TALAK 3: A FAIR SHARE OF PLAY BETWEEN STARS

•February 7, 2016 • Leave a Comment

TALAK 3

Sutradara: Hanung Bramantyo & Ismail Basbeth

Produksi: MD Pictures, 2016

Talak 3

            Ada kecenderungan sekarang di film kita untuk mengeksplorasi setting Jogja dan talenta-talenta lokal sekitarnya, atau at least yang punya latar dari sana. Tak mengapa juga, karena daerahnya memang merupakan salah satu penghasil terbesar sineas kita selain ibu kota, selain punya atmosfer seni sangat kuat dari budaya-budaya yang ada. Tapi yang lebih menarik, dalam kolaborasi style yang beragam terhadap kepentingan industri, ada usaha-usaha untuk menyandingkan ide-ide buat menyajikan tontonan yang lebih berbobot. Memihak pasar di satu sisi, tapi tak melupakan idealisme orang-orang yang ada di baliknya. Setelah ‘Mencari Hilal’, Hanung Bramantyo dan Ismail Basbeth kembali berkolaborasi dengan pola kemudi berbeda dalam sebuah romcom, yang mungkin tak tepat juga disebut sekedar romcom, karena ada konten drama yang kuat di dalamnya.

            Lebih dari itu, tentulah kolaborasi aktor-aktor yang ada di dalamnya sebagai star factor yang kuat, yang jelas masih jadi salah satu faktor terpenting dalam konteks film sebagai komoditi. Vino G. Bastian, Reza Rahadian dan Laudya Cynthia Bella dalam kolaborasi pertama mereka, jelas sudah memberi dayatarik lebih buat ‘Talak 3’. Apalagi wrapping taktisnya untuk memuat unsur reliji di luar sosok Bella yang sekarang mengenakan hijab tak lantas harus jadi tipikal, tanpa juga harus terlalu beresiko menyentil, satu yang kerap jadi high risk issues bagi sebagian pemirsa sensitif di film-filmnya Hanung, karena pendekatan isu sosialnya diarahkan penulis naskah Bagus Bramanti, Salman Aristo dan tim Wahana Penulis ke elemen-elemen berbeda soal korupsi di skup-skup terkecil tatanan sosial tadi. Okelah, ia mungkin dijual sebagai romcom, tapi percayalah, ‘Talak 3’ lebih dari sekedar itu, dan punya pula serangkai gimmick lain yang tak kalah memikat.

            Kita pun dibawa ke permasalahan karakter-karakternya begitu film dibuka. Di balik motivasi soal kredit macet atas rumah yang nyaris disita bank, pasangan suami istri pekerja EO Bagas (Vino G. Bastian) dan Risa (Laudya C. Bella) yang sudah bercerai dengan status talak 3 – yang dijatuhkan Bagas setelah riwayat perselingkuhannya dengan penyanyi dangdut Siska Gotik (Mozza Kirana), terpaksa bekerja sama merayu Inggrid (Tika Panggabean) untuk mendapatkan sebuah proyek ekshibisi buat menyelesaikan masalah finansial ini. Proses itu membuat mereka menyadari masih saling cinta dan memutuskan rujuk kembali, namun tentu saja tersandung putusan talak 3, dimana untuk rujuk, selain perlu waktu, harus pula melalui Muhalil yang terlebih dahulu menikah dengan Risa untuk kemudian bercerai. Mencoba mengakali segala aturan yang ada namun gagal karena birokrasi jujur, mereka akhirnya memilih Bimo (Reza Rahadian), partner sekaligus sahabat Risa sejak kecil untuk berpura-pura menjadi Muhalil. Meski awalnya menolak, Bimo akhirnya setuju membantu Bagas dan Risa. Bukannya makin mulus, masalah baru pun muncul kala rahasia yang selama ini disimpan Bimo rapat-rapat dari kehidupan mereka bertiga mulai terkuak pelan-pelan. The heart won’t lie.

            Bukan berarti paduan visi komersil Hanung dan idealisme Basbeth tak menyatu dengan padu, namun fondasi terkuat ‘Talak 3’ harus diakui memang ada pada skrip yang dirancang Bagus Bramanti, Salman Aristo dan tim Wahana Penulis dengan sangat rapi. Satu dari segelintir yang ada, kita bisa melihat proses brainstorming yang mungkin berjalan cukup ketat dalam perwujudannya menjadi sebuah plot utuh. Dan bagusnya, mereka tak serta-merta menempatkan tiga aktor dengan status ‘bintang’ ini ke dalam bentukan karakternya, tapi membiarkan ketiganya masuk ke dalam karakterisasi tadi. Potensinya jelas ada dengan status keaktoran mereka, namun di situ pula, resiko-resiko yang ada dalam plot love rivalry – ini sering terjadi pada film India atau Asia termasuk banyak film kita – dimana saat salah satu aktor dengan fanbase tak main-main harus di-setup untuk jadi pelengkap penderita di pengujungnya, resikonya juga tak sedikit dan sulit juga menghindari ending klise di mana semua bisa mendapatkan pasangan. Apalagi, konflik di third act-nya juga berpotensi membelokkan atmosfer komedi yang sudah kuat sejak awal secara cukup drastis.

