THE FORGER : A FAMILY HEIST WITH BIG HEARTS AND SMALL THRILLS

THE FORGER 

Sutradara : Philip Martin

Produksi : Saban Films, Code Entertainment & Freedom Media, 2015

the forger

            Kombinasi family drama dan heist genre dalam film mungkin tak lagi merupakan sesuatu yang baru. Namun yang menggabungkan tiga generasi aktor sebagai karakternya, masih bisa dihitung dengan jari. Salah satu pionirnya adalah ‘Family Business’, film Sidney Lumet di pengujung era ’80-an, yang mempertemukan Sean ConneryDustin Hoffman dan Matthew Broderick. Walau cenderung terlupakan, film itu punya eksplorasi unik dalam turnover genre-nya, dari komedi berbalik menjadi drama tragis sebagai konklusinya.

            ‘The Forger’ yang kembali membawa John Travolta setelah cukup lama tak muncul sebagai lead, sedikit banyak ada di wilayah itu. Dua pendampingnya adalah Christopher Plummer dan dari generasi sekarang, ada Tye Sheridan (‘The Tree of Life’, ‘Mud’) yang punya filmografi cukup remarkable di karirnya yang masih sangat muda.  Tapi seperti judulnya, ‘The Forger’ yang memang ada di kelas berbeda (baca = di bawahnya), bukanlah sebuah forge product. Hanya saja, mungkin, dalam membangun tema keluarganya, ia punya hati sebesar film Lumet tadi.

            Premis tentang seorang pemalsu lukisan kawakan yang terpaksa sekali lagi mengerahkan keahliannya, pun generik. Ray Cutter (John Travolta), master forger yang mendekam di penjara, memilih meminjam uang pada gembong narkoba Tommy Keegan (Anson Mount) untuk menyogok hakim demi kebebasannya. Tujuannya hanya satu, menyambung kembali hubungan tak harmonis dengan putra semata wayangnya, Will (Tye Sheridan), remaja berusia 15 tahun yang selama ini diasuh kakeknya Joseph (Christopher Plummer) dan diprediksi bakal hidup tak lama akibat penyakit tumor otak yang dideritanya. Walau hubungan mereka masih naik turun, juga terhadap Joseph yang selalu menganggap Ray sebagai bapak tak becus, Ray berusaha memenuhi permintaan terakhir Will dari bertemu ibunya (Jennifer Ehle) hingga bercinta dengan PSK. Tentu saja semua tak semudah itu. Selain Ray terpaksa menyanggupi misi terakhir pencurian lukisan klasik MonetWoman with a Parasol’ dari sebuah museum di Boston demi hutangnya pada Keegan, ia juga harus mengelabui dua polisi, agen Catherine Paisley (Abigail Spencer) dan partnernya (Travis Aaron Wade) yang terus membayang-bayangi Ray.

            Tak ada yang terlalu salah sebenarnya dari skrip yang ditulis Richard D’Ovidio dari ‘The Call’. Mengemas elemen-elemen klise dalam genre sejenis seperti yang ada pada sinopsis tadi, step-step awalnya sudah dibangun dengan meyakinkan. Bangunan karakter-karakternya juga baik, dimana selain tiga generasi pria dalam satu keluarga ini tetap menjadi sentralnya, rata-rata karakter sampingannya tak sekalipun jadi terpinggirkan. Dari awal, ada percikan-percikan penuh hati yang mengiringi dramatisasi ‘over generations-father to son’-nya dengan bagus, berikut detil-detil soal praktik pemalsuan lukisan yang hadir sangat informatif.

            Apalagi, deretan aktornya, walaupun popularitas Travolta sudah jauh menurun, sungguh bukan sembarangan. Chemistry yang cukup solid membuat interaksi Travolta bersama Plummer dan Sheridan yang memang punya bakat besar sebagai aktor ini mengalir sangat asyik. Supporting cast-nya, terutama dua female cast, Jennifer Ehle dan Abigail Spencer, dengan screen presence yang bisa mencuri perhatian, sama sekali tak tampil hanya sebagai tempelan. Sebagai villain, Anson Mount-pun cukup menarik.

            Sayangnya, mirip seperti problem utama dalam ‘The Call’ yang begitu kuat di awal namun melemah di paruh keduanya, skrip itu seakan tak bisa seimbang membagi kombinasi genre-nya. Penyutradaraan Philip Martin, sutradara film-film serial TV Inggris yang baru memulai debut pertamanya di layar lebar, pun tak bisa banyak membantu. Terkesan jauh lebih fokus menggagas dramatisasi dalam interaksi karakter, intensitas konfliknya menuju klimaks yang sebenarnya sudah dibangun dengan setup bagus sejak awal jadi ketinggalan tanpa kekuatan sama. Tak hanya atmosfer thriller yang lemah, elemen ‘heist’ yang seharusnya jadi sesuatu yang wajib dalam genrenya agak berantakan. Belum lagi sisi medis yang sama sekali tak tertangani dengan detil yang baik, dimana karakter Will yang tengah menjalani kemoterapi sama sekali tak terlihat seperti penderita penyakit terminal. Closing scene-nya pun mengecewakan, dibanding banyak heartful scenes yang ditabur Martin di sepanjang film.

           Begitupun, bukan berarti ‘The Forger’ benar-benar jadi film yang gagal. Walau penggarapannya tak sempurna, interaksi akting para pendukungnya, terutama TravoltaSheridan, and mostly Plummer yang lagi-lagi menunjukkan kualitas keaktorannya, jelas masih membuat ‘The Forger’ sangat layak untuk disimak. A family heist with load of hearts, but unfortunately, small thrills. (dan)

~ by danieldokter on May 6, 2015.

One Response to “THE FORGER : A FAMILY HEIST WITH BIG HEARTS AND SMALL THRILLS”

  1. salam pecinta film.

    permisi, saya mau promosi blog review film juga.

    [ iza-anwar.blogspot.com ]

    mohon tambahkan dalam daftar blog Anda dan follow juga blog saya.

    maaf bila review saya masih amatiran dan saya ucapkan terima kasih sebelumnya🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: