ROMEO + RINJANI : A FRESH IDEA WITH RUGGED MIX OF GENRES

•April 28, 2015 • Leave a Comment

ROMEO + RINJANI 

Sutradara : Fajar Bustomi

Produksi : Starvision, 2015

romeo rinjani

            Genre, lagi-lagi, adalah sebuah keterbatasan dalam sinema kita. Ketimbang menggali wilayah-wilayah baru, PH dan sineas kita kerap lebih senang bermain di ranah yang sama demi kepentingan jualan. Walau bujet dan resepsi rata-rata jumlah penonton memang sering ada dibalik alasannya, satu-dua ada tetap ada yang mencoba sedikit lebih kreatif. ‘Romeo + Rinjani’ bisa dibilang ada di wilayah itu. Walau dasarnya tetap berupa sebuah drama, tampilan promo dari poster hingga trailer-nya sudah menyiratkan sesuatu yang berbeda. Selagi posternya tak memberi cukup informasi genre tersebut, kita bisa melihat banyak elemen yang digabungkan dalam trailer-nya. Dari lovestory, adventure hingga sepenggal tone yang mengarah ke thriller dengan twist.

            Storytelling awalnya dengan lancar memperkenalkan kita pada sosok Romeo (Deva Mahenra), fotografer playboy yang ternyata menyimpan sebuah trauma masa kecil dengan sebuah kelemahan. Lewat kelemahan ini, salah seorang kekasihnya, Raline (Kimberly Ryder), akhirnya mulai bisa meluluhkan hati Romeo yang sebenarnya belum terlalu yakin untuk menikahinya. Berangkat menuju Rinjani untuk menyelesaikan kontrak tugas fotografinya, Romeo bertemu dengan Sharon (Alexa Key), cewek seksi yang membawa Romeo pada sebuah petualangan baru namun berakhir tak diduga. Raline yang muncul sebagai dewa penyelamat membuat Romeo akhirnya yakin untuk mengakhiri petualangannya, namun cerita tak lantas berakhir sampai disini.

            Keberadaan twist dalam sebuah bangunan plot jelas merupakan hal menarik, even a layered one. Namun masalah dalam skrip ‘Romeo + Rinjani’ yang ditulis oleh Angling Sagaran ini adalah usaha terlalu berlebih yang akhirnya membuat storytelling Fajar Bustomi jadi sulit untuk benar-benar rapi, apalagi untuk meracik genre crossover-nya dengan lancar. Dalam jarak sangat dekat, Angling menyemat kelewat banyak turnover ‘ternyata dan ternyata’ yang sebagiannya disusun lewat flashback sequence agak tumpang tindih pula, memuat penjelasan demi penjelasan jalinan plotnya hingga jadi sedikit menggelikan buat diikuti.

            Belum lagi sejumlah ‘suspension of disbelief’ yang bisajadi agak mengganggu pemirsa yang lebih memahami detil-detil dalam elemen pendakian gunung itu. Meski tak lantas jadi terlalu mengganggu keseluruhan universe penceritaan yang walau ada di kehidupan nyata tapi dari awal tetap digagas Fajar secara komikal, ‘Romeo + Rinjani’ kerap terlihat ragu-ragu untuk menyajikan subgenre lebih ekstrim yang seharusnya bisa menutupi bolong-bolong plot demi menyemat layered twist tersebut. Salah satunya adalah belokan ke subgenre thriller, a glimpse yang sebenarnya sudah dimulai dengan potensial tapi kemudian ditahan hanya sebatas pengiring singkat tanpa pernah sekalipun muncul seimbang dan malah didistraksi dengan unnecessary comedy.

            Padahal, secara mendasar idenya cukup fresh buat film kita. Berdiri diatas konklusi yang menghadirkan ‘common fears of marriage’s bad aftermath’ dimana masing-masing pasangan berubah dari malaikat menjadi monster berikut ekses-ekses ke krisis kepercayaan dan hubungan anggota keluarga, kehadiran twist demi twist itu sebenarnya bisa digagas jauh lebih kuat dari apa yang kita saksikan sebagai hasilnya. ‘Romeo + Rinjani’ sayangnya lebih memilih selling factors-nya yang kemudian terlalu cepat pula disambung dengan benang merah komedi ngalor-ngidul serta drama keluarga dan love conlusion yang terus terang, tak punya fondasi yang kuat, sekaligus meluluhlantakkan bangunan karakter Romeo yang sudah dimulai cukup baik sejak awal.

            However, ada estetika sinematis lewat tata teknis cukup lumayan serta pameran ‘pretty faces’ yang akhirnya tetap membuat ‘Romeo + Rinjani’ menjadi ‘feast for the eye‘ yang bisa bekerja dalam durasinya yang singkat. Akting dan chemistry tiga karakter utamanya, termasuk Deva Mahenra yang terlihat masih sangat melekat dengan karakternya di sebuah sitcom salah satu stasiun televisi kita, meski tak spesial, tetap masing-masing bisa memberi dayatarik lewat tampilan fisik mereka. Apalagi Alexa Key yang memang dieksploitasi sebagaimana mestinya serta sederet supporting characters yang diisi standup comedians seperti Sammy Notaslimboy, Fico Fachriza, Uus, dua personil Cherrybelle plus Donna Harun dan Gary Iskak. Tak spesial, namun tetap menarik.

        Sinematografi Paps Bill Siregar pun begitu. Ia tak pernah jadi terlalu remarkable dalam mengeksplorasi panorama lokasi aslinya di Rinjani, namun bukan sama sekali membuat sempalan judul itu jadi tak berarti. Dan scoring Tya Subiakto, walau jauh dari kesan megah yang biasa ia tampilkan, masih lebih baik daripada kiprahnya di film pesaing minggu ini. Jadi begitulah. Diatas ide cukup fresh dan penggabungan genre tadi, walau tak sepenuhnya halus, paling tidak, ‘Romeo + Rinjani’ mencoba untuk tampil beda. (dan)

AVENGERS: AGE OF ULTRON : THE CONCEPT OF UPRISING WONDERS

•April 26, 2015 • 1 Comment

AVENGERS: AGE OF ULTRON 

Sutradara : Joss Whedon

Produksi : Marvel Studios, 2015

avengers age of ultron

         Marvel Cinematic Universe (MCU), again, adalah sebuah kekuatan konsep. Dalam pencapaian keajaiban sinematisnya di tangan visi hebat Kevin Feige, produser sekaligus orang teratas Marvel Studios, adaptasi karakter-karakter superhero yang dikenal dengan julukan ‘Earth’s Mightiest Heroes’ ini terus melaju dengan banyak effort yang mungkin sangat sulit ditandingi studio lain, terlebih pesaing terberatnya, DC – Warner Bros.

         Phase 2 MCU yang sudah dimulai dari ‘Iron Man 3’, berlanjut ke ‘Thor: The Dark World’, ‘Captain America: The Winter Soldier’ plus jangan lupa, ‘Guardians of the Galaxyand the upcomingAnt-Man’ yang juga ada di dalamnya, semakin memperluas universe Marvel, kini kembali mencapai puncaknya di petualangan kedua ensemble superhero ini. Tetap ditangani Joss Whedon di tengah proses re-signing Robert Downey, Jr. yang sempat mengkhawatirkan fans-nya, ‘Age of Ultron’ digagas sebagai penghubung ke Phase 3 yang bakal diawali dengan ‘Captain America: Civil War’ dimana pertikaian para superhero ini akan semakin meruncing. Like whatEmpire Strikes Backdid toStar Warsfranchise, ada resiko jelas yang tergambar disana terhadap universe serba fun & light di Phase 1 yang akan bergerak ke tone lebih gelap secara perlahan, seperti yang sudah dimulai di sebagian film solo-nya. Tapi inilah Marvel. Seperti nama yang diusungnya, dibalik lebih lagi crossover-crossover-nya, walau kotak besarnya tetap ada di adaptasi superhero, masing-masing secara solid membawa feel dan referensi terhadap subgenre-subgenre berbeda. Diatas semuanya, tetap ada core yang tetap mereka pertahankan, dan ini sudah terlihat jelas dari rangkaian promosinya.

