TERMINATOR GENISYS : GOOD ACTION, BAD CONTINUITY

•June 29, 2015 • Leave a Comment

TERMINATOR GENISYS

Sutradara: Alan Taylor

Produksi: Skydance Productions, Paramount Pictures, 2015

terminator genisys

            Oh yeah. Jangan bilang kalau kelangsungan franchiseTerminator’ tak menjadi sesuatu yang tetap ditunggu-tunggu bagi banyak orang. Bahkan di usia Arnold Schwarzenegger yang sudah sangat menua pun, penampilannya dalam action blockbuster, jelas masih punya potensi. Namun masalahnya klise. Sebuah franchise klasik yang sudah gagal beberapa kali menyajikan instalmen yang layak, jelas juga punya resiko untuk bisa bangkit lagi. Tentu tak semua usaha itu gagal, tergantung seberapa kuat keseimbangannya bisa menciptakan fresh excitement buat generasi pemirsa baru sekaligus fans setia-nya. While homage ke jejak-jejak kebesarannya, itu sebenarnya hanya berupa bonus.

            Now let’s take a short look. Semua pasti setuju kalau karya James Cameron di tahun 1984 itu begitu berhasil menciptakan standar baru untuk sebuah sci-fi action sekaligus melambungkan nama Schwarzenegger ke puncak popularitasnya. Lantas lihat apa yang dilakukan Cameron tujuh tahun kemudian lewat sekuelnya, ‘Terminator 2: Judgment Day’ atau yang lebih populer dengan sebutan ‘T2‘ di tahun rilisnya. Hampir mirip seperti apa yang dilakukannya dalam franchise ‘Alien’, Cameron merubah template-nya dari pendekatan horror ; yang membuat pemirsanya merasa begitu bergidik melihat cat and mouse thrills sewaktu Terminator memburu karakter-karakter manusianya ; ke sebuah action futuristik yang sangat fun serta jauh lebih eksplosif. Semua digagas dibalik kreatifitas storyline yang lantas membalik karakterisasi Schwarzenegger jadi sejalan dengan statusnya sebagai Hollywood’s action icon.

            Namun sayang, berselang 12 tahun sesudahnya, ‘Terminator 3: Rise of the Machines’ yang memang dilepas di saat karir Schwarzenegger mulai ngos-ngosan di tengah perubahan trend film aksi, tanpa campur tangan Cameron pula, dibawah penyutradaraan Jonathan Mostow, gagal menyambung kesuksesan itu. Kesalahan fatalnya adalah tak ada karakter utama yang bisa menyaingi karakter-karakter inti sebelumnya, dan lagi, sudah terlalu banyak ripoffTerminator’, -Tor-Tor yang lain (including our ownLady TerminatorakaPembalasan Ratu Laut Selatan’) yang menggunakan template sama pada fondasi bangunan aksinya. Sutradara McG masih mencoba meneruskannya lewat ‘Terminator Salvation’ di tahun 2009 dengan sisa-sisa legacy storyline-nya, namun lagi-lagi gagal. Lupakan dulu tampilan Schwarzenegger CGI yang lebih terasa menggelikan ketimbang convincing itu, atau juga paduan Christian BaleSam Worthington yang tak sepenuhnya jelek, tapi pola yang sudah berubah total benar-benar nyaris menghapus tiap benang merah ke nyawa franchise-nya. Di luar itu, series-nya yang sempat dibuat Fox Network, ‘Terminator: The Sarah Connor Chronicles’ (runs from 2008-2009), adalah masalah lain lagi yang tentu kelewat panjang kalau mau dibahas.

            Kini, menyerahkan skripnya ke sutradara – scriptwriter Patrick Lussier yang selama ini lebih dikenal lebih ke film-film aksi kelas B (‘Drive Angry’ dan ‘Dracula 2000franchise) serta Laeta Kalogridis; produser –scriptwriter yang mungkin lebih punya rekor bagus lewat ‘Shutter Island’ serta produser eksekutif ‘Avatar’ yang masih terhubung dengan Cameron, mereka menggagas sebuah kebangkitan terhadap franchise-nya. Alan Taylor dari ‘Thor: The Dark World’ didapuk menjadi sutradaranya setelah Rian Johnson, Dennis Villeneuve (intriguing) serta Ang Lee (oh, please) sempat dipertimbangkan sebagai kandidat. Dengan kembalinya Schwarzenegger, ini tentu punya dayatarik lebih. And no, it’s not a reboot, walaupun tetap ragu-ragu untuk memproklamirkannya sebagai straight sequel.

           Lebih tepatnya, mereka menyebut ‘Terminator Genisys’ sebagai sebuat retroactive continuation, something that stands as the alteration to fix the wrong step in the previous installment, or at least they thought so. Yang lebih terlihat adalah usaha untuk membuat universe bolak balik perjalanan waktu dalam template-nya menjadi lebih simpel lewat alternate timeline, yang mungkin memang diperlukan terutama bagi generasi pemirsa sekarang serta kabarnya akan menjadi awal trilogi baru. Rasa penasaran itu mulai beralih ke ekspektasi kala trailer-nya dirilis ke publik. Not so well received, but at least, ada homage yang jelas ke apa yang sudah dicapai Cameron lewat dua instalmen awal franchise-nya.

            ‘Terminator Genisys’ pun memulai kisahnya di tahun 2029 setelah serangkaian recapJudgment Day’, kala John Connor dewasa (now played by Jason Clarke) masih tetap berada dalam peperangan mesin lawan umat manusia setelah kehancuran peradaban di tahun 2017. Untuk mencegah ulah Skynet merubah sejarah dibalik sebuah peringatan misterius tentang eksistensi Genisys, lagi-lagi lewat mengirim T-800 ke L.A. tahun 1984 untuk membunuh Sarah Connor (now played by Emilia Clarke yang memang sedikit banyak punya kemiripan fisik dengan Linda Hamilton muda), John pun merancang pertahanan. Selain dengan menghancurkan mesin waktu milik Skynet, mengirim tangan kanannya, Kyle Reese (now played by Jai Courtney) ke tahun yang sama. Namun target L.A. 1984 bukanlah seperti yang mereka (atau kita; terhadap apa yang ada di instalmen pertama franchise-nya) perkirakan sebelumnya. Kyle bersama Sarah dan T-800 yang sudah dimodifikasi (Arnold Schwarzenegger) pun terus melanjutkan misi mereka mencegah kehancuran peradaban serta menghancurkan Skynet di tengah timeline yang sudah berubah berikut kejaran T-1000 (Lee Byung-hun) dan sebuah ancaman baru yang tak pernah mereka perkirakan sebelumnya.

            There you go. Di tengah retroactive continuation ini, yang pada dasarnya merupakan modifikasi dari storyline orisinil versi 1984-nya, Taylor membangun ‘Terminator Genisys’ dengan sejumlah penyesuaian yang bisa ia lakukan, terutama terhadap cast dan trend aksi dalam cakupan teknisnya. Hasilnya adalah hit and miss. Ada homage yang bagus, memang, dari adegan-adegan wajib di tiap instalmennya, termasuk classic quoteI’ll be back” ke memorable 1984 set plus scoring baru Lorne Balfe yang tak menanggalkan main theme orisinil Brad Fiedel, juga explosive action serta efek yang walaupun tak lagi menawarkan sesuatu yang baru namun harus diakui masih berada di batas eksistensinya sebagai summer blockbuster ride yang seru serta penuh kemeriahan, terutama dalam konteks cinematic experience dengan berbagai gimmick lain dari 3D, IMAX hingga 4DX.

