2014: A COMPELLING, FEARLESS AND RELEVANT POLITICAL THRILLER

•February 27, 2015 • Leave a Comment

2014

Sutradara: Hanung Bramantyo & Rahabi Mandra

Produksi: Mahaka Pictures, Dapur Film Production, 2013/ 2014 (final cut)

2014 film

            Walaupun masih punya elemen drama keluarga, love story serta bumbu action, not that I remembered, no, belum ada film Indonesia yang secara murni, atau paling tidak jauh lebih kuat ketimbang yang lain, untuk berdiri sebagai sebuah political thriller. Seperti yang sudah dipublikasi sejak jauh hari, ‘2014’ memang layak digolongkan ke genre itu, dan bicara soal tema politik dalam aspek-aspek kenegaraan subjek yang dibahas, terlebih karena ini juga terus-terang bicara soal Indonesia meski fiktif, penggambaran-penggambaran berani dengan potensi menyinggung banyak pihak tentu bukan sesuatu yang bisa dihindari. Disana, nama Hanung Bramantyo memang jadi salah satu kandidat yang pantas. One of the first name that comes to everyone’s mind.

            Itu juga mungkin, mungkin, yang membuat jadwal rilisnya sempat tertunda sekian lama setelah sempat melanglang buana hingga ke Balinale 2013 dan Osaka Asian International Film Festival tahun lalu. Sempat terkatung-katung setelah publikasi trailer dan berita-berita simpang-siur, setelah batal lagi dari jadwal rilis di Agustus 2014, awal tahun ini ternyata filmnya dirilis juga ke bioskop-bioskop kita. Bisa jadi, menunggu proses pemilihan Presiden selesai, dalam banyak alasan politis, mungkin merupakan pilihan yang lebih bijaksana. Kenyataannya, ‘2014’ memang punya sejumlah relevansi kuat terhadap keadaan politik yang sama carut-marutnya disini. Ekses-ekses kontroversial, yang entah disengaja atau tidak, kerap mewarnai beberapa film-film yang digagas Hanung Bramantyo, baik dalam karir solo maupun kolaborasinya bersama para protege-nya di Dapur Film.

            Bagas Notolegowo (Ray Sahetapy), capres pilihan rakyat yang tengah berjuang mendekati Pemilu 2014 untuk menggantikan Presiden Jusuf Syahrir (Deddy Sutomo), tiba-tiba tersandung oleh skandal pembunuhan salah seorang pejabat negara. Menjadi seorang tersangka dengan ancaman hukuman mati, kasusnya mau tak mau mengganggu hubungan Bagas dengan putranya, Ricky Bagaskoro (Rizky Nazar), remaja yang punya mimpi menjadi petugas sosial buat anak-anak terlantar, yang sejak awal tak mendukung niat ayahnya walaupun ikut didorong Ningrum (Donna Harun), ibunya. Mencurigai bahwa kasus ini adalah sebuah rekayasa oleh saingan-saingan politik Bagas, terutama Faisal Abdul Hakim (Rudy Salam), Ricky memulai investigasi pribadinya sambil mendekati pengacara idealis Krishna Dorojatun (Donny Damara) untuk bersedia membela ayahnya. Diatas kecurigaan yang sama apalagi setelah penyerangan terhadap Bagas di penjara, Iptu Astri (Atiqah Hasiholan) pun melawan tekanan dari atasannya untuk membongkar kasus ini. Di tengah proses itu pula, hubungan Ricky dengan Laras (Maudy Ayunda), putri Dorojatun satu-satunya menjadi sangat dekat. Menggunakan semua kemampuan mereka untuk membawa konspirasi politik itu ke ranah publik, ancaman nyawa juga menjadi resikonya. Sekarang pertanyaannya, Siapa Di Atas Presiden?

            Keunggulan utama ‘2014’ adalah skrip yang dibesut oleh Rahabi Mandra, Ben Sihombing dan Hanung sendiri. Menggunakan step-step yang tepat dalam koridor genrenya, menunjukkan mereka memang cukup menguasai elemen-elemen genre itu dari banyak film luar sejenis, plot yang ada memang tak menjadi sepenuhnya realistis, kadang over the top dan punya sempalan komedi yang tak ada pun tak mengapa, but on the other hand, juga sangat filmis dengan keberaniannya menyemat modus-modus intelijen, detil peradilan hingga aspek forensik tanpa sekalipun pernah kehilangan benang merah relevansinya memuat sindiran dan referensi terhadap sejumlah tokoh politik yang mewarnai kehidupan bangsa kita akhir-akhir ini. Sebagai nama baru di kredit sutradara, walau masih ada nama Hanung, Rahabi Mandra juga harus diakui punya storytelling yang oke.

         Dialog-dialognya bagus, diatas bangunan karakter inti dengan setup dan motivasi yang kuat pula, terutama terhadap karakter Krishna Dorojatun yang diperankan oleh Donny Damara dengan sangat baik. Bentukan karakter yang sungguh jarang ada di film kita, mencuri empati dalam memuat esensi sekaligus berfungsi secara maksimal sebagai titik tolak turnover karakter utama berikut interaksi dan chemistry setelahnya dengan rapi. Atiqah Hasiholan yang bertransformasi menjadi sesosok tough female heroine dengan ketangguhan meng-handle tiap koreografi aksinya pun sangat melewati ekspektasi. Bersama Donny, karakter mereka yang sebenarnya bukan berada di lini paling utama justru bisa melangkah jauh melebihi yang lain.

           Dan bukan berarti pendukung lainnya tak bermain dengan baik. Dari aktor-aktor senior seperti Ray Sahetapy, Rudy Salam, Deddy Sutomo hingga duo young lead-nya, Rizky Nazar dan Maudy Ayunda, semuanya kuat. Karakter-karakter sampingannya yang diperankan oleh duo pentolan ‘Tabula Rasa’ (walau dibuat sebelumnya), Yayu Unru dan Ozzol Ramdan (credited as Ozzol Ram) serta Akri Patrio juga sama, plus Rio Dewanto yang membuat tampilan action-nya jadi semakin seru terutama dalam action scenes yang menghadapkannya dengan Atiqah sebagai real life spouse-nya. Dan masih ada Fadika R. sebagai Bripka Wishnu dan Fauzan Smith yang cukup mencuri perhatian. Setelah kiprahnya di ‘Perahu Kertas’, walau penempatan karakternya bisa jadi terasa agak melebar namun mungkin punya alasan untuk menyemat informasi, Fauzan menokohkan Memey dengan sama baiknya.

       Presentasi teknisnya, di sisi lain, juga punya keunggulan yang secara variatif, baik. Sinematografi Faozan Rizal mungkin bukan sesuatu yang benar-benar konseptual seperti apa yang dilakukannya dalam ‘Hijab’, namun tata artistik Ezra Tampubolon dan tata kostum/rias Retno Ratih Damayanti sedikit banyak bisa memberi penekanan terhadap karakter-karakter serta set-nya. Editing Cesa David Lukmansyah bekerja cukup baik membangun pace-nya bersama koreografi aksi dan tata suara dari Satrio Budiono terutama di fighting scenes-nya. Dan meski scoring Hario Patih kadang kelewat stirring, penempatan recycled hit MetallicaNothing Else Matters’ dengan aransemen ulang yang dibawakan Maudy Ayunda benar-benar terasa bagus buat penekanan emosinya.

