THE MERMAID (美人鱼) : MO LEI TAU OVERLOAD, BUT WORKS

•March 17, 2016 • 1 Comment

THE MERMAID (美人鱼) 

Sutradara: Stephen Chow

Produksi: China Film Group, Edko Films, The Star Overseas, Hehe (Shanghai) Pictures Co.Ltd, Beijing Enlight Pictures, Shanghai New Culture Media Group Co.Ltd, Alibaba Pictures Group Linited, Shanghai Tianshi Media Co.Ltd, BinGo Group Co.Ltd, 2016

The Mermaid

            Rentang karir panjang seorang Stephen Chow (Chow Sing-chi) dari aktor muda ke komedian, lantas ke sutradara, memang sudah menorehkan suatu keajaiban yang jarang-jarang terjadi. Bukan tak banyak karir seorang aktor yang melangkah menjadi sutradara, tapi dalam kapasitas master storyteller bahkan layak disebut seorang auteur di genre yang di-re-invent Chow sendiri di era popularitasnya di ‘90an lewat serangkaian film-filmnya, Hong Kong popular comedy culture called mo lei tau (无厘头), ini luarbiasa hebat. Bentukannya atas komedi nyeleneh yang literally punya arti nonsensical itu begitu melekat pada sosok Chow bahkan mengalahkan sineas-sineas lain yang sedikit banyak punya signature itu di karya-karya mereka, termasuk aktor-sutradara Wong Jing yang sebenarnya juga punya peran besar dalam melejitkan karir Chow.

            Namun Chow mungkin sekarang puas dengan cukup berada di belakang layar. Terakhir kali muncul lewat ‘CJ7’ setelah dua karya fenomenalnya, ‘Shaolin Soccer’ dan ‘Kung Fu Hustle’ yang jadi film wajib di chinese movie bible hampir setiap pemirsanya, entah karena fisiknya yang kelihatan jauh lebih menua dari aktor-aktor seangkatan bahkan seniornya, ia merilis ‘Journey to the West: Conquering the Demons’, reboot interpretation-nya tentang Sun Wu Kong tanpa ikut berperan. Begitupun, style-nya sebagai seorang auteur tadi justru makin teruji. Kita tak melihatnya di sana, tapi tiap karakter utamanya, male or even female, seperti muncul bak avatar ke karakter dan style komedinya yang biasa. Selagi Chow Yun Fat dan Andy Lau, maaf, terus-terusan masih mau dipermalukan di film-film yang menjual kekonyolan mereka seperti di instalmen terakhir ‘From Vegas to Macau’ kemarin, Stephen Chow yang dulu berada di belakang mereka sudah menjadi seolah seorang shifu.

            And okay, walau ‘Conquering the Demons’ mungkin adalah sebuah pengenalan film Stephen Chow tanpa Stephen Chow, sehingga tak begitu banyak bicara di perolehan box office, ‘The Mermaid’ (di sebagian negara termasuk di sini cukup dengan ‘Mermaid’ saja, unofficially) tidak begitu. Mencetak rekor mengejutkan dari the biggest opening day dan the biggest single day gross menuju 7 hari perilisannya, the biggest opening week of all time di China bahkan the highest grossing Chinese film of all time and still counting, sempalan mo lei tau-nya memang tetap main-main ala Stephen Chow. Tapi hasilnya, jelas tak main-main.

            Playboy multimilyuner Liu Xuan (Deng Chao) yang berada di balik rencana proyek reklamasi Green Gulf, sebuah situs konservasi alam dengan teknologi sonar tak menyadari bahwa efeknya berujung fatal bagi populasi merpeople, sekumpulan ikan duyung yang mengisolasikan diri dan berlindung di balik kapal karam di wilayah itu. Demi keselamatan populasinya, pimpinan mereka, Octopus (Show Luo) pun merancang siasat untuk menjebak Xuan lewat ‘honeytrap’, mengirim putri duyung jelita Shan (Jelly Lin Yun) menyamar sebagai wanita penggoda, memancing Xuan ke Green Gulf untuk membunuhnya. Xuan yang memang punya perilaku ladykiller dan ingin menaklukkan semua wanita yang ia bisa merasa tertantang kala bertemu dan mulai melihat kepolosan Shan. Sebaliknya, Shan juga mulai bisa melihat sisi baik dari Xuan dan malah melindunginya dari Octopus. Namun Ruolan (Kitty Zhang Yuqi), partner Xuan yang cemburu dan akhirnya mengetahui keberadaan populasi ini sudah keburu merancang pembantaian untuk bisa secepatnya menguasai Green Gulf.

            Seperti serangkaian film-filmnya belakangan, bersama seabrek rekan-rekannya, Kelvin Lee, Ho Miu-kei, Lu Zhengyu, Fung Chih-chiang, Ivy Kong, Chan hing-ka dan Tsang Kan-cheungStephen Chow memang menggagas plot dan skripnya sendiri. Memasukkan style mo lei tau-nya sejak menit pertama film dimulai dan tak berhenti hingga menjelang akhir, apa yang dilakukannya kali ini memang ada di porsi overload. Tapi bukan berarti Chow tidak mengiringi permainan nonsensical comedy itu dengan cermat. Ia tahu kapan saatnya harus serius, heartful, bahkan menggelar sempalan turnover yang mengarah ke tragedi, bahkan goryness, yang tetap tak bisa sepenuhnya terpisah dengan elemen serba main-main tadi.

            Dan di atas semuanya, ia bisa memasukkan pesan berharga soal lingkungan – reklamasi teluk dan ancaman konservasi alam tanpa terkesan menggurui tapi dibangun dengan rapi lewat bentukan-bentukan karakter, glimpse of fantasy romance dari Xuan dan Shan serta plot-nya secara keseluruhan. Terserah mau menyebutnya genre apa di tengah pencampuradukan elemen yang ada, tapi yang jelas, di tengah komedi nyeleneh yang terus-menerus melanggar batasan-batasan logika itu, what made ‘mo lei tau’ a ‘mo lei tau’, jahitan plot-nya sedemikian rapi dan sangat nyaman untuk diikuti. Sisipan musik dari Raymond Wong juga terus menghadirkan pengembangan dari apa yang dilakukan Chow sejak ‘Kung Fu Hustle’, berupa tribute dan homage ke komposisi musik klasik kultur/budayanya. CGI-nya mungkin tak semulus Hollywood, tapi bukan lantas jadi mengganggu.

