BATTLE OF SURABAYA: ADMIRABLE EFFORTS THAT STILL NEED A LOT OF IMPROVEMENTS

•August 26, 2015 • 1 Comment

BATTLE OF SURABAYA

Sutradara: Aryanto Yuniawan

Produksi: Amikom Yogyakarta, MSV Pictures, 2015

Battle of Surabaya

            Oh ya, meski sebagian dari kita tahu, ada begitu banyak pergerakan dan semangat-semangat tinggi di sinema animasi kita, faktanya, film animasi Indonesia masih jadi hal langka dalam industrinya secara keseluruhan. Dengan jumlah yang masih bisa dihitung dengan jari sejak kebangkitan kembali film kita di awal 2000-an, menyisakan hanya ‘Meraih Mimpi’ (2009; yang biar dikerjakan oleh animator-animator kita dari Infinity Frameworks yang berlokasi di Batam namun sebenarnya lebih berupa versi dub dari film SingapuraSing to the Dawn’), berikut tiga instalmen ‘Petualangan Singa Pemberani’-nya Paddle Pop saja yang lebih dikenal, sementara selebihnya ‘Janus dan Prajurit Terakhir’ (2003), ‘Homeland’ (2004) dan ‘Petualangan Si Adi’ (2013) seakan hilang ditelan zaman, ini jelas cukup menyedihkan.

            ‘Battle of Surabaya’, yang dibandrol sebagai Indonesia 2nd feature animated film (kurang jelas film yang mana yang pertama mereka maksudkan) dan dirilis untuk menyambut perayaan 70 tahun kemerdekaan kita, sebenarnya punya kans besar sebagai pendobrak bagi industrinya. Betapa tidak, kalau sejak sebelum dirilis, trailer-nya sudah mendapat sejumlah acknowledgement; nominee Best Foreign Animation Awards dalam event Golden Trailer Awards 2014, People’s Choice Awards di International Movie Trailer Festival 2013, beberapa penghargaan animasi lain bahkan jadi film pertama yang dilirik distribusi internasionalnya oleh Walt Disney regional Asia Pasifik.

            Animasi yang produksinya melibatkan 180 animator, sebagian besarnya dari kampus Amikom Yogyakarta ini memang terlihat sangat menarik walaupun nuansanya yang sangat Jepang seolah kehilangan ciri untuk menampilkan ciri khas kita sendiri. Sayang sekali di luar perilisan companion children book yang menjadi salah satu syarat mutlak promosi film animasi, celah promosi lain yang mereka lakukan untuk menyemat manifestasi semangat itu dengan bandrol-bandrol ‘karya anak bangsa’, meski bukan sepenuhnya salah juga, malah berujung ada pem-bully-an di sosmed. Namun apapun itu, mereka memang sudah melakukan langkah yang berani merilis filmnya bertepatan dengan ‘Inside Out’ karya Disney-Pixar yang jadi hit animasi dimana-mana, dan menggandeng pula dua pengisi suara yang sedikit banyaknya bisa memberikan kesan bahwa ‘Battle of Surabaya’ bukan animasi yang sekedar sambil lewat saja. Reza Rahadian dan Maudy Ayunda.

            Berlatar peristiwa 10 November 1945, ‘Battle of Surabaya’ memfokuskan plot-nya terhadap Musa (disuarakan oleh Andromeda / Musa kecil dan Ian Saybani / Musa dewasa) di tengah kedatangan kembali tentara Sekutu yang ditumpangi Belanda ke Surabaya pada Insiden Bendera di Hotel Yamato. Bersama perlawanan rakyat Indonesia, terutama arek-arek Suroboyo yang disemangati oleh Residen Soedirman (Guritno) beserta tokoh-tokoh penting seperti Moestopo (Jumali), Gub Soerjo (Hermano) dan Bung Tomo (Ernanta Kusuma), Musa menjalani takdirnya sebagai kurir surat sekaligus kode rahasia dalam perjuangan itu. Bersahabat dengan Yumna (Maudy Ayunda) yang menarik perhatiannya sejak kecil namun menyimpan sebuah misteri dibalik pergerakan klan Kipas Hitam, organisasi paramiliter bentukan Jepang, juga seorang tentara bernama Danu (Reza Rahadian), Musa dengan teguh melakukan tugas mulia ini dibalik segala resiko termasuk keselamatannya sendiri.

            No, meski mungkin dianggap kehilangan ciri, sebagaimana elemen-elemen dunia animasi kita yang lain dari komik hingga film, tak ada yang terlalu salah dari usaha sutradara-penulis Aryanto Yuniawan dan rekan-rekannya mengambil template anime Jepang. Teknik animasi-nya pun, asalkan Anda bukan benar-benar pelaku atau penikmat tingkat tinggi produk-produk inspiratornya, sudah terlihat sangat baik dalam batasan-batasan yang ada. Hanya saja, mungkin ‘Battle of Surabaya’ mereka gagas dengan referensi kelewat tinggi ke produk-produk Ghibli karya Hayao Miyazaki sampai ke detil-detil bentukan karakter hingga sebagian penceritaan, set dan pengadeganannya.

            Begitupun, mereka tetap terlihat berusaha menyatukan style anime tadi dengan nuansa lokal dari dialog-dialog serta iringan soundtrack yang diisi oleh Maudy Ayunda, Angela Nazar, Pasha UnguAfgan dan Sherina ke dalamnya. Toh latar penceritaan historikal-nya dengan sendirinya memang sudah menarik beberapa garis pembeda yang cukup jelas, apalagi ada usaha-usaha menyemat detil bagus percampuran kultur lewat voiceover yang diisi oleh talenta-talenta lintas bangsa. Lagi-lagi, ini memang tak bisa benar-benar bisa membentuk blend yang sempurna, dimana melihat wajah-wajah karakter ala anime berbahasa lokal, apalagi dialek Suroboyo beberapa karakternya tetap serasa menyaksikan anime Jepang yang di-dubbing bahasa Indonesia di TV.

            Kekurangan yang paling krusial dalam ‘Battle of Surabaya’ justru ada pada skrip yang ditulis oleh Aryanto bersama produser M. Suyanto. Sisi latar sejarahnya bisa tersampaikan dengan baik secara kronologis dari awal kemerdekaan Indonesia di tengah (seharusnya) fokus utama kisah Musa, apalagi sematan-sematan pesan ‘There’s no glory in war’ yang mereka gagas dengan cukup berani sebagai sebuah tontonan animasi segala umur dengan konklusi menyayat, mengingat ini memang sangat mengikuti gaya Ghibli yang hampir tak pernah mengedepankan fun factor dibalik tampilan animasi yang lazim disebut kartun bagi sebagian orang.

              Tapi sayangnya, fokus storytelling terpenting di bagian fiktif Musa jadi terasa agak tertinggal, dan efeknya ada pada presentasi emosi yang seharusnya benar-benar bisa tercapai dengan baik di pengujungnya. Bukan saja soal hubungannya dengan perwira Jepang yang disuarakan oleh Tanaka Hidetoshi, keluarga serta Danu dimana persahabatan mereka semestinya jadi titik penting di adegan klimaksnya yang cukup dipenuhi aksi, satu-satunya yang tetap bisa terbangun dengan betul-betul baik adalah chemistry-nya dengan Yumna yang disuarakan Maudy Ayunda.

                Di luar kekurangan-kekurangan itu, tanpa pula harus didistraksi dengan ajakan-ajakan berlebih untuk menonton karya anak bangsa, ‘Battle of Surabaya’ jelas tetap sangat layak buat dihargai lebih. Meski sedikit kehilangan ciri, kita tetap bisa melihat usaha yang cukup solid dalam tatanan animasi yang ditampilkan, bahkan mungkin sedikit melebihi beberapa animasi layar lebar yang sudah-sudah tadi, dan tata teknis pengiringnya, terutama scoring dari Brama Shandy, M.L. Chandra dan Meka Tri berikut lagu-lagu soundtrack pengiringnya juga cukup baik. An admirable efforts that still need a lot of improvements, namun sebagai penggerak awal penyambung nafas karya-karya sinema animasi kita, ini sudah lebih dari sekedar cukup. Sebaiknya talenta-talentanya tak lantas berhenti sampai disini saja. (dan)

INSIDE OUT: DEDICATED TO KIDS, BUT WORKS BEST AS PARENTING COMPANIONS

•August 20, 2015 • 3 Comments

INSIDE OUT

Sutradara: Pete Docter

Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios, 2015

inside out

            Mungkin kita harus tahu terlebih dahulu, bahwa apa yang dilakukan Pete Docter (bersama Ronnie del Carmen, juga co-director-nya) terhadap ‘Inside Out’ sebagai salah satu kontender terbaik Pixar menurut banyak critics maupun fanboys-nya, walau sekilas terlihat sangat inovatif, tak sepenuhnya orisinil. Toh dalam konteks film, ini bukan hal besar selama masih ada argumen-argumen dibalik presentasi yang memang bukan sepenuhnya sama. However, tema-tema ‘What is actually happened inside your body ?as a science fantasy, walau tergolong jarang, sudah punya sejumlah karya-karya memorable. Ada ‘Fantastic Voyage’, medical scifi 1966 karya Richard Fleischer, ‘Innerspace’ sebagai comedized version yang terinspirasi darinya, dan ‘Osmosis Jones’, diantaranya.

