INDEPENDENCE DAY: RESURGENCE; A FUN SEQUEL BUT NEVER MORE

•June 29, 2016 • Leave a Comment

INDEPENDENCE DAY: RESURGENCE

Sutradara: Roland Emmerich

Produksi: Centropolis Entertainment, Electric Entertainment, TSG Entertainment, 20th Century Fox, 2016

ID4

            Jadi sebuah fiksi ilmiah klasik di tahun 1996, ada perbedaan yang diusung ‘Independence Day’, sering disingkat ID-4 dalam subgenre perang manusia lawan alien. Bukan semata karena feel patriotik yang disemat sekalian ke perayaan hari kemerdekaan AS buat mewakili heroisme dunia lewat skrip pidato legendaris Bill Pullman yang memerankan Presiden Whitmore, juga nama besar Will Smith – ataupun desain alien yang sempat dijual dalam merch action figure atas bentuk dan rancangan detilnya yang unik.

               Namun di film itu lah Roland Emmerich (bersama Dean Devlin yang belakangan kerap hanya duduk di kursi produser) memantapkan signature-nya di tema-tema disaster, memuat penghancuran dunia dalam skala katastropik, apapun genre filmnya dan mencetak banyak rekor box office dari ‘Godzilla’, ‘The Day After Tomorrow’, ‘2012’ ke ‘White House Down’. Kembali ke homage film-film monster atau scifi klasik, mereka menggagas racikan yang sejalan dengan sebuah gambaran kehancuran global.

           Di sana, jadi muncul koneksi kuat yang ditopang dengan baik oleh desain karakter-karakternya, dari sentral hingga yang terkecil, membuat pemirsanya begitu peduli dan masuk ke perjuangan mereka untuk mencegah kehancuran dunia. Bahkan seekor anjing kecil di tengah bahaya bisa membuat kita tak rela membiarkannya jadi korban, dan itu sebabnya kenapa pidato Presiden Whitmore jadi terasa begitu heroik. Rencana sekuel yang sudah tertunda lama pun akhirnya terwujud setelah 20 tahun dengan ‘Resurgence’ menggantikan judul awal ‘Forever’ yang digagas dengan timeline fiktif yang luarbiasa panjang selama rentang waktu itu. Tapi mengulang sebuah keberhasilan gemilang yang menjadi penanda perkembangan sinema dan genre-nya, sebuah breakthrough, jelas bukan hal yang mudah, apalagi selama itu.

              Perang manusia lawan alien dalam ‘ID-4’ ternyata tak lantas berakhir di sana. Selagi umat manusia dan PBB merancang ESD (Earth Space Defense) dengan teknologi yang diadopsi dari kemenangan mereka, pihak alien ternyata juga menyiapkan kekuatan lebih besar lagi buat menyerang kembali. Bersama satuan pilot-pilot muda Jake Morrison (Liam Hemsworth), Rain Lao (Angelababy), Charlie (Travis Tope), Patricia (Maika Monroe) putri Whitmore yang sudah meletakkan jabatan berganti ke Presiden Lanford (Sela Ward) dan Dylan (Jessie Usher), putra alm. Steven Hiller (Will Smith di film pertama), Whitmore, Dr. Brackish (Brent Spiner) dan ilmuwan David Levinson (Jeff Goldblum) pun kembali harus menghadapi serangan ini – menerjemahkan setiap koneksi dan teknologi yang lebih lagi.

            Gagal mendapatkan Will Smith yang lebih memilih ‘Suicide Squad’, rentang waktu 20 tahun itu pun dimodifikasi oleh Emmerich, Devlin, Nicolas Wright, James A. Woods hingga James Vanderbilt dengan kisah-kisah suksesor karakter-karakter intinya. Tak ada yang salah dengan itu, apalagi bersama tim VFX-nya Emmerich sudah merancang katastropik lebih lagi bersama serangkaian heroisme senada perang umat manusia melawan alien berikut latar psychic war yang jadi bagian menarik tapi sering terlewat dalam ingatan ke film pertamanya. Ada pula potensi pengembangan ke perang antar galaksi yang direncanakan ke sekuel berikutnya.

            Sebagian karakter seperti istri Hiller (Vivica A. Fox), Dr. Brackish Okun (Brent Spiner, pemeran Data dalam ‘Star Trek: The Next Generation’), ayah David (Judd Hirsch) hingga Jenderal Grey (Robert Loggia) yang tampil sekilas ikut muncul kembali dengan penambahan banyak karakter baru yang walau terasa agak sesak tapi memberi jalan untuk sematan elemen-elemen yang lebih fresh di tengah jingoism comedy ala Emmerich hingga elemen-elemen kadet ala ‘Starship Troopers’, namun tak semuanya bisa dieksekusi dengan baik walau sudah dimulai cukup kuat.

           Satu yang menarik di luar kepentingan Hollywood menggamit pasar China sekarang ini adalah membuat feel global warfare-nya lewat karakter-karakter lintas negara dari Angelababy, aktor Singapore Chin Han, warlord Umbutu yang diperankan oleh Deobia Oparei dari Kongo berikut latar kawasan mereka yang dipilih alien sebagai tempat pendaratan lanjutnya, hingga Charlotte Gainsbourg yang lebih dikenal sebagai aktris arthouse Perancis putri pasangan seleb Perancis legendaris Jane Birkin dan Serge Gainsbourg sebagai Dr. Catherine Marceaux, scientist ESD yang punya hubungan lama dengan David. Masih banyak lagi tambahan karakter yang diperankan Joey King, penulis skrip Nicolas Wright dan William Fichtner.