            Namun kekuatan utama untuk merangkai semua itu tentulah ada di pengarahan Chow sendiri. Seperti ‘Conquering the Demons’, karakter-karakter yang muncul bak avatar Chow berikut convo-convo wajib – andalannya di film-filmnya sebelum ini plus banyak wajah-wajah baru sampai cameo (dari Kris Wu, Wen Zhang hingga Tsui Hark) memang menunjukkan kepiawaian Chow memilih cast, baik untuk diserahi spotlight atau sekedar diolok-olok se-ngehe mungkin. Caranya menggagas komedi dari timing hingga detil-detil lain termasuk gestur dan ekspresi yang sangat menjelaskan mo lei tau reinvention khasnya, tetap juara. Baik Deng Chao, Show Luo hingga Kitty Zhang / Zhang Yuqi, sexy actress yang punya kemiripan luarbiasa dengan aktris Korea Song Hye Kyo – yang sebelumnya juga sudah berkolaborasi dengan Chow di ‘CJ7’ adalah rising stars di industri hiburan baik film atau musik mereka – namun di sini terlihat jauh lebih bersinar saat disuruh menggila oleh Chow, sementara Jelly Lin / Lin Yun, lagi adalah temuan terbaru lewat casting dengan potensi sebesar yang sudah-sudah. Pendatang baru yang dilejitkan oleh pilihan Chow, dan ini bukan lagi hal baru dalam potensinya sebagai seorang auteur.

            So, ‘The Mermaid’ memang punya sejuta prasyarat untuk memecahkan rekor itu. Di permukaan, ia memang adalah mo lei tau showcase yang saking gilanya, terlebih buat penyuka style komedi Chow, went all the way untuk membuat penontonnya terpingkal-pingkal setengah mati, a jumped off your seats treat unlike any other comedy movies. Pengalaman yang mungkin sudah langka sekali didapatkan bahkan dari film-film luar Asia. Tapi jauh di layer lebih dalam, ‘The Mermaid’ bukanlah sekedar canda belaka. Unlikely turn of romance part-nya juga bisa jadi sangat klise, tapi luarbiasa mengikat, heartfelt dan believable di atas chemistry kuat, dan di situlah pesan-pesannya masuk dengan halus tanpa lagi jadi terasa menggurui di tengah ledakan tawa yang ada. A mo lei tau overload, indeed, but somehow, works, sekaligus lagi – jadi salah satu pencapaian terbaik dari seorang Stephen Chow. Luarbiasa, dan hanya Stephen Chow yang bisa. (dan)

KUNG FU PANDA 3: THE GREATEST CHI CALLED HEARTS

•March 15, 2016 • 1 Comment

KUNG FU PANDA 3

Sutradara: Jennifer Yuh Nelson, Alessandro Carloni

Produksi: DreamWorks Animation, Oriental DreamWorks, China Media Capital, Shanghai Media Group, 20th Century Fox, 2016

Kung Fu Panda 3

            Selain ‘Shrek’ dan ‘Madagascar’, dengan hanya dua instalmen yang sudah menjadi franchise kuat, ‘Kung Fu Panda’, jelas adalah pundi-pundi terbesar DreamWorks Animation. Walau begitu, perlu waktu lumayan panjang juga bagi mereka buat melanjutkan franchise ini ke instalmen ketiga dari kabarnya, 6 film dalam rencana awalnya. Melebarkan sayap dalam bentuk co-production dengan Oriental DreamWorks, Shanghai-based division yang didirikan tahun 2012, juga bersama dua production company China besar lain, konten dari franchise yang punya nama Guillermo del Toro di salah satu produser eksekutifnya ini memang sangat chinese dibandingkan banyak animasi lain.

            Itu juga yang mungkin membuat cast utamanya, bukan hanya satu atau dua – tapi ensemble utamanya saja sudah diisi 6 bintang plus Dustin Hoffman sebagai Shifu, tetap bersedia untuk kembali. Begitu kuat memang fondasi franchise-nya dalam tatanan dan potensi box-office, hingga jadwal rilis belakangan di negara-negara Asia Tenggara yang sebenarnya beresiko digempur konten bajakan pun sama sekali tak mengganggu kemulusan peredarannya untuk melengkapi box office internasional. Dengan branding yang sudah kuat atas franchise itu, kita juga bisa melihat kekuatan visi DreamWorks sebagai salah kontender terbesar Disney di ranah animasi. ‘Kung Fu Panda 3’ yang sudah menarik banyak perhatian dengan teaser trailer yang membawa Po bertemu dengan ayahnya lewat serangkaian sekuens jenaka luarbiasa itu bukan juga lantas menjadi proyek sekuel aji mumpung, tapi berdiri di atas konsep kuat yang membawanya ke level baru petualangan para karakternya.

            Instalmen ketiga ini pun dimulai lewat pengenalan villain barunya, Kai (disuarakan oleh J.K. Simmons) yang berhasil mengalahkan Grand Master Oogway (Randall Duk Kim) di sana. Menguasai ‘chi’ (chinese term untuk energi alami yang dimiliki semua makhluk hjdup sebagai esensi) –nya Oogway, Kai berniat kembali ke alam nyata untuk menguasainya. Tentu saja, ia harus berhadapan dengan Po (Jack Black) yang sudah berstatus The Dragon Warrior, namun masih tak becus kala diserahi tugas oleh Shifu (Dustin Hoffman) buat mengajar rekan-rekannya. Po yang baru saja bertemu lagi dengan ayahnya, Li Shan (Bryan Cranston) atas sebuah petunjuk misterius dan menyadari spesiesnya masih ada di sebuah lokasi rahasia pun terpaksa menempuh takdirnya kala ambisi Kai berhasil mengalahkan dan mengambil chi orang-orang terdekatnya, meninggalkan hanya Tigress (Angelina Jolie) yang mendampingi Po bersama Li Shan dan ayah angkat Po, Mr. Ping (James Hong).

