99% MUHRIM: GET MARRIED 5 ; A SLIGHTLY DIFFERENT TURN OVER THE SAME PATTERN

•August 10, 2015 • Leave a Comment

99% MUHRIM: GET MARRIED 5

Sutradara: Fajar Bustomi

Produksi: Starvision, 2015

get married 5

            Dalam perkembangan film kita sejak bangkit kembali dari mati surinya, kita memang belum punya terlalu banyak franchise. Salah satu yang masih terus bisa bertahan sekaligus sebagai yang terkuat, pastilah ‘Get Married’. Tak mudah memang buat franchise layar lebar bisa bertahan mencapai instalmen ke-5-nya, namun walaupun dengan pencapaian naik turun yang tetap tak bisa menyaingi baik balance antara resepsi kritikus dengan publik yang sama bagusnya dengan perolehan penonton ke film pertama, sepak terjangnya mungkin cukup layak buat dihargai.

            Dalam perkembangan itu, pola-pola ‘Get Married’ harus diakui sebenarnya masih berada disitu-situ saja. Walau di instalmen terakhir fokus terhadap dua karakter utama yang memegang kendali ceritanya; naik turun hubungan Mae dan Rendy yang terus berganti-ganti pemeran hingga akhirnya menetap di Nino Fernandez yang mulai muncul di film kedua, mulai dicoba bergeser ke Jali dan Sophie (Ricky Harun & Tatjana Saphira yang menggantikan Kimberly Ryder dari instalmen ke-3), namun sebenarnya karakter-karakter baru ini tetap ada dalam batasan side characters yang jelas tak bisa sekuat trio Desta-Ringgo-Amink atau duo Jaja MihardjaMeriam Bellina yang memang harus diakui merupakan persyaratan wajib franchise-nya. Sementara, salah satu faktor terkuat mengapa ‘Get Married’ bisa jadi sebesar itu, chaos comedy bercampur drama keluarga yang berdiri dengan solid di atas sentilan-sentilan kritik sosialnya, mulai makin berkurang. So, mau dibawa kemana lagi plot instalmen ke-5 ini?

            Starvision ternyata cukup pede meneruskannya dengan sebuah pendekatan trend. Oh ya, maksudnya genre reliji, yang terserahlah bila sebagian orang bilang itu bukan genre tapi memang jadi fenomena tersendiri di perfilman kita. Walau nafas relijinya bukan tak ada sejak instalmen pertama yang nyata-nyata dilepas sebagai blockbuster lebaran, kini menambah judul “99% Muhrim” di depan titel franchise-nya sendiri (okay, ini harus diakui cheesy dan semata untuk alasan jualan karena fokusnya justru tak mengarah pada Mae dan Rendy tapi lebih pada Jali dan Sophie; kini diperankan Anggika Bolsterli), ‘Get Married 5’ bukan juga berarti benar-benar banting stir kesana.

              Genre-nya sebenarnya tak berubah, hanya saja, ada mashup tema reliji yang disempalkan ke dalam mishmash elemen yang sudah-sudah antara chaos comedy dan drama hubungan keluarga yang herannya hampir selalu bisa menyentuh karena dekat sekali dengan keseharian budaya kita. Pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana skrip Cassandra Massardi dan penyutradaraan Fajar Bustomi bisa meng-handle percampurannya terutama dalam membangun satu lagi persyaratan wajibnya; sentilan-sentilan dalam nafas kritik sosial yang selalu ada sebagai latar belakang franchise ini. Sepenuhnya mengikuti trend atas nama jualan, atau tetap mempertahankan kenapa ‘Get Married’ tetap menjadi ‘Get Married’?

                Di tengah usia pernikahan mereka yang sudah berjalan cukup lama, keluarga Mae (Nirina Zubir) dan Rendy (Nino Fernandez) yang kian mapan dan dikaruniai 3 orang anak membuat Mae menjelma menjadi seorang sosialita selayaknya ibu-ibu muda zaman sekarang, sementara Rendy sudah bersiap memboyong mereka pindah atas tawaran kerja di Los Angeles. Namun hubungan mereka kembali diuji kala Bu Mardi (Meriam Bellina) berada dalam kondisi koma akibat serangan begal. Mae seketika tergerak melihat Babe (Jaja Mihardja) dan anak-anaknya berdoa buat keselamatan Bu Mardi, menyadari selama ini ia hampir sama sekali meninggalkan ibadah bahkan tak bisa membaca Al Quran. Sementara Sophie yang memasuki titik jenuh hubungan kawin gantungnya dengan Jali (Ricky Harun) justru terinspirasi dari niat awal Mae dan memilih mengenakan hijab. Bukan hanya Mami Rendy (Ira Wibowo) yang lantas menyambutnya dengan histeris karena menyangka Sophie terpengaruh gerakan radikal, tapi diatas semua, bagaimana Mae benar-benar bisa meyakinkan Rendy atas pilihannya ini.

             Memasukkan elemen reliji ke dalam plot yang terlihat hampir tak punya jalan buat kemana-mana lagi ini, ternyata penyutradaraan Fajar atas skrip Cassandra bisa membuat ‘Get Married’ tetap berjalan di track-nya yang biasa. Walau jalinan komedi dan dramatisasinya kadang terasa tumpang tindih menyemat mishmash itu, bahkan kerap nyaris beberapa kali jatuh terlalu melodramatik, hal paling baik dalam ‘Get Married 5’ adalah sentilan-sentilan social critics-nya bisa berpadu dengan baik bersama elemen reliji tadi.

             Konflik yang dipaparkan dalam skrip Cassandra memang harus diakui punya keakraban luarbiasa dengan fenomena yang kita lihat di sekitar kita sehari-hari sekarang ini, dari soal hidayah berikut alasan-alasan lain yang membuat sebagian orang seketika berpindah jalur, pesantren kilat, ustadz seleb (diperankan Fathir Muchtar) hingga arisan pengajian dibalik tendensi-tendensi sosialita bisa cukup menampar; sementara di luar soal agama, isu-isu masyarakat hingga soal begal yang disemat dalam nafas komedik tetap muncul secara bergantian. Walau tak sepenuhnya membentuk blend serapi film pertamanya, ini sungguh bukan usaha yang gagal; apalagi konsekuensi-konsekuensinya tak lantas digelar secara klise dan serba ujug-ujug menuju happy ending, tapi rata-rata melewati proses-proses storytelling dan character turnover yang wajar. Bagusnya, semua di atas nafas komedi ala ‘Get Married’ biasanya, mostly a chaos, sesekali bisa menggila, sambil diselingi dengan dramatisasi yang kebanyakan tetap bisa menyentuh tanpa harus jadi berlebihan.

           Chemistry yang terjalin diantara cast-nya juga tetap berjalan dengan baik, mungkin karena franchise ini memang sudah berhasil menciptakan beberapa trademark dalam karakterisasinya; seperti Babe dan Bu Mardi (Jaja dan Meriam) yang tetap membagi balance drama dan humornya dengan hidup. Nirina tetap begitu masuk ke karakter Mae dan Rendy bersama Nino, dan Ricky Harun tetap memerankan Jali dengan konsisten bersama pendatang baru Anggika Bolsterli yang bisa menggantikan Tatjana sebagai Sophie dengan cukup baik.

              Cukup disayangkan memang Desta dan Ringgo tak lagi muncul, menyisakan Amink yang tak juga terlalu jadi fokus, namun tambahan sejumlah komika sebagai penghias sesuai trend yang ada sekarang; Kemal Palevi, Pandji Pragiwaksono, Abdur Arsyad, Adjis Doaibu, Uus, Andovi dan Jovial da Lopez, Gofar Hilman, meski punya hit and miss, cukup bisa memberi warna pada penggemar mereka masing-masing bersama supporting cast selebihnya seperti Ence Bagus, Joe P. Project plus penyiar – presenter Dimas Danang dan Imam Darto yang sedang berada di puncak kepopuleran mereka.

