MIDNIGHT SHOW: A FUN SPLATTER FEST OVER TRIVIAL ATMOSPHERE OF OUR ‘90S CINEMA

•January 18, 2016 • 1 Comment

MIDNIGHT SHOW

Sutradara: Ginanti Rona Tembang Asri

Produksi: Renee Pictures, 2015

midnight show

            Meski ada, walaupun jadi salah satu genre yang tak pernah mati in terms of movies, tak banyak film ber-genre slasher thriller dalam sejarah sinema kita, apalagi kalau bicara soal kualitas. Tipiskan lagi menjadi (blood) splatter fest, maka yang tinggal mungkin tak sampai hitungan jari. Selain Mo Brothers, tentunya, kini produksi ke-4 Renee Pictures, rumah produksi yang dimotori oleh Gandhi Fernando (bersama Laura Karina) dan terus menyuguhkan diversifikasi genre berbeda di film-film produksinya, mencoba mengeksplorasi genre ini. Biar tak punya pengalaman, bukan berarti amunisinya tak ada. Menggamit Ginanti Rona Tembang Asri, sutradara wanita pula, yang meski dulu pernah terekam kreditnya dalam salah satu melodrama kultur Batak yang terlupakan, ‘Rokkap’, namun setelah itu berada di balik ‘Rumah DaraMo Brothers dan ‘The Raid’ serta segmen ‘Safe Haven’-nya Gareth Evans di ‘V/H/S 2’ sebagai assistant director.

Sudah begitu, ide cerita dari Gandhi pun terasa cukup fresh. No, bukan tak ada sebelumnya horror berlatar gedung bioskop yang kesannya sangat trivial buat para fans dan moviegoers. Namun referensi Ginanti Rona (Gita) mungkin membuat kemasan ‘Midnight Show’ jadi berbeda selain juga tak berada di genre yang sama. So, lupakan tuduhan-tuduhan terhadap ‘Coming SoonThailand ataupun ‘Demons’-nya Dario Argento. Ada pendekatan-pendekatan giallo yang cukup kental, namun dibangun di atas atmosfer trivial ke scene sinema kita tahun ’90-an, dan mereka membangunnya dengan keseriusan tinggi dari set hingga sempalan artistik yang memang tak dimaksudkan benar-benar nyata karena kotak terbesar filmnya tetap ada di genre fantasi.

            Selanjutnya tentu saja lineup cast-nya. Okay, mungkin masih terus ada kritikan atas acting effort Gandhi yang jelas tak juga salah buat memilih kontrol penuh di film-film produksinya sendiri, sementara Ratu Felisha sudah cukup akrab dengan genre-genre sejenis, namun tentu juga naik kelas dalam skup produksinya. Tapi yang paling menarik adalah pemilihan Acha Septriasa sebagai lead-nya. Sudah terlalu lama agaknya status Acha sebagai salah satu nama di lini terdepan diva sinema kita terus-menerus diuji dalam genre drama atau romcom, hingga saat ia mencoba keluar dari comfort zone itu, hasilnya pasti sebuah ekspektasi tinggi.

            Mengambil setting di sebuah bioskop bernama Podium tahun 1998 – saat sinema kita tengah berjuang dengan film-film miskin kualitas, pemilik bioskop Pak Johan (Ronny P. Tjandra) mempertaruhkan masa depan usahanya pada pemutaran midnight show film ‘Bocah’ yang diangkat dari kisah nyata seorang anak bernama Bagas (dalam sekuens kejadian aslinya diperankan Raihan Khan) yang membantai keluarganya sendiri. Dengan tiga pegawai yang bertugas, Juna si projectionist (Gandhi Fernando), Allan (Daniel Topan) dan counter girl Naya (Acha Septriasa), penonton memang berdatangan, diantaranya ada Guntur (Ade Firman Hakim), Seno (Arthur Tobing), pasangan PSK dan pelanggannya Sarah dan Ikhsan (Ratu Felisha dan Boy Harsya), namun seketika pemutaran itu berubah menjadi teror yang menempatkan nyawa mereka berada di ujung tanduk atas amukan sosok misterius yang mulai membantai semuanya satu-persatu.

            Okay. Mengeksplorasi genre yang masih tergolong rare di sinema kita ini, ‘Midnight Show’ dengan skrip yang ditulis oleh Hussein M. Atmodjo bukan sama sekali tak punya kekurangan. Penggarapannya secara keseluruhan masih meninggalkan beberapa diskontinuitas yang agak mengganggu, and if not plot holes, kita bisa melihat bahwa ada jalinan twist – yang meski bukan tak bagus, agak berputar dengan tingkat kesulitan visual lumayan tinggi yang mungkin belum terlalu bisa diserap begitu saja proses-prosesnya oleh kebanyakan penonton kita. Penempatan dialog-dialog buat membangun motivasi dan pengenalan karakternya juga tak sepenuhnya sempurna dengan taruhan terbesar pada konsistensi pace-nya.

            However, kekurangan-kekurangan ini cukup bisa tertutupi atas kesetiaan Gita membangun wujudnya sebagai pure genre movies – yang lagi-lagi jarang-jarang ada di film kita – atas  referensi-referensi yang dimilikinya dengan pengalaman tadi. Feel splatter fest-nya memang kelihatan sekali digagas tanpa kompromi. Ada detil dan perhitungan-perhitungan yang cukup cermat dan jelas terlihat dalam bangunan feel ini secara keseluruhan, dari tata artistik Aek Bewava, pace editing Andhy Pulung serta kamera Joel Fadly Zola yang cukup taktis meng-handle single & claustrophobic set itu termasuk theme song moody-jazzy berjudul ‘Sang Penikam’ yang dibawakan penyanyi Malaysia Mohd. Noh Salleh, hingga satu elemennya yang terbaik, trivial atmosphere-nya menyemat permainan hidup dan mati para karakter itu di atas set bioskop jadul akhir ’90-an yang dibangun dengan keseriusan tinggi. Tata suara dan sound dari Jerapah pun membentuk blend yang bagus ke bombastisme feel giallo serta splatter fest-nya.

            Deretan cast-nya juga bermain cukup baik. Ada usaha dengan peningkatan cukup baik dari Gandhi sendiri, lantas sementara Ratu Felisha memang selalu bisa bekerja di genre-genre sejenis, ada beberapa yang menonjol diantaranya Gesata Stella, Ronny P. Tjandra, Ade Firman Hakim, pemain senior Arthur Tobing, pemenang Piala Citra 2014 Yayu A.W. Unru dalam penampilan singkatnya, cameo Zack Lee hingga Ganindra Bimo, news presenter – actor yang baru kali ini benar-benar mengeksplorasi aktingnya dengan hasil cukup mengejutkan. Tapi kredit terbaiknya tetap terpulang pada Acha Septriasa yang ternyata bisa beranjak dari comfort zone tadi memerankan Naya tanpa harus berlebay-lebay menjadi sekedar scream queen seperti yang dibutuhkan genre sejenis.

