POLTERGEIST: A FUN SPIN OF THE CLASSIC HORROR FANTASY

•June 25, 2015 • 2 Comments

POLTERGEIST

Sutradara: Gil Kenan

Produksi: MGM, Ghost House Pictures, Vertigo Entertainment, 20th Century Fox, 2015

poltergeist

            Sebut 10 franchise horor terbaik, ‘Poltergeist’ pasti ada sebagai salah satu diantaranya. Walau sekuelnya, ‘Poltergeist II: The Other Side’ (1986) dan ‘Poltergeist III’ (1988) punya kualitas tak sebanding, ‘Poltergeist’ (1982) benar-benar merupakan sebuah pionir dalam pendekatan haunted house horror yang berbeda. Kolaborasi Steven Spielberg dan Tobe Hooper yang sempat diwarnai isu dualisme komando dalam produksinya itu masing-masing sudah menorehkan warna science dan scary dengan kekuatan sama, membuatnya nyaris berupa sebuah ‘one of a kind’ dalam horror cinema. Di saat pendekatan science soal aspek-aspek paranormal research hingga theory of energy yang diaplikasikan pada electrical devices-nya tetap terasa sangat Spielberg, sentuhan Hooper tetap menjaga feel horor-nya tetap bisa terlihat menyeramkan.

            Lagi-lagi berhadapan dengan isu sama terhadap perlu tidaknya karya-karya klasik itu kembali dihidupkan lewat remake, reboot, atau apapun sebutannya, ‘Poltergeist’ yang kini berpindah ke tangan sutradara Gil Kenan (‘City of Ember’) sejak publikasinya memang sudah mengundang beberapa reaksi. Namun keterlibatan Sam Raimi dengan Ghost House Pictures milik partner/sahabatnya, Robert G. Tapert di kursi produser, paling tidak memberikan ekspektasi berbeda, terlebih atas kesuksesan remakeEvil Dead’ kemarin.

            Keluarga Eric dan Amy Bowen (Sam RockwellRosemarie DeWitt) beserta tiga anak mereka – Kendra (Saxon Sharbino), Griffin (Kyle Catlett) dan si kecil Madison (Kennedi Clements) mulai menemukan kejadian-kejadian aneh di rumah baru mereka. Walau awalnya Eric dan Amy tak percaya, namun teror yang dialami Griffin diikuti hilangnya Madison secara misterius mau tak mau membuat mereka akhirnya mengetahui bahwa rumah itu dibangun diatas pekuburan kuno yang tak dipindahkan sepenuhnya oleh pihak developer. Meminta pertolongan pada parapsikolog Dr. Brooke Powell (Jane Adams) dan mantan partnernya, pengusir hantu terkenal Carrigan Burke (Jared Harris), mereka pun mulai mencari keberadaan Madison dan berusaha menyelamatkannya.

            Kecuali nama karakter dan pertukaran gender beberapa karakternya, tak banyak memang yang berubah dari plot-nya sebagai sebuah reboot atau remake. Selagi visi Raimi dalam aspek-aspek dimensional other worlds-nya sangat terlihat dengan jelas lewat visualisasi dan permainan efek, skrip yang ditulis oleh David Lindsay-Abaire, pemenang Pulitzer lewat ‘Rabbit Holeplay (juga versi filmnya) sayangnya terlalu memfokuskan versi 2015 ini ke soal-soal parapsikologis atau paranormal science-nya.

           Betul memang, sisi ini menjadi satu kekuatan besar yang membuat ‘Poltergeiststandout secara berbeda sebagai horor-nya Spielberg, namun menambahnya terlalu cepat dan terus menerus hingga nyaris menenggelamkan satu persyaratan penting yang tak boleh juga dilupakan dalam persepsi klasik film orisinilnya. Keseraman yang tetap  begitu terjaga di tangan Hooper; menerjemahkan scientific approach Spielberg bermain-main dengan electrical devices dengan kengerian luarbiasa dibalik taglineThey’re Here’ saat aktris cilik Heather O’Rourke – yang meninggal saat ‘Poltergeist III‘ dalam produksi – berkomunikasi dengan roh di depan TV, kini tak lagi meninggalkan kesan apa-apa.

          Dan bukan hanya menanggalkan atribut seram-seramannya, sempalan humor yang sepertinya sangat dinikmati Kenan juga makin keterusan dari latar yang dibahas skrip Lindsay-Abaire lewat karakter Carrigan Burke yang diperankan Jared Harris dan hubungan lamanya dengan Dr. Brooke Powell yang diperankan Jane Adams. Bukan chemistry mereka tak bagus, tapi mau tak mau sisi yang mendominasi hingga ke after credit scene-nya ini jadi memindahkan atmosfer scary versi 1982-nya menjadi scary fun dan cenderung lucu ketimbang mengerikan.

            Tak ada juga yang salah dengan cast lain termasuk Rosemarie DeWitt yang cukup bagus, sementara Kennedi Clements yang seharusnya menggantikan Heather O’Rourke menjadi icon, bukan tak bagus tapi sedikit tertutupi oleh Kyle Catlett (tahun lalu muncul dalam ‘The Young and Prodigious T.S. Spivet’-nya Jean-Pierre Jeunet), yang tampil jauh lebih intens memerankan abangnya. Namun Sam Rockwell dengan ekspresi tipikalnya adalah miscast berantakan yang makin meruntuhkan elemen horor dalam versi 2015 ini. Bersama Jared Harris, Rockwell lebih terlihat sebagai karakter playful yang kelihatan lebih sangat menikmati tiap-tiap scientific process itu ketimbang seorang ayah yang stress luarbiasa karena kehilangan putri kecilnya. Scoring dari Marc Streitenfeld juga jauh dibanding Jerry Goldsmith dulu, dan malah ikut bermain-main seolah tak mementingkan atmosfer horornya. Sementara sinematografi Javier Aguirresarobe (‘Twilight: New Moon‘ & ‘Eclipse‘ serta remakeFright Night‘) terlihat sangat masuk dengan film-film horor fantasi ala Raimi. Bagus, tapi tak spesial.

