TRAIN TO BUSAN (부산행 / BUSANHAENG) ; A HEARTFUL PACKAGE OF K-ZOMBIE RAID FEST

•September 9, 2016 • 2 Comments

TRAIN TO BUSAN (부산행 / BUSANHAENG) 

Sutradara: Yeon Sang-ho

Produksi: RedPeter Film, Next Entertainment World, 2016

train-to-busan

            Tak salah agaknya mengatakan bahwa ‘Train to Busan’ adalah sebuah fenomena di sinema Korsel yang populer dengan sebutan K-Cinema. No, bukan hanya karena statusnya sebagai ‘The first South Korean zombie apocalypse movie’ walau ini masih dipertanyakan sebagian orang. Tapi mungkin dalam subgenre viral outbreak yang mendekati ke film-film a laWorld War Z’ dalam pendekatan zombie raid-nya, bisa jadi. Yang lebih menarik justru statusnya sebagai produksi K-Cinema yang masih tergolong low budget dan dibesut oleh sutradara yang belum terlalu banyak punya track record pula, namun berhasil mencetak record-breaking box office (lebih dari 10 juta penonton) yang sejalan dengan resepsi kritikus dari kiprah awalnya Cannes’ Midnight Screenings Section tahun ini, bahkan sudah siap untuk di-remake oleh Hollywood hanya dalam waktu singkat.

            Set up singkat di awal ‘Train to Busan’ mengenalkan kita pada sosok Seok-woo (Gong Yoo), seorang manajer keuangan yang kerepotan mengurus sendiri putri satu-satunya, Su-an (Kim Su-an). Kesibukan ini akhirnya membuat Seok-woo tak lagi bisa menolak ketika Su-an meminta diantar ke Busan untuk menemui ibunya. Bertolak dari Seoul ke Busan, sebuah virus misterius ternyata bergerak cepat menginfeksi penduduk dengan cepat, termasuk penumpang kereta yang mereka naiki. Bersama Sang-hwa (Ma Dong-seok), istrinya Seong-kyeong (Jung Yu-mi) yang tengah hamil besar beserta beberapa penumpang lain yang bertahan, Seok-woo pun berusaha dengan segala cara buat menyelamatkan Su-an hingga ke titik pemberhentian terakhir.

            Oh ya. Tak ada yang terlalu spesial dari premis itu meskipun platform kereta api yang digunakan sebagai set utamanya secara taktis masih jarang-jarang kita temui dalam film-film zombie raids. Intensitas aksi para zombie dari viral outbreak yang bergerak cepat berkejaran siap memangsa sisa penumpang normal, walau memang menjadi letak kekuatan terdepan yang luarbiasa digelar sutradara Yeon Sang-ho secara luarbiasa seru pun bukan lagi hal baru dalam genre sejenis.

            Namun bagaimana penulisnya, Park Joo-suk – lantas bisa dengan leluasa menyemat elemen-elemen tambahan ke dalamnya, dari studi sosial dengan lapis-lapis karakternya termasuk kritikan ke dampak teknologi hingga satu kekuatan utama sinema mereka dalam heartful treatment ke interaksi-interaksi keluarga, itu yang luarbiasa. Memainkan melodrama a la sinema Korsel dengan fokus yang tepat ke pilihan karakter yang juga mereka gagas dengan sangat taktis, kita sebagai pemirsanya seakan dibawa masuk ke tengah-tengah intensitas itu sambil terus menahan nafas sepanjang durasinya. Caranya menggelar trik-trik tipikal ‘guide to zombie apocalypse’-nya pun luarbiasa unik.

           Di situ pula, Sang-ho dengan mudah membangun empati terhadap karakter-karakter ini, termasuk homeless man yang diperankan Choi Gwi-hwa, dua wanita lansia hingga pasangan siswa sekolah dari tim baseball plus sisi klise dalam menambahkan villain dengan konsep hitam putih lewat karakter Yong-suk (Kim Eui-sung) ke titik konflik interaksi sosial tadi, tapi tak pernah sekali pun terkesan jadi kelewat pasaran. Membuat kita peduli setengah mati terhadap karakter-karakter pilihannya dengan pergolakan emosi dan detak jantung yang terus digedor nyaris tanpa henti.

           Adrenalin kita bisa begitu terpicu menyaksikan karakter Sang-hwa yang diperankan dengan bagus oleh Ma Dong-seok menghajar zombie-zombie itu satu-persatu, juga gregetan dengan eksplorasi dramatik yang menempatkan anak kecil, orangtua hingga wanita hamil ke fokusnya. Sebagai sentralnya, Gong Yoo bermain sangat baik tapi tak akan sekuat itu tanpa bintang cilik Kim Su-an yang memicu permainan emosional di sisi melodramanya.