            Namun salahnya, walau James Cameron terlibat cukup banyak dalam pengembangannya, Lussier dan Kalogridis, kalaupun tak mau dibilang kurang punya respek dan rasa cinta terhadap franchise-nya, tak cukup cermat menggagas modifikasi baru yang mau tak mau jadi melontarkan banyak pertanyaan ‘mengapa begini atau begitu’ di tengah konsistensi yang terus terang agak berantakan terhadap instalmen-instalmen sebelumnya, terutama terhadap sosok T-800 yang kini dipanggil ‘Pops’ (pembuat teks kita menerjemahkannya sebagai ‘kakek’, yeah, right) oleh Sarah Connor.

                 Selain tak memberi batasan jelas yang mana harus dipertahankan atau dilupakan dibalik bolak-balik kisah perjalanan waktu itu, mereka seakan mencoba berjalan terus diantara ketidakjelasan penuh keraguan itu. The result is the two sides of coins. Bersama generasi baru pemirsanya, sekilas recap di bagian awal itu mungkin sudah cukup buat menganggap ‘Terminator Genisys’ bisa jadi awal baru yang berdiri sendiri, namun bagi pemirsa dengan ingatan melekat ke dua instalmen awalnya yang punya status klasik, mostly para fans setianya, ‘Terminator Genisys’ hanya bisa meninggalkan kesan yang jelas tak bagus bagi kontinuitas franchise-nya. That they, these people, termasuk Taylor yang ternyata jelas terlihat tak secinta itu terhadap franchise-nya, gets all the characters wrong. Mau meluruskan, hasilnya justru makin berantakan.

            Bukan Emilia Clarke dari ‘Game of Thrones’ tak bermain bagus sebagai Sarah Connor baru, terlebih dengan similaritas fisiknya dengan Linda Hamilton. Namun di tangannya, Sarah Connor berubah menjadi sesosok heroine yang lebih terlihat playful ketimbang bagian dari ekses perang atau resistensi yang tangguh. Arnold Schwarzenegger yang sudah terlihat begitu menua dibalik penjelasan kulit organik yang membungkus sosok cyborg-nya juga tak bisa melawan penuaan usia pun begitu. Okay, though looks a bit too old, bukan ia tak lagi sama sekali menyisakan dayatarik lewat salah satu karakter paling memorable yang pernah ia perankan dalam sejarah karirnya ini, namun feel badass-nya tetap saja jauh berbeda. Apalagi skrip Lussier – Kalogridis justru menempatkannya dalam selipan humor yang selama ini belum pernah ada dalam franchise-nya, entahlah untuk pertimbangan rating PG-13 yang terus terang mengganggu. Rasanya mungkin lebih baik mereka menggunakan Schwarzenegger versi CGI yang tampil di adegan awalnya ketimbang memilih jalan terus dengan fisik asli yang kita lihat di sepanjang film.

            Sebagai John Connor, walaupun ini jadi salah satu peralihan karakter paling fatal dalam ‘Terminator Genisys’ terutama terhadap real fans franchise-nya, walau didistraksi dengan, well, not bad but unnecessary makeup, Jason Clarke masih bisa meng-handle turnover karakternya dengan cukup baik. Masih ada akting J.K. Simmons yang seperti biasa, cukup mencuri perhatian sebagai karakter baru Detektif O’Brien ; serta Lee Byung-hun sebagai T-1000. Meski masih jauh di bawah Robert Patrick di ‘T2’, dengan perawakan tipikalnya, Byung-hun masih bisa tampil cukup meyakinkan. Namun Jai Courtney memang tak cukup kuat memerankan Kyle Reese. Dengan tampilan fisiknya, tak ada yang salah dengan screen presence-nya membawakan adegan-adegan aksi. Hanya saja, seperti apa yang terjadi dalam ‘A Good Day to Die Hard’, apalagi bila dibandingkan dengan Michael Biehn dulunya, nyaris tak ada sparks emosi yang tertinggal dari karakternya. Terakhir, tentu saja satu karakter baru yang diperankan Matt Smith dari ‘Doctor Whoseries, yang tampaknya bakal disiapkan sebagai new villain dalam pengembangannya nanti.

            So okay, walau James Cameron secara resmi memberikan pernyataannya bahwa ‘Terminator Genisys’ layak menjadi official third installment dari franchise ini, respek yang diberikan Lussier, Kalogridis dan Taylor memang hanya sampai sebatas tahapan atmosfer permukaannya saja. Pada kenyataannya, semua fans franchise-nya akan tahu bahwa mereka masih tak cukup cermat juga penuh cinta mengulik kedalaman karakterisasi ciptaan Cameron dan Gale Anne Hurd ini. Tak konsisten pula dengan ‘T2’ bila ini dianggap sebagai kelanjutannya, sementara masih terlalu bergantung dengan previous events-nya juga untuk disebut sebagai the whole new setup maupun berlindung dibalik istilah alternate universe. Tak salah kalau mengatakan ‘Terminator Genisys’ jauh lebih baik ketimbang instalmen ke-3 dan ke-4-nya walaupun yang terakhir ini mungkin hanya ada di masalah atmosfer franchise-nya saja, tapi ini jelas bukan sebuah kontinuitas yang bagus secara keseluruhan. Action excitement sebagai summer blockbuster ride, namun tak lebih dari itu. Good action, bad continuity. (dan)

SPL 2: A TIME FOR CONSEQUENCES (杀破狼2) ; NO HOLDS BARRED ACTION OVER A TWIST OF FATE TALE

•June 26, 2015 • Leave a Comment

SPL 2: A TIME FOR CONSEQUENCES (杀破狼2) 

Sutradara: Cheang Pou-soi

Produksi: Sun Entertainment Culture Ltd, Sil-Metropole Organisation, Bona Film Group, Maximum Gain Kapital Group, Bravos Pictures, 2015

SPL2

            Tak banyak mungkin penonton kita yang tahu ‘SPL: Sha Po Lang’ (Wilson Yip, 2005) yang juga dirilis internasional dengan judul ‘Kill Zone’ dengan Donnie Yen, Sammo Hung, Simon Yam dan Wu Jing di deretan cast-nya. Tapi untuk penggemar Donnie Yen dan film-film laga Hong Kong, meski tak mencetak rekor apapun dalam pencapaian box office yang cukup lumayan, di luar dua versi ending yang banyak dibicarakan, film itu berdiri sebagai salah satu film aksi terbaik yang pernah dimiliki sinema mereka, sekaligus salah satu film terbaik Donnie Yen dalam sejarah karirnya. Judul ‘Sha Po Lang’ / ‘Saat Po Long‘ sendiri, in case you’re wondering what it is, secara filosofis mengarah ke tiga bintang dalam Chinese Astrology yang menentukan kepribadian dan mengontrol nasib seseorang, masing-masing untuk membunuh, menghancurkan dan ketamakan.