             So begitulah. Cara mereka memindahkan versi 1982 dengan relevansi science ke tahun 2015 tentu bukannya digagas sama sekali tanpa alasan. Powered up those aspects dengan VFX – gimmick 3D dan memilih tak meninggalkan beberapa memorable scenes berikut electrical devices play-nya dengan cukup kreatif, ‘Poltergeist’ tetap punya nods yang cukup baik ke film orisinilnya. Salahnya hanya satu, that’s if you wish this reboot / remake to be something as scary, this newPoltergeistis a bit lazy. Sebuah enjoyable summer ride yang lebih mementingkan fun factor ketimbang atmosfer horornya. A fun spin of the classic horror fantasy, dan tak lebih dari itu. Sayang sekali. (dan)

MINIONS : A JUMBO-SIZED ANNOYING BUT FUN MADNESS

•June 18, 2015 • 1 Comment

MINIONS

Sutradara: Pierre Coffin & Kyle Balda

Produksi: Illumination Entertainment, Universal Pictures, 2015

minions

            Okay. Bagi sebagian orang, yellow little creatures bernama ‘Minions’ yang pertama kali dikenalkan lewat ‘Despicable Me’ (2010) sebagai kreasi Pierre Coffin dan Chris Renaud dari Illumination Entertainment ini boleh jadi annoying setengah mati dan dianggap sangat kekanak-kanakan. Tapi lihat kenyataannya. Tak ada yang menyangka kalau setelah sekuelnya di tahun 2013, ‘Despicable Me 2’, franchise-nya begitu melejit jadi salah satu karakter animasi paling dikenal orang terutama anak-anak di seluruh dunia. Seperti nama aplikasi game-nya, ‘Minion Rush’, demam ‘Minions’ ini memang sempat membuat rush lewat gimmick fastfood figures-nya dengan angka penjualan tak main-main sebagai collector’s items termasuk lewat lelang.

            Now the continuation is avoidable, sejak ‘Despicable Me 2’, termasuk lewat after credit scene-nya, kita sudah tahu bahwa petualangan mereka akan berlanjut ke sebuah prekuel/spinoff berjudul ‘Minions’ yang dirilis tahun ini. Oh ya, sambutannya yang lebih besar di Asia dan sejumlah negara membuat tanggal rilisnya lebih cepat sebulan daripada di AS, dan disini (termasuk Malaysia dan Singapura), malah menggeser ‘Inside Out’-nya Pixar demi perhitungan kesuksesan yang berbeda. Entah iya atau tidak, mungkin ada juga faktor penghormatan garis darah Coffin yang punya ibu seorang penulis terkenal Indonesia, NH Dini. Jadi dimana sebenarnya letak keberhasilan itu? Despite the looks and the owned-universe yang sampai menciptakan bahasa sendiri buat dialog-dialognya, no matter how childish, konsep yang mereka ciptakan untuk karakternya memang punya batasan yang sangat jelas, dan belum pernah ada sebelumnya. Tiny yellow creatures yang tak pernah berhenti mencari seorang villain hebat sebagai majikan mereka. Oh yes, ini memang menarik.

            ‘Minions’ pun berpindah jauh sebelum apa yang kita saksikan dalam ‘Despicable Me’, before Gru and the orphan girls. Menyemat asal-usul Minions yang sudah ada sejak awal zaman lewat narasi yang disuarakan aktor Geoffrey Rush, berkembang dari organisme satu sel demi tujuan mengabdi pada seorang majikan jahat, mereka hidup dari zaman ke zaman, berinteraksi dengan dinosaurus-dinosaurus dan manusia gua prasejarah, menjadikan Pharaoh, Dracula hingga Napoleon sebagai majikan yang secara tak sengaja selalu berujung kekacauan sampai akhirnya terdampar di benua Antartika. Menjelang akhir era ’60-an, kegagalan mendapatkan majikan baru yang membuat mereka mengalami depresi akhirnya didobrak oleh minion bernama Kevin yang memutuskan keluar untuk mencari despicable master bersama dua volunteer badung Stuart dan Bob yang masih bocah. Bertualang di New York, mereka menemukan sasaran baru bernama Scarlet Overkill (disuarakan Sandra Bullock), seorang female supervillain yang kemudian memperalat Kevin-Stuart dan Bob mencuri mahkota Ratu Elizabeth II (Jennifer Saunders) di London. Bersama misi itu, kelangsungan eksistensi Minions pun ikut dipertaruhkan.

            Penned by Brian Lynch (‘Hop’, ‘Puss in Bootsand short animatedMinions Mayhem‘) sebagai scriptwriter baru yang menggantikan duo penulis ‘Despicable Me’, Cinco Paul & Ken Daurio, ide gila tentang asal-usul ‘Minions’ ini dipindahkan dari rentetan sejarah ‘world’s greatest villains’ ke setting tahun 1968 dalam nafas retro crime fantasy dari spy action ke campy sci-fi era itu. Ini mau tak mau harus diakui sangat fresh dan memang dipenuhi banyak referensi. Bukan hanya soal genre film yang memasukkan tema-tema spy action ke campy superhero seperti ‘Fantastic Argomana.k.aHow to Steal the Crown of England’ (1967) dibalik tema yang sama, gadget tech dan demam robot, tapi juga rock history incl. The Beatles’ ‘Abbey Roadclassic scene ke legenda ‘Sword in the Stone’ yang melatarbelakangi setting London-nya, tetap dengan tokoh-tokoh legendaris yang hidup di zamannya.

           Sementara, di lini paling dasar, kelucuan-kelucuannya jelas tak lari dari resep baku Minions dalam franchise-nya. Menggamit pasangan baru Kyle Balda buat menggantikan Chris Renaud (tetap mengisi sebagian suara Minions), Coffin memang terlihat tahu sekali resep kesuksesan franchise-nya ada dimana. Kacau balau, tolol dan tanpa arah, tapi juga sekaligus fun luarbiasa. Bahasa-bahasa Minions yang digagas menyentil banyak world languages hingga banyak dibuatkan kamus sendiri termasuk Indonesia dimana pemirsanya dihebohkan dengan dialog ‘Terima Kasih’ yang terdengar jelas itu digabungkan dengan vintage music reference dari KC & The Sunshine Band, Rick SpringfieldDonovan, Aerosmith, The Kinks, The Who hingga The Doors dan Jimi Hendrix di deretan OST-nya, hingga referensi Van Halen di salah satu highlight scene Stuart dan gitarnya. Scoring dari Heitor Pereira yang sudah ada sejak instalmen pertamanya juga memberikan sentuhan yang bagus. Gimmick 3D-nya secara keseluruhan cukup baik, namun sayangnya tak benar-benar bisa memberikan excitement lebih di adegan-adegan serunya.