            Tiga tahun setelah serangan aliens Chitauri di New York, The Avengers ; Tony Stark / Iron Man (Robert Downey, Jr.), Steve Rogers / Captain America (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Banner / Hulk (Mark Ruffalo) plus Natasha Romanoff / Black Widow (Scarlett Johansson) dan Clint Barton / Hawkeye (Jeremy Renner) bergabung kembali untuk merebut scepter Loki dari tangan ilmuwan HYDRA Baron Wolfgang von Strucker (Thomas Kretschmann) di Sokovia. Tugas itu berhasil, namun pertemuan mereka dengan dua manusia super hasil eksperimen von Strucker, kembar Pietro dan Wanda Maximoff / Quicksilver & Scarlet Witch (Aaron Taylor-Johnson & Elizabeth Olsen) mendorong Stark mengajak Banner untuk menciptakan sebuah A.I. yang lebih sempurna dari J.A.R.V.I.S. (disuarakan Paul Bettany) yang mereka namakan ‘Ultron’ (disuarakan James Spader) di luar sepengetahuan kolega lainnya. Eksperimen ini berbalik menjadi bumerang kala Ultron yang lepas kontrol menyerang mereka semua, merebut scepter dan lantas menuju Afrika Selatan bersama Quicksilver dan Scarlet Witch untuk memperoleh logam terkuat vibranium dari tangan pemasok senjata Ulysses Klaue (Andy Serkis). Lebih lagi, Ultron memaksa ilmuwan Korea Dr. Helen Cho (Claudia Kim) menggunakan penemuan jaringan tubuh sintetisnya untuk menciptakan ‘Vision’ (Paul Bettany) sebagai fisik sempurnanya, dengan tujuan akhir memicu kehancuran dunia di tengah-tengah Sokovia. Di tengah pertikaian dari dalam tubuh The Avengers yang dipicu oleh kekacauan akibat ulah Stark hingga harus mengungsi ke safehouse milik Barton di sebuah peternakan suburban, Nick Fury (Samuel L. Jackson) muncul untuk memberi bantuan. Sekarang, sekali lagi mereka harus menuju Sokovia untuk menghentikan ambisi Ultron.

              Masuk lebih dalam untuk mengeksplorasi karakter dan konflik intern para personilnya, skrip Joss Whedon harus diakui mampu menggali detil-detil bagus sebagai solid character serve terhadap tim superhero terkuat ini. Mulai dari romantisme hubungan Romanoff dan Banner, ketakutan-ketakutan lebih para superhero ini terhadap alterego mereka diantara batas tipis superpower dengan monster, Barton’s secret life and family, asal-usul penciptaan Ultron dan Vision yang sedikit dimodifikasi berikut Quicksilver dan Scarlet Witch. Semua digagas dengan benang merah kuat yang sudah dimulai lewat pengenalan-pengenalan dari singkat maupun panjang serta melibatkan lintas karakter di instalmen-instalmen sebelumnya.

             Namun diatas itu, bagian terkuat yang dimunculkan Whedon ada di ambiguitas kepemimpinan Rogers dan Stark lewat kontras karakter sangat kuat sebagai fondasi yang bakal memuncak di ‘Captain America: Civil War’ nanti, bersama penekanan penting terhadap eksistensi ‘The Avengers’ sebagai superhero yang berjuang dengan motivasi kuat lebih pada alasan kemanusiaan ketimbang diri mereka sendiri. No matter how destructive, mereka tak melupakan apa yang ketinggalan dari adaptasi-adaptasi DC terutama ‘Man of Steel’, bahwa seperti dialog Captain America ; “Our first priority is getting the civilians out“, penghancuran kota yang mereka lakukan dalam tiap adegannya selalu bisa ditampilkan dengan ciri kuat, lihat betapa detilnya adegan penyelamatan itu ditampilkan, bahkan dengan setup kuat di adegan pembukanya ; all in the name of mankind. Semuanya tanpa sekalipun beranjak dari core yang selama ini memberi identitas MCU ; punchlines penuh humor dalam interaksi karakter yang selalu menyeruak dengan kuat di tengah-tengah mindblowing actions bersama efek CGI seru, yang masing-masing masih memberi superpower details buat para karakter intinya.

             Tata teknis lain pun sama baiknya. Sinematografi Ben Davis dari ‘Guardians of the Galaxy’ bisa memberikan sinergi ke sejumlah perpindahan lokasi antar negaranya dengan kuat, dengan penekanan lebih bersama pace editing Jeffrey FordLisa Lassek yang sangat terasa di action shots yang tak pernah ketinggalan detil-detil penting, juga scoring yang berpindah dari Alan Silvestri ke Brian Tyler dan Danny Elfman dengan respek penuh ke aransemen-aransemen main theme pendahulunya, malah dengan crossover ke film-film soloThe Avengers’ terutama salah satu main theme terbaik franchise-nya, score melodius dan anthemic Silvestri dari ‘Captain America : The First Avenger’. Effort ILM (Industrial Light & Magic) dalam penanganan efek spesialnya pun salah satu yang tak boleh dilupakan terutama dalam penciptaan final showdown yang dalam banyak konteks berbeda punya kekuatan paling tidak sama dahsyatnya dengan film pertama. Dengan gimmick 3D yang rata-rata hanya menghasilkan depth cukup kuat, adegan-adegan highlights-nya tetap terasa sangat eye-popping.

                Hebatnya lagi, Whedon juga masih menyempalkan lebih lagi karakter, membawa kembali James ‘Rhodey’ Rhodes / War Machine (Don Cheadle), S.H.I.E.L.D.s Maria Hill (Cobie Smulders), Sam Wilson / Falcon (Anthony Mackie), Dr. Erik Selvig (Stellan Skarsgård) hingga Peggy Carter (Hayley Atwell) dan Asgardian’s Heimdall (Idris Elba) di dreamy sequence berikut karakter-karakter baru yang diperankan Julie Delpy (Madame B), Linda Cardellini (Laura, Barton’s wife) serta tak ketinggalan cameo Stan Lee dengan pembagian porsi yang pas bersama karakter-karakter lainnya. Bukan lantas jadi penuh sesak tanpa fungsi, hampir semuanya bisa memberi penekanan yang pas terhadap penceritaan keseluruhannya. Bahkan Claudia Kim, South Korean actress yang dikemas bersama lokasi syuting di Korsel buat membidik pasar lokalnya, mendapat porsi yang cukup memorable, begitu pula Andy Serkis. Jeremy Renner meng-handle porsi lebih besarnya dengan baik, sementara Mark Ruffalo tampil makin solid sebagai Bruce Banner, membuat kita menginginkan Hulk bisa kembali menjadi instalmen solo franchise-nya.

            Namun di luar karakter-karakter tetapnya, Aaron Taylor-Johnson dan Elizabeth Olsen benar-benar bisa mencuri perhatian sebagai Quicksilver dan Scarlet Witch, sementara sebagai pengisi suara Ultron, James Spader adalah pilihan yang juga sangat tepat. Lihat bagaimana voice cast-nya meng-handle lagu Disney klasik ‘I’ve Got No Strings’ dari ‘Pinocchio’ sebagai penekanan sangat efektif sekaligus haunting buat karakternya. Jangan lupakan pula penampilan solid Paul Bettany dari pengisi suara J.A.R.V.I.S. menjadi Vision, salah satu tokoh cukup penting dalam original universe-nya.