            Rencana sekuelnya pun sudah sejak lama digagas sebelum akhirnya mengalami berbagai perubahan, dari skrip pertama yang akhirnya berubah menjadi apa yang kita saksikan dalam ‘Fatal Move’ (2008) yang dibintangi Sammo Hung, Simon Yam dan Wu Jing tanpa keterkaitan plot/karakter, serta sempat pula dikabarkan bakal berlanjut dengan Sammo Hung dan Wu Jing mengulang karakter mereka dari film pertama.

              Namun akhirnya, baru beberapa bulan setelahnya di akhir 2013 muncul kabar bahwa sekuelnya akan berlanjut menggamit Tony Jaa dan Wu Jing dalam plot yang sepenuhnya baru, dengan sutradara Cheang Pou-soi yang mulai mendapat sorotan besar sebagai cult director yang gemar menyajikan kesadisan emosional tak kepalang tanggung dalam ‘Dog Bite Dog’ dan ‘Shamo’, tapi tahun kemarin tersandung kritikan luarbiasa lewat ‘The Monkey King’ yang jauh dibanding film-film itu.

              So, selagi ini memang jadi bagian dari sederet usaha Jaa untuk kembali ke format awalnya dalam ‘Ong Bak’ sekaligus mendobrak dunia internasional setelah kegagalan beberapa filmnya bersama ‘Skin Trade’ dan kemunculannya kemarin di ‘Furious 7’, bagi Cheang sendiri, ‘SPL 2’ juga merupakan sebuah return-to-form chance. Begitupun, walau tak berhubungan dengan film pertamanya, ‘SPL 2’ yang diberi judul ‘A Time For Consequences’ memang masih berada tak jauh dari seputar template-template klise film aksi ‘cop vs crook’, walaupun mungkin jauh lebih menjelaskan makna yang terkandung dalam judul filosofis tadi.

                 Bekerja sebagai sipir penjara Thailand, Chatchhai (Tony Jaa) yang tengah berusaha mencari uang tambahan serta melacak donor untuk transplantasi sumsum tulang putrinya (Unda Kunteera Yhordchanng, Thai child star) yang menderta leukemia, secara tak sengaja bertemu dengan polisi undercover Chan Chi-kit (Wu Jing) yang terpaksa dilempar ke penjara Thailand setelah jatuh menjadi pecandu narkoba dalam usahanya membongkar sindikat penjualan organ Mr. Hung (Louis Koo). Paman sekaligus atasan Kit, Chan Kwok-wah (Simon Yam) yang khawatir dengan keselamatan penyamarannya menyusul ke Thailand tanpa mengetahui penjara itu merupakan back-up sindikat Hung lewat kepala sipir keji Ko Chun (Zhang Jin). Selagi Hung tengah berada dalam usaha penculikan paksa adiknya Man-Piu (Jun Kung) sebagai satu-satunya donor jantung yang cocok buat dirinya juga terbang ke Thailand, Chai akhirnya mengetahui bahwa Kit ternyata adalah donor sumsum tulang yang dicarinya selama ini. Pusaran takdir ini pun berputar diantara para manusia dengan masing-masing tujuan itu.

                 So you see, menyemat filosofi dalam astrologi Cina yang digunakan sebagai judul untuk sebuah crime story over characters’ destinies itu, skrip yang ditulis oleh Cheang bersama Jill Leung dan Huang Ying memang secara terus terang menggunakan dasar permainan takdir untuk membentuk plotnya. Twist of fate yang memang tanpa bisa dihindari akan jatuh ke satu kebetulan ke kebetulan lain, jauh lebih obvious dari film pertamanya sekaligus bisajadi terasa sangat ridiculous, namun bukan berarti tak punya konsep dalam sebuah penceritaan berikut bangunan tiap karakternya. Masalahnya hanya satu, kepentingan utama ‘SPL 2’ tetaplah ada dalam bangunan aksi yang sudah diterjemahkan dengan jelas lewat deretan cast-nya, dari Tony Jaa, Wu Jing hingga Max Zhang Jin (both were wushu former athletes) yang kemarin baru muncul dalam versi baru Huang Fei HungRise of the Legend’.

              You may call it a rare anomaly, tapi skrip itu memang cermat sekali menggagas interweave karakter-karakter tadi dalam putaran permainan takdir yang mereka hadirkan. Bukan tak ada plothole yang menyeruak menjadi pertanyaan, namun bahkan dengan lebih dan lebih lagi side characters sebagai benang merah tambahan untuk saling mempertemukan mereka, almost works like magic, finalnya seolah jadi sebuah life stage yang menggetarkan tanpa lagi ada elemen-elemen yang terasa mengganggu. Luarbiasa well-written sekaligus berbalik menciptakan character-arcs begitu kuat dalam memberikan keberpihakan pada pemirsanya, rooted for every main characters, semua dengan detil motivasi yang jelas secara manusiawi; dan ini satu yang terpenting.

               Di saat film action lain kepayahan menyemat sempalan drama buat berjalan tak menurunkan pace aksinya, every dramatic setups di ‘SPL 2’, bahkan melodramatic scenes yang diselipkan ke tengah-tengah violent and bloody action sequence-nya bisa menjelma jadi amunisi ampuh untuk membuat tiap pukulan di adegan aksinya jadi terasa semakin eksplosif dibalik intensitas emosi dan pacuan adrenalin yang makin memuncak menuju klimaksnya. Tanpa pernah juga melupakan sisi fun-nya dalam sebuah film aksi dengan two iconic male action leads. Ini jelas jarang-jarang terjadi.

             Setelah sederet film terakhirnya tergolong mengecewakan karena effort-effort berlebihan, Tony Jaa really returns to his top form, bahkan membuat penampilannya yang lumayan di ‘Furious 7’ dan ‘Skin Trade’ jadi tak ada apa-apanya. Chemistry father to daughter-nya dengan Unda Kunteera Yhordchanng yang tampil sangat mencuri hati terjalin dengan kuat tanpa juga memerlukan terlalu banyak adegan dramatik. Begitu juga dengan Wu Jing yang belum pernah terlalu berhasil di film-film solonya. Menggantikan Andy On yang kabarnya keluar di saat-saat terakhir, Max Zhang Jin menjadi opponent yang luarbiasa tangguh buat mereka. Louis Koo, walaupun dibalut ridiculous wig, tetap mampu memerankan villain mengerikan dibalik fisik karakternya yang lemah sekaligus memberikan brother vs brother sparks bersama Jun Kung di tengah-tengah klimaksnya. Tapi dalam soal akting, yang terbaik adalah Simon Yam terutama dalam chemistry uncle to nephew-nya dengan Wu Jing. As one of his best badass roles, bahkan melebihi karakterisasi mirip yang ditampilkan Anthony Wong dalam ‘Infernal Affairs‘, tiap ledakan emosinya bisa memberikan penekanan karakterisasi sangat admirable dan membuat penonton gregetan menunggu nasibnya.