             Satu lagi, tentu saja deretan voice cast-nya. Sandra Bullock dan Jon Hamm mungkin belum begitu maksimal menyuarakan pasangan Scarlet dan Herb the inventor, not sounds so evil, tapi ada Michael Keaton dan Alison Janney sebagai Nelson family yang meski terbatas di supporting characters tapi hadir dalam salah satu adegan paling menarik, Jennifer SaundersSteve Coogan dan Hiroyuki Sanada serta tentu Geoffrey Rush sebagai narator – dan Coffin sendiri, menyuarakan sekaligus Kevin, Stuart dan Bob.

            So go call it what you want. Tapi yang jelas, dibalik kecerobohan serta ketololan Minions yang selalu jadi jualan utama dalam sisi fun comedy-nya, Coffin dan timnya bukan berarti tak merancang karakter-karakter Minions ini dengan kecermatan lebih dari karakterisasi hingga potensi besar jualan merchandise-nya dalam detil-detil berbeda yang sangat bisa dikenali, apalagi dalam penggunaan referensi-referensinya. Bahkan benang merah franchise-nya dengan karakter yang sudah kita kenal selama ini pun disiapkan dengan sangat menarik di pengujung film serta post credit scenes-nya. Oh yes, pemirsa dewasa mungkin terkadang masih ribut mempersoalkan storytelling lebih dalam lewat sebuah family-oriented animated movie, but do know this. Always look to your little loved ones, untuk menilai seberapa besar sebenarnya fun factor yang dimiliki sebuah tontonan animasi segala umur. Dengan segala mishmash khasnya, ‘Minionsis a jumbo-sized annoying but fun madness! (dan)

ENTOURAGE : CELEBRATING THE HOLLYWOOD DREAMS

•June 17, 2015 • Leave a Comment

ENTOURAGE

Sutradara: Doug Ellin

Produksi: HBO, Closest to the Hole Productions, Leverage Entertainment, Ratpac-Dune Entertainment, Warner Bros, 2015

entourage

            Kecuali oleh fans setia serialnya, yang lain mungkin wajar bertanya-tanya, “Of all the famous TV series, why Entourage?”. Okay. Di luar kenyataan bahwa serial televisi HBO yang digagas Mark Wahlberg sebagai loosely-threaded biopic dari sejarah karirnya bisa bertahan selama 8 season dari 2004 – 2011 dengan sejumlah rekor nominee and wins dari Emmy, BAFTA hingga Golden Globe, besarnya fanbase serta alasan-alasan yang membuatnya pantas mendapat treatment layar lebar, jawaban paling jelas tentu karena Wahlberg dan Stephen Levinson (produser) serta Doug Ellin sebagai kreatornya lebih berani dari yang lain. Mereka bahkan berani menempatkan ‘Entourage’ ke tengah-tengah pertarungan summer movies 2015 sebagai satu yang dijadwalkan jadi ajang adu big-screen franchise paling seru dalam beberapa tahun terakhir.

            Namun diatas semuanya, mungkin ada dasar yang mendorong keberanian itu. Bahwa walau berfokus pada male friendship story sekelompok sahabat yang sama-sama berjuang meraih kesuksesan dalam karir mereka, ‘Entourage’ adalah sebuah show tentang Hollywood dan semua mimpi yang ada di dalamnya, berikut seabrek cameo seperti series-nya. Sebuah film tentang film, yang tentu tak juga memerlukan referensi terlalu banyak bagi kalangan luar pemirsa series-nya. Itu juga alasannya, mungkin, Ellin dan Rob Weiss yang menulis skrip setelah gagasan ini cukup lama timbul tenggelam dalam pengembangannya, memilih keberadaannya sebagai continuation of the series. Resikonya tetap ada. Selain tetap harus bergantung pada antusiasme fans serial sebagai lini utamanya, durasi terbatas untuk layar lebar mau tak mau membuatnya tak mungkin tampil sedalam 8 season long-running serialnya. Hasil B.O.-nya memang tak terlalu baik dengan review kritikus yang kebanyakan bernada negatif. But in terms of entertainment, nanti dulu.

            Menyambung bagian terakhir serialnya, ‘Entourage’ masih berfokus ke ‘boys from the hood’ Vincent Chase (Adrian Grenier), saudara tirinya Johnny Drama (Kevin Dillon), serta dua sahabatnya Eric ‘E’ Murphy (Kevin Connoly) dan Turtle (Jerry Ferrara). Vincent yang baru berpisah dengan istrinya menginginkan langkah baru dalam karirnya. Ari Gold (Jeremy Piven), mantan agennya yang sudah menjadi studio head memintanya main di produksi pertamanya, namun Vincent memaksa Ari untuk menyutradarainya sekaligus, dengan Johnny sebagai salah satu aktornya. 8 bulan kemudian, ‘Hyde’, film itu ternyata mengalami kendala bujet untuk penyelesaiannya. Meski awalnya Vincent menolak memperlihatkan hasilnya ke Ari, ia tetap ke Texas untuk meminta tambahan bujet pada koboi milyuner Larsen McCredle (Billy Bob Thornton) yang kemudian mengutus putranya, Travis (Haley Joel Osment) untuk melihat rough cut-nya di sebuah acara private screening. Bukannya berjalan mulus, kekacauan mulai terjadi kala Ari dan Travis punya resepsi berseberangan terhadap hasilnya dan makin memanas atas permintaan Travis mengganti Vincent dan Johnny.

            So you see, big screen continuation ini masih tetap bermain di konflik-konflik yang mirip dalam hal intrik-intrik industrinya, namun memang membiarkan plot dasar itu tak pernah jadi benar-benar terlalu dalam karena mereka tetap menyisakan ruang untuk subplot-subplot tiap karakternya sebagaimana ‘Entourage’ bergerak dengan pola penceritaan serial dengan ensemble characters sebagai sentralnya. Tak ada yang salah memang, namun ini membuat penggambaran versi layar lebar ini kerap jadi lebih mirip sekumpulan sketsa yang melompat-lompat ketimbang satu plot utuh. Begitu juga soal solusinya yang tak peduli jadi se-predictable apapun, Ellin agaknya memang lebih memfokuskan ‘Entourage’ sebagai konklusi tambahan penuh selebrasi kehidupan serta industri Hollywood. Mocking and at the same time, embracing them.