            Dalam konteks lebih sempit, ones that move inside someone’s head, ‘Inside Out’ sempat pula dituding publik Jepang memplagiasi manga series terkenal mereka ‘Nonai Poison Berry’ yang juga sama-sama diangkat menjadi film di tahun ini dengan judul ‘Poison Berry in My Brain’. Belakangan muncul lagi tanggapan bahwa manga ini malah dianggap terinspirasi oleh sitkom Amerika ‘Herman’s Head’ (Fox, 1991-1994) yang memang tak jauh-jauh lari dari premis ‘Inside Out’, tentang sejumlah karakter sebagai personifikasi emosi tokoh utamanya. Sebutannya berbeda, namun mengarah ke penelusuran emosi-emosi yang mirip.

          Sementara Docter, menepis hal ini, mengatakan bahwa idenya muncul dari pengamatannya terhadap perkembangan kepribadian putrinya, yang lantas membuat Docter berkonsultasi dengan beberapa psikolog ternama soal kaitan emosi manusia dengan teori-teori neuropsikologis. Okay, kita mungkin tak akan pernah tahu kebenarannya, namun lagi; dalam banyak permasalahan yang sama, Disney termasuk Pixar sendiri memang sudah sejak lama dituding banyak pihak mencomot sana-sini ide-ide yang sudah ada, baik dari negaranya maupun dari luar, mostly dibalik kecintaan luarbiasa John Lasetter dan kru Pixar terhadap Ghiblis Hayao Miyazaki dan kultur anime Jepang lainnya. Lagi-lagi, kesamaan ide selalu punya batasan untuk bisa benar-benar dianggap sebagai act of plagiarism, sementara inspirasi, selalu sah-sah saja.

            Apapun itu, penelusurannya sebenarnya lebih terletak pada proses storytelling serta visualisasi yang mereka tampilkan atas ide-ide yang sama tadi. Disitu, ‘Inside Out’, lewat skrip yang ditulis sendiri oleh Pete Docter bersama Meg LeFauve dan Josh Cooley, memang harus diakui sangat inovatif membangun kompleksitas prosesnya yang jelas terlihat luarbiasa rumit untuk menyemat konklusi berbeda dari judul-judul yang disebutkan diatas. Seperti apa yang ditampilkan dalam guliran kredit akhirnya, “This is dedicated to our kids. Please don’t grow up, ever”, pada akhirnya ‘Inside Out’ memang justru jadi dipenuhi antitesis terhadap sasaran dedikasi itu sendiri. Seolah berupa curhatan orangtua sebagaimana pengamatan Docter terhadap perubahan yang terjadi dalam proses tumbuh kembang putrinya, yang juga jadi parenting problems banyak orangtua lain yang pusing tujuh keliling menghadapi pendewasaan anak mereka.

              Bertolak dari sini, mungkin, poin yang lebih krusial adalah sejauh mana mereka bisa menjaga batas-batas keseimbangan ‘Inside Out’ yang, sekompleks apapun plot-plot serta imajinasi Pixar selama ini, tetap berada dibalik bandrol Disney sebagai konsumsi segala umur. Oh ya, sebagian dari kita memang sudah tahu jawabannya, termasuk alasan yang ada dibalik mengapa jadwal rilisnya di luar Amerika akhirnya tergeser dengan eksistensi ‘Minions’. Toh ini bukan problem pertama yang dihadapi Pixar atas kompleksitas ide-ide ‘out of the box’-nya dalam ranah animasi. Keberhasilan yang dulu sudah pernah mereka capai lewat ‘Monsters, Inc.’ maupun ‘Up’ (keduanya adalah hasil penyutradaraan Docter), tapi jelas, bukan ‘Brave’.

                Sebagaimana bunyi tagline ‘Meet the Little Voices Inside your Head’ dan apa yang sudah tergelar jelas dari dua trailer yang diiringi nomor rock klasik ‘Sweet Emotions’-nya Aerosmith maupun ‘More than a Feeling’-nya Boston itu, ‘Inside Out’ pun membawa kita pada 5 karakter yang menjadi personifikasi emosi utama dalam benak seorang gadis 11 tahun bernama Riley (Kaitlyn Dias), yang harus menghadapi kepindahan keluarganya dari Minnesota ke San Francisco bersama penurunan ekonomi orangtuanya (Diane Lane & Kyle McLachlan). Ada Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black) dan Disgust (Mindy Kaling) yang saling berinteraksi di Headquarters (sebutan buat pikiran sadar Riley) dimana elemen-elemen memori dengan beda warna tiap emosi itu saling berganti menuju pusat penyimpanan ingatan jangka panjang sementara pusat memori sebagai elemen terpenting-nya menghubungkan headquarters ke 5 situs penentu kepribadian Riley; Family, Friendship, Honesty, Goofball serta Hockey yang jadi aktifitas kegemarannya. Sejak awal, Joy selalu menjaga inti memori Riley dengan kebahagiaan, namun ulah Sadness membuat ia dan Joy terdampar ke labirin memori jangka panjang dengan kesulitan besar mencapai Headquarters kembali. Satu-satunya yang bisa membantu mereka kembali adalah Bing Bong (Richard Kind), sahabat imajiner Riley yang sejak lama terlupakan dan menempati situs ingatan yang terbuang, sementara tanpa Joy, baik Fear, Anger dan Disgust kelimpungan mengatur emosi Riley. Dampaknya adalah kepribadian Riley yang seketika mengalami perubahan besar dibalik kekacauan demi kekacauan yang mulai mengganggu hubungan Riley dengan orangtuanya.

               So you see. Mungkin gampang menyemat ide 5 karakter sebagai personifikasi emosi di dalam otak seorang anak terhadap audiens dalam segala lapisan umur. Itu simpel saja. Tapi menelusuri segala kompleksitas konflik-konflik serta proses pengaturan terhadap kehidupan Riley yang kita saksikan di layar lebar lewat sebuah panel beserta memory orbs dan aspek-aspeknya, jelas tidak. While some grown up kids (maybe even more than Riley’s age, outside US) or adults might get that, terlebih yang benar-benar penikmat film dalam klasifikasi serius atau gemar menyelami proses-proses memori ataupun punya latar belakang medis, psikologi atau psikiatri, pertanyaan bagi penonton lain, dewasa sekalipun, dengan mindset simpel bahwa animasi adalah hiburan termasuk yang menemani putra-putri kecilnya adalah ‘Seberat itukah kita harus menyelami plot dibalik tampilan cartoonish – animated segala umur?’. Bahkan kalau dikatakan mengikuti keseriusan produk-produk Ghibli yang selalu punya subtext lebih dalam karya-karyanya, apa yang ditampilkan Miyazaki bersama protege-protege-nya, tak pernah sampai se-kompleks ini.

                However, terlepas dari sana, bagi penonton yang benar-benar bisa menangkap keseluruhan plot-nya, apa yang dilakukan Docter bersama timnya memang merupakan kombinasi inovasi imajinasi tinggi, storytelling dan visualisasi yang harus diakui, cukup luarbiasa. Walau tetap mengharuskan pemirsanya tak berpaling barang sekali pun agar benar-benar dapat mengikuti naik turun storytelling-nya yang punya kecerdasan lebih itu, tampilan desain produksi dan animasinya yang tetap ada di batasan child-friendly, luarbiasa colorful pula buat mematok simbol-simbolnya, kapasitas para voice cast hingga scoring cantik dari Michael Giacchino, walau tetap tak benar-benar jadi sepenuhnya universal buat semua kalangan umur, paling tidak cukup berhasil memberikan rentang lebih lebar bersama sejumlah adventurous scene-nya yang cukup seru untuk bisa dinikmati lebih banyak kalangan pemirsa.