           However, bukan berarti ‘Age of Ultron’ sama sekali terbebas dari ekses atas resiko yang ditanggungnya menjadi seolah jembatan buat mengalihkan fun & light tone menjadi lebih dark dalam keseluruhan universe-nya. Dalam durasi yang sudah mencapai lebih dari dua jam dan kabarnya masih akan dipanjangkan lagi di rilis homevideo-nya nanti, detil-detil penceritaan atas bangunan setup-setup konfliknya mau tak mau membuat pace di paruh awalnya berjalan agak turun naik. Meski bukan lantas jadi tak konsisten ataupun minus action sebagai pengisi tahap demi tahap itu, apalagi dengan fun punchlines yang tetap dipertahankan dalam mendistraksi keseriusan konfliknya dengan humor-humor segar, bagi sebagian penonton, ini bisa jadi sebuah letdown, terlebih bila dibandingkan dengan pace film pertamanya. Whedon malah masih sempat bermain-main dengan sentilannya terhadap trend pendewasaan genre superhero dengan arthouse cliches yang cerdas dari ballet scene ke panoramic landscape shots. Tapi apapun itu, pace di paruh kedua yang berjalan makin kencang tetap berhasil mengatasi semuanya dengan baik, malah bagi sebagian yang menganggap ‘The Avengers’ kekanak-kanakan, ‘Age of Ultron’ hadir dengan kedewasaan lebih, bahkan dalam feel ke subgenre sci-fi horror-nya, an experiment gone awry, bisa dipandang menyerupai sebuah leksia sosial tentang situasi dan bentuk-bentuk ketakutan dalam harapan perdamaian dunia.

             So, inilah digdaya Marvel dalam effort mereka memindahkan universe komiknya ke layar lebar. Di saat para pesaingnya masih terseok-seok memikirkan konsep, itupun hampir seluruhnya masih kerap ditanggapi dengan meme-meme lucu penuh mocking di social media, mereka sudah melesat jauh lebih dari itu. Sebuah kekuatan konsep yang memang membuat bahkan kubu penggemar saingannya pun punya antusiasme luarbiasa tinggi buat memenuhi antrian bioskop di masa-masa awal penayangannya. While others still try to accomplish wonders, Marvel already overcome it. Now they’re in the stage of uprising wonders, and for that, ‘Age of Ultron’ soars! (dan)

BULAN DI ATAS KUBURAN : AN IRONICALLY RELEVANT ‘BIG VILLAGE’ SARCASM

•April 17, 2015 • Leave a Comment

BULAN DI ATAS KUBURAN 

Sutradara : Edo W.F. Sitanggang

Produksi : MAV Production, Sunshine Pictures, FireBird Films, 2015

bulan di atas kuburan

            Sejak ‘Big Village’ (1969) -nya Usmar Ismail yang begitu berhasil dikemas sebagai kritik sosial berisi sketsa Jakarta dengan gambaran keresahan masyarakat ibukota di zaman itu, ada banyak sekali film-film yang menggunakan template yang sama dari era ’70 ke ‘80an. Kritik sosialnya kemudian semakin meluas dengan sasaran yang sama ; kekejaman ibukota, yang rata-rata dilihat dari kacamata kaum pendatang. Kebanyakan dibalut konklusi tragis dimana impian-impian karakternya diluluhlantakkan oleh kerasnya perjuangan kehidupan. Walau belakangan tergelincir ke tema-tema pelacuran demi kepentingan jualan, sebagian masih ada yang tampil baik. But really, tak banyak yang bisa menampilkan subjeknya, Jakarta, lebih dari sekedar latar, sebagai pemeran antagonis melebihi karakter-karakternya.

            ‘Bulan di Atas Kuburan’ film tahun 1973 karya Asrul Sani yang diinspirasi oleh sajak ‘Malam Lebaran’ buah tangan penyair legendaris Sitor Situmorang, bukan hanya menjadi salah satu diantara segelintir yang punya pencapaian itu, sekaligus boleh dikatakan salah satu pionir tema urbanisasi dalam sudut pandang kaum pendatang. Sama uniknya dengan hanya sebaris larik, ‘Bulan di Atas Kuburan’, film yang diproduseri Syuman Djaya itu mengangkat latar belakang budaya Batak Toba Samosir, daerah asal Sitor dengan kuat lewat tiga karakter sentralnya.

        Benar-benar mengalir seperti kuburan dengan eksplorasi konflik yang luarbiasa gelap serta pesimistis, mungkin ada alasan mengapa Tim Matindas dengan Sunshine Pictures bersama MAV Production dalam film produksi mereka yang kedua setelah ‘Toilet Blues’ begitu tertarik untuk menggagas remake-nya. Yang jelas, dari publisitas-publisitas pendahulunya, kita bisa melihat bahwa pendekatannya mereka lakukan dengan penuh respek ke film tahun 1973 tersebut. Plotnya boleh dikembangkan tak persis sama dengan tambahan karakter serta penyesuaian kritik sosialnya ke masa sekarang, namun screen shots deretan cast yang mereka sandingkan dengan versi lamanya sudah menunjukkan, bahwa benang merah terkuat yang menjadi motivasi pembuatan ulangnya, adalah sebuah relevansi.

               Melihat Sabar (Tio Pakusadewo) yang memamerkan kesuksesannya sebagai pengusaha batu bara setelah merantau ke Jakarta, Tigor (Donny Alamsyah) dan Sahat (Rio Dewanto), dua pemuda kampung dari Samosir yang punya impian masing-masing pun tergiur untuk mengikuti jejaknya. Namun Jakarta sama sekali tak seperti yang mereka pikirkan. Walau bersedia menampung mereka setelah ditolak oleh kerabat Sahat (Dayu Wijanto), Sabar ternyata hanyalah pengangguran oportunis yang hidup di gang kumuh bersama istrinya, Minar (Ria Irawan). Tigor dan Sahat pun bertahan di tengah kerasnya kehidupan ibukota dengan cara masing-masing. Bekerja sebagai sopir angkot, Tigor kemudian terjebak menjadi preman di tengah hubungannya dengan seorang PSK, Annisa (Annisa Pagih), sementara Sahat yang berambisi menjadi seorang penulis terkenal terombang-ambing dibalik kehidupan kelas atasnya setelah menikahi Mona (Atiqah Hasiholan), tak lebih sebagai alat politik mertuanya, Maruli (Arthur Tobing) yang juga merupakan sapi perahan seorang politikus calon presiden (Remy Sylado). Di satu titik saat mereka merasa berhasil menaklukkan Jakarta, semua berbalik merampas satu-persatu harapan itu.

          Lebih dari sekedar satire, interpretasi ke larik singkat puisi yang menjadi judulnya memang membuat ‘Bulan di Atas Kuburan’ menjadi sebuah sarkasme dengan darkest turnover terhadap hampir semua karakter-karakter utamanya. Skrip baru yang ditulis oleh Dirmawan Hatta (sutradara ‘Toilet Blues’ dan ‘Optatissimus’) dengan cermat memproyeksikan konflik-konflik di film aslinya ke dalam situasi sosial-ekonomi dan politik sekarang. Walau terasa sedikit kelewat padat dengan penambahan karakter dan subplot yang membuat durasi panjangnya seakan tak cukup menampung semua hingga menyisakan beberapa pergerakan plot yang agak melompat, tapi caranya menangkap lapis demi lapis kultur Batak yang diwarnai asimilasi bersama dialog penuh punchline sebagai sentilan kasar dan kritik-kritik sosialnya, harus diakui cukup luarbiasa. Tak hanya menambahkan carut-marut politik partai hingga proposal fiktif, bangunan karakter-karakter itu pun terasa related, baik bagi sebagian pemirsanya atau orang-orang di sekitar mereka dengan permasalahan yang sama.

       And surprisingly, penyutradaraan Edo W.F. Sitanggang yang sebelumnya menjabat banyak departemen dari penata suara (‘Emak Ingin Naik Haji’, ‘Radit dan Jani’, ‘Selamat Pagi, Malam’) hingga produser (‘Toilet Blues’) secara dinamis berhasil mengemas subplot penuh sesak itu dengan storytelling yang lancar dan tak segelap versi 1973-nya. Ditambah scoring bagus Viky Sianipar bersama beberapa lagu Batak beraransemen modern yang kadang terasa menyayat emosinya, diantaranya dibawakan oleh Tongam Sirait dan Putri Ayu Silaen, nuansa tradisional Bataknya juga jadi jauh lebih kental. Even better, bersama tata artistik Kekev Marlov, tata rias dan kostum dari Zaenal Zhein dan sinematografi Donny H. Himawan NasutionSamuel Uneputty, mereka melakukan semua dengan respek penuh dalam eksistensi filmnya sebagai sebuah remake. Ada feel ’70-an yang sangat terasa dari beberapa atmosfer set (lihat bar/night clubs dengan interior set-nya) berikut homage ke adegan-adegan aslinya yang pada akhirnya menjadi benang merah dengan relevansi sangat kuat sebagai penekanan penting metaforanya. Bahwa berselang 42 tahun, Indonesia, khususnya Jakarta, masih punya permasalahan sama yang belum juga terselesaikan. Tetap menjadi sasaran mimpi kaum perantau tapi seringkali berakhir seperti kuburan yang jauh dari harapan.