            Tak hanya dalam penanaman karakterisasi yang kuat, elemen-elemen yang ada dalam ‘Kung Fu Panda’ – dari Dragon Warrior sampai jurus – punchline andalan ‘Skadoosh’ masih menjadi fondasi kuat dalam keseluruhan storytelling-nya. Menggerakkan fokusnya ke keluarga Panda di atas hubungan ayah – anak Po dan Li Shan, skrip yang tetap ditulis oleh duo Jonathan Aibel dan Glenn Berger yang sudah sangat teruji di franchise-franchise animasi lain dari ‘Alvin and the Chipmunks’ ke ‘SpongeBob Squarepants’ layar lebar memang sedikit menggeser bagian ensemble lainnya – tetap disuarakan oleh Lucy Liu (Viper), Seth Rogen (Mantis), David Cross (Crane), Tigress (Jolie) dan Monkey (Jackie Chan) serta Shifu – untuk memberi fokus lebih ke Po sebagai titular character-nya.

            Begitupun, bukan berarti nafas franchise-nya menjadi kedodoran. Karakter Li Shan yang disuarakan oleh Bryan Cranston berhasil jadi pendamping baru yang kuat – membentuk love/hate chemistry bersama James Hong selain pastinya bersama Jack Black’s Po, dan juga sekumpulan karakter panda lain yang memang dijual paling gede di promonya. Ada Mei Mei yang disuarakan Kate Hudson hingga empat anak-anak Jolie; Pax, Knox, Zahara dan Shiloh Jolie-Pitt; yang walau tak mendominasi porsi ataupun juga terlalu kuat, tapi tetap bisa jadi faktor menarik buat menaikkan sisi fun dalam nafas komedi petualangannya. Masih ada pula Randall Duk Kim sebagai Oogway dan Jean-Claude Van Damme sebagai Master Croc, dan di atas mereka, J.K. Simmons sebagai Kai memang berhasil membawa ‘Kung Fu Panda 3’ ke level lebih tinggi dalam elemen-elemen perlawanannya. Dark and grittier, namun bukan juga berarti tak setia menggelar selipan-selipan komedi khas franchise-nya.

            Melengkapi jualan kultur chinese yang lebih kuat atas kolaborasi baru Oriental DreamWorks dengan jadwal rilis menyambut Tahun Baru China di negaranya – berikut Mandarin dubbed/subtitled  yang lebih luas dari instalmen-instalmen sebelumnya, komposisi scoring yang tetap dipegang Hans Zimmer juga menampilkan musisi terkenal mereka, pianis Lang Lang, cellist Jian Wang, Erhu/Chinese Fiddle virtuoso Karen Hua-Qi Ottosson plus Jay Chou dan Patrick Brasca, biduan Taiwan berdarah Kanada dan Imagine Dragons yang mengisi theme song internasionalnya, ‘I’m So Sorry’ bersama The Vamps dengan lagu klasik wajib film-film martial arts internasional ‘Kung Fu Fighting’.

            Namun hal terbaik dalam ‘Kung Fu Panda 3’ yang memang berhasil melampaui kualitas dua pendahulunya ini, selain tampilan animasi yang jauh lebih dinamis serta imajinatif di atas color pallette and schemes yang sangat, sangat impresif, belum lagi tambahan gimmick 3D-nya yang meski tak pernah terlalu popped up tapi terlihat menyatu dengan konsep baru itu, adalah esensi plot-nya. Berbicara soal ‘chi’ di balik filosofi kuat soal self-finding, how to discover your true-self beyond martial arts concept, Jennifer Yuh Nelson yang kali ini didampingi Alessandro Carloni – penggagas ide dua instalmen ‘How To Train Your Dragon’ bukan hanya membawa Po & co. ke ranah baru petualangan mereka, tapi sekaligus menemukan ‘chi’ terkuat franchise-nya dalam satu elemen paling juara. Bukan komedi atau aksi, tapi hati. (dan)

TRIPLE 9: A SMALL BUT KINETIC COP THRILLER WITH A GONZO ENSEMBLE FEST

•March 14, 2016 • Leave a Comment

TRIPLE 9

Sutradara: John Hillcoat

Produksi: WorldView Ent, Sierra Pictures, Open Road Films, 2016

Triple 9

            Kesuksesan ‘Mad Max: Fury Road’ meraih beberapa Oscar barusan mungkin kembali mengingatkan kita bahwa sineas-sineas Australia cukup diperhitungkan di Hollywood. Dari sekian banyak nama, John Hillcoat ada di generasi sekarang. Lewat sebuah western Australia, ‘The Proposition’ (2005), sutradara yang banyak berkarir di video klip sejak era ’80-an langsung menembus Hollywood dengan ‘The Road’ dan ‘Lawless’. Dengan signature jelasnya di tema-tema gritty criminal, apapun latar set-nya.

            Mungkin itu juga yang membuat ‘Triple 9’ – titel yang merujuk pada kode panggilan bantuan kala ada petugas terluka atau tewas di lapangan, jadi sebuah produksi yang bukan digawangi studio besar, namun bisa menggamit banyak bintang dalam deretan cast-nya. Dan mereka, at least some, tak ditempatkan secara tipikal buat mengisi karakternya. Bahkan Kate Winslet yang cukup jarang mau tampil di film-film aksi ikut di dalamnya. Ini, mau tak mau, jelas jadi potensi besar buat filmnya.

            Misi yang terpaksa dipenuhi Michael (Chiwetel Ejiofor) bersama rekan-rekan polisi korup atas permintaan istri mafia Rusia Irina (Kate Winslet), kakak kekasih – ibu dari putri kecilnya, Elena (Gal Gadot), untuk merampok sebuah deposit box berisi info untuk membebaskan suami Irina ternyata tak cukup hanya sekali. Tahu bahwa Michael akan menolak misi kedua yang lebih riskan walau dijanjikan imbalan besar, Irina menyandera Elena dan anak mereka serta membunuh Russell (Norman Reedus). Tak lagi bisa menghindar, bersama Marcus (Anthony Mackie), Franco (Clifton Collins, Jr.) dan Gabe (Aaron Paul) – adik Russell, misi itu ternyata sulit berjalan dengan mulus dengan kedatangan polisi idealis Chris (Casey Affleck), keponakan Sgt. Jeffrey (Woody Harrelson) yang tengah berusaha mati-matian meringkus gerombolan ini, sementara ada intrik di antara mereka sendiri di antara pembersihan nama, pengkhianatan dan kesetiakawanan.