              And yes, in action terms, adegan-adegan laga yang digagas oleh action director/choreographerstunt coordinator Nicky Li a.k.a. Li Chung-chi dari film-film Hollywood Jackie Chan ke ‘The White Storm’ dan ‘Ip Man: Final Fight’ apalagi dengan sinematografi Kenny Tse (‘Unbeatable’), tight-pace editing David M. Richardson (‘Exiled’ & ‘Drug War’; dua judul ini sudah jelas menunjukkan kelasnya ada dimana) yang membagi porsi laga Jaa dan Wu Jing secara proporsional tanpa satu melebihi yang lain, and mostly, scoring Ken Chan dan award-winning composer Chan Kwong-wing (‘Infernal Affairs Trilogy’, ‘Bodyguards & Assassins’ & ‘The Last Tycoon’, diantaranya) diiringi komposisi-komposisi klasik, tentu saja serba ekstrim dan overblown. Tapi intensitasnya jangan ditanya. Menanjak lagi dan lagi dengan banyaknya never before seen action sequence dari tiap action set pieces detil termasuk prison riot hingga ke no holds barred final showdown dengan salah satu klimaks terbaik yang ada di sinema mereka, bukankah ini yang kita harapkan ketika menyaksikan sebuah film laga, terlebih dengan deretan cast yang menjanjikan itu?

               So be it. Dengan elemen-elemen juara yang dimilikinya diatas twist of fate dramatic plot dipenuhi filosofi (lihat bagaimana Cheang Pou-soi menyemat hope symbols bersama scene pengiring final showdown-nya) yang berpotensi melemahkan banyak film-film lain terutama di genre aksi – namun disini berbalik menjadi tightly engaging, di tangan Cheang dan timnya, ‘SPL 2’ bisa menemukan racikan yang tepat. Heart punching, nerve wrecking and also bone crunching, siap-siap menahan nafas menyaksikan adegan laga dengan mata berkaca-kaca diamuk sisi dramanya. Ada banyak film aksi yang bagus, namun tak semuanya bisa punya kualitas itu sekaligus. Luarbiasa. (dan)

POLTERGEIST: A FUN SPIN OF THE CLASSIC HORROR FANTASY

•June 25, 2015 • 2 Comments

POLTERGEIST

Sutradara: Gil Kenan

Produksi: MGM, Ghost House Pictures, Vertigo Entertainment, 20th Century Fox, 2015

poltergeist

            Sebut 10 franchise horor terbaik, ‘Poltergeist’ pasti ada sebagai salah satu diantaranya. Walau sekuelnya, ‘Poltergeist II: The Other Side’ (1986) dan ‘Poltergeist III’ (1988) punya kualitas tak sebanding, ‘Poltergeist’ (1982) benar-benar merupakan sebuah pionir dalam pendekatan haunted house horror yang berbeda. Kolaborasi Steven Spielberg dan Tobe Hooper yang sempat diwarnai isu dualisme komando dalam produksinya itu masing-masing sudah menorehkan warna science dan scary dengan kekuatan sama, membuatnya nyaris berupa sebuah ‘one of a kind’ dalam horror cinema. Di saat pendekatan science soal aspek-aspek paranormal research hingga theory of energy yang diaplikasikan pada electrical devices-nya tetap terasa sangat Spielberg, sentuhan Hooper tetap menjaga feel horor-nya tetap bisa terlihat menyeramkan.

            Lagi-lagi berhadapan dengan isu sama terhadap perlu tidaknya karya-karya klasik itu kembali dihidupkan lewat remake, reboot, atau apapun sebutannya, ‘Poltergeist’ yang kini berpindah ke tangan sutradara Gil Kenan (‘City of Ember’) sejak publikasinya memang sudah mengundang beberapa reaksi. Namun keterlibatan Sam Raimi dengan Ghost House Pictures milik partner/sahabatnya, Robert G. Tapert di kursi produser, paling tidak memberikan ekspektasi berbeda, terlebih atas kesuksesan remakeEvil Dead’ kemarin.

            Keluarga Eric dan Amy Bowen (Sam RockwellRosemarie DeWitt) beserta tiga anak mereka – Kendra (Saxon Sharbino), Griffin (Kyle Catlett) dan si kecil Madison (Kennedi Clements) mulai menemukan kejadian-kejadian aneh di rumah baru mereka. Walau awalnya Eric dan Amy tak percaya, namun teror yang dialami Griffin diikuti hilangnya Madison secara misterius mau tak mau membuat mereka akhirnya mengetahui bahwa rumah itu dibangun diatas pekuburan kuno yang tak dipindahkan sepenuhnya oleh pihak developer. Meminta pertolongan pada parapsikolog Dr. Brooke Powell (Jane Adams) dan mantan partnernya, pengusir hantu terkenal Carrigan Burke (Jared Harris), mereka pun mulai mencari keberadaan Madison dan berusaha menyelamatkannya.

            Kecuali nama karakter dan pertukaran gender beberapa karakternya, tak banyak memang yang berubah dari plot-nya sebagai sebuah reboot atau remake. Selagi visi Raimi dalam aspek-aspek dimensional other worlds-nya sangat terlihat dengan jelas lewat visualisasi dan permainan efek, skrip yang ditulis oleh David Lindsay-Abaire, pemenang Pulitzer lewat ‘Rabbit Holeplay (juga versi filmnya) sayangnya terlalu memfokuskan versi 2015 ini ke soal-soal parapsikologis atau paranormal science-nya.

           Betul memang, sisi ini menjadi satu kekuatan besar yang membuat ‘Poltergeiststandout secara berbeda sebagai horor-nya Spielberg, namun menambahnya terlalu cepat dan terus menerus hingga nyaris menenggelamkan satu persyaratan penting yang tak boleh juga dilupakan dalam persepsi klasik film orisinilnya. Keseraman yang tetap  begitu terjaga di tangan Hooper; menerjemahkan scientific approach Spielberg bermain-main dengan electrical devices dengan kengerian luarbiasa dibalik taglineThey’re Here’ saat aktris cilik Heather O’Rourke – yang meninggal saat ‘Poltergeist III‘ dalam produksi – berkomunikasi dengan roh di depan TV, kini tak lagi meninggalkan kesan apa-apa.

          Dan bukan hanya menanggalkan atribut seram-seramannya, sempalan humor yang sepertinya sangat dinikmati Kenan juga makin keterusan dari latar yang dibahas skrip Lindsay-Abaire lewat karakter Carrigan Burke yang diperankan Jared Harris dan hubungan lamanya dengan Dr. Brooke Powell yang diperankan Jane Adams. Bukan chemistry mereka tak bagus, tapi mau tak mau sisi yang mendominasi hingga ke after credit scene-nya ini jadi memindahkan atmosfer scary versi 1982-nya menjadi scary fun dan cenderung lucu ketimbang mengerikan.

            Tak ada juga yang salah dengan cast lain termasuk Rosemarie DeWitt yang cukup bagus, sementara Kennedi Clements yang seharusnya menggantikan Heather O’Rourke menjadi icon, bukan tak bagus tapi sedikit tertutupi oleh Kyle Catlett (tahun lalu muncul dalam ‘The Young and Prodigious T.S. Spivet’-nya Jean-Pierre Jeunet), yang tampil jauh lebih intens memerankan abangnya. Namun Sam Rockwell dengan ekspresi tipikalnya adalah miscast berantakan yang makin meruntuhkan elemen horor dalam versi 2015 ini. Bersama Jared Harris, Rockwell lebih terlihat sebagai karakter playful yang kelihatan lebih sangat menikmati tiap-tiap scientific process itu ketimbang seorang ayah yang stress luarbiasa karena kehilangan putri kecilnya. Scoring dari Marc Streitenfeld juga jauh dibanding Jerry Goldsmith dulu, dan malah ikut bermain-main seolah tak mementingkan atmosfer horornya. Sementara sinematografi Javier Aguirresarobe (‘Twilight: New Moon‘ & ‘Eclipse‘ serta remakeFright Night‘) terlihat sangat masuk dengan film-film horor fantasi ala Raimi. Bagus, tapi tak spesial.