                 Sementara fanboys mungkin sibuk ingin menonton ulang buat mengulik trivia-trivia atau easter eggs dari tiap produk terkenal Pixar yang ditampilkan, termasuk sebuah referensi menarik ke ‘Chinatown’-nya Roman Polanski, dengan elemen-elemen tadi, Docter mampu menyemat esensi terdasar dari konklusinya dengan cantik dan luarbiasa dipenuhi emosi. Dimulai dengan tiap-tiap emosi yang tergambar dalam karakterisasinya secara bergantian (oh yes, we also get angry and disgust seeing Sadness at many times), momen-momen yang kita saksikan di 20 menit akhir ‘Inside Out’ merupakan rollercoaster of emotions yang rasanya takkan lagi mungkin menyisakan pertahanan buat menghindari airmata yang berjatuhan dibalik kacamata 3D yang kita kenakan. Di titik ini, sebagaimana Joy dan Sadness membangun kerangka-kerangka konklusi itu, ‘Inside Out’ memang bekerja sebagai parenting companions buat para orangtua untuk lebih bisa mencoba mengerti perubahan-perubahan emosi anaknya, and so the other way around dalam hubungan-hubungan intern anak dan orangtua. At least, the idea of ‘Please don’t grow up, ever’, works. Apalagi buat orangtua yang merasa sudah benar-benar kehilangan anaknya yang beranjak dewasa dibalik kesalahan-kesalahan komunikasi, atau sebaliknya. Itu pun, kalau memang belum terlambat.

               Lagi-lagi, yang menjadi permasalahan adalah sisanya. The fact that Docter madeInside Outas a DisneyPixars animated filmdedicated to kids’ dengan garis bawah tebal di sebutan ‘kids’, kenyataannya memang tak seperti itu. Unfortunately, extraordinary high concept serba kompleks yang menjadi dasar plot-nya memang tetap jadi betul-betul mustahil untuk dipahami semua kalangan umur terutama anak berusia lebih dini yang datang bersama orangtuanya buat menyaksikan apa yang biasa mereka dapatkan dari produk-produk Disney. Jangan heran kalau begitu lampu bioskop menyala, sebagian tujuan dedikasi itu malah didapati orangtuanya tertidur lelap di samping mereka. This is one of Pixar’s top form, mungkin benar, tapi tidak sebagai sepenuhnya sebuah family movies. Works as parenting companions it is, but dedicated for (all) kids, it is not. (dan)

FANTASTIC FOUR: THIRD TIME’S NOT A CHARM

•August 13, 2015 • 1 Comment

FANTASTIC FOUR

Sutradara: Josh Trank

Produksi: 20th Century Fox, Marvel Entertainment, Constantin Film, Marv Films, Robert Kulzar Productions, TSG Entertainment, 2015

fantastic four

            Oh yeah. Semua pasti sudah mendengar carut-marut yang ada dibalik kasus ‘Fantastic Four’ versi terbaru yang belum juga selesai dengan testimoni-testimoni kedua belah pihak dan pemberitaan baru yang terus dilansir tanpa kejelasan nasib sutradara Josh Trank terhadap kemungkinan tuntutan pihak Fox.  Cercaan banyak pihak baik fans maupun non-fans berbulan-bulan lalu dari usaha ketiga kalinya mengangkat ensemble superheroes ini ke layar lebar (Pertama oleh Roger Corman (1994), a version which never saw the light of day, serta dua instalmen dari Fox di tahun 2005, yang walau sesuai dengan source tapi kebanyakan mendapat review negatif hanya semata karena light and fun), akhirnya berujung pada status box-office flop dan ‘critically-panned movies’, salah satu yang terbesar dalam genre-nya.

            Mengacu semata pada analogi ukuran, kasus Trank vs Fox ini sebenar-benarnya seolah kasus cicak vs buaya, hanya saja disini, sang buaya terlalu percaya pada cicak yang baru menelurkan satu film bagus lewat debutnya, itu pun bersama Max Landis, ‘Chronicle’ (2012), sementara cicaknya, memang kedengaran agak sakit jiwa. While the cast is another matter, effort Trank mengubah sosok Johnny Storm, the most lovableFantastic Fourpersonnel, ke etnis african-american Michael B. Jordan bersama pasangan layar lebarnya Miles Teller sebagai Reed Richards (Mr. Fantastic), sejak lama sudah dianggap sebagian orang terutama fans-nya sebagai satu kesalahan fatal. Belum lagi, tak peduli sebagian yang lain mengelu-elukan film superhero bernuansa dark and gritty, sesungguhnya melawan nafas asli source material-nya; Marvel’s First Family rekaan Stan Lee dan Jack Kirby yang memang punya light weight dan colorful tone.

            Mereka boleh saja berdalih macam-macam dari ini sepenuhnya mengacu pada modernized re-imaginingUltimate Fantastic Fourcomic version yang tak juga benar, hingga alasan bahwa versi 2015 sama sekali bukan ‘Fantastic Four’ yang dikenal selama ini. Totally loose from any comics. Selagi reboot-nya memang diperlukan sebagai persyaratan agar karakternya tak kembali pada Marvel Studios, dan Trank ternyata tak memberi Fox apa yang mereka mau hingga memicu perombakan ending dengan sejumlah re-shoots, kenyataan yang kita saksikan di layar lebar memang tetap adalah senyata-nyatanya sebuah usaha yang hancur lebur melebihi kesalahan fatal ‘X-Men: Last Stand’ dan mungkin ‘Catwoman’ (if you did consider the movie as a superhero movie).

            Ada sebenarnya adaptasi yang melawan source material, memicu kemarahan fans namun tak dipedulikan oleh non-fans ataupun status pemirsa lainnya dalam cakupan publik yang lebih luas. Bahkan tetap bisa laku di pasaran. Tapi ‘Fantastic Four’ sepenuhnya merupakan kasus berbeda dimana kritikus, fans dan pemirsa rata-rata ada di kursi yang sama. So, sebenarnya dimana letak kesalahan itu?

            ‘Fantastic Four’ 2015 (stylized asFant4stic’ namun tak satupun orang yang peduli), membawa kita ke masa kecil Reed Richards (dewasanya diperankan Miles Teller) di tahun 2007, anak jenius yang berambisi jadi seorang ilmuwan penemu teknologi teleportasi. Semua memandangnya dengan sebelah mata kecuali Ben Grimm (dewasanya diperankan Jamie Bell). Berdua, mereka berhasil membangun prototipenya di usia remaja hingga menarik perhatian Professor Franklin Storm (Reg E. Cathey) dari Baxter Foundation, yang ternyata juga tengah mencoba membangun prototipe sejenis. Merekrut Reed untuk bekerja bersama putri angkatnya, Sue Storm (Kate Mara), Franklin pun mengajak kembali mantan protege-nya Victor Van Doom (Toby Kebbell) yang sudah lebih dulu mendesain prototipe yang mereka namakan ‘Quantum Gate’.

              Disini akhirnya Reed menyadari bahwa titik akhir teleportasinya bukan di negara lain merupakan dimensi paralel yang mereka namakan Planet Zero. Karena itu pula proyek ini mengundang ketertarikan supervisor fasilitasnya, Dr. Allen (Tim Blake Nelson) yang bekerjasama dengan NASA dan pemerintah demi kepentingan menjadikan Planet Zero sebagai sumber baru bumi yang semakin dilanda kerusakan. Putra kandung Franklin, remaja liar Johhny Storm (Michael B. Jordan) kemudian bergabung dengan alasan mendapatkan mobilnya yang ditahan Franklin dalam sebuah insiden balapan. Ketika proyek itu berhasil, Dr. Allen ternyata menolak menggunakan Reed dkk untuk misinya. Mengajak serta Ben, mereka pun diam-diam merancang eksplorasi pribadi ke Planet Zero di luar sepengetahuan Sue dan Franklin. Disinilah semuanya berbalik menjadi kekacauan atas sebuah substansi hijau berenergi luarbiasa yang mereka temukan di Planet Zero dan merubah semuanya dalam tingkat molekul menjadi manusia-manusia berkemampuan luarbiasa. Sementara Victor tak bisa terselamatkan, Reed menyadari tubuhnya bisa memanjang seperti karet, Johnny dilumuri api dan bisa terbang, dan pod Ben yang terpapar batu-batuan Planet Zero menyatu dan membuatnya sebagai manusia berkekuatan batu. Bahkan Sue yang terpapar energinya dari jauh jadi bisa menghilang dan memproduksi medan energi.

              And the film then moved into one year later, sebelum akhirnya berujung pada final showdown yang didasari logika tontonan animasi anak balita, semata-mata buat menyemat syarat wajib superheroes ensemble ini menghadapi Victor yang ternyata selamat dan beralih rupa menjadi Doctor Doom, musuh terkuat mereka sekaligus salah satu dalam keseluruhan Marvel Universe, tapi disini tak pernah sekuat itu dengan durasi pertarungan kurang dari 10 menit. Dan tentu saja, proses assemble dimana mereka semua, yang pada awalnya depresi luarbiasa akhirnya bisa tertawa bahagia bersama dibalik moral keluarga yang, oke, ini memang kedengaran agak nasionalis. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

              So what wasFantastic Fourlack of ? Excitement? Checked. Pace? Checked. Exciting final battle? Checked. CGI effects? Digagas diatas much lower cost efforts dengan teknologi yang dinamakan cloud rendering dari OTOY company, walau ada bantuan Weta Digital dan Moving Picture Company? Checked. Chemistry? Checked. Character Development? Actually, a very poor one. Checked. Lengkap sudah.