          So, usually stays just as elements, dalam genre-genre utama yang beragam serta kebanyakan lebih mengarah ke drama atau komedi, sekarang kita benar-benar punya entry film Indonesia dalam genre political thriller, yang diwarnai dengan presentasi aksi yang cukup mumpuni pula. Namun yang lebih baik adalah dengan sejumlah kelebihan tadi, ‘2014’ juga bukan jadi sesuatu yang serba tanggung. Yes, feels a bit over the top at times, meskipun masih bisa ditolerir dalam koridor-koridor tampilan filmis bak sejumlah film luar dengan genre sejenis, kekurangannya bukan tak ada, namun semua bisa tertutupi terutama dengan keberanian Hanung-Rahabi menarik garis eksplorasi tema politiknya secara benar-benar relevan, dari referensi karakter, konflik hingga persis seperti tagline-nya, mungkin satu yang terbaik dalam khazanah film kita; ‘Siapa Di Atas Presiden?‘, untuk jadi semakin menarik, seru sekaligus menegangkan. A compelling, fearless and relevant political thriller! (dan)

2014 c

CJR THE MOVIE: AN ENTERTAINING SHOWCASE THAT FAILED TO DIG MORE

•February 26, 2015 • Leave a Comment

CJR THE MOVIE

Sutradara: Patrick Effendy

Produksi: Falcon Pictures, 2015

CJR

            Resepsi box office yang bagus, apalagi di tengah carut-marutnya jumlah penonton film Indonesia sekarang ini, jelas sudah bisa jadi alasan bagus untuk membuat sekuel. But even a potential one needs more reasons. Walau bagi subjeknya, dibalik eksistensi mereka sebagai salah satu boyband terpopuler di Indonesia, ‘Coboy Junior The Movie’ (Anggy Umbara, 2013) sudah berhasil menyajikan konten lebih dari sekedar gimmick showcase yang terbatas hanya bagi fans-nya, toh jalan untuk menuju kesana tak lantas jadi mulus-mulus saja.

            Oke, nanti dulu soal masalah perizinan untuk menggagas lokasi awalnya yang direncanakan digelar di Amerika dengan judul awal ‘Road Trip USA’. Namun dibalik problem lain keluarnya salah satu anggota mereka yang juga punya fanbase besar, Bastian Bintang Simbolon, grup musik yang akhirnya di-rebrand menjadi CJR ini sebenarnya justru mendapat konten yang sangat potensial. Tagline yang berbunyi ‘Lawan Rasa Takutmu’ itu sebenarnya sudah menunjukkan, bahwa sekuel yang akhirnya kebanyakan bersetting di Melbourne, Australia ini punya sisi bagus untuk membangun konflik dan dramatisasinya. Satu hal yang selalu menjadi ketakutan terbesar band-band atau entertainment group populer dimanapun juga, soal keutuhan dan kekompakan personilnya.

            ‘CJR The Movie’ pun memulai semuanya dari sana. Kelangsungan karir CJR sepeninggal Bastian mau tak mau sangat mengganggu Iqbal (Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan), Aldi (Alvaro Maldini Siregar) dan Kiki (Teuku Ryzki Muhammad). Karena itu, founder dan produser CJR, Patrick Effendy (Abimana Aryasatya) mengajak mereka melakukan perjalanan keliling Australia ditemani Jimmy (Arie Kriting). Dari bertemu Emmanuel Kelly, kontestan X-Factor Australia 2011 yang terus berkarya di tengah keterbatasan fisiknya hingga berlatih vokal dengan D-Doc (Rio Dewanto) dan physical trainer Melissa (Brittany Rose Scrivner), perjalanan itu akhirnya menjadi pelajaran sangat berharga buat melawan rasa takut mereka menggelar konser pertama dengan formasi baru sekembalinya ke Indonesia.

            Dibawah penyutradaraan Patrick Effendy yang menggantikan Anggy Umbara, sementara naskah tetap digarap oleh Hilman Mutasi (kali ini bersama Yanto Prawoto dan Arif Rahman), tone-nya sebenarnya tak banyak berubah kecuali dalam sempalan dakwah ala Anggy yang ada di film pertama, yang memang membentuk blend yang baik dengan success story perjalanan awal karir mereka. Ketiga personil CJR juga masih tetap bermain dengan baik, menunjukkan bahwa mereka memang punya talenta lebih untuk menekuni karir showbiz-nya dengan solid. Tambahan sejumlah aktor dari film pertama, Abimana Aryasatya, Irgi Fahrezi, Astri Nurdin, Ersa MayoriJoe P. Project dan sejumlah penampilan nama-nama lain baik sebagai supporting actors atau guest stars; Arie Kriting, Rio Dewanto, Surya Saputra, Ernest Prakasa, Anggy Umbara plus Emmanuel Kelly dan Brittany Rose, walaupun tak seramai film pertama masih tetap bisa jadi nilai tambah yang cukup bagus.

            Hanya sayangnya, skrip itu ternyata tak cukup mampu menggali potensinya lebih dalam. Selain konflik yang sebenarnya bisa dieksplorasi lebih dalam jadi kerap hanya mengambang di permukaan saja, road trip yang sebenarnya bisa jadi latar setup dan jembatan motivasi kuat menuju menit-menit terakhir stage scene yang lebih intens  malah cenderung tergelar seperti road trip biasa yang melulu hanya disematkan sebagai hiburan belaka. Bukan Rio Dewanto tak bermain menarik sebagai D-Doc dibalik mocking Australian accent-nya, namun gambarannya yang digagas kelewat karikatural justru semakin melemahkan potensi mereka menggali potensi yang sudah dimilikinya sejak awal. Padahal comedic timing-nya sebenarnya sudah cukup pas diisi oleh penampilan Arie Kriting dengan celotehan-celotehannya.

            However, ditambah presentasi sejumlah lagu-lagunya, bukan hanya oleh CJR tapi juga diisi oleh banyak grup/musisi seperti Gamaliel-Audrey-Cantika (GAC), BIP dengan lagu ‘Pelangi dan Matahari’ berikut duet CJR dengan Emmanuel Kelly di lagu ‘Happy To Be Me’ yang bergulir mengiringi end credits-nya, ‘CJR The Movie’ tetap bisa menjadi showcase yang masih cukup menghibur. Tapi selebihnya, sekuel ini memang akhirnya lebih mirip sebuah gimmick yang lebih terbatas buat dinikmati para Comate, fans setia CJR dan tak lebih dari itu. Sayang sekali. (dan)

SHAUN THE SHEEP MOVIE: AARDMAN’S RETURN TO THEIR CLASSIC CLAYMATION

•February 25, 2015 • Leave a Comment

SHAUN THE SHEEP MOVIE

Sutradara: Richard Starzak & Mark Burton

Produksi: Aardman Animations & Studio Canal, 2015

shaun the sheep

            Okay. Ini mungkin banyak luput dari perhatian pemirsa dewasa. Tak seperti ‘Wallace & Gromit’ series yang masih lebih akrab bagi all-ages audience, paling tidak di negeri asalnya, ‘Shaun The Sheep’ yang tak kalah populer dan sebenarnya masih berstatus spin-off-nya ini mungkin lebih dianggap sebagai milik pangsa pemirsa anak-anak. Dibawah bendera Aardman Animations yang merupakan studio animasi terbesar di Inggris dan terkenal dengan teknik claymation, lengkapnya stop-motion clay animation, Aardman memang sudah banyak sekali menghasilkan animasi-animasi yang dikenal ke seluruh dunia.