            So, ini memang bukan saja memberikan pencapaian paling baik dari usaha Gandhi dengan Renee Pictures-nya mengeksplorasi diversifikasi genre film-filmnya, tapi juga berhasil tampil sebagaimana yang mereka mau dengan faktor keberanian cukup tinggi dalam segala effort-nya. Dengan pameran cipratan darah yang tak berusaha buat ditahan-tahan dalam memberikan cinematic experience seru buat fans genre-nya, juga kekuatan trivial atmosphere tadi, ‘Midnight Show’ menjadi sajian pembuka tahun yang sangat layak buat disimak. A fun splatter fest over trivial atmosphere of our ‘90s cinema! (dan)

 

THE BIG SHORT : THE IMPORTANT YET ALSO EGOCENTRIC CAUTIONARY TALE OF FINANCIAL CRISIS

•January 17, 2016 • Leave a Comment

THE BIG SHORT

Sutradara: Adam McKay

Produksi: Plan B Entertainment, Regency Enterprises, Paramount Pictures, 2015

the big short

            Sebagai salah satu Oscar contender dan ajang-ajang penghargaan sejenis tahun ini, ‘The Big Short’ adalah sesuatu yang unik. Bukan hanya karena cast-nya terisi oleh nama-nama besar dari Christian Bale, Ryan Gosling, Steve Carrell sampai Brad Pitt, tapi mengangkat subjek penting dari krisis finansial 2007-2008 yang menimpa AS dan mungkin juga global akibat penggelembungan kredit di balik pasar real estate, diangkat dari buku berjudul sama karya Michael Lewis, ia memilih cara beda untuk penyampaiannya. Bernada penuh sindiran, kreatornya, Adam McKay, adalah sineas multitalenta yang selama ini lebih dikenal lewat film-film komedi Will Ferrell termasuk produser ‘Daddy’s Home’ barusan.

            Menyorot balik awal-awal krisis itu di tahun 2005, ada sejumlah karakter nyata – based on true events – yang saling berinteraksi dalam ‘The Big Short’. Dokter yang meninggalkan profesinya untuk jadi manajer investasi, Michael Burry (Christian Bale) mengambil tindakan nekad atas prediksinya bahwa pasar penjualan rumah akan kolaps di tahun-tahun berikutnya akibat transaksi swap kredit-kredit investasi yang menggelonjor ke luar batas. Sementara trader Jared Vennett (Ryan Gosling) yang percaya dengan prediksi Burry lantas mengajak manajer investasi lain Mark Baum (Steve Carrell) mengambil tindakan dan menemukan penjualan obligasi hutang aset (CDO) ada di balik prediksi Burry, dan masih ada dua investor muda oportunis (John Magaro & Finn Wittrock) yang menggandeng bankir pensiunan Ben Rickert (Brad Pitt).

            Hal terbaik dari ‘The Big Short’ adalah tampilan satir hingga sarkasmenya, terasa juga penuh kemarahan buat merekonstruksi kejadian aslinya lewat teori-teori yang disampaikan lewat sinematografi Barry Ackroyd, clever use of visual montage dan rapid-fire editing dari Hank Corwin dan menempatkan karakternya, termasuk cameo Margot Robbie dan Selena Gomez dalam teknik ‘breaking the fourth wall’ untuk berbicara bahkan memberi penjelasan pada penonton. Bermain dengan gimmick-gimmick ini, walau juga bukan sepenuhnya baru dan mungkin sudah biasa kita lihat di genre berbeda, McKay seolah membentuk struktur penceritaan yang unik buat menggiring audiensnya ke subjek dan permasalahan kompleks soal krisis finansial yang dibahasnya.

               Akting para aktor kelas satu itu pun jangan ditanya. Nothing was too special about Brad Pitt or Ryan Gosling, namun Bale dan Carrell adalah elemen-elemen terbaiknya. Namun sayangnya, skrip Adam McKay dan Charles Randolph tetap terasa sangat egois bagi pemirsa non-AS yang memang di luar pelaku bisnisnya, pun economy enthusiasts – seolah tak mengalami benar dampak krisisnya secara langsung apalagi yang tak memahami istilah-istilah ekonomi makro dan tetek-bengek lain soal perbankan. Ini membuat ‘The Big Short’, walaupun unik, bagus sekaligus cerdas di satu sisi, buat kebanyakan pemirsa di luar subjek itu memang memerlukan pemahaman lebih untuk bisa benar-benar dinikmati, atau siap-siap keluar dengan kepala pusing bila tak sepenuhnya memahami apa yang tengah mereka bicarakan. Yes, it bears important subjects, but also an egocentric cautionary tale of financial crisis. (dan)

DADDY’S HOME: A JUMP OFF YOUR SEAT – HOLIDAY COMEDY

•January 7, 2016 • Leave a Comment

DADDY’S HOME

Sutradara: Sean Anders

Produksi: Red Granite Pictures, Gary Sanchez Productions, Paramount Pictures, 2015

Daddy's Home Poster

            Selain formula, yes, komedi juga butuh performa. Will Ferrell jelas masih merupakan satu komedian terdepan di Hollywood. Kembali berkolaborasi dengan Mark Wahlberg yang sebenarnya bukan komedian tetapi pernah bermain bersama Ferrell dalam ‘The Other Guys’, ‘Daddy’s Home’ memang disiapkan buat menyambut liburan akhir tahun. Formulanya juga tak jauh dari holiday atmosphere, menyentil soal keluarga, dalam nafas komedi nyeleneh semurni-murninya ala Will Ferrell dari sutradara-penulis Sean Anders yang juga sudah cukup teruji di genre ini lewat film-filmnya yang dibintangi Jim Carrey hingga Adam Sandler.

            Seperti genre smooth jazz yang digelutinya dalam kerjaan sehari-hari sebagai eksekutif sebuah stasiun radio di California, Brad (Will Ferrell) yang berperilaku smooth dan sensitif sebenarnya sedang bahagia-bahagianya menikmati kehidupan barunya sebagai ayah tiri dua anak dari Sara (Linda Cardellini); Megan dan Dylan (Scarlett Estevez & Owen Vaccaro). Bermodal sebuah buku panduan, walau mengalami banyak rintangan, saat ia mulai bisa mengambil hati mereka, kebahagiaannya terusik oleh kedatangan kembali Dusty (Mark Wahlberg), mantan suami Sara, sosok keras pengemudi Harley yang jauh bertolak-belakang dengan Brad. Dengan agenda yang dimiliki Dusty, dua ayah ini pun lantas bersaing dengan segala cara, dan jelas ujungnya adalah kekonyolan.

            Menyatukan kekonyolan Ferrell dan tough-guy act Wahlberg yang kembali bermain santai seperti dalam ‘The Other Guys’, tak ada yang perlu ditanya lagi dari chemistry komedi keduanya. Anders sukses mengulang kesuksesan kolaborasi mereka dari ‘The Other Guys’, dan masih ada Thomas Haden Church, Bobby Cannavale serta standup comedian Hannibal Buress yang berinteraksi mengisi part comedy masing-masing di antara mereka. Lagi, ‘Daddy’s Home’ memang bukanlah film serius yang harus menyelam terlalu dalam buat menggagas plot-nya, tapi juga bukan berarti sama sekali tak punya hati dalam kemasan keseluruhannya sebagai sebuah holiday comedy.

