TUYUL PART 1 : A DIFFERENT TAKE ON OUR LOCAL HORROR GENRE

•April 16, 2015 • 1 Comment

TUYUL PART 1 

Sutradara : Billy Christian

Produksi : Renee Pictures

tuyul part 1 film

            Sebagai salah satu genre paling digemari disini, sayangnya kita hanya punya segelintir horor lokal dengan pencapaian bagus dalam standar rating-nya, bahkan cukup sulit untuk menyebutkan 10 saja film terbaiknya dalam beberapa dasawarsa terakhir. Selain sebagian besar asal jadi dalam hal kepentingan jualan semata, kebanyakan juga melulu diisi oleh elemen seks atau komedi yang makin membuat eksistensi genre-nya benar-benar buruk dalam perfilman nasional kita.

         Tapi ‘Tuyul Part 1’, yang direncanakan menjadi bagian pembuka dari sebuah trilogi oleh Gandhi Fernando dan Renee Pictures, memang punya inovasi yang agak beda dari yang sudah-sudah. Sejak trailer-nya diluncurkan, ada effort yang sudah terlihat dari cara mereka mengemas mitos klasik terhadap subjeknya. Bila sebelumnya digambarkan sebagai orang kerdil berkepala gundul yang dihidupkan dari patung batu dalam gua misterius lewat ‘Tuyul’ (1978 ; arahan Pitrajaya Burnama yang cukup unik mengkombinasikan komedian Darto Helm dan aktor Muni Cader), berlanjut ke ‘Tuyul Perempuan’ (1979, Sofyan Sharna dengan skrip masih dipegang Pitrajaya Burnama) dan ‘Tuyul E’eh Ketemu Lagi’ (1979, Lilik Sudjio) yang meski punya tone lebih komedik bersama sejumlah sinetron-sinetronnya, disini pendekatannya adalah sebuah creature feature yang masih cukup jarang ada di genre horor kita.

             Mitos asal Tuyul dari janin ibu yang keguguran juga mereka pindahkan ke nafas ‘Rosemary’s Baby’ (1968, Roman Polanski) yang sudah berkembang menjadi template thriller psikologis dalam genre horor, plus latar belakang budaya Jawa sebagai asal mitosnya dengan sedikit bumbu baru soal ‘genie in a bottle’. So yes, ditambah tampilan efek dan creature mock-up yang cukup rapi, ‘Tuyul Part 1’ ini memang menarik untuk disimak lebih jauh.

             Memperjuangkan posisinya sebagai kepala proyek di sekitar perkebunan teh daerah pegunungan, Daniel (Gandhi Fernando) dan istrinya Mia (Dinda Kanya Dewi) yang tengah mengandung anak pertama terpaksa pindah ke rumah peninggalan orangtua Mia disana. Keanehan-keanehan mulai terjadi setelah penemuan botol misterius di salah satu kamar rumah itu. Merasa keanehan-keanehan yang juga melibatkan tetangganya, Karina (Citra Prima) dan Bi Inah (Inggrid Widjanarko), abdi setia keluarga mereka hingga Daniel sendiri mulai mengancam keselamatan bayinya, Mia pun mulai menyelidiki rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh almarhumah ibunya (Karina Nadila).

           Selain effort penyutradaraan Billy Christian yang memang ada di level berbeda dari kebanyakan sutradara yang kerap menangani genre sejenis, usaha lebih juga terasa sekali datang dari skrip yang ditulis keroyokan oleh Luvie Melati, Gandhi dan Billy sendiri. Di tangan mereka, kombinasi antara pendekatan creature feature dan thriller psikologis ala ‘Rosemary’s Baby’ tadi memang bisa membentuk racikan yang berbeda. Plot yang memuat bangunan-bangunan suspense hingga sepenggal twist yang menjadi jalan pembuka ke sekuelnya dikemas cukup rapi, mengundang rasa penasaran dengan tahapan-tahapan yang juga wajar. Ada respek lebih terhadap genrenya disana, termasuk dengan elemen penting mitosnya soal yuyu yang tak pernah lupa ditampilkan di sebagian versi pendahulunya. Tak juga serba melompat-lompat dengan sekedar menawarkan jumpscares seperti rata-rata film di genre yang sama, tapi cukup solid memainkan genrenya lewat atmosfer.

             Penggarapan teknisnya juga tampil sama baiknya. Selain tata kamera Gunung Nusa Pelita yang bisa memanfaatkan dominasi ruang sempit set-nya lewat angle-angle yang ikut membangun atmosfer horor secara cukup mencekam, tata artistik dari Aek Bewafa juga sangat layak mendapat kredit lebih. Scoring Andhika Triyadi boleh jadi kelihatan agak generik di bagian-bagian awal, namun berubah drastis di perempat akhir, scoring dengan permainan shrieking strings, juga sesuatu yang masih jarang ada di film-film horor lokal, justru sangat memperkuat atmosfernya secara keseluruhan. Selebihnya, tentulah creature mock-ups dan tambahan efek yang lagi-lagi, dalam ukuran film horor kita rata-rata, selain punya proporsi pas untuk digeber di bagian-bagian akhir, jelas juga berhasil memberikan interpretasi baru buat tampilan subjeknya.

            Begitupun, bukan berarti ‘Tuyul Part 1’ tak punya kekurangan. Akting kuat Dinda Kanya Dewi yang memang jadi poin krusial untuk menghidupkan pendekatan thriller psikologisnya, begitu juga Citra Prima dan Inggrid Widjanarko yang cukup baik sebagai template characters dalam konteks genrenya, sayangnya tak bisa sepenuhnya diimbangi secara sempurna oleh Gandhi, terutama di bagian-bagian turnover karakternya. Untungnya, kekurangan ini tak sampai membuat pencapaian-pencapaian storytelling, bangunan atmosfer serta teknis tadi jadi tertinggal di belakang. Tetap menjadi elemen-elemen yang remarkable dalam kebanyakan horor lokal kita, ‘Tuyul Part 1’ jelas ada di kelas yang berbeda. A different take on our local horror genre. (dan)

GURU BANGSA TJOKROAMINOTO : A LAVISH, GRAND AND EFFECTIVE HISTORICAL OPERA

•April 14, 2015 • 2 Comments

GURU BANGSA TJOKROAMINOTO 

Sutradara : Garin Nugroho

Produksi : Pic[k]lock Production, Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto, MSH Films, 2015

tjokroaminoto

            Kecenderungan tema biopik dalam industri film kita tanpa konsistensi hasil yang baik mungkin membuat sebagian penonton jadi skeptis terhadap genre-nya. Selagi rata-rata mempermasalahkan durasi yang hampir selalu panjang hingga dianggap melelahkan, masalah utamanya sebenarnya ada di batasan-batasan penceritaan yang dipenuhi keraguan antara efektifitas atas interpretasi dan tujuan, sementara tetap ada kepentingan jualan dibaliknya. Belum lagi distraksi-distraksi atas keberadaannya sebagai film ‘pesanan’, meski ini tak juga berarti selalu salah.