      Karena itu juga tak sulit bagi mereka untuk menggandeng divisi-divisi animasi Hollywood buat berkiprah di layar lebar. ‘Chicken Run’ dan ‘Wallace & Gromit: The Curse of Were-Rabbit’ dengan DreamWorks, ‘Arthur Christmas’ yang meninggalkan sama sekali teknik animasi klasik mereka dan ‘The Pirates! Band of Misfits’, yang meski masih berupa stop-motion claymation namun punya polesan jauh lebih modern bersama Sony Pictures Animation, dan kini, bersama Studio Canal yang baru saja mengeruk keuntungan besar dalam kelas tontonan keluarga lewat ‘Paddington’. Tak ada memang alasan untuk tak mengangkat franchise sebesar ‘Shaun The Sheep’ untuk menjadi sebuah tontonan layar lebar, dan yang lebih menarik, mempertahankan bentuk original series-nya, mereka kembali ke teknik animasi paling klasiknya. ‘Shaun The Sheep’ yang lebih digagas sebagai silent animation dalam konteks tanpa dialog meski punya voice cast ini memang membawa feel nostalgia ke animasi-animasi klasik ala mereka.

       Kenakalan domba Shaun (Justin Fletcher) dan rekan-rekannya mengelabui the Farmer (John Sparkes) untuk bisa melarikan diri sejenak dari peternakannya ternyata berujung pada sebuah kekacauan. Bersama Bitzer the Sheepdog (juga disuarakan John Sparkes) yang menyadarinya belakangan, mereka yang akhirnya kehilangan jejak the Farmer menemukan kenyataan bahwa majikannya yang didiagnosis amnesia atas kecelakaan akibat ulah Shaun kini telah beralih profesi sebagai hair-stylist terkenal akibat sebuah kesalahpahaman. Shaun, Bitzer dan rekan-rekannya pun merancang sebuah misi untuk membawa the Farmer kembali ke rumah mereka, namun petugas Animal Control yang sempat menangkap mereka juga tak begitu saja mau menyerah.

        Memulai filmnya dengan opening sequence soal kesepian the Farmer yang sedikit lebih dalam ketimbang apa yang selama ini ada dalam original series-nya sekaligus jadi setup yang kuat ke motivasi Shaun dan rekan-rekannya nanti, duo Richard Starzak (a.k.a. Richard Goleszowski), salah satu kreator asli serialnya bersama Mark Burton yang sudah bekerja bersama Aardman di ‘Chicken Run’ dan ‘Wallace & Gromit: The Curse of Were-Rabbit’ tak memerlukan waktu terlalu lama untuk memulai seru-seruan trail comedy-nya. Dan benar, mereka juga masih menggunakan resep baku original series itu untuk membangun semuanya. Semua elemen aslinya termasuk kejar-kejaran di jalan peternakan juga masih muncul. Hanya saja, ‘Shaun The Sheep Movie’ ini mereka garap dengan intensitas jauh lebih bersama jarak tambah perjalanan yang ditempuh para karakternya.

       Hasilnya adalah ‘Shaun The Sheep’ dengan elemen yang jauh lebih seru seperti apa yang kita saksikan dalam ‘Chicken Run’. Ada strategic mission, chaos comedy dan keseruan lain sampai karakter antagonis penangkap hewan yang walaupun tak segila ‘Chicken Run’, memang sudah memberi penekanan jelas bahwa ini bukan sekedar ‘Shaun The Sheep’ bersama karakter-karakter tetap yang kita saksikan sehari-hari lewat original series itu, lengkap bersama sekumpulan babi perusuh dan The Bull si banteng galak.

        Dan jauh diatas semuanya, konstruksi penceritaan yang sangat rapi meskipun dihadirkan hanya dengan grunts, squakes and snorts tanpa dialog ini, plus scoring dari Ilan Eshkeri, composer yang karyanya sudah kita nikmati dari ‘Stardust’, ‘Kick-Ass’ ke ‘Still Alice’ barusan, benar-benar berhasil memberikan kelucuan dan petualangan seru melebihi voiced animation yang digagas dengan penggarapan teknis jauh lebih canggih. It’s freakin’ hilarious, sekaligus jadi satu lagi karya animasi bagus yang terus mengingatkan kita, bahwa kembali ke bentuk paling klasik, bukan lantas membuat hasilnya jadi tak asyik. Now grown-ups, go see this with your little loved ones, and enjoy the sheer-experience! (dan)

AND THE OSCAR GOES TO… : THE 87th ACADEMY AWARDS COMPLETE WINNERS LIST

•February 23, 2015 • Leave a Comment

AND THE OSCAR GOES TO… : THE 87th ACADEMY AWARDS COMPLETE WINNERS LIST

 oscarsfront

          This year’s Oscar race has just ended with some surprising results. Unlike predicted by many, the ‘Boyhood’ vs ‘Birdman’ thing turned to ‘Whiplash’ vs ‘Birdman’ as the ceremony rolled its categories. With ‘Whiplash’ won the best editing after sound mixing, the chance of becoming Best Picture was wide open. However, ‘Birdman’ then strikes winning both Best Cinematography, 2nd Oscar for Emmanuel Lubezki, The Best Original Screenplay and Best Director, while ‘Whiplash’ failed The Best Adapted Screenplay over Graham Moore’s ‘The Imitation Game’.

oscars highlight

 

            The issues of diversity beyond twitter hashtags #OscarsSoWhite and some attack to ‘Birdman’ by critics, not to mention a series of ‘brutally honest’ opinions of the members of the jury published by a leading media, have made the race got hotter a few days before the main event. However, the Academy tackled these issues by drawing a fair result of all the Best Picture nominees. We might not remember when was the last time every Best Picture nominee came home with at least one Oscar. Okay, the failure of ‘Boyhood’ to get more recognized might disappoint some people, but with each nominee got their own Oscars in various numbers, this seemed like a strong statement that by the end of the day, the Academy chooses to support all kinds of movements, from the racial issues to LGBT. The night’s big winner might be ‘Birdman’, but actually, everybody wins.

oscarsbestsong

         About the ceremony, hosted by Neil Patrick Harris whose opened the night with a tribute to motion picture musical with Anna Kendrick and Jack Black, beautifully astounding, this year’s Oscars might seem a little lighter than last year’s Ellen DeGeneres. There were still few jokes including the short parody combined ‘Birdman’ and ‘Whiplash’ scene, and thanks to the idea of pairing John Travolta and Idina Menzel over last year’s shame wreck, also the Oscars’ top secret briefcase, but the highlights were sure a lot more. The Oscars’ orchestra might be not as strong as the previous years, but playing more and more piece of remarkable movie theme songs over generations, it was still respectively wonderful. From each Best Song nominee performers, mostly ‘Everything is Awesome’ from ‘The Lego Movie’, with the Lego Oscars to  Tim McGraw’s heartbreaking performance of Glen Campbell’s ‘I’m Not Gonna Miss You’ and John Legend – Common’s anthem ‘Glory’ from ‘Selma’, the peak of the show was the 50th Anniversary of the everlasting ‘The Sound of Music’ featured Lady Gaga, like you’ve never seen her before, singing ‘The Sound of Music’ in medley before Julie Andrews appeared on stage to read the result of this year’s Best Original Score.

oscarsactors

 

Here are the complete winners list of this year’s Academy Awards.