           Tapi untungnya, mereka berhasil mengatasi itu. Walau konfliknya terasa dibelit terus sejauh mana mereka bisa, konklusinya tak lantas jadi serba permisif demi happy ending yang menyenangkan semua, dan sematan subplot-subplot yang juga tak bisa dihindari dalam statusnya sebagai film dengan sentuhan reliji, ternyata bisa membentuk blend yang kaya serta informatif pula, tak hanya di soal agama menyangkut aturan Talak 3 – rujuk serta muhalil, tapi juga budaya lokal sesuai setting yang tergambar jelas sampai kulinernya bahkan sepenggal soal intrik EO hingga kritik sosial soal birokrasi. Benar bahwa Hanung dan timnya juga mesti mengorbankan comedy sparks -yang sangat kental di poster serta trailer-nya di paruh akhir ‘Talak 3’ dalam turnover-nya ke dramatisasi yang ada, tapi toh tetap tak lupa membangun relevansi subplot-subplot tadi untuk sesekali meledakkan tawa di tengah emosinya. Dan yang terpenting, membuat kita, pemirsanya, bisa masuk, peduli serta setuju dengan kewajaran motivasi serta pilihan-pilihan karakternya. Tak langsung diselesaikan saja, tapi melalui proses yang tak juga membuat pacing-nya jadi terganggu. Itu, terus terang, bukan suatu pencapaian yang mudah.

            Benar pula agaknya, sulit membayangkan penerjemahannya bisa sesukses itu bila cast-nya bukan VinoReza dan Bella. Interaksi akting dan chemistry mereka, yang hadir tanpa canggung satu sama lain kala dihadapkan bersama, menghidupkan tiap porsi pembagian karakternya yang digagas dengan rapi di atas balance yang sangat baik, memang membuat ‘Talak 3’ jadi terasa begitu hidup bersama dukungan supporting cast yang rata-rata juga tampil sangat proporsional. Ada para standup comedian seperti Mo Sidik dengan quote highlight bergestur asyik ‘Salam Cinta’-nya, Cak Lontong, Gareng Rakasiwi dan Totos Rasiti, lantas Tika Panggabean, Mike Lucock dan Sitoresmi Prabuningrat (credited as H.J. Ray Sitoresmi), tapi yang paling mencuri perhatian adalah Dodit Mulyanto sebagai Basuki si PNS idealis dan Hasmi, kreator legendaris superhero IndonesiaGundala’ yang tanpa diduga bisa melucu sehebat kru Srimulat lengkap dengan hints ke karakter ciptaannya.

            Selebihnya, ‘Talak 3’ juga masih punya kekuatan dari tata teknisnya yang sekilas boleh jadi terlihat biasa saja, tapi di antara yang ada, termasuk yang sangat relevan mengeksplor ragam set Jogja-nya dari sinematografi Satria Kurnianto, tata artistik Hastagus Ekayana,  scoring dan lagu besutan Krisna Purna yang jauh lebih eksploratif dari film yang menyemat kemenangannya di FFI barusan, serta penyuntingan Wawan I. Wibowo yang bisa meng-handle timing-timing komediknya dengan tepat. Ini semua memang bekerja dengan baik di balik kolaborasi talenta-talenta yang ada, membuat ‘Talak 3’ jadi salah satu romcom terunggul dalam sinema kita. A fair share of play between stars with good laughs, and great hearts, too. (dan)

THE FINEST HOURS: A CORNY, OLD FASHIONED YET ENTERTAINING DISNEY STUDIO FEATURE

•February 5, 2016 • Leave a Comment

THE FINEST HOURS

Sutradara: Craig Gillespie

Produksi: Walt Disney Pictures, Whitaker Ent., Red Hawk Ent., 2016

The Finest Hours poster

            Diangkat dari buku berjudul sama karya Michael J. Tougias dan Casey Sherman, ‘The Finest Hours’ adalah sebuah kisah nyata penyelamatan kru kapal SS Pendleton oleh US Coast Guard di garis pantai Cape Cod, New England tahun 1952. Genre-nya memang sebuah historical disaster drama, namun ini adalah produksi Walt Disney Pictures, yang mungkin menarik garis batas beda dengan genre sejenis seperti ‘The Perfect Storm’ yang jauh lebih grande, walaupun sama-sama berstatus blockbuster. Sutradara Craig Gillespie dari ‘Lars and the Real Girl’ dan ‘Fright Nightremake sebelumnya juga sudah pernah bergabung dengan Disney di ‘Million Dollar Arm’.

            Di tengah rencana pernikahannya dengan Miriam (Holliday Grainger), Bernie Webber (Chris Pine), petugas penjaga pantai di Cape Cod malah mendapat penugasan dari atasannya, Daniel Cluff (Eric Bana) yang tak berpengalaman untuk menyelamatkan kapal tanker SS Pendleton yang terbelah dua akibat badai Nor’Easter di tengah lautan. Masalahnya, selain kru yang terbatas – hanya tiga orang; Andrew Fitzgerald (Kyle Gallner), Ervin Maske (John Magaro) dan Richard Livesey (Ben Foster), misi yang menempatkan mereka menembus situs gosong pasir di tengah badai besar dengan kapal berkapasitas 12 orang, terlihat seperti misi bunuh diri.

            Oleh sutradara Craig Gillespie dan desain produksinya, dari awal tampilan logo Walt Disney Pictures, sebagian dari kita mungkin bisa menangkap bahwa ‘The Finest Hours’, sesuai set era kisah nyatanya, memang secara disengaja digagas di atas sebuah konsep trivial ke style konvensional film-film live action jadul klasik Walt Disney tahun ’50 ke ‘70-an dengan hampir keseluruhan bangunan set seolah di dalam studio. Begitupun skrip yang ditulis oleh Eric Johnson, Scott Silver dan Paul Tamasy, tak perlu muluk-muluk mencoba beranjak dari pakem-pakem tipikal ke one dimensional characters-nya.