        Okay. Nama Yayasan Keluarga Besar subjeknya memang menandakan bahwa ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’, lagi-lagi adalah sebuah ‘pesanan’. Soal cast yang lagi-lagi harus melulu diisi deretan aktor terkenal tanpa memikirkan kemiripan demi kepentingan jualan juga seringkali jadi sandungan. Tapi jangan lupa, sejarah, apalagi yang menyangkut orang-orang yang sudah bersusah payah memberikan sumbangannya untuk kelahiran bangsa ini, tetap merupakan sesuatu yang penting untuk dibahas. Dalam skup rasa kebangsaan kita yang masih sangat kurang, terlebih pendidikan sejarah perjuangan bangsa yang jadi pelajaran wajib di tiap fasilitas pendidikan formal bernama sekolah, seringkali berakhir sebatas masuk kiri keluar kanan, efektifitas informasi dan relevansi-relevansi penceritaannya pada akhirnya menjadi concern terbesar buat hasil keseluruhannya.

            Masalahnya lagi, ini adalah filmnya Garin Nugroho, yang meski sebagai sineas diakui sampai kemana-mana, tapi kenyataannya, punya masalah komunikatif ke rata-rata penonton awam yang jelas jadi sasaran terbesar buat tendensi film-film seperti ini. Bukan Garin tak pernah mencoba, tapi ‘Soegija’, di luar sekedar keindahan tampilan, juga harus diakui sebagai sebuah kegagalan bercerita. Tapi untunglah, dengan semua elemen-elemen tadi, termasuk gaya bertutur Garin yang juga tetap tak lantas jadi berubah drastis, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ sepenuhnya adalah sebuah kasus beda. Menyemat riwayat panjang kehidupan, ideologi hingga perjuangan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto sebagai sentralnya, ini ada di pencapaian yang jauh berbeda dengan ‘Soegija‘, sekaligus usaha yang konsisten dalam menghasilkan karya yang baik dari produser Dewi Umaya bersama Pic[k]lock Production-nya (‘Minggu Pagi di Victoria Park‘, ‘Rayya: Cahaya di Atas Cahaya‘)

            Meski lahir sebagai kaum bangsawan Jawa dengan latar keislaman yang kuat, Tjokroaminoto (dewasanya diperankan Reza Rahadian) tak lantas menjadi tidak peduli terhadap kondisi rakyat yang terjajah pada masa kolonialisme Belanda tahun 1900-an semasa ia bekerja dengan Belanda. Kemiskinan dan kesenjangan sosial selepas Tanam Paksa dan awal Politik Etis membuat Tjokro memilih melawan keinginan orangtuanya (Sudjiwo TejoMaia Estianty) bahkan meninggalkan istrinya, Suharsikin (Putri Ayudya) untuk berhijrah, kata yang kemudian menjadi kata kunci perjuangannya, dengan ikut memperjuangkan nasib, hak serta martabat bangsanya. Ketimbang mengangkat senjata, ia lebih memilih perjuangan ideologi lewat tulisan-tulisannya di surat kabar serta orasinya di depan rakyat. Namun puncaknya adalah pembentukan organisasi Sarekat Islam dari Sarekat Dagang Islam yang menjadi organisasi bumiputera pertama berdasar paham-paham Islam di tanah Hindia Belanda. Bukan saja jadi organisasi terbesar dengan lebih dari dua juta anggota, perjuangan Tjokro juga jadi awal lahirnya tokoh sekaligus pelopor pergerakan kebangsaan. Di tengah kekhawatiran pihak kolonial, pengaruh berbagai ideologi luar dan ancaman perpecahan dari dalam akibat perbedaan pemikiran tiap lapis kaum yang bergabung di dalam Sarekat Islam, rumah sederhana Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, menjadi cikal bakal para pengikutnya untuk meneruskan cita-cita Tjokro membentuk bangsa dengan rakyat yang sejahtera dan penuh martabat.

            Dengan penceritaan kronologis serta durasi yang memakan waktu 160 menit, yang memang sulit dihindari dalam genre sejenis, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ tak lantas terlepas sepenuhnya dari gaya tutur Garin yang tak biasa. Namun memilih untuk menggelar biopik ini dengan gaya historical opera, lengkap dengan adegan-adegan musikal yang disemat secara tak terduga namun cantik luarbiasa dibalik tata koreografi tak kalah bagus, bahkan sempalan humor, filmnya tak lantas menjadi sesuatu yang kelihatan absurd. Seolah sekali ini mau berkompromi lebih jauh dengan kemauan orang-orang yang ada dibalik produksinya,  di tangan yang tepat, Garin justru menemukan formula yang pas bersama visi uniknya selama ini. Disini, akting-akting teatrikal, komikal hingga adegan-adegan musikalnya bisa menyatu dengan baik dengan sisi lain yang lebih realistis diatas bangunan karakter-karakter utama hingga sampingan yang semuanya ikut menjelaskan latar historis berikut ekses kolonialisme tanpa lepas terlalu jauh menjadi gaya parabel tanpa fokus kuat ke subjeknya. Bahkan di ‘Mata Tertutup’ yang penceritaannya sangat komunikatif dibanding film-filmnya yang biasa, Garin belum pernah sesempurna ini mengkombinasikan elemen-elemennya buat jadi sesuatu yang benar-benar berbeda.