            Dalam tradisi film-film aksi kriminal polisi korup yang penuh intrik, juga dengan pakem yang mengingatkan ke film aksi HK ‘80an Donnie Yen berjudul ‘Tiger Cage’ walau punya detil plot berbeda dan tak sebaik itu, ‘Triple 9’ memang jadi sangat menarik di atas skrip Matt Cook yang menempatkan karakter ensembelnya dengan porsi berimbang di tengah permainan maut tanpa bisa mudah tertebak. Atmosfernya digelar dengan nuansa kotor dan sulfurik, di mana batas abu-abu karakter tadi muncul tanpa sorotan lead yang kelewat jelas.

            Di sini, memang Hillcoat jadi sangat leluasa memuat signature penyutradaraan dan storytelling-nya yang biasa. Ada sinematografi yang cukup bagus dari Nicolas Karakatsanis dalam menerjemahkan atmosfer itu dengan baik, sementara walaupun pace-nya terasa agak naik turun menuju ending yang memang terlihat sedikit terburu-buru tanpa closing sequence impresif , kerja award-nominee editor Dylan Tichenor dari ‘There Will Be Blood’, ‘Zero Dark Thirty’ hingga yang paling dekat dengan ‘Triple 9’ – ‘The Town’, tetap bisa menahan jahitan penceritaannya dengan bagus. Masih ada juga scoring yang membentuk proper blend dari Atticus Ross, Bobby Krlic, Leopold Ross dan Claudia Sarne.

            Namun yang menjadi daya tarik terbesarnya tetaplah nama-nama yang berkolaborasi di dalamnya. Masuk ke peran-peran yang tak biasa mereka mainkan di film-film yang lain, terutama Winslet dan Affleck, ditambah karakter-karakter pendukung yang juga diisi nama-nama cukup dikenal seperti Teresa Palmer, Michael K. Williams dan Gal Gadot, hal terbaik dalam ‘Triple 9’ adalah interaksi akting bintang-bintang lintas ras ini di atas plot kriminal yang walau tak terlalu banyak mengumbar aksi, tapi tetap punya kadar tensi cukup tinggi. Untuk yang menggemari film-film thriller aksi kriminal, ‘Triple 9’ jelas tetap menjadi rekomendasi cukup bagus. A small but kinetic cop thriller. (dan)

LONDON HAS FALLEN: ‘80S CANNON SHOWCASE WITH LOT MORE BUDGETS

•March 13, 2016 • Leave a Comment

LONDON HAS FALLEN

Sutradara: Babak Najafi

Produksi: Focus Features, Gramercy Pictures & Lionsgate Films, 2016

London has Fallen

            Walau arahnya terlihat dan potensinya ada, tak banyak mungkin yang menyangka bahwa ‘Olympus Has Fallen’, action tahun 2013 besutan Antoine Fuqua bisa berkembang menjadi sebuah franchise. Bukan saja karena saingan terang-terangan di balik kasus klise curi-mencuri ide antar studio di Hollywood dengan ‘White House Down’ yang sama-sama punya premis ‘Die Hard on The White House’, dimana filmnya Roland Emmerich itu memang terkesan lebih all-out sebagai A-list blockbuster studio gede ketimbang style Fuqua yang sering masih mementingkan struktur ketimbang aksi.

            However, selain memang punya cast yang kuat dengan Gerald Butler sebagai terjemahan total genre aksi di lini terdepannya, film itu memang sangat tak salah untuk berlanjut jadi sebuah franchise. Berpindah dari Millennium Films ke hak distribusi baru yang dipegang Focus dengan divisi (lebih) komersilnya yang hampir kolaps, Gramercy, trio produsernya; Mark Gill, Alan Siegel dan Butler sendiri, menaikkan levelnya menjadi sesuatu yang agak beda dengan pendahulunya. Apalagi, adanya nama Danny Lerner di deretan produser yang baru tutup usia tahun kemarin, adiknya Avi Lerner dari Millennium Films yang memang mengadopsi template Cannon Group, Inc.-nya Golan-Globus di era ’80-an. Fondasinya masih tetap sama, dengan feel American Jingoism yang kuat di balik tema penyerangan orang nomor satu. Tapi ‘London’ tak lagi malu-malu untuk menggebrak sisi aksinya jauh lebih.

            Ketenangan Mike Banning (Gerald Butler), Secret Service agent andalan Presiden AS Benjamin Asher (Aaron Eckhart) menantikan anak pertama dari istrinya, Leah (Radha Mitchell) setelah peristiwa di film sebelumnya ternyata tak lama. Menemani Asher bersama direktur agensi Lynne Jacobs (Angela Bassett) ke pemakaman PM Inggris, ternyata mereka kembali menjadi sasaran, kali ini oleh gembong teroris Pakistan Aamir Barkawi (Alon Moni Aboutboul) yang melancarkan serangan balik atas dendamnya kehilangan seluruh keluarga dalam sebuah serangan drone. Dan serangan kali ini memang tak main-main. Bukan saja menewaskan sejumlah pimpinan negara-negara dunia sambil meluluhlantakkan London dan semua landmarks-nya, Asher mereka buru sebagai sasaran pribadi untuk dieksekusi di depan mata seluruh dunia. Bergabung dengan agen MI6 Jax Marshall (Charlotte Riley) di tengah komando yang mulai disusupi, Banning pun kembali harus menyelamatkan Asher serta dunia, nyaris seorang diri dengan segala taktik yang ia miliki.

            Penyutradaraan yang berpindah dari Fuqua ke tangan Babak Najafi, sineas Swedia berdarah Iran yang meski pernah menyabet penghargaan Berlinale untuk film pertamanya namun belakangan lebih sering membesut film-film Swedia komersil, termasuk satu action Swedia yang paling dikenal dalam skup internasional; ‘Snabba Cash / Easy Money 2’ ternyata tak membuat ‘London’ jadi punya ciri beda, or at least lebih Eropa, sebagai film aksi. Malah, dibandingkan pendahulunya, bahkan ‘White House Down’ yang mengambil template lebih kontemporer, sekuel ini seperti terjun bebas tak tanggung-tanggung menggelar nonstop showdown-nya. Budget-nya tak jadi soal lebih kecil, tapi yang kita lihat di layar lebar justru sebaliknya. A pure Hollywood dream dengan kualitas total popcorn ala Cannon, dari ‘Invasion USA’ ke ‘The Delta Force’ semua elemennya ada di sini, bahkan sampai ke feel dari scoring Trevor Morris yang sudah cukup lama tak kita temukan di film-film sekarang, tapi tak kedodoran di sisi teknis, koreografi sampai VFX-nya.