       Walau efek spesialnya bukan kacangan, termasuk desain produksi Michael Corenblith yang paling terlihat di interior set SS Pendleton, namun balutan trivial ini berpotensi membuat pemirsanya bingung setelah selama ini digempur dengan teknologi jauh lebih di film-film blockbuster bergenre sejenis. Konsep konvensionalnya tadi memang menarik garis batas ‘The Finest Hours’ tampil lebih berupa tontonan keluarga tanpa ketegangan yang diharapkan banyak penonton sekarang, jauh lebih ringan dari tampilan poster serta trailer-nya. Corny luarbiasa, tapi tetap memuat rekonstruksi heroik  serta patriotik  dari miraculous true event-nya.

           Begitupun, selain ide kisah nyata penuh keajaiban tadi, ensemble cast-nya masih bisa muncul sebagai dayatarik yang cukup menghibur. Walau Eric Bana tak termasuk faktor pentingnya, ada Chris PineBen Foster, serta Casey Affleck dan John Ortiz sebagai kru kapal tanker SS Pendleton yang berjuang menunggu usaha penyelamatan berikut sinematografi Javier Aguirresarobe dan scoring bagus dari Carter Burwell. Sementara penampilan Holliday Grainger yang classic looks-nya terasa pas dan mengingatkan kita ke aktris ’90-an Gretchen Mol juga layak dilihat. Bagi yang mengerti pendekatan trivial – konvensionalnya, ‘The Finest Hours’ mungkin tak punya masalah, namun bagi yang lain, ia bisa kelihatan tak spesial dan mundur dari teknologi sinema sekarang, itu benar. A corny, old fashioned yet entertaining Disney studio feature. (dan)

THE REVENANT: REVENGE IS A DISH BEST SERVED COLD

•February 3, 2016 • Leave a Comment

THE REVENANT

Sutradara: Alejandro G. Iñárritu

Produksi: Appian Way, RatPac – Dune, Regency Enterprises, 20th Century Fox, 2015

the revenant

          Dari ‘Amores Perros’, ‘21 Grams’, ’Babel’ ke ‘Birdman’, selalu ada yang spesial dari Alejandro G. Iñárritu dan kualitas award contender-nya. ‘The Revenant’ sejak jauh-jauh hari juga sama. Sudah mendapat sorotan spesial atas usaha yang ditempuh Iñárritu bersama seluruh kru termasuk Leonardo DiCaprio bertarung melawan kerasnya alam dari Calgary dan Fortress Mountain, Alberta ke Squamish, British Columbia hingga ujung Selatan penuh salju di Argentina demi gambaran realitanya, melawan hipotermia bahkan memakan hati bison dan tidur di perut bangkai binatang, ini memang jauh lebih spesial ketimbang dua elemen plot biasa-nya; soal balas dendam dan pertahanan hidup – yang digabungkan menjadi sesuatu yang kelihatan baru. Belum lagi, soal pencapaian visualnya. Deeply visceral and also beautifully poetic – oh ya, ‘The Revenant’ memang di-shot dan di-desain oleh kru-kru sutradara Terrence Malick biasanya, yang selalu mengedepankan visual, packaging keseluruhannya memang jadi sangat beda.

            Diinspirasi dari pengalaman nyata frontiersman – fur trapper (penangkap hewan liar/pemburu kulit hewan) di Montana, South Dakota tahun 1823 lewat buku karya Michael Punke, pemburu berpengalaman Hugh Glass (DiCaprio) di bawah komando Andrew Henry (Domnhall Gleeson) dari The Rocky Mountain Fur Company dan kelompoknya terpaksa meninggalkan perahu, meneruskan ekspedisi berjalan kaki setelah serangan Indian Arikara. Keputusan ini ditentang sebagian kru-nya, terutama John Fitzgerald (Tom Hardy) yang belakangan membunuh anak angkat Glass, Hawk (Forrest Goodluck), seorang keturunan Indian saat Glass terluka parah akibat diserang beruang grizzly dan meninggalkan Glass terkubur hidup-hidup. Mencoba bertahan hidup hingga ia bertemu seorang Indian Pawnee, Hikuc (Arthur Redcloud) yang memberinya pertolongan, Glass pun kemudian bertolak memburu Fitzgerald untuk membalaskan dendamnya.

            Tak seperti film-film Iñárritu lainnya, sentuhan inovatif-nya dalam ‘The Revenant’ yang baru saja memenangkan Golden Globe untuk Film Drama Terbaik, DiCaprio dan Iñárritu sendiri, memang lebih terletak pada presentasi film ketimbang plot-nya. Benar bahwa subplot-nya menawarkan informasi lebih atas gambaran kehidupan alam liar di set tempat dan waktunya, soal ekspedisi dan intrik perdagangan kulit plus serbuan suku Indian liar, namun visualnya-lah yang paling luarbiasa.

