BANGKIT! : A VALIANT EFFORT OVER DISJOINTED STORYTELLING AND SUBSTANDARD CGI

•July 29, 2016 • 1 Comment

BANGKIT!

Sutradara: Rako Prijanto

Produksi: Suryanation, Kaninga Pictures, Oreima Pictures, 2016

bangkit

            Genre disaster memang masih jarang-jarang ada dalam sinema kita. Kalaupun ada, pendekatannya masih hanya berupa latar atau justru lebih ke paparan dokumentasi kejadian nyata yang direkonstruksi ke film tanpa elemen-elemen yang terlalu fiktif. Dari banyak subgenre latar bencananya – dari bencana alam ke traffic/transport accident, tercatat di antaranya ada ‘Kabut di Kintamani‘ (1972),  ‘Krakatau’ (1977), ‘Operasi Tinombala’ (1977), ‘Tragedi Lembah Sinila’ (1979) dan ‘Tragedi Bintaro’ (1989). Ada pula yang menyorotnya lebih ke fantasi mistis  seperti ‘Jin Galunggung‘ (1982).

           Namun dalam pendekatan ke blockbuster pop – fiktif Hollywood ala film-film Roland Emmerich seperti ‘The Day After Tomorrow’, ‘2012’ ataupun film-film semacam ‘San Andreas’, ‘Bangkit!’ agaknya jadi yang pertama. Walau memang didukung sebuah company buat menyampaikan ide campaign yang diusung produk mereka, ini usaha yang sangat mengundang perhatian sekaligus terasa luarbiasa ambisius karena di tengah keterbatasan produksi soal standard bujet dan SDM kita, genre ini jelas bermain banyak di efek visual.

            Pertemuan dua fenomena iklim yang mengakibatkan bencana banjir yang beresiko menenggelamkan Jakarta mempertemukan petugas Basarnas Addri (Vino G. Bastian) yang tengah berjuang menyelamatkan keluarganya (Putri Ayudya, Andryan Bima & Yasamin Jasem) dengan Arifin (Deva Mahenra), analis BMKG yang batal menikah dengan kekasihnya, dokter Denanda (Acha Septriasa) akibat kejadian itu. Sambil berusaha menyelamatkan diri, mereka pun berusaha mencari jalan keluar di balik keberadaan rahasia sebuah terowongan Belanda yang hanya letaknya hanya diketahui oleh Profesor Pongky (Yayu A.W. Unru), pasien yang selama ini dirawat Denanda.

            Lewat plot yang dipilih, Anggoro Saronto yang menulis skripnya sebenarnya sudah melakukan PR-nya sesuai dengan koridor tipikal film-film yang menjadi inspirasi mendasarnya. Penelusuran multikarakter dalam usaha survival di tengah bencana itu memang terdengar sangat Hollywood, namun dibarengi drama soal interaksi keluarga hingga isu sosial lain serta sorotan profesi tokohnya tetap membuatnya terasa ikut dibalut dengan muatan lokal yang kuat.

            Dan tak ada yang salah juga dengan hal-hal yang dikenal secara filmis sebagai ‘suspension of disbelief’ dalam plot sejenis yang meninggalkan logika menempatkan tokoh-tokohnya sebagai sorotan utama di tengah kebetulan-kebetulan dalam memilih siapa selamat maupun tidak. Paling tidak dalam pakem film-film tadi, kita tahu bahwa satu-dua keluarga karakter utama yang paling disorot selalu punya cara buat menyelamatkan diri.

         Sayangnya, skrip Anggoro serta penyutradaraan Rako tak cermat menggarap kesinambungan kisahnya. Storytelling-nya melompat-lompat jumpalitan seperti jahitan tanpa kontinuitas, seperti cut yang menghilangkan satu scene di tengah-tengah dua yang tampil, dan masih disertai beberapa bloopers – seperti soal jarum suntik dalam prosedur pembersihan luka dengan spuit yang lupa dicabut jarum bahkan penutupnya, begitu juga dengan gambaran impact yang banyak mencuatkan banyak pertanyaan dalam logika-logika faktual yang bukan hanya bisa disadari pekerja-pekerja BMKG atau profesi lain yang ditampilkan. Dalam lingkup keparahan bencana yang dipaparkan, misalnya, kita masih berkali-kali melihat safe spots yang berpotensi sangat mengganggu bangunan suspense-nya, dan masih ada juga penggampangan serta kebetulan lain yang terasa kelewat melecehkan logika ketimbang masih bisa diterima sebagai ‘suspension of disbelief‘ tadi.

            Sudah begitu, penggunaan efek visual dalam usaha ambisius itu pun sayangnya gagal menyamai standar sinematis yang sudah dicapai film-film luar bahkan Asia sampai film-film dari negara tetangga terdekat kita sekali pun. Benar ia bisajadi lebih dari film-film kita yang lain dengan effort yang jelas terlihat, tapi entah karena keterbatasan waktu walau bujetnya terasa cukup mahal melebihi standar rata-rata film kita yang mesti disesuaikan dengan bidikan angka penontonnya, padahal sudah menggamit tenaga luar dari Thailand, Watcharachai Paniksuk, buat bekerja bersama VFX artist kita Raiyan Laksamana, latar CGI yang tak benar-benar menyatu dengan set aslinya jelas kelihatan di banyak adegan. Ketimbang memilih cara untuk menutupi agar VFX frame-nya tak terlalu banyak lewat celah penceritaan, mereka justru memilih ketidaksempurnaan ini buat mendominasi daya jualnya tanpa memperhitungkan respon yang akan muncul dari penonton kritis atau yang punya reference lebih.

              Begitupun, ’Bangkit!’ bukan lantas benar-benar jatuh menjadi banyak genre efforts yang gagal total di film-film kita seperti ‘Dunia Lain: The Movie‘, ‘Glitch‘ ataupun ‘Garuda Superhero‘. Ini masih jauh sekali berada di atas film-film itu. Di atas faktor teknis dan elemen lain yang masih tergarap baik seperti tata suara dari Khikmawan Santosa serta scoring Aghi Narottama yang mengadopsi scoring-scoring khas genre-nya dengan baik plus lagu tema anthemic dari Nidji, ‘Bangkit!’ masih punya faktor ansambel akting yang baik berikut fans service kuat dari para pendukungnya terutama Vino, Acha, Putri dan Deva sebagai cast utamanya.

          Dua pemeran cilik-nya, terutama Andryan Bima yang diserahi klimaks penuh emosi bersama Vino pun tampil baik, dan masih ada nama-nama pendukung lain seperti Donny Damara, Ferry Salim, Khiva Iskak, Ade Firman Hakim hingga Yayu Unru. Bersama beberapa usaha pendekatan pop yang masih bisa bekerja buat suspense dan emosinya – dari drama keluarga ke sematan romansa, terutama ke kalangan penonton awam yang memang tak mau repot mempedulikan detil-detil sinematis lain, ini paling tidak masih bisa menyelamatkan ‘Bangkit!’ sebagai sebuah effort yang tetap mesti dihargai serta didukung lebih.