               Diatas semuanya, ‘Bulan di Atas Kuburan’ punya kekuatan penuh di ensemble cast hingga guest appearance-nya, sama bahkan di beberapa sisi bahkan lebih baik dari pendahulunya. Memerankan Sabar yang di film lamanya membuahkan Piala Citra FFI 1975 untuk aktor Aedy Moward, Tio Pakusadewo bermain luwes sekali dalam salah satu akting terbaiknya, sementara Rio Dewanto dan Donny Alamsyah, masing-masing mengisi part yang dulu diperankan Rachmat Hidayat dan Muni Cader dengan usaha dialek yang sangat baik, menunjukkan ketepatan pemilihan cast atas tampilan fisik dan garis wajah yang memang believable sebagai etnis Batak. Dengan tambahan karakter Annisa, yang diperankan sama baiknya oleh Annisa Pagih, karakter Donny juga jadi jauh lebih kuat dari Muni Cader di versi 1973-nya. Sementara Atiqah Hasiholan, dibalik dialog-dialog yang menyemat sebagian konklusi metafora itu tampil penuh respek menyambung legacy-nya bersama penampilan khusus Mutiara Sani ; Ria Irawan, Ray Sahetapy, Remy Sylado serta Alfridus Godfred dan secara tak terduga, Andre Hehanusa, sangat kuat mengisi highlight ensemble-nya lewat screen presence mereka. Lantas masih ada Nungki Kusumastuti, Arthur Tobing, Adi Kurdi (yang meski selalu punya gestur bagus namun sayang dialek Batak-nya masih terdistraksi cengkok Jawa yang kental) dan penampilan singkat Ferry Salim, Dayu Wijanto, Aming, Denada Tambunan, rising actress Mentari De Marelle hingga Meriam Bellina.

               So there you go. Being more than just a remake, tapi lebih berupa sebuah rendition yang digagas dengan respek tinggi ke penerjemahan Asrul Sani terhadap source-nya, sajak satu larik Sitor Situmorang yang bukan main uniknya, ‘Bulan di Atas Kuburan’ adalah sebuah pencapaian sangat mengagumkan yang jarang-jarang kita dapatkan dari sebuah reka ulang. Not only brought us revisit one of our strongest culture, but also harsh mocks to our society. An ironically relevant ‘Big Village’ sarcasm. (dan)

TUYUL PART 1 : A DIFFERENT TAKE ON OUR LOCAL HORROR GENRE

•April 16, 2015 • Leave a Comment

TUYUL PART 1 

Sutradara : Billy Christian

Produksi : Renee Pictures

tuyul part 1 film

            Sebagai salah satu genre paling digemari disini, sayangnya kita hanya punya segelintir horor lokal dengan pencapaian bagus dalam standar rating-nya, bahkan cukup sulit untuk menyebutkan 10 saja film terbaiknya dalam beberapa dasawarsa terakhir. Selain sebagian besar asal jadi dalam hal kepentingan jualan semata, kebanyakan juga melulu diisi oleh elemen seks atau komedi yang makin membuat eksistensi genre-nya benar-benar buruk dalam perfilman nasional kita.

         Tapi ‘Tuyul Part 1’, yang direncanakan menjadi bagian pembuka dari sebuah trilogi oleh Gandhi Fernando dan Renee Pictures, memang punya inovasi yang agak beda dari yang sudah-sudah. Sejak trailer-nya diluncurkan, ada effort yang sudah terlihat dari cara mereka mengemas mitos klasik terhadap subjeknya. Bila sebelumnya digambarkan sebagai orang kerdil berkepala gundul yang dihidupkan dari patung batu dalam gua misterius lewat ‘Tuyul’ (1978 ; arahan Pitrajaya Burnama yang cukup unik mengkombinasikan komedian Darto Helm dan aktor Muni Cader), berlanjut ke ‘Tuyul Perempuan’ (1979, Sofyan Sharna dengan skrip masih dipegang Pitrajaya Burnama) dan ‘Tuyul E’eh Ketemu Lagi’ (1979, Lilik Sudjio) yang meski punya tone lebih komedik bersama sejumlah sinetron-sinetronnya, disini pendekatannya adalah sebuah creature feature yang masih cukup jarang ada di genre horor kita.

             Mitos asal Tuyul dari janin ibu yang keguguran juga mereka pindahkan ke nafas ‘Rosemary’s Baby’ (1968, Roman Polanski) yang sudah berkembang menjadi template thriller psikologis dalam genre horor, plus latar belakang budaya Jawa sebagai asal mitosnya dengan sedikit bumbu baru soal ‘genie in a bottle’. So yes, ditambah tampilan efek dan creature mock-up yang cukup rapi, ‘Tuyul Part 1’ ini memang menarik untuk disimak lebih jauh.

             Memperjuangkan posisinya sebagai kepala proyek di sekitar perkebunan teh daerah pegunungan, Daniel (Gandhi Fernando) dan istrinya Mia (Dinda Kanya Dewi) yang tengah mengandung anak pertama terpaksa pindah ke rumah peninggalan orangtua Mia disana. Keanehan-keanehan mulai terjadi setelah penemuan botol misterius di salah satu kamar rumah itu. Merasa keanehan-keanehan yang juga melibatkan tetangganya, Karina (Citra Prima) dan Bi Inah (Inggrid Widjanarko), abdi setia keluarga mereka hingga Daniel sendiri mulai mengancam keselamatan bayinya, Mia pun mulai menyelidiki rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh almarhumah ibunya (Karina Nadila).

           Selain effort penyutradaraan Billy Christian yang memang ada di level berbeda dari kebanyakan sutradara yang kerap menangani genre sejenis, usaha lebih juga terasa sekali datang dari skrip yang ditulis keroyokan oleh Luvie Melati, Gandhi dan Billy sendiri. Di tangan mereka, kombinasi antara pendekatan creature feature dan thriller psikologis ala ‘Rosemary’s Baby’ tadi memang bisa membentuk racikan yang berbeda. Plot yang memuat bangunan-bangunan suspense hingga sepenggal twist yang menjadi jalan pembuka ke sekuelnya dikemas cukup rapi, mengundang rasa penasaran dengan tahapan-tahapan yang juga wajar. Ada respek lebih terhadap genrenya disana, termasuk dengan elemen penting mitosnya soal yuyu yang tak pernah lupa ditampilkan di sebagian versi pendahulunya. Tak juga serba melompat-lompat dengan sekedar menawarkan jumpscares seperti rata-rata film di genre yang sama, tapi cukup solid memainkan genrenya lewat atmosfer.

             Penggarapan teknisnya juga tampil sama baiknya. Selain tata kamera Gunung Nusa Pelita yang bisa memanfaatkan dominasi ruang sempit set-nya lewat angle-angle yang ikut membangun atmosfer horor secara cukup mencekam, tata artistik dari Aek Bewafa juga sangat layak mendapat kredit lebih. Scoring Andhika Triyadi boleh jadi kelihatan agak generik di bagian-bagian awal, namun berubah drastis di perempat akhir, scoring dengan permainan shrieking strings, juga sesuatu yang masih jarang ada di film-film horor lokal, justru sangat memperkuat atmosfernya secara keseluruhan. Selebihnya, tentulah creature mock-ups dan tambahan efek yang lagi-lagi, dalam ukuran film horor kita rata-rata, selain punya proporsi pas untuk digeber di bagian-bagian akhir, jelas juga berhasil memberikan interpretasi baru buat tampilan subjeknya.