             Tetap dibesut Emmanuel Lubezki yang juga memenangkan Oscar lewat ‘Birdman’, rentetan visual dan usaha tanpa kompromi menggambarkan keganasan alam lewat rangkaian adegan luarbiasa sadis, challenging our guts over and over – termasuk adegan jagoan ‘bear-rape‘ dengan sentuhan CGI groundbreaking itu, turut jadi salah satu peran utama dalam ‘The Revenant’. Bahkan tanpa harus melulu dipenuhi set bersalju, bisa membuat tampilan keseluruhannya terasa sama dingin dengan hypothermic atmosphere-nya. Sungguh tak mudah membangun set yang bisa seolah ikut berbicara dalam penceritaan keseluruhannya.

               Seindah visual film-film Terrence Malick, tapi pendekatan puitisnya tak sampai menahannya buat tak bisa bercerita secara universal lewat skrip yang ditulis Iñárritu dan Mark L. Smith (‘Vacancy’ dan ‘The Hole’-nya Joe Dante). Skrip itu tak spesial, tapi bagusnya, eksploitasi kesadisannya dihadirkan dengan cara berbeda buat menggedor jantung pemirsanya. Plus dukungan scoring menyayat-nyayat dari Ryuichi Sakamoto dan Alva Noto, Iñárritu memang membesut ‘The Revenant’ dengan eksplorasi rasa, dan itu yang membuatnya luarbiasa. One of the most astounding cinematography ever in movie history.

              Selebihnya, jelas akting DiCaprio yang kali ini seperti tanpa tanding. Sekilas boleh jadi kelihatan tak sehebat rival-rival-nya – di luar usahanya bersama kru lain melawan tempaan alam, namun menerjemahkan penderitaan dan rasa sakit mendalam dari karakter Glass, defining human threshold dengan body act dan ekspresi luarbiasa, tak salah rasanya kalau kali ini DiCaprio mendapatkan Oscar pertama setelah kemenangannya di Golden Globe. Masih ada pula dukungan tak kalah hebat dari Domhnall Gleeson, Will Poulter dan Tom Hardy yang masuk belakangan menggantikan Sean Penn, serta native actors yang bermain sangat meyakinkan memerankan karakter mereka masing-masing. While survival might be another thing, here, dengan hampir semua elemen yang ada dalam ‘The Revenant’, revenge is a dish best served cold. (dan)

SURAT DARI PRAHA: A WONDERFUL SONATA OF SOUL-SEARCHING AND BROKEN PROMISES

•January 29, 2016 • Leave a Comment

SURAT DARI PRAHA

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko

Produksi: Visinema Pictures, Tinggikan Production, 13 Entertainment, 2016

Surat dari Praha

            Filmmaking adalah konsistensi. Tak banyak mungkin sineas kita yang punya itu. Tapi dari sedikit yang ada, Angga Dwimas Sasongko adalah salah satunya. Oke, ‘Jelangkung 3’ (2007) – yang berada di antara dua film dengan cast bagus namun tak banyak dikenal karena tak mampir ke bioskop; ‘Foto, Kotak dan Jendela’ (2006; film perdananya) dan ‘Musik Hati’ (2008) dalam filmografinya – mungkin belum lagi apa-apa. Tapi lihat ‘Hari Untuk Amanda’ (2010) – yang masih sangat diingat sampai sekarang di balik status ‘everyone’s favorite’ dan 8 nominasi FFI (Festival Film Indonesia) 2010, berlanjut ke produksi dari rumah produksinya sendiri, Visinema Pictures; ‘Cahaya Dari Timur: Beta Maluku’ yang memenangkan Piala Citra untuk Film Terbaik 2014 dan ‘Filosofi Kopi’. Ada batasan berbeda sebagai tontonan komersil namun berkelas di film-film itu, dan seperti kata Angga, ia tak pernah muluk-muluk mengejar angka sejuta penonton dalam idealismenya sebagai sutradara.

            ‘Surat dari Praha’ merupakan eksplorasi berbeda lagi sebagai karya selanjutnya dari Angga. Memuat idealismenya tentang politik – oh ya, sebelum disibukkan oleh proyek-proyeknya di Visinema, Angga memang sering terdengar cukup vokal di sosmed – atas hobinya melahap buku-buku sejarah yang akhirnya membawa Angga pada sebuah film pendek karya Farishad LatjubaKlayaban: A Tale of an Outcast’ (2004) tentang para eksil Indonesia 1965 di Praha yang tak bisa pulang ke kampung halaman mereka atas situasi politik dan status ‘stateless’ tanpa kewarganegaraan (so no, ini sudah menjawab tuduhan-tuduhan tak mengenakkan tentang plagiarisme atas sebuah novel berjudul sama yang marak menjelang filmnya dirilis). Begitupun, ide ini tak lantas membuat ‘Surat dari Praha’ menjadi film politik.

            Instead, menjadikannya sebuah latar yang kuat, Angga mengarahkan ‘Surat dari Praha’ tetap sebagai sebuah romansa yang dikombinasikan bersama kolaborasi ketiganya dengan Glenn Fredly – dimana musik tetap jadi sebuah elemen penting dan di sini makin menguat menjadi salah satu soul terbesar dalam elemen storytelling dari skrip Irfan Ramli (‘Cahaya dari Timur’) lewat dua lagu Glenn dalam rendition baru dari cast-nya sendiri, Julie Estelle dan Tio Pakusadewo (credited as Tyo Pakusadewo). Tak main-main, ia sampai melakukan riset selama sebulan, terjun langsung menggali inspirasi dari kelompok Mahasiswa Ikatan Dinas (MAHID) di sana.