           Diawali dengan nonstop suspense setelah prolog singkat pengenalan karakternya, ini memang sedikit berbeda dengan gaya tipikal film Korea lain yang biasanya membutuhkan durasi cukup lama. Itu mungkin masih biasa. Namun saat heart factor-nya merangsek masuk dengan sempalan melodrama, ‘Train to Busan’ memang secara total menjadi sebuah zombie raid fest yang luarbiasa unik. Dan seakan belum cukup, di simpul terujungnya yang tetap tak melepas ketegangan menghentak namun siap mengoyak hati dengan pendekatan dramatis yang menjadi signature terkuat sinema mereka, ‘Train to Busan’ benar-benar menemukan jalannya di atas valueone of a kind’ dalam genre sejenis.  Just when we thought a zombie raid fest couldn’t go nowhere far, ‘Train to Busancomes with a solidly different package. One that defines K-cinema’s finest signature. Heart. Ini memang luarbiasa. (dan)

MECHANIC: RESURRECTION; A FUN, ROUSING AND NICE LOOKING ACTION-VAGANZA

•September 8, 2016 • Leave a Comment

iew-2016MECHANIC: RESURRECTION

Sutradara: Dennis Gansel

Produksi: Chartoff-Winkler Productions, Millennium Films, Summit Ent, 2016

mechanic-resurrection

            Selain The Rock, mungkin hanya Jason Statham yang paling eksis serta konsisten sekarang ini sebagai bintang aksi seperti Stallone atau Schwarzenegger di dekade ’80-‘90an. Bukan hanya dari jumlah film dan box office yang rata-rata memang mengarah ke pemirsa Asia sebagai penikmat action dalam pasar global, franchise-nya saja ada lebih dari 3. Setelah ‘The Transporter’ dan ‘Crank’ di luar kiprah ansambelnya dalam ‘Fast & Furious’ dan ‘The Expendables’, ‘Mechanic Resurrection’ melanjutkan ‘The Mechanic’ yang merupakan remake film Charles BronsonJan Michael Vincent yang disutradarai Michael Winner di tahun 1972.

            Memalsukan kematiannya di ending film pertama ternyata tak lantas membuat Arthur Bishop (Jason Statham) hidup tenang. Identitasnya langsung terlacak oleh seorang penyewa misterius yang menginginkan Arthur menghabisi tiga sasaran. Mencoba melarikan diri dan mencari perlindungan ke temannya, Mae (Michelle Yeoh) di Thailand, Bishop malah terlibat hubungan dengan pekerja sosial bermasalah Gina Thorne (Jessica Alba), yang ternyata merupakan umpan kiriman Riah Crain (Sam Hazeldine), penyewa tadi. Terpaksa menyanggupi saat Gina disandera, dari Malaysia, Australia hingga Bulgaria untuk melenyapkan target terakhir Max Adams (Tommy Lee Jones), Bishop pun harus kembali merancang permainan mautnya untuk bisa keluar hidup-hidup dan menyelamatkan Gina.

            Sama seperti orang yang salah sasaran mencari steak di sebuah resto Padang, mencari plot dalam film-film aksi Jason Statham jelas sebuah kesalahan besar, karena kebanyakan pemirsanya datang hanya dengan satu alasan – menyaksikan gelaran aksi yang mengeksploitasi ketangguhan dan kejantanan Statham sebagai action hero Hollywood. Persyaratan mutlak film-filmnya cukup ada di aksi seru baku hantam dan baku tembak nonstop yang nyaris tanpa jeda, dan ‘Mechanic Resurrection’ agaknya cukup mengakomodir itu. Ini jelas ada di kotak ‘Transporter’ atau ‘Crank’ dan pendahulunya, ketimbang film-film Statham yang lebih bermain di drama atau karakter seperti ‘Hummingbird’ atau ‘Wild Card’.

      Namun begitu, sebagai franchise yang menjual eksistensi Statham, ‘Mechanic: Resurrection’ yang disutradarai sineas asal Jerman yang sebelumnya dikenal lewat horor ‘We Are the Night’ ini cukup jeli meletakkan titik berat ciri khas franchise-nya lewat skrip Philip Shelby dan Tony Mosher. Set up-nya boleh jadi menghalalkan segala cara serta sangat campy, tapi tampilan keunikan proses dan metode melenyapkan target yang menekankan mengapa karakternya sebagai The Mechanic berbeda dengan keahlian karakternya sebagai supir tangguh di ‘Transporter’, berhasil ditampilkan dengan menarik serta belum pernah kita saksikan di film-film sejenis.