           Setup ke karakter Tjokro sendiri benar-benar dibangun dengan sangat baik lewat naskah yang ditulis oleh alm. Ari Syarif dan Erik Supit berdasar ide cerita yang dikembangkan bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh, Kemal Pasha Hidayat dan Garin sendiri, tanpa harus berinovasi kelewat idealis hingga berpotensi membuatnya jadi tak komunikatif terhadap pemirsanya. Kekejaman pihak kolonial Belanda yang digambarkan gamblang dibalik trauma masa kecil Tjokro yang memberi motivasi kuat untuk perjuangannya digelar bertahap ke pandangan-pandangan egaliter, antifeodalisme, pluralis serta antikekerasan diatas dasar ideologi Islami yang kuat tanpa lantas kelihatan pretensius, preachy ataupun jatuh jadi kelewat klise. Sebagian ledakan-ledakan emosinya boleh jadi terlihat komikal dibalik dialog-dialog yang juga terkadang cukup verbal termasuk soal hijrah sebagai kunci, tapi juga berada di batas serba humanis dengan penekanan kuat terhadap ajarannya dibalik gelar ‘guru bangsa’ yang disandang Tjokro. Sementara karakter-karakter sampingannya, baik yang nyata maupun fiktif terus memberikan perspektif dan metafora yang tak perlu jadi terlalu njelimet buat mendistraksi karakter Tjokro yang sudah sangat kuat sebagai fokus utamanya. Semua berada dalam batasan informasi yang sangat nyaman buat diikuti diatas dialog-dialog penuh punchlines membuat kita lebih mengenal sosok subjek berikut tokoh-tokoh hingga pahlawan penting yang ada di dalamnya, bahkan lebih dari sekedar pelajaran sejarah perjuangan bangsa yang selama ini diajarkan lewat buku teks. Yang tak rajin membaca pasti tak tahu bahwa Soekarno adalah salah satu murid Tjokro, bahkan menikah dengan putrinya. Selain itu, ia masih pula punya relevansi memetakan politik dan kehidupan bangsa serta integritas pemimpin yang terus dipertanyakan banyak orang hingga saat ini.

            Namun hal terbaik dalam ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ tetaplah sebuah kesempurnaan penggarapan dengan kerapian yang luarbiasa. Production values dibalik rancangan produksi Ong Hari Wahyu sangat menjelaskan bujet besar pembuatannya dengan pantas, digagas dengan kecermatan tinggi sekaligus membawa seluruh kru ke level pencapaian terbaik dalam karir mereka. Tata kamera dari Ipung Rachmat Syaiful seolah berpuisi dengan bahasa-bahasa gambar. Tata artistik Allan Sebastian, tata rias Didin Syamsuddin dan kostum dari Retno Ratih Damayanti memberikan detil-detil mengagumkan dibalik set yang penuh akurasi. Editing Wawan I. Wibowo, scoring Andi Rianto bahkan efek khusus oleh Satria Bayangkara yang tak perlu berusaha kelihatan bombastis tapi secara proporsional ditempatkan dalam kepentingan yang layak, semuanya hadir luarbiasa remarkable.

            Bersama pencapaian teknis itu, komposisi cast-nya pun membentuk sinergisme dengan blend tak terbayangkan dari yang serius, komikal hingga teatrikal, dari karakter nyata ke karakter-karakter fiktif yang membingkai kisah utamanya, menjadi sebuah pameran akting yang sangat mumpuni. Reza Rahadian lagi-lagi menunjukkan unpredictable result dari kekuatan aktingnya dengan gestur dan dialek yang pas, didukung permainan terkuat dari pendatang baru Putri Ayudya yang memerankan Suharsikin. Sementara Deva Mahenra sebagai Koesno/Soekarno muda, Tanta Ginting sebagai Semaoen dan Chelsea Islan yang sangat kuat di bagian-bagian akhir penampilannya sebagai Stella yang mempertanyakan ambiguitas identitas penting yang masih relevan hingga sekarang bersama sederet dialog-dialog memorable-nya ada di lini berikutnya. Lantas masih ada Christoffer Nelwan sebagai Tjokro muda, Ade Firman Hakim (Musso), Ibnu Jamil (Agus Salim), Sudjiwo Tejo dan Maia Estianty, Egy Fedly, Didi Petet ke karakter-karakter fiktif yang diperankan Alex AbbadChristine Hakim dan Gunawan Maryanto sebagai Cindil bersama seniman ludruk Jawa Timur sebagai scene stealer terkuatnya, Unit yang memerankan Mbok Tun. Jangan lupakan juga sematan penghargaan terakhir buat alm. Ari Syarif dan Alex Komang.

            Dengan semua remarkable elements, rata-rata dengan dedikasi sebaik ini, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ memang berhasil membentuk sebuah ensemble dengan tampilan sinematis yang luarbiasa mengagumkan. Lihat bagaimana perjalanan menuju konklusinya diakhiri dengan kalimat penutup yang hadir dengan begitu menggetarkan. “Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid”, diikuti epilog dengan guliran old photographs yang benar-benar bisa menggugah pemirsanya terhadap apa yang sudah dimulai Tjokroaminoto bagi bangsanya.  In years, seriously, kita sudah cukup lama tak punya biopik sejarah dengan pencapaian setinggi ini. Lavishly made, effectively told and wonderfully acted, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ is simply a classic. A cinematic grandeur! (dan)

FILOSOFI KOPI : A FULL-FLAVORED CUP CALLED LIFE

•April 10, 2015 • 1 Comment

FILOSOFI KOPI 

Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Produksi : Visinema Pictures, 2015

filosofi kopi

            Lebih dari sekedar minuman, kopi memang sudah berkembang jadi sebuah kultur. Bukan saja bagi lapis demi lapis skup industri dan penikmatnya, tapi juga bagi sebutan ‘barista‘ dibalik orang-orang yang berjasa meracik rasa di dalamnya. Diangkat dari cerpen karya Dewi Lestari alias Dee yang termuat dalam novel kumpulan cerpen berjudul sama, ‘Filosofi Kopi’ mungkin merupakan coffeeporn pertama dalam konteks film cerita fiksi. Seperti novelnya yang memuat banyak filosofi hidup dalam quote-quote sejenis ‘life is like a cup of coffee’, berdasar genre, ia tetaplah sebuah drama. Namun penggagasnya, sutradara Angga Dwimas Sasongko memang tak pernah bercanda dalam penyajian visual buat menyemat semua filosofi itu ke dalamnya. Tak salah bila Dee mengatakan bahwa ceritanya telah menemukan jodoh yang tepat di tangan Angga yang kemudian tak sekedar mengadaptasi, tapi mengembangkan cerita pendek itu ke dalam interpretasi-interpretasi baru ke dalam skrip yang ditulis oleh Jenny Jusuf.