            Hanya saja, memang, absennya Will Smith tak bisa benar-benar tergantikan dengan satu pun karakter yang sebanding. Ansambelnya lebih besar dan meriah tapi sama sekali tak sekuat dulu. Dan penuh sesak karakter itu membuat masing-masing yang seharusnya menonjol sebagai benang merahnya jadi gagal mendapat justifikasi seimbang. Sebagian karakter penting itu mendapat eksekusi final begitu sia-sia sementara sematan lucu-lucuan tak penting justru kadang kelewat ditonjolkan tanpa diperlukan, sementara dalam kapasitas katastropiknya, alien soldiers-nya pun kini sekedar lewat begitu saja menyisakan hanya satu yang benar-benar menonjol, itu pun jauh dari kesan unbeatable.

             Impact terparahnya jatuh pada nafas patriotisme yang jadinya juga gagal menyamai ID-4. Kita tak lagi se-peduli dulu dengan karakter-karakter utamanya, dan ada miscast yang terlihat jelas juga dari pemilihan Liam Hemsworth yang tak cukup convincing sebagai rebel, pun Maika Monroe dalam interkoneksinya ke Whitmore serta Jessie Usher yang walau punya kemiripan dengan Will Smith tapi tak pernah sekalipun tampak kelewat tangguh.

               Menyisakan pameran VFX yang lebih memang ada di kapasitas lebih wah, cantik serta meriah, juga main theme ala John Williams dari David Arnold (kini dikomposisi ulang oleh Harald Kloser dan Thomas Wanker dan muncul di penutup film), ini tetap sekuel blockbuster musim panas yang sangat seru, tapi sayangnya, masing-masing elemen itu tak benar-benar bisa memuncak ke titik klimaks seheboh pendahulunya. Coba nikmati saja boom-bang ala Emmerich yang memang lagi-lagi kosong seperti film-filmnya pasca ‘ID-4’, dan jangan pernah mengharap lebih – apalagi membandingkannya satu-persatu dengan pendahulunya. A fun sequel, but never more. Sayang sekali. (dan)

 

 

FINDING DORY: PIXAR’S AT ITS PUREST HEARTS, VISUALS AND FUN

•June 26, 2016 • Leave a Comment

FINDING DORY

Sutradara: Andrew Stanton, Angus MacLane (co-dir)

Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios, 2016

finding dory

            Tak seperti ‘Toy Story’ atau ‘Cars’ dengan semua pengembangannya – dari sekuel ke animated shorts dan semua bentuk merch – companion lainnya, ‘Finding Dory’ memang butuh waktu sedikit kelewat lama untuk menyambung pendahulunya ‘Finding Nemo’. Bukan animasi itu tak sukses dulunya. ‘Finding Nemo’ justru mencetak banyak rekor dari awards ke box office sekaligus jadi sebuah instant classic, walau mungkin memang tak sekuat yang dua tadi dalam hal penciptaan dan branding efforts dari Pixar – Disney. Bandingannya mungkin lebih ada di lini ke-2 berdasarkan kekuatan brand, bersama ‘Monsters, Inc.’ yang sekuelnya juga memakan waktu cukup lama.

            Di sisi lain, ini mungkin jadi kecermatan tim Pixar sendiri untuk mengulik produk-produk lama mereka karena sedikit banyak mereka tahu, sekuel dari produk yang punya potensi – selalu bekerja lebih baik dari instalmen orisinil sebagai awal. Tapi jelas, throw themall the characters, into any toy stores, ini adalah karakter-karakter yang langsung bisa dikenal luas oleh kebanyakan orang. Sebagian dari produk-produk Pixar yang bisa punya strong – everlasting brand. Ingat, tak semua animasi Pixar punya itu, dan semua pada asalnya juga merupakan Pixar’s original. Hanya saja, ada yang berhasil jadi franchise, ada yang dari awal memang tak punya potensi sebesar itu berapapun hasil perolehan box office atau rekor-rekor lainnya termasuk meraih Oscar.

            Ini mungkin yang membuat pengembangannya jadi semakin lama seperti diakui oleh Andrew Stantonalways the core of Pixar’s hearts untuk memberi keseimbangan ke inovasi John Lasseter yang kadang terlalu liar (baca= dewasa); di mana brand-brand terbaik dari sebagian karya Pixar tadi, lahir dari skrip atau penyutradaraan Stanton – untuk berkali-kali merombak skripnya bersama Victoria Strouse. Bahkan sudah terlalu jauh melewati momen yang tepat saat ‘Finding Nemo’ dirilis ulang tahun 2010 dalam format 3D, Stanton hanya ingin ‘Finding Dory’ tak lantas jadi sekuel yang sekedar aji mumpung dan lewat begitu saja. Oh yeah, ‘Monsters University’ kemarin ada di sana, menjadi seolah sempalan tak terlalu penting walaupun tetap charming. So what’s the result, then?

            Ber-setting setahun setelah endingFinding Nemo’, ‘Finding Dory’ pun membawa kita ke introduksi ulang yang cerdas soal short term memory loss yang diderita Dory (disuarakan Ellen DeGeneres) kepada storytelling barunya, yang mungkin diperlukan bagi pemirsa lama yang sudah sedikit lupa maupun generasi baru yang belum terekspos film pertamanya. Lewat serangkaian flash of memories itu, Dory pun akhirnya tergerak untuk mencari kedua orang tuanya; Jenny dan Charles (disuarakan Diane Keaton & Eugene Levy). Perjalanan yang membawa serta Marlin (Albert Brooks) dan Nemo (kini disuarakan Hayden Rolence) untuk mendampingi Dory pun membawa mereka menuju perairan California dengan petualangan tak terduga yang menunggu di sebuah Lembaga Kelautan. Bertemu sahabat-sahabat baru, lama bahkan kembali kehilangan satu sama lain berkali-kali di tengah laut lepas, mereka mesti bertahan demi mengantar Dory menemukan kembali rumah dan kedua orangtuanya.

            Menyemat fokus petualangan seru, journey and quest yang bergeser ke karakter Dory yang memang punya character arcs paling menarik dalam ‘Finding Nemo’, skrip Stanton dan Strouse bagusnya tetap tak melupakan Marlin dan Nemo sebagai pendamping yang cukup seimbang. Bersamanya, muncul ide-ide mendasar soal overcome fear dan looking for home dalam balutan penceritaan sederhana dan ide-ide kunci yang sangat menyentuh soal shell, memory and home – termasuk scoring Thomas Newman dan theme song recycle Nat King Cole ke Sia dengan ‘Unforgettable’ yang mampu diserap semua kalangan usia dan selalu mengingatkan kita tentang hubungan terdalam soal keluarga.