        Selanjutnya tentulah eksploitasi fisik lewat tampilan Jessica Alba – nyaris melebihi apa yang pernah dilakukannya di ‘Into the Blue’ plus aktor senior Tommy Lee Jones yang berhasil dimanfaatkan dengan baik di perempat akhir film hingga pengujungnya. Nikmati saja gelaran aksinya dan jangan terlalu peduli dengan tetek bengek lain soal plot-nya, yang jelas bakal jadi musuh kebanyakan kritikus. A fun, rousing and nice looking action-vaganza dari variasi lokasinya, dan itu sudah cukup. (dan)

 

THE SECRET LIFE OF PETS: AN IRRESISTIBLY CUTE ‘PET STORY’

•August 31, 2016 • Leave a Comment

THE SECRET LIFE OF PETS

Sutradara: Chris Renaud

Produksi: Illumination Entertainment, Universal Pictures, 2016

The Secret Life of Pets

            Hanya dengan ‘Despicable Me’ yang mempopulerkan karakter Minions lebih daripada franchise aslinya sendiri sejak instalmen kedua, Illumination Entertainment yang menjadi divisi animasi Universal Studios melejit menyamai saingan terberatnya di luar Disney – Pixar, DreamWorks. Banyak dipandang sebelah mata oleh kalangan kritikus dengan instalmen solo ‘Minions’-nya, ‘The Secret Life of Pets’ agaknya menjadi jawaban mereka, bahwa di luar ‘Minions’ yang sering dianggap kekanak-kanakan dan no-brainers itu, mereka bisa menghasilkan sesuatu yang lebih lagi.

            Seperti yang kita saksikan di trailer-nya yang menarik perhatian sejak lama,  animasi arahan Chris Renaud ini mengetengahkan tingkah polah binatang-binatang peliharaan di saat ditinggal majikannya bekerja sehari-hari. Max (disuarakan Louis C.K.), anjing terrier milik Katie (Ellie Kemper) yang selalu berinteraksi dengan tetangga-tetangganya termasuk kucing Chloe (Lake Bell) selagi diam-diam disukai anjing pom-pom Gidget (Jenny Slate) tanpa disadarinya, merasa keberatan kala Katie membawa pulang mongrel Duke (Eric Stonestreet) yang langsung mengancam eksistensinya. Persaingan mereka ternyata berlanjut pada kekacauan yang membuat keduanya tertangkap dinas penangkap hewan liar dan terjebak ke kawanan peliharaan anti-manusia pimpinan kelinci jahat Snowball (Kevin Hart) yang menyiapkan revolusi bersama kawanannya. Gidget pun mengajak Chloe dan kawan-kawannya lewat bantuan rajawali lapar Tiberius (Albert Brooks) yang bersedia menolong dengan maksud tersembunyi.

            Langsung diganjar rencana sekuel di 2018 atas sambutan besar dari box office sekaligus kritikus, ‘The Secret Life of Pets’ memang punya potensi hebat dari skrip Brian Lynch, Cinco Paul dan Ken Daurio. Oh ya, di balik banyak tuduhan yang tak juga bisa dibantah atas similaritasnya ke ‘Toy Story’, namun sebenarnya tak hanya itu, ‘The Secret Life of Pets’ memang dibangun dengan ‘been there, done that elements. Elemen buddy movie dalam animasi memang sudah sejak lama jadi resep bahkan jauh sebelum ‘Toy Story’ termasuk juga ‘Monsters, Inc.‘ hingga ‘Zootopia’ walaupun karya Pixar tentang mainan bak hewan peliharaan itu jadi salah satu momentum terpenting yang juga punya pendekatan mirip di sini. Ide revolusi radikal, interaksi sekelompok karakter dengan latar sama namun punya maksud-tujuan berbeda dalam penelusuran lapisan sosial dan sempalan love story-nya pun begitu. Sementara, caranya membuat interaksi dan pengenalan para hewan peliharaan sebagai group of central characters di tengah core buddy movie juga menyenggol ‘Zootopia’, dan kisah sehari petualangan hewan peliharaan mengelabui majikannya – bukan pula hal baru – bahkan sudah nyaris jadi template buat tema-tema serupa.

         Tapi toh rasanya tetap terlalu sempit buat mengatakan sesuatu yang dibangun di balik unoriginal elements itu selalu salah. Ide Renaud dkk. paling tidak memiliki kejelian serta kreativitas lebih. Bukan saja karena tema pets dalam sebuah fabel memang menarik hati banyak orang – apalagi sekarang, tapi plot berlapis yang diusungnya – dari komedi ke love story hingga buddy action, bahkan lebih lebar dari tiap source inspirasinya – bayangkan dua atau tiga instalmen ‘Toy Story’ dikemas dalam plot dengan timeline sehari, selain terasa aktual, akrab dan disampaikan dengan begitu lancar, memang dengan berani menyentuh ranah segala umur yang di satu sisi tak membuat pemirsa dewasa merasa kekanak-kanakan, sementara sisi fun dan komedi yang masuk ke pemirsa belia juga bisa dipertahankan.

