NOW YOU SEE ME 2: THE BIGGER, BUT NOT BETTER FORM OF BLOCKBUSTER FRANCHISE

•June 16, 2016 • Leave a Comment

NOW YOU SEE ME 2

Sutradara: Jon M. Chu

Produksi: K/O Paper Products, TIK Films, Summit Entertainment, 2016

Now You See Me 2

            Bukan sebelumnya tak ada film tentang sulap atau ilusionis, namun dalam genre ataupun subgenre film, selain jarang, apa yang dimunculkan Summit Entertainment dengan ‘Now You See Me’ di tahun 2013 memang merupakan hal baru. Menggabungkannya dengan genre heist/caper movies sebagai blockbuster bertabur bintang, kesuksesannya akhirnya mengantarkan film ini ke ranah franchise yang diperhitungkan dengan kemunculan sekuelnya tahun ini, yang di beberapa negara juga dibandrol sub judul ‘The Second Act’.

            Menaikkan lagi level-nya terhadap kisah petualangan para pesulap kelas dunia yang sudah diintroduksi sebagai ‘The Four Horsemen’, resep yang ada di film pertama pun dipertahankan cukup baik sebagai potensi utamanya. Tipu muslihat dengan twist berlapis antara pesulap, perampokan dan intrik FBI – kini ditambah sekuens-sekuens aksi yang lebih meriah dalam production values berkelas blockbuster, ‘Now You See Me’ bahkan berpotensi untuk menjadi ‘Fast & Furious’ versi sulap ini melanjutkan set-nya ke tiga tahun setelah film pertama.

            Alih-alih mengadakan comeback performance untuk membuka praktik curang sebuah multimillion-dollar gadget company, J. Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt McKinney (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco) berikut horsemen ke-5 Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) yang membawa personil baru Lula (Lizzy Caplan) malah dijebak oleh Walter Mabry (Daniel Radcliffe), partner perusahaan yang memalsukan kematiannya. Di tengah kejaran agen Natalie Austin (Sanaa Lathan) setelah identitas Rhodes terbuka, Thaddeus Bradley (Morgan Freeman) yang dijadikan sasaran atas dendam lama Rhodes juga merencanakan pembalasannya. Grup pesulap ini pun mulai terpecah untuk bisa keluar hidup-hidup dari permainan maut yang kembali membawa mereka ke musuh lama mereka, milyuner licik Arthur Tressler (Michael Caine).

            Skrip yang tetap dibesut Ed Solomon bersama penyutradaraan yang berpindah ke Jon M. Chu kini memang menaikkan level-nya lewat tampilan yang lebih wah, action yang lebih seru serta twist yang meski berulang namun dilebarkan lebih jauh dengan turnover karakter yang meski bisa tertebak tapi tetap terjahit cukup rapi. Ada sedikit resiko memang di nuansa magis detil-detil sulapnya yang jadi tak sekuat film pertama. Selagi sutradara Louis Leterrier dengan leluasa menyemat eye tricks lewat shot-shot-nya di film pertama untuk membuat langkah-langkah tricks revealing-nya luarbiasa mengejutkan, sekuel ini lebih melulu mengandalkan dominasi CGI walaupun di-supervisi oleh ilusionis fenomenal David Copperfield, juga di atas plot yang jauh lebih rumit, namun begitu masih cukup mampu tampil spektakuler terutama di adegan-adegan klimaksnya.

            Di balik itu, deretan cast-nya juga muncul dengan chemistry yang makin erat dengan konflik antar karakter yang mulai dilebarkan ke tengah-tengah petualangan mereka. Mark Ruffalo tetap menjadi yang terkuat untuk dibenturkan ke konflik leadership dengan Jesse Eisenberg, tapi porsi Dave Franco justru ditambah, bahkan Woody Harrelson yang diserahi double role pun jadi jauh lebih kompleks dari film pendahulunya. Selagi duet aktor senior Michael Caine dan Morgan Freeman tetap jadi elemen kuat di atas twist dan turnover-nya, Daniel Radcliffe – sayang sekali, terasa agak sedikit lemah melakoni peran antagonis di balik sosok dan gestur fisiknya.

         Sementara Lizzy Caplan yang masuk untuk menggantikan Isla Fisher di film pertama punya kelebihan dan kekurangan. Di satu sisi penampilannya terasa jauh lebih menarik untuk mengisi love interest ke karakter berbeda, namun sayangnya tak mendapat bentukan karakter maupun highlight magic performance yang berimbang dengan karakter lainnya. Begitupun, ia tetap bisa memberi warna baru ke ensemble hebat tadi, dan masih ada Jay Chou yang selain ikut mengisi soundtrack juga jadi daya tarik lebih buat pemirsa Asia, serta Sanaa Lathan untuk menggantikan porsi Melanie Laurent di film pertama. Satu hal lagi yang perlu dicatat adalah scoring Brian Tyler yang bisa menggerakkan semua tricks dan excitements itu dengan tambahan kemeriahan.

       So, ini memang akan kembali lagi ke apa yang diharapkan tiap lapis beda pemirsanya. Buat yang menyukai ‘Now You See Me’ bak trik sulap baru dalam treatment lintas genre yang sangat cerdas di film pertamanya, mungkin akan sedikit kecewa, tapi yang menyukainya secara tak lebih dari sekedar hiburan seru bertabur bintang, sekuel ini memang tampil lebih meriah dari sebelumnya, sekaligus membuka banyak celah pengembangan ke sekuel selanjutnya. The bigger, but not better form of blockbuster franchise. (dan)

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES: OUT OF THE SHADOWS; SAME SEQUEL, DIFFERENT FLAVOR

•June 15, 2016 • Leave a Comment

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES: OUT OF THE SHADOWS

Sutradara: Dave Green

Produksi: Nicklodeon Movies, Platinum Dunes, Gama Entertainment, Mednick Productions, Smithrowe Entertainment, Paramount Pictures, 2016

TMNT 2

            Unless you’re really a hater, jangan bilang ‘Teenage Mutant Ninja Turtles’, ‘TMNT’, ‘Ninja Turtles’ atau apapun sebutannya, adalah sebuah adaptasi sia-sia. Mau berapa kali pun di-reboot, tak peduli adaptasi sebelumnya punya ups and downs, baik dari resepsi  kritikus maupun box office, alasannya tetap kuat. Satunya karena teknologi sinema terus berkembang untuk pendekatan lebih grande, while the bottom line, tentu saja – franchise TMNT sama sekali belum mati. Melalui berbagai generasi, ini masih jadi jagoannya Nicklodeon dari animasi, video games, berbagai toy lines hingga pernak-pernik merchandising lainnya.