            Skrip dari Creighton Rothenberger & Katrin Benedikt dari ‘Olympus’, Chad St. John & Christian Gudegast yang bukan juga nama-nama screenwriter kelewat dikenal, memang hampir tak menyisakan ruang lebih untuk elemen lain kecuali untuk cat & mouse action-nya kali ini. Menggelar aksi, aksi dan aksi di balik kombinasi destruction porn, hard boiled action dan jingoism yang tetap terasa sangat ‘fun’ dalam intensitas aksi di tengah streets of London yang dikosongkan bak sebuah zombie thriller, ‘London’ memang punya resiko meminggirkan nama-nama besar di deretan cast-nya. Dari Radha Mitchell, Angela Bassett, Robert Forster, Melissa Leo hingga Morgan Freeman kali ini ditahan hanya benar-benar sebagai pendamping yang nyaris tak penting. Masih ada pula Jackie Earle Haley yang bahkan lebih tersia-sia dari semuanya.

            Then again, mungkin itu memang tujuannya. Dan memang benar, berisi plot tipis bahkan untuk sebuah aksi berlatar intrik dan aktivitas terorisme, plus dialog-dialog yang kerap lebih kedengaran tolol ketimbang relevan, anehnya, ‘London Has Fallen’ tak terjebak menjadi action kelas B yang biasanya lewat begitu saja. Dalam segala sisinya, ia benar-benar mendorong pendahulunya jauh ke belakang lewat permainan intensitas aksi yang solid, adrenaline ride dengan ketepatan timing luarbiasa. Ridiculous, sinting, call it whatever you want, tapi kala sebuah konsep bisa bekerja sekuat ini di pakem-pakem serba klise dan mostly predictable, causing sheer ecstasy kala karakter-karakter jagoan kita bisa selamat dalam presisi detik, bahkan dengan sepenggal strong-punching sequence di penutup yang membuka kemungkinan petualangan Banning – Asher bermain superpower jingoism lain sambil memporakporandakan para seterunya nanti, penerjemahannya hanya satu. Mereka berhasil menaikkan formulanya ke titik yang kita inginkan. ‘London Has Fallen’ adalah salah satu action showcase paling menyenangkan yang pernah ada. Bloody hell. (dan)

COMIC 8: CASINO KINGS PART 2; THE GRAND SCALE OF DUELING COMICS

•March 7, 2016 • Leave a Comment

COMIC 8: CASINO KINGS PART 2

Sutradara: Anggy Umbara

Produksi: Falcon Pictures, 2016

Comic 8 Casino Kings Part 2

            Lebih dari sekedar film laku, blockbuster adalah formula. Ini yang masih sering luput dari konsep banyak filmmaker kita, bahkan yang berkecimpung di arus film komersil, sekali pun. Benar memang bahwa trend yang cenderung terus berubah punya peranan besar dalam penciptaan konsep itu, tapi Anggy Umbara, dalam metamorfosisnya, plus kepercayaan Falcon PicturesPH yang sering tak segan mengelontorkan budget – terhadapnya, jelas jadi satu sineas yang punya visi cukup liar ke arah ini. Meski masih banyak yang mencibir ke gaya storytelling-nya, Anggy sudah berulang kali membesut film laku di tengah kelesuan penonton kita. Tetap ada missed shots, memang, tapi lihat rata-ratanya. Dan ‘Comic 8’ secara branding memang sudah menjelma menjadi sebuah franchise kuat – dimana banyak kasus dalam industri film kita justru membaca sekuel sebagai tanda kelesuan PH akan serangkaian karya baru yang terus-terusan gagal.

            Masih di balik banyaknya cacian akan keputusan membagi sekuel yang diberi judul ‘Casino Kings’ ini menjadi dua bagian lebaran kemarin, harus diakui juga kalau ini adalah trik dagang yang jitu. Toh bukan selebihnya – bahkan sebagian termasuk sebagian yang melemparkan omelan mereka, mungkin – berarti jadi malas, tapi justru penasaran untuk menantikan sekuelnya lewat teaser hint yang digelar Anggy di pengujung ‘Casino Kings Part 1’. Bukan hanya perhelatan gala premiere-nya jadi sebuah rekor di sisi jumlah hall, gimmick promosi termasuk standee dan undangan, angka box office-nya pun fantastis buat film kita sekarang. Tapi lebih dari itu, sekarang, paling tidak kita punya blockbuster lokal yang bisa mendominasi layar bioskop seperti blockbuster luar. Suka atau tidak, secara komedi memang tak bisa lepas dari ‘like and dislike’ terhadap subjek-subjeknya, Anggy sudah menggebrak formula itu. Dengan bandingan rata-rata jumlah penonton kita sekarang atas alasan-alasan klise kalau ditanya – mengarah ke rasa rugi mengeluarkan harga tiket untuk film Indonesia, artinya; banyak penonton yang tak merasa rugi mengeluarkan uang untuk datang ke bioskop buat ‘Comic 8’ – sama seperti film-film luar yang berapapun HTM-nya rela-rela saja mereka tonton. Whether you like it or not.

            Picked up where they left us off di ‘Casino Kings Part 1’, ‘Casino Kings Part 2’ masih melanjutkan misi Comic 8 (Arie Kriting, Babe Cabiita, Bintang Timur, Ernest Prakasa, Fico Fachriza, Kemal Palevi, Mongol Stress dan Ge Pamungkas yang menggantikan Mudy Taylor sejak bagian pertama) yang terjebak di sebuah pulau sebagai pion dalam permainan judi online internasional melawan sosok misterius bernama The King bersama konspirator sekaligus musuh lama mereka, Dr. Pandji (Pandji Pragiwaksono). Kembali harus menghadapi dua algojo The King, Isa – Bella (Donny AlamsyahHannah Al-Rashid) dan The Ghost (Yayan Ruhian) berikut sekumpulan mercenary (Barry Prima, Willy Dozan, George Rudy, Lydia Kandou plus Sacha Stevenson & Soleh Solihun), sementara Chintya (Prisia Nasution) yang bekerjasama dengan kepolisian (Boy William & Dhea Ananda) dan agen lain (Agus Kuncoro & Candil) masih terus membuntuti pimpinan mereka, Indro Warkop atas kasus perampokan bank sebelumnya.