          Di sana pula, mereka dengan leluasa memunculkan karakter-karakter baru yang kuat seperti Hank (disuarakan Ed O’Neill),  red octopus temperamental yang sama-sama menarik perhatian bersama sahabat masa kecil Dory, whale shark rabun tapi genit Destiny (Kaitlin Olson) dan tetangganya, paus Beluga Bailey (Ty Burrell) dengan sematan informasi echolocation paus yang menarik buat pemirsa segala usia untuk pengenalan fauna bersama aspek-aspek Marine Life Institute-nya. Semua masih digagas dengan excitement sama yang menempatkan pemirsanya seolah berada dalam akuarium raksasa dengan visual yang sangat memanjakan mata termasuk gimmick 3D-nya.

            Masih lagi ditambah oleh duo singa laut Fluke dan Rudder (Idris Elba & Dominic West) serta Gerald dan aquatic bird Becky (Torbin Xan Bullock) buat mengisi part komediknya, dua orangtua Dory – dan Sigourney Weaver, tentunya; karakter-karakter ini bekerja dengan baik untuk memberi excitement baru ke tiap sisi petualangannya. Sisanya masih ada karakter yang memunculkan nama-nama terkenal seperti Bill Hader, Stanton sendiri hingga Willem Dafoe bersama karakter-karakter film pertama yang muncul sebagai kejutan di after credits scene-nya dengan luarbiasa menarik dan menjadikannya sangat layak buat ditunggu.

            Namun hal terbaik yang membuat mengapa ‘Finding Dory’ menjadi sekuel Pixar terbaik dalam hitungan rentang waktu begitu panjang (berbeda dengan ‘Toy Story’ tak peduli sebagus apapun bahkan ‘Cars’ yang masih digagas dalam rentang normal) adalah glimpse of hearts yang bisa menyamai pendahulunya. Bahwa dengan ‘Finding Dory’, Stanton membawa Pixar kembali ke rumahnya, ke ranah klasik yang membuat mengapa Pixar punya batasan berbeda dengan Disney Animated Classics pada awalnya dulu. Hearts, visual and fun jauh di atas inovasi-inovasi plot njelimet, serba dewasa dan over-dramatization di mana sebagian karya-karya orisinil Pixar di tangan Lasseter membuat penonton sibuk mencari airmata di tengah sajian animasi segala umur yang akhirnya lebih pantas jadi tontonan usia lebih dewasa. This is Pixar’s at its purest hearts, visual and fun.

            Tak pernah sekalipun mencoba terlihat lebih pintar menuangkan rich ideas paling dasar soal rumah, hubungan keluarga dan persahabatan termasuk latar soal short term memory loss ke karakter utamanya, satu lagi yang menarik adalah privilege yang kita dapatkan dari Disney dalam soal official dubbing-nya menyusul ‘The Good Dinosaur’, jauh setelah Malaysia sudah mendapatkannya sejak ‘Tarzan’ di tahun 1997 dulu.

             Dirilis dengan judul ‘Mencari Dory’, tak hanya bahasanya yang di-dubbing ke dalam bahasa Indonesia dengan ketepatan pemilihan voicecast Syahrini dan Raffi Ahmad, sebagai highlights untuk mengisi suara Destiny dan Baileyand above all, Maria Oentoe untuk menggantikan Sigourney Weaver –  meskipun belum bisa sepenuhnya menghilangkan kekakuan penggunaan bahasa-bahasa baku, title boards animated props hingga end credits title-nya juga ikut diterjemahkan. Mari tak lagi memandang dubbing efforts secara skeptis, menyamakan semuanya, terutama ke official privilege yang sebenarnya bisa menyediakan sarana bagus buat menyemat budaya lokal sekaligus merupakan acknowledgement penting dari Disney buat pasar kita. (dan)

THE CONJURING 2: A SOLID, SCARY AND FUN HORROR SEQUEL

•June 20, 2016 • 2 Comments

THE CONJURING 2

Sutradara: James Wan

Produksi: New Line Cinema, The Safran Company, RatPac-Dune Entertainment, Warner Bros Pictures, 2016

Conjuring 2

            Lebih dari genre superhero, horor adalah salah satu komoditas panas Hollywood yang tak pernah mati. Tapi James Wan memang spesial. Sineas berkewarganegaraan Malaysia yang juga sudah melangkah ke genre lain dalam ‘FF7‘ tempo hari punya signature-nya sendiri sebagai talenta terdepan dalam genre horor yang bukan saja meledakkan perolehan box office, tapi juga resepsi kritikus yang sejalan. Selain ‘Insidious’, ‘The Conjuring’ yang baru saja melangkah sebagai franchise lewat sekuelnya ini kembali melanjutkan petualangan pasangan suami istri cenayang dan investigator paranormal The Warrens lewat kasus-kasus mereka yang diangkat dari kejadian nyata.

            ‘The Conjuring 2’ membawa kita pada kasus yang dikenal sebagai The Enfield Poltergeist di Inggris 1977 dimana Janet (Madison Wolfe), putri termuda single mother Peggy Hodgson (Frances O’Connor) terasuki arwah Bill Wilkins (Bob Adrian), pemilik rumah mereka sebelumnya. Keanehan-keanehan yang terjadi mulai membahayakan jiwa sekeluarga Hodgson atas asumsi bahwa arwah Bill tak senang atas keberadaan mereka. Ed & Lorraine Warren (Patrick Wilson & Vera Farmiga) yang baru saja mendokumentasikan kasus ‘The Amityville Murders’ setahun sebelumnya pun ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini bersama dua investigator paranormal Maurice Grosse (Simon McBurney) dan Anita Gregory (Franka Potente) yang mencium adanya kemungkinan penipuan, sementara Lorraine sejak awal sudah mendapat visi buruk tentang sebuah pertanda sekaligus keselamatan Ed.