            Begitupun, bukan berarti ‘Tuyul Part 1’ tak punya kekurangan. Akting kuat Dinda Kanya Dewi yang memang jadi poin krusial untuk menghidupkan pendekatan thriller psikologisnya, begitu juga Citra Prima dan Inggrid Widjanarko yang cukup baik sebagai template characters dalam konteks genrenya, sayangnya tak bisa sepenuhnya diimbangi secara sempurna oleh Gandhi, terutama di bagian-bagian turnover karakternya. Untungnya, kekurangan ini tak sampai membuat pencapaian-pencapaian storytelling, bangunan atmosfer serta teknis tadi jadi tertinggal di belakang. Tetap menjadi elemen-elemen yang remarkable dalam kebanyakan horor lokal kita, ‘Tuyul Part 1’ jelas ada di kelas yang berbeda. A different take on our local horror genre. (dan)

GURU BANGSA TJOKROAMINOTO : A LAVISH, GRAND AND EFFECTIVE HISTORICAL OPERA

•April 14, 2015 • 2 Comments

GURU BANGSA TJOKROAMINOTO 

Sutradara : Garin Nugroho

Produksi : Pic[k]lock Production, Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto, MSH Films, 2015

tjokroaminoto

            Kecenderungan tema biopik dalam industri film kita tanpa konsistensi hasil yang baik mungkin membuat sebagian penonton jadi skeptis terhadap genre-nya. Selagi rata-rata mempermasalahkan durasi yang hampir selalu panjang hingga dianggap melelahkan, masalah utamanya sebenarnya ada di batasan-batasan penceritaan yang dipenuhi keraguan antara efektifitas atas interpretasi dan tujuan, sementara tetap ada kepentingan jualan dibaliknya. Belum lagi distraksi-distraksi atas keberadaannya sebagai film ‘pesanan’, meski ini tak juga berarti selalu salah.

        Okay. Nama Yayasan Keluarga Besar subjeknya memang menandakan bahwa ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’, lagi-lagi adalah sebuah ‘pesanan’. Soal cast yang lagi-lagi harus melulu diisi deretan aktor terkenal tanpa memikirkan kemiripan demi kepentingan jualan juga seringkali jadi sandungan. Tapi jangan lupa, sejarah, apalagi yang menyangkut orang-orang yang sudah bersusah payah memberikan sumbangannya untuk kelahiran bangsa ini, tetap merupakan sesuatu yang penting untuk dibahas. Dalam skup rasa kebangsaan kita yang masih sangat kurang, terlebih pendidikan sejarah perjuangan bangsa yang jadi pelajaran wajib di tiap fasilitas pendidikan formal bernama sekolah, seringkali berakhir sebatas masuk kiri keluar kanan, efektifitas informasi dan relevansi-relevansi penceritaannya pada akhirnya menjadi concern terbesar buat hasil keseluruhannya.

            Masalahnya lagi, ini adalah filmnya Garin Nugroho, yang meski sebagai sineas diakui sampai kemana-mana, tapi kenyataannya, punya masalah komunikatif ke rata-rata penonton awam yang jelas jadi sasaran terbesar buat tendensi film-film seperti ini. Bukan Garin tak pernah mencoba, tapi ‘Soegija’, di luar sekedar keindahan tampilan, juga harus diakui sebagai sebuah kegagalan bercerita. Tapi untunglah, dengan semua elemen-elemen tadi, termasuk gaya bertutur Garin yang juga tetap tak lantas jadi berubah drastis, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ sepenuhnya adalah sebuah kasus beda. Menyemat riwayat panjang kehidupan, ideologi hingga perjuangan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto sebagai sentralnya, ini ada di pencapaian yang jauh berbeda dengan ‘Soegija‘, sekaligus usaha yang konsisten dalam menghasilkan karya yang baik dari produser Dewi Umaya bersama Pic[k]lock Production-nya (‘Minggu Pagi di Victoria Park‘, ‘Rayya: Cahaya di Atas Cahaya‘)

            Meski lahir sebagai kaum bangsawan Jawa dengan latar keislaman yang kuat, Tjokroaminoto (dewasanya diperankan Reza Rahadian) tak lantas menjadi tidak peduli terhadap kondisi rakyat yang terjajah pada masa kolonialisme Belanda tahun 1900-an semasa ia bekerja dengan Belanda. Kemiskinan dan kesenjangan sosial selepas Tanam Paksa dan awal Politik Etis membuat Tjokro memilih melawan keinginan orangtuanya (Sudjiwo TejoMaia Estianty) bahkan meninggalkan istrinya, Suharsikin (Putri Ayudya) untuk berhijrah, kata yang kemudian menjadi kata kunci perjuangannya, dengan ikut memperjuangkan nasib, hak serta martabat bangsanya. Ketimbang mengangkat senjata, ia lebih memilih perjuangan ideologi lewat tulisan-tulisannya di surat kabar serta orasinya di depan rakyat. Namun puncaknya adalah pembentukan organisasi Sarekat Islam dari Sarekat Dagang Islam yang menjadi organisasi bumiputera pertama berdasar paham-paham Islam di tanah Hindia Belanda. Bukan saja jadi organisasi terbesar dengan lebih dari dua juta anggota, perjuangan Tjokro juga jadi awal lahirnya tokoh sekaligus pelopor pergerakan kebangsaan. Di tengah kekhawatiran pihak kolonial, pengaruh berbagai ideologi luar dan ancaman perpecahan dari dalam akibat perbedaan pemikiran tiap lapis kaum yang bergabung di dalam Sarekat Islam, rumah sederhana Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, menjadi cikal bakal para pengikutnya untuk meneruskan cita-cita Tjokro membentuk bangsa dengan rakyat yang sejahtera dan penuh martabat.

            Dengan penceritaan kronologis serta durasi yang memakan waktu 160 menit, yang memang sulit dihindari dalam genre sejenis, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ tak lantas terlepas sepenuhnya dari gaya tutur Garin yang tak biasa. Namun memilih untuk menggelar biopik ini dengan gaya historical opera, lengkap dengan adegan-adegan musikal yang disemat secara tak terduga namun cantik luarbiasa dibalik tata koreografi tak kalah bagus, bahkan sempalan humor, filmnya tak lantas menjadi sesuatu yang kelihatan absurd. Seolah sekali ini mau berkompromi lebih jauh dengan kemauan orang-orang yang ada dibalik produksinya,  di tangan yang tepat, Garin justru menemukan formula yang pas bersama visi uniknya selama ini. Disini, akting-akting teatrikal, komikal hingga adegan-adegan musikalnya bisa menyatu dengan baik dengan sisi lain yang lebih realistis diatas bangunan karakter-karakter utama hingga sampingan yang semuanya ikut menjelaskan latar historis berikut ekses kolonialisme tanpa lepas terlalu jauh menjadi gaya parabel tanpa fokus kuat ke subjeknya. Bahkan di ‘Mata Tertutup’ yang penceritaannya sangat komunikatif dibanding film-filmnya yang biasa, Garin belum pernah sesempurna ini mengkombinasikan elemen-elemennya buat jadi sesuatu yang benar-benar berbeda.

           Setup ke karakter Tjokro sendiri benar-benar dibangun dengan sangat baik lewat naskah yang ditulis oleh alm. Ari Syarif dan Erik Supit berdasar ide cerita yang dikembangkan bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh, Kemal Pasha Hidayat dan Garin sendiri, tanpa harus berinovasi kelewat idealis hingga berpotensi membuatnya jadi tak komunikatif terhadap pemirsanya. Kekejaman pihak kolonial Belanda yang digambarkan gamblang dibalik trauma masa kecil Tjokro yang memberi motivasi kuat untuk perjuangannya digelar bertahap ke pandangan-pandangan egaliter, antifeodalisme, pluralis serta antikekerasan diatas dasar ideologi Islami yang kuat tanpa lantas kelihatan pretensius, preachy ataupun jatuh jadi kelewat klise. Sebagian ledakan-ledakan emosinya boleh jadi terlihat komikal dibalik dialog-dialog yang juga terkadang cukup verbal termasuk soal hijrah sebagai kunci, tapi juga berada di batas serba humanis dengan penekanan kuat terhadap ajarannya dibalik gelar ‘guru bangsa’ yang disandang Tjokro. Sementara karakter-karakter sampingannya, baik yang nyata maupun fiktif terus memberikan perspektif dan metafora yang tak perlu jadi terlalu njelimet buat mendistraksi karakter Tjokro yang sudah sangat kuat sebagai fokus utamanya. Semua berada dalam batasan informasi yang sangat nyaman buat diikuti diatas dialog-dialog penuh punchlines membuat kita lebih mengenal sosok subjek berikut tokoh-tokoh hingga pahlawan penting yang ada di dalamnya, bahkan lebih dari sekedar pelajaran sejarah perjuangan bangsa yang selama ini diajarkan lewat buku teks. Yang tak rajin membaca pasti tak tahu bahwa Soekarno adalah salah satu murid Tjokro, bahkan menikah dengan putrinya. Selain itu, ia masih pula punya relevansi memetakan politik dan kehidupan bangsa serta integritas pemimpin yang terus dipertanyakan banyak orang hingga saat ini.