            Lalu, di tangan Platinum Dunes-nya Michael Bay yang berdiri di balik adaptasi barunya tahun 2014, perolehan box office-nya jelas punya potensi pengembangan. Merenovasi tampilan Ninja Turtles dan karakter-karakternya menjadi lebih sinematis dengan VFX up-to-date plus Megan Fox sebagai April O’Neil, film arahan Jonathan Liebesman itu bisa diracik menjadi popcorn flicks yang seru dalam mengenalkan kembali asal-usul karakter franchise fenomenalnya ke pemirsa baru, sementara terhadap fans lamanya, a huge trip down their memory lane. Sisanya adalah haters, baik ke Ninja Turtles ataupun Michael Bay, yang memang tak pernah jadi sasaran tembak filmnya. So, why bother?

           Walau diberi sub judul berbeda, skrip yang tetap ditulis Josh Appelbaum dan André Nemec (minus Evan Daugherty) kini membawa storyline-nya sama dengan sekuel adaptasi pertama di tahun 1991, ‘The Secret of the Ooze’ yang jelas dikenal baik oleh fans source aslinya. Namun treatment-nya jelas tak sama. Jika versi lamanya justru menghilangkan karakter Casey Jones, ‘Out of the Shadows’ justru mulai memperkenalkannya untuk dikolaborasikan bersama April dan karakter Vernon ‘Vern’ Fenwick yang absen di adaptasi ’90-an. Lantas ada juga Bebop dan Rocksteady yang atas masalah copyrights terpaksa mengalami penggantian nama di ‘The Secret of the Ooze’, dan tentu saja ‘Krang’ sebagai villain penting yang juga dulunya absen. Plus homage kecil ke rapper Vanilla Ice yang menjadi salah satu jualan terbesar sekuel tahun 1991 itu, ‘Out of the Shadows’ memang menyemat Ooze part dan storyline-nya secara lebih setia terhadap source-nya.

            Setahun setelah menghadapi Shredder (Brian Tee), kura-kura ninja Leonardo (both voiced  & motion captured by Pete Plotzek, bukan lagi Johnny Knoxville di voiceover-nya), Raphael (Alan Ritchson), Michelangelo (Noel Fisher) dan Donatello (Jeremy Howard) mulai jengah terus menyembunyikan identitas mereka di balik jasa besar yang jatuh ke Vern Fernwick (Will Arnett). Ini mau tak mau memunculkan perpecahan di antara mereka. Sementara pemindahan Shredder ke penjara baru diintervensi oleh duo kriminal Bebop (voiced & motion captured by Gary Anthony Williams) dan Rocksteady (Sheamus) dengan bantuan ilmuwan Baxter Stockman (Tyler Perry) yang bekerja di bawah organisasi jahat Foot Clan dan menyiapkan pelarian melalui teleport ke dimensi lain. Petugas polisi Casey Jones (Stephen Amell) pun terpaksa bergabung bersama April dan empat sekawan ini buat mencegahnya, apalagi terbukanya portal ke dimensi baru itu memberi jalan buat alien warlord Krang (voiced & motion captured by Brad Garrett) untuk mengacaukan bumi.

             Dengan penyutradaraan yang beralih pada Dave Green, sutradara videoklip yang tahun lalu baru memulai debutnya lewat sci-fi kecil tapi bagus ‘Earth to Echo’, ‘Out of the Shadows’ memang masih bermain-main di resep dan wilayah yang sama dengan pendahulunya. Bedanya, dengan lebih banyak penambahan karakter, turnover abu-abu/oportunis Fenwick yang diperankan Will Arnett serta layer konflik internal Ninja Turtles termasuk kemunculan villain baru Krang sebagai pendamping Shredder dengan motivasi lain, penceritaannya memang jadi sedikit lebih rumit ketimbang sekedar introduksi asal-usul di film pertama.

          Ada sedikit masalah pada pace-nya di bagian-bagian awal, namun bisa tertutupi oleh tampilan karakter yang cukup remarkable sekaligus membentuk interaksi bagus dalam batasan-batasan popcorn flicks sejauh yang diperlukan. Bersama format baru Ninja Turtles plus guru/ayah mereka Splinter (masih tetap disuarakan oleh Tony Shalhoub / now motion captured by Peter D. Badalamenti), duo mutan kriminal  Bebop & Rocksteady yang dimainkan oleh aktor TV Gary Anthony Williams serta wrestler profesional Sheamus bisa memberi sentuhan komedi komikal yang pas, sementara Stephen Amell, walau tak pernah sebaik Elias Koteas di adaptasi ’90-an-nya, cukup berhasil menokohkan Casey Jones lewat introduksi dan turnover karakternya dengan baik.

          Sebagai April O’Neil, tentu tak ada yang bisa memfokuskan dayatarik Megan Fox selain Bay sebagai produsernya, dan Will Arnett juga dimunculkan lewat proses yang sama dengan character arcs dan development di serial animasi aslinya. Masih ada bonus dari penampilan aktris senior Laura Linney sebagai atasan Casey Jones.