            Satu hal yang membuat horor James Wan bergerak dalam batasan beda dari film-film lainnya bukan hanya kepiawaiannya membangun kengerian lewat atmosfer, tapi bentukan karakter yang cermat dalam kaitan-kaitan motivatif hingga ke detil-detil elemennya, juga pendekatan soal ikatan keluarga. Selagi film pertamanya langsung bertengger dengan status klasik sekuat horor legendaris seperti ‘The Exorcist’, ‘The Shining‘ atau ‘The Omen’ lewat homage ke nuansa ‘70an termasuk eerie scoring Joseph Bishara tanpa harus boros menakut-nakuti lewat penampakan – oh yes, if there’s ever such things called instant classics, ‘The Conjuring’ adalah salah satu contoh nyatanya, dan sekuel ini memang sedikit berbeda.

            Namun di situ juga Wan menggagas sekuelnya jadi tak hanya sekedar sebuah repetisi kisah petualangan The Warrens sebagai layer paling dasarnya. Selagi atmosfer horor ’70-an itu tetap diadopsinya lewat permainan art, props hingga segala pop kultur era-nya (ada ‘London Calling’ dari The Clash serta ‘I Started a Joke’-nya Bee Gees), Wan menghadirkan elemen-elemen teknis yang membuat ‘The Conjuring 2’ tak sekalipun jatuh ke ranah yang biasa. Shot-shot-nya lewat sinematografi Don Burgess sangat fantastis, termasuk satu yang terbaik dalam bangunan scary ambience serta psychological impact di adegan interview Ed dengan Janet yang memancing rasa takut kita di balik latar-latar mati yang terasa ikut menghantui, sound design-nya juga cermat. Tetap ada permainan jump scares, namun dibesut Wan dengan effort-effort editing beda serta sangat berkelas.

            Secara perlahan, dengan kekuatan-kekuatan ini, Wan mengarahkan pace-nya dengan intensitas mendaki kemudian dilepas bak sebuah wahana rollercoaster yang seram sekaligus seru. Dan ia tetap menarik batas yang semakin memperkuat interaksi The Warrens dengan klien-nya sebagai kekuatan terdepan, sebagaimana halnya yang ia lakukan dalam ‘The Conjuring’ sambil menaikkan level koneksi pemirsanya terhadap The Warrens termasuk menyemat elemen romansa mendalam lewat baris-baris lirik lagu klasik Elvis PresleyCan’t Help Falling In Love’ secara relevan menjadi konklusi kuat, tak biasa sekaligus menyambung antitesis ending klise film-film horor rata-rata. Kontradiksi skepticism dan relijiusnya pun tetap tergelar dengan kuat seperti sebuah whodunit detective thriller.

        Ini semua bukan masalah gampang. Ada banyak horor yang baik, namun yang membuat penontonnya benar-benar bisa terhubung dan begitu peduli ke nasib karakter utamanya, itu tak banyak. Dan chemistry Patrick Wilson dan salah satu pilihan terbaik Wan atas karakter Lorraine ke Vera Farmiga juga terbentuk semakin baik di sini, sementara effort-nya menggamit aktris-aktris bagus yang nyaris terlupakan, sama seperti Lili Taylor dalam film pertama, kembali terlihat lewat Frances O’Connor di sini. Masih ada kemunculan singkat dari Franka Potente dan sebagai sentral terornya, Madison Wolfe juga bermain baik sekali sebagai Janet.

            Lantas, salah satu persyaratan horor yang remarkable lewat tampilan ultimate demons; demonic villain yang dengan cepat bisa menyebar seperti viral promotion baik lewat sosmed ataupun word of mouth, juga terpenuhi. Wan tetap memanfaatkan Javier Botet sebagai salah satunya, namun diperankan oleh Boonie Aarons, walau kabarnya tampilan karakternya baru digagas secara final menjelang reshoots tahap akhir, lihat seperti apa karakter demonic nun bernama Valak itu langsung menyita perhatian begitu banyak orang, persis seperti apa yang mereka tampilkan lewat Annabelle di film pertama, sama-sama pula bersama potensi spinoff-nya nanti, tak peduli bagaimanapun hasilnya.

           So, membangun sebuah ketakutan dalam genre ini mungkin biasa, namun jarang-jarang sebuah horor mau repot-repot berusaha tampil di kelas yang beda dari semua sisi penggarapannya. Itulah yang dilakukan Wan dalam membangun signature spesialnya dalam genre horor. Seru, menyeramkan tanpa harus kehilangan kedalaman, ‘The Conjuring 2’ mungkin tak se-klasik predesesornya, tapi dengan gagasan-gagasan yang justru mendalami character-arcs serta kelebihan teknis yang tetap dipertahankan, ia tetap jadi sebuah sekuel horor paling solid yang pernah ada. (dan)

 

NOW YOU SEE ME 2: THE BIGGER, BUT NOT BETTER FORM OF BLOCKBUSTER FRANCHISE

•June 16, 2016 • Leave a Comment

NOW YOU SEE ME 2

Sutradara: Jon M. Chu

Produksi: K/O Paper Products, TIK Films, Summit Entertainment, 2016

Now You See Me 2

            Bukan sebelumnya tak ada film tentang sulap atau ilusionis, namun dalam genre ataupun subgenre film, selain jarang, apa yang dimunculkan Summit Entertainment dengan ‘Now You See Me’ di tahun 2013 memang merupakan hal baru. Menggabungkannya dengan genre heist/caper movies sebagai blockbuster bertabur bintang, kesuksesannya akhirnya mengantarkan film ini ke ranah franchise yang diperhitungkan dengan kemunculan sekuelnya tahun ini, yang di beberapa negara juga dibandrol sub judul ‘The Second Act’.