            Skrip yang ditulis oleh Brian Burns dari ‘You Stupid Man’, John Morris serta Anders sendiri pun tetap menyelipkan sejumlah glimpse menarik soal ‘fatherhood’ untuk menempatkan dua karakter ayah tiri dan ayah kandung ini secara satirikal, berikut sematan-sematan iconic cast utamanya termasuk latar musik yang kuat hingga ke, maaf, joke-joke nyeleneh soal ukuran vital, tapi memang kekuatan terbesar ‘Daddy’s Home’ adalah rangkaian komedinya yang dibangun sedemikian heboh hingga membuat pemirsanya terpingkal-pingkal sampai sakit perut sejak menit-menit awal dengan formula jelas; menempatkan Ferrell sebagai bulan-bulanan namun tetap bekerja sebagai sentral buat memenangkan hati pemirsanya.

           So yes, ini memang bukan komedi dengan konten lebih selain buat menghibur. Dalam tendensi terdasar sebuah komedi, yaitu membangun kelucuan demi gelak tawa pemirsanya, ‘Daddy’s Home’ jelas sudah punya amunisi kuat. A jump off your seat – holiday comedy. Hilarious! (dan)

NGENEST: A CRACKERJACK IN OUR COMICS SCENE

•January 4, 2016 • Leave a Comment

NGENEST

Sutradara: Ernest Prakasa

Produksi: Starvision, 2015

Ngenest

       Dalam trend sekarang, kita punya banyak sekali comics/komika/standup comedians atau apapun pilihan sebutannya, yang punya talenta. Tapi lagi, comedy means signature. Tak jadi masalah mungkin kala mereka disatukan sebagai ensemble dalam film-film seperti ‘Comic 8’ dengan penggalan-penggalan masing-masing, meski ada kesulitan tersendiri lagi buat membentuk chemistry. Tapi ujian sebenarnya adalah kala mereka diserahi film solo-nya. Benar sekarang kita punya salah satunya, Raditya Dika. Then again, sebut berapa yang sudah mencoba, berapa yang sudah berhasil, dan berapa yang butuh waktu lama atau bahkan masih terus mencari kelas yang pas?

            In that case, Ernest Prakasa mungkin ada di segelintir deretan nama yang lebih beruntung. Nanti dulu soal looks yang jatuh-jatuhnya ke soal potensi buat bisa atau tidak dijadikan lead dalam presentasi genre-nya, namun kala yang lain masih mencoba-coba mencari titik beda, dengan racist jokes-nya – tapi ini lebih ke sindiran atas kondisi sosial yang ada – bukan melulu mengejek etnisnya sendiri, walaupun kategorinya ada di self-mocking jokes, Ernest memang sudah punya amunisi kuat.

           Tiga novel series best seller-nya, ‘Ngenest: Ketawain Hidup a la Ernest’ dan apa yang ditampilkannya di tiap standup showcase hingga end credits gimmickComic 8’ sudah menunjukkan itu. Mengulik isu etnis pribumi versus keturunan ke skup pasangan keluarga yang sebenarnya dulu sudah pernah ada di ‘Putri Giok’ (Maman Firmansyah, 1980) yang kontroversial karena memplontoskan kepala aktris utamanya, Dian Ariestya, tapi sangat typically dramatic, ‘Ngenest’ menjadi sesuatu yang sangat berbeda. Isu yang meski sudah sangat terbuka tapi masih kerap jadi sesuatu yang sensitif bak bom waktu di negeri ini, dijadikan landasan buat berkomedi ria.  Joke-joke Ernest yang kita lihat selama ini, sedikit banyak, let’s admit it, too, memang bisa membuat perbedaan itu tak lagi berjarak – menyamakan dua sisi objeknya lewat tawa. So, tak salah sepertinya kalau gayung itu bersambut dengan Starvision yang memberi keleluasaan lebih terhadapnya, sama seperti Raditya Dika pasca ‘Manusia Setengah Salmon’, langsung menempati posisi penulis, sutradara bahkan aktor – walau ini adalah debut solo-nya. Kontennya, ya sama juga, secara itu memang letak andalan joke-nya sebagai komika; dimana sebagian besar memang berasal dari kisah hidupnya sendiri.

              Kisah Ernest (Marvel; kecil – Kevin Anggara; remaja dan Ernest Prakasa; dewasa) pun dimulai dengan traumanya sejak kecil terus-terusan di-bully sebagai etnis Cina yang masih dianggap minoritas. Walau ditentang sahabatnya, Patrick (Winson; kecil – Brandon Salim; remaja dan Morgan Oey; dewasa), Ernest pun terus mencari cara untuk dapat membaur diakui empat bullier-nya; Fariz (Ardit Erwanda), Bowo (Fico Fachriza), Bakri (Bakriyadi Arifin) dan Ipeh (Amel Carla). Trauma ini yang terus terbawa hingga Ernest punya niat menikah dengan pribumi untuk menyelamatkan keturunannya. Di sebuah pusat les bahasa Mandarin sewaktu kuliah akhirnya niat ini terwujud kala ia bertemu dengan Meira (Lala Karmela), yang setelah melewati berbagai rintangan dari orangtua Meira (Budi DaltonAde Fitria Sechan) berhasil dinikahinya, tapi masalah tak lantas berhenti sampai di situ. Ketakutan Ernest atas trauma yang sama masih membuatnya menunda-nunda keinginan Meira dan kedua orangtuanya (Ferry SalimOlga Lydia) buat memperoleh keturunan.

           Yes, it’s not thoroughly sounds like a comedy, tapi di tangan Ernest yang menulis skrip adaptasinya sendiri, menggabungkan tiga buku dalam novel series-nya, plot-nya memang berhasil dibangun dengan joke-joke khas Ernest yang sekaligus memunculkan sebuah signature yang kuat. Tak hanya dalam soal racism, dari segala sindiran sampai aspek-aspek sosial lain masyarakat modern yang memang sedikit banyak agak melawan tradisi, tapi juga ke segmentasi alur yang menempatkan karakter-karakternya ada di ranah berbeda dengan kebanyakan film-film komedi komika lainnya yang lebih sering bicara soal dunia remaja. Di sini, lebih dari separuh penceritaan itu membentuk latar berbeda yang berbicara hubungan-hubungan keluarga secara jauh lebih matur, dan banyak sekali detil-detil sosial bahkan profesi yang belum pernah terlihat bahkan ter-representasikan dalam film-film kita. Salah satu yang paling kuat untuk yang benar-benar mengenal budayanya adalah tokoh MC kawinan Cina, Koh Hengky yang diperankan sangat menarik oleh Elkie Kwee. Namun semuanya tetap tak meninggalkan status utamanya sebagai sebuah komedi dengan signature kuat di self-mocking jokes – sesuai dengan judul novelnya sendiri dan dose of hearts yang membentuk blend cukup seimbang. The laughs are mostly hilarious with more hit than missed, juga momentum dan comedic timing yang tepat – menunjukkan kemampuan Ernest meng-handling genre-nya, dan ada emosi saat alurnya mengharuskannya bergerak ke sana.

            Lagi, bahwa Ernest, memerankan sosoknya sendiri dengan estafet yang bagus dari gestur dan ekspresi bagus Kevin Anggara di tengah seabrek karakter yang dengan bagus dipoles oleh skrip tadi buat memperkuat sentralnya bersama Lala Karmela – penyanyi kita yang sempat berkarir di Filipina, yang tanpa terduga setelah pernah juga menjadi cameo dalam ‘SKJ’, bermain sangat cemerlang sebagai Meira – bisa tampil tanpa canggung sebagai lead yang kuat bahkan saat harus masuk ke dalam dramatisasi skripnya buat menerjemahkan ketakutan-ketakutan karakternya tadi. Mungkin belum lagi sempurna, tapi sungguh bukan kelihatan seperti seorang debutante yang masih benar-benar mentah.