BEST PICTURE :

oscarsbirdman

  • AMERICAN SNIPER – Clint Eastwood, Robert Lorenz, Andrew Lazar, Bradley Cooper and Peter Morgan, Producers

  • BIRDMAN – Alejandro G. Iñárritu, John Lesher and James W. Skotchdopole, Producers (WINNER)

  • BOYHOOD – Richard Linklater and Cathleen Sutherland, Producers

  • THE GRAND BUDAPEST HOTEL – Wes Anderson, Scott Rudin, Steven Rales and Jeremy Dawson, Producers

  • THE IMITATION GAME – Nora Grossman, Ido Ostrowsky and Teddy Schwarzman, Producers

  • SELMA – Christian Colson, Oprah Winfrey, Dede Gardner and Jeremy Kleiner, Producers

  • THE THEORY OF EVERYTHING – Tim Bevan, Eric Fellner, Lisa Bruce and Anthony McCarten, Producers

  • WHIPLASH – Jason Blum, Helen Estabrook and David Lancaster, Producers

BEST DIRECTING :

oscarsinnaritu

  • Alejandro G. Iñárritu – BIRDMAN (WINNER)

  • Richard Linklater – BOYHOOD

  • Bennett Miller – FOXCATCHER

  • Wes Anderson – THE GRAND BUDAPEST HOTEL

  • Morten Tydlum – THE IMITATION GAME

BEST ACTOR IN A LEADING ROLE :

oscarseddie

  • Steve Carell – FOXCATCHER

  • Bradley Cooper – AMERICAN SNIPER

  • Benedict Cumberbatch – THE IMITATION GAME

  • Michael Keaton – BIRDMAN

  • Eddie Redmayne – THE THEORY OF EVERYTHING (WINNER)

 

BEST ACTRESS IN A LEADING ROLE :

oscarsjulianne

  • Marion Cotillard– TWO DAYS, ONE NIGHT

  • Felicity Jones – THE THEORY OF EVERYTHING

  • Julianne Moore – STILL ALICE (WINNER)

  • Rosamund Pike – GONE GIRL

  • Reese Witherspoon – WILD

BEST ACTOR IN A SUPPORTING ROLE :

oscarsjksimmons

  • Ethan Hawke – BOYHOOD

  • Edward Norton – BIRDMAN

  • Mark Rufallo – FOXCATCHER

  • J.K. Simmons – WHIPLASH (WINNER)

  • Robert Duvall – THE JUDGE

BEST ACTRESS IN A SUPPORTING ROLE :

oscarspatricia

  • Patricia Arquette – BOYHOOD (WINNER)

  • Laura Dern – WILD

  • Keira Knightley – THE IMITATION GAME

  • Emma Stone – BIRDMAN

  • Meryl Streep – INTO THE WOODS

BEST WRITING – ADAPTED SCREENPLAY :

oscarsgrahammoore

  • INHERENT VICE – Paul Thomas Anderson

  • THE THEORY OF EVERYTHING – Anthony McCarten

  • WHIPLASH – Damien Chazelle

  • AMERICAN SNIPER – Jason Hall

  • THE IMITATION GAME – Graham Moore (WINNER)m

BEST WRITING – ORIGINAL SCREENPLAY :

  • BIRDMAN – Alejandro G. Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Jr. & Armando Bo (WINNER)

  • BOYHOOD – Richard Linklater

  • FOXCATCHER – E. Max Frye and Dan Futterman

  • THE GRAND BUDAPEST HOTEL – Wes Anderson; Story by Wes Anderson & Hugo Guinness

  • NIGHTCRAWLER – Dan Gilroy

BEST ANIMATED FEATURE :

  • HOW TO TRAIN YOUR DRAGON 2 – Dean DeBlois and Bonnie Arnold

  • SONG OF THE SEA – Tomm Moore and Paul Young

  • THE TALE OF PRINCESS KAGUYA – Isao Takahata and Yoshiaki Nishimura

  • BIG HERO 6 – Don Hall, Chris Williams and Roy Conli (WINNER)

  • THE BOXTROLLS  – Anthony Stacchi, Graham Annable and Travis Knight

BEST FOREIGN LANGUAGE FILM :

  • LEVIATHAN – Russia

  • TANGERINES – Estonia

  • TIMBUKTU – Mauritania

  • WILD TALES – Argentina

  • IDA – Poland (WINNER)

BEST DOCUMENTARY – FEATURE :

  • CITIZEN FOUR – Laura Poitras, Mathilde Bonnefoy and Dirk Wilutzky (WINNER)

  • FINDING VIVIAN MAIER – John Maloof and Charlie Siskel

  • LAST DAYS IN VIETNAM – Rory Kennedy and Keven McAlester

  • THE SALT OF THE EARTH – Wim Wenders, Juliano Ribeiro Salgado and David Rosier

  • VIRUNGA – Orlando von Einsiedel and Joanna Natasegara

BEST DOCUMENTARY – SHORT SUBJECT :

  • CRISIS HOTLINE: VETERANS PRESS 1 – Ellen Goosenberg Kent and Dana Perry (WINNER)

  • JOANNA – Aneta Kopacz

  • OUR CURSE – Tomasz Śliwiński and Maciej Ślesicki

  • THE REAPER (LA PARKA) – Gabriel Serra Arguello

  • WHITE EARTH – J. Christian Jensen

BEST LIVE ACTION SHORT FILM :

  • AYA – Oded Binnun and Mihal Brezis

  • BOOGALOO AND GRAHAM – Michael Lennox and Ronan Blaney

  • BUTTER LAMP (LA LAMPE AU BEURRE DE YAK)– Hu Wei and Julien Féret

  • PARVANEH – Talkhon Hamzavi and Stefan Eichenberger

  • THE PHONE CALL – Mat Kirkby and James Lucas (WINNER)

BEST ANIMATED SHORT FILM :

  • THE DAM KEEPER – Robert Kondo and Dice Tsutsumi

  • FEAST – Patrick Osborne and Kristina Reed (WINNER)

  • ME AND MY MOULTON – Torill Kove

  • A SINGLE LIFE – Joris Oprins

  • THE BIGGER PICTURE – Daisy Jacobs and Christopher Hees

BEST ORIGINAL SCORE :

oscarsdesplat

  • THE GRAND BUDAPEST HOTEL – Alexandre Desplat (WINNER)

  • THE IMITATION GAME – Alexandre Desplat

  • INTERSTELLAR – Hans Zimmer

  • MR. TURNER – Gary Yershon

  • THE THEORY OF EVERYTHING – Jóhann Jóhannsson

BEST ORIGINAL SONG :

oscarsjohnlegend

  • “Everything Is Awesome” from THE LEGO MOVIE; Music and Lyric by Shawn Patterson

  • “Glory” from SELMA; Music and Lyric by John Stephens and Lonnie Lynn (WINNER)

  • “Grateful” from BEYOND THE LIGHTS; Music and Lyric by Diane Warren

  • “I’m Not Gonna Miss You” from GLEN CAMPBELL: ….I’LL BE ME; Music and Lyric by Glen Campbell and Julian Raymond

  • “Lost Stars” from BEGIN AGAIN; Music and Lyric by Gregg Alexander and Danielle Brisebois

BEST SOUND EDITING :

  • UNBROKEN – Becky Sullivan and Andrew DeCristofaro

  • AMERICAN SNIPER – Alan Robert Murray and Bub Asman (WINNER)

  • BIRDMAN – Martín Hernández and Aaron Glascock

  • THE HOBBIT: THE BATTLE OF FIVE ARMIES – Brent Burge and Jason Canovas

  • INTERSTELLAR – Richard King

BEST SOUND MIXING :

  • AMERICAN SNIPER – Skip Lievsay, Niv Adiri, Christopher Benstead and Chris Munro