            Memilih berpisah dari suami (Chicco Jerikho ; as co-producer, too) yang menyia-nyiakannya, Larasati (Julie Estelle) terpaksa memenuhi permintaan terakhir ibunya, Sulastri (Widyawati) lewat sebuah surat wasiat untuk mengantarkan sebuah kotak pada Jaya (Tyo Pakusadewo), seorang eksil 1965 yang menyambung hidup sebagai janitor concert hall di Praha. Di sana, pertemuan yang awalnya tak berlangsung mulus itu pelan-pelan mulai mengantarkan keduanya menelusuri masa lalu masing-masing, di atas luka dan kekecewaan hubungan yang mulai terkuak satu-persatu.

            No. ‘Surat dari Praha’ bukanlah sebuah rhapsody seperti penggalan salah satu lagu Glenn yang mengiringi film ini. Bukan juga sebuah simfoni yang dipenuhi orkestrasi. Lebih berupa sebuah sonata, nyaris sebuah partitur solo yang digelar bak sebentuk chamber piece untuk menggambarkan kekosongan jiwa (very) limited characters-nya, tanpa juga mengeksplorasi eksotisme set Praha – tapi justru lebih bermain di set-set indoor yang terasa agak claustrophobic – lewat skrip penuh dialog puitis dari Irfan, Angga membiarkan ‘Surat dari Praha’ bergerak sangat perlahan setelah intro dari opening scene, bak introductory remarks yang kelihatan normal-normal saja.

            Namun justru di situlah kekuatan interaksinya kemudian dibangun secara distinctive dengan pendekatan yang memang tak sepenuhnya terasa mainstream – bahkan dengan feel arthouse yang lumayan kuat – namun tanpa sekalipun menahan emosinya untuk bergerak perlahan. Seperti komposisi yang bergerak pelan lewat satu-persatu tuts piano yang mulai dimainkan, yang juga jadi bagian penting dalam penceritaannya, konfliknya mulai berbaur di atas paduan penggalan sejarah politik dan kisah romansa tentang pencarian jiwa dan janji-janji tak terwujud. Cinta, keteguhan dan kesetiaan. Angga dan timnya tak lantas juga membiarkannya dipenuhi penjelasan linear tapi membiarkan pemirsanya menerjemahkan tiap tahap proses interaksi Jaya dan Larasati hingga membentuk paduan melodi dengan iringan kuat menuju finale emosional yang meluluhlantakkan jiwa kita, membuat leher tercekat dan menyesakkan dada tapi sama sekali tak cengeng. Luarbiasa cantiknya.

            Tata teknis yang mengiringi penceritaan dan scene-building-nya pun tak kalah cantik. Sinematografi Ivan Anwal Pane yang terasa sangat dinamis memanfaatkan angle-angle sempit dari dominasi indoor set-nya, tata suara Satrio Budiono dan scoring Glenn FredlyThoersi Argeswara dalam blend ke silent atmosphere-nya, artistik dari Yusuf Kaisuku hingga penyuntingan Ahsan Adrian yang terlihat piawai sekali menerjemahkan musik bersama gaya tutur Angga di sejumlah adegan-adegan terpentingnya terutama di adegan paling juara; piano duet dengan intimacy yang halus tapi luarbiasa mendalam seolah coda sempurna yang mengantarkan kita ke finale-nya.

            Di atas semuanya, soul terkuat ‘Surat dari Praha’ memang hampir sepenuhnya terletak di tangan Julie Estelle dan Tyo Pakusadewo dengan ascending chemistry-nya yang berproses dengan begitu sempurna. Dialog-dialog dalam skrip Irfan bisa jadi terkesan lebih puitis ketimbang natural, namun penyampaian Julie dan Tyo berhasil mengantarkannya jadi satu komposisi yang padu. Kapasitas Tyo mungkin tak lagi perlu ditanya dengan kematangan akting yang terus semakin menanjak, tapi bagi Julie Estelle, ini adalah sebuah pencapaian beda yang belum pernah kita lihat di film-film dia sebelumnya. Ada beberapa karakter tambahan termasuk Dewa yang juga diperankan dengan batasan porsi yang baik oleh Rio Dewanto untuk memuat kompromismenya berikut product placement yang meski cukup rapi tapi tetap tak sepenuhnya tersembunyikan, serta jangan lupakan juga penampilan Bagong – anjing setia peliharaan Jaya yang tak lantas dihadirkan sebatas gimmick.

            Sementara penyanggah terbesarnya tetap ada pada penampilan Widyawati, yang meski tak banyak, namun ditempatkan dengan tepat, respectful atas sosoknya, bahkan hanya lewat voice act bisa mengoyak-ngoyak perasaan pemirsanya di soul-wrenching finale itu. Dan seperti sebuah partitur musik, semua berjalan di atas paranada iringan dengan harmonisasi cantik dari Glenn Fredlys ballad renditionsNyali Terakhir’ (dibawakan Julie Estelle) dan ‘Sabda Rindu’ (Tyo Pakusadewo) yang bukan lagi sekedar menjadi theme song pengisi soundtrack-nya, tapi juga peran utama sama besar dalam ‘Surat dari Praha’.