             Lantas, faktor pendukung yang jumlahnya juga tak main-main, jelas sangat tak boleh dilupakan. Mengajak begitu banyak rekan-rekan komikanya melebihi showcase-showcase comics lainnya, dengan porsi peran yang juga sangat terlihat diberi celah lebih buat bisa jadi menonjol bak seorang Adam Sandler sebagai sosok ‘Big Daddy’ terhadap para kolega di film-filmnya, ada Ge PamungkasMuhadkly AchoAwweAdjis Doaibu dan Lolox Ahmad yang paling mencuri perhatian sebagai komika pendamping, sementara penampilan Brandon Salim dan Morgan Oey sebagai Patrick juga menjadi dayatarik tak kalah kuat. Bertransformasi dari peran-peran tipikalnya di film reliji, Morgan menunjukkan bahwa ia sangat layak mendapat sorotan lebih bahkan saat dipaksa melucu dan membentuk bromance chemistry dengan Ernest. Masih ada cameo-cameo menarik dari Henky Solaiman, Ence Bagus, Franda, Arie Kriting, bahkan Meira asli dan dua putra-putri Ernest plus tentunya The Overtunes yang juga menyumbangkan dua single baru bagus mereka, ‘Mungkin’ dan ‘Ku Ingin Kau Tahu’.

          So, dalam genre-nya, apa yang dihadirkan Ernest dan timnya disini, memang punya nilai di atas rata-rata. Jauh di atas gelak tawa kelas heboh yang digulirkan bersama comedic play-nya, ada signature yang kuat terhadap self-mocking jokes khas Ernest – isu-isu ras / etnis yang relevan dan bisa membuat kita menertawakan diri masing-masing ketimbang tersinggung, serta juga segmentasi lebih dewasa dan beda ketimbang tema-tema pre-marital yang menghiasi showcase comics biasanya, plus konklusi berbalut masalah hati yang tak bisa tidak memang jadi bagian dari trend-nya kebanyakan, namun bisa dihadirkan dengan kadar yang tak lantas jadi berlebihan. Bukan hanya jadi blockbuster lokal penutup tahun yang meriah, tapi juga komedi lokal terbaik tahun ini. Tasty, delicious and exceptionally good, a crackerjack in our comics scene. Cengli! (dan)

MY MOVIE JOURNAL : THE BEST MOVIES OF 2015

•December 31, 2015 • 2 Comments

MY MOVIE JOURNAL : THE BEST MOVIES OF 2015

image (38)

            2015 will soon be over and it’s time to put some the best movie list throughout the year. With much better Box Office Record compared to 2014 including the impressive record of ‘Star Wars: The Force Awakens’, 2015 is like The (rare) Year of Blockbusters with so many excitements and revamps of classic franchise (well except ‘Terminator: Genysis’ and ‘Fantastic Four’, of course). Even many awarding events, most likely The Oscars, too, filled with blockbusters. I won’t go any further with a long introduction, and here are my finest this year, based still on various cinematic pleasure that stand stronger than another. Happy New Year, and enjoy!

  1. MAD MAX: FURY ROAD

Best Mad Max

One Aussie classic action franchise which got revamped by the innovative practical stunts rather than effects by George Miller, that even serious critics couldn’t stand to praise. The future belongs to the Mad. What a lovely day!

  1. STAR WARS: THE FORCE AWAKENS

Best Star Wars

Not flaws-free, but filled with lots and lots and lots of WOW moments that brought back the classic franchise’s former glory, this is still a lifetime movie events just like ‘A New Hope’ back then. With the amazing Box Office records, we’ll be going to the galaxy, far, far, away every December since now. May the force be with you!

  1. WHIPLASH

Best Whiplash

A late last year’s list entry from Damien Chazelle. Astounding, extraordinary and keeps improvising just like jazz, with an electrifying performance from J.K. Simmons and Miles Teller, jazz drums never sounds better than this!

  1. THE REVENANT

Best Revenant

Being realistically violent, it’s not thoroughly a pleasant experience, yet it’s hard to snubbed the amazing cinematography from Emmanuel Lubezki, one of the best in cinematic history, Alejandro González Iñárritu’s intense directing and at last, a no holds-barred act from Leonardo di Caprio.

  1. SPL II: A TIME FOR CONSEQUENCES

Best SPL 2

Tak banyak action dengan sempalan dramatisasi, over twist of fate tales pula, yang justru membuat pacingnya makin kencang dengan intensitas tiap pukulan yang makin terasa. Sekuel dengan ide filosofis ini punya pencapaian yang jarang, sekaligus kembali membawa Tony Jaa ke salah satu aksi terbaiknya. A heart punching, bone crunching, nerve-racking, no holds barred action.

  1. JURASSIC WORLD

Best Jurassic World

Same like ‘Star Wars: The Force Awakens’, this is the installment that took the franchise to its former glory after two disappointing sequels.

  1. THE MARTIAN

Best The Martian

Brought humane comedy and 70s disco classic to the Mars adventure with awe-inspiring science details and star studded ensemble cast, this also marks director Ridley Scott’s return-to-form, and much more playful.

  1. DRISHYAM – TALVAR – DUM LAGA KE HAISHA

Best DrishyamBest TalvarBest Dum Laga

Lagi, tiga indie arthouse dari India yang semakin menunjukkan bahwa mereka bisa membentuk ciri sinemanya sendiri, tak perlu ragu berhadapan dengan resepsi kritikus sekaligus penonton kala mempersembahkan karya-karya non mainstream dan out of the box. The first two is a deep – nerve-shredding thriller, dan yang terakhir adalah rom-com dengan pendekatan yang tak pernah terbayangkan, melanggar batas-batas wajib estetika sinema mereka di balik ciri khas Bollywood yang selalu menghadirkan lead female serba jelita.

  1. THE PEANUTS MOVIE

Best Peanuts Movie

Menggabungkan semua elemen-elemen klasik animasi SnoopyCharlie Brown, including Snoopy’s Flying Ace aerial action, stays true to the classic animations, too, this is one of the most delightful cinematic experience this year. Meghan Trainor’s theme song, ‘Better When I’m Dancing’ will also dance your heart away!

  1. BRIDGE OF SPIES

Best Bridge of Spies

Di tangan Steven Spielberg, espionage thriller ini menjadi sebuah film dengan flow yang sangat enak untuk dinikmati tanpa harus jadi serba complicated bak film-film adaptasi John Le Carre. Tom Hanks, bunch of promising young actors dan tentu saja highlight tahun ini di deretan supporting actor terbaik; Mark Rylance. Ini bukan sekedar Hollywood; tapi Hollywood gaya Spielberg..

  1. THE WALK

Best The Walk

Kecuali true event-nya yang memang spesial, tak ada yang terlalu spesial dari storytelling Robert Zemeckis yang memang hampir sepenuhnya menggantungkan pesonanya ke penampilan Joseph Gordon-Levitt. Tapi jangan tanya visualnya. By visuals, which must be seen in 3D and ups, ‘The Walk’ is an extraordinary cinematic experience, yang menempatkan pemirsanya seolah tengah berada di tengah wire-walk asli. A rare visual tour de force. Breathtaking!