             So begitulah. Cara mereka memindahkan versi 1982 dengan relevansi science ke tahun 2015 tentu bukannya digagas sama sekali tanpa alasan. Powered up those aspects dengan VFX – gimmick 3D dan memilih tak meninggalkan beberapa memorable scenes berikut electrical devices play-nya dengan cukup kreatif, ‘Poltergeist’ tetap punya nods yang cukup baik ke film orisinilnya. Salahnya hanya satu, that’s if you wish this reboot / remake to be something as scary, this newPoltergeistis a bit lazy. Sebuah enjoyable summer ride yang lebih mementingkan fun factor ketimbang atmosfer horornya. A fun spin of the classic horror fantasy, dan tak lebih dari itu. Sayang sekali. (dan)

MINIONS : A JUMBO-SIZED ANNOYING BUT FUN MADNESS

•June 18, 2015 • Leave a Comment

MINIONS

Sutradara: Pierre Coffin & Kyle Balda

Produksi: Illumination Entertainment, Universal Pictures, 2015

minions

            Okay. Bagi sebagian orang, yellow little creatures bernama ‘Minions’ yang pertama kali dikenalkan lewat ‘Despicable Me’ (2010) sebagai kreasi Pierre Coffin dan Chris Renaud dari Illumination Entertainment ini boleh jadi annoying setengah mati dan dianggap sangat kekanak-kanakan. Tapi lihat kenyataannya. Tak ada yang menyangka kalau setelah sekuelnya di tahun 2013, ‘Despicable Me 2’, franchise-nya begitu melejit jadi salah satu karakter animasi paling dikenal orang terutama anak-anak di seluruh dunia. Seperti nama aplikasi game-nya, ‘Minion Rush’, demam ‘Minions’ ini memang sempat membuat rush lewat gimmick fastfood figures-nya dengan angka penjualan tak main-main sebagai collector’s items termasuk lewat lelang.

            Now the continuation is avoidable, sejak ‘Despicable Me 2’, termasuk lewat after credit scene-nya, kita sudah tahu bahwa petualangan mereka akan berlanjut ke sebuah prekuel/spinoff berjudul ‘Minions’ yang dirilis tahun ini. Oh ya, sambutannya yang lebih besar di Asia dan sejumlah negara membuat tanggal rilisnya lebih cepat sebulan daripada di AS, dan disini (termasuk Malaysia dan Singapura), malah menggeser ‘Inside Out’-nya Pixar demi perhitungan kesuksesan yang berbeda. Entah iya atau tidak, mungkin ada juga faktor penghormatan garis darah Coffin yang punya ibu seorang penulis terkenal Indonesia, NH Dini. Jadi dimana sebenarnya letak keberhasilan itu? Despite the looks and the owned-universe yang sampai menciptakan bahasa sendiri buat dialog-dialognya, no matter how childish, konsep yang mereka ciptakan untuk karakternya memang punya batasan yang sangat jelas, dan belum pernah ada sebelumnya. Tiny yellow creatures yang tak pernah berhenti mencari seorang villain hebat sebagai majikan mereka. Oh yes, ini memang menarik.

            ‘Minions’ pun berpindah jauh sebelum apa yang kita saksikan dalam ‘Despicable Me’, before Gru and the orphan girls. Menyemat asal-usul Minions yang sudah ada sejak awal zaman lewat narasi yang disuarakan aktor Geoffrey Rush, berkembang dari organisme satu sel demi tujuan mengabdi pada seorang majikan jahat, mereka hidup dari zaman ke zaman, berinteraksi dengan dinosaurus-dinosaurus dan manusia gua prasejarah, menjadikan Pharaoh, Dracula hingga Napoleon sebagai majikan yang secara tak sengaja selalu berujung kekacauan sampai akhirnya terdampar di benua Antartika. Menjelang akhir era ’60-an, kegagalan mendapatkan majikan baru yang membuat mereka mengalami depresi akhirnya didobrak oleh minion bernama Kevin yang memutuskan keluar untuk mencari despicable master bersama dua volunteer badung Stuart dan Bob yang masih bocah. Bertualang di New York, mereka menemukan sasaran baru bernama Scarlet Overkill (disuarakan Sandra Bullock), seorang female supervillain yang kemudian memperalat Kevin-Stuart dan Bob mencuri mahkota Ratu Elizabeth II (Jennifer Saunders) di London. Bersama misi itu, kelangsungan eksistensi Minions pun ikut dipertaruhkan.

            Penned by Brian Lynch (‘Hop’, ‘Puss in Bootsand short animatedMinions Mayhem‘) sebagai scriptwriter baru yang menggantikan duo penulis ‘Despicable Me’, Cinco Paul & Ken Daurio, ide gila tentang asal-usul ‘Minions’ ini dipindahkan dari rentetan sejarah ‘world’s greatest villains’ ke setting tahun 1968 dalam nafas retro crime fantasy dari spy action ke campy sci-fi era itu. Ini mau tak mau harus diakui sangat fresh dan memang dipenuhi banyak referensi. Bukan hanya soal genre film yang memasukkan tema-tema spy action ke campy superhero seperti ‘Fantastic Argomana.k.aHow to Steal the Crown of England’ (1967) dibalik tema yang sama, gadget tech dan demam robot, tapi juga rock history incl. The Beatles’ ‘Abbey Roadclassic scene ke legenda ‘Sword in the Stone’ yang melatarbelakangi setting London-nya, tetap dengan tokoh-tokoh legendaris yang hidup di zamannya.

           Sementara, di lini paling dasar, kelucuan-kelucuannya jelas tak lari dari resep baku Minions dalam franchise-nya. Menggamit pasangan baru Kyle Balda buat menggantikan Chris Renaud (tetap mengisi sebagian suara Minions), Coffin memang terlihat tahu sekali resep kesuksesan franchise-nya ada dimana. Kacau balau, tolol dan tanpa arah, tapi juga sekaligus fun luarbiasa. Bahasa-bahasa Minions yang digagas menyentil banyak world languages hingga banyak dibuatkan kamus sendiri termasuk Indonesia dimana pemirsanya dihebohkan dengan dialog ‘Terima Kasih’ yang terdengar jelas itu digabungkan dengan vintage music reference dari KC & The Sunshine Band, Rick SpringfieldDonovan, Aerosmith, The Kinks, The Who hingga The Doors dan Jimi Hendrix di deretan OST-nya, hingga referensi Van Halen di salah satu highlight scene Stuart dan gitarnya. Scoring dari Heitor Pereira yang sudah ada sejak instalmen pertamanya juga memberikan sentuhan yang bagus. Gimmick 3D-nya secara keseluruhan cukup baik, namun sayangnya tak benar-benar bisa memberikan excitement lebih di adegan-adegan serunya.