            But however, ia bisa mengatasi resiko utama ‘Entourage’ bagi pemirsa non fans TV series-nya dengan menyemat latar karakterisasi tiap tokohnya secara efektif. Tanpa memerlukan durasi berpanjang-panjang, chemistry yang sudah terjalin sepanjang lebih dari 7 tahun itu juga berjalan dengan lancar menjelaskan karakterisasi tokoh-tokoh sentralnya. Keakraban masing-masing pemirsa beda latar itu bisajadi memang relatif, tapi bukan berarti pemirsa non fans serialnya kesulitan untuk mengikuti keseluruhan storytelling-nya, bersama sempalan-sempalan komedi yang diwarnai oleh interaksi Eric dengan mantan tunangannya Sloan (Emmanuelle Chriqui), Turtle dengan Ronda Rousey sebagai celebrity crush-nya dan Vince dengan Emily Ratajkowski yang jadi titik penting konflik utamanya. Billy Bob Thornton dan Haley Joel Osment, di sisi lain juga jadi dayatarik lain atas peran mereka.

            Sentuhan-sentuhan love and hate terhadap Hollywood scenes and lifestyle itu pun semakin meriah dengan penampilan seabrek supporting dan cameo yang berseliweran di sepanjang film menuju ending event Golden Globe Awards yang cukup meriah. Dari rapper seperti Scott Mescudi, Common, T.I., lantas Gary Busey, Andrew Dice Clay, Jon Favreau, Kelsey Grammer, Armie Hammer, Chad Lowe, Bob Saget, David Spade, Mike Tyson, Pharrell Williams, George Takei hingga Jessica Alba, Liam Neeson plus Wahlberg sendiri, dan masih banyak lagi. Walau sebagian cukup ofensif dan mostly sangat male entitled, bukan berarti joke-joke-nya lebih banyak yang gagal mengundang tawa. Dan jangan lupakan juga sinematografi Steven Fierberg, shot in 35mm, yang sangat memberi penekanan dalam cinematic ride-nya.

            So don’t worry even if you’re not the fan of the series. Walau mungkin masih ada resistensi berbeda terhadap interaksi karakter yang jelas akan lebih dipenuhi excitement bagi penyuka serialnya, ‘Entourage’ versi layar lebar ini tetap akan bisa bekerja dengan baik bagi sekedar penyuka film apalagi yang punya antusiasme lebih mengikuti lifestyle dan pelaku-pelaku industrinya. A celebration of Hollywood Dreams. ‘The’ Hollywood Dreams. (dan)

PIZZA MAN : A FRESH IDEA IN INDONESIAN RARE CHAOS COMEDY

•June 16, 2015 • 1 Comment

PIZZA MAN 

Sutradara: Ceppy Gober

Produksi: Renee Pictures, 2015

pizza man

            Niat Gandhi Fernando dengan Renee Pictures-nya untuk terus berproduksi di industri film kita agaknya patut lebih dihargai. Dengan PH masih berusia sangat muda, muncul lewat ‘The Right One’ (2014) yang belum terlalu baik, lantas ‘Tuyul: Part 1’ yang baru tayang beberapa bulan lalu, meski masih punya kekurangan dalam penggarapan keseluruhan, Gandhi sudah menunjukkan peningkatan secara konsisten terutama di segi ide. Dan satu lagi, selagi kebanyakan PH lain muncul lewat genre yang itu-itu saja dari satu produksi ke produksi lainnya,  tiga produksi Renee secara berturut memang ada di various genres.

            Dari promonya sendiri, kita sudah tahu bahwa ‘Pizza Man’ adalah sebuah komedi. Tapi ini memang sedikit berbeda. Di luar pendekatan chaos comedy, comedy of errors atau apapun sebutan yang Anda sukai, skrip yang ditulis oleh Gandhi dan R. Danny Jaka Sembada (‘Modal Dengkul’) memang punya garis batas jelas sebagai adult comedy dengan joke-joke ofensif yang mungkin masih jarang tersentuh oleh film-film komedi lain, apalagi dengan fokus yang lebih feminis, ke tiga wanita sebagai lead-nya. Tapi tentu tak mengapa, secara di tengah anjloknya antusiasme penonton film nasional, kita memang terus perlu ide-ide berbeda untuk bisa mendobraknya kembali.

            Tiga sahabat yang tinggal bersama, Olivia (Joanna Alexandra), Nina (Karina Nadila) dan Merry (Yuki Kato) masing-masing punya masalah dengan lelaki yang membuat mereka berada di puncak kesabarannya. Untuk melampiaskan dendam, pada suatu malam mereka membuat rencana gila untuk memperkosa seorang lelaki secara random, namun secara tak terduga, ulah Nina dan Merry justru mengakibatkan kekacauan beruntun atas seorang pengantar pizza bernama Adam (Gandhi Fernando).

            Now look at that plot. Sebuah premis yang memang sudah jelas mengarah ke sebuah chaos comedy yang tak biasa dan masih jarang dalam film-film kita. Mostly sangat, sangat nakal. Tapi jangan buru-buru menuduhnya berupa sebuah dukungan terhadap rape jokes seperti yang diributkan sebagian orang, karena latar karakternya sebenarnya sudah menjelaskan motivasi yang justru berisi protes sosial terhadap dominasi kaum pria dalam pertentangan-pertentangan gender. In terms of comedy, ini tentu sah-sah saja. Seperti yang dulu pernah dilakukan dengan ‘Senjata Rahasia Nona’-nya Garuda Film yang disutradarai Henky Solaiman, namun bukan berarti punya plot sama.

            Dan plot itu memang digagas Gandhi dan Danny, entah sengaja atau tidak, dengan referensi yang sangat terasa bercampur baur antara konsep-konsep komedi trio ala Warkop dengan inversi gender dan offensive jokes serta plot ala ‘The Hangover’ dalam chaotic setup-nya. Meski bukan sama sekali berarti ikut-ikutan, separuh akhir ‘Pizza Man’ memainkan settingnya diatas hospital scenes, mirip seperti ‘Atas Boleh Bawah Boleh’-nya Warkop, namun tentu saja dengan step-step komedi yang berbeda. Apapun itu, dalam batasan referensi, ini cukup fresh, dan mereka terlihat punya usaha lebih untuk menyusun interaksi kekacauannya dengan cukup rapi. Apalagi tampilan komedinya memang secara berani memasukkan joke-joke ofensif dari bahasa hingga elemen-elemen seks dan narkoba yang nakal tapi masih ada dalam batas-batas yang relevan.