            Terakhir, tentu saja sentuhan spesial yang juga menjadi sudah seperti menjadi salah satu nyawa dari franchise-nya sendiri; keikutsertaan Slank, yang bukan saja menyumbangkan lagu-lagu mereka tapi juga berada dibalik komposisi scoring-nya. Theme song yang merupakan single Ramadhan yang baru dilepas Slank tahun ini, ‘Halal’, memang terasa benar-benar masuk ke plot-nya secara keseluruhan, sekaligus jadi theme song yang sama kuat ke rendition mereka di lagu ‘Pandangan Pertama’ dalam film pertama. Ini sama sekali bukan instalmen yang gagal karena masih bisa berdiri dengan kuat di elemen-elemen juara franchise-nya. Slightly different turn, but over the same strong pattern. (dan)

MISSION: IMPOSSIBLE – ROGUE NATION : AN ENTRY THAT SCALES A NEW HEIGHT

•August 7, 2015 • 1 Comment

MISSION: IMPOSSIBLE – ROGUE NATION 

Sutradara: Christopher McQuarrie

Produksi: Bad Robot Productions, Skydance Productions, TC Productions, Paramount Pictures, 2015

mission impossible rogue nation

            Walau masih bersinar di ‘Edge of Tomorrow’ tahun lalu, ada yang bilang kalau karir Tom Cruise sudah berada di penurunan grafiknya. Oke, tak sepenuhnya benar mungkin, namun dengan resiko yang ada dibalik baik ‘Jack Reacher’, ‘Oblivion’ maupun ‘Edge’, ketiganya berturut-turut merupakan produk non-franchise yang meski laku namun tak meledakkan rekor apapun, ‘Mission: Impossible’ sebagai satu-satunya franchise berstatus ‘mega’ yang ia miliki (well, dua kalau ‘Top Gun 2’ benar-benar terjadi nanti), ini memang seperti pertaruhan besar dengan sisa amunisi yang ada.

            Bukan juga instalmen ke-4-nya yang digawangi Brad Bird merupakan entry yang gagal, namun ‘Mission: Impossible – Ghost Protocol’ sayangnya tak jadi sesuatu yang bertahan lama setelah umur tayangnya. Benar ia meletakkan standar baru untuk franchise-nya sebagai spy action thriller penuh intrik di atas sepak terjang ensemble agen-agen IMF sesuai source-nya, lebih dari instalmen ke-3 setelah sedikit dirusak John Woo di ‘M:I-2‘, but it’s rather forgettable after these years, bahkan dengan suntikan Jeremy Renner sebagai pion buat peningkat excitement-nya ke generasi penonton sekarang.

            Dalam pertaruhan itu, menyambung estafet dari para helmer-nya, all strong names, dari Brian De Palmaeven John Woo, to J.J. Abrams yang masih terus ada di kursi produser plus Brad Bird, Cruise memilih Christopher McQuarrie yang terangkat dari status Oscar winner di ‘The Usual Suspects’ dan berkolaborasi dengannya di ‘Jack Reacher’ dan sebagai co-writerEdge of Tomorrow’. Hasilnya memang sedikit tak terduga. Saat banyak orang berpikir tak ubahnya rata-rata franchise lain yang dalam rentang begitu panjang tak sanggup mempertahankan nyawanya sampai instalmen ke-5, di tengah dukungan ko-produksi perdana Alibaba Pictures, China, dengan selling point Hollywood ke wilayah mereka, McQuarrie muncul dengan sebuah effort luarbiasa.

            And no, apa yang dilakukan McQuarrie bukanlah semurni-murni-nya sebuah pembaharuan, namun jauh lebih dalam, ia menunjukkan bahwa ia adalah orang yang paling memahami dinamika tiap instalmen dalam franchise-nya. Menggali ide yang dibesutnya bersama Drew Pearce dari ‘Iron Man 3’, McQuarrie menggamit highlights terbaik dari tiap instalmen itu untuk muncul dengan grittier conflict dan eksplorasi karakter-karakter jagoannya. This is like Bond but it ain’t no Bond, dan tentu tanpa melupakan kenapa terlepas dari kekecewaan banyak fans atas ulah De Palma di film pertamanya ‘Mission: Impossible’ bisa punya wajah baru adaptasinya yang terus berkembang hingga sekarang; crazy stunts dan explosive actions, yang terus bisa menampung kegilaan Cruise untuk tetap jadi ‘one of a kind‘ dibalik statusnya sebagai Hollywood action hero.

            ‘Rogue Nation’ pun digelar dengan nasib IMF (Impossible Mission Force) yang berada di ujung tanduk atas eksistensinya sebagai agensi rahasia yang suka bertindak di luar batas. Jatuh ke tangan CIA director Alan Hunley (Alec Baldwin) atas kecenderungan mereka mengacaukan stabilitas negara, agen-agen operatifnya, William Brandt (Jeremy Renner) dan Benji Dunn (Simon Pegg) pun tak bisa berbuat apa-apa selain bekerja di bawah tekanan CIA sambil terus melacak keberadaan Ethan Hunt (Tom Cruise) yang lepas tanpa atasan dengan sebuah siasat. Sementara setelah misi terakhirnya mencegah penjualan senjata kimiawi ke pihak teroris, Hunt justru terjebak dalam keberadaan misterius ‘The Syndicate’, konsorsium kriminal Internasional yang masih terus meneror dunia dengan kasus-kasus tak terpecahkan. Satu-satunya harapannya adalah Ilsa Faust (Rebecca Ferguson), agen MI6 yang tengah beraksi sebagai mole di tubuh Syndicate, namun juga terlalu abu-abu untuk bisa dipercaya sepenuhnya.

            Disinilah skrip yang ditulis McQuarrie menyusun benang merah dari tiap instalmen dibalik eksplorasi karakter beserta balutan twists and turns sangat kuat dalam genre-nya sebagai sebuah spy action thriller. Intrik-intriknya disusun di atas sebuah bangunan bersegi amat banyak melibatkan organisasi intelijen banyak negara dengan kedalaman spionase ala John Le Carre, luarbiasa rapi namun tak sekalipun jatuh terlalu njelimet hingga membuat sebagian pemirsa yang menolak berserius-serius jadi menguap sambil kebingungan atas apa yang mereka lihat. Seolah tak pernah kehabisan amunisi, permainan twists and turns jadi bagian paling menarik dari keseluruhan plot-nya, tanpa pernah juga melupakan fun factor lewat sempalan-sempalan komedinya.

                 Dan jauh dari apa yang dilakukan Abrams di ‘M:I-3’ terhadap Ethan Hunts private life and love, McQuarrie menyelami lagi karakter Ethan Hunt hingga ke sisi psikologis berupa motivasi-motivasi God complex over secret agent’s codes yang dulunya sempat secara dangkal dibawa John Woo ke ‘M:I-2‘ sebagai one man show-nya Cruise, namun disini dibenturkan sebagai konflik interaksinya ke ensemble characters dalam jiwa asli source-nya, dari Brandt, Benji hingga Luther Strickell yang kembali diperani Ving Rhames plus Alec Baldwin yang sudah lama tak terlihat sekeren ini dengan character turnover-nya, semua dalam skala porsi yang penting buat menambah detil-detil elemen karakterisasinya, terutama Simon Pegg yang mendapat screen presence yang asyik sekali menerjemahkan typical British comedic act-nya, while Renner kept his pace sebagai Brandt, mantan analis yang tetap berada di motivasi abu-abu penuh perhitungan sebagaimana dalam ‘Mission: Impossible – Ghost Protocol’.