            Di luar itu, kekuatan utamanya jelas ada pada bangunan karakternya dalam usaha-usaha merchandising yang jitu, termasuk variasi pilihan ke voice actors-nya. Begitu banyak karakter yang ditampilkan, bahkan lebih dari keberhasilan ‘Zootopia’ sebagai pembanding dekatnya, tak satupun yang lantas tertinggal jadi sampingan tak penting. Semua seakan berusaha menarik perhatian lewat pengarahan Renaud bersama Yarrow Cheney ke tengah-tengah petualangan seru dan lucu yang mereka tampilkan plus scoring Alexandre Desplat dan lagu-lagu pengisi OST yang bagus termasuk ‘Lovely Day’-nya Bill Withers yang ditempatkan dengan pas di rangkaian adegan pengujungnya. Selagi Max dan Duke disuarakan oleh Louis C.K. dan Eric Stonestreet yang lebih dikenal pemirsa serial TV, aktor-aktor lebih well known secara universal dari Kevin Hart, Steve Coogan, Lake Bell, Dana Carvey, Jenny Slate hingga Albert Brooks berinteraksi begitu menarik untuk menghidupkan karakternya masing-masing.

          Dan di atas semuanya, ‘The Secret Life of Pets’ tetap tak kehilangan hati di tiap titik terujungnya. Seperti satu serial karakter mainan yang membuat pembelinya bingung mau memilih yang mana, bentukan karakternya memang digagas dengan cermat di atas keseimbangan kuat. Fun, full of excitements and irresistibly cute, too. Salah satu animasi terbaik tahun ini yang tanpa diduga bisa bertengger menjadi animasi non Disney terlaku mengalahkan ‘Kung Fu Panda’-nya DreamWorks. Dan itu, jelas artinya bagus. (dan)

LIGHTS OUT: THE HARDCORE DARKNESS FALLS

•August 31, 2016 • Leave a Comment

LIGHTS OUT

Sutradara: David F. Sanberg

Produksi: New Line Cinema, Atomic Monster, Grey Matter Prod, RatPac, 2016

lights out

            Nama James Wan memang seakan sudah jadi jaminan buat genre horor. Film-film horor produksinya harus diakui punya kualitas dan inovasi beda tanpa harus meninggalkan dayatarik utama mengapa penonton gemar sekali dengan genre ini; adegan seram dan jump scares, serta karakter villain yang gampang melekat. Satu yang kerap muncul dari inovasi itu adalah reinvensi berbeda soal hubungan-hubungan keluarga yang membuat gelaran ketakutannya jadi terasa lebih visceral daripada sekedar menakut-nakuti.

       Setelah kesuksesannya merambah sekuel ‘The Conjuring‘, both critics and commercialWan kini menjadi produser dalam ‘Lights Out’ yang diangkat dari film pendek berjudul sama karya David F. Sanberg bersama istrinya, Lotta Losten, yang meski tak menang namun mulai memunculkan viral hype setelahnya. Konsep atmospheric dalam interkoneksi kegelapan dan keberadaan makhluk halus-nya bukan sama sekali baru dan sudah pernah diangkat lewat ‘Darkness Falls’, namun ‘Lights Out’ seperti versi hardcore-nya dalam melangkah ke pace horor yang jauh lebih.

            Dengan introduksi di sebuah pabrik manekin, ‘Lights Out’ pun mengantarkan kita pada sebuah keluarga yang terpecah. Teror yang dialami Martin (Gabriel Bateman), putra kecil Sophie (Maria Bello) yang mengalami gangguan mental setelah kejadian itu lantas membuat kakak tirinya, Rebecca (Teresa Palmer) muncul untuk melindungi Martin dan menyadari bahwa teror ini punya hubungan dengan masa kecilnya. Bersama kekasihnya, Bret (Alexander DiPersia), Rebecca pun mulai menyelidiki latar belakang dari sosok misterius yang belakangan diketahui bernama Diana (Alicia Vela-Bailey) ini.

            Kekuatan utama ‘Lights Out’ memang ada pada ide dasar yang diusung Sandberg soal titik gelap dan terang di balik kemunculan hantunya. Namun lebih dari itu, in many skillful ways, konsep menarik ini dibangun Sandberg tetap terasa penuh kejutan terhadap dasar ketakutan banyak orang dalam konsepnya. Dan yang membuatnya jadi sangat spesial adalah kemasan horor dengan pace yang sangat fun bak menaiki wahana seru rumah hantu di sebuah theme park, di mana pemirsanya bisa dengan mudah berteriak bersama di gelaran jump scares yang ditaburnya di sepanjang film. Ia tak perlu menahan-nahan kemunculan sosok hantu atau twist kelewat spesial untuk membuat filmnya jadi sesuatu yang terlihat lebih pintar, tapi set up kengeriannya dieksekusi dengan pas bersama tampilan jump scares bahkan dengan sedikit selipan komedi yang efektif ke tengah-tengahnya.