           Memerankan tiga female lead-nya, Joanna, Karina terutama Yuki Kato juga menampilkan comedic chemistry yang cukup baik. Bagian-bagian awal yang serba nakal itu mungkin masih terasa agak canggung, namun menuju paruh masa putarnya, chemistry ini terus meningkat semakin lepas. Sementara sebagai supporting cast-nya, Babe Cabiita, Chika Waode, Kemal Palevi, Dennis Adhiswara, Dhea Ananda hingga Henky Solaiman bisa mengisi tiap-tiap comedic timing-nya dengan cukup pas.

          Okay, mungkin masih ada sedikit dramatic turnover yang terlepas agak berlebih hingga menurunkan pace komedinya, namun tetap punya arah untuk penjelasan karakter dalam konklusinya, begitu juga joke-joke lain yang masih bertabur hit and miss di sejumlah comedic scenes-nya. Tetap, paling tidak, Ceppy Gober sebagai sutradara yang sebelumnya menyutradarai ‘Modal Dengkul’, terlihat cukup paham untuk tak menitikberatkan bangunan chaos comedy-nya pada interaksi karakter dan comedic setup-nya, bukan semata-mata pada slapstick plays atau elemen-elemen malas lain seperti cartoonish sound effects. This is a fresh idea in Indonesian rare chaos comedy. Tak sempurna, namun masih punya sisi hiburan yang terjaga. Boleh. (dan)

AYAT-AYAT ADINDA: A SIMPLE MESSAGE WITH DEEPER EFFORTS

•June 15, 2015 • 1 Comment

AYAT-AYAT ADINDA

Sutradara : Hestu Saputra

Produksi : MVP, Mizan Productions, Dapur Film, Argi Film, Studio Denny JA, 2015

ayat-ayat adinda

            Pemerhati film Indonesia sudah mendengar ini sebelumnya, bahwa ada rencana Haidar Bagir sebagai penggagas ‘Gerakan Islam Cinta’ untuk mengkampanyekan misi mereka tentang ajakan untuk menghargai keberagaman dalam Islam melalui media film, dan tidak hanya satu. Bekerjasama dengan Hanung BramantyoDapur Film, Mizan Productions, Denny JA, Argi Film dan MVP, ‘Ayat-Ayat Adinda’ adalah film pembukanya. Kendalanya tentu ada. Selain masalah keragaman yang masih sulit sekali buat disatukan, perbedaan persepsi dan latar belakang budaya terhadap aliran-aliran berbeda ini memang kerap membuat pertentangannya menjadi hal sensitif buat dibahas.

            Disitulah Salman Aristo sebagai penulis skrip sekaligus salah satu produsernya mungkin punya konsep berbeda untuk menyampaikan misi ini. Apa yang menjadi dasar tema keluarga dalam nafas reliji di ‘Ayat-Ayat Adinda’ memang simpel, namun latar yang disematkan Salman ke dalam konflik tambahannya terlihat sekali mencoba menghindari kontroversi, apalagi karena ada nama Hanung disini. Masalahnya sekarang, sebaik apakah Hestu Saputra bisa mengemas pola itu untuk bisa berjalan bersama diatas sebuah penceritaan yang kuat? Dan oh ya, ‘Ayat-Ayat Adinda’ tetap punya resiko ke segmentasi terhadap pangsa pemirsanya. Bukan lantas ia tak bisa jadi sebuah pesan universal, namun detil-detil elemen yang mereka gunakan dalam bangunannya, mau tak mau juga tak semudah itu dicerna penonton lain, bahkan mungkin dari kalangan relijinya sendiri yang bisajadi belum sepenuhnya memahami soal lantunan ayat-ayat suci. Ini kenyataan.

            Walau Adinda (Tissa Biani Azzahra) memiliki suara luarbiasa merdu, ayahnya, Faisal (Surya Saputra) yang bekerja sehari-hari sebagai seorang tukang daging, melarang keras Adinda menjadi tim qasidah di sekolahnya. Lebih dari sekedar permintaan buat Adinda untuk hanya fokus ke pelajaran sekolah, ternyata ada sorotan masyarakat yang dihindari Faisal atas kepercayaan keluarga mereka yang sudah membuat mereka, termasuk istrinya, Amira (Cynthia Lamusu) dan putra sulungnya (Moh. Hasan Ainul) terpaksa hidup berpindah-pindah selama ini. Sementara, bagi Adinda yang belum sepenuhnya mengerti pandangan-pandangan itu, hanya ada satu cara untuk memenangkan kebanggaan keluarganya. Didorong oleh dua sahabatnya, Adinda memberanikan diri untuk diam-diam mengikuti perlombaan MTQ yang justru menimbulkan polemik lebih lanjut diantara masyarakat sekitarnya.

            Dalam bangunan nafas relijinya, mungkin tak ada yang lebih baik dari premis seorang anak kecil yang ingin mendapatkan kebanggaan orangtua lewat lafal ayat-ayat suci Al-Quran. Begitu simpel dan digagas dari sudut pandang anak-anak yang penuh dengan kepolosan, ini sudah menjadi nilai lebih; bahwa film reliji di sinema kita tak harus terus-terusan mengetengahkan konflik-konflik cinta secara klise. Salman sudah mengemas bagian ini dengan sangat baik, dimana tiga tokoh belianya termasuk Badra Andhipani Jagat yang berperan sebagai Fajrul, apalagi Tissa Biani. Menampilkan akting yang sangat natural dengan pendalaman luarbiasa melantunkan ayat-ayat suci itu dalam elemen tema perlombaan MTQ, yang mungkin belum pernah menjadi sorotan di satu pun film reliji kita, Tissa melakonkan karakter Adinda dengan kekuatan tak main-main sebagai sentralnya.