             Satu lagi, tentu saja deretan voice cast-nya. Sandra Bullock dan Jon Hamm mungkin belum begitu maksimal menyuarakan pasangan Scarlet dan Herb the inventor, not sounds so evil, tapi ada Michael Keaton dan Alison Janney sebagai Nelson family yang meski terbatas di supporting characters tapi hadir dalam salah satu adegan paling menarik, Jennifer SaundersSteve Coogan dan Hiroyuki Sanada serta tentu Geoffrey Rush sebagai narator – dan Coffin sendiri, menyuarakan sekaligus Kevin, Stuart dan Bob.

            So go call it what you want. Tapi yang jelas, dibalik kecerobohan serta ketololan Minions yang selalu jadi jualan utama dalam sisi fun comedy-nya, Coffin dan timnya bukan berarti tak merancang karakter-karakter Minions ini dengan kecermatan lebih dari karakterisasi hingga potensi besar jualan merchandise-nya dalam detil-detil berbeda yang sangat bisa dikenali, apalagi dalam penggunaan referensi-referensinya. Bahkan benang merah franchise-nya dengan karakter yang sudah kita kenal selama ini pun disiapkan dengan sangat menarik di pengujung film serta post credit scenes-nya. Oh yes, pemirsa dewasa mungkin terkadang masih ribut mempersoalkan storytelling lebih dalam lewat sebuah family-oriented animated movie, but do know this. Always look to your little loved ones, untuk menilai seberapa besar sebenarnya fun factor yang dimiliki sebuah tontonan animasi segala umur. Dengan segala mishmash khasnya, ‘Minionsis a jumbo-sized annoying but fun madness! (dan)

ENTOURAGE : CELEBRATING THE HOLLYWOOD DREAMS

•June 17, 2015 • Leave a Comment

ENTOURAGE

Sutradara: Doug Ellin

Produksi: HBO, Closest to the Hole Productions, Leverage Entertainment, Ratpac-Dune Entertainment, Warner Bros, 2015

entourage

            Kecuali oleh fans setia serialnya, yang lain mungkin wajar bertanya-tanya, “Of all the famous TV series, why Entourage?”. Okay. Di luar kenyataan bahwa serial televisi HBO yang digagas Mark Wahlberg sebagai loosely-threaded biopic dari sejarah karirnya bisa bertahan selama 8 season dari 2004 – 2011 dengan sejumlah rekor nominee and wins dari Emmy, BAFTA hingga Golden Globe, besarnya fanbase serta alasan-alasan yang membuatnya pantas mendapat treatment layar lebar, jawaban paling jelas tentu karena Wahlberg dan Stephen Levinson (produser) serta Doug Ellin sebagai kreatornya lebih berani dari yang lain. Mereka bahkan berani menempatkan ‘Entourage’ ke tengah-tengah pertarungan summer movies 2015 sebagai satu yang dijadwalkan jadi ajang adu big-screen franchise paling seru dalam beberapa tahun terakhir.

            Namun diatas semuanya, mungkin ada dasar yang mendorong keberanian itu. Bahwa walau berfokus pada male friendship story sekelompok sahabat yang sama-sama berjuang meraih kesuksesan dalam karir mereka, ‘Entourage’ adalah sebuah show tentang Hollywood dan semua mimpi yang ada di dalamnya, berikut seabrek cameo seperti series-nya. Sebuah film tentang film, yang tentu tak juga memerlukan referensi terlalu banyak bagi kalangan luar pemirsa series-nya. Itu juga alasannya, mungkin, Ellin dan Rob Weiss yang menulis skrip setelah gagasan ini cukup lama timbul tenggelam dalam pengembangannya, memilih keberadaannya sebagai continuation of the series. Resikonya tetap ada. Selain tetap harus bergantung pada antusiasme fans serial sebagai lini utamanya, durasi terbatas untuk layar lebar mau tak mau membuatnya tak mungkin tampil sedalam 8 season long-running serialnya. Hasil B.O.-nya memang tak terlalu baik dengan review kritikus yang kebanyakan bernada negatif. But in terms of entertainment, nanti dulu.

            Menyambung bagian terakhir serialnya, ‘Entourage’ masih berfokus ke ‘boys from the hood’ Vincent Chase (Adrian Grenier), saudara tirinya Johnny Drama (Kevin Dillon), serta dua sahabatnya Eric ‘E’ Murphy (Kevin Connoly) dan Turtle (Jerry Ferrara). Vincent yang baru berpisah dengan istrinya menginginkan langkah baru dalam karirnya. Ari Gold (Jeremy Piven), mantan agennya yang sudah menjadi studio head memintanya main di produksi pertamanya, namun Vincent memaksa Ari untuk menyutradarainya sekaligus, dengan Johnny sebagai salah satu aktornya. 8 bulan kemudian, ‘Hyde’, film itu ternyata mengalami kendala bujet untuk penyelesaiannya. Meski awalnya Vincent menolak memperlihatkan hasilnya ke Ari, ia tetap ke Texas untuk meminta tambahan bujet pada koboi milyuner Larsen McCredle (Billy Bob Thornton) yang kemudian mengutus putranya, Travis (Haley Joel Osment) untuk melihat rough cut-nya di sebuah acara private screening. Bukannya berjalan mulus, kekacauan mulai terjadi kala Ari dan Travis punya resepsi berseberangan terhadap hasilnya dan makin memanas atas permintaan Travis mengganti Vincent dan Johnny.

            So you see, big screen continuation ini masih tetap bermain di konflik-konflik yang mirip dalam hal intrik-intrik industrinya, namun memang membiarkan plot dasar itu tak pernah jadi benar-benar terlalu dalam karena mereka tetap menyisakan ruang untuk subplot-subplot tiap karakternya sebagaimana ‘Entourage’ bergerak dengan pola penceritaan serial dengan ensemble characters sebagai sentralnya. Tak ada yang salah memang, namun ini membuat penggambaran versi layar lebar ini kerap jadi lebih mirip sekumpulan sketsa yang melompat-lompat ketimbang satu plot utuh. Begitu juga soal solusinya yang tak peduli jadi se-predictable apapun, Ellin agaknya memang lebih memfokuskan ‘Entourage’ sebagai konklusi tambahan penuh selebrasi kehidupan serta industri Hollywood. Mocking and at the same time, embracing them.

            But however, ia bisa mengatasi resiko utama ‘Entourage’ bagi pemirsa non fans TV series-nya dengan menyemat latar karakterisasi tiap tokohnya secara efektif. Tanpa memerlukan durasi berpanjang-panjang, chemistry yang sudah terjalin sepanjang lebih dari 7 tahun itu juga berjalan dengan lancar menjelaskan karakterisasi tokoh-tokoh sentralnya. Keakraban masing-masing pemirsa beda latar itu bisajadi memang relatif, tapi bukan berarti pemirsa non fans serialnya kesulitan untuk mengikuti keseluruhan storytelling-nya, bersama sempalan-sempalan komedi yang diwarnai oleh interaksi Eric dengan mantan tunangannya Sloan (Emmanuelle Chriqui), Turtle dengan Ronda Rousey sebagai celebrity crush-nya dan Vince dengan Emily Ratajkowski yang jadi titik penting konflik utamanya. Billy Bob Thornton dan Haley Joel Osment, di sisi lain juga jadi dayatarik lain atas peran mereka.