            Namun hal terbaik dalam ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ tetaplah sebuah kesempurnaan penggarapan dengan kerapian yang luarbiasa. Production values dibalik rancangan produksi Ong Hari Wahyu sangat menjelaskan bujet besar pembuatannya dengan pantas, digagas dengan kecermatan tinggi sekaligus membawa seluruh kru ke level pencapaian terbaik dalam karir mereka. Tata kamera dari Ipung Rachmat Syaiful seolah berpuisi dengan bahasa-bahasa gambar. Tata artistik Allan Sebastian, tata rias Didin Syamsuddin dan kostum dari Retno Ratih Damayanti memberikan detil-detil mengagumkan dibalik set yang penuh akurasi. Editing Wawan I. Wibowo, scoring Andi Rianto bahkan efek khusus oleh Satria Bayangkara yang tak perlu berusaha kelihatan bombastis tapi secara proporsional ditempatkan dalam kepentingan yang layak, semuanya hadir luarbiasa remarkable.

            Bersama pencapaian teknis itu, komposisi cast-nya pun membentuk sinergisme dengan blend tak terbayangkan dari yang serius, komikal hingga teatrikal, dari karakter nyata ke karakter-karakter fiktif yang membingkai kisah utamanya, menjadi sebuah pameran akting yang sangat mumpuni. Reza Rahadian lagi-lagi menunjukkan unpredictable result dari kekuatan aktingnya dengan gestur dan dialek yang pas, didukung permainan terkuat dari pendatang baru Putri Ayudya yang memerankan Suharsikin. Sementara Deva Mahenra sebagai Koesno/Soekarno muda, Tanta Ginting sebagai Semaoen dan Chelsea Islan yang sangat kuat di bagian-bagian akhir penampilannya sebagai Stella yang mempertanyakan ambiguitas identitas penting yang masih relevan hingga sekarang bersama sederet dialog-dialog memorable-nya ada di lini berikutnya. Lantas masih ada Christoffer Nelwan sebagai Tjokro muda, Ade Firman Hakim (Musso), Ibnu Jamil (Agus Salim), Sudjiwo Tejo dan Maia Estianty, Egy Fedly, Didi Petet ke karakter-karakter fiktif yang diperankan Alex AbbadChristine Hakim dan Gunawan Maryanto sebagai Cindil bersama seniman ludruk Jawa Timur sebagai scene stealer terkuatnya, Unit yang memerankan Mbok Tun. Jangan lupakan juga sematan penghargaan terakhir buat alm. Ari Syarif dan Alex Komang.

            Dengan semua remarkable elements, rata-rata dengan dedikasi sebaik ini, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ memang berhasil membentuk sebuah ensemble dengan tampilan sinematis yang luarbiasa mengagumkan. Lihat bagaimana perjalanan menuju konklusinya diakhiri dengan kalimat penutup yang hadir dengan begitu menggetarkan. “Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid”, diikuti epilog dengan guliran old photographs yang benar-benar bisa menggugah pemirsanya terhadap apa yang sudah dimulai Tjokroaminoto bagi bangsanya.  In years, seriously, kita sudah cukup lama tak punya biopik sejarah dengan pencapaian setinggi ini. Lavishly made, effectively told and wonderfully acted, ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ is simply a classic. A cinematic grandeur! (dan)

FILOSOFI KOPI : A FULL-FLAVORED CUP CALLED LIFE

•April 10, 2015 • Leave a Comment

FILOSOFI KOPI 

Sutradara : Angga Dwimas Sasongko

Produksi : Visinema Pictures, 2015

filosofi kopi

            Lebih dari sekedar minuman, kopi memang sudah berkembang jadi sebuah kultur. Bukan saja bagi lapis demi lapis skup industri dan penikmatnya, tapi juga bagi sebutan ‘barista‘ dibalik orang-orang yang berjasa meracik rasa di dalamnya. Diangkat dari cerpen karya Dewi Lestari alias Dee yang termuat dalam novel kumpulan cerpen berjudul sama, ‘Filosofi Kopi’ mungkin merupakan coffeeporn pertama dalam konteks film cerita fiksi. Seperti novelnya yang memuat banyak filosofi hidup dalam quote-quote sejenis ‘life is like a cup of coffee’, berdasar genre, ia tetaplah sebuah drama. Namun penggagasnya, sutradara Angga Dwimas Sasongko memang tak pernah bercanda dalam penyajian visual buat menyemat semua filosofi itu ke dalamnya. Tak salah bila Dee mengatakan bahwa ceritanya telah menemukan jodoh yang tepat di tangan Angga yang kemudian tak sekedar mengadaptasi, tapi mengembangkan cerita pendek itu ke dalam interpretasi-interpretasi baru ke dalam skrip yang ditulis oleh Jenny Jusuf.

            Melalui riset cukup panjang yang membawa sebagian cast utamanya mempelajari seluk-beluk pengenalan hingga pembuatan kopi selama berbulan-bulan, ‘Filosofi Kopi’ juga hadir dengan terobosan baru ‘user generated movie’ berupa aplikasi-aplikasi berbasis internet smartphone yang melibatkan kontribusi para penggunanya dalam penentuan visual lewat properti dan elemen-elemen artistik sampai meracik musik, roadshow, concept OST album, live concert hingga coffee truck dan kedai kopi permanen di bilangan Blok M, Jakarta. So yes, lebih dari deretan cast utamanya yang memang sangat menjual, effort-effort itu memang membuat film dengan tagline catchy, ‘Temukan Dirimu Disini’ ini jadi sangat menarik.

            Walau bersahabat sejak kecil, Jody (Rio Dewanto) dan Ben (Chicco Jerikho) kerap berseberangan soal nyawa kedai kopi ‘Filosofi Kopi’ yang mereka bangun bersama-sama. Selagi Jody yang penuh presisi selalu memikirkan pergerakan modal yang sudah ditanamkannya sejak awal, Ben yang berjiwa bebas punya idealisme tak kenal kompromi dalam racikan rasa yang sempurna. Dibalik semuanya, Jody juga harus berjuang dengan hutang yang ditinggalkan almarhum ayahnya, sementara Ben menyimpan trauma panjang terhadap sang ayah (Otig Pakis) yang mewariskannya keahlian itu. Ketika seorang pengusaha (Ronny P. Tjandra) datang memberikan tantangan dengan jumlah imbalan yang bisa menyelesaikan semuanya,  muncullah El (Julie Estelle), internationally acclaimed food blogger – pakar kopi ke tengah-tengah mereka. Mempertentangkan racikan Ben yang selama ini dianggapnya sebagai signature-nya yang sempurna dengan Kopi Tiwus racikan sederhana keluarga Seno (Slamet Rahardjo DjarotJajang C. Noer) yang ada di sebuah pelosok pegunungan, sebuah perjalanan penuh konflik pun dimulai. Resikonya adalah persahabatan panjang Ben dan Jody diatas rahasia-rahasia masa lalu yang mulai terkuak satu-persatu.