  1. THE VETERAN

Best The Veteran

The Veteran’ lagi-lagi menunjukkan kepiawaian sineas Korea mengadopsi tema-tema yang sudah pernah diangkat di Hollywood atau film luar negaranya menjadi suatu racikan baru yang tak kelihatan mengekor, tapi justru punya inovasi yang sangat berciri budaya mereka sendiri. Tak ada yang terlalu bombastis dari plot tough cop vs spoiled rich-kid ala ‘Shaft’ dan ‘New Police Story’ di sini, tapi jangan tanya eksplorasi keseluruhannya, terutama dalam pola-pola pengaturan emosi. A right dose of comedy yang tak merusak tatatan aksinya sebagai sebuah thriller yang manusiawi, tapi justru menguatkan tiap sisi intensitasnya. Dan mereka punya alasan kenapa Oh Dal-Su kini jadi one of the most valuable Korean actors biarpun cukup terbatas di peran-peran pendukung.

  1. FURIOUS SEVEN a.k.a FAST & FURIOUS 7

Best Furious 7

Yeah, you may laugh at this, but do realize. Walau tetap tak bisa menyaingi ‘Fast Five’ sebagai instalmen terbaik dalam serialnya, atas insiden yang menimpa Paul Walker sebagai salah satu pentolan mengapa franchise ini masih terus berjaya sampai sekarang, apa yang dilakukan oleh James Wan, banting stir dari genre spesialisasinya terhadap wrapping akhir ‘Furious 7’ adalah sebuah keadilan luarbiasa, sekaligus ultimate fan services untuk mengantarkan kepergian Walker dengan begitu elegan. Sesuatu yang belum tentu terulang dalam sepuluh tahun in terms of film franchise.

  1. ROOM

Best Room

Ada sesuatu yang sangat spesial dari film Kanada-Irlandia arahan Lenny Abrahamson ini dalam kombinasi thriller yang taktis namun bertransformasi sebagai aftermath drama yang sangat engaging. Plot yang inovatif, dan tak akan sebaik ini tanpa intensitas akting luarbiasa Brie Larson dan aktor cilik Jacob Tremblay.

  1. KINGSMAN: THE SECRET SERVICETHE MAN FROM U.N.C.L.E.

Best KingsmanBest Man from UNCLE

Being all old-fashioned espionage action-thriller rolled into one, dua film penuh homage ini ada di ranah yang berbeda, tapi punya kekuatan seimbang. Satunya adalah ’Kick-Ass’ of espionage action dari Matthew Vaughn – plus nods yang keren ke ‘My Fair Lady’, sementara satunya membuat kita sulit memalingkan wajah dari segala permainan pesona oleh Guy Ritchie yang ada di layar. Bahkan Henry Cavill terlihat lebih ‘Superman’ daripada Superman. Slick, stylish and hip!

HONORABLE MENTIONS:

MR. HOLMES

Best Mr. Holmes

Yeah, bet not many fans eager to see the aging and senile Sherlock Holmes, tapi skrip penuh interkoneksi dan homage yang bagus, storytelling Bill Condon dan performa luarbiasa Ian McKellen bisa membuatnya sebagai aftermath story yang dalam dan sangat menyentuh. Spellbinding!

ANT-MAN

Best Ant-Man

The true core of Marvel’s hearts. Nuff said. (dan)

 

MY MOVIE JOURNAL : THE BEST INDONESIAN MOVIES OF 2015

•December 30, 2015 • Leave a Comment

MY MOVIE JOURNAL : THE BEST INDONESIAN MOVIES OF 2015

image (37)

            Sedikit berubah lagi dari catatan tahun lalu, dengan penurunan jumlah penonton kita di slot akhir tahun yang dianggap sebagai golden moments, bahkan di beberapa tahun belakangan melebihi masa-masa lebaran, film-film blockbuster lokal (terserah memilih sebutan apa, tapi saya memilih menyebutnya dengan istilah ini) akhir tahun ini justru bisa berada di angka perolehan penonton (oh ya, kita memang tak mengambil pattern jumlah nominal hasil penjualan tiket) yang stabil, dengan ‘Star Wars: The Force Awakens’ sebagai rintangan seriusnya, juga ‘Dilwale’ dan ‘Ip Man 3’.

           Ada memang film-film unggulan yang memilih memundurkan jadwal rilisnya, tapi mungkin, dalam masalah struggling di industri perfilman kita serta keterbatasan-keterbatasan lain termasuk sarana ekshibisi, sebagian dari produsennya mulai bisa belajar lebih dalam pengaturan strategi jadwal edar dan hal-hal taktis lain menyangkut pemasarannya. Paling tidak, 5 film yang tetap berani bertaruh di sana; ‘Single’, ‘Bulan Terbelah di Langit Amerika’, ‘Sunshine Becomes You’, ‘Negeri Van Oranje’ dan ‘Ngenest’, terlepas dari bagus atau tidak kualitas keseluruhannya, memang lebih memenuhi syarat untuk tetap bisa menggamit pasar mereka; straight & well known comics showcases, high profile religious movie, serta adaptasi novel kisah cinta yang tak perlu terlalu njelimet di balik star factors-nya.

         Ini, paling tidak tetap memberikan harapan terhadap kelangsungan industri film kita nanti. Di saat sebagian produsen tetap memilih cara-cara gampang dengan produk-produk kacangan berbiaya murah buat jualan bersama selera penonton yang masih sangat besar rentang batasnya, sementara militansi-militansi yang tetap mau mengubah arah (dan terkadang dibantu endorsement pihak luar yang bermain jauh dalam politisasi festival-festival film internasional) serta kepentingan-kepentingan tertentu semakin menancapkan tajinya dengan kemenangan ‘Siti’ dan beberapa kategori utama di FFI (Festival Film Indonesia) kemarin, dukungan paling layak sebenarnya ada pada jalur yang berjalan di tengah-tengah. Sineas dan filmmaker yang berjuang lebih untuk membuat konten baik namun tetap komersil.

             So again, let’s keep on hoping. Paling tidak, meski harapan-harapan ini tampaknya semakin blur di tengah visi dan pandangan yang saling berbeda di antara asosiasi-asosiasi insan perfilman yang mulai terpecah-pecah, BPI (Badan Perfilman Indonesia) yang sejak tahun lalu sudah mulai menarik penyelenggaraan event-event awarding ke tangan mereka bisa terus berjalan dengan seimbang. Dan tetap, usaha-usaha dari pencinta film Indonesia seperti yang ada di Piala Maya, dengan penyelenggaraan ke-4-nya Desember barusan semoga tetap bisa menjadi jembatan untuk mengajak semua stakeholder film Indonesia duduk bersama tanpa batasan-batasan kepentingan serta jadi alternatif untuk tolok ukur yang lebih bisa diterima kalangan masyarakat yang lebih luas sambil terus mengkampanyekan jargon-jargon #BanggaFilmIndonesia ,dan bahwa tetap ada film-film baik yang layak mereka tonton, apresiasi tanpa harus mengorbankan selera dan unsur-unsur hiburan.