                 Disitu pula, grittier area atas eksistensi IMF yang sudah disenggol Bird di ‘Ghost Protocol’ jadi leluasa buat diselami lebih dalam sebagai puncak konflik yang menyemat isu-isu dunia nyata yang dipicu konspirasi organisasi kriminal termasuk insiden pesawat (salah satunya menyebut Jakarta). Like pushing it to the limit, lebih dan lebih lagi, McQuarrie tak sekalipun melupakan ciri spy genre yang memuat perpindahan setting antar negara dengan elemen-elemen eksotisnya; dari Paris ke Vienna hingga Morocco’s Casablanca dan London, di atas pace action yang walaupun tak se-bombastis sebelumnya tapi tetap menyisakan satu-dua yang meski over the top tapi beradrenalin luarbiasa, dan punya inti paling penting atas aksi para agen yang kerap berpegang ke luck and chance, namun tak pernah minim strategi seperti kesalahan yang dilakukan Abrams di ‘M:I-3’ tempo hari.

                   Sementara bergulir bersama eksotisme tiap-tiap set dari sinematografi cantik award winning DoP Robert Elswit dan banyak trivia menarik dari PuccinisTurandotOpera bahkan the all time classicCasablanca’, komposisi scoring Joe Kraemer yang biasa berkolaborasi bersama McQuarrie dari ‘The Way of the Gun’ hingga ‘Jack Reacher’ secara tak terduga bisa menciptakan interpolation luarbiasa ke main theme klasik source-nya milik Lalo Schifrin dan PuccinisNessun Dorma’ dari ‘Turandot‘ dalam romantisasinya. Jadi salah satu scoring terbaik melebihi keterlibatan nama-nama besar macam U2, Limp Bizkit, Hans Zimmer dan Heitor Pereira serta Michael Giacchino dalam rentang historis instalmen-instalmennya, scoring Kraemer adalah salah satu elemen terkuat dalam ‘Rogue Nation’.

                 Di deretan supporting cast selebihnya, porsi villain yang diperankan Sean Harris, walaupun tak pernah terlihat begitu kuat, cenderung kelewat komikal dengan distraksi intonasi dan kerap tertutupi oleh henchman-nya, Janik ‘Bone Doctor’ Vinter yang diperankan aktor Swedia spesialis peran sejenis, Jens Hultén (juga tampil dalam ‘Skyfall’), terselamatkan dengan permainan twist and turn dalam skrip McQuarrie. Tanpa memerlukan terlalu banyak trik, grafik emosi yang ditampilkan McQuarrie ke karakter Solomon Lane bisa membuat konklusi akhir atas strategi Hunt jadi sebuah payoff kuat. Masih ada Simon McBurney sebagai MI6’s Atlee, Tom Hollander sebagai PM Inggris, plus aktris-penyanyi America Olivo dan dalam kepentingan co-production Alibaba, Chinese actress Zhang Jingchu ikut tampil walaupun sama sekali tak krusial.

                   Namun diatas semuanya, ‘Rogue Nation’ memang menjadi begitu spesial, had its very big deal, dengan penampilan Rebecca Ferguson sebagai Ilsa Faust dibalik nods ke karakter bernama depan sama yang diperankan Ingrid Bergman di ‘Casablanca’ serta tribute ke filmnya sendiri. Taking Ilsa back to Casablanca, bukan sepenuhnya manipulatif, but with almost the same classic grace, aktris Swedia yang sebelumnya kita saksikan dalam ‘Hercules’-nya Dwayne Johnson ini memerankan Ilsa sebagai sidekick terkuat Hunt se-misterius karakternya. Luarbiasa badass, more than any Bond girls dan menjadikan perhatian pemirsa hampir sepenuhnya tersedot ke sosoknya.

                   So there goes the bet. Lewat elemen-elemen juara yang dibangun McQuarrie dan timnya, Cruise sudah membuktikan bahwa dirinya masih berjaya memegang kelanjutan franchise ini hingga mungkin cukup jauh lagi ke depan nanti. Tightly constructed plot and deeper exploration of the characters over still – the crazy stunts and explosive actions, ‘Mission: Impossible – Rogue Nationis simply the best of the series. An entry that scales a new height. Luarbiasa! (dan)

PIXELS: STILL A FUN TRIBUTE TO THE ‘80s ARCADE ERA

•August 4, 2015 • Leave a Comment

PIXELS

Sutradara: Chris Columbus

Produksi: Happy Madison Productions, 1492 Pictures, Columbia Pictures, 2015

Pixels

            Mostly for the ones who lived up the golden age of arcade video games, dari game console ’80-an masa Atari ke Nintendo hingga arcade yang disini sering disebut dengan ‘ding-dong’ dulunya, ‘Pixels’ memang hadir dengan konsep yang sangat menyenangkan. Diangkat dari semi-animated short Perancis berjudul sama besutan Patrick Jean (2010), walau skripnya ditulis oleh Tim Herlihy, kolaborator setia Adam Sandler sepanjang karirnya, ‘Pixels’ yang disutradari Chris Columbus memang sejak awal agak berbeda dengan showcase Sandler lainnya.

            Pasalnya satu. Sebagai salah satu pionir yang punya jasa begitu besar di genre-nya dalam membawa kolega-kolega ‘Saturday Night Live’-nya ke puncak popularitas mereka, like a good big brother, tak peduli sebanyak apa haters-nya terutama dari kalangan kritikus, film-film Sandler sebelumnya rata-rata punya brand besar dibalik namanya. Bukan berarti Sandler tak pernah bermain sebagai bagian dari ensemble comedy, namun lewat promo-promonya, ‘Pixels’ memang jarang terlihat mengedepankan jualannya sebagai film Sandler. Instead, sesuai source itu,  karakter-karakter game legendaris terutama Pac-Man seolah jadi ‘bintang’ dalam konsepnya. Okay, pihak Sony-Columbia mungkin punya alasan tersendiri, namun paling tidak, keberaniannya tampil di tengah pertarungan summer blockbusters tahun ini, tetaplah sebuah effort.

            Sam Brenner (Adam Sandler) yang kini berprofesi sebagai petugas instalasi elektronik sudah lama melupakan impiannya sebagai arcade gamer jempolan di masa kecilnya setelah dikalahkan oleh Eddie Plant (Peter Dinklage) saat bersaing dalam gameDonkey Kong’ di kejuaraan dunia arcade game. Namun ketika dunia terancam oleh serangan alien dengan pola sama ke karakter-karakter video game vintage sekaligus punya kaitan terhadap kejuaraan masa kecil itu, sahabatnya sesama gamers, Will Cooper (Kevin James) yang kini menjabat sebagai Presiden AS meminta Brenner berkolaborasi bersama pasukannya. Walau kerap dilecehkan oleh petinggi-petinggi militer terutama Admiral Porter (Brian Cox) dan Letkol Violet Van Patten (Michelle Monaghan) yang diam-diam saling suka dengannya, Brenner tak bisa menolak permintaan Cooper. Menyambangi kolega masa kecil mereka, gamer geek Ludlow Lamonsoff (Josh Gad) yang terobsesi pada karakter Lady Lisa dari game ’80-an fiktif ‘Dojo Quest’ hingga Eddie Plant yang terpaksa mereka bebaskan dari penjara dengan syarat pembebasan pajak dan kencan bersama Serena Williams (petenis Afrika-Amerika) atau Martha Stewart (seleb kuliner dan kerumahtangga-an Amerika), Brenner dan Cooper pun membuktikan bahwa mereka adalah pilihan yang lebih tepat untuk menghadapi serangan karakter-karakter videogames ini. Dari Guam ke Agra, London, New York hingga Washington DC, dari ‘Galaga’, ‘Centipede’, ‘Tetris’, ‘Pac-Man’, hingga ‘Space Invaders’ yang memporakporandakan sasarannya menjadi pixels, ujungnya ‘Donkey Kong’ kembali jadi babak final penentuan semuanya. Hanya saja, kali ini bukan lagi buat Brenner dan rekan-rekannya, tapi demi menyelamatkan dunia.