  • BIRDMAN – Jon Taylor, Frank A. Montaño and Thomas Varga

  • INTERSTELLAR – Gary A. Rizzo, Gregg Landaker and Mark Weingarten

  • UNBROKEN – Jon Taylor, Frank A. Montaño and David Lee

  • WHIPLASH – Richard King (WINNER)

BEST PRODUCTION DESIGN  :

  • THE GRAND BUDAPEST HOTEL – Production Design: Adam Stockhausen; Set Decoration: Anna Pinnock (WINNER)

  • THE IMITATION GAME –  Production Design: Maria Djurkovic; Set Decoration: Tatiana Macdonald – Andy Nicholson (Production Design); Rosie Goodwin & Joanne Woollard (Set Decoration)

  • INTERSTELLAR – Production Design: Nathan Crowley; Set Decoration: Gary Fettis

  • INTO THE WOODS –Production Design: Dennis Gassner; Set Decoration: Anna Pinnock

  • MR. TURNER – Production Design: Suzie Davies; Set Decoration: Charlotte Watts

BEST CINEMATOGRAPHY :

  • BIRDMAN – Emmanuel Lubezki (WINNER)

  • THE GRAND BUDAPEST HOTEL – Robert Yeoman

  • IDA – Lukasz Zal and Ryszard Lenczewski

  • MR. TURNER – Dick Pope

  • UNBROKEN – Roger Deakins

BEST FILM EDITING :

  • AMERICAN SNIPER – Joel Cox and Gary D. Roach

  • BOYHOOD – Sandra Adair

  • THE GRAND BUDAPEST HOTEL  – Barney Pilling

  • THE IMITATION GAME – William Goldenberg

  • WHIPLASH – Tom Cross (WINNER)

BEST VISUAL EFFECTS :

BEST MAKEUP AND HAIRSTYLING :

  • FOXCATCHER – Bill Corso and Dennis Liddiard

  • THE GRAND BUDAPEST HOTEL – Frances Hannon and Mark Coulier (WINNER)

  • GUARDIANS OF THE GALAXY – Elizabeth Yianni-Georgiou and David White

BEST COSTUME DESIGN :

  • THE GRAND BUDAPEST HOTEL – Milena Canonero (WINNER)

  • INHERENT VICE – Mark Bridges

  • INTO THE WOODS – Colleen Atwood

  • MALEFICENT – Anna B. Sheppard and Jane Clive

  • MR. TURNER – Jacqueline Durran

WHIPLASH : JUST LIKE JAZZ, IT’S IMPROVISING

•February 20, 2015 • 2 Comments

WHIPLASH

Sutradara : Damien Chazelle

Produksi : Sierra/Affinity, Bold Films, Blumhouse Productions, Right of Way Films, Sony Pictures Classics, 2014

whiplash

            Entah ada apa antara Oscar dengan jazz drums tahun ini, tapi ‘Whiplash’ jelas ada di referensi wajib jazz movies terlebih bagi penggemarnya. Walau bukan straightly ada di genre musikal, otak dibalik semuanya, Damien Chazelle (penulis skrip ‘Grand Piano’, yang juga punya racikan tak jauh) lewat perjalanan panjangnya dari daftar ‘Black List’ 2012 menjadi film pendek yang dibintangi J.K. Simmons dan Johnny Simmons (no, they were not related) dan memperoleh perhatian besar di Sundance 2013 hingga akhirnya menarik investor untuk memproduksi versi panjangnya, memang mengembangkan plot yang lebih dekat ke sebuah psychological thriller dengan latar genre jazz yang sangat kental.

            Pendekatan psikologis mentor vs protege ala drill sergeant menggembleng trainee-nya dengan kekerasan luarbiasa juga bukan lagi sesuatu yang baru dalam konteks film. Dari ‘An Officer and a Gentleman’, many sports movies ke ‘Training Day’ sampai satu yang paling haunting dan memorable, ‘Full Metal Jacket’, sudah pernah menampilkan itu. Bedanya disini, Chazelle yang memang kabarnya terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat tergabung dalam sebuah jazz band di Princeton semasa sekolah, membesut jazz drums dalam hubungan mentor vs protege-nya hingga mirip extreme sports yang penuh pacuan adrenalin dibalik isu-isu bullying dan misconducted education. Membentuknya sebagai sebuah ide baru yang terasa sangat fresh, tak heran kalau ‘Whiplash’ memperoleh resepsi luarbiasa dari sebagian besar pemirsanya, walau juga, dari beberapa kalangan termasuk penggemar jazz bahkan drummer atau big band / ensemble player, kritik demi kritik terus berdatangan. Tentu saja, dalam banyak sudut pandang, ini tetap sangat relatif.

            Masuk ke sekolah musik prestigius Shaffer Conservatory, New York, drummer muda berbakat Andrew Neiman (Miles Teller) tak memerlukan waktu lama untuk menarik perhatian Terence Fletcher (J.K. Simmons), konduktor jazz ensemble sekaligus pencari bakat berpengaruh buat menerimanya sebagai cadangan ke core drummer Carl Tanner (Nate Lang). Namun disana juga ia menyadari cara Fletcher menggembleng dirinya untuk bisa mengeluarkan kemampuan terbaik itu sama sekali tak seperti yang dibayangkannya. Perang urat syaraf mentor vs protege ini pun berkecamuk melanggar batas konflik pribadi masing-masing.

            Bukan Damien Chazelle tak membesut skrip jenius-nya itu tak dengan referensi dan penghormatan ke genre musik yang ia angkat, no. Seperti judulnya, ‘Whiplash’ yang juga punya arti terhadap premis utamanya diwarnai dengan dua nomor jazz legendaris yang jadi partitur terkuat penggambaran ensemble-nya, komposisi berjudul sama dari Hank Levy dan ‘Caravan’-nya Juan Tizol yang pertama kali dipopulerkan oleh Duke Ellington. Dari sini, Chazelle membidik fokus terhadap drum skills yang jadi elemen konflik utamanya, dalam hal tempo dan kecepatan yang memang jadi dua hal terpenting yang harus dimiliki seorang drummer profesional.

            Disana juga ia menyempalkan referensi-referensi lain soal jazz dari tokoh-tokoh legendaris macam Jo Jones, Charlie ‘Bird’ Parker and mostly Buddy Rich, juga seorang drummer jazz yang terkenal karena kecepatannya, hingga sejarah karir sebagian diantaranya. Oke, mungkin sisi historis soal Jo Jones yang melempar simbal yang nyaris memenggal kepala Charlie Parker hingga membuatnya sebenar-benarnya menjadi ‘Bird’ itu juga tak seakurat yang kita dengar dalam dialognya, begitu pula soal protes-protes sebagian penggemar jazz yang menganggap masih banyak nama lain yang lebih layak dari Buddy Rich, berikut tetek-bengek lain soal relevansi karakternya, tapi lagi, ini jelas pilihan. Yang jelas, Chazelle sama sekali tak tengah terlihat sedang mengkhianati genre musiknya sendiri.

            Pun begitu halnya dengan bombastic attempt untuk terus menaikkan intensitas perseteruan dua karakter utamanya hingga melewati kewajaran yang pasti bisa dirasakan oleh pemain instrumen sentralnya (baca=drum). Call it necessary roughness, apa yang dilakukan Chazelle terhadap tiap tetesan hingga kucuran darah yang justru bekerja buat jadi highlight konfliknya toh tak jauh beda dengan apa yang dilakukan Sylvester Stallone ke franchiseRocky’ dan banyak lagi film-film sejenisnya. It’s often hyperbolic, unrealistic, tapi dalam batas-batas dramatisasi sinematis, juga sangat diperlukan dan bisa dimaklumi.