        Namun kekuatan terbesarnya tetaplah ada pada action showcase yang dihadirkan Green bersama Michael Bay. Walau tak pernah jadi full – nonstop boom-bang seperti ‘Transformers’, ada highlight-highlight action scenes dan VFX yang terasa sangat Bay termasuk scoring Steve Jablonsky, terutama di adegan jagoan Brazil plane crash yang menggantikan kehebohan snowboarding action di film pertama, tetap di balik gimmick eye popping 3D yang seru.

          Ini, lagi-lagi memang jadi titik terpenting kemasannya secara keseluruhan. Popcorn superhero flicks yang meriah seperti jargon legendaris ‘Cowabunga’, dan sisanya adalah pilihan untuk menyemat nods lebih setia ke source material-nya. Same sequel, different flavor, a more decent Ooze storyline. Unless you’re really a hater, either to the source or Bay, tak ada alasan untuk tak bisa menikmati sepak terjang para kura-kura ninja ini serenyah seporsi pizza yang lezat dengan topping lengkap. Cowabunga! (dan)

MONEY MONSTER: A HOSTAGE DRAMA WITH SATIRICAL LENS ON TODAY’S MEDIA MORES

•June 8, 2016 • Leave a Comment

MONEY MONSTER

Sutradara: Jodie Foster

Produksi: IM Global, Smoke House Pictures, TriStar Pictures, Sony Classics, 2016

COL_BILL_TEMPLATE_21

            Tak terlalu banyak mungkin film drama atau thriller penyanderaan – apapun latar belakangnya. Di antara yang terbaik ada ‘Dog Day Afternoon’, ‘The Negotiator‘, ‘Inside Man’ – atau yang sedikit lebih punya penekanan emosional; ‘John Q’. ‘Money Monster’ juga ada dalam kotak yang sama, namun statusnya sebagai sebuah film yang disutradarai Jodie Foster – lebih dikenal sebagai award winning actress, memang meletakkannya pada ekspektasi berbeda; karena karya-karya penyutradaraannya, dari ‘Little Man Tate’ ke ‘The Beaver’ memang hampir tak pernah ada di ranah terlalu pop atau komersil. Begitu pula film-film yang digawangi Clooney dan rekannya Grant Heslov.

            Punya elemen yang mirip dengan ‘Inside Man’ yang juga ikut diperankan olehnya, sama-sama berupa thriller penyanderaan dengan latar Wall Street dan tema ekonomi, ‘Money Monster’ jelas punya profil lebih dari dua pemeran utamanya; George Clooney dan Julia Roberts. Bedanya, skrip yang dibesut oleh Alan DiFiore, Jamie Linden dan Jim Kouf; yang terakhir ini adalah penulis kawakan dari banyak blockbuster Hollywood, memang senada ke gaya Foster yang menyorot subjeknya secara lebih mendalam.

          Di sini, selain Wall Street dan bisnis saham, mereka juga menyemat satir tentang manipulasi dan kegilaan media terutama TV sebagai sorotan utamanya. Memuat mashup-nya ke genre yang juga cukup jarang; dua di antara yang terbaik adalah ‘Network‘ dan ‘Broadcast News‘, ini mungkin yang membuat ‘Money Monster’ terasa sedikit berbeda dari yang lain, dan karena itu juga skrip DiFiore, Linden dan Kouf tak perlu terlalu repot memfokuskan latar carut-marut Wall Street dan soal stock trading-nya, tapi cukup dengan layer informasi untuk motivasi penyanderaannya. Fair enough.

            Sebagai pentolan talkshow finansial televisi ‘Money Monster’ yang sudah menjadi acuan banyak pemain saham, Lee Gates (George Clooney) sama sekali tak menyangka bahwa kasus kejatuhan saham IBIS Clear Capital yang merugikan investor hingga ratusan juta dolar AS akan berujung ke sebuah drama penyanderaan. Kyle Budwell (Jack O’Connell), seorang pekerja yang mempertaruhkan seluruh simpanannya terhadap saham tersebut nekat menerobos stasiun televisi dan menyandera Gates dengan rompi peledak. Bersama sutradara acara sekaligus kekasihnya, Patty Fenn (Julia Roberts) dan juru bicara IBIS Diane Lester (Caitriona Balfe) mereka pun mencoba mengulur waktu hingga sebuah konspirasi yang melibatkan banyak pihak pelan-pelan mulai terbuka selama prosesnya.

            Selagi soal stock trading tetap menjadi dasar motivasi para karakternya, sorotan satir yang disemat Foster tentang keadaan sosial ekonomi berikut praktik media sekarang memang membuat ‘Money Monster’ tampil sedikit beda di tengah sajian thriller penyanderaan yang tertata cukup baik. Detil kontennya tak pernah mencapai apa yang kita lihat dalam ‘Network‘ atau ‘Broadcast News‘, tapi sorotan satirikalnya bisa dibilang kuat. Sebagai fokusnya, Clooney dan Roberts jelas bermain baik walaupun chemistry mereka ke subplot soal hubungan Gates dan Fenn kerap hanya terasa tampil tak lebih dari gimmick.

        Namun yang benar-benar mencuri perhatian di tengah keduanya adalah Jack O’Connell, aktor muda Inggris yang sedang naik daun lewat action ‘71’ dan ‘Unbroken’-nya Angelina Jolie tahun lalu. Ada dukungan bagus juga dari Caitriona Balfe serta Giancarlo Esposito dan Dominic West sebagai karakter yang seperti biasanya, hampir selalu diserahi porsi antagonis di film-filmnya.