            Melalui riset cukup panjang yang membawa sebagian cast utamanya mempelajari seluk-beluk pengenalan hingga pembuatan kopi selama berbulan-bulan, ‘Filosofi Kopi’ juga hadir dengan terobosan baru ‘user generated movie’ berupa aplikasi-aplikasi berbasis internet smartphone yang melibatkan kontribusi para penggunanya dalam penentuan visual lewat properti dan elemen-elemen artistik sampai meracik musik, roadshow, concept OST album, live concert hingga coffee truck dan kedai kopi permanen di bilangan Blok M, Jakarta. So yes, lebih dari deretan cast utamanya yang memang sangat menjual, effort-effort itu memang membuat film dengan tagline catchy, ‘Temukan Dirimu Disini’ ini jadi sangat menarik.

            Walau bersahabat sejak kecil, Jody (Rio Dewanto) dan Ben (Chicco Jerikho) kerap berseberangan soal nyawa kedai kopi ‘Filosofi Kopi’ yang mereka bangun bersama-sama. Selagi Jody yang penuh presisi selalu memikirkan pergerakan modal yang sudah ditanamkannya sejak awal, Ben yang berjiwa bebas punya idealisme tak kenal kompromi dalam racikan rasa yang sempurna. Dibalik semuanya, Jody juga harus berjuang dengan hutang yang ditinggalkan almarhum ayahnya, sementara Ben menyimpan trauma panjang terhadap sang ayah (Otig Pakis) yang mewariskannya keahlian itu. Ketika seorang pengusaha (Ronny P. Tjandra) datang memberikan tantangan dengan jumlah imbalan yang bisa menyelesaikan semuanya,  muncullah El (Julie Estelle), internationally acclaimed food blogger – pakar kopi ke tengah-tengah mereka. Mempertentangkan racikan Ben yang selama ini dianggapnya sebagai signature-nya yang sempurna dengan Kopi Tiwus racikan sederhana keluarga Seno (Slamet Rahardjo DjarotJajang C. Noer) yang ada di sebuah pelosok pegunungan, sebuah perjalanan penuh konflik pun dimulai. Resikonya adalah persahabatan panjang Ben dan Jody diatas rahasia-rahasia masa lalu yang mulai terkuak satu-persatu.

            Oke. ‘Jelangkung 3’ mungkin hanyalah sebuah awal. Namun lewat ‘Hari Untuk Amanda’ dan last year’s award-winning hit, ‘Cahaya dari Timur : Beta Maluku’, Angga Dwimas Sasongko sudah menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang storyteller terbaik yang kita miliki di perfilman Indonesia. Walau dibingkai dengan visual coffeeporn penuh passion sekaligus luarbiasa informatif lewat skrip Jenny Jusuf yang sangat detil dan penuh punchlines, kisah simpel tentang pertentangan obsesi dan cinta diatas friendship bromance, father to sons/daughter dan making peace with the painful past ini tak sekalipun meninggalkan emosinya di belakang.

         Dengan keseimbangan yang pas, kedua elemen ini bergerak diatas sinergi luarbiasa memaparkan tiap metafora dan interkoneksinya dengan sangat baik. Selagi Angga menyajikan visual penuh rasa yang menggugah indera pengecap kita saat menyaksikan adegan-adegan karakternya menyeruput kopi serta aromanya sebagai sebuah coffeeporn yang kuat dan jarang-jarang ada, menerjemahkan ide dasar Dee tentang kopi dengan ragam rasa berbeda diatas biji yang sama bersama benturan-benturan kehidupan, skrip Jenny Jusuf melakukan semuanya tak kalah baik. Pengenalan karakternya dibalut dengan bingkai komedi yang renyah sebelum konfliknya dimunculkan secara bertahap buat menjelaskan masing-masing background konflik itu secara detil dengan adukan emosi, semuanya  dalam batasan realita yang masih terasa wajar bersama relatable characters dan penyampaian yang sangat komunikatif. Like coffee and life with its bittersweet reality, seperti secangkir kopi yang lebih punya cinta ketimbang obsesi, kombinasi racikan ini muncul tak hanya penuh warna, tapi juga rasa. Terkadang emosional, tapi secara keseluruhan, heartwarming.

            Dalam penggarapan teknis, ‘Filosofi Kopi’ juga hadir dengan sejumlah keunggulan. Sinematografi dari Roby Taswin, tata artistik dari Keris Kwan, Rio Aldanto dan Yusuf Kaisuku, walaupun bukan nama-nama yang biasa menghiasi film kita, berhasil menyajikan tampilan sinematis dengan kombinasi rasa yang berbeda. Dan jangan lupakan juga betapa scoring dari Glenn Fredly bersama pilihan-pilihan soundtrack-nya yang diisi oleh Dewi Lestari, Maliq and d’Essentials, Sidepony, Gilbert Pohan, serta Svarna, folk band yang terpilih lewat audisi user generated #NgeracikMusik –nya dan Glenn sendiri juga turut menyumbang ragam terhadap keseluruhan rasanya, bahkan sampai ke dua additional scene di kredit akhirnya.

            Lantas tentu saja komposisi cast yang tepat. Bersama cameo-cameo menarik yang menampilkan Joko Anwar, Baim Wong, Tara Basro, Bebeto Leutualy (pemeran Salembe dalam ‘Cahaya Dari Timur’), Ronny P. Tjandra and mostly Tanta Ginting sebagai juaranya, karakter Pak Seno yang diperankan Slamet Rahardjo Djarot memberi sentuhan kuat sebagai penyeimbang perspektif dalam tema konflik ayah – anak-nya, plus Jajang C. Noer dan walau sedikit kelewat teatrikal, Otig Pakis. Sebagai El, Julie Estelle juga tampil sangat atraktif seperti biasanya. Namun hal terbaik dalam ‘Filosofi Kopi’ jelas ada pada performa Chicco Jerikho dan Rio Dewanto. Tampil dengan no holds-barred chemistry menerjemahkan friendship gestures berikut ledakan-ledakan konflik utama dibalik kekuatan karakter masing-masing yang bekerja membentuk konklusi akhirnya, bahkan mungkin satu yang terbaik dan pernah ada dalam sinema kita, flow storytelling Angga yang sudah kuat jadi benar-benar sempurna lewat chemistry mereka. Just like the famous coffee quote, ‘Good coffee is a pleasure, good friends are a treasure’, chemistry ini benar-benar sebuah treasure.