            Menyelam lebih jauh menelusuri homage ke masa keemasan arcade era lebih dari apa yang dilakukan Disney lewat ‘Wreck-it Ralph’ tempo hari dan memang lebih fokus ke pop culture AS ’80-an yang kerap jadi trademark showcase Sandler, ‘Pixels’ sebenarnya punya potensi sangat besar buat jadi juara di luar pertarungan franchise blockbuster musim panas. Apalagi, Chris Columbus jelas jadi jaminan buat visi-visi fantasinya dalam skup hiburan keluarga selama ini. Seperti mengulang lagi ‘80s golden age lewat gimmick tambahan di atas teknologi zaman sekarang, ‘Pixels’ memang punya dayatarik luarbiasa.

            Sayangnya, kolaborasi ini memang tak membentuk blend sempurna diantara family-oriented fantasy Columbus dengan jokes ala Sandler. Skrip yang ditulis oleh Tim Herlihy sebagai penulis yang paling mengenal Sandler bersama Timothy Dowling sudah terlihat mencoba menyesuaikan sickjokes-nya ke ruang lingkup Columbus, bahkan Sandler mengajak serta istrinya Jackie dan kedua anaknya Sadie & Sunny serta ponakannya Jared. Namun bukannya jadi sesuatu yang baru, kelucuan-kelucuannya jadi sangat tertahan meninggalkan sosok Sandler agak sulit buat sepenuhnya jadi lovable lead baik di setup dan turnover karakternya diantara kolega-kolega langganannya, kali ini plus Josh Gad yang menempati generasi paling muda hingga Peter Dinklage sebagai unlikely pairing dalam ensemble-nya.

              Sementara sempalan romance yang mengedepankan chemistry utama Sandler – Monaghan serta tambahan ke masing-masing personilnya (Kevin JamesJane Krakowski ataupun Josh GadAshley Benson) juga gagal menyamai kualitas film-film Sandler maupun sentuhan Columbus, tapi lebih serba canggung dibalik potensi yang tak tergali sekedar tempelan.

        Sudah begitu, harus diakui pula, bahwa durasi begitu singkat namun punya konsep padat dalam source-nya, tak sepenuhnya bisa terulang dalam setting yang jauh lebih serba gigantis. Bukan secara teknis penggarapannya gagal. Tapi walaupun shot-shot DoP kawakan Amir Mokri yang tetap bagus bersama permainan CGI dan scoring Henry Jackman di tengah segala macam elemen gimmick hingga pixelated attack-nya, terutama showdown awal yang diiringi vintage classic rockWorking for the Weekend’-nya Loverboy, ‘Pac-Manmontage, pun adegan klimaks menerjemahkan stage demi stageDonkey Kong’ yang cukup seru, kadar excitement-nya tak seefektif source asli yang benar-benar serba minimalis.

               However, ‘Pixels’ tak lantas jadi sepenuhnya gagal sejelek kebanyakan resepsi negatifnya. Sandler dan tim-nya tetap dengan juara mengetengahkan ‘80s homage dari nods ke tiap-tiap pop culture-nya, dari penempatan lagu-lagu vintage pengisi soundtrack seperti Tears for Fears’ ‘Everybody Wants to Rule the World’ ataupun Spandau Ballet’s ‘True’ versi India yang mengiringi adegan Tajmahal’s ‘Arkanoid’ yang kocak hingga cameo-cameo tampilan icons yang disemat ke peringatan alien di atas serangan mereka terhadap bumi. Ada Madonna, Ronald Reagan, ‘Fantasy IslandTV series hingga fictional ‘80s British A.I. Max Headroom (tetap digawangi aktor Matt Frewer) dan Daryl Hall & John Oates (Hall & Oates). Nobody nailed the ‘80s pop culture like Sandler & co., ini selalu benar, serta masih ada penampilan spesial Lainie Kazan, Sean Bean, Dan Aykroyd serta cameo Serena Williams, Martha Stewart sampai Toru Iwatani, kreator Pac-Man selagi karakter aslinya diisi oleh Denis Akiyama buat meramaikan ensemble itu.

              Selebihnya tentulah homage, trivia atau apapun sebutannya, terhadap golden age of arcade video games yang memang dengan menarik tergelar di sepanjang film, jauh melebihi segala kekurangan yang ada. Biar kadar excitement-nya tetap tak bisa menyamai source-nya yang singkat tapi luarbiasa padat termasuk di penempatan ‘Space Invaders’ yang tak mendapat posisi se-terhormat source tadi, seabrek video game berbeda produsen dari Atari sampai Nintendo di bawah brand Namco, incl.Galaga’, ‘Arkanoid’, ‘Centipede‘, ‘Defender’, ‘Frogger’, ‘Joust’, ‘The Smurfs‘ dan tentu saja dua bintang utamanya, ‘Pac-Man’ dan ‘Donkey Kong’, jelas sudah menjadi ultimate tribute ke salah satu kultur pop legendaris bagi generasi ’80-an. Semua dibahas diatas nods serta hints ke pattern serta taktik-taktik aslinya, membuat sebagian dari kita begitu ingin kembali merasakan tiap detil memori saat teknologi benar-benar belum secanggih sekarang. Berdiri di tengah-tengah kerumunan arcade menunggu giliran atau tenggelam dalam excitement memainkan video game vintage rumahan.

                 Dengan dua kekuatan yang sudah melebihi kekurangan-kekurangan yang ada, ‘Pixels’ sungguh tak sejelek ulasan-ulasan yang membombardirnya habis-habisan apalagi bila hanya semata didasari kebencian berlebih terhadap style komedi Adam Sandler. This is still a fun tribute to the ‘80s arcade era, and if you really lived up the decade, go insert some coins and playPixelsup to the high score! (dan)

LAMARAN: GOOD EFFORTS WITH INCOMPARABLE EXECUTION

•July 31, 2015 • Leave a Comment

LAMARAN

Sutradara: Monty Tiwa

Produksi: PT Rapi Films, 2015

Lamaran

            Salah satu genre yang tak pernah mati di film kita adalah romantic comedy (romcom). Namun sayangnya, dalam subgenre-nya, variasi romcom kita seolah jalan di tempat dengan nyaris hanya dua pengkotakan besar berdasarkan pangsanya. Adult, or teens. Jarang-jarang ada yang mau memainkan kombinasi elemen-elemen genre atau subgenre lain ke dalamnya. Dari segelintir yang ada, ‘Lamaran’ yang jadi salah satu blockbuster lebaran tahun ini sebenarnya punya potensi sebagai pendobrak stagnansi itu.

           Di atas dasar sebuah romcom boy meets girl sebagai bentuk paling basic-nya, ada culture bumps Sunda vs Batak dan yang paling menarik, political thrills menyerempet soal korupsi yang tentu saja memang harus dibalut dengan nuansa komedik bersama komedi profesi (pengacara) yang disorot dari karakternya. Berujung pada konklusi chaos comedy, kita tahu, ini memang sangat masuk ke wilayah Monty Tiwa sebagai pembesutnya, plus deretan cast menarik terutama Acha Septriasa yang didapuk memerankan cewek Batak dengan gimmick paling populer di film kita sekarang ini; tampilan beberapa standup comedians yang masih terus jadi trend dan ikut menjadi sorotan dalam salah satu elemen plot itu. Tapi bagaimana dengan hasilnya?