            Performa juga jadi satu keunggulan yang lain dari ‘Lights Out’. Di balik ikatan kuat soal psikologis dan inti keluarga dari bentukan karakter dalam skrip Eric Heisserer (‘The Thingremake, ‘Final Destination 5‘) yang makin memperkuat tensinya, Maria Bello dan Teresa Palmer bermain baik sebagai Sophie dan Rebecca. Namun yang paling spesial justru bocah kecil Gabriel Bateman yang berkali-kali ditempatkan sebagai fokus utama ancaman sosok jahat Diana yang juga dibangun dengan meyakinkan lewat efek sebagai demonic villain yang langsung menempel di benak pemirsanya. Ini memang simpel, tapi pendekatan yang tepat berhasil membuatnya jadi horor yang kuat sekaligus sangat menjual. Hanya sayang, posternya yang sama-sama simpel mungkin bisa jadi distraksi di negara-negara dengan pemirsa yang sudah punya pola tipikal dalam ketertarikan mereka terhadap sebuah film horor, termasuk di Indonesia. (dan)

 

3 SRIKANDI: A DISNEY MATINEE-KIND OF SPORTS BIOPIC

•August 19, 2016 • Leave a Comment

3 SRIKANDI

Sutradara: Iman Brotoseno

Produksi: MVP Pictures, 2016

3 srikandi

            Kita tak punya terlalu banyak genre olahraga dalam film nasional, itu benar. Kalaupun ada, biasanya kebanyakan membahas sepak bola. Ada ‘King’ yang bicara soal bulu tangkis, dan sekarang ‘3 Srikandi’ muncul dengan soal panahan – cabang olahraga yang sayangnya tak pernah terlalu memunculkan hype di masyarakat kita. Paling tidak, rilis yang tepat saat Olimpiade Rio di balik harapan-harapan keberhasilan atlit kita, bisa sedikit lebih mendorong animonya. Tapi apa yang diangkat sebagai kisah nyata dari Olimpiade Seoul 1988 memang perlu diketahui lebih luas. Mendapat medali perak dalam panah beregu, di tahun itu – adalah sesuatu yang sangat spesial.

            Menjelang Olimpiade Seoul 1988, Sekjen PERPANI Udi Harsono (Donny Damara) mempersiapkan atlitnya untuk berlaga. Namun satu-satunya harapan untuk melatih atlit wanita ada pada Donald ‘Pandi’ Pandiangan (Reza Rahadian), mantan atlit nasional yang dijuluki ‘Robin Hood Indonesia’, namun frustrasi karena kecewa kegagalan keberangkatan ke Moskow 4 tahun sebelumnya dicampuri urusan politik. Sempat menolak, Pandi akhirnya bersedia melatih tiga yang terpilih, Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari), Lilies (Chelsea Islan) dan Kusumawardani (Tara Basro). Tapi ini bukan perkara mudah karena gemblengan Pandi yang disiplin harus diwarnai konflik intern ala wanita di antara 3 srikandi panahan ini.

            Walau punya background iklan yang pas dengan genre-nya, debut sutradara Iman Brotoseno ternyata masih cukup tertatih-tatih buat bercerita. Ada beberapa detil yang terasa melompat, sementara ia juga gagal menaikkan level-nya di klimaks final yang seharusnya bisa lebih mendebarkan dalam memperkenalkan panahan lewat film kita. Ada beberapa usaha yang terlihat, namun dengan minimnya detil-detil informasi dan rules of the game dalam kompetisi cabang olahraga yang diangkat – yang rata-rata tak diketahui banyak lapisan selayaknya cabang lain, sebagian montase-montase klimaksnya malah terasa kelewat bombastis ketimbang meyakinkan. Masa iya rakyat kita di tahun itu sebegitu antusiasnya mengikuti hasil panahan lewat radio hingga lapis masyarakat terkecilnya?

         Belum lagi soal justifikasi disiplin atlit menjelang pengujungnya, di mana tahapan-tahapan dialog dalam skrip Swastika Nohara bersama Iman (supervisi oleh Adi Nugroho) malah memberi impact cukup fatal ke persuasi rasa patriotisme yang seharusnya muncul lewat tema seperti ini. Penutup yang seharusnya bisa jauh lebih menyentuh buat membidik puncak hubungan 3 Srikandi dengan Pandi di tengah kemenangan mereka pun seakan jadi menguap begitu saja.