            Dan jauh dibalik dialog-dialog cerdas, efektif  dan penuh punchlines yang ditampilkan Chazelle bersama tarikan batas yang pas buat subplot dan karakter-karakter sampingannya, dari yang dibintangi Melissa Benoist, Paul Reiser, Nate Lang dan Austin Stowell, yang semuanya punya relevansi untuk memperkuat masing-masing karakter utamanya, membuat pace-nya jadi berjalan sekencang pacuan adrenalin dibalik genre musik yang seharusnya punya efek bertolak belakang itu, ada sisi penggarapan yang menunjukkan bahwa Chazelle memang sepenuhnya memahami, dan bisa benar-benar menerjemahkan musik, terutama elemen drum, ke dalam filmnya.

            Mempertahankan tiap elemen instrumen untuk menghadirkan permainan sempurna terhadap komposisinya jelas tak sesulit itu, namun menuangkan kesalahan-kesalahan detil ke dalam penerjemahan partitur untuk bisa lebih jauh berbicara soal rushing or dragging in drums bersama kesalahan permainan tempo dan aspek lainnya dalam sebuah ensembel musik, itu jelas perlu kecermatan jauh lebih. Setiap telinga yang punya kemampuan lebih detil mengenali musik jelas bisa memperkirakan sulitnya menggagas batasan-batasan ini dalam tampilan tiap musical scene-nya, yang juga menyangkut kemampuan DoP Sharone Meir dan editor Tom Cross, keduanya bukan nama-nama yang sangat dikenal, berikut tiap kru dalam tata suaranya, dengan maksimal. Dan disitu pula, intensitas emosinya benar-benar punya alasan yang relevan untuk sewaktu-waktu bisa meledak ke permukaan.

            However, highlight terbaik dalam ‘Whiplash’ tentulah ada pada J.K. Simmons. Menokohkan sosok Fletcher diatas desain karakter yang sangat detil hingga ke pemilihan kostum dan tiap gestur tampilannya, intensitas akting luarbiasa dengan motivasi tak tertebak itu benar-benar hadir dengan sempurna. Bahkan dalam hitungan detik, kita bisa begitu percaya dengan goyangan kepalanya menerjemahkan musik sebagai seorang konduktor handal. Kontrasnya ke karakter Neiman, yang juga dimainkan sangat bagus oleh Miles Teller di luar kemampuan aslinya menggebuk drum, sekaligus menjadi penempatan part paling pas dalam sejarah karirnya yang lebih sering diisi peran-peran (walau sebagai lead sekalipun) tak penting, juga luarbiasa. Ini juga yang membuat durasinya bisa terasa berjalan sekencang itu dibalik interaksi Simmons dan Teller yang unpredictable.

        So yes, film-film yang diisi perang psikologis mentor vs protege mungkin banyak, begitu pula yang menggunakan jazz sebagai elemen terkuatnya. Tapi memainkannya bagai metronom untuk menyemat psychological thriller-nya buat meledak sewaktu-waktu, going through hell and back again, bahkan nyaris seperti horror, ‘Whiplash’ memang tak sekalipun memberi isyarat kita akan dibawa kearah mana menuju ending yang meski bagi sebagian orang masih membutuhkan penjelasan lebih namun punya makna sangat dalam dari tiap bagian ide terkecil yang diusungnya. Just like jazz, it’s improvising. Mesmerizing, astounding, exhilarating, electrifying atau apapun sebutannya, ‘Whiplash’, dalam tiap sentuhan hingga dentuman pukulan tiap drum parts-nya, adalah sebuah one of a kind-masterpiece yang benar-benar luarbiasa. Luarbiasa! (dan)

DRAGON BLADE (天将雄狮) : A GRAND BUT OVERBEARING HISTORICAL EPIC

•February 18, 2015 • 1 Comment

DRAGON BLADE (天将雄狮) 

Sutradara : Daniel Lee

Produksi : Visualizer Films, Huayi Brothers, Shanghai Film Group, Sparkle Roll Cultural Media, Beijing Cultural Assets, Chinese Film & Television Fund, 2015

dragon blade

            Meski tetap ditunggu, film-film Jackie Chan belakangan memang tak lagi sehebat dulu. Dan di luar faktor usia, mungkin, entah mengapa, ia lebih suka mengeksplorasi emosi akting yang justru jadi bumerang terhadap ekspektasi banyak fans-nya. ‘Dragon Blade’ ini juga kurang lebih seperti itu. Dibalik ambisi besarnya menjadi sebuah epik sejarah dengan latar inspirasi kisah nyata yang menarik dalam menggabungkan budaya Barat dengan Timur, ada banyak sekali distraksi di seputar keberadaannya.

            Pertama adalah imbas dari film-film medioker bernafas sama seperti ‘Outcast’ yang hadir lebih dulu, belum lama ini, dan memang tak didasari dengan penggarapan yang benar-benar serius. Kedua, sama seperti kredibilitas Nicolas Cage dan Hayden Christensen sebagai bintang internasional di ‘Outcast’, nama John Cusack dan Adrien Brody pun harus diakui tak lagi berada di puncak karir mereka. Sama-sama lebih sering tampil dalam produksi studio kecil di film-film DTV, ‘Dragon Blade’ jadinya agak sulit memancing ekspektasi banyak orang. Padahal, ambisinya tak main-main. Sekaligus jadi proyek pertama film yang didanai salah satu funding program baru pemerintah Cina, bujetnya tak digagas dengan sembarangan. Di tangan sutradara Daniel Lee (‘Three Kingdoms’, ’14 Blades’) yang punya kredibilitas cukup baik, penggarapannya juga sama sekali tak berada di kelas ‘Outcast’, lengkap dengan format IMAX 3D.

            Sebagai pimpinan dari Satuan Pengaman Jalan Sutra dari perseteruan puluhan suku yang punya kepentingan disana pada masa Dinasti Han, Huo An (Jackie Chan) selalu berpegang pada niat seorang Jendral yang mengasuhnya sejak kecil, untuk menegakkan perdamaian di seluruh wilayahnya. Sayang, fitnah yang kemudian menimpanya membuat Huo An dan satuannya terpaksa diasingkan ke daerah perbatasan, dimana seluruh tahanan bekerja membangun gerbang kota yang mereka namakan Wild Geese Gate. Disana, Huo An kemudian tak bisa menolak keinginan sekelompok serdadu Romawi dibawah pimpinan Lucius (John Cusack) yang awalnya berniat menduduki kota. Sebagai ganti jasa Huo An yang memberi mereka perlindungan, Lucius memerintahkan anak buahnya membantu seluruh penghuni Wild Geese Gate menyelesaikan pembangunan gerbang kota. Hubungan keduanya meningkat menjadi sebuah persahabatan ketika Huo An akhirnya menyadari bahwa Lucius tengah mengemban niat mulia di tengah pelarian dari negaranya untuk menyelamatkan seorang putra mahkota kecil (Jozef Waite) dari tindakan makar kakaknya, Tiberius (Adrien Brody). Apalagi setelah mengetahui konspirasi Tiberius dengan atasannya, Yin Po (Choi Siwon) yang berada dibalik fitnah itu. Kini bukan saja mempertahankan Wild Geese Gate, perseteruannya dengan Tiberius juga menjadi perang pribadi dibalik sebuah perang tak seimbang bersama serbuan serdadu Romawi.