            Oke. ‘Jelangkung 3’ mungkin hanyalah sebuah awal. Namun lewat ‘Hari Untuk Amanda’ dan last year’s award-winning hit, ‘Cahaya dari Timur : Beta Maluku’, Angga Dwimas Sasongko sudah menunjukkan kepiawaiannya sebagai seorang storyteller terbaik yang kita miliki di perfilman Indonesia. Walau dibingkai dengan visual coffeeporn penuh passion sekaligus luarbiasa informatif lewat skrip Jenny Jusuf yang sangat detil dan penuh punchlines, kisah simpel tentang pertentangan obsesi dan cinta diatas friendship bromance, father to sons/daughter dan making peace with the painful past ini tak sekalipun meninggalkan emosinya di belakang.

         Dengan keseimbangan yang pas, kedua elemen ini bergerak diatas sinergi luarbiasa memaparkan tiap metafora dan interkoneksinya dengan sangat baik. Selagi Angga menyajikan visual penuh rasa yang menggugah indera pengecap kita saat menyaksikan adegan-adegan karakternya menyeruput kopi serta aromanya sebagai sebuah coffeeporn yang kuat dan jarang-jarang ada, menerjemahkan ide dasar Dee tentang kopi dengan ragam rasa berbeda diatas biji yang sama bersama benturan-benturan kehidupan, skrip Jenny Jusuf melakukan semuanya tak kalah baik. Pengenalan karakternya dibalut dengan bingkai komedi yang renyah sebelum konfliknya dimunculkan secara bertahap buat menjelaskan masing-masing background konflik itu secara detil dengan adukan emosi, semuanya  dalam batasan realita yang masih terasa wajar bersama relatable characters dan penyampaian yang sangat komunikatif. Like coffee and life with its bittersweet reality, seperti secangkir kopi yang lebih punya cinta ketimbang obsesi, kombinasi racikan ini muncul tak hanya penuh warna, tapi juga rasa. Terkadang emosional, tapi secara keseluruhan, heartwarming.

            Dalam penggarapan teknis, ‘Filosofi Kopi’ juga hadir dengan sejumlah keunggulan. Sinematografi dari Roby Taswin, tata artistik dari Keris Kwan, Rio Aldanto dan Yusuf Kaisuku, walaupun bukan nama-nama yang biasa menghiasi film kita, berhasil menyajikan tampilan sinematis dengan kombinasi rasa yang berbeda. Dan jangan lupakan juga betapa scoring dari Glenn Fredly bersama pilihan-pilihan soundtrack-nya yang diisi oleh Dewi Lestari, Maliq and d’Essentials, Sidepony, Gilbert Pohan, serta Svarna, folk band yang terpilih lewat audisi user generated #NgeracikMusik –nya dan Glenn sendiri juga turut menyumbang ragam terhadap keseluruhan rasanya, bahkan sampai ke dua additional scene di kredit akhirnya.

            Lantas tentu saja komposisi cast yang tepat. Bersama cameo-cameo menarik yang menampilkan Joko Anwar, Baim Wong, Tara Basro, Bebeto Leutualy (pemeran Salembe dalam ‘Cahaya Dari Timur’), Ronny P. Tjandra and mostly Tanta Ginting sebagai juaranya, karakter Pak Seno yang diperankan Slamet Rahardjo Djarot memberi sentuhan kuat sebagai penyeimbang perspektif dalam tema konflik ayah – anak-nya, plus Jajang C. Noer dan walau sedikit kelewat teatrikal, Otig Pakis. Sebagai El, Julie Estelle juga tampil sangat atraktif seperti biasanya. Namun hal terbaik dalam ‘Filosofi Kopi’ jelas ada pada performa Chicco Jerikho dan Rio Dewanto. Tampil dengan no holds-barred chemistry menerjemahkan friendship gestures berikut ledakan-ledakan konflik utama dibalik kekuatan karakter masing-masing yang bekerja membentuk konklusi akhirnya, bahkan mungkin satu yang terbaik dan pernah ada dalam sinema kita, flow storytelling Angga yang sudah kuat jadi benar-benar sempurna lewat chemistry mereka. Just like the famous coffee quote, ‘Good coffee is a pleasure, good friends are a treasure’, chemistry ini benar-benar sebuah treasure.

            So welcome to one of the finest Indonesian movie so far this year, yang lagi-lagi datang dari kolaborasi Angga dan Chicco seperti ‘Cahaya dari Timur’ tahun kemarin. Di tengah perjuangan film kita untuk terus mempertahankan eksistensinya dari kepercayaan penonton dan gempuran blockbuster luar, ‘Filosofi Kopi’ sudah hadir tak hanya dengan inovasi konten tapi juga pemasaran yang unik. Mari tak begitu saja melewatkannya. Like a smooth blend in your favorite cup of coffee, ‘Filosofi Kopinot only warm your heart and feed your soul, but also will knock you full-flavored. The ultimate one called life. (dan)

FAST & FURIOUS 7 : SKY’S THE LIMIT

•April 7, 2015 • Leave a Comment

FAST & FURIOUS 7

Sutradara : James Wan

Produksi : Original Film, One Race Films, Relativity Media, Media Rights Capital, Universal Pictures, 2015

furious 7

            Seriously, bahkan produser Neal H. Moritz, orang pertama yang ada dibalik status ‘Fast and Furious’ sebagai mega franchise sekarang ini, mungkin tak pernah memperhitungkan itu kala ia memulai semuanya bersama Rob Cohen di ‘The Fast and the Furious’ (2001) dulu. Film yang dibesut Cohen dalam gaya cult ala drive-in trash dengan formula baku ‘undercover cop investigating a crime beyond extreme sports world’, bukan juga dengan aktor-aktor kelewat dikenal, sudah berulang kali kita saksikan termasuk ‘Point Break’ sebagai salah satu ikon genre-nya.

            Namun saat film itu berhasil mencetak sukses besar sekaligus mendongkrak cast-nya, kita memang mendengar rencana sekuelnya yang kemudian sempat terkendala karena Vin Diesel lebih memilih franchise debutnya, meninggalkan Paul Walker yang meski kecewa tapi tetap maju dengan Tyrese Gibson sebagai partner barunya di ‘2 Fast 2 Furious’. Merubah style-nya di tangan John Singleton dari cult menjadi action berkelas blockbuster dengan adegan-adegan jauh lebih seru walau masih berada di pakem yang serupa, sekuel itu pun merubahnya menjadi franchise yang sangat potensial buat diperhitungkan, sampai mulai menggoda Vin Diesel untuk kembali walau masih sebagai cameo di film ketiga, ‘The Fast and the Furious: Tokyo Drift’ sebagai satu-satunya benang merah tanpa kemunculan Paul Walker.

           Then the game has changed, muncullah ‘Fast & Furious’ di tahun 2009 sebagai ajang reuni bagi franchise-nya. Bersama hubungan Walker dan Diesel yang sudah membaik sejak pre-produksinya dimana Diesel malah masuk sebagai salah satu produsernya, Moritz seakan melakukan fresh setup terhadap franchise-nya. Dengan Chris Morgan sebagai penulis skripnya, pakemnya berubah total. Balap-balapannya tentu tetap ditonjolkan, namun ‘Fast & Furious’ beralih rupa menjadi sebuah ‘team on a mission – action’ yang terus dipertahankan oleh Morgan hingga instalmen terbarunya ini. Hebatnya lagi, mereka mulai menambah action icon (incl. our own Joe Taslim di film sebelumnya) dengan trik bongkar pasang ke dalam karakternya plus jahitan benang merah secara taktis ke instalmen-instalmen sebelumnya. Setelah Dwayne Johnson yang bertahap diputarbalik ke sebagai member of the team, oh yeah, everyone cheers seeing Jason Statham di akhir instalmen ke-6, walaupun jelas di-setup sebagai villain.