                 Dan yang paling bertanggung jawab terhadap hal itu jelas adalah Josh Trank. Sebagai penggagas yang juga berada dibalik skrip awal yang kemudian dibantu Simon Kinberg dan Jeremy Slater, bahkan Matthew Vaughn yang ikut direkrut menjadi produsernya, somehow kita bisa melihatnya semata-mata karena Trank diminta untuk menyutradarai ‘Fantastic Four’, bukan benar-benar memahami source material-nya. Walau inovasi dalam konsepnya bisa terlihat, apa yang dilakukan Trank terhadap perubahan characters origin dan proses-prosesnya, walaupun di atas alasan sebuah complete reboot, adalah sesuatu yang hampir sama sekali minus perhitungan. Dan oh ya, meski ini akan sulit dimengerti kalangan non-fans, no matter how good B. Jordan is (not here, though)you don’t do that ethnic change to Johhny Storm, for sure. Terhadap Ben Grimm mungkin masih bisa, tapi sekali lagi, tidak terhadap Johnny Storm.

               Lagi, ia harusnya menyadari bahwa dalam rombakan karakter dan proses dalam sebuah origin story se-kompleks itu, meski lagi-lagi di atas alasan greater science dan insipirasi-inspirasi relevan terhadap style body horror-nya David Cronenberg yang mungkin muncul sebatas ide-ide teleportase ke ‘The Fly‘ atau secuil lainnya terhadap ‘Scanners‘, apa yang ia lakukan, termasuk dengan mentransformasikan keberadaan kekuatan kosmik intergalaksi dalam origin story kepada dimensi paralel dan mostly sosok Franklin Storm yang dibangun sedemikian penting bak mentor yang lebih sakti adiguna dari Mr. Miyagi, memisah-misah interkoneksi masing-masing karakter termasuk Johnny Storm (Human Torch) yang hanya mengenal Ben Grimm (The Thing) sebatas sebelum insiden aslinya terjadi, keseluruhan plot-nya akan lebih cocok untuk diwujudkan ke dalam TV series berdurasi paling tidak 200 jam.

                Disitulah kemudian, entah atas ulah re-shoots atau Trank sendiri sejak awal, munculnya ide “One Year Laterstorytelling itu jadi sedemikian berantakan. Apalagi, plothole sebesar ‘quantum gate hole‘ yang ada dalam sebatas deretan kata untuk mempersingkat durasi itu turut menjadi garis penting untuk menyemat berbagai subplot lain bahkan membangun motivasi tiap-tiap karakternya yang jadi terlihat serba buru-buru dan sama sekali tak didasari development yang baik. Sementara sinematografi dari Matthew Jensen pun tak menyisakan excitement apa-apa kecuali kontinuitas shot yang berantakan bersama kerja departemen yang lain yang asal jadi saja (wig Kate Mara adalah salah satunya), konflik intern antar karakter ini masih ditambah lagi, lagi dan lagi, sebelum akhirnya kita menyadari durasinya hanya cukup untuk menyemat final showdown dengan keberadaan Doctor Doom sebagai villain legendaris ensemble characters ini. Itupun dengan tampilan Doom dibalik makeup dan CGI effects yang sangat payah.

               And yes, it’s not more than 10 mins, logika childish itu lantas menghujam bersama final battle-nya. Di atas CGI / VFX berantakan, sama sekali tak seru, tanpa pula mengemas detil-detil kekuatan tiap personilnya yang sebenarnya sangat krusial ditampilkan dalam batasan adaptasi ‘Fantastic Four’. Belum lagi alasan tak jelas untuk membuat atmosfer unnecessary dark and gloomy-nya dari awal. Bukan hanya berpotensi memicu eyesore, seolah mau menunjukkan begitu depresifnya karakter-karakter ini seolah menganggap kekuatan mereka adalah sebuah kutukan, tapi tidak diatas cara yang benar, tanpa skrip berisi characters turnover yang baik tapi malah secara dangkal dipenuhi dengan dialog-dialog cheesy, preachy, sok asyik serta pretensius alaBersatu Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh’ tadi. Bahkan di assemble epilogue-nya yang dimaksud sebagai sebuah setup menarik tapi hancur lebur, konsep bumi tak ubahnya seperti Planet Zero, dan seakan lupa dengan kompleksnya konflik interkarakter tadi, tanpa justifikasi ke karakter yang sudah dibangun sedemikian penting (oh, yeah, at least one funeral scene will be necessarily needed, seriously), semua karakternya langsung bisa bersalaman bahkan mulai towel-towel sana-sini sambil terbahak-bahak. Bah.

            So yes. Tak salah memang kalau sampai Stan Lee-pun menolak muncul sebagai cameo seperti kebiasaannya. Ini memang sedemikian parahnya, membuat bahkan versi Corman yang katanya begitu memalukan sampai dimusnahkan (namun masih menyisakan bootleg version yang tersebar kemana-mana sampai sekarang) kelihatan seimbang dan orang-orang yang menganggap versi 2005-nya sampah menyadari kekeliruan mereka. Kalaupun masih mau disebutkan, ‘Fantastic Four’ 2015 ini hanya menyisakan scoring yang lumayan dari Marco Beltrami dan Phillip Glass, serta sepenggal adegan Reed Richards dengan relevansi kuat kemampuan super-nya dan selama ini hampir tak pernah kita lihat dalam komik-komiknya. Selebihnya, tak ubahnya seperti nama planet di dimensi paralel yang mereka sebut tadi. Zero. Sifatnya pun sama. Like a cosmic catastrophe, this is disastrous. Dengan potensi kerugian lebih dari 60 juta USD, entah apa alasan Fox selain menahan franchise-nya ke sebuah sekuel, tapi yang jelas untuk kali ini, third time’s not a charm. Definitely not a charm. (dan)

CATATAN AKHIR KULIAH: A LIFE COMEDY WITH HALF-BAKED CONCEPT

•August 11, 2015 • Leave a Comment

CATATAN AKHIR KULIAH

Sutradara: Jay Sukmo

Produksi: Darihati Films, 2015

catatan akhir kuliah

            Sekali waktu dulu dikenal sebatas selebtwit, fenomena stand-up comedian, comics, komika atau apapun sebutannya, sekarang sudah menjadi komoditas yang cukup kuat bersama perkembangan socmed di industri film kita. Perjuangannya bukan tak panjang. Diawali oleh Raditya Dika yang bukan juga langsung sukses dengan satu film, kini pengikut-pengikutnya mulai bermunculan. Dari sekedar penghias, bahkan menjadi comedic lead di genre-nya.

             Bagi para penggagasnya, terutama rumah produksi kita yang memang senang membidik novel yang rata-rata penulisnya bukan juga berada jauh dalam circle sejenis, prosesnya memang seolah jadi lebih mudah. Isinya pun kebanyakan ada dalam pakem yang sama. Ngalor-ngidul komedi berupa sketsa-sketsa tulisan yang kemudian dirangkum ke konklusi yang lagi-lagi kalau tak bicara soal hidup, ya cinta. Begitupun, ada sisi positif yang jelas disana. Bukan boro-boro memotivasi, tapi yang jelas, sama seperti lawakan seorang stand-up comedian yang tengah beraksi di depan panggung, sebagian besar konfliknya jadi terasa akrab buat banyak pemirsa yang mengalami problem-problem sama dari kreatornya. Next step, tinggal cari beberapa yang pas buat cast-nya, dan tambahkan aktor-aktor yang sudah lebih punya pengalaman buat side characters-nya. Like it or not, most of them, now works.

             Bertolak dari salah satu maupun sebaliknya dalam konsep jualan, ‘Catatan Akhir Kuliah’ juga diangkat dari novel komedi berjudul sama karya Sam Maulana. And no, ini sama sekali tak punya hubungan dengan ‘Catatan Akhir Sekolah’-nya Hanung Bramantyo. Menyemat ide tentang karakter-karakter utama yang harus struggling dengan masa-masa akhir perkuliahan mereka sambil sedikit banyak bicara soal cinta tadi, ‘Catatan Akhir Kuliah’ yang ditulis seolah sebagai memoir Sam sendiri yang telat lulus dari perkuliahannya di IPB (Institut Pertanian Bogor), memang terlihat punya konsep yang menarik.