            Menaikkan lagi level-nya terhadap kisah petualangan para pesulap kelas dunia yang sudah diintroduksi sebagai ‘The Four Horsemen’, resep yang ada di film pertama pun dipertahankan cukup baik sebagai potensi utamanya. Tipu muslihat dengan twist berlapis antara pesulap, perampokan dan intrik FBI – kini ditambah sekuens-sekuens aksi yang lebih meriah dalam production values berkelas blockbuster, ‘Now You See Me’ bahkan berpotensi untuk menjadi ‘Fast & Furious’ versi sulap ini melanjutkan set-nya ke tiga tahun setelah film pertama.

            Alih-alih mengadakan comeback performance untuk membuka praktik curang sebuah multimillion-dollar gadget company, J. Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt McKinney (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco) berikut horsemen ke-5 Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) yang membawa personil baru Lula (Lizzy Caplan) malah dijebak oleh Walter Mabry (Daniel Radcliffe), partner perusahaan yang memalsukan kematiannya. Di tengah kejaran agen Natalie Austin (Sanaa Lathan) setelah identitas Rhodes terbuka, Thaddeus Bradley (Morgan Freeman) yang dijadikan sasaran atas dendam lama Rhodes juga merencanakan pembalasannya. Grup pesulap ini pun mulai terpecah untuk bisa keluar hidup-hidup dari permainan maut yang kembali membawa mereka ke musuh lama mereka, milyuner licik Arthur Tressler (Michael Caine).

            Skrip yang tetap dibesut Ed Solomon bersama penyutradaraan yang berpindah ke Jon M. Chu kini memang menaikkan level-nya lewat tampilan yang lebih wah, action yang lebih seru serta twist yang meski berulang namun dilebarkan lebih jauh dengan turnover karakter yang meski bisa tertebak tapi tetap terjahit cukup rapi. Ada sedikit resiko memang di nuansa magis detil-detil sulapnya yang jadi tak sekuat film pertama. Selagi sutradara Louis Leterrier dengan leluasa menyemat eye tricks lewat shot-shot-nya di film pertama untuk membuat langkah-langkah tricks revealing-nya luarbiasa mengejutkan, sekuel ini lebih melulu mengandalkan dominasi CGI walaupun di-supervisi oleh ilusionis fenomenal David Copperfield, juga di atas plot yang jauh lebih rumit, namun begitu masih cukup mampu tampil spektakuler terutama di adegan-adegan klimaksnya.

            Di balik itu, deretan cast-nya juga muncul dengan chemistry yang makin erat dengan konflik antar karakter yang mulai dilebarkan ke tengah-tengah petualangan mereka. Mark Ruffalo tetap menjadi yang terkuat untuk dibenturkan ke konflik leadership dengan Jesse Eisenberg, tapi porsi Dave Franco justru ditambah, bahkan Woody Harrelson yang diserahi double role pun jadi jauh lebih kompleks dari film pendahulunya. Selagi duet aktor senior Michael Caine dan Morgan Freeman tetap jadi elemen kuat di atas twist dan turnover-nya, Daniel Radcliffe – sayang sekali, terasa agak sedikit lemah melakoni peran antagonis di balik sosok dan gestur fisiknya.

         Sementara Lizzy Caplan yang masuk untuk menggantikan Isla Fisher di film pertama punya kelebihan dan kekurangan. Di satu sisi penampilannya terasa jauh lebih menarik untuk mengisi love interest ke karakter berbeda, namun sayangnya tak mendapat bentukan karakter maupun highlight magic performance yang berimbang dengan karakter lainnya. Begitupun, ia tetap bisa memberi warna baru ke ensemble hebat tadi, dan masih ada Jay Chou yang selain ikut mengisi soundtrack juga jadi daya tarik lebih buat pemirsa Asia, serta Sanaa Lathan untuk menggantikan porsi Melanie Laurent di film pertama. Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah scoring Brian Tyler yang bisa menggerakkan semua tricks dan excitements itu dengan tambahan kemeriahan.

       So, ini memang akan kembali lagi ke apa yang diharapkan tiap lapis beda pemirsanya. Buat yang menyukai ‘Now You See Me’ bak trik sulap baru dalam treatment lintas genre yang sangat cerdas di film pertamanya, mungkin akan sedikit kecewa, tapi yang menyukainya secara tak lebih dari sekedar hiburan seru bertabur bintang, sekuel ini memang tampil lebih meriah dari sebelumnya, sekaligus membuka banyak celah pengembangan ke sekuel selanjutnya. The bigger, but not better form of blockbuster franchise. (dan)

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES: OUT OF THE SHADOWS; SAME SEQUEL, DIFFERENT FLAVOR

•June 15, 2016 • Leave a Comment

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES: OUT OF THE SHADOWS

Sutradara: Dave Green

Produksi: Nicklodeon Movies, Platinum Dunes, Gama Entertainment, Mednick Productions, Smithrowe Entertainment, Paramount Pictures, 2016

TMNT 2

            Unless you’re really a hater, jangan bilang ‘Teenage Mutant Ninja Turtles’, ‘TMNT’, ‘Ninja Turtles’ atau apapun sebutannya, adalah sebuah adaptasi sia-sia. Mau berapa kali pun di-reboot, tak peduli adaptasi sebelumnya punya ups and downs, baik dari resepsi  kritikus maupun box office, alasannya tetap kuat. Satunya karena teknologi sinema terus berkembang untuk pendekatan lebih grande, while the bottom line, tentu saja – franchise TMNT sama sekali belum mati. Melalui berbagai generasi, ini masih jadi jagoannya Nicklodeon dari animasi, video games, berbagai toy lines hingga pernak-pernik merchandising lainnya.