         So yes, it had serious issues of disjointed storytelling over substandard CGI, namun setidaknya, mereka mau mencoba – dan ini yang terpenting, membuka jalan untuk keberanian sineas kita melangkah ke genre-genre berbeda. Jika memang ini bisa menjadi sebuah awal seperti tagline-nya yang cukup menohok – Karena Menyerah Bukan Pilihan, juga hashtag #bangkitfilmindonesia -nya, bolehlah. Quite a valiant effort in our rare disaster genre. (dan)

THE LEGEND OF TARZAN: A WEIRD YET THE TRUEST ADAPTATION TO DATE

•July 20, 2016 • 2 Comments

THE LEGEND OF TARZAN

Sutradara: David Yates

Produksi: Village Roadshow Pictures, Jerry Weintraub Productions, Riche/Ludwig Productions, Beaglepug Productions, RatPac Entertainment, 2016

The Legend of Tarzan

            Semua pasti tahu atau at least pernah mendengar soal Tarzan. Tapi coba tanya generasi sekarang. Sudah berapa film adaptasi tokoh rekaan Edgar Rice Burroughs (dipublikasi pertama kali tahun 1912 – majalah, 1914 – buku) yang mereka tonton dari puluhan jumlah yang ada sejak yang pertama di tahun 1918. Dua yang selalu muncul paling ‘Tarzan’ –nya Walt Disney (1997) atau malah porn version-nya – ‘Tarzan X’ yang sangat populer di sini.

             Hanya sebagian mungkin yang masih mengingat film series terbanyaknya yang diperankan oleh Johnny Weissmuller dan dulu populer sekali di bioskop-bioskop kita dari era ‘70 ke awal ‘80an, meski aslinya dirilis jauh sebelum itu. Atau versi Bo Derek ‘Tarzan the Ape Man‘ yang sempat dihebohkan juga di tahun 1981, atau yang jauh lebih serius – ‘Greystoke’-nya Christopher Lambert, apalagi versi lokal yang diperankan Barry Prima. So, meski jauh lebih well known, ini jatuhnya lebih ke character franchise yang kalau tak mau dibilang usang – tapi sudah ada di rentang terlalu jauh ke generasi sekarang, dalam kotak yang sama dengan katakanlah, ‘The Lone Ranger’, ‘John Carter’ atau ‘Flash Gordon’.

            Versi terbaru setelah adaptasi animasinya tahun 2014 yang disuarakan Kellan Lutz dan berlalu begitu saja kini datang dari David Yates yang dikenal luas sejak kiprahnya di ‘Harry Potter’ sejak ‘The Order of the Phoenix’ hingga instalmen terakhir termasuk spinoffFantastic Beasts’ yang akan datang. Legenda origin-nya yang punya elemen Inggris sangat kental memang agaknya lebih pantas dibesut oleh sutradara Inggris ketimbang Amerika. Dan seperti biasa, di mana karakter Jane seringkali justru lebih dijual ketimbang Tarzan karena rata-rata harus menonjolkan exquisite sexiness bersama karakter anak hutan bak superhero dengan sebutan raja rimba atau ‘King of the Apes’ ini, faktor Margot Robbie agaknya lebih menarik ketimbang Alexander Skarsgård yang didapuk menjadi Tarzan mengalahkan perenang Michael Phelps, Henry Cavill, Charlie Hunnam hingga Tom Hardy.

            Didahului serangkaian latar sejarah Berlin Conference yang membuat kekuasaan di Kongo terpecah, Kerajaan Belgia yang berada di ambang kebangkrutan lantas mengirim Leon Rom (Christoph Waltz) mencari permata legenda Opar ke sana (fabled diamonds of Opar ini memang beberapa kali dimunculkan dalam buku dan beberapa adaptasi Tarzan). Permata itu ternyata bukan tahayul, namun dikuasai oleh pemimpin suku Chief Mbonga (Djimon Hounsou) yang menawarkan pertukaran dengan Tarzan atas sebuah dendam lamanya. Padahal, Tarzan tak lagi berada di rimba Afrika setelah identitas aslinya sebagai John Clayton II a.k.a. Lord Greystoke sudah membawanya bersama Jane, menikah dan kembali ke kehidupan aristokrat Inggris. Bertepatan dengan itu, melalui PM Inggris (Jim Broadbent), tokoh pejuang politik George Washington Williams (Samuel L. Jackson – diambil dari real life character bernama sama) meminta Tarzan mengunjungi Kongo buat menjadi saksi pelaporan kasus perbudakan yang dilakukan oleh Belgia. Maka petualangan baru Tarzan pun dimulai di balik kesepakatan jahat Rom dan Mbonga.

            Meski karakternya merupakan tokoh fiktif rekaan Burroughs, plot kisah-kisah petualangan Tarzan memang bukan baru sekali ini menggabungkan elemen historis dalam bangunannya. Apa yang dilakukan David Yates dan produser Jerry Weintraub lewat skrip yang ditulis oleh Adam Cozad dan Craig Brewer sebagai pembuka jalan ke reboot barunya sebenarnya cukup unik. Mereka menolak untuk kembali mengulang origin story Tarzan yang kerap kita saksikan di sejumlah film adaptasinya, tapi tak lantas menghilangkannya sama sekali. Bagian-bagian cerita yang sudah diketahui banyak orang ke elemen-elemen wajib perkenalan Tarzan dan Jane dengan dialog legendaris ‘Me Tarzan, You Jane’ itu mereka jadikan sebagai layer terdasar yang tak serupa dalam back and forth storytelling-nya.

        Di satu sisi, ini memang resiko bagi pemirsa baru yang bisa jadi merasa penceritaannya berjalan agak aneh, apalagi kalau Anda sempat membaca beberapa berita di mana Yates memasukkan elemen-elemen ‘nakal’ ke dalamnya, yang untungnya urung digunakan di final version-nya. Namun di sisi lain, ini juga merupakan keputusan cukup cerdas ketimbang kembali lagi ke hal yang itu ke itu saja. Menggabungkan banyak elemen-elemen dari film-film adaptasi yang sudah ada, plus homage-homage yang entah disengaja atau tidak ke gaya flashback dan beberapa action lawas Sergio Leone, versi Yates jadi seolah sekuel ke ‘Greystoke’ tahun 1984 yang lebih banyak membahas culture clash Tarzan yang kembali ke kehidupannya sebagai bangsawan Inggris, dan ada sensitivitas lebih ala Yates yang sangat terasa di tiap sentuhan penceritaan itu.

          Dan di sana pula, Cozad dan Brewer jadi leluasa untuk menyemat elemen historikalnya buat membangun versi update karakternya secara humanis seperti yang tengah jadi trend sekarang. Meski tetap menempatkan Tarzan sebagai hero yang lebih dari orang biasa, ia bukan lagi superhero komik yang dibesarkan kawanan kera hingga bisa berkomunikasi verbal dengan hewan-hewan penghuni hutan, tapi lebih ke komunikasi telepati yang lebih wajar seperti seorang pawang. Ada batasan-batasan intelegensia manusia, hewan sekaligus alam yang digagas dengan rapi ke dalam faktor-faktor kewajaran logika yang sangat terjaga hingga klimaksnya, termasuk ke motivasi seru pertarungan Tarzan dengan saudara-saudara kera-nya dalam hukum rimba berikut pilihannya menghadapi suku pedalaman Mbonga.

             Begitupun, bukan berarti Yates melupakan sisi action-nya. Dari banyak adaptasi Tarzan setelah era Johnny Weissmuller, ‘The Legend of Tarzan’ justru jadi salah satu yang paling setia ke old skool pattern-nya tanpa harus terus bermodalkan teriakan legendarisnya. Might be a flaw to some, tapi yang lebih penting, bahwa Tarzan bukan hanya sekedar berperang dengan musuhnya yang rata-rata perusak alam dan lingkungannya dengan ayunan-ayunan mautnya dari pohon ke pohon yang di sini ditampilkan jauh lebih seru dengan sentuhan VFX dan koreo yang juga up to date meski sebagiannya terasa kelewat singkat, tapi animal raid scenes yang padat, from river to land – menampilkan berbagai jenis hewan secara tidak klise ala film-film biasanya pun, muncul dengan solid di sini.