            So welcome to one of the finest Indonesian movie so far this year, yang lagi-lagi datang dari kolaborasi Angga dan Chicco seperti ‘Cahaya dari Timur’ tahun kemarin. Di tengah perjuangan film kita untuk terus mempertahankan eksistensinya dari kepercayaan penonton dan gempuran blockbuster luar, ‘Filosofi Kopi’ sudah hadir tak hanya dengan inovasi konten tapi juga pemasaran yang unik. Mari tak begitu saja melewatkannya. Like a smooth blend in your favorite cup of coffee, ‘Filosofi Kopinot only warm your heart and feed your soul, but also will knock you full-flavored. The ultimate one called life. (dan)

FAST & FURIOUS 7 : SKY’S THE LIMIT

•April 7, 2015 • Leave a Comment

FAST & FURIOUS 7

Sutradara : James Wan

Produksi : Original Film, One Race Films, Relativity Media, Media Rights Capital, Universal Pictures, 2015

furious 7

            Seriously, bahkan produser Neal H. Moritz, orang pertama yang ada dibalik status ‘Fast and Furious’ sebagai mega franchise sekarang ini, mungkin tak pernah memperhitungkan itu kala ia memulai semuanya bersama Rob Cohen di ‘The Fast and the Furious’ (2001) dulu. Film yang dibesut Cohen dalam gaya cult ala drive-in trash dengan formula baku ‘undercover cop investigating a crime beyond extreme sports world’, bukan juga dengan aktor-aktor kelewat dikenal, sudah berulang kali kita saksikan termasuk ‘Point Break’ sebagai salah satu ikon genre-nya.

            Namun saat film itu berhasil mencetak sukses besar sekaligus mendongkrak cast-nya, kita memang mendengar rencana sekuelnya yang kemudian sempat terkendala karena Vin Diesel lebih memilih franchise debutnya, meninggalkan Paul Walker yang meski kecewa tapi tetap maju dengan Tyrese Gibson sebagai partner barunya di ‘2 Fast 2 Furious’. Merubah style-nya di tangan John Singleton dari cult menjadi action berkelas blockbuster dengan adegan-adegan jauh lebih seru walau masih berada di pakem yang serupa, sekuel itu pun merubahnya menjadi franchise yang sangat potensial buat diperhitungkan, sampai mulai menggoda Vin Diesel untuk kembali walau masih sebagai cameo di film ketiga, ‘The Fast and the Furious: Tokyo Drift’ sebagai satu-satunya benang merah tanpa kemunculan Paul Walker.

           Then the game has changed, muncullah ‘Fast & Furious’ di tahun 2009 sebagai ajang reuni bagi franchise-nya. Bersama hubungan Walker dan Diesel yang sudah membaik sejak pre-produksinya dimana Diesel malah masuk sebagai salah satu produsernya, Moritz seakan melakukan fresh setup terhadap franchise-nya. Dengan Chris Morgan sebagai penulis skripnya, pakemnya berubah total. Balap-balapannya tentu tetap ditonjolkan, namun ‘Fast & Furious’ beralih rupa menjadi sebuah ‘team on a mission – action’ yang terus dipertahankan oleh Morgan hingga instalmen terbarunya ini. Hebatnya lagi, mereka mulai menambah action icon (incl. our own Joe Taslim di film sebelumnya) dengan trik bongkar pasang ke dalam karakternya plus jahitan benang merah secara taktis ke instalmen-instalmen sebelumnya. Setelah Dwayne Johnson yang bertahap diputarbalik ke sebagai member of the team, oh yeah, everyone cheers seeing Jason Statham di akhir instalmen ke-6, walaupun jelas di-setup sebagai villain.

            Sayang, insiden yang merenggut nyawa Paul Walker di tengah pembuatan ‘Furious 7′ (judul peredarannya di AS) nyaris menghentikan semuanya. Tapi toh ‘Furious 7’ akhirnya terus berlanjut menambah rasa penasaran penggemarnya atas berita-berita yang ada dari setup karakter hingga penggunaan CGI terhadap saudara Paul yang masuk menggantikannya di sisa masa syuting. Apalagi, kursi penyutradaraannya berpindah dari Justin Lin ke James Wan yang sama sekali belum punya kredibilitas di genre-nya. And yes, dengan skrip yang masih di-handle oleh Morgan, diatas vengeance subplot buat karakter Statham, ‘Furious 7’ tetap konsisten sebagai sebuah team action. Jadi jangan harapkan yang tidak-tidak, mostly if you really dig its history as a fan, then you’ll know, franchise ini sudah punya pakem yang jelas tak begitu saja boleh dirombak lagi sebagai jaminan kesuksesannya. Yang penting, sejauh mana Moritz dan timnya di bawah penyutradaraan baru James Wan bisa menaikkan lagi atraksi pacuan adrenalinnya. Sejak trailer-nya diluncurkan, mereka sudah membuat kita terperangah. Lihat saja judul rilisnya di Jepang, ‘Sky Mission’ yang merujuk pada aksi mobil beterbangan di tengah pencakar langit. Gonzo action, over the top, go name it. But to them, sky’s the limit.