            Namun masalah mendasar ‘Ayat-Ayat Adinda’ ada pada latar konfliknya sendiri. Walau kita bisa sangat mengerti alasannya untuk menghindari kontroversi dan tuduhan-tuduhan keberpihakan, Salman terpaksa menahan konflik sensitif ini berada di garis simbolik tanpa pernah terus-terang dalam penceritaannya. Alasan itu memang tak salah, namun hanya menyemat satu kata ‘sesat’ yang beberapa kali muncul dalam dialog sementara penggambaran adegannya juga berpotensi mendistraksi maknanya, ia tak bisa sepenuhnya membentuk blend yang bagus dengan kisah polos dari sudut pandang anak-anak tadi.

         Belum lagi soal detil-detil elemen cara-cara melagukan lafal ayat suci yang dianggap lazim, yang memang segmental dan pada akhirnya harus terbentur dengan adegan-adegan perlombaan MTQ – yang malah diiringi scoring atau lagu, bahkan ke solusinya yang terkesan terlalu dangkal lewat peran Kyai Taufik – tetap diperankan dengan bagus dan penuh wibawa oleh aktor senior Deddy Sutomo. Masih ada selipan-selipan konflik lain yang tak tertata dengan baik termasuk soal obat-obatan yang lagi-lagi agak salah kaprah dari sisi medis, tanpa sekalipun bisa lari dari template klise ending tema-tema kompetisi dengan larangan orangtua yang bisa mencair dibalik keteguhan sikap karakter utamanya.

            Begitupun, ‘Ayat-Ayat Adinda’ bukan lantas menjadi film yang gagal. Sisi teknisnya yang tampil dengan sangat cemerlang sedikit banyak bisa menutupi kelemahan penceritaan tadi. Mengetengahkan eksotisme kehidupan karakternya di setting Yogyakarta yang terekam dengan baik dari sinematografi M. Fauzi Bausad, keunggulan utama ‘Ayat-Ayat Adinda’ adalah kekuatan cast, yang justru datang dari aktor-aktor tak terlalu dikenal di luar Surya Saputra, Cynthia Lamusu hingga Sitoresmi Prabuningrat yang juga bermain cukup baik, seperti Marwoto, Yati Pesek, Candra Malik dan Susilo Nugroho yang lebih dikenal di TVRI Yogyakarta dengan nama Den Baguse Ngarso dan kemarin baru muncul dalam film pendek ‘Lemantun’. Wonderfully well acted, penyutradaraan Hestu juga menunjukkan peningkatan cukup besar dengan caranya meng-handle pemeran-pemeran latar yang memang mendominasi storytelling lewat adegan-adegan perlombaan.

            Pada akhirnya, walaupun dengan dua elemen penceritaan utama yang tak bisa menyatu dengan sempurna, ‘Ayat-Ayat Adinda’ tetap bisa menyampaikan misinya dengan cukup baik. Meski tak terus terang dan belum tentu juga disepakati semua pemirsanya, pesan-pesan tentang penerimaan terhadap keragaman aliran tetap bisa terbaca dibalik satu hal yang sebenarnya jauh lebih universal; perjuangan seorang anak untuk meraih kebanggaan orangtuanya. Setuju atau tidak, let’s just stick to that. (dan)

JURASSIC WORLD: THE ULTIMATE RIDE TO RELIVE WONDERS

•June 11, 2015 • 1 Comment

JURASSIC WORLD

Sutradara: Colin Trevorrow

Produksi: Amblin Entertainment, Legendary Pictures, Universal Pictures, 2015

Jurassic World 2

            In terms of cinematic wonders, tak banyak film yang benar-benar monumental. ‘Jurassic Park’ (1993) jelas adalah satu diantaranya. Not just a total spectacle, salah satu mahakarya Steven Spielberg yang diangkat dari novel berjudul sama karya Michael Crichton itu juga merubah standar penggunaan efek visual serta keseluruhan industrinya dalam kelas blockbuster. Sayang, dua sekuelnya, ‘The Lost World: Jurassic Park’ (1997; masih digawangi Spielberg) dan ‘Jurassic Park III‘ (2001; beralih ke Joe Johnston)’ tak lagi punya kekuatan yang sama.

            Tenggelam ke dalam development hell lebih dari satu dekade meninggalkan publisitas rencana demi rencana, ‘Jurassic Park IV’ (belakangan berganti menjadi ‘Jurassic World’) akhirnya dipublikasi tak lama sebelum re-release versi 3DJurassic Park’ menyambut 20th anniversary-nya dilepas tahun 2013 lalu. Menggamit Legendary Pictures sebagai co-financier-nya, Spielberg yang hanya duduk di kursi produser menyerahkan penyutradaraannya pada Colin Trevorrow dari sebuah light-indie time travel comedySafety Not Guaranteed’ atas saran Brad Bird (juga menampilkan suaranya bersama Trevorrow disini). Rick Jaffa dan Amanda Silver dari franchisePlanet of the Apes’ baru menulis skripnya bersama Trevorrow dan partner-nya di ‘Safety’, Derek Connoly. Ini tentu bukan sebuah estafet yang mudah mengingat rentang waktu panjang dimana generasi penonton pun sudah berganti, apalagi ekspektasi-ekspektasi yang ada terhadap sebuah cinematic legend se-monumental ‘Jurassic Park’.

            22 tahun setelah insiden di film pertama, taman rekreasi ‘Jurassic Park’ kini sudah berganti menjadi ‘Jurassic World’ di Isla Nublar namun dikembangkan jauh lebih besar oleh pemilik baru yang ditunjuk John Hammond, Simon Masrani (Irrfan Khan). Zach dan Gray Mitchell (Nick Robinson & Ty Simpkins), dua kakak beradik yang tengah berada disana buat mengunjungi bibi mereka, Claire Dearing (Bryce Dallas Howard), operation managerJurassic World’ terpaksa berhadapan dengan insiden baru yang diakibatkan dinosaurus hybrid hasil rekayasa genetik Indominus Rex dengan kekuatan tak terkira, yang dirancang Dr. Henry Wu (B.D. Wong) demi kelangsungan kesuksesan taman rekreasinya. Also entering the scene, pelatih velociraptor Owen Grady (Chris Pratt) yang dipercaya Masrani dan pernah berhubungan dengan Claire, asistennya Barry (Omar Sy), tech operator Lowery Cruthers (Jake Johnson) serta Vic Hoskins (Vincent D’Onofrio), kepala perusahaan sekuriti InGen yang punya maksud lain dibalik keterlibatannya di sana. Sekali lagi, dinosaurus-dinosaurus hasil rekayasa genetik ini harus menghadapi insting mereka di tengah ancaman terhadap semua pengunjung akibat ambisi manusia-manusia di belakangnya.