         Karakter-karakternya pun dibangun dengan taktis. Ada humor-humor ala buddy movie yang bisa jadi terasa sedikit aneh antara Tarzan dan G.W. Williams meski chemistry-nya bagus, some works and some not, tapi Jane tak mereka tinggalkan sebagai damsels in distress di tangan Margot Robbie yang selalu bisa memadukan kecantikan – keseksian dengan dominasi feminisme yang kuat. Lihat adegannya diserang kuda nil yang lebih sering digambarkan jinak di film-film lain sebagai salah satu highlight-nya.

          Christoph Waltz sebagai villain dibiarkan berada dalam garis kontras bersama Djimon Hounsou – antara komikal seperti penampilannya yang biasa dengan Mbonga yang lebih humanis lewat motivasi karakternya, namun menyemat gambaran dilematis Tarzan secara psikologis yang sadar betul dirinya dijadikan eksploitasi sebagai manusia rimba bahkan dijual ke dalam bentuk komik – bukan buat berkomedi ria – that’s a really smart one. Di situ, sosoknya jadi terasa begitu humanis untuk memulai sebuah franchise baru Tarzan yang up to date ke trend sekarang. Dan Skarsgård memang melakonkannya dengan baik, termasuk membangun chemistry bagus ke Robbie menuju romance conclusion dari penggalan-penggalan flashback-nya di adegan penutup yang sayangnya di sini dibabat lembaga sensor kita tanpa kira-kira.

        Selebihnya, ‘The Legend of Tarzan’ masih punya sinematografi jempolan dari Henry Braham bersama gimmick 3D yang baru ini muncul dalam adaptasi live action-nya dan scoring bagus dari Rupert Gregson-Williams. So, ini memang kembali lagi ke soal-soal reference dari sebuah franchise dengan instalmen ratusan bahkan epigon lebih banyak lagiyang memang punya rentang kelewat jauh dari generasi dulu ke generasi sekarang. Para pemirsa yang sudah lebih banyak menikmati berbagai variasi adaptasi atau lebih mendalami source material-nya memang akan lebih bisa merasakan effort baru dalam segala elemen dari penceritaan ke gelaran aksi yang ada ketimbang yang seumur hidupnya baru menyaksikan dua atau tiga instalmen Tarzan tanpa sederet classic series Johnny Weissmullerno, it’s not Disney’s – yang jadi signature terkuat franchise-nya.

          Dan oh ya, pemilihan awal Michael Phelps-pun, memang digagas produser Jerry Weintraub yang tak punya hubungan dengan produser Sy Weintraub dari film-film Tarzan Weissmuller, yang juga seorang atlit renang, untuk menyamai trivia ini. So, ini jelas bukan sebuah adaptasi atau reboot Tarzan yang gagal, if you think so. Fun, seru tanpa meninggalkan romantic glimpse antara Tarzan – Jane yang jadi racikan wajibnya, it might felt a little bit weird at some parts, but also the truest adaptation to date. (dan)

SABTU BERSAMA BAPAK: A MISGUIDED ESSENCE OF A POTENTIAL FAMILY DRAMA

•July 16, 2016 • 2 Comments

SABTU BERSAMA BAPAK

Sutradara: Monty Tiwa

Produksi: Max Pictures, Falcon Pictures, 2016

SBB

INT. RUANG TAMU (MASA KINI) – DAY

CAKRA duduk di tengah-tengah SATYA dan ibu mereka, ITJE, menunggu gambar keluar dari layar. Rasa berdebar-debar bercampur kangen, bukan saja karena ini pertama kalinya sejak waktu cukup lama mereka melihat rekaman di layar televisi, tapi juga karena mereka akan kembali melihat Bapak.

Gambar muncul di layar.

INTERCUT:

INT. RUANG TAMU (MASA LALU) – DAY

Tempat sama di mana mereka kini duduk, tapi dulu. Tanggal di sudut menunjukkan tanggal rekaman. “27 Desember 1991”. Sosok yang tidak asing bagi mereka muncul. GUNAWAN. Bapak bagi Cakra dan Satya. Kakang bagi Itje. Gunawan mengenakan setelan jas lengkap, menatap ke kamera sambil tersenyum lebar.

GUNAWAN

Hai Satya ! Hai Cakra !

Satya dan Cakra bagai kembali menjadi anak kecil mendengar ucapan itu. Ucapan sama yang dulu mengawali tiap Sabtu mereka.

SATYA & CAKRA

Bapak…

GUNAWAN

Kalian sedang melihat rekaman bapak paling terakhir. Tapi sebenarnya ini adalah pesan yang paling pertama bapak rekam. Bapak lakukan ini agar karena di hari yang spesial ini, bapak ingin kalian lihat bapak saat masih dalam kondisi sehat.

Gunawan muda menengok ke ruang sebelah, menanti seseorang datang, lalu berkata lagi ke kamera.

GUNAWAN

Satya, Cakra, hari pernikahan adalah hari paling penting dalam hidup. Hari pertama dari sisa hidup kalian menjadi kepala rumah tangga. Menjadi imam pasangan kalian. Kalian harus kuat. Tidak boleh lemah, ya…

Sosok Itje muda muncul. Ia juga mengenakan gaun yang amat indah.

ITJE

Kang, gagah dan senang sekali kamu hari ini.

Gunawan berdiri dan menggamit tangan Itje dan tersenyum. Mata Itje tampak berkaca-kaca.

Gunawan menekan tombol tape deck di belakangnya. ‘LAGU CINTA’ oleh Iwan Fals melantun. Gunawan membawa Itje melantai, berdansa pelan sambil berpelukan dengan sangat erat.

GUNAWAN

Kamu tahu kenapa saya begitu senang ? Karena hari ini saya berbahagia. Saya mengantar anak kita ke pelaminan.

Satya, Cakra dan Itje menatap rekaman dengan mata berkaca-kaca. Rindu yang tadi menggumpal tumpah di air mata mereka.

Gunawan dan Itje muda berdansa sampai lagu selesai. Gunawan muda mencium tangan Itje dan kembali duduk lantas berkata ke kamera.

GUNAWAN

Ibu kalian, wanita yang paling cantik di hadapan bapak. Kalian sayang ibu kalian, kalian juga harus sama sayangnya sama istri kalian, ya.

Gunawan menatap ke kamera sambil tersenyum lama.

GUNAWAN

Hari ini, bapak hadir untuk mengantar kalian ke pelaminan. Walau sudah tiada,bapak selalu ada.

Gunawan berdiri sambil mematikan kamera.

Kerongkongan Cakra tercekat. Air matanya mengalir pelan. Di kiri dan kanannya, ada Satya dan Itje yang menggenggam kedua tangannya. Erat.