              Ia menggerakkan kehidupan karakter-karakter itu di atas sebuah metafora skripsi dari bab yang satu ke bab lainnya; dari pendahuluan hingga daftar pustaka. Itu juga mungkin yang mendorong keberanian Darihati Films sebagai rumah produksi baru, dengan nama-nama yang terdengar baru pula di kredit produksinya, berani mengangkatnya ke layar lebar. Namun sebaik apa konsep itu bisa mereka tuangkan ke dalam visualisasinya, itu selalu jadi hal paling krusial dalam gambaran terbesarnya, tetap sebagai sebuah adaptasi novel.

          Tiga sahabat yang saling terhubung di masa-masa awal perkuliahan mereka; Sam Maulana (Muhadkly Acho), Sobari (Ajun Perwira) dan Ajeb (Abdur Arsyad), membuat ikrar buat menyelesaikan kuliah dan wisuda di waktu yang sama. Namun kenyataan itu berkembang lain seiring dengan kehidupan pribadi mereka masing-masing. Sam ternyata tertinggal dari dua sahabatnya. Tak kunjung sidang akibat revisi demi revisi skripsinya, Sam malah makin sibuk dengan perjuangan cintanya. Dari Wibi (Elyzia Mulachela) yang memilih setia dengan kekasihnya di kampung halaman, hingga Kodok (Anjani Dina) yang keburu jadian dengan Iwan (Andovi da Lopez). Kekecewaannya akhirnya membuat Sam makin terpuruk, kehilangan sahabat-sahabatnya, hingga di satu titik terbawah, ia kembali mencoba bangkit.

              Dari skrip yang digarap oleh Johansyah Jumberan (sekaligus produsernya), seperti apa yang kita baca dari sejumlah press release-nya, ‘Catatan Akhir Kuliah (CAK)’ memang berhadapan dengan resiko klise pemain-pemain baru dalam industri film layar lebar. Seolah terlalu berambisi merangkum semua tanpa fokus jelas dalam jualannya, mereka menjual ‘CAK’ dengan sebutan genre komedi motivasi yang bahkan perlu dijelaskan dengan penampilan khusus Mario Teguh. Tak sepenuhnya salah, memang, tapi masing-masing elemen itu sayangnya justru terkesan tumpang tindih dan kerap mem-blur-kan fokusnya untuk bisa berdiri dengan jelas di genre komedi, drama atau juga selipan-selipan motivasi tadi. Padahal dalam banyak contoh, apa yang ditampilkan Jay Sukmo dan rekan-rekannya disini lebih mirip sebuah life comedy dimana elemen-elemen drama dan komedinya seharusnya bisa dengan sendirinya membentuk balance yang pas asal skrip dan keseluruhan penggarapannya benar-benar kuat.

                Berhadapan dengan masalah utama itu, penggarapan teknisnya sebenarnya tak jelek. Jay Sukmo dalam debut penyutradaraan layar lebarnya pun sudah terlihat punya kekuatan di bagian-bagian awal. Satu nilai lebih yang tergelar dalam ‘Catatan Akhir Kuliah’ memang ada di penggambaran dunia perkuliahan yang terasa otentik, wajar dan tak mengada-ada buat membangun konfliknya. Detil-detil aspek yang diangkat dari kehidupan sekitar karakternya, masing-masing dengan pengenalan yang lancar plus selipan-selipan komedi bersama chemistry tiga karakter utamanya, juga bagus. Begitu pula konflik-konflik skripsi yang akrab ke banyak orang sambil diiringi screen presence Aida Nurmala yang kuat. Hanya saja, skrip Johansyah masih belum bisa sepenuhnya membangun balance yang bagus terhadap elemen-elemen yang ada setelahnya.

               Dari sketsa-sketsa menarik soal perkuliahan itu, memasuki paruh masa putarnya, ‘CAK’ seolah kehilangan fokus dengan melulu mengarahkan konfliknya ke soal-soal percintaan dengan karakter Sam yang di-setup jadi galau luarbiasa, dengan akting Muhadkly yang cenderung kelewat depresif hingga membuat kita sulit berempati pada karakternya sebagai lead yang paling berfungsi menggerakkan film secara keseluruhan. Berpanjang-panjang di second act yang jadi sedikit draggy ini, walau masih diwarnai dengan penampilan menarik Anjani Dina serta Budi Doremi yang juga menyumbangkan lagu-lagunya sebagai nilai tambah ‘CAK’, penyelesaiannya pun tak lagi bisa terlalu menyelamatkan wrapping finale yang seharusnya bisa jauh lebih cantik serta menyentuh dalam menyemat metafora skripsi dengan penceritaan bab demi bab yang sudah diperjelas dengan visual menarik itu. Ini yang paling disayangkan, bahwa konsep menarik yang walau bisa terlihat jelas itu pada akhirnya jadi terasa half-baked untuk benar-benar masuk ke dalam storytelling-nya.

             However, kelemahan di dramatisasi itu memang masih bisa tertutupi dengan selipan-selipan komedi yang cukup segar serta penggarapan yang lumayan . Kita masih tetap bisa tertawa di cukup banyak adegan sambil mengingat kembali konflik-konflik perkuliahan yang sedikit banyak pasti punya kesamaan dengan keseharian banyak pemirsa yang tengah ataupun pernah duduk di bangku kuliah mereka. Walau masih punya kekurangan, tanpa harus spesial dijual dengan embel-embel motivasi pun, ‘Catatan Akhir Kuliah’ masih tetap bisa berdiri sebagai sebuah life comedy yang beda. Down to earth, dan juga thoughtful. (dan)

99% MUHRIM: GET MARRIED 5 ; A SLIGHTLY DIFFERENT TURN OVER THE SAME PATTERN

•August 10, 2015 • Leave a Comment

99% MUHRIM: GET MARRIED 5

Sutradara: Fajar Bustomi

Produksi: Starvision, 2015

get married 5

            Dalam perkembangan film kita sejak bangkit kembali dari mati surinya, kita memang belum punya terlalu banyak franchise. Salah satu yang masih terus bisa bertahan sekaligus sebagai yang terkuat, pastilah ‘Get Married’. Tak mudah memang buat franchise layar lebar bisa bertahan mencapai instalmen ke-5-nya, namun walaupun dengan pencapaian naik turun yang tetap tak bisa menyaingi baik balance antara resepsi kritikus dengan publik yang sama bagusnya dengan perolehan penonton ke film pertama, sepak terjangnya mungkin cukup layak buat dihargai.

            Dalam perkembangan itu, pola-pola ‘Get Married’ harus diakui sebenarnya masih berada disitu-situ saja. Walau di instalmen terakhir fokus terhadap dua karakter utama yang memegang kendali ceritanya; naik turun hubungan Mae dan Rendy yang terus berganti-ganti pemeran hingga akhirnya menetap di Nino Fernandez yang mulai muncul di film kedua, mulai dicoba bergeser ke Jali dan Sophie (Ricky Harun & Tatjana Saphira yang menggantikan Kimberly Ryder dari instalmen ke-3), namun sebenarnya karakter-karakter baru ini tetap ada dalam batasan side characters yang jelas tak bisa sekuat trio Desta-Ringgo-Amink atau duo Jaja MihardjaMeriam Bellina yang memang harus diakui merupakan persyaratan wajib franchise-nya. Sementara, salah satu faktor terkuat mengapa ‘Get Married’ bisa jadi sebesar itu, chaos comedy bercampur drama keluarga yang berdiri dengan solid di atas sentilan-sentilan kritik sosialnya, mulai makin berkurang. So, mau dibawa kemana lagi plot instalmen ke-5 ini?

            Starvision ternyata cukup pede meneruskannya dengan sebuah pendekatan trend. Oh ya, maksudnya genre reliji, yang terserahlah bila sebagian orang bilang itu bukan genre tapi memang jadi fenomena tersendiri di perfilman kita. Walau nafas relijinya bukan tak ada sejak instalmen pertama yang nyata-nyata dilepas sebagai blockbuster lebaran, kini menambah judul “99% Muhrim” di depan titel franchise-nya sendiri (okay, ini harus diakui cheesy dan semata untuk alasan jualan karena fokusnya justru tak mengarah pada Mae dan Rendy tapi lebih pada Jali dan Sophie; kini diperankan Anggika Bolsterli), ‘Get Married 5’ bukan juga berarti benar-benar banting stir kesana.