            Begitupun, benar juga bahwa ke manapun larinya, film-film senada soal penyanderaan yang kebanyakan dibangun lewat motif ekonomi memang hanya punya dua pilihan ending di tengah ironi-ironi yang ditampilkan. Walau penggabungan elemen-elemen tadi bisa dirangkum skripnya dengan keseimbangan cukup, ‘Money Monster’ melupakan satu hal soal bangunan emosi yang tak bisa benar-benar memuncak dalam proses penceritaan dan penyampaian ironinya di ending yang agak sedikit terburu-buru. Ia memang membuka mata lewat informasi-informasi yang ada, a hostage drama with Jodie Foster’s satirical lens on today’s media mores, namun belum cukup untuk membuatnya tampil sebagai yang terbaik di genre-nya. (dan)

MY STUPID BOSS: SEBUAH KECERMATAN MEMBACA PASAR

•June 2, 2016 • Leave a Comment

MY STUPID BOSS

Sutradara: Upi

Produksi: Falcon Pictures, 2016

My Stupid Boss

            Sosmed memang melahirkan banyak sekali fenomena. Dari novel ke film, ‘My Stupid Boss’ yang ditulis oleh Chaos@work ini pun begitu. Berisi kumpulan kisah seperti curhat pekerja terhadap bos-nya yang dirangkum ke dalam buku yang sudah mencapai seri ke-5, ini sudah menjadi brand kuat sebagai komoditas jualan. Kini berpindah ke layar lebar, skrip dan penyutradaraannya dipegang oleh Upi yang sudah menghasilkan film-film dari ’30 Hari Mencari Cinta’, ‘Realita Cinta dan Rock N Roll’, ‘Serigala Terakhir’ hingga ‘Belenggu’ dan segmen terakhir di ‘Princess, Bajak Laut dan Alien’.

            Sama dengan pengalaman penulisnya  yang menjadi inspirasi tweet-tweet yang dituangkan ke dalam buku tadi, ‘My Stupid Boss’ mengisahkan Diana (Bunga Citra Lestari) yang tinggal di KL bersama suaminya Dika (Alex Abbad), seorang karyawan di sana. Mencari kesibukan, Diana pun melamar ke perusahaan milik teman kuliah Dika, sosok absurd yang dipanggil dengan nama Bossman (Reza Rahadian). Bukannya senang, dengan prinsip ‘Impossible we do, Miracle we try’ yang dipegang Bossman selalu menempatkan pekerjanya bete luarbiasa bersama ulahnya yang aneh-aneh.

            Sama seperti ‘AADC 2’, saat film Indonesia berjibaku dengan jumlah penonton yang seringnya makin menipis, ‘My Stupid Boss’ adalah kecermatan membaca pasar. Jumlah besar persentase pekerja kantoran di masyarakat kita – bahkan Asia yang juga jadi sasaran pasarnya – Malaysia, Brunei dan Singapura, yang rata-rata punya masalah yang sama jelas merupakan pasar cukup besar sehingga dari hanya segelintir yang bisa, filmnya bisa sukses mencapai perolehan 2 juta penonton lebih dalam masa tayang 2 minggu dan masih terus bertahan. Mungkin, para pekerja itu butuh pelepasan yang bisa sangat related ke mereka, menertawakan atasannya, bahkan mungkin – diri mereka sendiri.

            Tapi kekuatan terbesar selain itu memang ada pada fisik Reza Rahadian yang dipermak menyamai Colin Farrell dalam ‘Horrible Bosses’ sekaligus reuninya bersama BCL dari ‘Habibie & Ainun‘. Meski lagi-lagi pendekatan memirip-miripkan fisik (walaupun berbeda dari segi peran) ini tak sepenuhnya etis, Reza (lagi-lagi membuktikan kualitas keaktorannya dengan gemilang) dan BCL begitu sukses membawakan peran mereka bersama pendukung jempolan dari negara tetangga; Bront Palarae, Iskandar Zulkarnain, Atikah Suhaime dan mostly, Chew Kin Wah sebagai Mr. Kho dengan comedic signature poker face dan suffering jokes yang nuansa komedi Asia-nya sangat kental.

       Di tangan mereka, komedi sketsa yang tampil menyerupai bukunya, yang sebenarnya tak punya skrip kuat karena selain logika-logika kecil namun penting yang terabaikan dari bentukan karakter Dika yang diperankan Alex Abbad, formula komedi repetitif di pola aksi dan reaksi yang sama terus menerus terlebih ke motivasi ending inspiratif yang datang entah dari mana, bisa tertutupi dengan kelucuan yang ada. Amunisi utamanya sebenarnya sudah habis dalam tak lebih dari 30 menit masa putarnya, tapi chemistry serta umpan-umpan komedi itu bisa dimainkan dengan baik oleh semua pendukungnya.

            Berikutnya, kekuatan lain ‘My Stupid Boss’ juga ada di tampilan keseluruhannya. Mengikuti pakem film-film produksi Falcon yang hampir selalu punya production values yang sangat bisa dipertanggungjawabkan secara sinematis – juga tak main-main soal promosi, walau apa yang ada di ‘My Stupid Boss‘ ini sebenarnya terkesan tak kreatif seperti pendekatan Upi di film-film dia sebelumnya. Di ‘Realita’ misalnya, ia menyadur gaya Gus Van Sant terutama dalam ‘My Own Private Idaho’ dan ‘Even Cowgirls Get the Blues’ – juga dalam membahas beberapa elemen yang senada pula. Dalam ‘Serigala Terakhir’, ada pengaruh dari gangster action ChinaMonga’ yang sangat terasa berikut glimpse ke ‘City of God’ di penutupnya. Di ‘Belenggu’ – ia membuat pendekatan ala David Lynch dari ‘Twin Peaks‘, ‘Lost Highway‘ ke ‘Mulholland Drive‘ serta sedikit pakem di genre nunsploitation; dan Wes Anderson di segmennya dalam ‘Princess, Bajak Laut dan Alien’ dari tone, tata artistik ke simetrisasi ala Wes yang sejenis.