CUT TO :

            Okay. Itu hanya sekedar berandai-andai, ke adegan yang seharusnya menjadi konklusi terdalam dari adaptasi novel ’Sabtu Bersama Bapak’ karya Adhitya Mulia, penulis yang popularitasnya cukup besar di kalangan sosmed, yang diangkat ke film oleh sutradara Monty Tiwa. Adaptasi novel memang masih jadi komoditas nomor satu dalam film kita. Apalagi, yang menjual kesedihan di balik tema-tema penderitaan akibat penyakit. Sebagai novel berstatus best seller yang sebenarnya berdiri di atas elemen itu, ‘Sabtu Bersama Bapak’ sebenarnya bisa sedikit menutupi eksploitasi soal tadi lewat sebuah pendekatan interaksi keluarga yang menyentuh. Itu juga yang membuat adaptasi filmnya cukup ditunggu-tunggu setelah deretan pemerannya yang memuat nama-nama terkenal diumumkan, bersama nama Monty yang punya kredibilitas cukup baik di film kita. Seringkali miss saat duduk menjadi sutradara, tapi sebagai penulis skrip, dalam memuat ide-ide witty atau kritik sosial, ia jempolan.

            Mengetahui bahwa dirinya berada dalam kondisi terminal akibat kanker yang dideritanya dengan vonis hanya setahun, Gunawan (Abimana Aryasatya) memilih menyerah namun menyiapkan pendidikan ke anak-anaknya lewat video yang ia buat untuk diputar setiap Sabtu. Berpegang pada nasehat-nasehat itu, kehidupan Itje (Ira Wibowo), istri berikut kedua putranya pun berlanjut hingga Satya (Arifin Putra) sudah membina rumahtangga dengan Rissa (Acha Septriasa) dan berdomisili di Perancis, sementara Cakra (Deva Mahendra) masih sibuk mencari tambatan hatinya pada sosok karyawan baru di kantornya, Ayu (Sheila Dara Aisha). Namun muncul lagi masalah baru kala Itje kembali didiagnosis dengan tumor yang beresiko merenggut nyawanya.

            Plot itu memang klise a la banyak film kita; didasari hal-hal tak kalah klise soal sudah jatuh tertimpa tangga dan masih ditimpa musibah lain lagi. Tapi meminjam elemen dari film luar ‘My Life’ (Bruce Joel Rubin, 1991 – dibintangi Michael Keaton dan Nicole Kidman) soal bapak di ambang kematian yang menyiapkan video bagi anak-anaknya berikut subplot soal keluarga, Adhitya yang menulis skripnya bersama Monty mungkin berusaha untuk menutupi klise-klise tadi, juga terhadap kewajaran dan motivasi karakter yang beresiko untuk dipertanyakan; ke harga kaset video 8 untuk model handycam di tahun itu terhadap pilihan berobat, misalnya. Di satu sisi, tetap ada potensi kuat yang membuatnya jadi terasa beda. Menyampingkan layer yang sangat digandrungi sineas kita terhadap elemen-elemen medis tadi buat hanya tampil sebagai latar terhadap grand idea soal banyak aspek dalam inter-relasi keluarga yang kaya, sayangnya, ‘Sabtu Bersama Bapak’ tak lantas bisa jadi maksimal karena lagi-lagi diwarnai salah kaprah informasi yang jadi salah satu kelemahan terbesar penulis-penulis kita.

          Selain pada dasarnya tak bisa membedakan kanker dengan tumor dalam penelusuran utama plotnya, berikut tampilan Hengky Solaiman sebagai dokter yang seakan memvonis diagnosis pasien dengan sugesti penuh ancaman, ada hal yang sangat fatal soal diagnosis kanker lewat surat kiriman dari yayasan terkait – bukan dokter lewat pemeriksaan pendukung, yang sangat mengganggu serta menyalahi etik bagi pemirsa yang paham. Ini menjadi flaws yang banyak sekali mendasari film kita dalam soal penyematan informasi umum yang akhirnya ikut membuat persepsi pemirsanya terhadap hal-hal yang menyangkut keahlian jadi salah kaprah – satu yang harusnya bisa dihindari dalam konten-konten sejenis, walau mungkin alasannya menghindari klise-klise aspek adegan dokter menginformasikan diagnosis pada pasiennya.

              Dan bukan hanya itu, secara visual; ‘Sabtu Bersama Bapak’ masih terasa agak mengganggu dari beberapa tone warna, tampilan gambar terutama penggunaan teknik lens flare di penyampaian flashbacks-nya yang sebenarnya tak lazim, mendistraksi sinematografi Rollie Markiano dan tak diperlukan dalam menambah bangunan emosinya, yang memang tak digagas Adhitya dan Monty sebagai penulisnya dengan kepekaan lebih seperti penggagas yang benar-benar mencintai source material-nya sepenuh hati. Instead, mereka cukup membiarkan saja aspek-aspek adaptasi filmisnya berjalan sebagaimana adanya bahkan sibuk menambah konflik dan subplot tanpa mencoba lebih memberi kesan dan penekanan esensi dalam tatanan emosi yang harusnya tampil paling depan dalam tema-tema sejenis. Belum lagi scoring Andhika Triyadi yang terasa kelewat stirring untuk menggiring kesedihan penonton di elemen-elemen drama yang sebenarnya terkesampingkan dari sematan komedinya.

             Di sini, justru elemen komedi-nya lah yang justru sangat berhasil, seperti signature Monty yang memang kuat buat menyentil kelucuan dalam karya-karyanya. Bukan berarti Abimana Aryasatya dan Ira Wibowo tak bermain kuat sebagai Gunawan dan Itje di tengah perbedaan usia dan balutan tata rias yang cukup detil dari Rinie May buat meng-handle resiko itu. Acha Septriasa malah tampil paling menonjol – all out dan tak sekalipun overacting men-tackle emosinya walaupun kerap kali tak mendapat interaksi sebanding dari Arifin Putra. Lihat salah satu adegan dramatis yang paling bekerja saat Rissa menelefon Itje yang tengah berjuang dengan penyakitnya untuk mengadukan masalahnya dengan Satya. At least, chemistry mereka masih cukup believable, dan masih ada tata artistik yang niat dari Angga ‘Bochel’ Prasetyo namun memang tenggelam oleh elemen-elemen komedi dari subplot Cakra yang diperankan Deva Mahenra bersama pendatang baru Sheila Dara Aisha yang bisa begitu mencuri perhatian.

            Inilah yang menjadi highlight terbaik untuk menutupi banyaknya kekurangan tadi, termasuk para pemeran ciliknya yang kaku, bahwa Deva – memainkan Cakra sesantai dan sekocak penampilannya di sitcom sebuah TV swasta kita, bermain lepas membangun kelucuan bersama dukungan Ernest PrakasaJenny Arnelita plus Sheila bahkan komedian Mongol yang tampil di salah satu momen komedi terbaik dengan timing pas yang meledakkan tawa. Namun lagi, ini sebenarnya adalah bumerang, dimana sematan komedinya justru jadi elemen terdepan yang menenggelamkan sisi drama yang jadi inti cerita hingga plot utamanya soal Bapak dan keluarga. Masih ada yang bisa menyentuh, namun tak pernah terasa dibesut benar-benar maksimal dengan lebih banyak miss ketimbang hit.