              Genre-nya sebenarnya tak berubah, hanya saja, ada mashup tema reliji yang disempalkan ke dalam mishmash elemen yang sudah-sudah antara chaos comedy dan drama hubungan keluarga yang herannya hampir selalu bisa menyentuh karena dekat sekali dengan keseharian budaya kita. Pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana skrip Cassandra Massardi dan penyutradaraan Fajar Bustomi bisa meng-handle percampurannya terutama dalam membangun satu lagi persyaratan wajibnya; sentilan-sentilan dalam nafas kritik sosial yang selalu ada sebagai latar belakang franchise ini. Sepenuhnya mengikuti trend atas nama jualan, atau tetap mempertahankan kenapa ‘Get Married’ tetap menjadi ‘Get Married’?

                Di tengah usia pernikahan mereka yang sudah berjalan cukup lama, keluarga Mae (Nirina Zubir) dan Rendy (Nino Fernandez) yang kian mapan dan dikaruniai 3 orang anak membuat Mae menjelma menjadi seorang sosialita selayaknya ibu-ibu muda zaman sekarang, sementara Rendy sudah bersiap memboyong mereka pindah atas tawaran kerja di Los Angeles. Namun hubungan mereka kembali diuji kala Bu Mardi (Meriam Bellina) berada dalam kondisi koma akibat serangan begal. Mae seketika tergerak melihat Babe (Jaja Mihardja) dan anak-anaknya berdoa buat keselamatan Bu Mardi, menyadari selama ini ia hampir sama sekali meninggalkan ibadah bahkan tak bisa membaca Al Quran. Sementara Sophie yang memasuki titik jenuh hubungan kawin gantungnya dengan Jali (Ricky Harun) justru terinspirasi dari niat awal Mae dan memilih mengenakan hijab. Bukan hanya Mami Rendy (Ira Wibowo) yang lantas menyambutnya dengan histeris karena menyangka Sophie terpengaruh gerakan radikal, tapi diatas semua, bagaimana Mae benar-benar bisa meyakinkan Rendy atas pilihannya ini.

             Memasukkan elemen reliji ke dalam plot yang terlihat hampir tak punya jalan buat kemana-mana lagi ini, ternyata penyutradaraan Fajar atas skrip Cassandra bisa membuat ‘Get Married’ tetap berjalan di track-nya yang biasa. Walau jalinan komedi dan dramatisasinya kadang terasa tumpang tindih menyemat mishmash itu, bahkan kerap nyaris beberapa kali jatuh terlalu melodramatik, hal paling baik dalam ‘Get Married 5’ adalah sentilan-sentilan social critics-nya bisa berpadu dengan baik bersama elemen reliji tadi.

             Konflik yang dipaparkan dalam skrip Cassandra memang harus diakui punya keakraban luarbiasa dengan fenomena yang kita lihat di sekitar kita sehari-hari sekarang ini, dari soal hidayah berikut alasan-alasan lain yang membuat sebagian orang seketika berpindah jalur, pesantren kilat, ustadz seleb (diperankan Fathir Muchtar) hingga arisan pengajian dibalik tendensi-tendensi sosialita bisa cukup menampar; sementara di luar soal agama, isu-isu masyarakat hingga soal begal yang disemat dalam nafas komedik tetap muncul secara bergantian. Walau tak sepenuhnya membentuk blend serapi film pertamanya, ini sungguh bukan usaha yang gagal; apalagi konsekuensi-konsekuensinya tak lantas digelar secara klise dan serba ujug-ujug menuju happy ending, tapi rata-rata melewati proses-proses storytelling dan character turnover yang wajar. Bagusnya, semua di atas nafas komedi ala ‘Get Married’ biasanya, mostly a chaos, sesekali bisa menggila, sambil diselingi dengan dramatisasi yang kebanyakan tetap bisa menyentuh tanpa harus jadi berlebihan.

           Chemistry yang terjalin diantara cast-nya juga tetap berjalan dengan baik, mungkin karena franchise ini memang sudah berhasil menciptakan beberapa trademark dalam karakterisasinya; seperti Babe dan Bu Mardi (Jaja dan Meriam) yang tetap membagi balance drama dan humornya dengan hidup. Nirina tetap begitu masuk ke karakter Mae dan Rendy bersama Nino, dan Ricky Harun tetap memerankan Jali dengan konsisten bersama pendatang baru Anggika Bolsterli yang bisa menggantikan Tatjana sebagai Sophie dengan cukup baik.

              Cukup disayangkan memang Desta dan Ringgo tak lagi muncul, menyisakan Amink yang tak juga terlalu jadi fokus, namun tambahan sejumlah komika sebagai penghias sesuai trend yang ada sekarang; Kemal Palevi, Pandji Pragiwaksono, Abdur Arsyad, Adjis Doaibu, Uus, Andovi dan Jovial da Lopez, Gofar Hilman, meski punya hit and miss, cukup bisa memberi warna pada penggemar mereka masing-masing bersama supporting cast selebihnya seperti Ence Bagus, Joe P. Project plus penyiar – presenter Dimas Danang dan Imam Darto yang sedang berada di puncak kepopuleran mereka.

            Terakhir, tentu saja sentuhan spesial yang juga menjadi sudah seperti menjadi salah satu nyawa dari franchise-nya sendiri; keikutsertaan Slank, yang bukan saja menyumbangkan lagu-lagu mereka tapi juga berada dibalik komposisi scoring-nya. Theme song yang merupakan single Ramadhan yang baru dilepas Slank tahun ini, ‘Halal’, memang terasa benar-benar masuk ke plot-nya secara keseluruhan, sekaligus jadi theme song yang sama kuat ke rendition mereka di lagu ‘Pandangan Pertama’ dalam film pertama. Ini sama sekali bukan instalmen yang gagal karena masih bisa berdiri dengan kuat di elemen-elemen juara franchise-nya. Slightly different turn, but over the same strong pattern. (dan)

MISSION: IMPOSSIBLE – ROGUE NATION : AN ENTRY THAT SCALES A NEW HEIGHT

•August 7, 2015 • 1 Comment

MISSION: IMPOSSIBLE – ROGUE NATION 

Sutradara: Christopher McQuarrie

Produksi: Bad Robot Productions, Skydance Productions, TC Productions, Paramount Pictures, 2015

mission impossible rogue nation

            Walau masih bersinar di ‘Edge of Tomorrow’ tahun lalu, ada yang bilang kalau karir Tom Cruise sudah berada di penurunan grafiknya. Oke, tak sepenuhnya benar mungkin, namun dengan resiko yang ada dibalik baik ‘Jack Reacher’, ‘Oblivion’ maupun ‘Edge’, ketiganya berturut-turut merupakan produk non-franchise yang meski laku namun tak meledakkan rekor apapun, ‘Mission: Impossible’ sebagai satu-satunya franchise berstatus ‘mega’ yang ia miliki (well, dua kalau ‘Top Gun 2’ benar-benar terjadi nanti), ini memang seperti pertaruhan besar dengan sisa amunisi yang ada.

            Bukan juga instalmen ke-4-nya yang digawangi Brad Bird merupakan entry yang gagal, namun ‘Mission: Impossible – Ghost Protocol’ sayangnya tak jadi sesuatu yang bertahan lama setelah umur tayangnya. Benar ia meletakkan standar baru untuk franchise-nya sebagai spy action thriller penuh intrik di atas sepak terjang ensemble agen-agen IMF sesuai source-nya, lebih dari instalmen ke-3 setelah sedikit dirusak John Woo di ‘M:I-2‘, but it’s rather forgettable after these years, bahkan dengan suntikan Jeremy Renner sebagai pion buat peningkat excitement-nya ke generasi penonton sekarang.

            Dalam pertaruhan itu, menyambung estafet dari para helmer-nya, all strong names, dari Brian De Palmaeven John Woo, to J.J. Abrams yang masih terus ada di kursi produser plus Brad Bird, Cruise memilih Christopher McQuarrie yang terangkat dari status Oscar winner di ‘The Usual Suspects’ dan berkolaborasi dengannya di ‘Jack Reacher’ dan sebagai co-writerEdge of Tomorrow’. Hasilnya memang sedikit tak terduga. Saat banyak orang berpikir tak ubahnya rata-rata franchise lain yang dalam rentang begitu panjang tak sanggup mempertahankan nyawanya sampai instalmen ke-5, di tengah dukungan ko-produksi perdana Alibaba Pictures, China, dengan selling point Hollywood ke wilayah mereka, McQuarrie muncul dengan sebuah effort luarbiasa.