            Masih berusaha mengembalikan ingatan Letty (Michelle Rodriguez) setelah insiden melawan Owen Shaw (Luke Evans) di London, Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Conner (Paul Walker) tak bisa lama menikmati masa tenangnya karena kakak Owen, Deckard Shaw (Jason Statham) langsung menyatroni mereka ke Amerika. Menerobos markas Hobbs (Dwayne Johnson) untuk mendapatkan profil lengkap Dom dan timnya, Shaw berhasil mengirim Hobbs ke RS, membunuh Han (Sung Kang) yang tengah berada di Tokyo dan meledakkan kediaman Dom dan Brian, namun untungnya mereka luput dari sasaran Shaw. Mia (Jordana Brewster) yang tengah mengandung anak kedua Brian segera diungsikan ke sebuah safe house sebelum Dom kembali mengumpulkan timnya, Roman Pearce (Tyrese Gibson) dan Tej Parker (Chris ‘Ludacris’ Bridges) untuk menghadapi amukan Shaw. Namun mereka lantas didistraksi oleh kemunculan Frank Petty (Kurt Russell), agen pemerintah yang menawarkan misi buat menemukan God’s Eye, program komputer mutakhir untuk melacak jejak yang dicuri teroris Jakande (Djimon Hounsou) dari seorang hacker wanita bernama Ramsey (Nathalie Emmanuel). Dom terpaksa menyanggupi misi ini karena sebagai upahnya, Petty menjanjikan God’s Eye untuk berbalik memburu Shaw. Menyelamatkan Ramsey di tengah mobil yang diterjunkan dengan parasut di pegunungan Caucasus, menuju Abu Dhabi dan beraksi mencuri mobil sport mewah di tengah-tengah Burj Khalifa dan Etihad Towers demi mendapatkan flashdrive berisi God’s Eye, konfrontasi segitiga ini terus berlangsung ke tengah-tengah jalanan Los Angeles dimana Hobbs kembali bergabung, sementara Shaw jelas tak begitu saja mau melepaskan mereka semua hidup-hidup.

            Dari sekedar menyambung kesuksesan franchise menjadi sebuah persembahan terakhir buat mengenang Paul Walker, ‘Furious 7’ memang dirancang dengan super-spektakuler. Menaikkan lagi pacuan adrenalin adegan-adegan aksinya ke batas yang sulit terbayangkan dari airdrops and flying cars, Abu Dhabi scenes ke final showdown tanpa meninggalkan muscle bumps dan combat fights-nya, buat sebagian orang, ‘Furious 7’ boleh jadi tak mementingkan plot-nya, apalagi menjaganya dalam batasan-batasan kewajaran. Tapi buat yang benar-benar mengikuti dengan cermat perubahan detil polanya sejak instalmen ke-4 pasti juga tahu bahwa Chris Morgan justru mempertahankan konsistensi pakem itu tanpa sekalipun berkompromi terhadap daya tarik lebih yang mereka miliki. Mau menyentuh kegilaan fantasi ala film-film superhero sekalipun, franchise-nya memang sudah menyamai ‘Mission: Impossible’ dalam ranah team action genre. Dan oh, masih ada yang mau mempermasalahkan akting dalam ‘Fast & Furious’? Lagi-lagi dalam konteksnya, bisa membuat pace dan konfrontasinya begitu intens lewat karakter-karakter yang juga mengisi sempalan komedinya dengan punchlines lucu, jelas bukan berarti akting itu gagal.

          Dan bagusnya, subplot-subplot ini tak lantas menjadi tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Dalam konteks franchise-nya, setup-nya dihadirkan Morgan dengan tepat diatas balance yang juga tergelar cukup baik bersama keterkaitan yang relevan. Ritmenya boleh jadi sedikit berkejaran, namun pace-nya tak sekalipun jadi terganggu. Semua karakter tambahannya, dari Jason Statham, Kurt Russell, Djimon Hounsou, Ronda RouseyNathalie Emmanuel dari ‘Game of Thrones’, aktor Bollywood Ali Fazal hingga keikutsertaan Tony Jaa yang memicu kontroversi peredarannya di Thailand atas berbagai tuntutan dari Sahamongkol, mendapat screen presence yang pantas serta proporsional. Dimana lagi kita bisa melihat dua combat scene antara Jaa dengan Walker, masing-masing dengan durasi lumayan plus Statham yang harus berhadapan dengan Johnson berikut emotional hard punch final showdown lawan Diesel?  Belum lagi catfight tak kalah seru antara Michelle Rodriguez dan Ronda Rousey. Membatasi penampilan Johnson sebagai badass highlight mendekati klimaksnya, menyediakan ruang buat Elsa Pataky even just a bit of Tokyo Drifts Lucas Black,  semuanya berada dalam proporsi pas sekaligus sulit jadi lebih baik dari ini.

             Diatas semuanya, ‘Furious 7’ jelas menorehkan kesuksesan luarbiasa bagi penyutradaraan James Wan. Okay, walaupun Wan punya DoP Stephen F. Windon (bersama Marc Spicer) yang memang sudah biasa berkiprah di genre-nya sejak ‘Tokyo Drift’ termasuk ‘G.I. Joe: Retaliation’ berikut editor Christian Wagner (‘Fast & Furious 4-6’, ‘Bad Boys‘, ‘M:I 2‘, ‘Face/Off’) yang mungkin cukup bisa menjelaskan mengapa gelaran adegan-adegan aksinya bisa muncul begitu luarbiasa, all ultimately well shot over eyegasms and adrenaline rush, namun sebagai sebuah debut menggarap genre action dari serangkaian horor yang sangat bertolak belakang, ini jelas sebuah lompatan besar dengan pencapaian sangat layak. Apalagi, Wan tak lantas jadi canggung menyemat komedi khas franchise-nya, menunjukkan betapa ia sangat memahami luar dalam ‘Fast & Furious’ menuju ledakan-ledakan emosi yang menghanyutkan kita semua ke dalam loving tribute ke Paul Walker di pengujung filmnya. Film-film lain mungkin akan dengan mudah menghabisi atau mengganti karakternya, tapi ‘Fast & Furious’ punya cara lain untuk memberi jalan ke lovable character itu buat meninggalkan fans-nya secara sangat menggetarkan di tengah alunan lagu ‘See You Again’-nya Wiz Khalifa feat. Charlie Puth, all in the vein of the franchise’s hiphop soundtracks. It was a really glorious one last ride, hingga akan dikenang jauh setelah episode tragedi nyatanya berakhir disini.