            Tak hanya jadi film yang berhasil mengumpulkan komika/standup comedian Indonesia terbanyak (selain nama-nama di atas masih ada Cak Lontong, Adjis Doaibu, Boris Bokir, Lolox, Uus, Temon, Gita Bhebhita, Mo Sidik, Jovial & Andovi da Lopez, Arief Didu, Isman HS, Gilang Bhaskara, Akbar Kobar, Asep Suaji, Awwe, Bene Rajagukguk), ‘Casino Kings Part 2’ juga masih ditambah dengan penampilan aktor, pemusik serta komedian lintas generasi dari Ence Bagus, Joe P. Project, Gandhi Fernando, Bagus Netral sampai Ray Sahetapy dan Sophia Latjuba plus Agung HerculesNikita Mirzani yang kembali muncul.

             Pack of stars and comedians ini jelas sudah menjadi dayatarik utama ‘Comic 8’ selain jualan komedi para komika tadi, bersama gelaran action dengan sentuhan adventure fantasycreature feature (dari buaya ke sekarang, naga) yang masih jarang-jarang ada di film kita. Begitupun bukan berarti VFX dan tata teknis lainnya dikerjakan asal-asalan. Meski di soal VFX ia tetap tak bisa dibandingkan dengan film-film luar, bersama tata kostum – artistik, suara, roaring score Indra Qadarsih sampai fast paced editing Cesa David Luckmansyah Bounty Umbara dan sinematografi Dicky R. Maland yang tanpa muluk-muluk membentuk blend sempurna dengan style Anggy, ini tetap adalah sebuah effort yang cukup baik serta berani buat sinema kita. Semua bermain di batasan jelas dalam wujud tontonan hiburan murni yang membidik pasarnya tanpa pretensiusme ini itu, dan menyatukan begitu banyak comics dan cast lain di balik style personal yang berbeda-beda dengan proporsional, itu sudah jadi sebuah kejelian lebih.

            Dengan semua elemen yang memang mentranslasikan skala gede-gedean untuk sebuah ‘blockbuster’ nasional itu, Anggy memang berhasil membayar penantian fans-nya yang masih menggantung di bagian pertama sekuel ini – yang sebenarnya lebih mirip sebuah setup, bahkan dengan lagi menyisakan plot twist yang relevan buat pengembangan sekuel selanjutnya berikut tribute standup para komika bersama guliran end credits-nya. Satu yang jelas, goes to a grand scale dalam gelaran petualangannya, ‘Comic 8’ memang tak pernah bermaksud untuk ditanggapi dengan persepsi-persepsi kelewat serius kecuali dalam tata teknisnya, dan kenyataannya, dalam skala film kita, termasuk juga koreografi aksi dan keseluruhan penggarapannya, bukan sekedar main-main dan justru tampil sangat serius.

          Berpijak dengan patron 80% template komedi para subjeknya, kalaupun ia gagal menghibur, ini lagi-lagi hanya masalah klise resepsi sebuah komedi; like or dislike. Toh di situ juga mungkin sebagian yang bukan penyukanya bisa mempertanyakan kotak selera mereka dibandingkan angka penonton totalnya nanti. Sementara bagi penyukanya, yang tetap bisa menikmati seluruh ride-nya di antara racikan tawa, action serta fantasi, this is a grand scale of dueling comics. A pure – sheer entertainment. Just live with that, dan jangan merasa salah dengan itu. (dan)

I AM HOPE: AN AWARENESS TO SURVIVE AND THRIVE

•March 1, 2016 • Leave a Comment

I AM HOPE

Sutradara: Adilla Dimitri

Produksi: Alkimia Production, Kaninga Pictures, Wardah, 2016

 

I am Hope

            Ada banyak memang film kita yang membahas soal penyakit untuk alasan melodramatis. Menjual derita di balik tangisan buat jadi daya tarik buat penonton sebagai sebuah ‘disease (not poverty) porn‘. Sebagian dari mereka, ada pula yang dikemas sebagai PSA (Public Service Announcement) secara terang-terangan. Kadang diiming-imingi niat baik yayasan peduli ini dan itu, tapi justru membuat pemirsa terutama yang punya riwayat kaitan dengan penyakitnya bukan jadi terangkat, malah jadi paranoid luarbiasa dengan pessimistic ending tak kepalang. Sementara, yang didasari sebuah gerakan dalam nilai-nilai positif, baik dalam memberi info, spreading awareness, and above all – an effective campaign, mungkin tak banyak.

         Menyebarkan kesadaran terhadap kanker dan harapan bagi penderitanya untuk bertahan menjadi pemenang, ide ini berawal dari gerakan gelang harapan (bracelet of hope) yang digagas oleh Wulan Guritno bersama Janna Soekasah dan Amanda Soekasah atas rancangan ibu Janna dan Amanda, desainer kondang Ghea Panggabean untuk tujuan donasi buat para penderitanya. Sadar bahwa kepedulian itu tak boleh hanya terbatas sampai di sana, sebagai film, ‘I am Hope’ sebenarnya berupa aktivitas untuk menyokong niat tadi menjangkau kesadaran lebih jauh lagi. Niatnya jelas tak salah dan patut didukung, sekarang mari lihat presentasinya termasuk ke golongan yang mana dari film-film dengan fondasi yang tak jauh beda tadi.

            Mia (Tatjana Saphira), penulis yang hidup sederhana bersama ayahnya, Raja (Tio Pakusadewo) – seorang komposer, sepeninggal ibunya (Febby Febiola) karena kanker, bermimpi mewujudkan pertunjukan teaternya sendiri. Sayang, luka itu terulang lagi saat Mia divonis menderita kanker paru-paru stadium lanjut. Sadar waktunya tak banyak, bersama sahabat rahasianya, Maia (Alessandra Usman) dan David (Fachri Albar), aktor yang baru dikenal Mia dan mulai jatuh hati kepadanya, Mia menjadikan mimpi dan harapannya ke sebuah skrip yang akhirnya disambut baik oleh seorang produser teater Rama Sastra (Arriyo Wahab). Namun tantangannya tetaplah kondisi Mia yang kian rapuh sambil menjalani program kemoterapi, sementara dukungan satu-satunya adalah cinta dari orang-orang terdekatnya.

