Balem, Kalique dan Titus terasa jomplang diatas konsep yang sebenarnya cukup baik tadi. Agak sia-sia rasanya Eddie Redmayne bersusah-payah membentuk karakter Balem sebagai villain utama yang maunya terlihat mengerikan tapi justru jadi agak menggelikan. Villanous creatures yang mengiringi mereka sebagai algojo-algojonya juga tak satupun yang meninggalkan kesan memorable. Seakan kembali mengulang kesalahan mereka di bagian akhir trilogi ‘The Matrix’ di ‘The Matrix Revolutions’ dengan seabrek karakter (termasuk yang menampilkan beberapa nama aktor hingga sineas terkenal, dari Gugu Mbatha-Raw, Bae Doona hingga Terry Gilliam), lagi dan terus lagi, tanpa justifikasi appearance yang memadai.

            But however, jangan tanyakan sisi teknisnya, yang memang tak pernah terbantahkan di deretan filmografi The Wachowskis terutama yang menyentuh tema-tema fantasi. Desain produksi dari Hugh Bateup (juga bekerja dalam ‘The Matrix’), bangunan set ke tiap bagian dari universe-nya hingga ‘The House of Abrasax’ yang sangat megah bersama pesawat-pesawat luarangkasa dan eye-popping VFX dari Framestore yang luarbiasa cantiknya, ditambah presentasi 3D yang tak kalah bagus dibalik sinematografi John Toll, memang harus diakui sangat berhasil memanjakan mata penonton dan memberi ruang cukup luas untuk fun factor-nya. Dan untungnya lagi, final showdown di perempat akhir itu memang berhasil ditata dengan guliran action scenes cukup seru. A fun, but empty space opera. Sayang sekali. (dan)

THE BOY NEXT DOOR : A FAILED REINVENTION OF THE GENRE

•February 10, 2015 • Leave a Comment

THE BOY NEXT DOOR

Sutradara: Rob Cohen

Produksi: Blumhouse Productions, Smart Entertainment, Nuyorican Productions, Universal Pictures, 2015

TBND

            Oh yeah. Genre erotic thriller Hollywood yang sempat jadi trend di akhir ’80-an ke ‘90-an memang sudah seakan hilang entah kemana. Kalaupun masih ada, genre ini hanya jadi komoditas studio-studio kecil dengan film-film DTV atau Cable TV. ‘The Boy Next Door’, almost without warning, memang kabarnya dimaksudkan sutradara Rob Cohen sebagai bentuk reinvent terhadap genrenya. Kemasannya, walaupun klise dan sudah puluhan bahkan ratusan kali dibuat, an affair story between a young hunk and sorry, a MILF, sebenarnya punya selling point yang bagus dan sangat menggoda. Toh kalau mau dilihat kembali, produk dari genrenya yang benar-benar layak juga tak banyak, menyisakan terlalu banyak epigon-epigon yang isinya itu ke itu saja.

           Paling tidak, kita semua tahu bahwa nama Jennifer Lopez, yang walau sudah jarang sekali punya showcase bagus, masih punya mature sexiness yang masih sangat bisa dijual lewat sejumlah videoklip comeback-nya ke dunia rekaman. Pasangannya, Ryan Guzman, juga seorang aktor muda dengan bentuk fisik sangat bagus yang dikenal lewat dua instalmen terakhir ‘Step Up’. Terakhir tentu saja nama Rob Cohen sendiri. Walau sederet filmografi terakhirnya tak lagi bisa mengangkat namanya, siapa yang tak ingat dengan ‘The Fast and The Furious’ dan ‘xXx’? Ditambah isu hangat soal keberanian J-Lo melakoni sex and nudity scenes-nya, satu yang paling dijual dalam promosi filmnya, pasti tak ada yang menolak ‘The Boy Next Door’.

     Di tengah problem rumahtangganya dengan Garrett (John Corbett), suami yang hobi berselingkuh, Claire Peterson (Jennifer Lopez) yang tengah berada di ambang perceraian bertemu dengan tetangga barunya Noah Sandborn (Ryan Guzman), lelaki menarik seusia putranya, Kevin (Ian Nelson). Sosok dan agresivitas Noah yang memasuki sekolah sama dengan Kevin lantas mulai mengisi kesepian Claire dan menggoyahkan akal sehatnya. Namun saat menyadari kesalahannya, semuanya sudah terlambat. Noah tak lagi mau melepas Claire, and a bunch of terror comes along.

           Tak ada sebenarnya yang salah dengan plot itu. Tired and cliche plot yang sudah tinggal digonta-ganti posisinya itu memang sudah jadi resep baku film-film lain dalam genre sejenis, dan tak jarang, berhasil. Namun ketimbang menitikberatkan prosesnya agar tampil lebih sebagai erotic thriller yang intense dari segala sisi, polesan akhir skrip Barbara Curry yang kabarnya menarik batas bagi karakter Claire sebagai female lead yang bisa mengundang empati lebih memilih setup kelewat singkat dengan hanya menyisakan satu ultimate erotic scene-nya tak lebih dari perempat awal film.

          Dalam konteks ‘erotic’ atas sebutan genrenya, adegan yang walau habis dibabat sensor dalam kecenderungan badan sensor lokal kita menaati aturan-aturan barunya, memang tergolong sangat memorable. Bahkan tanpa full frontal nudity sekalipun, steamy sex scene itu bisa memicu pikiran paling nakal dari pemirsanya. Tak ada juga yang salah dari aktingnya dalam batasan-batasan kelas yang sama, erotic popcorn flick yang jauh dari kata inovatif, terlebih Jennifer Lopez dan Ryan Guzman. John Corbett yang lebih senior cukup bagus, dan Ian Nelson, pemeran Kevin, cukup mengundang perhatian.

            Sayangnya, semua cukup hanya sampai disitu. Apa yang hadir selama tigaperempat sisa presentasinya adalah tahapan-tahapan tak kalah klise buat membangun porsi thriller yang tak juga punya pendalaman psikologis lebih, membiarkan satu-dua karakter lain termasuk yang diperankan oleh Kristin Chenoweth atau Lexi Atkins, yang berpotensi untuk jadi distraksi bagus, lewat begitu saja sebagai pendamping tak penting, bahkan juga gagal menjaga intensitas pacuan games of terror-nya. Semua pengadeganannya seakan serba tanggung untuk menyentuh wilayah-wilayah lebih ekstrim, baik dalam thriller atau goriness serba tanggung, dan sebagai gantinya adalah eksplorasi yang boleh dibilang lebih terlihat ridiculous ketimbang convincing. Seakan Claire dan Noah hidup di lingkungan orang-orang yang luarbiasa tololnya tak menyadari apa yang sedang terjadi. In inverse, ini sama sekali bukan ‘Poison Ivy‘ yang lebih diakui sebagai salah satu icon di tema mirip dalam genrenya.

          Alih-alih melakukan reinvent terhadap genrenya, ‘The Boy Next Door’ malah makin menyerupai film-film epigon B-erotic yang dengan cepat akan mudah sekali untuk dilupakan. Ini sungguh bisa jadi lebih baik dengan potensi yang dimilkinya, namun sayangnya tidak.  Cohen dan timnya memilih untuk bermain aman, dan hasilnya tak lebih dari sebuah pengulangan. A failed reinvention of the genre. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,116 other followers