            And no, apa yang dilakukan McQuarrie bukanlah semurni-murni-nya sebuah pembaharuan, namun jauh lebih dalam, ia menunjukkan bahwa ia adalah orang yang paling memahami dinamika tiap instalmen dalam franchise-nya. Menggali ide yang dibesutnya bersama Drew Pearce dari ‘Iron Man 3’, McQuarrie menggamit highlights terbaik dari tiap instalmen itu untuk muncul dengan grittier conflict dan eksplorasi karakter-karakter jagoannya. This is like Bond but it ain’t no Bond, dan tentu tanpa melupakan kenapa terlepas dari kekecewaan banyak fans atas ulah De Palma di film pertamanya ‘Mission: Impossible’ bisa punya wajah baru adaptasinya yang terus berkembang hingga sekarang; crazy stunts dan explosive actions, yang terus bisa menampung kegilaan Cruise untuk tetap jadi ‘one of a kind‘ dibalik statusnya sebagai Hollywood action hero.

            ‘Rogue Nation’ pun digelar dengan nasib IMF (Impossible Mission Force) yang berada di ujung tanduk atas eksistensinya sebagai agensi rahasia yang suka bertindak di luar batas. Jatuh ke tangan CIA director Alan Hunley (Alec Baldwin) atas kecenderungan mereka mengacaukan stabilitas negara, agen-agen operatifnya, William Brandt (Jeremy Renner) dan Benji Dunn (Simon Pegg) pun tak bisa berbuat apa-apa selain bekerja di bawah tekanan CIA sambil terus melacak keberadaan Ethan Hunt (Tom Cruise) yang lepas tanpa atasan dengan sebuah siasat. Sementara setelah misi terakhirnya mencegah penjualan senjata kimiawi ke pihak teroris, Hunt justru terjebak dalam keberadaan misterius ‘The Syndicate’, konsorsium kriminal Internasional yang masih terus meneror dunia dengan kasus-kasus tak terpecahkan. Satu-satunya harapannya adalah Ilsa Faust (Rebecca Ferguson), agen MI6 yang tengah beraksi sebagai mole di tubuh Syndicate, namun juga terlalu abu-abu untuk bisa dipercaya sepenuhnya.

            Disinilah skrip yang ditulis McQuarrie menyusun benang merah dari tiap instalmen dibalik eksplorasi karakter beserta balutan twists and turns sangat kuat dalam genre-nya sebagai sebuah spy action thriller. Intrik-intriknya disusun di atas sebuah bangunan bersegi amat banyak melibatkan organisasi intelijen banyak negara dengan kedalaman spionase ala John Le Carre, luarbiasa rapi namun tak sekalipun jatuh terlalu njelimet hingga membuat sebagian pemirsa yang menolak berserius-serius jadi menguap sambil kebingungan atas apa yang mereka lihat. Seolah tak pernah kehabisan amunisi, permainan twists and turns jadi bagian paling menarik dari keseluruhan plot-nya, tanpa pernah juga melupakan fun factor lewat sempalan-sempalan komedinya.

                 Dan jauh dari apa yang dilakukan Abrams di ‘M:I-3’ terhadap Ethan Hunts private life and love, McQuarrie menyelami lagi karakter Ethan Hunt hingga ke sisi psikologis berupa motivasi-motivasi God complex over secret agent’s codes yang dulunya sempat secara dangkal dibawa John Woo ke ‘M:I-2‘ sebagai one man show-nya Cruise, namun disini dibenturkan sebagai konflik interaksinya ke ensemble characters dalam jiwa asli source-nya, dari Brandt, Benji hingga Luther Strickell yang kembali diperani Ving Rhames plus Alec Baldwin yang sudah lama tak terlihat sekeren ini dengan character turnover-nya, semua dalam skala porsi yang penting buat menambah detil-detil elemen karakterisasinya, terutama Simon Pegg yang mendapat screen presence yang asyik sekali menerjemahkan typical British comedic act-nya, while Renner kept his pace sebagai Brandt, mantan analis yang tetap berada di motivasi abu-abu penuh perhitungan sebagaimana dalam ‘Mission: Impossible – Ghost Protocol’.

                 Disitu pula, grittier area atas eksistensi IMF yang sudah disenggol Bird di ‘Ghost Protocol’ jadi leluasa buat diselami lebih dalam sebagai puncak konflik yang menyemat isu-isu dunia nyata yang dipicu konspirasi organisasi kriminal termasuk insiden pesawat (salah satunya menyebut Jakarta). Like pushing it to the limit, lebih dan lebih lagi, McQuarrie tak sekalipun melupakan ciri spy genre yang memuat perpindahan setting antar negara dengan elemen-elemen eksotisnya; dari Paris ke Vienna hingga Morocco’s Casablanca dan London, di atas pace action yang walaupun tak se-bombastis sebelumnya tapi tetap menyisakan satu-dua yang meski over the top tapi beradrenalin luarbiasa, dan punya inti paling penting atas aksi para agen yang kerap berpegang ke luck and chance, namun tak pernah minim strategi seperti kesalahan yang dilakukan Abrams di ‘M:I-3’ tempo hari.

                   Sementara bergulir bersama eksotisme tiap-tiap set dari sinematografi cantik award winning DoP Robert Elswit dan banyak trivia menarik dari PuccinisTurandotOpera bahkan the all time classicCasablanca’, komposisi scoring Joe Kraemer yang biasa berkolaborasi bersama McQuarrie dari ‘The Way of the Gun’ hingga ‘Jack Reacher’ secara tak terduga bisa menciptakan interpolation luarbiasa ke main theme klasik source-nya milik Lalo Schifrin dan PuccinisNessun Dorma’ dari ‘Turandot‘ dalam romantisasinya. Jadi salah satu scoring terbaik melebihi keterlibatan nama-nama besar macam U2, Limp Bizkit, Hans Zimmer dan Heitor Pereira serta Michael Giacchino dalam rentang historis instalmen-instalmennya, scoring Kraemer adalah salah satu elemen terkuat dalam ‘Rogue Nation’.

                 Di deretan supporting cast selebihnya, porsi villain yang diperankan Sean Harris, walaupun tak pernah terlihat begitu kuat, cenderung kelewat komikal dengan distraksi intonasi dan kerap tertutupi oleh henchman-nya, Janik ‘Bone Doctor’ Vinter yang diperankan aktor Swedia spesialis peran sejenis, Jens Hultén (juga tampil dalam ‘Skyfall’), terselamatkan dengan permainan twist and turn dalam skrip McQuarrie. Tanpa memerlukan terlalu banyak trik, grafik emosi yang ditampilkan McQuarrie ke karakter Solomon Lane bisa membuat konklusi akhir atas strategi Hunt jadi sebuah payoff kuat. Masih ada Simon McBurney sebagai MI6’s Atlee, Tom Hollander sebagai PM Inggris, plus aktris-penyanyi America Olivo dan dalam kepentingan co-production Alibaba, Chinese actress Zhang Jingchu ikut tampil walaupun sama sekali tak krusial.

                   Namun diatas semuanya, ‘Rogue Nation’ memang menjadi begitu spesial, had its very big deal, dengan penampilan Rebecca Ferguson sebagai Ilsa Faust dibalik nods ke karakter bernama depan sama yang diperankan Ingrid Bergman di ‘Casablanca’ serta tribute ke filmnya sendiri. Taking Ilsa back to Casablanca, bukan sepenuhnya manipulatif, but with almost the same classic grace, aktris Swedia yang sebelumnya kita saksikan dalam ‘Hercules’-nya Dwayne Johnson ini memerankan Ilsa sebagai sidekick terkuat Hunt se-misterius karakternya. Luarbiasa badass, more than any Bond girls dan menjadikan perhatian pemirsa hampir sepenuhnya tersedot ke sosoknya.

                   So there goes the bet. Lewat elemen-elemen juara yang dibangun McQuarrie dan timnya, Cruise sudah membuktikan bahwa dirinya masih berjaya memegang kelanjutan franchise ini hingga mungkin cukup jauh lagi ke depan nanti. Tightly constructed plot and deeper exploration of the characters over still – the crazy stunts and explosive actions, ‘Mission: Impossible – Rogue Nationis simply the best of the series. An entry that scales a new height. Luarbiasa! (dan)

PIXELS: STILL A FUN TRIBUTE TO THE ‘80s ARCADE ERA

•August 4, 2015 • Leave a Comment

PIXELS

Sutradara: Chris Columbus

Produksi: Happy Madison Productions, 1492 Pictures, Columbia Pictures, 2015

Pixels

            Mostly for the ones who lived up the golden age of arcade video games, dari game console ’80-an masa Atari ke Nintendo hingga arcade yang disini sering disebut dengan ‘ding-dong’ dulunya, ‘Pixels’ memang hadir dengan konsep yang sangat menyenangkan. Diangkat dari semi-animated short Perancis berjudul sama besutan Patrick Jean (2010), walau skripnya ditulis oleh Tim Herlihy, kolaborator setia Adam Sandler sepanjang karirnya, ‘Pixels’ yang disutradari Chris Columbus memang sejak awal agak berbeda dengan showcase Sandler lainnya.