            Benar bahwa ‘I am Hope’ memang tak bisa lari sepenuhnya dari hal-hal klise yang ada di genre drama atau PSA sejenis soal penyakit, secara layer terdasar penceritaannya memang diilhami dari kisah-kisah sejati para cancer warriors or survivors. Namun skrip (bersama Renaldo Samsara) dan penyutradaraan Adilla Dimitri terlihat sekali berusaha menghindari pakem-pakem tipikal itu dalam banyak detil adegan, penyuntingan Aline Jusria (lihat bagaimana mereka menggagas scene batuk darah yang biasanya tampil dengan rentetan yang sangat tipikal di film-film kita) hingga bangunan interaksi para karakternya. Selagi banyak tampilan kesedihan tak terhindarkan, mereka tak serta-merta menggagas interaksi ini jadi senada dengan disease melodrama yang lebih serba terang-terangan.

         Walau beberapa di antaranya punya resiko menahan emosi seperti yang banyak diharapkan penonton kita secara tipikal, ada restriksi yang jelas untuk menjaga itu. Avoiding these cliches, Adilla mengalihkannya lewat selipan-selipan info lebih detil termasuk aspek-aspek genetik dalam kasus-kasus kanker namun cukup halus, berikut gimmick soal teater, yang meski tak lantas sepenuhnya sukses jadi simbol mendalam namun tetap memberi batasan beda buat banyak tema sejenis, untungnya juga ada permainan ensembel yang menarik dari deretan cast-nya terutama Tio Pakusadewo (lagi-lagi menampilkan kepiawaiannya memainkan instrumen dan bernyanyi) dan pendatang baru Alessandra Usman di atas chemistry kuat mereka bersama Tatjana Saphira. Fachri Albar yang cukup lama tak muncul juga terlihat berusaha bertransformasi agak berbeda dari biasanya, dan walaupun tak sekuat mereka, tetap punya charming presence yang terjaga. Pemeran pendukung seperti Kenes Andari dan seabrek cameo yang dimunculkan juga tampil bagus, terutama Arriyo Wahab. Tata musik dari Aghy Narottama dan Bemby Gusti serta beberapa lagunya mungkin ditempatkan agak berlebih di sebagian adegan, tapi tak sampai jatuh jadi kelewat stirring sebagai latar.

            Namun hal terbaik dalam ‘I am Hope’ memang adalah uplifting atmosphere yang tak lantas membuat alunan plot-nya jatuh menjadi cengeng dan berpegang pada rasa kasihan pemirsanya. Mengusung gerakan tadi sebagai dasar, advokasi-advokasi terhadap semangat pengharapan menuju konklusi atas twist kecil, yang meski tak terlalu rapi dalam distraksi-distraksi storytelling yang berusaha ditampilkan sejak awal namun tetap mengarah ke wrapping ending begitu penting ke pemilihan judulnya – bisa muncul cukup mulus di atas tampilan cantik sinematografi Yudi Datau bersama tata teknis lain yang memberi kesan keseriusan penggarapan terutama dalam penjagaan detil medis. Sayang sekali lagi-lagi sambutannya belum berbanding sama dengan antusiasme atas gerakan dasarnya, tapi niat baik terhadap sebuah kepedulian memang tak boleh sampai di sini saja. In the most uplifting note, cukup sejalan pula dengan gerakanya, ‘I am Hopespreads the awareness to survive and thrive through love, dan itu sudah cukup untuk membebaskannya dari label-label klise sebuah ‘disease porn’. (dan)

ZOOTOPIA: FINDING GOOD BALANCE IN FAMILY ANIMATED MOVIES

•February 21, 2016 • Leave a Comment

ZOOTOPIA

Sutradara: Byron Howard, Rich Moore & Jared Bush

Produksi: Walt Disney Pictures, Walt Disney Animation Studios, 2016

Zootopia

            Perkembangan sinema sekarang agaknya sudah membawa perubahan persepsi dalam karya-karya animasi, termasuk juga dalam pola-pola jualan serta effort-effort tiap studio yang menitikberatkan fokus-fokus berbeda ke dalamnya. Benar bahwa animasi tak selamanya diperuntukkan untuk tontonan keluarga atau segala umur, namun bicara dalam konteks blockbuster animasi, like it or not, studio marketing memang menjual kontennya seperti itu. Selagi DreamWorks, Fox dan sebagian besar lainnya mungkin bermain di ranah konvensional dan cukup aman sehingga dipandang childish bagi pemirsa dewasa, sementara Pixar merambah kekuatan inovasi dalam plot dan presentasi visual, Disney dalam skup terbesar genre ini, walau tetap membawa nama John Lasseter sebagai talenta kreatif tertinggi Disney ke dalamnya, tetap berdiri di atas keseimbangan lebih dari yang lain. Look around you, and you might get it. Lihat perbandingan usia crowd penonton di tiap film animasi dari masing-masing studio tadi. Selagi film-film Pixar belakangan kerap lebih dipenuhi penonton yang mengarah ke usia dewasa dan lainnya lebih dipenuhi anak-anak, ada age diversions yang lebih seimbang di film-film Disney-non-Pixar.

            However, ‘Zootopia’ memang digagas dengan effort lebih lagi, dan sedikit berbeda buat menghadirkan keseimbangan itu. Like finding a good balance in a family animated movies, wujudnya boleh kembali ke sebuah fabel yang lebih akrab ke pemirsa belia, tapi porsi racikan buat menambah dayatarik bagi pemirsa dewasa-nya terasa sekali mengalami peningkatan. Disguised itself as a cop thriller, subgenre animasi yang mungkin masih jarang-jarang sekali tersentuh animasi segala umur (well, ‘The Great Mouse Detective’ – dalam banyak detil beda dan lebih ke style detektif ala Sherlock Holmes mungkin termasuk salah satunya), bukan berarti ia jadi kehilangan benang merah untuk bisa dinikmati pemirsa kanak-kanak, dari sematan pesan-pesan universal self development terms-nya termasuk elemen penting animasi Disney-non Pixar yang baru saja kembali ke puncaknya lewat ‘Frozen’. Catchy theme song, yang di sini membawa Shakira lewat lagu yang ditulis oleh Sia dan Stargate, ‘Try Everything’.