            Walaupun ini jadi bagian terbaiknya untuk bisa nyaman dinikmati buat menutupi aspek-aspek disease/suffering porn berbalut banyak kesalahan informasi tadi, rasanya salah juga kalau sasarannya justru berpaling ke komedi. Judulnya ‘Sabtu Bersama Bapak’. Plot-nya maunya menyentuh dan mengingatkan kita tentang sosok Bapak serta hubungan-hubungan intern antar keluarga secara dramatis. Hashtag promo-nya pun #RinduAyah. But like a misguided essence of a potential family drama, kala kita melangkah ke luar bioskop setelah bangunan emosi yang gagal memuncak bahkan berlalu begitu saja di konklusi klimaksnya, yang lebih menempel di benak kita justru banyolan Cakra dan rekan-rekan kantornya; Firman dan Wati (Ernest dan Jennifer) yang berduet luarbiasa kocak – bahkan Mongol, lebih daripada Bapak. Jatuh lagi-lagi menjadi film dengan penggarapan tak maksimal yang harus diselamatkan oleh performa ensemble cast dan elemen lucu-lucuan yang sama sekali bukan sasaran utamanya, ini sayang sekali. Sayang sekali. (dan)

 

RUDY HABIBIE (HABIBIE & AINUN 2): A GLOSSED OVER AND GLORIFIED BIOPIC

•July 14, 2016 • Leave a Comment

RUDY HABIBIE (HABIBIE & AINUN 2)

Sutradara: Hanung Bramantyo

Produksi: MD Pictures, 2016

Rudy Habibie

            Menjadi serangkaian rencana sekuel ke film-film sukses dari MD Pictures – seperti franchise blockbuster luar yang diumumkan di setiap comic-con atau perhelatan tahunan sejenis lainnya, di satu sisi, ‘Rudy Habibie’ memang sangat memenuhi syarat melihat perolehan box office film pertamanya. ‘Habibie & Ainun’ di tahun 2012 berhasil mengumpulkan lebih dari 4,5 juta penonton dan masih berada di peringkat kedua film Indonesia terlaris sepanjang masa. Tapi pertanyaannya, berbeda dengan film-film luar seperti fantasi atau superhero, layakkah sebuah biopik dikembangkan ke dalam cinematic universe yang dalam wujud terluarnya adalah sebuah drama ini?

            Walau tetap dibandrol sub judul ‘Habibie & Ainun 2’, ini sebenarnya lebih ke prekuel yang membawa kita kembali ke masa kecil salah satu mantan Presiden RI sekaligus teknokrat tersebut. Tumbuh besar di masa penjajahan Jepang dari kedua orangtuanya (Donny Damara & Dian Nitami) hingga melanjutkan kuliah di RWTH Aachen dengan kondisi terbatas karena bukan termasuk ikatan dinas, Rudy (tetap diperankan Reza Rahadian) harus berhadapan dengan persahabatan, pengkhianatan sekaligus cinta di tengah janjinya kepada orangtua untuk membuat pesawat berikut niat mulianya untuk menjadi mata air yang berguna buat orang banyak. Untuk Indonesia.

            Meski bukan ‘Habibie & Ainun’ yang notabene lebih universal memuat ide kisah cinta sejati dua tokoh yang sudah dikenal sedemikian luas – terutama dalam membangun dayatarik dan keterikatan dengan penontonnya, ‘Rudy Habibie’ sebagai sekuel sebenarnya masih punya dasar pengembangan yang baik dan cukup beralasan. Di sana, kita bisa lebih mengenal sosok lewat karakter legendaris itu berikut visi-visinya yang memang menginspirasi sekaligus berpotensi buat dikemas menjadi drama biopik berlatar sejarah yang menarik.

            Sayangnya skrip dari Ginatri S. Noer dan Hanung agak terdistraksi dengan usaha-usaha bombastisme dramatisasi a la Bollywood yang selain membuat kita acap kali mempertanyakan kewajaran bangunan dan situasi sesuai tahunnya, juga mem-blur-kan motivasi-motivasi sebagian karakter penting yang terpaksa terus-menerus disemat dengan dialog repetitif tentang kebangsaan dan patriotisme, kerap terlihat bingung membagi elemen plot lovestory dan glorifikasi subjeknya yang lebih bak seorang superhero ketimbang penemu cerdas, serta masih berakhir pula ke melodrama cinta klise di tengah peron kereta api yang sangat India.

         Elemen-elemen ‘lintas waktu’ secara sembarangan ini bukan baru sekali pula hadir di film-film produksi MD Pictures. Benar bahwa dalam mewujudkan sebuah adaptasi ke ranah sinematis kadang ada faktor-faktor disbelief yang diperlukan, necessarily needed buat jualannya. Penempatan cast dari looks hingga usia, misalnya, yang kalau bisa di-handle dengan baik, bisa menghindar dari flaws. Tapi rasanya dalam menghadirkan latar historis berikut semua elemen-elemennya, sulit akhirnya berkompromi dengan hal-hal yang jatuhnya seperti pembodohan publik.

           Di sini, salahnya, entah dari sumber atau (seolah) unflitered script tadi, ada banyak sekali permasalahan yang perlu dipertanyakan; dari soal kondom di latar Indonesia tahun ’40-an, sambungan telefon internasional hingga (lagi-lagi) keabsahan elemen-elemen medis di balik gambaran TBC tulang yang diderita Habibie kala kuliah di Jerman. Belum lagi soal latar penceritaan Habibie sebagai mahasiswa non-ikatan dinas yang membiayai sendiri kuliahnya sampai kehabisan duit tapi tetap tampil necis dengan wardrobe serba glossy-nya, dan selipan pesan-pesan reliji yang lagi-lagi lebih mengarah ke rupa-rupa glorifikasi ketimbang realita.

            Namun begitu, production values-nya yang memang ada di kelas bujet cukup tinggi bisa terlihat. Penggarapan teknis yang baik dengan kesan mewah itu paling tidak memang bekerja buat demand kebanyakan penonton kita. Ada sinematografi bagus seperti biasanya dari Ipung Rachmat Syaiful, sementara scoring Tya Subiakto yang walau seringkali terasa kelewat majestis masih membentuk blend yang baik ke tampilan serba mewah plus dua theme song-nya, ‘Mencari Cinta Sejati’ dari Cakra Khan dan ‘Mata Air’ yang bunyi komposisinya sangat India dari Coboy Junior.

           Dan bagian terbaiknya tentulah penampilan Reza Rahadian kembali sebagai salah satu ikon akting terbaiknya bersama ansambel akting tak kalah menarik dari Indah Permatasari yang paling mencuri perhatian – membuat kita melihat balik penampilannya di film lain sebelum ini, Chelsea Islan, Cornelio Sunny serta trio komika; Ernest Prakasa, Pandji Pragiwaksono dan Boris Bokir yang tampil dengan solid di tengah pilihan-pilihan bahasa yang kerap terasa terlalu modern di skripnya, sebagai supporting actors – bukan komedian.

          Pendukung-pendukung lain dari Donny Damara, Dian Nitami, Leroy Osmani, Paundrakarna – meski sebagiannya digagas kelewat komikal, plus Verdi Solaiman yang bermain cukup mengesankan dalam penampilan singkatnya, pun ikut memberikan dayatarik tambahan buat keseluruhannya. A glossed over and rather too glorified biopic yang masih bisa terselamatkan lewat beberapa faktor, tapi jelas tak sebaik pendahulunya yang bicara lebih universal soal cinta melebihi glorifikasi karakter-karakternya. (dan)

INDEPENDENCE DAY: RESURGENCE; A FUN SEQUEL BUT NEVER MORE

•June 29, 2016 • Leave a Comment

INDEPENDENCE DAY: RESURGENCE

Sutradara: Roland Emmerich

Produksi: Centropolis Entertainment, Electric Entertainment, TSG Entertainment, 20th Century Fox, 2016

ID4

            Jadi sebuah fiksi ilmiah klasik di tahun 1996, ada perbedaan yang diusung ‘Independence Day’, sering disingkat ID-4 dalam subgenre perang manusia lawan alien. Bukan semata karena feel patriotik yang disemat sekalian ke perayaan hari kemerdekaan AS buat mewakili heroisme dunia lewat skrip pidato legendaris Bill Pullman yang memerankan Presiden Whitmore, juga nama besar Will Smith – ataupun desain alien yang sempat dijual dalam merch action figure atas bentuk dan rancangan detilnya yang unik.