         So here’s my list of this year’s best Indonesian movies. Really want it to be 15, tapi apa boleh buat, mudah-mudahan tahun depan akan lebih banyak lagi. Di luar pencapaian-pencapaian mutlak sebagian karya, sebagian diantaranya mungkin masih punya kekurangan yang jelas, tujuannya lagi-lagi hanya satu. Bahwa perjuangan bersama selalu dimulai dari pribadi-pribadi yang peduli, dan untuk film Indonesia agar ia bisa hidup terus, tanpa harus meletakkan standar terlalu kaku dalam sisi penilaian melainkan lebih ke effort-effort yang patut diberi apresiasi lebih. Mari dukung terus, dan terus Bangga Film Indonesia.

 

1. GURU BANGSA TJOKROAMINOTO (Pic[k]lock Productions, Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto, MSH Films; GARIN NUGROHO)

FI Tjokro

Benar bahwa mungkin dalam usahanya melestarikan visi-visi perjuangan Tjokroaminoto secara mendetil, film ini belum bisa sampai ke tahapan itu melainkan baru hanya sekedar membuat kita semakin kenal siapa beliau. Namun dalam rentang (terlalu, mungkin) panjang sejak ‘November 1828’-nya Teguh Karya sebagai sebuah kisah perjuangan yang dikemas dalam style historical opera, di tangan Garin Nugroho dan para penggagasnya; Dewi Umaya, Christine Hakim dan Nayaka Untara sebagai pemegang langsung family legacy-nya, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ adalah karya yang benar-benar mengingatkan kita pada pencapaian-pencapaian monumentalnya. Serius, grand, megah, menyemat banyak aspek yang relevan, detil dalam tiap kategori teknis sekaligus luarbiasa indah. Paling tidak, ia tak henti mengingatkan kita bahwa sebuah rekonstruksi visual, apalagi kala kita tengah bicara sejarah, bukanlah sesuatu yang bisa digagas hanya dengan sekedar main-main. Sayang sekali momen yang sangat pas dan kena dengan tema ‘Tribute to Teguh Karya’ di FFI barusan tercuri oleh ‘Siti’ – oleh kepentingan-kepentingan dan euforia kelompok tertentu, yang jelas tak mewakili segmentasi terbesar pencinta film kita.

 

 

2. 3 (ALIF – LAM – MIM) (FAM Pictures, MVP Pictures; ANGGY UMBARA)

FI Alif Lam Mim

Nanti dulu soal style storytelling dan sinematis Anggy Umbara yang mungkin masih sulit diterima sebagian kalangan dari pelaku industri hingga penonton. Tapi apa yang ada dalam ‘3’ adalah sebuah bold and daring effort yang menolak berkompromi pada keterbatasan-keterbatasan yang selama ini ada. Cara Anggy menaikkan lagi standar aksi yang sudah dimulai lewat ‘Comic 8’ walaupun hampir sepenuhnya bertumpu pada penggunaan efek – sebenarnya sudah punya potensi besar untuk membentuk franchise baru dengan penokohan kuat di tengah conspiracy plot yang berani, sekaligus membawa pattern baru dalam stagnansi genre film-film kita. Sayang resepsinya masih jauh dari yang diharapkan. However, apa yang sudah ia mulai, seharusnya tak cukup hanya berhenti disini.

 

 

3. MENCARI HILAL (MVP Pictures, Studio Denny JA, Dapur Film Productions, Argi Film, Mizan Productions; ISMAIL BASBETH)

FI Hilal

Sulit untuk tak terlalu teringat dengan ‘La Grand Voyage’ yang memang masih jadi ‘one of a kind’ dalam genre-nya. Tapi paling tidak, setelah selama ini kita tidak punya official movie buat menyambut momen Lebaran yang benar-benar layak, apa yang dihadirkan Ismail Basbeth – tanpa harus terlalu banting stir mengorbankan idealismenya di ranah indie dan arthouse (kecuali di beberapa filmnya yang lagi-lagi mengumbar kenakalan) bisa menyajikan kehangatan luarbiasa di tengah tema father to son, chemistry Deddy Sutomo – Oka Antara serta suntikan reliji yang tak harus jadi tipikal seperti film-film bernuansa reliji yang lain.

 

4. NADA UNTUK ASA (MagMA Entertainment, Sahabat Positif – Komsos KAJ; CHARLES GOZALI)

FI Nada Untuk Asa

Being something that I’m involved in, as a creative consultant in MagMa Entertainment, bukan berarti pemilihannya harus melulu berarti personal. The truth, this is one of the most well-received Indonesian movie this year by our critics in http://www.idfilmcritics.com. Tetap ada kritikan yang mungkin dialamatkan ke cinematic looks-nya secara keseluruhan – atas keterbatasan yang ada – namun sebagai bagian dari tim produksinya, hasil yang dicapai Charles Gozali dalam ‘Nada Untuk Asa’ tetap membuat saya bangga terlibat di dalamnya. Satu karena ‘Nada Untuk Asa’ tetap ada di garis batas tegas untuk tak terjebak sepenuhnya ke tipikalisme disease porn ala film kita, HIV/AIDS in this case, yang walau sebagiannya inevitable tapi sejak awal dimaksudkan untuk tetap berada sebatas latar motivasi justru untuk memuat rare – uplifting fest di ujung satunya. Dalam storytelling paralel yang tak biasa dan penempatan ending yang tak juga harus serba klise, ia tak bermaksud mengajak pemirsanya untuk bertangis-tangis dalam sebuah suffering scenes, tapi lebih dari itu, to celebrate life dan berjuang untuk orang-orang yang kita cintai sejauh mana pun tantangannya. How far would you go for someone you loved ?. Selain kuat di segi performa terutama oleh Marsha TimothyAcha SeptriasaDarius SinathryaMathias Muchus dan Wulan Guritno, ada muatan info medis yang bukan serba salah kaprah seperti rata-rata disease porn kita, ajakan untuk tak sekedar melakukan blind campaign buat memupus stigma-stigma ODHA melainkan dari dua arah, dan satu lagi catatan penting. Bahwa skrip yang ditulis Charles, dalam kepentingan joint production-nya bersama KOMSOS KAJ dengan balance ke sebagian besar unsur produksi yang bukan pula pemeluk agamanya, bisa memuat nilai dan simbol-simbol Katolik tanpa harus jatuh lagi-lagi ke genre reliji yang serba preachy.

 

5. A COPY OF MY MIND

FI ACOMM

Ada perbedaan jelas antara kebanyakan arthouse – indie kita yang sulit menghindari persepsi-persepsi fetishisms, di antara mencoba-coba nakal atau memang sengaja nakal. Joko Anwar adalah seorang sineas terdepan industri kita yang memang selalu sangat bold menyampaikan ide-ide dalam karyanya tanpa harus lari jauh serta melebar kemana-mana untuk kepentingan sambil-sambilan. Menawarkan sensualitas dan intimacy – never before seen – di film Indonesia mana pun,  apa yang dihadirkan Joko lewat karakter utamanya (Chicco Jerikho & Tara Basro dalam chemistry juara mereka) punya relevansi kuat ke tiap twists and turns plot-nya. Sebuah extreme romance yang luarbiasa liar, distinctive, namun tanpa harus kehilangan feel serta inner beauty-nya sebagai widely acceptable arthouse yang tetap punya ‘rasa’.