            Pasalnya satu. Sebagai salah satu pionir yang punya jasa begitu besar di genre-nya dalam membawa kolega-kolega ‘Saturday Night Live’-nya ke puncak popularitas mereka, like a good big brother, tak peduli sebanyak apa haters-nya terutama dari kalangan kritikus, film-film Sandler sebelumnya rata-rata punya brand besar dibalik namanya. Bukan berarti Sandler tak pernah bermain sebagai bagian dari ensemble comedy, namun lewat promo-promonya, ‘Pixels’ memang jarang terlihat mengedepankan jualannya sebagai film Sandler. Instead, sesuai source itu,  karakter-karakter game legendaris terutama Pac-Man seolah jadi ‘bintang’ dalam konsepnya. Okay, pihak Sony-Columbia mungkin punya alasan tersendiri, namun paling tidak, keberaniannya tampil di tengah pertarungan summer blockbusters tahun ini, tetaplah sebuah effort.

            Sam Brenner (Adam Sandler) yang kini berprofesi sebagai petugas instalasi elektronik sudah lama melupakan impiannya sebagai arcade gamer jempolan di masa kecilnya setelah dikalahkan oleh Eddie Plant (Peter Dinklage) saat bersaing dalam gameDonkey Kong’ di kejuaraan dunia arcade game. Namun ketika dunia terancam oleh serangan alien dengan pola sama ke karakter-karakter video game vintage sekaligus punya kaitan terhadap kejuaraan masa kecil itu, sahabatnya sesama gamers, Will Cooper (Kevin James) yang kini menjabat sebagai Presiden AS meminta Brenner berkolaborasi bersama pasukannya. Walau kerap dilecehkan oleh petinggi-petinggi militer terutama Admiral Porter (Brian Cox) dan Letkol Violet Van Patten (Michelle Monaghan) yang diam-diam saling suka dengannya, Brenner tak bisa menolak permintaan Cooper. Menyambangi kolega masa kecil mereka, gamer geek Ludlow Lamonsoff (Josh Gad) yang terobsesi pada karakter Lady Lisa dari game ’80-an fiktif ‘Dojo Quest’ hingga Eddie Plant yang terpaksa mereka bebaskan dari penjara dengan syarat pembebasan pajak dan kencan bersama Serena Williams (petenis Afrika-Amerika) atau Martha Stewart (seleb kuliner dan kerumahtangga-an Amerika), Brenner dan Cooper pun membuktikan bahwa mereka adalah pilihan yang lebih tepat untuk menghadapi serangan karakter-karakter videogames ini. Dari Guam ke Agra, London, New York hingga Washington DC, dari ‘Galaga’, ‘Centipede’, ‘Tetris’, ‘Pac-Man’, hingga ‘Space Invaders’ yang memporakporandakan sasarannya menjadi pixels, ujungnya ‘Donkey Kong’ kembali jadi babak final penentuan semuanya. Hanya saja, kali ini bukan lagi buat Brenner dan rekan-rekannya, tapi demi menyelamatkan dunia.

            Menyelam lebih jauh menelusuri homage ke masa keemasan arcade era lebih dari apa yang dilakukan Disney lewat ‘Wreck-it Ralph’ tempo hari dan memang lebih fokus ke pop culture AS ’80-an yang kerap jadi trademark showcase Sandler, ‘Pixels’ sebenarnya punya potensi sangat besar buat jadi juara di luar pertarungan franchise blockbuster musim panas. Apalagi, Chris Columbus jelas jadi jaminan buat visi-visi fantasinya dalam skup hiburan keluarga selama ini. Seperti mengulang lagi ‘80s golden age lewat gimmick tambahan di atas teknologi zaman sekarang, ‘Pixels’ memang punya dayatarik luarbiasa.

            Sayangnya, kolaborasi ini memang tak membentuk blend sempurna diantara family-oriented fantasy Columbus dengan jokes ala Sandler. Skrip yang ditulis oleh Tim Herlihy sebagai penulis yang paling mengenal Sandler bersama Timothy Dowling sudah terlihat mencoba menyesuaikan sickjokes-nya ke ruang lingkup Columbus, bahkan Sandler mengajak serta istrinya Jackie dan kedua anaknya Sadie & Sunny serta ponakannya Jared. Namun bukannya jadi sesuatu yang baru, kelucuan-kelucuannya jadi sangat tertahan meninggalkan sosok Sandler agak sulit buat sepenuhnya jadi lovable lead baik di setup dan turnover karakternya diantara kolega-kolega langganannya, kali ini plus Josh Gad yang menempati generasi paling muda hingga Peter Dinklage sebagai unlikely pairing dalam ensemble-nya.

              Sementara sempalan romance yang mengedepankan chemistry utama Sandler – Monaghan serta tambahan ke masing-masing personilnya (Kevin JamesJane Krakowski ataupun Josh GadAshley Benson) juga gagal menyamai kualitas film-film Sandler maupun sentuhan Columbus, tapi lebih serba canggung dibalik potensi yang tak tergali sekedar tempelan.

        Sudah begitu, harus diakui pula, bahwa durasi begitu singkat namun punya konsep padat dalam source-nya, tak sepenuhnya bisa terulang dalam setting yang jauh lebih serba gigantis. Bukan secara teknis penggarapannya gagal. Tapi walaupun shot-shot DoP kawakan Amir Mokri yang tetap bagus bersama permainan CGI dan scoring Henry Jackman di tengah segala macam elemen gimmick hingga pixelated attack-nya, terutama showdown awal yang diiringi vintage classic rockWorking for the Weekend’-nya Loverboy, ‘Pac-Manmontage, pun adegan klimaks menerjemahkan stage demi stageDonkey Kong’ yang cukup seru, kadar excitement-nya tak seefektif source asli yang benar-benar serba minimalis.

               However, ‘Pixels’ tak lantas jadi sepenuhnya gagal sejelek kebanyakan resepsi negatifnya. Sandler dan tim-nya tetap dengan juara mengetengahkan ‘80s homage dari nods ke tiap-tiap pop culture-nya, dari penempatan lagu-lagu vintage pengisi soundtrack seperti Tears for Fears’ ‘Everybody Wants to Rule the World’ ataupun Spandau Ballet’s ‘True’ versi India yang mengiringi adegan Tajmahal’s ‘Arkanoid’ yang kocak hingga cameo-cameo tampilan icons yang disemat ke peringatan alien di atas serangan mereka terhadap bumi. Ada Madonna, Ronald Reagan, ‘Fantasy IslandTV series hingga fictional ‘80s British A.I. Max Headroom (tetap digawangi aktor Matt Frewer) dan Daryl Hall & John Oates (Hall & Oates). Nobody nailed the ‘80s pop culture like Sandler & co., ini selalu benar, serta masih ada penampilan spesial Lainie Kazan, Sean Bean, Dan Aykroyd serta cameo Serena Williams, Martha Stewart sampai Toru Iwatani, kreator Pac-Man selagi karakter aslinya diisi oleh Denis Akiyama buat meramaikan ensemble itu.

              Selebihnya tentulah homage, trivia atau apapun sebutannya, terhadap golden age of arcade video games yang memang dengan menarik tergelar di sepanjang film, jauh melebihi segala kekurangan yang ada. Biar kadar excitement-nya tetap tak bisa menyamai source-nya yang singkat tapi luarbiasa padat termasuk di penempatan ‘Space Invaders’ yang tak mendapat posisi se-terhormat source tadi, seabrek video game berbeda produsen dari Atari sampai Nintendo di bawah brand Namco, incl.Galaga’, ‘Arkanoid’, ‘Centipede‘, ‘Defender’, ‘Frogger’, ‘Joust’, ‘The Smurfs‘ dan tentu saja dua bintang utamanya, ‘Pac-Man’ dan ‘Donkey Kong’, jelas sudah menjadi ultimate tribute ke salah satu kultur pop legendaris bagi generasi ’80-an. Semua dibahas diatas nods serta hints ke pattern serta taktik-taktik aslinya, membuat sebagian dari kita begitu ingin kembali merasakan tiap detil memori saat teknologi benar-benar belum secanggih sekarang. Berdiri di tengah-tengah kerumunan arcade menunggu giliran atau tenggelam dalam excitement memainkan video game vintage rumahan.

                 Dengan dua kekuatan yang sudah melebihi kekurangan-kekurangan yang ada, ‘Pixels’ sungguh tak sejelek ulasan-ulasan yang membombardirnya habis-habisan apalagi bila hanya semata didasari kebencian berlebih terhadap style komedi Adam Sandler. This is still a fun tribute to the ‘80s arcade era, and if you really lived up the decade, go insert some coins and playPixelsup to the high score! (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 9,208 other followers