          Entah ingin dikenal sebagai sutradara dengan signature copycat atau sekedar memancing perdebatan, Upi kali ini tak segan-segan menyadur konsep dan atmosfer film Perancis ‘Amelie’-nya Jean-Pierre Jeunet dari sinematografi Muhammad Firdaus, set dan artistik Ade Gimbal, kostum dan tata rias yang didominasi hijau merah termasuk tampilan gaya rambut BCL hingga ke alunan score besutan Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang biar tak mencomot komposisi tapi dipaksa muncul dengan ambience sangat mirip hingga ke pemilihan penggunaan akordion ala Yann Tiersen di film itu.

             Di satu sisi, semua ini bisa menampilkan atmosfer eye-catching yang selain tak biasa juga memberi batas-batas terhadap absurditas penceritaan serta komedinya, namun di lain sisi, ini benar-benar terasa tak kreatif mengingat source inspirasi yang diambil Upi pun bukanlah film obscure yang luput disaksikan banyak orang. Though however, sebagai sebuah hiburan, ‘My Stupid Boss’ memang berhasil tampil cukup meriah dan bisa membuat pemirsanya tertawa serta related ke subjeknya. Satu lagi yang terpenting, ia memang sudah membidik sasaran pasarnya dengan tepat. Suka atau tidak, ini sudah menjadi fenomena spesial, bahwa dalam kondisi industri film kita yang naik turun dan sangat susah diprediksi, ‘My Stupid Boss’ dalam konklusi terdalamnya – adalah sebuah kecermatan membaca pasar. (dan)

AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA; PESAN KLISE DENGAN PENGGARAPAN SEIMBANG

•May 25, 2016 • 2 Comments

AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA

Sutradara: Herwin Novianto

Produksi: Film One Productions, 2016

Aisyah

            Biar sekarang tengah sangat berkembang di sinema kita, film luar bukannya sama sekali tak punya artikulasi terhadap tema-tema religi. Ada yang menyebutnya biblical genre, religious films dan banyak crossover yang memuat unsurnya, tak salah juga bila ia disebut genre ataupun subgenre. Lagi-lagi, film bukanlah ilmu pasti, bukan pula berdasar teori dari satu literatur. Semua tentangnya dibangun atas persepsi dan pergerakan macam-macam industri yang berbeda. Satu yang jelas, kala kita memuat keyword-nya di mesin pencari, sejauh list film-filmnya muncul, terserah mau menyebutnya apa, dan tak ada definisi baku soal itu.

            Membentuk trend di sinema Indonesia, baik dari nama maupun sematan love story yang selalu paling populer berjalan bersamanya, ‘Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara’ yang lebih ke drama atau bisa pula disebut film anak awalnya juga dihujani nyinyiran pengguna sosmed sebagai ciri khas publik kita. Film yang datang dari rumah produksi yang sebelumnya melempar ‘My Idiot Brother’ dan ‘Sebuah Lagu Untuk Tuhan’, keduanya bukan film yang menonjol ini – memang awalnya melansir teaser poster dengan banyak kesalahan penulisan sehingga jadi sasaran socmed bully. Tampilannya yang bersahaja juga tak terlalu menarik minat banyak orang, hingga di satu titik kita tahu setelah mereka melakukan perbaikan posternya; dalam jualan paket yang tak jauh berbeda dengan film-film religi, ada premis menarik yang diembannya, soal guru wanita berhijab yang mengajar anak-anak Atambua yang beragama Katolik.

            Lantas, dalam filmografinya, Herwin Novianto, juga mungkin tak terlalu dilirik oleh banyak orang. Baru membuat tiga film layar lebar, debutnya ‘Jagad X Code’ yang cukup unik kemudian berlanjut ke ‘Tanah Surga… Katanya’ yang meski membuahkannya Piala Citra (berikut Vidia di tahun yang sama untuk sebuah FTV produksi Demigisela) yang bukan sama sekali tak layak menang, tapi sempat diwarnai kericuhan dan tuduhan-tuduhan kontroversial soal lobi-lobi di seputar event-nya, Herwin sebenarnya cukup konsisten menghasilkan karya-karya yang baik.

            Toh pertanyaan terpentingnya tetap adalah ‘Aisyah’ dengan subjudul ‘Biarkan Kami Bersaudara’ ini akan mendarat ke arah mana. Ada banyak sekali film kita yang dibangun dengan pengenalan wilayah-wilayah remote area untuk menyemat pesan-pesan edukatif baik sebagai film anak atau religi, dan tak banyak yang berakhir sebagai sekedar polesan tanpa makna yang tersisa. Tak ada juga yang salah dengan pesan dalam film, moral ini atau apapun sebutannya, sejauh bukan disampaikan dengan preachy dan menggurui ke hadapan wajah kita. Toleransi itu penting dan terus mesti disuarakan, kita semua tahu itu. Dari sana, persepsi ini mulai berubah kala resepsi-resepsi di gala premiere-nya menyiratkan sesuatu yang sangat menggembirakan.

            Memegang pesan mendiang sang ayah untuk selalu membagi ilmu, Aisyah (Laudya Cynthia Bella) yang tinggal di sebuah desa di Ciwidey, Jawa Barat, mengejar cita-citanya menjadi seorang guru. Walau ditentang ibunya (Lydia Kandou) yang menganggap Aisyah hanya mencari pelarian atas calon suaminya, Jaya (Ge Pamungkas) yang dikirim untuk bertugas ke Aceh, Aisyah menerima tawaran dari sebuah yayasan untuk mengajar di Dusun Derok, Desa Motadik, Kabupaten Timor Tengah Utara – yang terpencil dan jauh dari peradaban modern. Menghadapi lingkungan baru ini Aisyah tak bisa langsung beradaptasi dengan baik. Satu karena sosoknya yang berhijab ternyata dikirim untuk menggantikan Suster Maria secara bertolak belakang, ia harus berhadapan dengan perbedaan tradisi, kepercayaan sekaligus penolakan.