            Begitupun, penggarapan teknis terutama tata artistik Frans X.R. Paat dengan pendekatan nostalgik 80an-nya bisa dibilang cukup baik. Tata kamera dari Ipung Rachmat Syaiful juga bekerja dengan baik di bagian-bagian terpentingnya. Begitu pula gimmick-gimmick ‘80an lain dengan OST vintage dari Kla Project, Ruth Sahanaya plus Vonny Sumlang di selipan adegan musikal yang cukup padu dengan tone penceritaan yang mereka pilih sejak awal. Dari dramatisasi klise konflik atlit dengan orangtuanya ke romantisasi love parts di tengah ketiga karakter ini plus secuil tragedi – yang juga tak kalah klise, ‘3 Srikandi’ memang seakan tak pernah menempatkan dirinya sebagai sports biopic klasik tapi lebih ke pola Disney Matinee sports dengan elemen ‘Girls Just Want to Have Fun’ di bangunan interaksi karakter-karakternya. Bisa jadi flaws buat yang mengharapkan tontonan lebih serius, tapi jelas tak mengapa.

         Memerankan Pandi, meski masih ada sedikit pengaruh peran Habibie dan dialek yang masih belum seratus persen pas, Reza Rahadian tetap bertransformasi begitu jempolan seperti biasanya. Selebihnya bermain baik, tapi yang paling menonjol justru Chelsea Islan dengan gestur teledor di balik dialek Jawa Timur medoknya. Bunga Citra Lestari mungkin tak mendapat treatment sebesar itu bahkan dibandingkan Tara Basro, tapi mereka tetap bermain baik dengan dukungan supporting cast yang bagus terutama dari Donny Damara, Indra Birowo dan Mario Irwinsyah.

            Dengan kelebihan dan kekurangan itu, ‘3 Srikandi’ untungnya tetap tak terjebak sebagai biopik olahraga yang gagal. Meski tak bisa benar-benar maksimal memanfaatkan potensi yang dimilikinya, juga dalam membangkitkan rasa patriotisme lewat turnamen olahraga,  ini paling tidak masih bisa menghibur bak film-film matinee Disney dalam genre sama. Tak jelek secara keseluruhan, tapi tetap – sayang sekali. (dan)

 

SUICIDE SQUAD: A PARTY-SIZED MESS OF A BIG CONCEPT

•August 18, 2016 • 3 Comments

SUICIDE SQUAD

Sutradara: David Ayer

Produksi: DC Entertainment, RatPac-Dune Ent, Atlas Ent, Warner Bros, 2016

SS

            Sebagai instalmen ke-3 dari DCEU (DC Extended Universe), adaptasi komik DC yang bakal menyatukan semua tokoh-tokoh komik mereka seperti apa yang dilakukan pesaing mereka, Marvel Comics – yang sudah berada jauh di atasnya, ‘Suicide Squad’ sebenarnya menanggung beban cukup berat. Walau karakter-karakternya yang kebanyakan terdiri dari karakter-karakter jahat yang digambarkan sebagai antihero, ia menjadi benang merah penghubung dari bangunan universe yang masih terseok-seok, apalagi dengan kegagalan ‘Batman v Superman: Dawn of Justice’ kemarin. Trailer yang terus-menerus berubah plus isu-isu reshoot dan edit ulang mewarnai proses akhirnya sebelum dilepas ke pasar.

            Agen rahasia Amanda Waller (Viola Davis) menginisiasi sebuah program untuk merekrut penjahat-penjahat super ke dalam misi rahasia. Walau dipandang beresiko karena membalik keberadaan mereka menjadi mitra pemerintah buat menyelamatkan dunia dari prediksi ancaman meta-human, program ini tetap terpaksa dijalankan dengan Rick Flag (Joel Kinnaman) sebagai eksekutornya. Ada Deadshot (Will Smith), pembunuh bayaran dan sniper handal, Harley Quinn (Margot Robbie) – psikiater yang beralih menjadi kekasih kriminal Joker (Jared Leto), perampok Captain Boomerang (Jai Courtney), manusia berkekuatan api El Diablo (Jay Hernandez), Slipknot (Adam Beach), manusia buaya Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje) dan arkeolog June Moone (Cara Delevigne) yang sukmanya dikuasai penyihir jahat Enchantress.

            Premis menarik ini sayangnya dikembangkan sutradara David Ayer yang sudah teruji dari film-film cop – criminal thriller dengan kesalahan yang notabene sama dibalik kegagalan ‘BvS’. Pertama adalah soal layer terdasar yang terasa agak mengada-ada di atas kekhawatiran kebangkitan Superman dari endingBvS’ – di mana pihak pemerintah seakan cenayang yang bisa memperkirakan Superman bakal bangkit dan beresiko menjadi makhluk jahat, sementara dua personil Justice League yang dimunculkan memberangus mereka sebelum disatukan tak diberi koherensi menghentikan inisiasinya di balik kekacauan parah yang terjadi di set kota tetangga universe utamanya.