            Sentuhan-sentuhan love and hate terhadap Hollywood scenes and lifestyle itu pun semakin meriah dengan penampilan seabrek supporting dan cameo yang berseliweran di sepanjang film menuju ending event Golden Globe Awards yang cukup meriah. Dari rapper seperti Scott Mescudi, Common, T.I., lantas Gary Busey, Andrew Dice Clay, Jon Favreau, Kelsey Grammer, Armie Hammer, Chad Lowe, Bob Saget, David Spade, Mike Tyson, Pharrell Williams, George Takei hingga Jessica Alba, Liam Neeson plus Wahlberg sendiri, dan masih banyak lagi. Walau sebagian cukup ofensif dan mostly sangat male entitled, bukan berarti joke-joke-nya lebih banyak yang gagal mengundang tawa. Dan jangan lupakan juga sinematografi Steven Fierberg, shot in 35mm, yang sangat memberi penekanan dalam cinematic ride-nya.

            So don’t worry even if you’re not the fan of the series. Walau mungkin masih ada resistensi berbeda terhadap interaksi karakter yang jelas akan lebih dipenuhi excitement bagi penyuka serialnya, ‘Entourage’ versi layar lebar ini tetap akan bisa bekerja dengan baik bagi sekedar penyuka film apalagi yang punya antusiasme lebih mengikuti lifestyle dan pelaku-pelaku industrinya. A celebration of Hollywood Dreams. ‘The’ Hollywood Dreams. (dan)

PIZZA MAN : A FRESH IDEA IN INDONESIAN RARE CHAOS COMEDY

•June 16, 2015 • 1 Comment

PIZZA MAN 

Sutradara: Ceppy Gober

Produksi: Renee Pictures, 2015

pizza man

            Niat Gandhi Fernando dengan Renee Pictures-nya untuk terus berproduksi di industri film kita agaknya patut lebih dihargai. Dengan PH masih berusia sangat muda, muncul lewat ‘The Right One’ (2014) yang belum terlalu baik, lantas ‘Tuyul: Part 1’ yang baru tayang beberapa bulan lalu, meski masih punya kekurangan dalam penggarapan keseluruhan, Gandhi sudah menunjukkan peningkatan secara konsisten terutama di segi ide. Dan satu lagi, selagi kebanyakan PH lain muncul lewat genre yang itu-itu saja dari satu produksi ke produksi lainnya,  tiga produksi Renee secara berturut memang ada di various genres.

            Dari promonya sendiri, kita sudah tahu bahwa ‘Pizza Man’ adalah sebuah komedi. Tapi ini memang sedikit berbeda. Di luar pendekatan chaos comedy, comedy of errors atau apapun sebutan yang Anda sukai, skrip yang ditulis oleh Gandhi dan R. Danny Jaka Sembada (‘Modal Dengkul’) memang punya garis batas jelas sebagai adult comedy dengan joke-joke ofensif yang mungkin masih jarang tersentuh oleh film-film komedi lain, apalagi dengan fokus yang lebih feminis, ke tiga wanita sebagai lead-nya. Tapi tentu tak mengapa, secara di tengah anjloknya antusiasme penonton film nasional, kita memang terus perlu ide-ide berbeda untuk bisa mendobraknya kembali.

            Tiga sahabat yang tinggal bersama, Olivia (Joanna Alexandra), Nina (Karina Nadila) dan Merry (Yuki Kato) masing-masing punya masalah dengan lelaki yang membuat mereka berada di puncak kesabarannya. Untuk melampiaskan dendam, pada suatu malam mereka membuat rencana gila untuk memperkosa seorang lelaki secara random, namun secara tak terduga, ulah Nina dan Merry justru mengakibatkan kekacauan beruntun atas seorang pengantar pizza bernama Adam (Gandhi Fernando).

            Now look at that plot. Sebuah premis yang memang sudah jelas mengarah ke sebuah chaos comedy yang tak biasa dan masih jarang dalam film-film kita. Mostly sangat, sangat nakal. Tapi jangan buru-buru menuduhnya berupa sebuah dukungan terhadap rape jokes seperti yang diributkan sebagian orang, karena latar karakternya sebenarnya sudah menjelaskan motivasi yang justru berisi protes sosial terhadap dominasi kaum pria dalam pertentangan-pertentangan gender. In terms of comedy, ini tentu sah-sah saja. Seperti yang dulu pernah dilakukan dengan ‘Senjata Rahasia Nona’-nya Garuda Film yang disutradarai Henky Solaiman, namun bukan berarti punya plot sama.

            Dan plot itu memang digagas Gandhi dan Danny, entah sengaja atau tidak, dengan referensi yang sangat terasa bercampur baur antara konsep-konsep komedi trio ala Warkop dengan inversi gender dan offensive jokes serta plot ala ‘The Hangover’ dalam chaotic setup-nya. Meski bukan sama sekali berarti ikut-ikutan, separuh akhir ‘Pizza Man’ memainkan settingnya diatas hospital scenes, mirip seperti ‘Atas Boleh Bawah Boleh’-nya Warkop, namun tentu saja dengan step-step komedi yang berbeda. Apapun itu, dalam batasan referensi, ini cukup fresh, dan mereka terlihat punya usaha lebih untuk menyusun interaksi kekacauannya dengan cukup rapi. Apalagi tampilan komedinya memang secara berani memasukkan joke-joke ofensif dari bahasa hingga elemen-elemen seks dan narkoba yang nakal tapi masih ada dalam batas-batas yang relevan.

           Memerankan tiga female lead-nya, Joanna, Karina terutama Yuki Kato juga menampilkan comedic chemistry yang cukup baik. Bagian-bagian awal yang serba nakal itu mungkin masih terasa agak canggung, namun menuju paruh masa putarnya, chemistry ini terus meningkat semakin lepas. Sementara sebagai supporting cast-nya, Babe Cabiita, Chika Waode, Kemal Palevi, Dennis Adhiswara, Dhea Ananda hingga Henky Solaiman bisa mengisi tiap-tiap comedic timing-nya dengan cukup pas.

          Okay, mungkin masih ada sedikit dramatic turnover yang terlepas agak berlebih hingga menurunkan pace komedinya, namun tetap punya arah untuk penjelasan karakter dalam konklusinya, begitu juga joke-joke lain yang masih bertabur hit and miss di sejumlah comedic scenes-nya. Tetap, paling tidak, Ceppy Gober sebagai sutradara yang sebelumnya menyutradarai ‘Modal Dengkul’, terlihat cukup paham untuk tak menitikberatkan bangunan chaos comedy-nya pada interaksi karakter dan comedic setup-nya, bukan semata-mata pada slapstick plays atau elemen-elemen malas lain seperti cartoonish sound effects. This is a fresh idea in Indonesian rare chaos comedy. Tak sempurna, namun masih punya sisi hiburan yang terjaga. Boleh. (dan)

AYAT-AYAT ADINDA: A SIMPLE MESSAGE WITH DEEPER EFFORTS

•June 15, 2015 • 1 Comment

AYAT-AYAT ADINDA

Sutradara : Hestu Saputra

Produksi : MVP, Mizan Productions, Dapur Film, Argi Film, Studio Denny JA, 2015

ayat-ayat adinda

            Pemerhati film Indonesia sudah mendengar ini sebelumnya, bahwa ada rencana Haidar Bagir sebagai penggagas ‘Gerakan Islam Cinta’ untuk mengkampanyekan misi mereka tentang ajakan untuk menghargai keberagaman dalam Islam melalui media film, dan tidak hanya satu. Bekerjasama dengan Hanung BramantyoDapur Film, Mizan Productions, Denny JA, Argi Film dan MVP, ‘Ayat-Ayat Adinda’ adalah film pembukanya. Kendalanya tentu ada. Selain masalah keragaman yang masih sulit sekali buat disatukan, perbedaan persepsi dan latar belakang budaya terhadap aliran-aliran berbeda ini memang kerap membuat pertentangannya menjadi hal sensitif buat dibahas.