        So yes, kita memang jarang, bahkan mungkin tak punya presentasi seperti ini sebelumnya. Sebuah paduan drama romansa, both a beautiful love letter or love poem yang penuh luka yang menyayat di balik traumatic ideas soal sejarah gelap politik – tetap vokal dengan bisikan, bukan harus lantang berteriak, yang dibalut sempurna dengan penerjemahan musik yang begitu menyatu dalam penceritaan yang begitu sulit membuat kita tak jatuh cinta hingga memandangnya jadi sempurna. Mungkin ia hanya sonata, tapi kekuatannya menyentuh rasa, luarbiasa. Like a wonderful one, ‘Surat dari Prahacrawls into your heart and lead you to a soul-wrenching finale. Luarbiasa. (dan)

DILWALE: CLASSIC ON-SCREEN COUPLE AND A PURE MASALA ENTERTAINMENT

•January 25, 2016 • Leave a Comment

DILWALE

Sutradara: Rohit Shetty

Produksi: Red Chillies Entertainment, Rohit Shetty Productions, 2015

Dilwale

            Ada alasannya kenapa Shah Rukh Khan dijuluki ‘King of Bollywood’ di era sekarang atas konsistensinya menarik penonton sejak ‘Dilwale Dulhania Le Jayenge’ berlanjut ke ‘Dil To Pagal Hai’ dan puncak dari segalanya, ‘Kuch Kuch Hota Hai’ yang membawa nama Bollywood ke status internasional. Masih banyak pula film-film sukses fenomenalnya setelah itu, namun ada kekuatan ekstra kala ia dipasangkan dengan Kajol atas kesuksesan ‘Dilwale Dulhania Le Jayenge’. Dalam konteks ‘on-screen couple’, yang tak bisa begitu saja dicapai semua pasangan aktor, status Shah Rukh dan Kajol adalah klasik. Karena itu pula, ‘Dilwale’ yang terang-terangan dibangun atas tribute itu, bahkan dengan penggalan judul dan lagu sama walaupun bukan sekuel, menjadi satu yang paling ditunggu fans mereka di pengujung tahun lalu.

            Bekerja sebagai pemilik bengkel mobil, Raj (Shah Rukh Khan) bersama rekan-rekannya selalu menjadi pelindung bagi Veer (Varun Dhawan), adik Raj yang kerap membuat masalah, termasuk ketika ia berselisih dengan komplotan gangster King (Boman Irani). Namun masalah yang lebih serius justru datang ketika Veer jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Ishita (Kriti Sanon), karena hubungan mereka tanpa disadari Raj membawanya kembali bertemu dengan Meera (Kajol), kakak Ishita, dan mulai membuka rahasia identitas masa lalu mereka yang selama ini disimpan Raj rapat-rapat dari Veer, dan begitu juga Meera terhadap Ishita.

            Berbeda dari ‘Kuch Kuch Hota Hai’ bahkan ‘Dilwale Dulhania Le Jayenge’ sebagai drama cinta mengharu-biru, ‘Dilwale’ adalah filmnya Rohit Shetty, sineas yang terkenal punya spesialisasi genre Bollywood yang dikenal dengan istilah ‘hindi masala’, mencampuradukkan action, komedi dan drama dalam porsi bombastis ala India. Lihat saja apa yang sudah dilakukannya dengan hit-hit terbaiknya dari ‘Singham’ ke ‘Chennai Express’. Paduannya memang kerap terkesan absurd dengan misplacement comedies dan dramatisasi plus adegan-adegan aksi over the top, namun tentu tetap menjual satu hal yang digemari penggemar film Bollywood, hiburan murni.

            Begitupun, segala absurditas itu tentu tak lagi jadi masalah dengan hampir keseluruhan filmnya yang memang diarahkan untuk mengeksploitasi status klasik kolaborasi Shah Rukh dan Kajol. Dengan cast dua bahkan tiga generasi dari penampilan spesial Vinod Khanna dan bintang senior berstatus internasional, Kabir Bedi (‘Octopussy’ & ‘Thief of Baghdad’) – termasuk bakat muda Varun Dhawan dan Kriti Sanon – aktris yang memulai debutnya dari film TeluguNenokkadine’, tampilan serba cantik dan wah, meski bukan tergolong film yang dipuji-puji kritikus, semua lapisannya bekerja memberikan hiburan murni buat penontonnya. Masih ada pula song numbers yang bagus dari Pritam Chakraborty terutama ‘Gerua‘ dan ‘Janam Janam‘ yang populer sampai ke sini. Tapi di atas semua, jelas Shah RukhKajol yang merupakan kunci daya jualnya. Buktinya, lewat sebulan awal penayangannya, layar bioskop yang memutar ‘Dilwale’ masih terus dipenuhi penonton. A pure masala entertainment. (dan)

MIDNIGHT SHOW: A FUN SPLATTER FEST OVER TRIVIAL ATMOSPHERE OF OUR ‘90S CINEMA

•January 18, 2016 • 1 Comment

MIDNIGHT SHOW

Sutradara: Ginanti Rona Tembang Asri

Produksi: Renee Pictures, 2015

midnight show

            Meski ada, walaupun jadi salah satu genre yang tak pernah mati in terms of movies, tak banyak film ber-genre slasher thriller dalam sejarah sinema kita, apalagi kalau bicara soal kualitas. Tipiskan lagi menjadi (blood) splatter fest, maka yang tinggal mungkin tak sampai hitungan jari. Selain Mo Brothers, tentunya, kini produksi ke-4 Renee Pictures, rumah produksi yang dimotori oleh Gandhi Fernando (bersama Laura Karina) dan terus menyuguhkan diversifikasi genre berbeda di film-film produksinya, mencoba mengeksplorasi genre ini. Biar tak punya pengalaman, bukan berarti amunisinya tak ada. Menggamit Ginanti Rona Tembang Asri, sutradara wanita pula, yang meski dulu pernah terekam kreditnya dalam salah satu melodrama kultur Batak yang terlupakan, ‘Rokkap’, namun setelah itu berada di balik ‘Rumah DaraMo Brothers dan ‘The Raid’ serta segmen ‘Safe Haven’-nya Gareth Evans di ‘V/H/S 2’ sebagai assistant director.