           Dan itulah hal terbaik yang menyempurnakan ‘Furious 7’ sebagai salah satu instalmen terbaik dalam franchise-nya. Oh yes, ‘Fast Five’ tetaplah sebuah titik balik yang luarbiasa dibalik permainan pace dan ritme yang tepat, but having the right setups, perfect team, jaw-dropping actions and mostly those loving tributes untuk menutup filmnya bersama flashback sequence yang sekali lagi menjelaskan family conclusion-nya, they never miss a single thing which made the franchise Fast and Furious. For Paul, they have soared it loud and clear. Sky’s the limit. (dan)

furious 7b

AIR DAN API : NOT A BIG FIRE, BUT STILL A DECENT SEQUEL TO 2008’S INDONESIAN FIREFIGHTER HIT

•April 6, 2015 • 1 Comment

AIR DAN API 

Sutradara : Raymond Handaya

Produksi : Starvision, 2015

air dan api 2

            Sekarang-sekarang ini, sekuel adalah rare case di perfilman kita. Tapi siapapun yang sudah menonton ‘Si Jago Merah’, produksi Starvision yang disutradarai alm. Iqbal Rais di tahun 2008, pasti tak akan tak setuju kalau filmnya dilanjutkan ke sebuah sekuel. Bukan hanya karena film itu lucu dalam gaya bertutur Iqbal yang hampir selalu komunikatif berikut ensemble cast dengan chemistry juara, tapi lebih karena sebagai komedi profesi yang masih cukup jarang ada di sinema kita, naskah yang ditulis oleh Hilman Mutasi dalam kualitas filmografinya yang naik turun, berhasil menangkap elemen-elemen penting yang selain akrab juga informatif ke profesi tersebut dalam lintas budaya lokal kita.

            Sayangnya, baru tujuh tahun setelahnya sekuel itu akhirnya dibuat. Satu hal terpenting yang sulit dipertahankan pastilah deretan main cast-nya. However, dengan plot baru yang ditampilkan, bukan berarti ia lantas jadi kehilangan potensi. Paling tidak, scene stealer terkuatnya yang lebih dikenal sebagai penyanyi ketimbang aktor, Judika, masih melanjutkan perannya disini bersama Deddy Mahendra Desta. Skripnya tetap ditulis oleh Hilman bersama sutradara Raymond Handaya yang di film pertama menjabat astrada, plus Away Martianto. Dan yang sedikit lebih menarik, poster promosinya lumayan jauh dari nuansa komedi.

            Bersama partner baru mereka, Abdur (Abdur Arsyad ; comic standup asal NTT), Gito (Deddy Mahendra Desta) dan Rojak (Judika Sihotang) mendapat tugas untuk membimbing petugas Damkar baru dibawah pimpinan komandan Dicky (Bucek). Diantara calon-calon baru ini, ada Dipo (Dion Wiyoko), pemuda idealis yang melawan keinginan ayahnya (Ferry Salim) untuk menjadikannya seorang pebisnis, Radit (Tarra Budiman), keponakan Dicky yang dipaksa ayahnya menjadi petugas damkar demi menanamkan tanggung jawab, serta Sisi (Enzy Storia), gadis cantik yang sejak kecil ingin mengikuti jejak almarhum ayahnya. Dalam pelatihan, cinta segitiga mulai berkembang diantara mereka. Radit terang-terang menaruh hati pada Sisi, sementara Sisi justru diam-diam menyukai Dipo yang masih terlibat hubungan dengan Tisha (DJ Una) yang menentang keinginannya jadi petugas Damkar. Semuanya memuncak pada kebakaran besar di sebuah gedung perkantoran dan akhirnya berujung pada kasus kebanjiran saat Gito dan Rojak turun tangan untuk menyelesaikan konflik diantara mereka.

            Rentang waktu panjang dari film pertama ke sekuelnya sebenarnya sudah dimulai dengan setup yang meskipun klise namun tetap terasa wajar. Pun begitu halnya dengan konflik yang bermain-main di ranah tak kalah klise soal cinta segitiga serta larangan orangtua untuk membedakannya dengan motivasi-motivasi karakter di film pertama. Adanya subplot campur aduk dari soal Rojak yang dikejar-kejar ibunya Mak Sondang (Lina Marpaung) untuk mencari jodoh akhirnya jatuh cinta pada pandangan pertama pada kakak Sisi, Kirana (Marissa Nasution) serta hubungan naik turun Gito dengan Novi (Girindra Kara), sesama petugas plus sedikit sempalan action, which is necessary needed regarding its theme, dengan penampilan singkat Volland Humonggio yang kebagian adegan aksi bersama Judika, juga masih berada di jalur yang pantas. Paling tidak, ‘Air dan Api’ masih cukup cerdas menyemat informasi tentang profesi yang meski dinamakan firefighter atau Damkar itu tak harus selalu berurusan dengan api, tapi juga punya kewajiban menghadapi segala macam persoalan lain sampai bencana banjir.

            Sayangnya, trio Dion Wiyoko – Enzy Storia – Tarra Budiman tak cukup kuat untuk meng-handle fokus utama dalam plot yang mendominasi 2/3 penceritaan ‘Air dan Api’. Bukan juga tak bermain cukup baik, namun screen presence dan kharisma mereka masih kalah jauh bahkan oleh penampilan supporting cast-nya seperti Abdur Arsyad, Lina Marpaung (Mak Gondut), Marissa Nasution, Joe P. Project dan mostly Bucek, hingga cameo yang mencakup Meriam Bellina, Inggrid Wijanarko, Mongol, Laila Sari dan banyak lagi. Apalagi, skrip Hilman – Raymond dan Away tak cukup memberi ruang lebih buat dua karakter lamanya yang tetap konsisten terlebih Judika dengan celotehan lucu khas Medan bersama Lina Marpaung hingga perempat akhir film dimana akhirnya ikon ‘Si Jago Merah’ kembali muncul. Di satu sisi, ini adalah flaws terbesar bagi ‘Air dan Api’ untuk bisa menyaingi kekuatan film pertamanya, terlebih oleh porsi komedi yang jadinya jauh tergerus tak lagi seimbang oleh drama-drama di sepanjang konfliknya.

            However, penyutradaraan Raymond memang berhasil menaikkan kelasnya dari film sebelumnya (‘I Love You, Masbro‘). Cara bertuturnya terasa jauh lebih lancar termasuk dalam meng-handle dua turnover penting dalam keseluruhan plot yang membutuhkan efek-efek lebih serius dalam pengadeganannya. Dengan tata teknis cukup bagus serta tak asal jadi yang menjadikan dua adegan penting itu berlangsung cukup seru untuk ukuran film lokal sejenis, ‘Air dan Api’ masih menyisakan keunggulan lain lewat pemilihan ending yang secara berani tampil berbeda dari biasanya sekaligus menegaskan konklusi cukup unik bahwa sekuel ini lebih mengarah pada episode pengisi ketimbang estafet karakter total terhadap franchise-nya. With some of those misfires, ‘Air dan Apiis not a really big fire, but still a decent sequel to its predecessor. In our cinema’s rare sequel case, ini adalah salah satu yang masih sangat layak buat disimak. (dan)