            Sayang, insiden yang merenggut nyawa Paul Walker di tengah pembuatan ‘Furious 7′ (judul peredarannya di AS) nyaris menghentikan semuanya. Tapi toh ‘Furious 7’ akhirnya terus berlanjut menambah rasa penasaran penggemarnya atas berita-berita yang ada dari setup karakter hingga penggunaan CGI terhadap saudara Paul yang masuk menggantikannya di sisa masa syuting. Apalagi, kursi penyutradaraannya berpindah dari Justin Lin ke James Wan yang sama sekali belum punya kredibilitas di genre-nya. And yes, dengan skrip yang masih di-handle oleh Morgan, diatas vengeance subplot buat karakter Statham, ‘Furious 7’ tetap konsisten sebagai sebuah team action. Jadi jangan harapkan yang tidak-tidak, mostly if you really dig its history as a fan, then you’ll know, franchise ini sudah punya pakem yang jelas tak begitu saja boleh dirombak lagi sebagai jaminan kesuksesannya. Yang penting, sejauh mana Moritz dan timnya di bawah penyutradaraan baru James Wan bisa menaikkan lagi atraksi pacuan adrenalinnya. Sejak trailer-nya diluncurkan, mereka sudah membuat kita terperangah. Lihat saja judul rilisnya di Jepang, ‘Sky Mission’ yang merujuk pada aksi mobil beterbangan di tengah pencakar langit. Gonzo action, over the top, go name it. But to them, sky’s the limit.

            Masih berusaha mengembalikan ingatan Letty (Michelle Rodriguez) setelah insiden melawan Owen Shaw (Luke Evans) di London, Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Conner (Paul Walker) tak bisa lama menikmati masa tenangnya karena kakak Owen, Deckard Shaw (Jason Statham) langsung menyatroni mereka ke Amerika. Menerobos markas Hobbs (Dwayne Johnson) untuk mendapatkan profil lengkap Dom dan timnya, Shaw berhasil mengirim Hobbs ke RS, membunuh Han (Sung Kang) yang tengah berada di Tokyo dan meledakkan kediaman Dom dan Brian, namun untungnya mereka luput dari sasaran Shaw. Mia (Jordana Brewster) yang tengah mengandung anak kedua Brian segera diungsikan ke sebuah safe house sebelum Dom kembali mengumpulkan timnya, Roman Pearce (Tyrese Gibson) dan Tej Parker (Chris ‘Ludacris’ Bridges) untuk menghadapi amukan Shaw. Namun mereka lantas didistraksi oleh kemunculan Frank Petty (Kurt Russell), agen pemerintah yang menawarkan misi buat menemukan God’s Eye, program komputer mutakhir untuk melacak jejak yang dicuri teroris Jakande (Djimon Hounsou) dari seorang hacker wanita bernama Ramsey (Nathalie Emmanuel). Dom terpaksa menyanggupi misi ini karena sebagai upahnya, Petty menjanjikan God’s Eye untuk berbalik memburu Shaw. Menyelamatkan Ramsey di tengah mobil yang diterjunkan dengan parasut di pegunungan Caucasus, menuju Abu Dhabi dan beraksi mencuri mobil sport mewah di tengah-tengah Burj Khalifa dan Etihad Towers demi mendapatkan flashdrive berisi God’s Eye, konfrontasi segitiga ini terus berlangsung ke tengah-tengah jalanan Los Angeles dimana Hobbs kembali bergabung, sementara Shaw jelas tak begitu saja mau melepaskan mereka semua hidup-hidup.

            Dari sekedar menyambung kesuksesan franchise menjadi sebuah persembahan terakhir buat mengenang Paul Walker, ‘Furious 7’ memang dirancang dengan super-spektakuler. Menaikkan lagi pacuan adrenalin adegan-adegan aksinya ke batas yang sulit terbayangkan dari airdrops and flying cars, Abu Dhabi scenes ke final showdown tanpa meninggalkan muscle bumps dan combat fights-nya, buat sebagian orang, ‘Furious 7’ boleh jadi tak mementingkan plot-nya, apalagi menjaganya dalam batasan-batasan kewajaran. Tapi buat yang benar-benar mengikuti dengan cermat perubahan detil polanya sejak instalmen ke-4 pasti juga tahu bahwa Chris Morgan justru mempertahankan konsistensi pakem itu tanpa sekalipun berkompromi terhadap daya tarik lebih yang mereka miliki. Mau menyentuh kegilaan fantasi ala film-film superhero sekalipun, franchise-nya memang sudah menyamai ‘Mission: Impossible’ dalam ranah team action genre. Dan oh, masih ada yang mau mempermasalahkan akting dalam ‘Fast & Furious’? Lagi-lagi dalam konteksnya, bisa membuat pace dan konfrontasinya begitu intens lewat karakter-karakter yang juga mengisi sempalan komedinya dengan punchlines lucu, jelas bukan berarti akting itu gagal.

          Dan bagusnya, subplot-subplot ini tak lantas menjadi tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Dalam konteks franchise-nya, setup-nya dihadirkan Morgan dengan tepat diatas balance yang juga tergelar cukup baik bersama keterkaitan yang relevan. Ritmenya boleh jadi sedikit berkejaran, namun pace-nya tak sekalipun jadi terganggu. Semua karakter tambahannya, dari Jason Statham, Kurt Russell, Djimon Hounsou, Ronda RouseyNathalie Emmanuel dari ‘Game of Thrones’, aktor Bollywood Ali Fazal hingga keikutsertaan Tony Jaa yang memicu kontroversi peredarannya di Thailand atas berbagai tuntutan dari Sahamongkol, mendapat screen presence yang pantas serta proporsional. Dimana lagi kita bisa melihat dua combat scene antara Jaa dengan Walker, masing-masing dengan durasi lumayan plus Statham yang harus berhadapan dengan Johnson berikut emotional hard punch final showdown lawan Diesel?  Belum lagi catfight tak kalah seru antara Michelle Rodriguez dan Ronda Rousey. Membatasi penampilan Johnson sebagai badass highlight mendekati klimaksnya, menyediakan ruang buat Elsa Pataky even just a bit of Tokyo Drifts Lucas Black,  semuanya berada dalam proporsi pas sekaligus sulit jadi lebih baik dari ini.

             Diatas semuanya, ‘Furious 7’ jelas menorehkan kesuksesan luarbiasa bagi penyutradaraan James Wan. Okay, walaupun Wan punya DoP Stephen F. Windon (bersama Marc Spicer) yang memang sudah biasa berkiprah di genre-nya sejak ‘Tokyo Drift’ termasuk ‘G.I. Joe: Retaliation’ berikut editor Christian Wagner (‘Fast & Furious 4-6’, ‘Bad Boys‘, ‘M:I 2‘, ‘Face/Off’) yang mungkin cukup bisa menjelaskan mengapa gelaran adegan-adegan aksinya bisa muncul begitu luarbiasa, all ultimately well shot over eyegasms and adrenaline rush, namun sebagai sebuah debut menggarap genre action dari serangkaian horor yang sangat bertolak belakang, ini jelas sebuah lompatan besar dengan pencapaian sangat layak. Apalagi, Wan tak lantas jadi canggung menyemat komedi khas franchise-nya, menunjukkan betapa ia sangat memahami luar dalam ‘Fast & Furious’ menuju ledakan-ledakan emosi yang menghanyutkan kita semua ke dalam loving tribute ke Paul Walker di pengujung filmnya. Film-film lain mungkin akan dengan mudah menghabisi atau mengganti karakternya, tapi ‘Fast & Furious’ punya cara lain untuk memberi jalan ke lovable character itu buat meninggalkan fans-nya secara sangat menggetarkan di tengah alunan lagu ‘See You Again’-nya Wiz Khalifa feat. Charlie Puth, all in the vein of the franchise’s hiphop soundtracks. It was a really glorious one last ride, hingga akan dikenang jauh setelah episode tragedi nyatanya berakhir disini.

           Dan itulah hal terbaik yang menyempurnakan ‘Furious 7’ sebagai salah satu instalmen terbaik dalam franchise-nya. Oh yes, ‘Fast Five’ tetaplah sebuah titik balik yang luarbiasa dibalik permainan pace dan ritme yang tepat, but having the right setups, perfect team, jaw-dropping actions and mostly those loving tributes untuk menutup filmnya bersama flashback sequence yang sekali lagi menjelaskan family conclusion-nya, they never miss a single thing which made the franchise Fast and Furious. For Paul, they have soared it loud and clear. Sky’s the limit. (dan)

furious 7b

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,461 other followers