            Lalu, di tangan Platinum Dunes-nya Michael Bay yang berdiri di balik adaptasi barunya tahun 2014, perolehan box office-nya jelas punya potensi pengembangan. Merenovasi tampilan Ninja Turtles dan karakter-karakternya menjadi lebih sinematis dengan VFX up-to-date plus Megan Fox sebagai April O’Neil, film arahan Jonathan Liebesman itu bisa diracik menjadi popcorn flicks yang seru dalam mengenalkan kembali asal-usul karakter franchise fenomenalnya ke pemirsa baru, sementara terhadap fans lamanya, a huge trip down their memory lane. Sisanya adalah haters, baik ke Ninja Turtles ataupun Michael Bay, yang memang tak pernah jadi sasaran tembak filmnya. So, why bother?

           Walau diberi sub judul berbeda, skrip yang tetap ditulis Josh Appelbaum dan André Nemec (minus Evan Daugherty) kini membawa storyline-nya sama dengan sekuel adaptasi pertama di tahun 1991, ‘The Secret of the Ooze’ yang jelas dikenal baik oleh fans source aslinya. Namun treatment-nya jelas tak sama. Jika versi lamanya justru menghilangkan karakter Casey Jones, ‘Out of the Shadows’ justru mulai memperkenalkannya untuk dikolaborasikan bersama April dan karakter Vernon ‘Vern’ Fenwick yang absen di adaptasi ’90-an. Lantas ada juga Bebop dan Rocksteady yang atas masalah copyrights terpaksa mengalami penggantian nama di ‘The Secret of the Ooze’, dan tentu saja ‘Krang’ sebagai villain penting yang juga dulunya absen. Plus homage kecil ke rapper Vanilla Ice yang menjadi salah satu jualan terbesar sekuel tahun 1991 itu, ‘Out of the Shadows’ memang menyemat Ooze part dan storyline-nya secara lebih setia terhadap source-nya.

            Setahun setelah menghadapi Shredder (Brian Tee), kura-kura ninja Leonardo (both voiced  & motion captured by Pete Plotzek, bukan lagi Johnny Knoxville di voiceover-nya), Raphael (Alan Ritchson), Michelangelo (Noel Fisher) dan Donatello (Jeremy Howard) mulai jengah terus menyembunyikan identitas mereka di balik jasa besar yang jatuh ke Vern Fernwick (Will Arnett). Ini mau tak mau memunculkan perpecahan di antara mereka. Sementara pemindahan Shredder ke penjara baru diintervensi oleh duo kriminal Bebop (voiced & motion captured by Gary Anthony Williams) dan Rocksteady (Sheamus) dengan bantuan ilmuwan Baxter Stockman (Tyler Perry) yang bekerja di bawah organisasi jahat Foot Clan dan menyiapkan pelarian melalui teleport ke dimensi lain. Petugas polisi Casey Jones (Stephen Amell) pun terpaksa bergabung bersama April dan empat sekawan ini buat mencegahnya, apalagi terbukanya portal ke dimensi baru itu memberi jalan buat alien warlord Krang (voiced & motion captured by Brad Garrett) untuk mengacaukan bumi.

             Dengan penyutradaraan yang beralih pada Dave Green, sutradara videoklip yang tahun lalu baru memulai debutnya lewat sci-fi kecil tapi bagus ‘Earth to Echo’, ‘Out of the Shadows’ memang masih bermain-main di resep dan wilayah yang sama dengan pendahulunya. Bedanya, dengan lebih banyak penambahan karakter, turnover abu-abu/oportunis Fenwick yang diperankan Will Arnett serta layer konflik internal Ninja Turtles termasuk kemunculan villain baru Krang sebagai pendamping Shredder dengan motivasi lain, penceritaannya memang jadi sedikit lebih rumit ketimbang sekedar introduksi asal-usul di film pertama.

          Ada sedikit masalah pada pace-nya di bagian-bagian awal, namun bisa tertutupi oleh tampilan karakter yang cukup remarkable sekaligus membentuk interaksi bagus dalam batasan-batasan popcorn flicks sejauh yang diperlukan. Bersama format baru Ninja Turtles plus guru/ayah mereka Splinter (masih tetap disuarakan oleh Tony Shalhoub / now motion captured by Peter D. Badalamenti), duo mutan kriminal  Bebop & Rocksteady yang dimainkan oleh aktor TV Gary Anthony Williams serta wrestler profesional Sheamus bisa memberi sentuhan komedi komikal yang pas, sementara Stephen Amell, walau tak pernah sebaik Elias Koteas di adaptasi ’90-an-nya, cukup berhasil menokohkan Casey Jones lewat introduksi dan turnover karakternya dengan baik.

          Sebagai April O’Neil, tentu tak ada yang bisa memfokuskan dayatarik Megan Fox selain Bay sebagai produsernya, dan Will Arnett juga dimunculkan lewat proses yang sama dengan character arcs dan development di serial animasi aslinya. Masih ada bonus dari penampilan aktris senior Laura Linney sebagai atasan Casey Jones.

        Namun kekuatan terbesarnya tetaplah ada pada action showcase yang dihadirkan Green bersama Michael Bay. Walau tak pernah jadi full – nonstop boom-bang seperti ‘Transformers’, ada highlight-highlight action scenes dan VFX yang terasa sangat Bay termasuk scoring Steve Jablonsky, terutama di adegan jagoan Brazil plane crash yang menggantikan kehebohan snowboarding action di film pertama, tetap di balik gimmick eye popping 3D yang seru.