 

6. TOBA DREAMS (TB Silalahi Center, Semesta Production; BENNI SETIAWAN)

FI Toba Dreams

Not without flaws, bahkan ada satu kepentingan yang sangat krusial, tapi ‘Toba Dreams’ adalah film yang menunjukkan bahwa usaha-usaha lintas genre, serba ada, campur aduk ala Bollywood atau apapun sebutannya, dalam menyajikan hiburan tetap bisa berjalan tak tumpang tindih bersama nilai-nilai yang bisa tersampaikan tanpa mesti cerewet ala tetek bengek pesan moral, dan tetap pula bisa tampil sangat berkelas di tengah dukungan sineas dan aktor-aktor yang tepat. ‘Toba Dreams’ jelas menjadi contoh jarang dalam pencapaian-pencapaian yang banyak kita jumpai dalam film-film klasik kita dulu. Father to son drama-nya terasa begitu kuat di chemistry Vino G. Bastian dan Mathias Muchus, pengenalan kultur-nya kaya, ada lovestory, keluarga dan kisah persahabatan juga, bahkan nilai-nilai multiras-agama hingga isu lingkungannya pun tak lantas terkesan jadi tempelan tak penting. Kiprahnya bertahan selama 3 bulan walaupun hanya di satu kota seharusnya diikuti juga dengan antusiasme yang sama.

 

7. BULAN DI ATAS KUBURAN (MAV Production, Sunshine Pictures, FireBird Films; EDO W.F. SITANGGANG)

FI BDAK

Lagi-lagi tentang kultur Batak, namun sebagai remake dari film klasik karya Asrul Sani yang totally lebih serba nihilistik sesuai trend di eranya, remake ini bisa keluar sebagai social sarcasm melebihi sekedar satire dengan flow yang jauh lebih mengalir di tengah dukungan solid ensemble cast dengan akting-akting juara masing-masing.

 

8. FILOSOFI KOPI (Visinema Pictures; ANGGA DWIMAS SASONGKO)

FI Filkop

Lebih dari sekedar coffee-porn yang memang asyik terutama buat penikmat kopi di luar product placement namun tertutupi dengan usaha pemasaran tak biasa sampai membangun fisik asli kafe-nya, ‘Filosofi Kopi’ menyelam lebih dalam ke filosofi-filosofi lain tentang persahabatan dua karakter utamanya. Ada chemistry bagus dan sangat believable dari Rio Dewanto dan Chicco Jerikho lewat skrip Jenny Jusuf yang tak serta-merta mengadaptasi mentah-mentah begitu saja source-nya, tapi dengan kreativitas lebih buat membaca gagasan. Heartwarming, nyaman serta selezat mencium aroma kala kita menyeruput kopi yang nikmat.

 

9. HIJAB (Dapur Film Production, MVP Pictures, Ampuh Entertainment; HANUNG BRAMANTYO)

FI Hijab

Lagi sebuah film yang bisa melarikan diri dari tipikalisme genre reliji yang kebanyakan menghiasi sinema kita. Memuat satir terhadap sosialita dan atribut-atribut relijinya melalui ensemble act yang solid, Hanung Bramantyo kembali ke energi terbesarnya di signature tema-tema persahabatan seperti ’Jomblo’ dan ’Catatan Akhir Sekolah’, bahkan ’Get Married’ – namun di atas fondasi yang sama sekali berbeda. Nakal, lucu, menyentil, tapi juga dipenuhi hati.

 

10. KAPAN KAWIN? (Legacy Pictures; ODY C. HARAHAP)

FI Kapan Kawin

Sinema kita mungkin sudah banyak punya genre rom-com yang bagus, tapi ada sesuatu yang lain yang dimiliki ’Kapan Kawin?’ dengan amunisinya. Selain salah satu akting paling lepas dari Reza Rahadian yang kelihatan menikmati sekali karakternya disini, skripnya yang sekilas terlihat klise punya kekuatan membuat karakternya jadi sangat memorable. Ada atmosfer warmthness dan delightfulness spesial yang sangat terasa juga dari dukungan Adi Kurdi di atas set sempit yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu karakter penting.

P.S.:

Ada special mention juga terhadap usaha-usaha yang bagus dari sineas kita untuk merambah cinematic trend tanpa mesti terjebak ke mediocrity biasanya. Pertama, di genre horor yang biasanya lebih banyak diwarnai flaws dalam deretan film-film kita, baik ’Badoet’, ’Tuyul Part 1’, dan surprisingly, sebuah claustrophobic – almost a single set horror ber-subjudul agak nakal, ’Deja Vu: Ajian Putar Giling’, ternyata tampil dengan kualitas jauh ketimbang judulnya. Meski horor-horor kacangan tetap cukup banyak, namun judul-judul ini bisa jadi contoh, bahwa genre horor – dalam tendensi yang tetap berupa hiburan – bukan tak bisa digarap dengan baik.

             Kedua, di genre comics showcase. Okay, ‘Comic 8: Casino Kingsis another matter, dan kita masih harus menunggu bagian keduanya tahun depan. Namun membawa style dan signature komika-komika pentolannya sendiri-sendiri, ada dua judul yang sangat layak buat diberi apresiasi lebih, selain tetap jadi jaminan untuk dipenuhi antusiasme penonton. Raditya Dika mungkin sudah teruji dari beberapa showcase yang baik; tetap membawa signature komedi dengan konklusi-konklusi soal hati seperti ‘Marmut Merah Jambu’ dan ‘Cinta Dalam Kardus’; namun ‘Single’ benar-benar membawanya naik kelas dengan konsep yang lebih paripurna dari sisi sinematis lewat effort produksi Soraya yang selalu mementingkan looks.

           Sementara film penutup tahun ini, ‘Ngenest’ yang melaju kencang sejak pemutaran hari pertamanya, memang menunjukkan bahwa talenta-talenta komika ini tak boleh disepelekan begitu saja sampai ke departemen penulisan dan penyutradaraan. Ada alasan kenapa mereka bisa menciptakan arus  trend dengan sejumlah nama yang menonjol lebih dari yang lain atas inovasi-inovasi comedic signature yang berbeda. Ernest Prakasa adalah salah satu yang terkuat di generasi-nya dengan self-mocking jokes menyenggol-nyenggol masalah ras dari satir hingga sarkasme, tapi tak melupakan dukungan rekan-rekannya sesama komika, serta juga punya dose of hearts yang membentuk blend bagus ke keutuhan storytelling-nya. Happy New Year, dan tetap #BanggaFilmIndonesia ! (dan)

NEGERI VAN ORANJE: CATCHY LOOKS AND STRONG ENSEMBLE CHARM

•December 29, 2015 • 1 Comment

NEGERI VAN ORANJE

Sutradara: Endri Pelita

Produksi: Falcon Pictures, 2015

Negeri Van Oranje

            Ada banyak mungkin cerita mengapa Belanda identik dengan warna oranye, namun kita tentu tak tengah membahas itu. Yang jelas, ‘Negeri Van Oranje’ yang memang merupakan adaptasi dari novel yang ditulis keroyokan oleh (Raden) Wahyuningrat, Adept Widiarsa, (An)Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana ini memang bercerita tentang sekelompok sahabat, lima anak Indonesia dalam perkuliahan S2 mereka di Belanda. Walau memang intinya adalah kisah persahabatan dengan bumbu cinta, tetapi begitu detilnya novel dengan tebal 478 halaman ini berperan seolah sebuah panduan lengkap untuk bersekolah disana plus tips-tips lain selayaknya panduan Lonely Planet, begitu kabarnya.