Sudah begitu, ide cerita dari Gandhi pun terasa cukup fresh. No, bukan tak ada sebelumnya horror berlatar gedung bioskop yang kesannya sangat trivial buat para fans dan moviegoers. Namun referensi Ginanti Rona (Gita) mungkin membuat kemasan ‘Midnight Show’ jadi berbeda selain juga tak berada di genre yang sama. So, lupakan tuduhan-tuduhan terhadap ‘Coming SoonThailand ataupun ‘Demons’-nya Dario Argento. Ada pendekatan-pendekatan giallo yang cukup kental, namun dibangun di atas atmosfer trivial ke scene sinema kita tahun ’90-an, dan mereka membangunnya dengan keseriusan tinggi dari set hingga sempalan artistik yang memang tak dimaksudkan benar-benar nyata karena kotak terbesar filmnya tetap ada di genre fantasi.

            Selanjutnya tentu saja lineup cast-nya. Okay, mungkin masih terus ada kritikan atas acting effort Gandhi yang jelas tak juga salah buat memilih kontrol penuh di film-film produksinya sendiri, sementara Ratu Felisha sudah cukup akrab dengan genre-genre sejenis, namun tentu juga naik kelas dalam skup produksinya. Tapi yang paling menarik adalah pemilihan Acha Septriasa sebagai lead-nya. Sudah terlalu lama agaknya status Acha sebagai salah satu nama di lini terdepan diva sinema kita terus-menerus diuji dalam genre drama atau romcom, hingga saat ia mencoba keluar dari comfort zone itu, hasilnya pasti sebuah ekspektasi tinggi.

            Mengambil setting di sebuah bioskop bernama Podium tahun 1998 – saat sinema kita tengah berjuang dengan film-film miskin kualitas, pemilik bioskop Pak Johan (Ronny P. Tjandra) mempertaruhkan masa depan usahanya pada pemutaran midnight show film ‘Bocah’ yang diangkat dari kisah nyata seorang anak bernama Bagas (dalam sekuens kejadian aslinya diperankan Raihan Khan) yang membantai keluarganya sendiri. Dengan tiga pegawai yang bertugas, Juna si projectionist (Gandhi Fernando), Allan (Daniel Topan) dan counter girl Naya (Acha Septriasa), penonton memang berdatangan, diantaranya ada Guntur (Ade Firman Hakim), Seno (Arthur Tobing), pasangan PSK dan pelanggannya Sarah dan Ikhsan (Ratu Felisha dan Boy Harsya), namun seketika pemutaran itu berubah menjadi teror yang menempatkan nyawa mereka berada di ujung tanduk atas amukan sosok misterius yang mulai membantai semuanya satu-persatu.

            Okay. Mengeksplorasi genre yang masih tergolong rare di sinema kita ini, ‘Midnight Show’ dengan skrip yang ditulis oleh Hussein M. Atmodjo bukan sama sekali tak punya kekurangan. Penggarapannya secara keseluruhan masih meninggalkan beberapa diskontinuitas yang agak mengganggu, and if not plot holes, kita bisa melihat bahwa ada jalinan twist – yang meski bukan tak bagus, agak berputar dengan tingkat kesulitan visual lumayan tinggi yang mungkin belum terlalu bisa diserap begitu saja proses-prosesnya oleh kebanyakan penonton kita. Penempatan dialog-dialog buat membangun motivasi dan pengenalan karakternya juga tak sepenuhnya sempurna dengan taruhan terbesar pada konsistensi pace-nya.

            However, kekurangan-kekurangan ini cukup bisa tertutupi atas kesetiaan Gita membangun wujudnya sebagai pure genre movies – yang lagi-lagi jarang-jarang ada di film kita – atas  referensi-referensi yang dimilikinya dengan pengalaman tadi. Feel splatter fest-nya memang kelihatan sekali digagas tanpa kompromi. Ada detil dan perhitungan-perhitungan yang cukup cermat dan jelas terlihat dalam bangunan feel ini secara keseluruhan, dari tata artistik Aek Bewava, pace editing Andhy Pulung serta kamera Joel Fadly Zola yang cukup taktis meng-handle single & claustrophobic set itu termasuk theme song moody-jazzy berjudul ‘Sang Penikam’ yang dibawakan penyanyi Malaysia Mohd. Noh Salleh, hingga satu elemennya yang terbaik, trivial atmosphere-nya menyemat permainan hidup dan mati para karakter itu di atas set bioskop jadul akhir ’90-an yang dibangun dengan keseriusan tinggi. Tata suara dan sound dari Jerapah pun membentuk blend yang bagus ke bombastisme feel giallo serta splatter fest-nya.