          Ini, lagi-lagi memang jadi titik terpenting kemasannya secara keseluruhan. Popcorn superhero flicks yang meriah seperti jargon legendaris ‘Cowabunga’, dan sisanya adalah pilihan untuk menyemat nods lebih setia ke source material-nya. Same sequel, different flavor, a more decent Ooze storyline. Unless you’re really a hater, either to the source or Bay, tak ada alasan untuk tak bisa menikmati sepak terjang para kura-kura ninja ini serenyah seporsi pizza yang lezat dengan topping lengkap. Cowabunga! (dan)

MONEY MONSTER: A HOSTAGE DRAMA WITH SATIRICAL LENS ON TODAY’S MEDIA MORES

•June 8, 2016 • Leave a Comment

MONEY MONSTER

Sutradara: Jodie Foster

Produksi: IM Global, Smoke House Pictures, TriStar Pictures, Sony Classics, 2016

COL_BILL_TEMPLATE_21

            Tak terlalu banyak mungkin film drama atau thriller penyanderaan – apapun latar belakangnya. Di antara yang terbaik ada ‘Dog Day Afternoon’, ‘The Negotiator‘, ‘Inside Man’ – atau yang sedikit lebih punya penekanan emosional; ‘John Q’. ‘Money Monster’ juga ada dalam kotak yang sama, namun statusnya sebagai sebuah film yang disutradarai Jodie Foster – lebih dikenal sebagai award winning actress, memang meletakkannya pada ekspektasi berbeda; karena karya-karya penyutradaraannya, dari ‘Little Man Tate’ ke ‘The Beaver’ memang hampir tak pernah ada di ranah terlalu pop atau komersil. Begitu pula film-film yang digawangi Clooney dan rekannya Grant Heslov.

            Punya elemen yang mirip dengan ‘Inside Man’ yang juga ikut diperankan olehnya, sama-sama berupa thriller penyanderaan dengan latar Wall Street dan tema ekonomi, ‘Money Monster’ jelas punya profil lebih dari dua pemeran utamanya; George Clooney dan Julia Roberts. Bedanya, skrip yang dibesut oleh Alan DiFiore, Jamie Linden dan Jim Kouf; yang terakhir ini adalah penulis kawakan dari banyak blockbuster Hollywood, memang senada ke gaya Foster yang menyorot subjeknya secara lebih mendalam.

          Di sini, selain Wall Street dan bisnis saham, mereka juga menyemat satir tentang manipulasi dan kegilaan media terutama TV sebagai sorotan utamanya. Memuat mashup-nya ke genre yang juga cukup jarang; dua di antara yang terbaik adalah ‘Network‘ dan ‘Broadcast News‘, ini mungkin yang membuat ‘Money Monster’ terasa sedikit berbeda dari yang lain, dan karena itu juga skrip DiFiore, Linden dan Kouf tak perlu terlalu repot memfokuskan latar carut-marut Wall Street dan soal stock trading-nya, tapi cukup dengan layer informasi untuk motivasi penyanderaannya. Fair enough.

            Sebagai pentolan talkshow finansial televisi ‘Money Monster’ yang sudah menjadi acuan banyak pemain saham, Lee Gates (George Clooney) sama sekali tak menyangka bahwa kasus kejatuhan saham IBIS Clear Capital yang merugikan investor hingga ratusan juta dolar AS akan berujung ke sebuah drama penyanderaan. Kyle Budwell (Jack O’Connell), seorang pekerja yang mempertaruhkan seluruh simpanannya terhadap saham tersebut nekat menerobos stasiun televisi dan menyandera Gates dengan rompi peledak. Bersama sutradara acara sekaligus kekasihnya, Patty Fenn (Julia Roberts) dan juru bicara IBIS Diane Lester (Caitriona Balfe) mereka pun mencoba mengulur waktu hingga sebuah konspirasi yang melibatkan banyak pihak pelan-pelan mulai terbuka selama prosesnya.

            Selagi soal stock trading tetap menjadi dasar motivasi para karakternya, sorotan satir yang disemat Foster tentang keadaan sosial ekonomi berikut praktik media sekarang memang membuat ‘Money Monster’ tampil sedikit beda di tengah sajian thriller penyanderaan yang tertata cukup baik. Detil kontennya tak pernah mencapai apa yang kita lihat dalam ‘Network‘ atau ‘Broadcast News‘, tapi sorotan satirikalnya bisa dibilang kuat. Sebagai fokusnya, Clooney dan Roberts jelas bermain baik walaupun chemistry mereka ke subplot soal hubungan Gates dan Fenn kerap hanya terasa tampil tak lebih dari gimmick.

        Namun yang benar-benar mencuri perhatian di tengah keduanya adalah Jack O’Connell, aktor muda Inggris yang sedang naik daun lewat action ‘71’ dan ‘Unbroken’-nya Angelina Jolie tahun lalu. Ada dukungan bagus juga dari Caitriona Balfe serta Giancarlo Esposito dan Dominic West sebagai karakter yang seperti biasanya, hampir selalu diserahi porsi antagonis di film-filmnya.

            Begitupun, benar juga bahwa ke manapun larinya, film-film senada soal penyanderaan yang kebanyakan dibangun lewat motif ekonomi memang hanya punya dua pilihan ending di tengah ironi-ironi yang ditampilkan. Walau penggabungan elemen-elemen tadi bisa dirangkum skripnya dengan keseimbangan cukup, ‘Money Monster’ melupakan satu hal soal bangunan emosi yang tak bisa benar-benar memuncak dalam proses penceritaan dan penyampaian ironinya di ending yang agak sedikit terburu-buru. Ia memang membuka mata lewat informasi-informasi yang ada, a hostage drama with Jodie Foster’s satirical lens on today’s media mores, namun belum cukup untuk membuatnya tampil sebagai yang terbaik di genre-nya. (dan)

MY STUPID BOSS: SEBUAH KECERMATAN MEMBACA PASAR

•June 2, 2016 • Leave a Comment

MY STUPID BOSS

Sutradara: Upi

Produksi: Falcon Pictures, 2016

My Stupid Boss

            Sosmed memang melahirkan banyak sekali fenomena. Dari novel ke film, ‘My Stupid Boss’ yang ditulis oleh Chaos@work ini pun begitu. Berisi kumpulan kisah seperti curhat pekerja terhadap bos-nya yang dirangkum ke dalam buku yang sudah mencapai seri ke-5, ini sudah menjadi brand kuat sebagai komoditas jualan. Kini berpindah ke layar lebar, skrip dan penyutradaraannya dipegang oleh Upi yang sudah menghasilkan film-film dari ’30 Hari Mencari Cinta’, ‘Realita Cinta dan Rock N Roll’, ‘Serigala Terakhir’ hingga ‘Belenggu’ dan segmen terakhir di ‘Princess, Bajak Laut dan Alien’.