INSURGENT : A PROMISING SEQUEL THAT LIFT UP THE FRANCHISE

•April 6, 2015 • Leave a Comment

INSURGENT

Sutradara : Robert Schwentke

Produksi : Red Wagon Entertainment, Summit Entertainment, Mandeville Films, Lionsgate, 2015

insurgent

            Menyambung trend YA (Young Adults) adaptation dan kesukesesan ‘Twilight’ yang memulainya, ‘Divergent’ yang diangkat dari novel series karya Veronica Roth sebenarnya tak terlalu kuat, meskipun terlihat sangat punya potensi. Toh dengan hasil box office yang biarpun laku tapi tak terlalu besar, pihak pembuatnya mungkin benar-benar yakin dengan potensi itu. Packed with more budgets, franchise-nya dilanjutkan ke adaptasi buku ke-2-nya, ‘Insurgent’ bahkan dengan nama-nama lebih kredibel lagi di susunan cast and crew-nya. Sementara main cast-nya tetap kembali disamping Miles Teller yang jelas mendapat porsi lebih atas eksistensi yang makin kuat dalam industrinya setelah ‘Whiplash’ menuju ‘Fantastic Four’ baru nanti.

            Picked up whereDivergentleft off, setelah serangan Jeanine (Kate Winslet) dari Erudite dengan Dauntless soldiers dibawah pimpinan Eric (Jai Courtney) berhasil mendapatkan kotak misterius yang ternyata hanya bisa dibuka oleh Divergents, Tris (Shailene Woodley), Four (Theo James), Caleb (Ansel Elgort) dan Peter (Miles Teller) masih bersembunyi di kawasan Amity. Keributan yang dipicu oleh Peter terhadap Tris membuat pemimpin Amity, Johanna (Octavia Spencer) berniat mengusir mereka, namun keburu disatroni oleh Eric dan orang-orangnya. Tris, Four dan Caleb berhasil melarikan diri ke Factionless namun Peter dengan licik berpindah ke kubu Erudite. Disana, menyadari pimpinan Factionless adalah ibu Four, Evelyn Johnson-Eaton (Naomi Watts), mereka mulai menyusun kekuatan untuk melawan Erudite, namun Caleb yang trauma akibat pengalaman membunuh pertamanya memilih untuk memisahkan diri. Tris dan Four kemudian menuju Candor dan bertemu dengan pimpinannya, Jack Kang (Daniel Dae Kim), namun lagi-lagi Eric menyusul menyerang Candor. Pengejaran ini berlanjut hingga akhirnya Jeanine berhasil mendapatkan Tris yang menyerahkan diri akibat rasa bersalah terhadap komunitasnya, dan kemudian mendapatkan kenyataan mengejutkan tentang eksistensi mereka dari kotak misterius itu di tengah penyerangan Factionless terhadap Erudite. Semuanya belum berakhir disini dan masih akan berlanjut di instalmen ketiga, ‘Allegiant’ yang lagi-lagi akan dibagi menjadi dua film di 2016 nanti.

            Penyutradaraan yang beralih ke Robert Schwentke (sementara Neil Burger, sutradara film pertama kini ada di kursi executive producer) memang membuat ‘Insurgent’ jadi makin dinamis dalam tampilan adegan aksi dan efek visualnya. Skrip yang memuat nama Akiva Goldsman dan Mark Bomback, both are very credible Hollywood writer, plus Brian Duffield, pun berhasil mengemas plot kompleks dalam universe ribet yang tak digelar dengan benar-benar memorable oleh Burger di film pertama jadi jauh lebih enak buat diikuti. Sementara scoring yang dibesut Junkie XL dan diproduseri Hans Zimmer bisa bekerja dengan baik mengiringi action sequence-nya.

            Namun di saat pace lebih kencang, action yang jauh lebih seru serta visual cantik dari sinematografi Florian Ballhaus memberi keunggulan lebih untuk sekuel ini, seperti YA adaptation lainnya, titik berat utamanya memang tetap ada pada main cast-nya. Disini, Shailene Woodley tampil makin kuat bersama chemistry yang juga makin baik dengan Theo James. Ansel Elgort masih tak diberi kesempatan kelewat lebih dibanding Miles Teller yang mendapat kompleksitas tambahan atas konsistensi karakternya, begitu juga sebaris well known supporting cast-nya dari Maggie Q, Zoë Kravitz, Ray Stevenson, Mekhi Phifer plus Octavia Spencer serta Tony GoldwynAshley Judd yang mengulang peran mereka dalam beberapa flashback sequence. Di deretan antagonis, Jai Courtney juga mendapat sorotan lebih bersama Kate Winslet yang jadi semakin kuat dibalik interaksi yang ditunggu-tunggu bersama Naomi Watts. Walau sebagian side characters-nya masih terkesan sekedar tempelan, komposisi cast yang makin besar di ‘Insurgent’ sedikit banyak memang berhasil menambah kekuatannya.

            Selebihnya tentu ada di marketing campaign-nya. Dalam salah satu persyaratan mutlak YA adaptation, Divergent series ini memang boleh dibilang sangat berhasil memanfaatkan kesempatan yang ada lewat awarding events di pangsa pemirsanya. Dari MTV Movie Awards, Teen Choice dan People’s Choice Awards, paling tidak, franchise-nya berhasil menapak eksistensi yang lebih kuat di tengah persaingan dengan YA adaptation lainnya, terutama satu yang paling berat dan punya similaritas tema, ‘The Hunger Games’. Walau masih berada di bawahnya, paling tidak ‘Insurgent’ sudah bisa meletakkan ekspektasi yang lebih baik ke finale-nya di 2016 nanti. A promising sequel that lift up the franchise. (dan)

MELANCHOLY IS A MOVEMENT : A TALE OF BEING STATIC

•April 5, 2015 • 1 Comment

MELANCHOLY IS A MOVEMENT

Sutradara : Richard Oh

Produksi : Metafor Pictures, 2015

melancholy is a movement

Yes this is mostly empty.

Static.

But look closer and feel deeper.

Barangkali…

barangkali, sebagian dari Anda akan bisa menangkap maknanya.

Seperti kata Joko ke Upi di salah satu adegannya : ‘deep deep gitu’.

Selamat mencoba, dan semoga sukses.

Lulz. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,567 other followers