            Disitulah Salman Aristo sebagai penulis skrip sekaligus salah satu produsernya mungkin punya konsep berbeda untuk menyampaikan misi ini. Apa yang menjadi dasar tema keluarga dalam nafas reliji di ‘Ayat-Ayat Adinda’ memang simpel, namun latar yang disematkan Salman ke dalam konflik tambahannya terlihat sekali mencoba menghindari kontroversi, apalagi karena ada nama Hanung disini. Masalahnya sekarang, sebaik apakah Hestu Saputra bisa mengemas pola itu untuk bisa berjalan bersama diatas sebuah penceritaan yang kuat? Dan oh ya, ‘Ayat-Ayat Adinda’ tetap punya resiko ke segmentasi terhadap pangsa pemirsanya. Bukan lantas ia tak bisa jadi sebuah pesan universal, namun detil-detil elemen yang mereka gunakan dalam bangunannya, mau tak mau juga tak semudah itu dicerna penonton lain, bahkan mungkin dari kalangan relijinya sendiri yang bisajadi belum sepenuhnya memahami soal lantunan ayat-ayat suci. Ini kenyataan.

            Walau Adinda (Tissa Biani Azzahra) memiliki suara luarbiasa merdu, ayahnya, Faisal (Surya Saputra) yang bekerja sehari-hari sebagai seorang tukang daging, melarang keras Adinda menjadi tim qasidah di sekolahnya. Lebih dari sekedar permintaan buat Adinda untuk hanya fokus ke pelajaran sekolah, ternyata ada sorotan masyarakat yang dihindari Faisal atas kepercayaan keluarga mereka yang sudah membuat mereka, termasuk istrinya, Amira (Cynthia Lamusu) dan putra sulungnya (Moh. Hasan Ainul) terpaksa hidup berpindah-pindah selama ini. Sementara, bagi Adinda yang belum sepenuhnya mengerti pandangan-pandangan itu, hanya ada satu cara untuk memenangkan kebanggaan keluarganya. Didorong oleh dua sahabatnya, Adinda memberanikan diri untuk diam-diam mengikuti perlombaan MTQ yang justru menimbulkan polemik lebih lanjut diantara masyarakat sekitarnya.

            Dalam bangunan nafas relijinya, mungkin tak ada yang lebih baik dari premis seorang anak kecil yang ingin mendapatkan kebanggaan orangtua lewat lafal ayat-ayat suci Al-Quran. Begitu simpel dan digagas dari sudut pandang anak-anak yang penuh dengan kepolosan, ini sudah menjadi nilai lebih; bahwa film reliji di sinema kita tak harus terus-terusan mengetengahkan konflik-konflik cinta secara klise. Salman sudah mengemas bagian ini dengan sangat baik, dimana tiga tokoh belianya termasuk Badra Andhipani Jagat yang berperan sebagai Fajrul, apalagi Tissa Biani. Menampilkan akting yang sangat natural dengan pendalaman luarbiasa melantunkan ayat-ayat suci itu dalam elemen tema perlombaan MTQ, yang mungkin belum pernah menjadi sorotan di satu pun film reliji kita, Tissa melakonkan karakter Adinda dengan kekuatan tak main-main sebagai sentralnya.

            Namun masalah mendasar ‘Ayat-Ayat Adinda’ ada pada latar konfliknya sendiri. Walau kita bisa sangat mengerti alasannya untuk menghindari kontroversi dan tuduhan-tuduhan keberpihakan, Salman terpaksa menahan konflik sensitif ini berada di garis simbolik tanpa pernah terus-terang dalam penceritaannya. Alasan itu memang tak salah, namun hanya menyemat satu kata ‘sesat’ yang beberapa kali muncul dalam dialog sementara penggambaran adegannya juga berpotensi mendistraksi maknanya, ia tak bisa sepenuhnya membentuk blend yang bagus dengan kisah polos dari sudut pandang anak-anak tadi.

         Belum lagi soal detil-detil elemen cara-cara melagukan lafal ayat suci yang dianggap lazim, yang memang segmental dan pada akhirnya harus terbentur dengan adegan-adegan perlombaan MTQ – yang malah diiringi scoring atau lagu, bahkan ke solusinya yang terkesan terlalu dangkal lewat peran Kyai Taufik – tetap diperankan dengan bagus dan penuh wibawa oleh aktor senior Deddy Sutomo. Masih ada selipan-selipan konflik lain yang tak tertata dengan baik termasuk soal obat-obatan yang lagi-lagi agak salah kaprah dari sisi medis, tanpa sekalipun bisa lari dari template klise ending tema-tema kompetisi dengan larangan orangtua yang bisa mencair dibalik keteguhan sikap karakter utamanya.

            Begitupun, ‘Ayat-Ayat Adinda’ bukan lantas menjadi film yang gagal. Sisi teknisnya yang tampil dengan sangat cemerlang sedikit banyak bisa menutupi kelemahan penceritaan tadi. Mengetengahkan eksotisme kehidupan karakternya di setting Yogyakarta yang terekam dengan baik dari sinematografi M. Fauzi Bausad, keunggulan utama ‘Ayat-Ayat Adinda’ adalah kekuatan cast, yang justru datang dari aktor-aktor tak terlalu dikenal di luar Surya Saputra, Cynthia Lamusu hingga Sitoresmi Prabuningrat yang juga bermain cukup baik, seperti Marwoto, Yati Pesek, Candra Malik dan Susilo Nugroho yang lebih dikenal di TVRI Yogyakarta dengan nama Den Baguse Ngarso dan kemarin baru muncul dalam film pendek ‘Lemantun’. Wonderfully well acted, penyutradaraan Hestu juga menunjukkan peningkatan cukup besar dengan caranya meng-handle pemeran-pemeran latar yang memang mendominasi storytelling lewat adegan-adegan perlombaan.

            Pada akhirnya, walaupun dengan dua elemen penceritaan utama yang tak bisa menyatu dengan sempurna, ‘Ayat-Ayat Adinda’ tetap bisa menyampaikan misinya dengan cukup baik. Meski tak terus terang dan belum tentu juga disepakati semua pemirsanya, pesan-pesan tentang penerimaan terhadap keragaman aliran tetap bisa terbaca dibalik satu hal yang sebenarnya jauh lebih universal; perjuangan seorang anak untuk meraih kebanggaan orangtuanya. Setuju atau tidak, let’s just stick to that. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,824 other followers