               Namun di film itu lah Roland Emmerich (bersama Dean Devlin yang belakangan kerap hanya duduk di kursi produser) memantapkan signature-nya di tema-tema disaster, memuat penghancuran dunia dalam skala katastropik, apapun genre filmnya dan mencetak banyak rekor box office dari ‘Godzilla’, ‘The Day After Tomorrow’, ‘2012’ ke ‘White House Down’. Kembali ke homage film-film monster atau scifi klasik, mereka menggagas racikan yang sejalan dengan sebuah gambaran kehancuran global.

           Di sana, jadi muncul koneksi kuat yang ditopang dengan baik oleh desain karakter-karakternya, dari sentral hingga yang terkecil, membuat pemirsanya begitu peduli dan masuk ke perjuangan mereka untuk mencegah kehancuran dunia. Bahkan seekor anjing kecil di tengah bahaya bisa membuat kita tak rela membiarkannya jadi korban, dan itu sebabnya kenapa pidato Presiden Whitmore jadi terasa begitu heroik. Rencana sekuel yang sudah tertunda lama pun akhirnya terwujud setelah 20 tahun dengan ‘Resurgence’ menggantikan judul awal ‘Forever’ yang digagas dengan timeline fiktif yang luarbiasa panjang selama rentang waktu itu. Tapi mengulang sebuah keberhasilan gemilang yang menjadi penanda perkembangan sinema dan genre-nya, sebuah breakthrough, jelas bukan hal yang mudah, apalagi selama itu.

              Perang manusia lawan alien dalam ‘ID-4’ ternyata tak lantas berakhir di sana. Selagi umat manusia dan PBB merancang ESD (Earth Space Defense) dengan teknologi yang diadopsi dari kemenangan mereka, pihak alien ternyata juga menyiapkan kekuatan lebih besar lagi buat menyerang kembali. Bersama satuan pilot-pilot muda Jake Morrison (Liam Hemsworth), Rain Lao (Angelababy), Charlie (Travis Tope), Patricia (Maika Monroe) putri Whitmore yang sudah meletakkan jabatan berganti ke Presiden Lanford (Sela Ward) dan Dylan (Jessie Usher), putra alm. Steven Hiller (Will Smith di film pertama), Whitmore, Dr. Brackish (Brent Spiner) dan ilmuwan David Levinson (Jeff Goldblum) pun kembali harus menghadapi serangan ini – menerjemahkan setiap koneksi dan teknologi yang lebih lagi.

            Gagal mendapatkan Will Smith yang lebih memilih ‘Suicide Squad’, rentang waktu 20 tahun itu pun dimodifikasi oleh Emmerich, Devlin, Nicolas Wright, James A. Woods hingga James Vanderbilt dengan kisah-kisah suksesor karakter-karakter intinya. Tak ada yang salah dengan itu, apalagi bersama tim VFX-nya Emmerich sudah merancang katastropik lebih lagi bersama serangkaian heroisme senada perang umat manusia melawan alien berikut latar psychic war yang jadi bagian menarik tapi sering terlewat dalam ingatan ke film pertamanya. Ada pula potensi pengembangan ke perang antar galaksi yang direncanakan ke sekuel berikutnya.

            Sebagian karakter seperti istri Hiller (Vivica A. Fox), Dr. Brackish Okun (Brent Spiner, pemeran Data dalam ‘Star Trek: The Next Generation’), ayah David (Judd Hirsch) hingga Jenderal Grey (Robert Loggia) yang tampil sekilas ikut muncul kembali dengan penambahan banyak karakter baru yang walau terasa agak sesak tapi memberi jalan untuk sematan elemen-elemen yang lebih fresh di tengah jingoism comedy ala Emmerich hingga elemen-elemen kadet ala ‘Starship Troopers’, namun tak semuanya bisa dieksekusi dengan baik walau sudah dimulai cukup kuat.

           Satu yang menarik di luar kepentingan Hollywood menggamit pasar China sekarang ini adalah membuat feel global warfare-nya lewat karakter-karakter lintas negara dari Angelababy, aktor Singapore Chin Han, warlord Umbutu yang diperankan oleh Deobia Oparei dari Kongo berikut latar kawasan mereka yang dipilih alien sebagai tempat pendaratan lanjutnya, hingga Charlotte Gainsbourg yang lebih dikenal sebagai aktris arthouse Perancis putri pasangan seleb Perancis legendaris Jane Birkin dan Serge Gainsbourg sebagai Dr. Catherine Marceaux, scientist ESD yang punya hubungan lama dengan David. Masih banyak lagi tambahan karakter yang diperankan Joey King, penulis skrip Nicolas Wright dan William Fichtner.

            Hanya saja, memang, absennya Will Smith tak bisa benar-benar tergantikan dengan satu pun karakter yang sebanding. Ansambelnya lebih besar dan meriah tapi sama sekali tak sekuat dulu. Dan penuh sesak karakter itu membuat masing-masing yang seharusnya menonjol sebagai benang merahnya jadi gagal mendapat justifikasi seimbang. Sebagian karakter penting itu mendapat eksekusi final begitu sia-sia sementara sematan lucu-lucuan tak penting justru kadang kelewat ditonjolkan tanpa diperlukan, sementara dalam kapasitas katastropiknya, alien soldiers-nya pun kini sekedar lewat begitu saja menyisakan hanya satu yang benar-benar menonjol, itu pun jauh dari kesan unbeatable.

             Impact terparahnya jatuh pada nafas patriotisme yang jadinya juga gagal menyamai ID-4. Kita tak lagi se-peduli dulu dengan karakter-karakter utamanya, dan ada miscast yang terlihat jelas juga dari pemilihan Liam Hemsworth yang tak cukup convincing sebagai rebel, pun Maika Monroe dalam interkoneksinya ke Whitmore serta Jessie Usher yang walau punya kemiripan dengan Will Smith tapi tak pernah sekalipun tampak kelewat tangguh.

               Menyisakan pameran VFX yang lebih memang ada di kapasitas lebih wah, cantik serta meriah, juga main theme ala John Williams dari David Arnold (kini dikomposisi ulang oleh Harald Kloser dan Thomas Wanker dan muncul di penutup film), ini tetap sekuel blockbuster musim panas yang sangat seru, tapi sayangnya, masing-masing elemen itu tak benar-benar bisa memuncak ke titik klimaks seheboh pendahulunya. Coba nikmati saja boom-bang ala Emmerich yang memang lagi-lagi kosong seperti film-filmnya pasca ‘ID-4’, dan jangan pernah mengharap lebih – apalagi membandingkannya satu-persatu dengan pendahulunya. A fun sequel, but never more. Sayang sekali. (dan)

 

 

FINDING DORY: PIXAR’S AT ITS PUREST HEARTS, VISUALS AND FUN

•June 26, 2016 • Leave a Comment

FINDING DORY

Sutradara: Andrew Stanton, Angus MacLane (co-dir)

Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios, 2016

finding dory

            Tak seperti ‘Toy Story’ atau ‘Cars’ dengan semua pengembangannya – dari sekuel ke animated shorts dan semua bentuk merch – companion lainnya, ‘Finding Dory’ memang butuh waktu sedikit kelewat lama untuk menyambung pendahulunya ‘Finding Nemo’. Bukan animasi itu tak sukses dulunya. ‘Finding Nemo’ justru mencetak banyak rekor dari awards ke box office sekaligus jadi sebuah instant classic, walau mungkin memang tak sekuat yang dua tadi dalam hal penciptaan dan branding efforts dari Pixar – Disney. Bandingannya mungkin lebih ada di lini ke-2 berdasarkan kekuatan brand, bersama ‘Monsters, Inc.’ yang sekuelnya juga memakan waktu cukup lama.