            Premis itu mungkin tak terdengar spesial di balik pesan-pesan klise soal perbedaan dan kerukunan beragama. Tapi tak seperti trailer-nya yang terus terang, agak berpotensi provokatif dan memihak atas tampilan penuh prasangka para objeknya, bersama penyutradaraan Herwin, skrip yang dibesut Jujur Prananto, tetap merupakan salah satu penulis skrip kita yang paling konsisten – ternyata bisa menyemat elemen-elemen plot-nya secara luarbiasa seimbang. Menyusun penggal demi penggal kisahnya, bangunan karakter serta konfliknya mereka gagas di garis batas jelas dan sangat tak biasa dari film-film yang biasa kita lihat.

          Terpeleset sedikit, ia bisa menjadi sama klise, tapi ‘Aisyah’ tak begitu. Ia juga tak terlihat kelewat berusaha menahan emosi-emosi konfliknya berada dalam batas tampilan serba berkelas, termasuk lewat scoring grande Tya Subiakto tapi justru memberi warna kontras terhadap setnya yang serba kering buat jadi sesuatu yang spesial di atas segala kesederhanaan yang ada. Tata kamera dari Edi Santoso pun sama megahnya. Bermain dengan teknik pencahayaan yang berhasil memberi simbol ke shot-shot panoramik namun tahu batas, juga tata suara yang bagus dari Hadrianus Eko Sunu, mereka bersinergi begitu baiknya mengiringi penggalan jelas plot yang membagi dua momen dengan seimbang dalam kontras-kontras konflik antar religinya.

         Selain elemen misi edukasi yang juga digagas dengan pemikiran simpel namun relevan dan penuh makna – saat yang lain bicara terlalu jauh, ia cukup memuat soal penyulingan air bersih – misalnya, turnover karakternya pun tak serta-merta jatuh ke konklusi serba gampang tapi bergerak dengan wajar, manusiawi dan tak pula preachy. Selagi Laudya Cynthia Bella terlihat makin matang meng-handle porsi female lead-nya setelah ‘Talak 3’, tak peduli resiko segmentasi tampilannya yang sekarang berhijab, Herwin bersama pelatih akting Rikrik El Saptaria dan Deky Liniard juga meng-handle supporting cast-nya dengan juara.

          Bukan hanya ke anak-anak Atambua yang tampil sangat natural – terutama Dionisius Rivaldo Moruk sebagai Siku Tavares dan Agung Isya Almasie Benu sebagai Lordis Defam, juga Putri Moruk dari ‘Atambua 39 C’ dalam sematan jokes-nya dan yang paling menonjol meski dialeknya banyak dinilai tak sempurna – masih terlalu Ambon, bukan NTT, Arie Kriting sebagai Pedro. Seperti Mo Sidik dalam ‘Juara’ kemarin, bukan ia tak berfungsi dalam bangunan komediknya, namun ia sukses melepas atribut komikanya untuk beralih benar-benar menjadi seorang aktor pendukung kuat yang penampilan karakternya begitu kita tunggu sepanjang film.

             Di situ pula, Jujur justru bisa leluasa menyemat sindiran-sindirannya menjadi joke-joke lepas yang sama sekali tak sampai menyinggung kedua subjek religinya, bahwa proses interaksi dan pencerahan hati tiap-tiap karakter yang tampil di layar juga bisa terasa begitu menghujam nurani semua kalangan pemirsanya. Begitu banyak adegan yang berpotensi jadi klise dalam menggambarkan toleransi dan kepedulian antar agama tapi lagi-lagi naskah Jujur dan pengarahan Herwin membuatnya muncul dengan sangat halus, indah sekaligus tak pernah gagal membuat pemirsanya tersentuh luarbiasa. Lagi-lagi, tak banyak film sejenis yang bisa begini. Tampilan luarnya boleh saja bernuansa lebih Islami, tapi bukan ia tak memberi balance ke kontras dua religi yang disorot. It’s relieving, too, bahwa di tengah banyaknya pergerakan sinema yang mencoba kelewat ekstrim mendobrak batasan, masih ada orang-orang, para pelaku industri dengan clear conscience yang mau mencurahkan hati ke film-film seperti ini.

            Now go ask yourself. Kapan kita terakhir bisa melihat film Indonesia dengan pesan sejenis yang bisa dengan rapi menampilkan keseimbangan itu. ‘Aisyah’ punya Christmas montage – satu yang sangat jarang ada di film kita – memukau pula bersama hymneGloria in Excelsis Deo’ yang tampil begitu megah buat menengahi film bak intermission di film-film Bollywood, tapi tak lupa juga menyemat kekhidmatan Ramadhan yang membuat pemeluknya ingin segera pulang, berkumpul dengan keluarga saat Lebaran bersama simbol-simbol lain yang bahkan tampil lebih bermakna dari film-film yang dikemas dalam genre sama secara sepihak.

           Jawabannya, mungkin tak pernah. ‘Aisyah’, bagaimanapun adalah sebuah pionir, yang bahkan layak dijadikan sajian menyambut Lebaran dan Natal sekaligus dalam usaha-usaha keberagaman itu. Dengan pesan klise yang disampaikan dengan penggarapan seimbang, surprisingly, this is a gem everyone must see. (dan)

CRIMINAL: A DECENT SCI-FI THRILLER WITH POWER PACKED STARS

•May 24, 2016 • Leave a Comment

CRIMINAL

Sutradara: Ariel Vromen

Produksi: Millennium Films, BenderSpink, Campbell-Grobman Films, Summit Entertainment, 2016

Criminal

            Adalah trend sekarang bagi sebagian aktor-aktor kelas A Hollywood dengan penuaan usia dan penurunan karir untuk bermain di film-film produksi kelas B. Begitupun, produksi B sekelas Summit atau Millennium lebih mirip dengan apa yang dilakukan Cannon Films di tahun ‘80an dulu. Menggabungkan banyak bintang senior dengan nama yang masih sangat diingat dengan beberapa juniornya yang masih sangat settle ke dalam sebuah film yang masih punya tanggung jawab, mereka masih berada di atas produksi-produksi DTV (direct to video) yang lebih sepenuhnya menjual bintang-bintang yang pamornya mulai pudar.