          Tetap ada set up yang cukup asyik di atas nonsensical ideas tadi bersama penggunaan lagu-lagu vintage yang mau tak mau harus diakui terinspirasi ‘Guardians of the Galaxy’-nya Marvel, namun berjalan semakin lari arahnya dengan character arcs yang penuh sesak dan tumpang tindih tanpa justifikasi seimbang menuju klimaks yang tak lagi jelas memuat motivasi konflik siapa melawan siapa. Though anything goes in a fantasy, nalar dan logika pemirsanya malah diruntuhkan ke taraf mempertanyakan motivasi pemilihan personil tanpa balance yang masih dipenuhi lagi oleh seabrek tim dan karakter pendamping, sementara kunci kekacauannya justru datang dari mereka sendiri ketimbang tetek-bengek misi yang awalnya disampaikan. Yang akhirnya tampil hanya noisy boom-bangs, itu pun dengan pace naik turun – termasuk di adegan tim antihero ini sempat-sempatnya mabuk-mabukan di bar kosong sekacau tampilan posternya yang bak benang kusut di atas color tone yang sangat tak nyambung ke universe-nya.

           Selagi Will Smith’s Deadshot dan Margot Robbie’s Harley Quinn jadi fokus terdepan, sebagian besar karakternya seakan tertinggal sia-sia tanpa justifikasi seimbang tadi. Tim inti yang dihadirkan pun tak semua terjelaskan di bagian awal, termasuk Slipknot yang diperankan Adam Beach yang seolah jadi penghias dalam durasi luarbiasa singkat. Jai Courtney’s Captain Boomerang was mostly doing nothing, Killer Croc looks like a joke dan Jay Hernandez’ El Diablo tergambarkan punya kemampuan begitu dahsyat tanpa lagi membutuhkan ‘Squad’.

        Joker versi Jared Leto sebenarnya tak terlalu jelek meski jelas masih jauh dibandingkan semua aktor yang pernah memerankan tokohnya, namun juga seperti tak diberi ruang lebih di atas motivasi dan flashback tak penting, begitu juga Scott Eastwood dan Karen Fukuhara sebagai pendamping karakter Rick Flag (mandor proyek yang diperankan oleh Joel Kinnaman dengan baik) yang membuat ansambelnya makin penuh sesak, sementara kemunculan spesial Batman (tetap diperankan Ben Affleck) dan Flash (Ezra Miller, yang akan kelewatan dalam sekali kedipan) dalam universe-nya tak juga menyisakan kesan berarti. Viola Davis tampil cukup meyakinkan sebagai Amanda Waller, namun lagi-lagi di atas bentukan key character yang justru cenderung bagai perusuh ketimbang inisiator visioner, dan terakhir, sebagai Enchantress – dr. June, meski Cara Delevigne cukup bagus namun set up-nya berakhir lebih sebagai villain yang tetap terasa tak seimbang meski penuh polesan.

            Begitupun, di samping hype yang melonjak dengan kemarahan fans DC atas review negatifnya, ‘Suicide Squad’ tetap punya nilai jual lebih lewat seru-seruan adegan aksi dengan sempalan komedi yang sayangnya juga masih dipenuhi hit and miss. But like a party-sized mess of a big concept yang lebih enak dinikmati dalam keadaan mabuk, nikmati ini hanya jika Anda mengharap sajian penuh aksi sekaligus masih mengharapkan kebangkitan film-film adaptasi DC dengan kecerdasan racikan yang harus diakui masih jauh di bawah Marvel, tapi jelas – tak lebih dari itu. (dan)

STAR TREK BEYOND: FAST AND FURIOUS IN SPACE

•August 4, 2016 • Leave a Comment

STAR TREK  BEYOND

Sutradara: Justin Lin

Produksi: Paramount Pictures, Bad Robot Prod, Skydance, Alibaba Group, 2016

star trek beyond

            50 tahun setelah serial TV orisinil kreasi Gene Roddenberry ditayangkan pertama kali, ‘Star Trek’ kini sudah mencapai film layar lebar ke-13-nya, dan instalmen ke-3 reboot baru yang digagas oleh J.J. Abrams. Menaikkan level-nya ke trend blockbuster yang penuh efek spesial dan action seru dalam genre fiksi ilmiah, Abrams kini mempercayakan penyutradaraannya ke Justin Lin yang karirnya melonjak setelah serangkaian seri ‘Fast and Furious’. Selain Leonard Nimoy, pemeran Spock asli yang tutup usia bersama Anton Yelchin di tahun ini, hype-nya juga semakin bertambah dengan keikutsertaan Joe Taslim sebagai salah satu villain bernama Manas. Pertanyaannya sekarang, ke mana Justin Lin membawa franchise ini?