            Di sisi lain, ini mungkin jadi kecermatan tim Pixar sendiri untuk mengulik produk-produk lama mereka karena sedikit banyak mereka tahu, sekuel dari produk yang punya potensi – selalu bekerja lebih baik dari instalmen orisinil sebagai awal. Tapi jelas, throw themall the characters, into any toy stores, ini adalah karakter-karakter yang langsung bisa dikenal luas oleh kebanyakan orang. Sebagian dari produk-produk Pixar yang bisa punya strong – everlasting brand. Ingat, tak semua animasi Pixar punya itu, dan semua pada asalnya juga merupakan Pixar’s original. Hanya saja, ada yang berhasil jadi franchise, ada yang dari awal memang tak punya potensi sebesar itu berapapun hasil perolehan box office atau rekor-rekor lainnya termasuk meraih Oscar.

            Ini mungkin yang membuat pengembangannya jadi semakin lama seperti diakui oleh Andrew Stantonalways the core of Pixar’s hearts untuk memberi keseimbangan ke inovasi John Lasseter yang kadang terlalu liar (baca= dewasa); di mana brand-brand terbaik dari sebagian karya Pixar tadi, lahir dari skrip atau penyutradaraan Stanton – untuk berkali-kali merombak skripnya bersama Victoria Strouse. Bahkan sudah terlalu jauh melewati momen yang tepat saat ‘Finding Nemo’ dirilis ulang tahun 2010 dalam format 3D, Stanton hanya ingin ‘Finding Dory’ tak lantas jadi sekuel yang sekedar aji mumpung dan lewat begitu saja. Oh yeah, ‘Monsters University’ kemarin ada di sana, menjadi seolah sempalan tak terlalu penting walaupun tetap charming. So what’s the result, then?

            Ber-setting setahun setelah endingFinding Nemo’, ‘Finding Dory’ pun membawa kita ke introduksi ulang yang cerdas soal short term memory loss yang diderita Dory (disuarakan Ellen DeGeneres) kepada storytelling barunya, yang mungkin diperlukan bagi pemirsa lama yang sudah sedikit lupa maupun generasi baru yang belum terekspos film pertamanya. Lewat serangkaian flash of memories itu, Dory pun akhirnya tergerak untuk mencari kedua orang tuanya; Jenny dan Charles (disuarakan Diane Keaton & Eugene Levy). Perjalanan yang membawa serta Marlin (Albert Brooks) dan Nemo (kini disuarakan Hayden Rolence) untuk mendampingi Dory pun membawa mereka menuju perairan California dengan petualangan tak terduga yang menunggu di sebuah Lembaga Kelautan. Bertemu sahabat-sahabat baru, lama bahkan kembali kehilangan satu sama lain berkali-kali di tengah laut lepas, mereka mesti bertahan demi mengantar Dory menemukan kembali rumah dan kedua orangtuanya.

            Menyemat fokus petualangan seru, journey and quest yang bergeser ke karakter Dory yang memang punya character arcs paling menarik dalam ‘Finding Nemo’, skrip Stanton dan Strouse bagusnya tetap tak melupakan Marlin dan Nemo sebagai pendamping yang cukup seimbang. Bersamanya, muncul ide-ide mendasar soal overcome fear dan looking for home dalam balutan penceritaan sederhana dan ide-ide kunci yang sangat menyentuh soal shell, memory and home – termasuk scoring Thomas Newman dan theme song recycle Nat King Cole ke Sia dengan ‘Unforgettable’ yang mampu diserap semua kalangan usia dan selalu mengingatkan kita tentang hubungan terdalam soal keluarga.

          Di sana pula, mereka dengan leluasa memunculkan karakter-karakter baru yang kuat seperti Hank (disuarakan Ed O’Neill),  red octopus temperamental yang sama-sama menarik perhatian bersama sahabat masa kecil Dory, whale shark rabun tapi genit Destiny (Kaitlin Olson) dan tetangganya, paus Beluga Bailey (Ty Burrell) dengan sematan informasi echolocation paus yang menarik buat pemirsa segala usia untuk pengenalan fauna bersama aspek-aspek Marine Life Institute-nya. Semua masih digagas dengan excitement sama yang menempatkan pemirsanya seolah berada dalam akuarium raksasa dengan visual yang sangat memanjakan mata termasuk gimmick 3D-nya.

            Masih lagi ditambah oleh duo singa laut Fluke dan Rudder (Idris Elba & Dominic West) serta Gerald dan aquatic bird Becky (Torbin Xan Bullock) buat mengisi part komediknya, dua orangtua Dory – dan Sigourney Weaver, tentunya; karakter-karakter ini bekerja dengan baik untuk memberi excitement baru ke tiap sisi petualangannya. Sisanya masih ada karakter yang memunculkan nama-nama terkenal seperti Bill Hader, Stanton sendiri hingga Willem Dafoe bersama karakter-karakter film pertama yang muncul sebagai kejutan di after credits scene-nya dengan luarbiasa menarik dan menjadikannya sangat layak buat ditunggu.

            Namun hal terbaik yang membuat mengapa ‘Finding Dory’ menjadi sekuel Pixar terbaik dalam hitungan rentang waktu begitu panjang (berbeda dengan ‘Toy Story’ tak peduli sebagus apapun bahkan ‘Cars’ yang masih digagas dalam rentang normal) adalah glimpse of hearts yang bisa menyamai pendahulunya. Bahwa dengan ‘Finding Dory’, Stanton membawa Pixar kembali ke rumahnya, ke ranah klasik yang membuat mengapa Pixar punya batasan berbeda dengan Disney Animated Classics pada awalnya dulu. Hearts, visual and fun jauh di atas inovasi-inovasi plot njelimet, serba dewasa dan over-dramatization di mana sebagian karya-karya orisinil Pixar di tangan Lasseter membuat penonton sibuk mencari airmata di tengah sajian animasi segala umur yang akhirnya lebih pantas jadi tontonan usia lebih dewasa. This is Pixar’s at its purest hearts, visual and fun.

            Tak pernah sekalipun mencoba terlihat lebih pintar menuangkan rich ideas paling dasar soal rumah, hubungan keluarga dan persahabatan termasuk latar soal short term memory loss ke karakter utamanya, satu lagi yang menarik adalah privilege yang kita dapatkan dari Disney dalam soal official dubbing-nya menyusul ‘The Good Dinosaur’, jauh setelah Malaysia sudah mendapatkannya sejak ‘Tarzan’ di tahun 1997 dulu.