              Sebagai pengacara muda etnis Batak yang ambisius, Tiar Sarigar (mungkin ini plesetan dari Siregar karena Monty tak mau mengulang kesalahannya diserang marga Simamora di ‘Maaf, Saya Menghamili Istri Anda’, diperankan Acha Septriasa) tak menyangka karirnya mulai melejit di atas sebuah kasus korupsi yang tengah ditanganinya terhadap saksi Basuki (Marwoto) dan bos mafia Arif Rupawan (Dwi Sasono). Sosoknya yang terekspos media lantas membuat Arif mengirim pembunuh bayaran (Mongol Stres) sebagai ancaman. Pihak berwajib yang mencium rencana ini kemudian mengirim dua agen rahasia Ari (Arie Kriting) dan Sasha (Sacha Stevenson) untuk melindungi Tiar. Namun caranya malah makin memancing kekacauan. Pasalnya, Aan (Reza Nangin), cowok Sunda yang bekerja sebagai resepsionis di firma hukum tempat Tiar bekerja disamarkan menjadi kekasih Tiar. Hubungan palsu ini jelas merisaukan keluarga Tiar; ayah-ibunya (Cok SimbaraLina Marpaung) berikut sepupunya yang oportunis Dono (Ozzol Ramdan) bahkan ibu Aan, Bu Euis (Wieke Widowaty) yang kerap berseteru dengan Bu Sarigar. Seakan belum cukup, dari pura-pura, hubungan Tiar dan Aan berkembang jadi sungguhan, sementara Bu Sarigar yang sebenarnya menggunakan Aan buat jadi senjata meraih impiannya menjadi standup comedian tetap keukeuh ingin menjodohkan Tiar dengan pria Batak pilihannya, Raymond (Restu Sinaga), dan alasan keamanan Tiar sendiri, tentu masih terus mengancam dari belakang.

             There you go. Lihat betapa plot itu sebenarnya punya potensi sebagai sebuah romcom yang sangat kaya meracik genre mishmash-nya untuk jadi sesuatu yang beda. Namun permasalahan utamanya ada pada skrip Cassandra Massardi yang seakan tak mau serius menyusun interkoneksi masing-masing elemen itu menjadi sebuah blend yang padu. Selain tak bisa fokus ke yang mana plot dan yang mana subplot, jalinan penceritaan yang kita lihat dalam presentasinya malah cenderung tak rapi, tumpang tindih bukan hanya di elemen-elemennya, terutama setup konflik korupsi yang menguap entah kemana dan selesai seketika, tapi sampai ke bentukan dan eksekusi karakter-karakter sampingan yang harusnya bisa efektif mewarnai mishmash elemen tadi.

          Di satu sisi kita bisa melihat betapa duet Arie Kriting dan Sacha Stevenson, walau masih diwarnai hit and miss di comedic part mereka, cukup berfungsi sebagai scene stealer bersama sejumlah karakter yang mendapat presence lebih seperti Ozzol Ramdan, Restu Sinaga, Wieke Widowaty hingga Lina Marpaung a.k.a. Mak Gondut di lini teratasnya, ‘Lamaran’ terasa begitu menyia-nyiakan penampilan Tora Sudiro, Cok Simbara hingga Mongol Stres dan Dwi Sasono yang seharusnya punya peran penting di keseluruhan plot-nya.

           Sementara di main cast-nya, ada permasalahan cukup serius di fondasi pemasangan Acha Septriasa dan Reza Nangin. Bukan masing-masing mereka tak berakting dengan gestur baik; bukan pula semata ada pada chemistry yang meski kurang konsisten namun semakin baik bersama berjalannya durasi, tapi masalahnya ada pada dialek atau aksen Batak Acha yang kurang jelas membentuk batasan natural atau komikal hingga cukup mengganggu dalam bangunan cultural bumps-nya. Padahal keterlibatan Mak Gondut dan pelatih akting terkenal Eka D. Sitorus yang turut bermain sebagai Opung Tiar seharusnya bisa benar-benar meng-counter hal ini. Sementara Reza, tetap kurang kuat menyaingi screen presence Acha dengan kharisma inkonsisten meski sudah terlihat sangat berusaha.

           Sudah begitu, presentasi teknisnya pun agak di bawah rata-rata. Seperti sebuah produksi yang kurang mendapat pengawasan ketat oleh pihak Rapi Films sebagai empunya film, semua tata teknis itu terkesan sekedar seadanya saja, baik kamera Rollie Markiano yang biasanya jauh lebih terasa sinematis, artistik dari Angga ‘Bochel’ Prasetyo yang seharusnya bisa membangun elemen cultural bumps itu secara lebih kental, hingga penampilan khusus Project Pop yang sudah digagas dengan teaser dan setup bagus sejak awal namun lewat tak lebih dari ‘begitu saja’ bersama pengadeganan klimaks chaos comedy-nya yang terus terang, cukup berantakan. Style Monty yang tampil dalam karya-karya bagusnya seakan tak lagi bertaji disini.

          Begitupun, bukan berarti ‘Lamaran’ sepenuhnya gagal sebagai sebuah sajian hiburan. Dalam konteksnya sebagai romcom yang menghibur buat tontonan di saat-saat liburan, ‘Lamaran’ masih cukup bekerja dengan gimmick-gimmick komedi yang tetap bisa membuat kita tergelak lewat penampilan ensemble cast tadi terutama Arie Kriting, Sacha Stevenson dan Mak Gondut yang menjadi penyelamat utamanya, dan satu yang terpenting; effort-effort bagus terhadap genre mishmash-nya memang tetap masih bisa terlihat di tengah-tengah ketidaksempurnaan penggarapan yang mungkin tak juga sampai dipedulikan sebagian pemirsanya. Good efforts with unfortunately, incomparable execution. Ini bisa jauh lebih, tapi tak digarap secara maksimal. Sayang sekali. (dan)

SURGA YANG TAK DIRINDUKAN: THE STEREOTYPES OF INDONESIAN RELIGIOUS CINEMA

•July 29, 2015 • 1 Comment

SURGA YANG TAK DIRINDUKAN

Sutradara: Kuntz Agus

Produksi: MD Pictures, 2015

surga yang tak dirindukan

            Oke. Selagi momen lebaran masih terus jadi momen emas buat perilisan film-film Indonesia yang terus tengah berjuang mendapatkan kembali penontonnya, film-film drama reliji tentu juga tetap jadi senjata ampuh. Tak semuanya berhasil, memang, namun di tengah-tengah formula baku buat sasaran audiens yang jelas, ada garis tegas dalam ‘Surga Yang Tak Dirindukan’ yang membuat kita, paling tidak sebagian pengamat, bisa memperkirakan sepak terjangnya. Apalagi, masih terlalu cepat rasanya mengharapkan pemirsa kita membentuk persepsi baru ke sinema Islami yang lebih kaya macam ‘Mencari Hilal’.

           Oh ya. Seperti kebanyakan pola yang ada di jalan ‘Ayat-Ayat Cinta’ sebagai pionir film reliji kita di masa kini, ‘Surga’ yang masih dimotori nama Hanung Bramantyo di kursi produser memang dibentuk dengan polesan-polesan melodrama cinta ala India dari rumah produksi yang sama, yang menjadikan Islamic pattern-nya hanya sebatas gimmick di atas kemewahan produksi dan resep-resep laku berupa grand looks and pretty faces, tanpa berusaha mencoba lebih. Bukan juga berarti ia tak punya ekses sosial untuk sebuah resepsi pangsa tadi atas gambaran kelas pemeluk agamanya, namun disini juga, benturan-benturan utama berupa sebuah justifikasi searah jadi sulit buat dihindari walau source-nya, sebuah best selling novel dari Asma Nadia, salah satu nama teratas di genre ini sekarang, mungkin lebih kaya dakwah. Though come on, poin-poin penting dalam sebuah jualan di industri bernama film, jelas tak bisa disalahkan, dan kita tak sedang bicara sosiologi disini. Di saat sebagian boleh saja mencibir, selama ada demand  dari konsumen, so be it.