            So what’s so good aboutJurassic World’? Jawabannya adalah semuanya. Tapi diatas kesuksesan jauh melebihi dua instalmen sebelumnya, lini terkuat yang mendasari ‘Jurassic World’ adalah respek dan kecintaan orang-orang yang ada dibalik pengembangan sekuelnya. Oh yes, ini memang masih bergerak tak jauh dari template wajib soal-soal ‘Survival of the Fittest’ dibalik metafora kontradiksi kepunahan dinosaurus dan ambisi manusia serta tentu saja resep-resep baku summer blockbuster dari sisi thrilling adventure ke survival game-nya, lengkap dengan pameran VFX dan CGI yang tetap digawangi ILM (Industrial Light & Magic) dan Phil Tippett sebagai supervisi teratasnya.

            Namun kemasan keseluruhannya dirancang dengan sangat cermat oleh Trevorrow dan timnya. Selagi ide Jaffa dan Silver menggagas hybrid dinosaur sebagai villain baru yang jauh lebih mengerikan, elemen-elemennya dibangun Trevorrow dan Connoly dengan homage penuh respek terhadap pencapaian Spielberg di awal franchise-nya. Lihat bagaimana mereka mengemas scientific revolutions secara detil terhadap eksistensi ’Jurassic World’ yang dilengkapi dengan teknologi sangat relevan – mulai dari modified trains, rides dan device-device lainnya termasuk holographic display dan segala amunisi bahkan playground area penuh product placement sangat rapi, tapi tak sekalipun meninggalkan trivia ke tiap elemen penting yang selama ini kita lihat dari instalmen ke instalmen dalam franchise-nya. Tampilan-tampilan dinosaurus lama serta barunya adalah keunggulan lain lagi, yang semuanya digagas berdasar kecintaan penuh atas detil-detil creatures arc yang sudah ada dalam franchise-nya.

            Disitu pula, bukan berarti lantas plotnya menjadi terpinggirkan sebagai elemen tak penting seperti dikeluhkan banyak pengamat yang kelewat serius dengan tetek-bengek storywise things. Walau masih tak jauh beda dengan elemen-elemen sebelumnya, skrip Trevorrow dan timnya melakukan inversi yang cerdas diatas keberadaan masing-masing dinosaur creatures dengan penekanan penting dan repetisi relevan terlebih terhadap para fans franchise-nya, termasuk dengan hubungan manusia dengan velociraptors yang sudah kita saksikan lewat trailer-nya. Tiap homage itu bisa menciptakan cinematic magic yang sama terhadap apa yang kita rasakan saat pertama kali menyaksikan ’Jurassic Park’ dulu; dari gate opening, every ride scenes, survival runs hingga dino-battles sebagai klimaks ke closing scenes penuh trivia ke salah satu adegan paling legendaris di ’Jurassic Park’; semua dibalik komposisi scoring baru Michael Giacchino yang tetap menggunakan main themes legendaris milik John Williams, serta sinematografi John Schwartzman (yes, ada pengaruh film-film Michael Bay dari keterlibatannya di ’Armageddon’ ataupun ’Pearl Harbour’) yang di tiap sisinya punya penerjemahan blockbusters yang seru. Tak ada yang terlalu spesial dari gimmick popped-up 3D-nya, but nevertheless, punya depth details yang juga sangat bekerja menambah excitement-nya.

            Cast-nya, di sisi lain, juga punya kekuatan luarbiasa untuk instalmen terbaru ini. Paduan Chris Pratt dan Bryce Dallas Howard yang dibangun dengan trivia-trivia ke adventure fantasy genre, terutama Pratt yang meyakinkan kita bahwa ia sangat punya persona humoric badass Indiana Jones, menciptakan chemistry sangat menarik dengan Dallas Howard sebagai main lead-nya. Nanti dulu soal suspension of disbelief ke hal-hal seperti high heels yang banyak dibicarakan itu, tapi jauh dari sekedar damsels in distress, Dallas Howard juga meng-handle banyak survival scenes-nya dengan gestur yang sangat seru.

             Sebagai karakter-karakter child friendly-nya, Ty Simpkins dan Nick Robinson mungkin tak sekuat Joseph Mazello dan Ariana Richards, tapi berganti ke brother to brother relationship sebagai kebalikan dari interaksi karakter Dallas Howard ke Judy Greer yang memerankan ibu mereka, mereka tak juga gagal menempatkan screen presence-nya ke tengah-tengah petualangan ini. Masih ada dukungan kuat dari nama-nama lain di ensemble cast-nya, dari Jake Johnson, Omar Sy, Irrfan Khan, B.D. Wong sebagai satu-satunya penghubung ke instalmen lamanya hingga Vincent D’Onofrio yang sudah lama tak tampil sekuat ini.

            So, don’t listen to any negative critics terutama bila Anda merupakan orang-orang yang dulu mengalami euforia ’Jurassic Park’ beserta segala cinematic experience-nya yang penuh keajaiban itu. Dengan gagasan-gagasan juara ini, walaupun ia tak punya momentum yang sama dengan ’Jurassic Park’ sebagai sci-fi adventure ber-taglineAn Adventure 65 Million Years in the Making’, ’Jurassic World’ adalah sekuel yang dalam banyak sisi berbeda punya kekuatan yang sama, juga sebuah love letter penuh respek yang mengingatkan kita agar tak pernah lupa terhadap apa yang sudah dicapai Spielberg dengan ’Jurassic Park’ dan segala keajaibannya dalam sejarah sinema. The Ultimate Ride to Relive Wonders! (dan)

Jurassic World 1

SURVIVOR: BIG NAMES, SMALL ART

•June 8, 2015 • Leave a Comment

SURVIVOR

Sutradara : James McTeigue

Produksi : Millennium Films, Lionsgate, 2015

survivor 2015

            In movies, ini kasus yang bukan lagi baru. Ada film yang mengandalkan nama-nama besar dan sangat dikenal, tapi dikemas sebagai produk yang secara komersil berkualitas seadanya, kalau tak mau mengkotak-kotakkannya sebagai B-class movies. And no, of course we’re not talking about indie productions, tapi lebih ke small scale mainstream movies. Apalagi di produksi-produksi Millennium Films yang masih tak jauh dari legacy Cannon Films dan sepak terjang mereka dulu. Tapi tak semua juga produksi di kelas itu sudah pasti berarti jelek. Belum tentu.