            Setelah insiden yang terjadi di film sebelumnya, kru USS Enterprise; Kapten James T. Kirk (Chris Pine), Spock (Zachary Quinto), McCoy/Bones (Karl Urban), Chekov (Anton Yelchin), Sulu (John Cho), Scotty (Simon Pegg) dan Uhura (Zoe Saldana) kini terperangkap di sebuah planet tak dikenal setelah Enterprise diluluh-lantakkan oleh musuh baru bernama Krall (Idris Elba). Saling terpisah dan menyelamatkan diri, mereka lantas bergabung dengan Jaylah (Sofia Boutella), korban Krall sebelumnya yang tanpa mereka sadari menyimpan rahasia terhadap sebuah misi masa lalu Starfleet.

            Abrams mungkin merasa dua instalmen untuk membalik universe reboot ini secara cerdas, menghadirkan alternate universe dengan karakter-karakter yang sama, sudah cukup sebagai introduksi ke penggemar baru sekaligus fans service ke para penggemarnya. Untungnya, reboot itu memang punya pilihan cast yang tepat. Chris Pine jelas punya kharisma se-level William Shatner di masa mudanya, selagi Zachary Quinto begitu mengingatkan kita ke awkward style Leonard Nimoy menokohkan Spock, dan tentu Karl Urban ke DeForest Kelley yang di dua instalmen pertamanya terasa masih underused.

        Dan sebuah franchise tentu tak akan bisa lama bertahan dengan formula serupa terus-menerus. Menaikkan level-nya ke pameran aksi jauh lebih lagi, penggagasnya melakukan langkah berani ke pameran aksi yang menyamai bahkan melebihi franchise yang sering dianggap – walaupun sebenarnya tidak – pesaingnya, ‘Star Wars’ dengan boom and bang action lewat sentuhan Justin Lin. But more than that, skrip yang berpindah ke tangan Simon Pegg (bersama Doug Jung) juga tergolong berani – karena Pegg yang dipasang sebagai Scotty baru memang punya signature di ranah komedi. Dua elemen racikan ini memang hanya punya satu terjemahan – blockbuster musim panas yang sangat meriah.

            Walau sangat potensial buat kelangsungan franchise-nya dari sisi box office, di lain sisi, sebenarnya ini sekaligus sangat beresiko bagi para Trekkies, nama yang disemat untuk fans setia franchise-nya. Namun rentang waktu begitu jauh mungkin juga sudah menyisakan sangat sedikit Trekkies purist dengan masuknya fans dari barisan generasi baru. Pakem penceritaannya memang secara drastis berubah lebih serba menonjolkan aksi bercampur komedi – bahkan bermain-main dengan hingar-bingar pop kultur – rock n’ roll dan Beastie Boys, termasuk theme songSledgehammer‘ dari Rihanna plus dialog-dialog komedik yang cenderung konyol hingga lebih menyerupai ‘Fast and Furious’ di set luar angkasa.

            Namun tanpa bisa disangkal, semua racikan itu memang luar biasa seru di tengah pameran VFX dan CGI kelas satu, dan yang terpenting, mereka tetap menyisakan respek – walau tak terlalu banyak, ke source material orisinil yang disesuaikan di sana-sini ke universe baru yang diciptakan Abrams bersama Roberto Orci dan Alex Kurtzman di dua film sebelumnya. ‘Star Trek Beyond’ memang berubah menjadi Star Trek yang serba hantam kromo ketimbang menonjolkan strategi, tapi team play-nya tetap muncul dengan solid dan tak sekalipun tertinggal di belakang. Malah, Pegg bersama Lin menambahkan lagi karakter-karakter baru serta elemen penting yang selama ini sedikit terlupa di chemistry dan relationship Spock dan Bones (McCoy) dengan porsi Karl Urban yang menanjak cukup jauh.

            Sisanya adalah performa. Menambah daya jual dari deretan cast reboot yang sudah cukup masuk ke para pemirsanya, kemunculan Idris Elba sebagai Krallvillain utama dengan twist di pengujungnya juga menjadi salah satu daya tarik lebih bersama Joe Taslim yang mendapat porsi lumayan banyak buat penonton Asia khususnya Indonesia. Benar bahwa ia kebanyakan muncul dalam full makeup sebagai Manas, namun jika benar-benar jeli, ada flashback scene lewat layar televisi berikut foto yang menampilkan wajah asli Joe, dan masih ada Sofia Boutella sebagai calon kru baru yang memainkan perannya dengan menarik sekaligus jadi scene stealer yang tetap ingin kita lihat di sekuel berikutnya.

          So be it. Resepsinya boleh saja berbeda-beda sesuai dengan referensi tiap generasi fans-nya. Tapi apapun ceritanya, 50 tahun mungkin sudah cukup untuk membuka ranah baru pengembangannya, dan Abrams dkk. tergolong sukses menjaga balance-nya. Boldly go where no entries have gone before, benar bahwa Star Trek sekarang lebih mirip ‘Fast and Furious in Space’ tapi tetap di atas respek ke elemen-elemen wajib yang ada di franchise aslinya. (dan)