            Tak ada yang salah dari pernikahan Arini (Laudya Cynthia Bella) dan Pras (Fedi Nuril) di atas impian mereka menjalani kehidupan keluarga dalam garis ibadah, hingga jadi contoh ideal buat sahabat-sahabat dekat keduanya (Vita Mariana Barazza, Zaskia Adya Mecca, Tanta Ginting & Kemal Palevi). Namun semuanya berbalik ketika Mei Rose (Raline Shah) muncul dalam kehidupan mereka. Niat baik Pras menyelamatkan Mei Rose berikut janin berusia tujuh bulan di kandungannya diikuti sebuah sumpah atas trauma masa kecil Pras, membuat Pras terpaksa memperistri Mei Rose yang mencoba bunuh diri. Rahasia poligami yang awalnya disimpan Pras rapat-rapat dari Arini, terlebih karena kematian ayahnya (Landung Simatupang) yang ternyata juga melakukan poligami dari sang ibu (Sitoresmi Prabuningrat) membuat Arini gusar, akhirnya terbuka juga. Bahtera perkawinan itu pun luluh lantak dalam seketika, menempatkan tiga manusia ini terombang-ambing dengan pilihan mereka masing-masing.

            So you see. Dalam konteks bangunan konflik diatas aksi dan reaksi karakter-karakternya, ‘Surga’ memang sulit menghindari justifikasi ke persepsi-persepsi berbeda terhadap poligami. Walau sebenarnya punya potensi untuk bisa menyelam lebih dalam menggarisbawahi dakwah-dakwah soal pro-kontra poligami, skrip yang digarap Alim Sudio bersama tim MD lebih berusaha sepenuhnya memihak ke penonton ke banyak sisi dramatisasi dan emosi yang mereka inginkan. Membangun pembenaran-pembenaran sebatas permukaan yang serba dangkal di sepanjang durasinya, dibalik tampilan karakter utama yang memang serba jelita.

          Seperti feel yang kita rasakan saat menyaksikan ‘Ayat-Ayat Cinta’ dan banyak film-film sejenis yang mengikuti setelahnya, walau kadang konflik-konflik itu kerap mengundang senyum atau malah tawa bersama emosi-emosi mellow-nya, apalagi dalam ‘Surga’ sisi komedik itu semakin diperjelas dengan karakter pendukung yang diperankan dengan chemistry menarik oleh Tanta Ginting dan Kemal Palevi, dalam potensi jualan, ini tentu tak bisa disalahkan. Untungnya, ‘Surga’ berada dalam batasan penggarapan yang sangat memenuhi syarat dalam tampilan sinematisnya. Tata kamera dari Ipung Rachmat Syaiful , kostum dari Retno Ratih Damayanti serta artistik Allan Sebastian membentuk blend yang bagus dalam melodramatic feel dan grand looks-nya berikut di sejumlah adegan yang terasa sangat Bollywood bersama scoring Melly Goeslaw dan Tya Subiakto plus lagu tema dari Kris Dayanti, meskipun keberadaan Kuntz Agus sebagai sutradara setelah kiprahnya dalam beberapa film pendek dan ‘Republik Twitter’ masih terasa sangat kompromistis.

          Di departemen akting, selain Tanta dan Kemal sebagai scene stealer yang menjaga keseluruhan durasi panjangnya tetap berwarna, Laudya Cynthia Bella bermain paling baik diantara cast utamanya. Menerjemahkan emosi karakter Arini di tengah konfliknya, Bella bermain penuh emosi namun tak sekalipun jadi over. Sementara saling bertolak belakang, walau chemistry ketiganya masih terjaga, Fedi Nuril jadi makin kuat ke arah finale-nya, selagi Raline yang tampil sangat meyakinkan di bagian-bagian awal dengan sematan dialog campur aduk yang sangat masuk ke sosoknya sedikit kehilangan konsistensi ke belakang. Selebihnya, masih ada penampilan bagus dari Sitoresmi Prabuningrat dan Landung Simatupang.

              Secara keseluruhan, ‘Surga Yang Tak Dirindukan’ memang belum bisa melepas hal-hal stereotype atas keberadaan genre-nya yang jadi keunikan tersendiri di beragam rupa sinema Islami kita. Usahanya mengulang kesuksesan ‘Ayat-Ayat Cinta‘ mungkin belum berhasil walaupun perolehan penontonnya tergolong bagus di saat-saat sekarang. Namun paling tidak, terlebih sebagai blockbuster lebaran, selain adanya keunggulan dalam sisi penggarapan, ia harus diakui punya daya tarik besar terhadap pangsa yang juga jadi salah satu kelas terbesar penonton film lokal. (dan)

COMIC 8: CASINO KINGS PART 1; THE BIGGER SCALE OF ANOTHER SETUP

•July 26, 2015 • 1 Comment

COMIC 8: CASINO KINGS PART 1

Sutradara: Anggy Umbara

Produksi: Falcon Pictures, 2015

comic 8 casino kings part 1

            Sebagai sineas yang masih tergolong baru, Anggy Umbara tak serta-merta meletakkan kesuksesan di ranah industrinya. Walau usahanya untuk membuat sesuatu yang berbeda sejak awal sudah terlihat, bahkan oleh pihak ekshibitor sendiri, ‘Mama Cake’ masih dianggap sebagai anomali dalam kelas produknya. Tapi untunglah Falcon Pictures, satu PH yang juga lumayan punya visi baik dalam mendobrak stagnansi genre di film kita, terus memberikan dukungan buat Anggy. Film keduanya, ‘Coboy Junior The Movie’ punya cara yang unik untuk memberikan sorotan berbeda terhadap boy band yang tengah populer, serta laku pula di pasaran. Tapi puncaknya jelas ‘Comic 8’.

            Begitu cermat memanfaatkan popularitas trend standup comedian / komika dalam sebuah genre mishmash yang selain seru, lucu sekaligus laku, juga masih jarang-jarang ada di film kita dalam nafas film-film ayahnya, sineas Danu Umbara, walau masih punya beberapa haters, ‘Comic 8’ harus diakui meletakkan standar baru dalam industri film kita. So, memang tak ada alasan untuk tak melanjutkan setup kuat yang sudah digelar Anggy di konklusi pengujung film itu.

            Trailer dan gelaran promonya sejak jauh-jauh hari sudah sangat mengundang antusiasme lebih lagi, bahkan dari kalangan di luar penyuka komika dengan ensemble support dari seabrek standup comedian tambahan dari Pandji Pragiwaksono, Sacha Stevenson, Soleh Solihun, Asep Suaji, Akbar Kobar, Adjis Doaibu, Uus, Temon, Cak LontongBoris Bokir, Lolox, Gita Bhebita, Mo Sidik hingga Jovial dan Andovi da Lopez dan masih banyak lagi, aktor-aktor aksi terkenal lintas generasi, diantaranya Barry Prima, George Rudy, Willy Dozan sampai Donny Alamsyah, Hannah Al Rashid dan Yayan Ruhian, plus Lydia Kandou (oh ya, Lydia juga pernah jadi action icon lewat ‘5 Cewek Jagoan’ yang disutradarai Danu Umbara), Prisia Nasution, Dhea Ananda, Sophia Latjuba, Agus Kuncoro, Gandhi Fernando dan Ray Sahetapy yang ikut menjadi highlight. Masih ada pula Joe P Project, Boy William, Agung Hercules, Candil, Ence Bagus dan Nikita Mirzani yang kembali mengulang peran mereka.

            8 personil dalam ensembleComic 8’ yang sudah direkrut menjadi agen rahasia khusus dibawah pimpinan Indro Warkop dan asistennya (Ge Pamungkas); Ernest (Ernest Prakasa), Kemal (Kemal Palevi), Arie (Arie Kriting), Babe (Babe Cabiita), Bintang (Bintang Timur), Fico (Fico Fachriza), Mongol (Mongol Stres) dan Mudy (Mudy Taylor) kini diserahi misi menyamar menjadi komika demi menemukan seorang komika misterius yang menjadi penghubung ke criminal mastermind yang bernama The King dibalik keberadaan kasino rahasia paling spektakuler di Asia. Selain harus menghadapi misi ini, mereka juga masih berada dalam incaran kepolisian (Boy William dan Dhea Ananda; replacing Nirina), interpol Singapura (Prisia Nasution) serta berbagai kawanan penjahat dan pembunuh yang sayangnya keseluruhannya baru akan kita saksikan di Part 2-nya di Februari 2016 nanti.