            Dalam konteks film, tentu saja ini bukan sebuah ‘dummies’. No, meski kita gemar sekali menjual lokasi luarnegeri sebagai gimmick, tak ada juga produser gila yang mau membuat film panduan untuk layar lebar. Oleh Titien Wattimena dan keempat penulisnya, skrip adaptasinya pun diarahkan ke friendship theme lebih efektif untuk dikemas dalam durasi rata-rata film, namun memang yang dikedepankan tetaplah sebuah pameran keindahan yang sering disindir banyak orang sebagai ‘jualan mimpi’. Toh tak ada salahnya, karena selain setting asli di Belanda dan negara-negara Eropa sekitarnya, mereka bisa mengumpulkan ensemble cast yang tak kalah ‘wah’-nya.

           Selain Chicco Jerikho dan Abimana Aryasatya, ada Arifin Putra plus satu komika Ge Pamungkas mengelilingi satu-satunya karakter wanita yang diperankan oleh Tatjana Saphira. So go guess. Masa sih lineup cast ini masih tak bisa menarik penonton lokal kita buat datang ke bioskop? Karena itu juga mungkin ia tak gentar berhadapan dengan tiga blockbuster antar negara sekaligus: ‘Ip Man 3’, ‘Dilwale’ bahkan ‘Star Wars: The Force Awakens’ – sementara banyak film-film dengan profil lebih tinggi lainnya memilih mundur.

            Tak ada yang spesial juga dari plot-nya. Dengan penceritaan per karakter yang memakan lebih dari separuh durasinya, ada Geri (Chicco Jerikho), Wicak (Abimana Aryasatya), Banjar (Arifin Putra), Daus (Ge Pamungkas) dan Lintang (Tatjana Saphira) sebagai satu-satunya wanita diantara empat jejaka ini. Konfliknya sudah jelas mengarah kemana. Di momen pernikahannya, siapa yang dipilih Lintang pada akhirnya setelah semua hubungan mereka diuiji dalam sebuah roadtrip ke Praha?

            Kecuali secuil twist yang juga sudah terdengar sejak jauh-jauh hari (oh ya, media kita memang hampir tak pernah pintar menyimpan twist film apalagi memang ini bukan sesuatu yang harus disimpan se-rapat ‘Star Wars’), Titien dan keempat co-writer skrip adaptasinya memang bermain di wilayah yang aman-aman saja. Mungkin tahu mereka sudah punya amunisi dan set luar negeri yang bisa sangat leluasa dieksploitasi dan toh masih ada ‘twist’ (if you consider it so) lain di bagian pengujungnya yang mudah membuat pemirsa kita penasaran atas pilihan karakternya, Titien dkk akhirnya memilih cara mudah saja buat menyampaikan storytelling-nya. Cukup dengan info singkat dengan flashback pertemuannya, dan kemudian berpindah ke satu karakter ke karakter yang lain untuk memenuhi durasinya. Mereka memang tak pernah melangkah ke ranah-ranah yang lebih dalam untuk membahas konfliknya lebih jauh, sehingga ‘Negeri Van Oranje’ cukup kelihatan sedangkal ruas jari saja.

            However, kedangkalan bahasan dan storytelling itu bukan berarti membuat ‘Negeri Van Oranje’ jadi film yang tak layak buat disaksikan. Fortunately, elemen-elemen yang ada, tanpa juga memerlukan effort lebih ke sutradara Endri Pelita atas skrip tadi, selain memang sudah punya daya jual masing-masing, memang bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Tahu bahwa mereka punya Chicco Jerikho, satu dari segelintir aktor besar kita dengan status lebih sebagai ‘superstar’, ia benar-benar dieksploitasi bak sebuah kapstok berjalan dengan kerja bagus dari departemen kostum Quartini Sari, juga tata rias oleh Tomo dan Daniel Putra, seolah tengah merancang sebuah peragaan busana. Ini juga ikut memoles Arifin Putra termasuk Ge Pamungkas yang paling minim dalam faktor looks di antara mereka walau kurang kena ke latar karakternya, seorang PNS departemen agama, tapi tetap bisa bekerja dengan cukup baik; sementara Abimana Aryasatya dibiarkan berjalan di samping sebagai sosoknya yang biasa – lebih buat menyemat simbol-simbol karakternya, namun selain Chicco, ia juga satu yang paling masuk ke karakternya sebagai Wicak. Ada tambahan tatanan rambut yang menambah penjelasan karakternya tapi ini juga tak sepenuhnya relevan.

            Di tengah-tengahnya, tentu Tatjana Saphira yang memang punya semua faktor dalam termlooks’. Tanpa harus berakting terlalu dalam pun pemirsa akan mudah jatuh hati pada sosoknya. Apalagi departemen kostum itu tak pernah lupa memainkan peranan mereka dengan maksimal di tengah color grading dan meski dikritik sebagian orang, permainan lens flare – yang memang harus diakui mampu menghadirkan nuansa colorful sangat catchy dan blending pula dengan nuansa orange di sentralnya. Seperti mix-and-match play ke boneka-boneka barbie, faktor ini memang jadi salah satu hal terbaik dalam ‘Negeri Van Oranje’. Dan dengan chemistry yang juga terasa santai-santai saja, namun bukan berarti lemah, looks like they enjoyed it a lot.

         Selain itu, masih harus diakui juga ada faktor teknis yang tergarap cukup baik buat mengiringi show of beauty ini. Ada sinematografi yang bagus walaupun pemilihan lokasi dan set-nya memang sudah sangat mendukung untuk itu dari Yoyok Budi Santoso, scoring yang cantik dari Andhika Triyadi, tata artistik dari Tri Israni Arayana serta editing yang walau tak spesial tapi tetap membuat flow-nya tak jatuh sekalipun jadi membosankan oleh Cesa David Luckmansyah dan Wawan I. Wibowo. Masih kurang? Ada alunan theme song yang sejak awal sudah di-publish lewat video klip promosi dari WizzyPuzzle Pieces’ dan satu end credit song darinya dan Sandhy Sondoro, ‘Cinta Cinta Cinta’.

         So yes, benar memang, kalau ‘Negeri Van Oranje’ tak pernah menyelam lebih dalam ke ranah-ranah konfliknya soal persahabatan, cinta, ataupun kedalaman lebih dari latar tiap karakternya. Tapi tetap ada beberapa dialog ala Titien yang terasa cukup menohok terutama buat pemirsa yang suka dengan romantisme simbol dan kata-kata, dan jelas, bahkan membuat kita jadi tergerak untuk melakukan traveling ke lokasi-lokasinya, kita tak juga bisa menampik keindahan yang ditampilkan dalam setiap aspeknya dengan charming factor sebesar itu. Catchy looks and strong ensemble charm, itu rasanya sudah cukup untuk membuat ‘Negeri Van Oranje’ tampil se-ngejreng judulnya. Quite the feast for the eyes, and an enjoyable year-end treat, too. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 10,414 other followers