            Deretan cast-nya juga bermain cukup baik. Ada usaha dengan peningkatan cukup baik dari Gandhi sendiri, lantas sementara Ratu Felisha memang selalu bisa bekerja di genre-genre sejenis, ada beberapa yang menonjol diantaranya Gesata Stella, Ronny P. Tjandra, Ade Firman Hakim, pemain senior Arthur Tobing, pemenang Piala Citra 2014 Yayu A.W. Unru dalam penampilan singkatnya, cameo Zack Lee hingga Ganindra Bimo, news presenter – actor yang baru kali ini benar-benar mengeksplorasi aktingnya dengan hasil cukup mengejutkan. Tapi kredit terbaiknya tetap terpulang pada Acha Septriasa yang ternyata bisa beranjak dari comfort zone tadi memerankan Naya tanpa harus berlebay-lebay menjadi sekedar scream queen seperti yang dibutuhkan genre sejenis.

            So, ini memang bukan saja memberikan pencapaian paling baik dari usaha Gandhi dengan Renee Pictures-nya mengeksplorasi diversifikasi genre film-filmnya, tapi juga berhasil tampil sebagaimana yang mereka mau dengan faktor keberanian cukup tinggi dalam segala effort-nya. Dengan pameran cipratan darah yang tak berusaha buat ditahan-tahan dalam memberikan cinematic experience seru buat fans genre-nya, juga kekuatan trivial atmosphere tadi, ‘Midnight Show’ menjadi sajian pembuka tahun yang sangat layak buat disimak. A fun splatter fest over trivial atmosphere of our ‘90s cinema! (dan)

 

THE BIG SHORT : THE IMPORTANT YET ALSO EGOCENTRIC CAUTIONARY TALE OF FINANCIAL CRISIS

•January 17, 2016 • Leave a Comment

THE BIG SHORT

Sutradara: Adam McKay

Produksi: Plan B Entertainment, Regency Enterprises, Paramount Pictures, 2015

the big short

            Sebagai salah satu Oscar contender dan ajang-ajang penghargaan sejenis tahun ini, ‘The Big Short’ adalah sesuatu yang unik. Bukan hanya karena cast-nya terisi oleh nama-nama besar dari Christian Bale, Ryan Gosling, Steve Carrell sampai Brad Pitt, tapi mengangkat subjek penting dari krisis finansial 2007-2008 yang menimpa AS dan mungkin juga global akibat penggelembungan kredit di balik pasar real estate, diangkat dari buku berjudul sama karya Michael Lewis, ia memilih cara beda untuk penyampaiannya. Bernada penuh sindiran, kreatornya, Adam McKay, adalah sineas multitalenta yang selama ini lebih dikenal lewat film-film komedi Will Ferrell termasuk produser ‘Daddy’s Home’ barusan.

            Menyorot balik awal-awal krisis itu di tahun 2005, ada sejumlah karakter nyata – based on true events – yang saling berinteraksi dalam ‘The Big Short’. Dokter yang meninggalkan profesinya untuk jadi manajer investasi, Michael Burry (Christian Bale) mengambil tindakan nekad atas prediksinya bahwa pasar penjualan rumah akan kolaps di tahun-tahun berikutnya akibat transaksi swap kredit-kredit investasi yang menggelonjor ke luar batas. Sementara trader Jared Vennett (Ryan Gosling) yang percaya dengan prediksi Burry lantas mengajak manajer investasi lain Mark Baum (Steve Carrell) mengambil tindakan dan menemukan penjualan obligasi hutang aset (CDO) ada di balik prediksi Burry, dan masih ada dua investor muda oportunis (John Magaro & Finn Wittrock) yang menggandeng bankir pensiunan Ben Rickert (Brad Pitt).

            Hal terbaik dari ‘The Big Short’ adalah tampilan satir hingga sarkasmenya, terasa juga penuh kemarahan buat merekonstruksi kejadian aslinya lewat teori-teori yang disampaikan lewat sinematografi Barry Ackroyd, clever use of visual montage dan rapid-fire editing dari Hank Corwin dan menempatkan karakternya, termasuk cameo Margot Robbie dan Selena Gomez dalam teknik ‘breaking the fourth wall’ untuk berbicara bahkan memberi penjelasan pada penonton. Bermain dengan gimmick-gimmick ini, walau juga bukan sepenuhnya baru dan mungkin sudah biasa kita lihat di genre berbeda, McKay seolah membentuk struktur penceritaan yang unik buat menggiring audiensnya ke subjek dan permasalahan kompleks soal krisis finansial yang dibahasnya.

               Akting para aktor kelas satu itu pun jangan ditanya. Nothing was too special about Brad Pitt or Ryan Gosling, namun Bale dan Carrell adalah elemen-elemen terbaiknya. Namun sayangnya, skrip Adam McKay dan Charles Randolph tetap terasa sangat egois bagi pemirsa non-AS yang memang di luar pelaku bisnisnya, pun economy enthusiasts – seolah tak mengalami benar dampak krisisnya secara langsung apalagi yang tak memahami istilah-istilah ekonomi makro dan tetek-bengek lain soal perbankan. Ini membuat ‘The Big Short’, walaupun unik, bagus sekaligus cerdas di satu sisi, buat kebanyakan pemirsa di luar subjek itu memang memerlukan pemahaman lebih untuk bisa benar-benar dinikmati, atau siap-siap keluar dengan kepala pusing bila tak sepenuhnya memahami apa yang tengah mereka bicarakan. Yes, it bears important subjects, but also an egocentric cautionary tale of financial crisis. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 10,379 other followers