            There you go. Inilah resiko yang ditanggung ‘Comic 8: Casino Kings’ atas keputusan akhir Falcon membaginya menjadi dua bagian dengan rentang yang cukup lama. Bukan semata karena jarak itu berpotensi membuatnya kehilangan momen, tapi yang paling dasar, penceritaan back and forth secara non-linear yang memang tetap dipertahankan, membuat excitement-nya seakan terlalu ditahan untuk benar-benar meledak di bagian keduanya nanti. Apa yang kita saksikan disini, dari racikan aksi bercampur komedinya, lagi-lagi balik menjadi sebuah awal walau eksistensi benang merahnya ada sebagai sekuel, Belum lagi banyaknya star studded cast yang belum muncul disini, sementara beberapa masih hanya sebatas teaser. Mau tak mau, Part 1 ini lagi-lagi lebih hanya berupa sebuah setup ketimbang satu cerita utuh yang sebenarnya sudah lama ditunggu-tunggu apalagi dengan trailer-nya yang cukup heboh itu.

            Begitupun, bukan berarti bagian pertama ini sepenuhnya kehilangan highlight-nya sebagai sebuah hiburan yang dilepas di masa-masa libur lebaran. Paling tidak, main ensemble yang memang sudah dibangun dengan karakterisasi, ciri khas komedi masing-masing komika serta chemistry kuat dari film pertamanya sudah menjadi fokus excitement utamanya bersama dukungan tokoh-tokoh baru yang berseliweran di sepanjang film terutama Prisia Nasution dengan dialek Malay-Singapore meyakinkan hingga benar-benar kelihatan seperti aktor impor,  Hannah Al-Rashid serta Sophia Latjuba. Ketiganya adalah tampilan yang paling mencuri perhatian disini. Masih ada soal hit and miss di comedic showcase-nya, apalagi dengan tambahan seabrek komika yang muncul. Satu yang memang sulit dihindari dari genre ini berdasar soal like and dislike ke comedic pattern masing-masing, namun ensemble itu benar-benar bekerja dibalik homage lebih lagi, bukan hanya ke profesi mereka yang masih terus menciptakan trend di industri hiburan kita, dan tak pula sekedar di end credits gimmick-nya. Sementara bagi aktor-aktor pendukung selebihnya, juga dipenuhi trivia ke film-film populer lainnya.

            Dan bagusnya, Anggy bersama kru-nya memang membawa sekuel ini ke presentasi yang lebih lagi, sangat niat, dibandingkan film pertamanya. Walau skrip dari Anggy dan Fajar Umbara terasa tak spesial terlebih karena pembagian dua bagian itu, ada grand looks yang sangat mewah dari tampilan keseluruhannya termasuk dari sinematografi Dicky R. Maland, action yang lebih seru (walaupun teaser ke bagian keduanya tetap terlihat jauh lebih seru lagi) serta tentu saja kehebohan yang cukup spektakuler dengan permainan efek spesial creature feature buaya-buaya animatronics dari Epics FX Studio yang meski tak seluruhnya rapi namun sudah cukup mumpuni diantara yang ada di film kita sekarang. Editing yang berpindah dari Bounty Umbara ke Andi Mamo masih setia mengikuti pakem non linear film pertamanya, namun secara keseluruhan, didukung oleh tim tata busana serta tata rias serta tata artistik dari Dicky Kadarhariyawan sudah bisa melepasnya dari homage ke banyak style film luar ke ciri khas sendiri yang hanya dimiliki ‘Comic 8’, yang kini jelas sudah menjadi sebuah franchise lokal yang kuat.

            So yes, ‘Comic 8: Casino Kings Part 1’, walaupun terlihat lagi-lagi sebagai setup panjang yang sama sekali tak utuh, memang punya segudang syarat untuk menjadi produk yang laku di tengah-tengah sulitnya film kita menemukan penontonnya. Presentasi yang seru, lucu, bertabur bintang serta terlihat megah di atas sejumlah effort-nya. Paling tidak ini bisa menjadi gambaran formula yang sekarang masih dicari-cari produser kita di atas gebrakan Anggy dengan gagasannya, namun begitu, tetap memerlukan inovasi lebih untuk membuatnya bisa ada di kelas yang sama. Mari tunggu sehebat apa Anggy menyelesaikan wrapping keseluruhannya di ‘Comic 8: Casino Kings Part 2’ Februari nanti. (dan)

ANT-MAN: THE TRUE CORE OF MARVEL’S HEARTS

•July 22, 2015 • 1 Comment

ANT-MAN

Sutradara: Peyton Reed

Produksi: Marvel Studios, Walt Disney Studios Motion Pictures, 2015

ant-man

            Seperti ‘Guardians of the Galaxy’, kecuali Marvel comics-enthusiasts, tak banyak orang yang tahu siapa ‘Ant-Man’. Jadi apa sebenarnya alasan Kevin Feige menempatkannya sebagai penutup MCU (Marvel Cinematic Universe) Phase Two, itu yang menjadi pertanyaan besar walaupun arah pengembangannya nanti sudah banyak dilansir di social media. Satu yang unik, tetap berada dalam garis konsep Kevin Feige yang sangat visioner membangun universe-nya di atas perbedaan genre dari tiap instalmennya, rasa penasaran itu sudah muncul kala nama Edgar Wright dan Joe Cornish dikabarkan ada di belakangnya. Bukan terlalu mengejutkan memang, karena visi fantasi dibalik keterkaitan hubungan kedua sineas itu, walau cenderung absurd, memang sudah terlihat tak hanya dari ‘Three Flavours Cornetto Film Trilogy’-nya, tapi juga terentang baik dari ‘Scott Pilgrim vs. The World’-nya Wright, ‘Attack the Block’-nya Cornish bahkan ke yang jauh lebih mainstream, ‘The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn’, sebagai co-writers.

            But do know this. Wright dan Cornish memang sudah lama menulis treatment terhadap superhero Marvel ini sejak rencana pembuatannya dipegang Marvel bersama Artisan Entertainment, studio independen yang digandeng Lionsgate di tahun 2003. Persetujuan Feige ke proyek ini di tahun 2006 juga yang lantas mungkin membuat Wright akhirnya hengkang dari kursi sutradara, atas visi awal bahwa ‘Ant-Man’ akan menjadi bagian terpisah sepenuhnya dari film-film superhero Marvel, walau tetap ada di kredit produser eksekutif serta skrip yang akhirnya membawa serta Adam McKay dan Paul Rudd untuk menginjeksikan feelFrat Pack’s Apatow Chapter’ ke dalam plot yang masih setia berdiri di atas pitch awal Stan Lee di pengujung ’80-an dengan similaritas konsep ke Disney’sHoney, I Shrunk The Kids’. Disitulah akhirnya finalisasi pemilihan Peyton Reed sebagai sutradara jadi terlihat sangat beralasan. Walau filmografinya kebanyakan berada di ranah komedi hingga rom-com, dari ‘Bring It On’ ke ‘Yes Man’, jangan lupa bahwa Reed ada dibalik ‘Back to the Futureanimated series dan TV remakeThe Love Bug’ dengan penekanan smaller class family fantasy-nya.