            Sama dengan pengalaman penulisnya  yang menjadi inspirasi tweet-tweet yang dituangkan ke dalam buku tadi, ‘My Stupid Boss’ mengisahkan Diana (Bunga Citra Lestari) yang tinggal di KL bersama suaminya Dika (Alex Abbad), seorang karyawan di sana. Mencari kesibukan, Diana pun melamar ke perusahaan milik teman kuliah Dika, sosok absurd yang dipanggil dengan nama Bossman (Reza Rahadian). Bukannya senang, dengan prinsip ‘Impossible we do, Miracle we try’ yang dipegang Bossman selalu menempatkan pekerjanya bete luarbiasa bersama ulahnya yang aneh-aneh.

            Sama seperti ‘AADC 2’, saat film Indonesia berjibaku dengan jumlah penonton yang seringnya makin menipis, ‘My Stupid Boss’ adalah kecermatan membaca pasar. Jumlah besar persentase pekerja kantoran di masyarakat kita – bahkan Asia yang juga jadi sasaran pasarnya – Malaysia, Brunei dan Singapura, yang rata-rata punya masalah yang sama jelas merupakan pasar cukup besar sehingga dari hanya segelintir yang bisa, filmnya bisa sukses mencapai perolehan 2 juta penonton lebih dalam masa tayang 2 minggu dan masih terus bertahan. Mungkin, para pekerja itu butuh pelepasan yang bisa sangat related ke mereka, menertawakan atasannya, bahkan mungkin – diri mereka sendiri.

            Tapi kekuatan terbesar selain itu memang ada pada fisik Reza Rahadian yang dipermak menyamai Colin Farrell dalam ‘Horrible Bosses’ sekaligus reuninya bersama BCL dari ‘Habibie & Ainun‘. Meski lagi-lagi pendekatan memirip-miripkan fisik (walaupun berbeda dari segi peran) ini tak sepenuhnya etis, Reza (lagi-lagi membuktikan kualitas keaktorannya dengan gemilang) dan BCL begitu sukses membawakan peran mereka bersama pendukung jempolan dari negara tetangga; Bront Palarae, Iskandar Zulkarnain, Atikah Suhaime dan mostly, Chew Kin Wah sebagai Mr. Kho dengan comedic signature poker face dan suffering jokes yang nuansa komedi Asia-nya sangat kental.

       Di tangan mereka, komedi sketsa yang tampil menyerupai bukunya, yang sebenarnya tak punya skrip kuat karena selain logika-logika kecil namun penting yang terabaikan dari bentukan karakter Dika yang diperankan Alex Abbad, formula komedi repetitif di pola aksi dan reaksi yang sama terus menerus terlebih ke motivasi ending inspiratif yang datang entah dari mana, bisa tertutupi dengan kelucuan yang ada. Amunisi utamanya sebenarnya sudah habis dalam tak lebih dari 30 menit masa putarnya, tapi chemistry serta umpan-umpan komedi itu bisa dimainkan dengan baik oleh semua pendukungnya.

            Berikutnya, kekuatan lain ‘My Stupid Boss’ juga ada di tampilan keseluruhannya. Mengikuti pakem film-film produksi Falcon yang hampir selalu punya production values yang sangat bisa dipertanggungjawabkan secara sinematis – juga tak main-main soal promosi, walau apa yang ada di ‘My Stupid Boss‘ ini sebenarnya terkesan tak kreatif seperti pendekatan Upi di film-film dia sebelumnya. Di ‘Realita’ misalnya, ia menyadur gaya Gus Van Sant terutama dalam ‘My Own Private Idaho’ dan ‘Even Cowgirls Get the Blues’ – juga dalam membahas beberapa elemen yang senada pula. Dalam ‘Serigala Terakhir’, ada pengaruh dari gangster action ChinaMonga’ yang sangat terasa berikut glimpse ke ‘City of God’ di penutupnya. Di ‘Belenggu’ – ia membuat pendekatan ala David Lynch dari ‘Twin Peaks‘, ‘Lost Highway‘ ke ‘Mulholland Drive‘ serta sedikit pakem di genre nunsploitation; dan Wes Anderson di segmennya dalam ‘Princess, Bajak Laut dan Alien’ dari tone, tata artistik ke simetrisasi ala Wes yang sejenis.

          Entah ingin dikenal sebagai sutradara dengan signature copycat atau sekedar memancing perdebatan, Upi kali ini tak segan-segan menyadur konsep dan atmosfer film Perancis ‘Amelie’-nya Jean-Pierre Jeunet dari sinematografi Muhammad Firdaus, set dan artistik Ade Gimbal, kostum dan tata rias yang didominasi hijau merah termasuk tampilan gaya rambut BCL hingga ke alunan score besutan Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang biar tak mencomot komposisi tapi dipaksa muncul dengan ambience sangat mirip hingga ke pemilihan penggunaan akordion ala Yann Tiersen di film itu.

             Di satu sisi, semua ini bisa menampilkan atmosfer eye-catching yang selain tak biasa juga memberi batas-batas terhadap absurditas penceritaan serta komedinya, namun di lain sisi, ini benar-benar terasa tak kreatif mengingat source inspirasi yang diambil Upi pun bukanlah film obscure yang luput disaksikan banyak orang. Though however, sebagai sebuah hiburan, ‘My Stupid Boss’ memang berhasil tampil cukup meriah dan bisa membuat pemirsanya tertawa serta related ke subjeknya. Satu lagi yang terpenting, ia memang sudah membidik sasaran pasarnya dengan tepat. Suka atau tidak, ini sudah menjadi fenomena spesial, bahwa dalam kondisi industri film kita yang naik turun dan sangat susah diprediksi, ‘My Stupid Boss’ dalam konklusi terdalamnya – adalah sebuah kecermatan membaca pasar. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,421 other followers