            Sebagai salah satunya, ‘Criminal’ menjadi reuni Kevin Costner, Tommy Lee Jones dan Gary Oldman dari ‘JFK’-nya Oliver Stone yang ada di kelas beda dengan dukungan masih banyak nama dari Alice Eve, Gal Gadot, Michael Pitt hingga Ryan Reynolds dalam penampilan singkatnya.

            Kegagalan agen Bill Pope (Ryan Reynolds) melindungi kebocoran proyek rahasia yang digagas Xavier Hemdahl (Jordi Molla) atas program pemecah kode nuklir buatan hackerThe Dutchman’ (Michael Pitt) yang berpaling ke CIA membuat petingginya Quaker Wells (Gary Oldman) mencari cara untuk memindai memori Pope ke subjek baru buat melacak keberadaan uang tebusannya. Ia pun merekrut Dr. Franks (Tommy Lee Jones), penemu teknologi yang belum pernah dilakukan ke manusia itu. Hanya saja, keterbatasan dalam tahapan risetnya membuat pilihan mereka jatuh ke kriminal berbahaya Jericho Stewart (Kevin Costner) yang tengah ditahan dengan keamanan tingkat tinggi. Eksperimen itu berhasil meninggalkan kekacauan memori Stewart yang kemudian menyambangi istri Pope, Jillian (Gal Gadot) untuk mendapat informasi, sementara Heimdahl tak begitu saja menyerah dan The Dutchman malah berbalik berniat menjual programnya ke pihak Rusia.

            Ada alasan mengapa penulisan skrip ‘Criminal’ diserahkan ke duo penulis Douglas CookDavid Weisberg dari action legendaris Michael Bay, ‘The Rock’. Menggabungkan elemen perekrutan kriminal dengan elemen sci-fi halus ala ‘Face/Off’ namun kini ada di soal perpindahan memori, ‘Criminal’ sebenarnya punya premis sangat fresh di genre-nya. Sayang, sutradara Ariel Vromen dari thrillerThe Iceman’ tak mau repot-repot buat mengeksplorasinya lebih. Action shows-nya cukup baik tapi tetap terasa ada di bujet terbatas – kelas rata-rata produksi Millennium biasanya, sementara konflik dan intriknya sebagai thriller juga tak sepenuhnya dibarengi pace yang benar-benar konsisten di keseluruhan film.

           Begitupun, membelokkannya lebih ke arah action dengan aksi badass bintang gaek ala ‘Taken’ yang meneruskan aksi Costner setelah bermain di pakem yang sama dalam ‘3 Days to Kill’, namun kali ini punya character origin sangat bertolak belakang, mereka masih sanggup menyelingi ‘Criminal’ dengan karakter-karakter sampingan yang selain cukup kuat, juga punya faktor hati cukup besar menuju konklusi berupa setup ke kemungkinan sekuel dalam bentukan karakter utamanya. Elemen sci-fi-nya justru sedikit lebih baik, atas detil-detil medis hingga teknis yang dibangun dari hipotesis sangat masuk akal.

          Penampilan Oldman dan Lee Jones dengan interaksi mereka di beberapa adegan penting, plus Gal Gadot yang kali ini mengeksplorasi peran cukup berbeda masih bisa muncul tak sekedar jadi tempelan tak penting menuju konklusi pembuka franchise yang ada di pengujungnya. Di luar penampilan Alice Eve, Michael Pitt plus Ryan Reynolds yang hanya mengisi prolognya, masih ada juga nama-nama seperti Antje Traue (‘Man of Steel’) dan Jordi Molla, namun sayang Scott Adkins tak bisa digunakan maksimal buat penekanan aksi badass action-nya.

         So, ini jelas tak jelek, bahkan jauh lebih baik juga – kalau ada yang membanding-bandingkannya – dan ini tak salah, dengan sci-fi thriller Ryan Reynolds, ‘Self/Less’ yang agak senada namun sebenarnya jauh berbeda. Hanya saja, kita bisa tahu jelas kalau dengan potensi yang dimilikinya, ‘Criminal’ sebenarnya bisa jauh lebih lagi dari ini. Still, a decent sci-fi thriller with  power packed stars. (dan)

X-MEN: APOCALYPSE; PUZZLES, HINTS AND ENCLOSED ROLLER COASTER – 3D RIDE

•May 22, 2016 • Leave a Comment

X-MEN: APOCALYPSE

Sutradara: Bryan Singer

Produksi: Marvel Entertainment, Bad Hat Harry Productions, The Donners’ Company,  Hutch Parker Productions, Kinberg Genre, 20th Century Fox, 2016

Xmen Apocalypse

            9 instalmen dalam waktu 16 tahun – termasuk ‘The Last Stand’ yang tak lebih dari sampah, pantasnya dilupakan saja – dan kegagalan ‘X-Men Origins: Wolverine’ oleh resepsi kritikus dan unfinalized screener yang bocor di internet sehingga memupus excitement-nya – tentu tetap merupakan kesuksesan. Walau begitu, ‘Apocalypse’ ini secara timeline merupakan seri ketiga dalam kontinuitas universe peremajaan franchise-nya dan jadi terusan ‘Days of Future Past (DoFP)’ yang lebih berupa bridge untuk merombak blunder besar ‘The Last Stand’, dengan penggantian cast ke aktor-aktor yang lebih fresh. Selagi universe itu sudah punya ikon-ikon barunya, ‘Apocalypse’ menambah lagi deretan aktor-aktor muda sebagai cast-nya.