            Sebagai sebuah epik sejarah, skrip yang ditulis Daniel Lee sendiri sebenarnya sudah punya latar yang bagus untuk East meets West universe building-nya. Mencoba memberi dasar ketimbang mengundang pertanyaan dibalik anggapan mengada-ada antara hubungan kerajaan Barat dan Timur masa lalu. Setup, latar dan motivasi-motivasi karakternya pun disertai dengan detil-detil yang sangat diperhatikan, misalnya dibalik kewajaran penggunaan bahasa dan culture bumps lainnya. Walaupun tak sepenuhnya sempurna, disana, friendship story yang mendasari konflik serta interaksi masing-masing karakter utama maupun sampingannya sudah terbangun baik dengan sendirinya.

            Sayangnya, usaha yang sudah baik itu agak terdistraksi dengan niat Daniel Lee menyempalkan anti-war message serta peace and harmony-nya secara berlebih. Tak ada yang salah dengan penggambaran komikal karena ‘Dragon Blade’, seperti sederet film-film Daniel Lee lainnya, adalah historical action yang dibangun diatas latar sejarah bangsanya. Namun adegan-adegan yang memuat semangat persatuan antar suku hingga bangsa yang terkesan repetitif dan bertele-tele diatas dialog verbal dan cenderung preachy membuat ‘Dragon Blade’ terasa sangat pretensius mengedepankan pesan baiknya. Berkali-kali, moral mengajak musuh menjadi teman secara terus-menerus itu menjadi terasa naif luar biasa, lengkap dengan adegan menyanyikan lagu kebangsaan dan perjuangan masing-masing. Sudah begitu, dominasinya justru menekan subplot serta penokohan karakter-karakter sampingan yang seharusnya lebih baik dijadikan fokus dalam mengeksplor dramatisasinya.

            Dan ini mau tak mau ikut juga menggerus kepentingan ‘Dragon Blade’ untuk bisa jadi action showcase khas Jackie Chan yang layak. Nantilah dulu soal elemen komedi yang juga diharapkan oleh fans Jackie Chan bersama pameran aksinya, namun membangun karakternya lebih ke arah martir dibalik persahabatannya dengan Lucius ketimbang seorang jagoan tangguh yang sebenarnya sudah disematkan sejak awal lewat sebuah adegan pertarungan jenaka, satu scene terbaik dari ‘Dragon Blade’ yang masih sangat Jackie Chan, akhirnya membuat tak satupun yang berada dalam taraf seimbang. Lee tetap terlihat berusaha membuat karakter-karakter sampingannya, yang sebenarnya diperankan dengan baik diantaranya oleh Mika Wang, berikut duo penyanyi Chopsticks Brothers (Xiao Yang dan Wang Taili) terutama aktris Lin Peng yang sangat mencuri perhatian, namun skrip itu lagi-lagi terlalu asyik bermain-main dengan pesan moralnya. Yang terparah tentu saja penampilan Choi Siwon dari Super Junior yang seharusnya bisa jadi highlight, malah tersia-sia begitu saja, begitu juga dengan aktris Amerika Sharni Vinson yang tampil tak lebih sekedar cameo.

            However, baik Jackie Chan, John Cusack dan once an Oscar winner Adrien Brody, bermain dengan baik membuat kolaborasi mereka dalam ‘Dragon Blade’ paling tidak bekerja memberi penekanan lebih pada kelas produksinya. Chemistry Chan dan Cusack tergelar bersama eksplorasi dramatis yang bagus di penampilan keduanya, sementara walaupun emosinya terkadang agak komikal, Adrien Brody bisa menjadi lawan seimbang Chan di final showdown-nya, walaupun menempatkan Chan di posisi kelewat lemah, tak seperti yang diharapkan banyak fans-nya. Penampilan singkat dari Vanness Wu dan Karena Lam juga mengisi prolog dan epilog yang sangat lumayan dalam memberi kesan lebih.

            And above all, presentasi terbaik dalam ‘Dragon Blade’ adalah desain produksinya. Memberikan tampilan yang sepadan dengan bujet gigantis produksinya, baik dalam bangunan set dan heavy costumes, tata artistik dari Jia Neng Huang, scoring dari Henry Lai serta grand / colosssal look di sinematografi bersama sejumlah battle scenes yang cukup seru, paling tidak kelebihan-kelebihan ini tetap membuat ‘Dragon Blade’ tetap secara solid ada di kelas blockbuster, bukan film-film kelas B seperti ‘Outcast’. A grand but overbearing historical epic. Lagi-lagi, bukan action showcase Jackie Chan yang diharapkan banyak orang terutama fans-nya, tapi jelas bukan sama sekali jelek, terlebih sebagai sajian khusus menyambut hari raya Imlek tahun ini. Now to those who celebrate, I’m wishing you a very happy Chinese New Year. Gong Xi Fa Cai! . (dan)

UNBROKEN : AN OVERBLOWN TALE OF MIRACLES

•February 17, 2015 • 1 Comment

UNBROKEN

Sutradara : Angelina Jolie

Produksi : Legendary Pictures, Jolie Pas, 3 Arts Entertainment, Universal Pictures, 2014

unbroken

            It’s true, kalau ‘Unbroken’, karya penyutradaraan Angelina Jolie yang banyak diramalkan jadi salah satu award contender di akhir tahun kemarin ini, diangkat dari sebuah kisah nyata berdasar buku karya Laura Hillenbrand, ‘Unbroken: A World War II Story of Survival, Resilience and Redemption’. Berisi biografi kepahlawanan seorang Louis ‘Louie’ Zamperini, atlit pelari olimpiade AS berdarah Italia yang juga seorang saksi hidup Perang Dunia II lewat pengalamannya sebagai P.O.W. (Prisoner of War) kamp Jepang, ‘Unbroken’ memang merupakan kisah inspiratif dibalik status Zamperini di sisa hidupnya sebagai seorang Christian inspirational speaker.

            It’s true, too, kalau novel serta adaptasi filmnya juga lantas banyak dimasukkan ke dalam Christian literature atas pendekatan-pendekatan testimonial Zamperini yang mengalami begitu banyak mukjizat selama jatuh bangun masa-masa tersulitnya sepanjang perang. Okay, tak ada yang salah dengan itu. Secara kisah-kisah sejati seperti ini memang bertujuan menyebarkan inspirasi pada tiap pemirsanya. Sementara agama mungkin hanya jadi sebuah simbol, tapi pesannya terhadap sebuah penghargaan hidup, luarbiasa universal. Apalagi, baik Jolie maupun Hillenbrand adalah aktivis-aktivis perdamaian yang masih aktif berjuang hingga sekarang.

            Tumbuh besar sebagai anak bengal di lingkungannya, Torrance, California, atas temuan kakaknya, Louie Zamperini (Jack O’Connell) meraih kesuksesan di usia remaja sebagai pelari olimpiade yang bukan hanya masuk ke dalam kualifikasi Olimpiade Musim Panas di Berlin, Jerman, tahun 1936, tapi juga mencetak rekor putaran terakhir dalam lomba lari 5000 meter. Sayang pecahnya Perang Dunia II tak membiarkannya berlama-lama mengecap karir gemilang itu. Bergabung bersama US Air Force sebagai pembom pesawat bombardir, sebuah kecelakaan kemudian membuat Louie dan dua kru yang tersisa, Mac (Finn Wittrock) dan Phil (Domhnall Gleeson) terkatung-katung selama 49 hari di tengah lautan. Melawan hiu hingga pesawat bombardir Jepang hingga akhirnya menjalani hari-harinya sebagai tawanan perang di sebuah kamp Jepang bersama Phil. Terpisah dengan Phil setelah mengalami penyiksaan berat, penderitaannya tak berhenti disini. Kamp-nya di Tokyo malah dikepalai tentara Jepang Mutsuhiro ‘The Bird’ Watanabe (Takamasa Ishihara a.k.a. Miyavi, gitaris dan penyanyi terkenal Jepang) yang kejamnya tak kepalang, apalagi setelah mengetahui latar Louie sebagai pelari olimpiade. Dan ia tetap tak bisa melepaskan diri dari The Bird bahkan setelah kampnya dibom Amerika. Namun justru disinilah Louie mendapat pencerahan baru yang membuatnya bisa terus bertahan menempuh saat-saat tergelap dalam hidupnya.