            So yes. Ketika visi Feige atas genre mash-up instalmen-instalmen MCU itu masih sangat terasa, ‘Ant-Man’ pada dasarnya lebih dari sekedar heist movie. Konsep pemilihan cast Marvel yang jarang-jarang memaksa aktor pilihannya berubah menjadi ini-itu tapi lebih dibangun atas tipikalitas karakter-karakter mereka di filmografi masing-masing, mostly the well-known ones, dalam kemiripan besar atas pemilihan Robert Downey, Jr. sebagai Tony Stark / Iron Man, itulah yang terlihat dengan Paul Rudd yang masuk sampai ke treatment plot-nya. Merubah sedikit timeline karakter asli komiknya ke Scott Lang’s ‘Ant-Man 2.0’ sementara the original Hank Pym ditempatkan ke komposisi awal S.H.I.E.L.D. dengan pilihan aktor senior buat Michael Douglas, Rudd yang kita lihat disini adalah Rudd dalam universe Apatow’s Frat Pack, dan jelas ditambah ‘Honey, I Shrunk The Kids’-esque bersama father to daughter drama yang solid di cakupan family genre-nya.

          This is, nevertheless, unique, meski bukan juga tak punya resiko. Jauh dari gigantic atau spectacular feel yang ada di sepanjang MCU, ini nyaris seperti low key composition yang membuatnya cenderung juga ada di ranah film keluarga, dan itu sudah terlihat dari ending trailer-nya yang memang punya kekuatan lebih. Itu mungkin yang jadi alasan mengapa treatment atas perilisannya tak seheboh instalmen-instalmen lain termasuk di Indonesia, meski pihak Marvel lokal harus mengakui, prediksi mereka salah besar.

            ‘Ant-Man’ membawa kita kembali ke tahun 1989 dimana ilmuwan Hank Pym (Michael Douglas) memilih keluar dari S.H.I.E.L.D. saat Howard Stark (John Slattery) mencoba mereplikasi teknologi ‘Pym Particles’ ciptaannya yang dianggap Pym bisa beresiko sangat berbahaya. Namun di masa sekarang, ketika penerus perusahaan sekaligus protege-nya, Darren Cross (Corey Stoll) berhasil menemukan dan meneruskan teknologi itu bersama putri Pym, Hope van Dyne (Evangeline Lilly), Pym mau tak mau harus merancang sebuah rencana untuk menggagalkannya. Meski Hope berusaha meyakinkannya, sambil menyimpan rapat-rapat trauma masa lalu yang membuat Pym kehilangan istrinya, Janet Van Dyne (Hayley Lovitt), ia memilih seorang maling underdog Scott Lang (Paul Rudd) yang tengah berada di tengah masalah perebutan hak asuh putrinya, Cassie (Abby Ryder Fortson), dengan mantan istrinya, Maggie (Judy Greer) serta pasangan barunya, petugas polisi Paxton (Bobby Cannavale). Merekayasa sebuah perampokan yang melibatkan mantan tim Lang; Luis (Michael Peña), Dave (Tip “T.I.” Harris) dan Kurt (David Dastmalchian), Lang yang awalnya menolak terpaksa menyetujui keputusan Pym menempuh takdir barunya sebagai Ant-Man. Bukan semata untuk menghentikan Cross yang keluar jalur dengan warisan penemuan itu sebagai Yellowjacket yang lebih sempurna, namun berkaca pada hubungan Pym dan Hope; Lang siap menempuh resiko apapun hanya buat satu hal. Untuk kembali memenangkan hati Cassie.

            So you see. Disitulah ‘Ant-Man’ lantas menjelma dengan full hearts dalam MCU. Bahkan melebihi action seru dengan VFX memikat ala ‘Honey, I Shrunk The Kids’ yang digarap ILM dengan teknologi jauh lebih update lagi dengan transformasi ukuran dan pasukan semutnya – namun tetap terasa ditekan jauh lebih personal dari film-film lain di universe-nya, ‘Ant-Man‘ adalah sebuah langkah baru yang menyeruak begitu kuat di wilayah yang selama ini belum pernah tergali sedemikian dalam dari instalmen-instalmen Marvel. Bukan berarti film-film Marvel selama ini meninggalkan heart factor-nya, tapi dengan hubungan-hubungan personal ayah yang berjuang mati-matian buat anak perempuannya, ‘Ant-Man’, akan membuat mata pemirsanya berkaca-kaca dibalik kacamata 3D yang mereka kenakan untuk melihat detil shrinking – blew up beserta atmosfer sekeliling dari sinematografi Russell Carpenter secara jauh lebih baik.

            Sementara style Wright dan Cornish sangat terlihat di banyak sisi storytelling-nya, salah satu yang terkuat pastilah di visualisasi penceritaan Luis dkk yang memang menempatkan Peña sebagai comedic scene-stealer terkuat sekaligus menjelaskan mengapa tampangnya berbeda sendiri di deretan wajah dalam poster itu, yang meski repetitif tapi tetap membuat kita ketagihan, family adventure alaHoney, I Shrunk The Kids’-nya membentuk blend yang sempurna ke tengah-tengah heist theme dan awkward comedy McKayRudd di film-film Apatow. Sementara di inti terkuatnya, ada father to daughter drama yang merefleksikan interaksi Pym – Hope ke Lang – Cassie dengan chemistry yang begitu mencuri hati. Tak mudah untuk menyatukan elemen-elemen itu dalam sebuah racikan yang sangat padu, tapi ‘Ant-Man’ berhasil menemukan jalannya.

            Dalam interkoneksi universe-nya pula, sebagai penutup Phase Two, gimmick-gimmick-nya tak kalah juara. Selain menyemat aksi awal ‘Ant-Man’ dengan hint-hint yang luarbiasa menarik ke S.H.I.E.L.D., The Avengers, satu karakter baru paling lekat ke source aslinya (walaupun ada modifikasi disana) serta keseluruhan MCU, dari main scenes hingga ke mid-credits dan after credits, semua gimmick ini adalah satu yang terbaik dalam histori instalmen-instalmennya.

            Di departemen cast, ‘Ant-Man’ juga punya sinergi kuat untuk menyatukan elemen-elemen itu. Selagi Rudd seolah memainkan karakter tipikalnya dengan awkward sensitivity yang kita saksikan sejak ‘The Object of My Affection’ ke tampilannya di deretan film-film komedi ala Apatow, apalagi di sebuah funny romance scene di pengujung film itu – but somehow, bisa begitu solid menciptakan karakter Scott Lang; Michael Douglas, Evangeline Lilly hingga Bobby Cannavale dan Judy Greer pun ada di wilayah yang sama. Keren luarbiasa. Sebagai villain, Corey Stoll seems never like a big factor dalam tampilan komikalnya, apalagi Martin Donovan, namun Stoll tetap bisa menciptakan feel personal dalam final showdown yang seru di tengah-tengah distraksi Marvel meminjam karakter ‘Thomas the Tank Engine’ yang makin menambah excitement factor buat para pemirsa belia-nya. Selebihnya tentulah comedic chemistry Peña, T.I. dan Dastmalchian, heart stealing acts Abby Ryder Fortson, dan tak ketinggalan, Anthony Mackie dan sebuah kejutan after credits di benang merah universe-nya.

            So that’s it. Dalam kekuatan berbeda dari ‘Guardians of the Galaxy’, ‘Ant-Man’ lagi-lagi sudah menunjukkan kedigdayaan Marvel dalam bentukan karakter sekaligus pengenalannya secara ultimate. Mereka tak butuh tahapan-tahapan sulit untuk sebuah establishment, tapi cukup hanya dengan kekuatan konsep. Dalam durasinya yang tak sampai dua jam, karakter ini sudah menjelma menjadi favorit baru para pemirsanya. Wujudnya boleh kecil, even tiny, tapi dalam konsep-konsep superhero konvensional, the heart, is bigger than ever. Sekali lagi, bukan berarti instalmen-instalmen Marvel selama ini tak punya hati, tapi seperti Pym’s subatomic particles dengan kapabilitas luarbiasa yang ada di dasar terdalam dari kisahnya, ‘Ant-Man’ adalah inti terkuatnya. The true core of Marvel’s hearts. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 9,229 other followers