            ’Survivor’ pun masih berada di kelas yang sama, dan mungkin juga menjelaskan mengapa di AS filmnya dirilis terbatas dan lebih sebagai VOD (Video on Demand) movies. Tapi memang nama-nama yang ada dibaliknya, bukan sekedar main-main. Nama James McTeigue sebagai sutradara tentu sudah sangat dikenal dari ’V For Vendetta’, apalagi di kiprahnya sebagai asisten sutradara, walaupun memang, baik ’Ninja Assassin’ dan ’The Raven’ tak bisa menyamai debutnya itu.

           Lantas ada nama Irwin Winkler sebagai produser. Dikenal sebagai award-winning legendary producer yang sudah memproduksi film sejak era ’60-an dan ada dibalik franchise ’Rocky’ serta juga film-film Martin Scorsese dari ’Raging Bull’ hingga ’Goodfellas’ dan ‘The Wolf of Wall Street’ kemarin, ini juga jelas jadi dayatarik lebih, walaupun memang benar, bukan berarti statusnya membuat Winkler tak pernah meng-handle produksi-produksi kelas 2, terutama dari kiprah putranya, Charles Winkler, yang juga berkolaborasi dengannya disini. Yang terakhir, tentu saja cast-nya. Selain Pierce Brosnan dan Milla Jovovich sebagai sentralnya, ’Survivor’ masih punya sejumlah nama terkenal seperti Dylan McDermott, James D’Arcy, Angela Bassett dan Robert Forster. Sebagai tambahan, trailer-nya juga cukup menarik sebagai heroine-spy thriller dengan referensi kental ke James Bond lewat sosok Brosnan.

         Pindah ke kedutaan AS di London atas rekor ketatnya menangani aplikasi visa pengunjung AS demi meng-counter aksi teroris, Kate Abbott (Milla Jovovich) sebenarnya sudah mulai mencurigai atasannya, Bill Talbot (Robert Forster) sejak awal. Sayangnya peringatan itu datang terlambat kala sebuah bom meledak dan membuatnya menjadi unexpected survivor. Dibantu atasannya, Sam Parker (Dylan McDermott), satu-satunya orang yang percaya pada intuisi Kate sekaligus punya hubungan spesial dengannya, Kate seketika menemukan dirinya menjadi target bukan hanya oleh Inspektur Paul Anderson (James D’Arcy) dari kepolisian Inggris, tapi juga pembunuh bayaran Nash ’The Watchmaker’ (Pierce Brosnan) yang punya agenda lain lewat rencana aksi final teroris di tengah-tengah perayaan malam pergantian tahun di Times Square, New York.

          Sebagai sebuah spy thriller, plot ’Survivor’ memang kelihatan sangat punya potensi buat tampil beda. Bukan semata karena ia bermain di wilayah-wilayah thriller lain seperti ’The Fugitive’ diatas tampilan Milla Jovovich sebagai seorang typical heroine bersama terrorist-counter action yang sudah sedikit lebih klise dalam genrenya, tapi cukup banyak elemen yang sebenarnya sudah digagas dengan bagus di bagian-bagian awalnya, dari latar gulf war, peristiwa 9/11 berikut informasi lebih soal ketatnya aplikasi visa pengunjung AS sebagai ekses-ekses penuh relevansi terhadap intrik atau konspirasi yang ditampilkan.   Penampilan Brosnan sebagai charming villain, cukup lama setelah adaptasi novel Frederick ForsythThe Fourth Protocol’ di tahun 1986 dulu, dengan full reference ke James Bond sebagai antitesis dalam motivasinya, adalah dayatarik lain lagi, berikut deretan ensemble cast menarik tadi, tentunya.

       Namun sayangnya, skrip yang ditulis Phillip Shelby tak cukup mampu merangkai interkoneksi dari tiap-tiap elemen itu untuk bisa tampil lebih menarik diatas sebuah spy thriller yang benar-benar terlihat seru dan menegangkan. Meninggalkan terlalu banyak suspension of disbeliefs atas lubang-lubang terhadap logika yang terasa sangat penuh inkoherensi, karakter-karakternya pun jadi dikemas dengan motivasi sambil jalan yang benar-benar sangat lemah. Meskipun Jovovich, Brosnan berikut cast lain termasuk Forster, D’Arcy dan McDermott sudah terlihat sangat mencoba menutupi kelemahan ini, subplot-subplot yang sudah dimulai atas interkoneksi karakter yang bisa jauh lebih menarik berakhir tak lebih dari sekedar tempelan yang sama sekali tak mendukung penceritaannya secara lebih dalam.

         Begitupun, di tangan McTeigue yang lewat kiprahnya sebagai first assistant director di film-film seperti prekuel ’Star Wars’ dan ’The Matrix’ sudah cukup teruji, apalagi lewat adegan-adegan action di ’Ninja Assassin’, ’Survivor’ masih bisa menghadirkan beberapa top notch action scenes di sepanjang durasinya. Tak banyak, namun ada satu-dua yang cukup memorable dan benar-benar sukses memanfaatkan persona Brosnan dan Jovovich secara efektif. Sayangnya, lagi-lagi bangunan action pace ini tak bisa terus konsisten menuju klimaks teror bom di tengah-tengah perayaan tahun baru Times Square yang sebenarnya bisa jadi kekuatan utama yang menyelamatkan semua kekurangannya. Alih-alih tampil megah serta menegangkan – in terms of action climax, bagian ini justru jadi flaws terbesar dalam ’Survivor’. Lewat begitu saja.

           So, apa boleh buat. ’Survivor’ memang agaknya harus menerima nasibnya sebagai B-class movies yang memang kurang layak buat bersanding bersama menu utama summer blockbusters di bulan-bulan ini. Sebuah potensi besar yang tak bisa dimanfaatkan sebaik nama-nama yang ada di dalamnya. Big names, small art. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 9,029 other followers