            Tak ada yang sebenarnya terlalu salah dengan pendekatan tipikal kisah-kisah sejati tawanan perang berbalut kepahlawanan yang bukan baru sekali ini juga diangkat ke layar lebar. Mau berada di kelas apapun sejauh tak lebih segmented dari tipe-tipe Oscar contender, dari ‘Bridge on the River Kwai’, ‘Merry Christmas Mr. Lawrence’ sampai ‘Schindler’s List’ termasuk film-film tawanan perang kelas dua sampai tiga, film-film dalam genre sejenis tetap menampilkan elemen-elemen yang sama. Cenderung mengeksploitasi penderitaan karakter utamanya lewat karakter antagonis prajurit musuh yang kejamnya luarbiasa, dan mengakhirinya dengan moral penting, sesekali dengan unsur redemption seperti yang baru kita saksikan lewat ‘The Railway Man’ tahun lalu.

            Namun sulit dipungkiri juga bahwa pendekatan testimonial terhadap source-nya, yang jauh lebih terus terang menyentuh batas-batas inspiratif sebuah kisah penuh simbol-simbol reliji diatas pengalaman pribadi Zamperini untuk beralih menjadi God’s servant, memang membuat ‘Unbroken’ sedikit banyak jadi terasa pretensius luarbiasa. Bahkan 4 kredit penulis, kesemuanya punya kredibilitas kelas satu, dari Oscar winner ke nominee, Coen Brothers (Joel Coen & Ethan Coen), Richard La Gravanese (‘The Fisher King’, ‘The Bridges of Madison County’ dan ‘Behind the Candelabra’) dan William Nicholson (‘Gladiator’, ‘Les Miserables’ dan ‘Mandela: Long Walk to Freedom’) tak bisa menyelamatkan plot-nya untuk tak sedikitpun mencoba menelusuri sisi lebih wajar ketimbang terus-menerus selama dua jam lebih mengedepankan mukjizat yang terjadi sepanjang penderitaan Zamperini.

            Berulang kali, skrip dan penyutradaraan Angelina Jolie, yang meskipun tak jelek, terasa overblown dalam penyampaian ide ‘If you can take it, you can make it’ yang selain repetitif juga ikut tersampaikan dalam dialog preachy yang benar-benar harafiah. Ini terus dan terus hingga ke batas, sorry if this might sounds cruel, dimana penontonnya secara universal harusnya bisa tergugah tapi malah bergumam ‘yeah, right’ dan ‘oh come on’ dengan senyuman atau tawa di sepanjang film. Bukannya skeptis, tapi apa yang digambarkan Jolie dalam pengadeganannya mau tak mau membuat sebagian jadi balik mempertanyakan kebenaran true story-nya sendiri. ‘Unbelievabletrue story in a much different ways. Dan ini masih diperparah lagi dengan konklusi klise yang lagi-lagi, walaupun bermaksud menggugah menggunakan simbol-simbol reliji yang seharusnya bisa menyentuh, jadi jatuh sangat ridiculous seperti antagonis yang tiba-tiba bisa menangis di depan ratusan tawanannya.

            Bukannya Jack O’Connell, the rising English actor yang melesat bagaikan komet dengan 3 respectable showcase (‘Starred Up’, ‘71’ dan ‘Unbroken’) plus sebuah blockbuster (‘300: Rise of an Empire’) dari akhir 2013 ke 2014, tak bermain bagus. Dibalik fisiknya yang sangat memenuhi syarat bahkan sebagai seorang bintang, O’Connell benar-benar berhasil meng-handle porsi lead-nya dengan kuat, meyakinkan kita bahwa karirnya ke depan punya kans jauh lebih besar lagi. Pendukungnya yang rata-rata diisi nama-nama aktor muda cukup dikenal, dari yang punya porsi lumayan seperti Garrett Hedlund, Domhnall Gleeson, Finn Wittrock hingga yang sekedar numpang lewat seperti Jai Courtney, Luke Treadaway dan Alex Russell pun punya andil menambah dayatariknya. Takamasa Ishihara, gitaris-penyanyi Jepang yang lebih dikenal dengan nama Miyavi pun sebenarnya sama sekali tak jelek, malah punya fungsi penting membangun karakternya sebagai salah satu highlightUnbroken’ yang bakal diingat banyak pemirsanya setelah ini. Aktingnya kuat, sama baiknya dengan apa yang dilakukan Ryuichi Sakamoto (juga musisi terkenal Jepang) dalam ‘Merry Christmas Mr. Lawrence‘), hanya saja, pendekatan yang terlalu komikal ini tak sepenuhnya membentuk blend yang bagus dengan toneUnbroken’ sebagai sebuah inspirational true story, dan ini membuat beberapa adegannya terasa begitu over.

            Tapi jangan debat soal presentasi teknisnya. Production design ‘Unbroken’ memang tak digagas sekedar main-main oleh Jolie, jauh melebihi debut penyutradaraannya di ‘In the Land of Blood and Honey’, dan jelas-jelas menorehkan tulisan ‘award contender’ di segala sisinya. Di tangan Roger Deakins, sinematografinya tampil dengan luarbiasa sejak air raid opening scene yang meskipun sedikit terlalu singkat namun menampilkan detil-detil POV yang jarang-jarang kita lihat di adegan-adegan serupa sekaligus satu yang terbaik dalam sejarah sinemanya, dan tetap konsisten di sepanjang film. Editing dari Tim Squyres pun cukup baik, bahkan scoring Alexandre Desplat yang walau dituding banyak pihak kelewat stirring itu tetap bisa bekerja sebaik dan se-majestis komposisi Desplat lainnya. At least, tak seperti ‘The Railway Man‘, ‘Unbroken‘ masih punya emosi yang cukup solid. Masih ada juga theme songMiracles’ dari Coldplay yang mengiringi epilog berisi potret asli kehidupan Zamperini pasca Perang Dunia II dan masa-masa akhir hidupnya sebagai salah satu bagian paling menyentuh dari filmnya.

            So, begitulah. ‘Unbroken’ jelas bukan sebuah film yang gagal, terlebih dari kekuatan ekstra di presentasi teknisnya. Sebagai sutradara, storytelling Jolie pun secara keseluruhan tak jelek serta menunjukkan pengembangan dari debutnya. Hanya saja, sebagai inspirational true story yang digagas diatas sisi testimonial yang begitu mendominasi, gambaran mukjizat dan keajaiban terus-menerus secara verbal dan cenderung preachy hingga harus lewat dialog itu mau tak mau membuat ‘Unbroken’ jadi mirip sebuah khotbah panjang tentang perjalanan spiritual yang sangat pretensius, hingga tak heran kalau dampaknya, di luar hal-hal teknis, ia justru tak berhasil jadi award contender di major categories se-solid seperti yang diperkirakan sebelumnya. An overblown tale of miracles. Really, really, overblown. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,101 other followers