            Menyambung hint di after credits sceneDoFP’, ‘Apocalypse’ dimulai dengan introduksi ke En Sabah Nur (Oscar Isaac), mutan tertua dari zaman Mesir kuno yang bangkit lagi di tahun 1983 dan menjalankan misinya merekrut kaki tangan baru ‘The Four Horsemen’; mutan Storm (Alexandra Shipp), Psylocke (Olivia Munn), Angel (Ben Hardy) dan sasaran akhirnya; Erik Lehnsherr alias Magneto (Michael Fassbender) yang menghilang untuk memulai hidup baru setelah perpecahannya dengan Profesor Charles Xavier (James McAvoy) ke Polandia.

       Sementara Mystique (Jennifer Lawrence) membawa Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee) ke sekolah mutan Charles bergabung bersama Cyclops (Tye Sheridan), Beast (Nicholas Hoult) dan Jean Grey (Sophie Turner), mereka menyelidiki keberadaan Sabah Nur lewat agen CIA Moira MacTaggert (Rose Byrne). Namun serangan Sabah Nur tetap tak bisa dicegah, apalagi ada gerakan antimutan dari militer William Stryker (Josh Helman) yang berniat menangkap mereka ke fasilitasnya. Dengan Quicksilver (Evan Peters), putra Magneto yang ikut bergabung untuk menyelamatkan ayahnya, pertempuran antara para mutan ini pun kembali pecah di tengah usaha Sabah Nur menguasai kekuatan mereka sekaligus menghancurkan dunia.

             Kembali ke tangan Bryan Singer setelah pembuka yang fresh dari Matthew Vaughn (‘First Class’), sejak ‘DoFP’ yang lebih berupa perbaikan keseluruhan, franchise ini memang seakan dibawa Singer kembali ke tradisi awalnya. Bersama skrip dari Simon Kinberg, pentolan Marvel di Fox, over his ups and downs in the Fox’s Marvel universe, crossover dan rombakan universe-nya mau tak mau memang menyisakan banyak puzzle yang jelas lebih bisa dipahami secara mendalam oleh tiap lapisan beda fans-nya sehingga mungkin punya dampak kecil ke guliran pace-nya.

          Selagi James McAvoy dan Michael Fassbender mengulang peran mereka yang makin solid atas love-hate relationship Prof. X / Charles Xavier dan Magneto, begitu juga karakter-karakter yang sudah muncul dari ‘First Class’ menjadi ikon franchise-nya, Jennifer Lawrence dan Rose Byrne serta Nicholas Hoult, Lucas Till dan mostly Evan Peters dari ‘Days of Future Past’ yang kembali mengulang scene-stealer quality-nya sebagai Quicksilver – dikemas pula sebagai ikon yang membawa sematan ‘80s pop culture yang seru dari homage-homage ke Atari, Pac-Man, Pinball bahkan The Six Million Dollar Man dan hit single ’80an EurythmicsSweet Dreams (Are Made of This)’, sayangnya sebagian cast muda barunya tak bisa menampilkan kualitas merata dengan mereka.

           Kecuali Tye Sheridan sebagai Scott Summers / Cyclops, salah satu karakter ‘X-Men’ terpenting yang sempat dirusak habis-habisan oleh Brett Ratner di ‘The Last Stand’, dan Sophie Turner dari ‘Game of Thrones’ sebagai Jean Grey, cast muda lainnya tergolong sangat lemah. Olivia Munn sebagai Psylocke mungkin sedikit tertutup oleh babe status dari kecantikan fisiknya, namun baik Kodi Smit-Mc-Phee yang jatuh kelewat annoying sebagai Nightcrawler dan Ben Hardy sebagai Angel – muncul dengan kuat di balik kemiripan sosoknya dengan Ben Foster di awal namun tertinggal di belakang setelahnya – tak cukup kuat. Yang terparah adalah Alexandra Shipp sebagai Storm. Bukan hanya karena cukup sulit menyaingi ikon yang sudah dibentuk Halle Berry, ia terlihat sama sekali tak punya ketangguhan sebagai salah satu rekrutan En Sabah Nur – yang diperankan cukup baik oleh Oscar Isaac di balik makeup namun memang terasa belum maksimal sebagai iconic villain seperti yang dipaparkan dalam skripnya. Sebagai William Stryker, Josh Helman juga terasa kelewat singkat.

        Begitupun, secara keseluruhan, walau masih ada kekurangan di skrip Kinberg, penyutradaraan Singer tetap bisa mengemasnya dengan menarik terutama lewat action seru plus tampilan 3D – sejauh ini paling baik di tahun ini – bak atraksi enclosed/indoor roller coaster di theme park, a really wild one, membuat re-introduksi itu bisa berjalan lancar bersama hint-hint karakter baru sekaligus kejutan-kejutan wajib ala franchise-nya yang paling ditunggu dari penampilan singkat Hugh Jackman. Masih ada juga komposisi main theme yang paling memorable dari keseluruhan franchise-nya oleh John Ottman.

             So, ini memang akan terpulang lagi pada banyak persepsi berbeda dari fans dan para pemirsanya. Selagi generasi terdahulu akan tetap menganggap ‘X-2’ sebagai titik kulminasi franchise-nya sementara tetap banyak yang memilih ‘First Class’ sebagai ultimate benchmark, Singer tetap membawa ‘Apocalypse’ ke pencapaian terdekat dengan dan nyaris seseru ‘X-2’ dengan blend elemen-elemen yang ada. Namun satu yang jelas, dengan hit and miss itu, bersama hint menarik yang disisipkan ke kejutan penampilan Hugh Jackman serta after credits scene-nya, kelanjutan franchise berikut instalmen soloX-Men’ masih akan terbentang sangat panjang ke depannya nanti. (dan)

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,347 other followers