            Dalam dunia fabelnya, ‘Zootopia’ yang seolah membentuk penggabungan atmosfer fabel dan ide (sedikit) satirikal soal utopia – tatanan masyarakat sempurna lewat gambaran kota metropolis impian bernama sama (di beberapa negara film ini diedarkan dengan judul ‘Zootropolis’), mengisahkan female bunny idealis Judy Hopps (disuarakan Ginnifer Goodwin) dari desa Bunnyburrow yang mengejar mimpinya tentang keadilan di antara spesies-spesies hewan lain, memasuki akademi polisi dan bergabung ke Zootopia Police Department. Sayang, ia harus berhadapan dengan kenyataan di Zootopia yang jauh berbeda dari idealismenya. Ditugaskan sebagai polantas parking officer oleh Chief Bogo (Idris Elba) yang tak yakin dengan spesiesnya sebagai polisi kelinci pertama, kerap dimarahi publik, ia juga ditipu mentah-mentah oleh rubah penipu Nick Wilde (Jason Bateman) yang luarbiasa manipulatif. Usahanya menangkap musang Duke (Alan Tudyk) malah berujung pada kekacauan yang membuat Bogo murka, namun lantas mendapat support dari wakil walikota, domba Dawn Bellweather (Jenny Slate) untuk membantu berang-berang Mrs. Otterton (Octavia Spencer) yang tengah mencari suaminya yang hilang secara misterius bersama sekelompok spesies lain. Diberi waktu 48 jam oleh Bogo, Judy terpaksa meminta bantuan Nick terhadap kasus yang akhirnya membawa mereka ke sebuah konspirasi pelik atas eksistensi Zootopia yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

            Kolaborasi cerita, skrip dan penyutradaraan dari 3 talenta Disney ; Byron Howard (animator ‘Mulan’, ‘Lilo & Stitch’ & ‘Brother Bear’ serta co-directorBolt’ & ‘Tangled’), Rich Moore (‘Wreck-it Ralph’) dan Jared Bush (creative head di ‘Big Hero 6’) memang mengemas ‘Zootopia’ menjadi sebuah fabel yang jauh lebih berisi dari subgenre sama yang pernah ada dari Disney. Bukan hanya samaran teratasnya adalah sebuah buddy movie – cop thriller penuh twist plusGodfathertribute lewat karakter Mr. Big (disuarakan oleh Maurice LaMarche) – elemen yang sulit kita bayangkan bisa ada di sebuah animasi keluarga, tapi lebih lagi, menyemat aspek-aspek lain dalam plot yang sangat relevan tentang prejudism, racism dan ideologi-ideologi sejenis yang tengah jadi isu besar di balik segudang masalah humanitas dunia kita sekarang.

            Begitupun, bukan lantas ia jadi serba pretensius dan dipenuhi oversimplifikasi menggelar pendekatan satir dan metafora kritik-kritik sosialnya. Keputusan untuk mengemasnya sebagai sebuah fabel justru menghaluskan ide itu untuk bisa sampai ke hampir semua layer usia pemirsanya, membuat lintas umur pemirsa itu bisa belajar bersama soal toleransi dan interaksi sosial dalam harapan-harapan ‘building our world as a better place’, all in a fun ways tanpa harus mencari-cari kesedihan dan pendekatan depresif di ujung manapun dari keseluruhan storytelling-nya. Selagi pemirsa dewasa dibawa ke sebuah cop thriller kompleks berisi elemen-elemen sci-fi kontemporer/non futuristik serta whodunit theme dengan sematan-sematan buddy action seru buat jembatannya, bangunan karakterisasinya mereka gagas bak sebuah Zoology Class buat pemirsa belia-nya.

         Selain membuat mereka sibuk mengenali hewan-hewan bukan hanya sekedar tampilan tapi juga ke detil sifat dan ragam pembagian spesiesnya, ada pula profession roleplay dan introduksi ala KidZania sebagai self development program yang asyik ke tengah-tengahnya. Di atas semuanya, tampilan fabelnya juga berada pada balance yang bagus. Tampilan Judy serta all-ages charming chemistry-nya dengan Nick (shaped over homages to Disney’sRobin Hoodclassic fable) yang disuarakan dengan sempurna oleh Ginnifer Goodwin dan Jason Bateman membentuk blend bagus dengan karakter-karakter lebih dewasa dari Idris Elba, J.K. Simmons (Mayor Lionheart) dan wolfpack dengan funny references di porsi villain’s henchmen-nya, sementara masih ada seabrek nama-nama terkenal – ini agak tidak seperti Disney biasanya – dari Octavia Spencer, Bonnie Hunt, Tommy Chong, Alan Tudyk dan Kristen Bell, sambil tetap diselingi detil visual animasi luarbiasa cantik di atas gambaran fabel antar spesies yang sangat colorful. Gimmick 3D-nya tak begitu penting, tapi tetap punya excitement yang beda. Jangan lupa juga elemen musik sebagai ciri khas studio-nya tetap muncul sebagai sebuah selebrasi meriah bersama scoring bagus Michael Giacchino dan tampilan Shakira sebagai pop-star antelop Gazelle di guliran end credits-nya.

           So, inilah lagi-lagi dominasi Disney yang tetap bisa membuatnya jadi pemain terbesar di ranah serta genre-nya. Creative approach dan inovasi-nya boleh ke mana saja, tapi mereka tetap punya garis batas untuk membentuk sebuah balance yang baik bagi sasaran marketing-nya; that’s family and all ages-audience ; untuk bisa belajar dan bermain menikmati keseruan bersama-sama. Menyamar di balik cop thriller serba gritty, buddy movie yang terkadang bisa sangat serius bahkan bicara tentang sains serta batasan spesies predator, tak lantas menjadikan ‘Zootopia’ sebuah hiburan yang jatuh jadi menjemukan, tapi justru super fun. Bahkan sekuens panjang Judy dan Nick menghadapi sekawanan kukang slow-moving petugas DMV yang sudah dihadirkan di trailer menarik itu tetap bisa membuat semua pemirsanya tertawa pecah dan lebih lagi. Go take your loved ones to ‘Zootopia’, learn & laugh with them and enjoy every excitements! (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 10,973 other followers