             Dirilis dengan judul ‘Mencari Dory’, tak hanya bahasanya yang di-dubbing ke dalam bahasa Indonesia dengan ketepatan pemilihan voicecast Syahrini dan Raffi Ahmad, sebagai highlights untuk mengisi suara Destiny dan Baileyand above all, Maria Oentoe untuk menggantikan Sigourney Weaver –  meskipun belum bisa sepenuhnya menghilangkan kekakuan penggunaan bahasa-bahasa baku, title boards animated props hingga end credits title-nya juga ikut diterjemahkan. Mari tak lagi memandang dubbing efforts secara skeptis, menyamakan semuanya, terutama ke official privilege yang sebenarnya bisa menyediakan sarana bagus buat menyemat budaya lokal sekaligus merupakan acknowledgement penting dari Disney buat pasar kita. (dan)

THE CONJURING 2: A SOLID, SCARY AND FUN HORROR SEQUEL

•June 20, 2016 • 2 Comments

THE CONJURING 2

Sutradara: James Wan

Produksi: New Line Cinema, The Safran Company, RatPac-Dune Entertainment, Warner Bros Pictures, 2016

Conjuring 2

            Lebih dari genre superhero, horor adalah salah satu komoditas panas Hollywood yang tak pernah mati. Tapi James Wan memang spesial. Sineas berkewarganegaraan Malaysia yang juga sudah melangkah ke genre lain dalam ‘FF7‘ tempo hari punya signature-nya sendiri sebagai talenta terdepan dalam genre horor yang bukan saja meledakkan perolehan box office, tapi juga resepsi kritikus yang sejalan. Selain ‘Insidious’, ‘The Conjuring’ yang baru saja melangkah sebagai franchise lewat sekuelnya ini kembali melanjutkan petualangan pasangan suami istri cenayang dan investigator paranormal The Warrens lewat kasus-kasus mereka yang diangkat dari kejadian nyata.

            ‘The Conjuring 2’ membawa kita pada kasus yang dikenal sebagai The Enfield Poltergeist di Inggris 1977 dimana Janet (Madison Wolfe), putri termuda single mother Peggy Hodgson (Frances O’Connor) terasuki arwah Bill Wilkins (Bob Adrian), pemilik rumah mereka sebelumnya. Keanehan-keanehan yang terjadi mulai membahayakan jiwa sekeluarga Hodgson atas asumsi bahwa arwah Bill tak senang atas keberadaan mereka. Ed & Lorraine Warren (Patrick Wilson & Vera Farmiga) yang baru saja mendokumentasikan kasus ‘The Amityville Murders’ setahun sebelumnya pun ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini bersama dua investigator paranormal Maurice Grosse (Simon McBurney) dan Anita Gregory (Franka Potente) yang mencium adanya kemungkinan penipuan, sementara Lorraine sejak awal sudah mendapat visi buruk tentang sebuah pertanda sekaligus keselamatan Ed.

            Satu hal yang membuat horor James Wan bergerak dalam batasan beda dari film-film lainnya bukan hanya kepiawaiannya membangun kengerian lewat atmosfer, tapi bentukan karakter yang cermat dalam kaitan-kaitan motivatif hingga ke detil-detil elemennya, juga pendekatan soal ikatan keluarga. Selagi film pertamanya langsung bertengger dengan status klasik sekuat horor legendaris seperti ‘The Exorcist’, ‘The Shining‘ atau ‘The Omen’ lewat homage ke nuansa ‘70an termasuk eerie scoring Joseph Bishara tanpa harus boros menakut-nakuti lewat penampakan – oh yes, if there’s ever such things called instant classics, ‘The Conjuring’ adalah salah satu contoh nyatanya, dan sekuel ini memang sedikit berbeda.

            Namun di situ juga Wan menggagas sekuelnya jadi tak hanya sekedar sebuah repetisi kisah petualangan The Warrens sebagai layer paling dasarnya. Selagi atmosfer horor ’70-an itu tetap diadopsinya lewat permainan art, props hingga segala pop kultur era-nya (ada ‘London Calling’ dari The Clash serta ‘I Started a Joke’-nya Bee Gees), Wan menghadirkan elemen-elemen teknis yang membuat ‘The Conjuring 2’ tak sekalipun jatuh ke ranah yang biasa. Shot-shot-nya lewat sinematografi Don Burgess sangat fantastis, termasuk satu yang terbaik dalam bangunan scary ambience serta psychological impact di adegan interview Ed dengan Janet yang memancing rasa takut kita di balik latar-latar mati yang terasa ikut menghantui, sound design-nya juga cermat. Tetap ada permainan jump scares, namun dibesut Wan dengan effort-effort editing beda serta sangat berkelas.

            Secara perlahan, dengan kekuatan-kekuatan ini, Wan mengarahkan pace-nya dengan intensitas mendaki kemudian dilepas bak sebuah wahana rollercoaster yang seram sekaligus seru. Dan ia tetap menarik batas yang semakin memperkuat interaksi The Warrens dengan klien-nya sebagai kekuatan terdepan, sebagaimana halnya yang ia lakukan dalam ‘The Conjuring’ sambil menaikkan level koneksi pemirsanya terhadap The Warrens termasuk menyemat elemen romansa mendalam lewat baris-baris lirik lagu klasik Elvis PresleyCan’t Help Falling In Love’ secara relevan menjadi konklusi kuat, tak biasa sekaligus menyambung antitesis ending klise film-film horor rata-rata. Kontradiksi skepticism dan relijiusnya pun tetap tergelar dengan kuat seperti sebuah whodunit detective thriller.

        Ini semua bukan masalah gampang. Ada banyak horor yang baik, namun yang membuat penontonnya benar-benar bisa terhubung dan begitu peduli ke nasib karakter utamanya, itu tak banyak. Dan chemistry Patrick Wilson dan salah satu pilihan terbaik Wan atas karakter Lorraine ke Vera Farmiga juga terbentuk semakin baik di sini, sementara effort-nya menggamit aktris-aktris bagus yang nyaris terlupakan, sama seperti Lili Taylor dalam film pertama, kembali terlihat lewat Frances O’Connor di sini. Masih ada kemunculan singkat dari Franka Potente dan sebagai sentral terornya, Madison Wolfe juga bermain baik sekali sebagai Janet.

            Lantas, salah satu persyaratan horor yang remarkable lewat tampilan ultimate demons; demonic villain yang dengan cepat bisa menyebar seperti viral promotion baik lewat sosmed ataupun word of mouth, juga terpenuhi. Wan tetap memanfaatkan Javier Botet sebagai salah satunya, namun diperankan oleh Boonie Aarons, walau kabarnya tampilan karakternya baru digagas secara final menjelang reshoots tahap akhir, lihat seperti apa karakter demonic nun bernama Valak itu langsung menyita perhatian begitu banyak orang, persis seperti apa yang mereka tampilkan lewat Annabelle di film pertama, sama-sama pula bersama potensi spinoff-nya nanti, tak peduli bagaimanapun hasilnya.

           So, membangun sebuah ketakutan dalam genre ini mungkin biasa, namun jarang-jarang sebuah horor mau repot-repot berusaha tampil di kelas yang beda dari semua sisi penggarapannya. Itulah yang dilakukan Wan dalam membangun signature spesialnya dalam genre horor. Seru, menyeramkan tanpa harus kehilangan kedalaman, ‘The Conjuring 2’ mungkin tak se-klasik predesesornya, tapi dengan gagasan-gagasan yang justru mendalami character-arcs serta kelebihan teknis yang tetap dipertahankan, ia tetap jadi sebuah sekuel horor paling solid yang pernah ada. (dan)