SPY: A STRAIGHT OUT FUN AND HILARIOUS ESPIONAGE SPOOF

•May 25, 2015 • Leave a Comment

SPY

Sutradara : Paul Feig

Produksi : Chernin Entertainment, Feigco Entertainment, 2015

spy

            Walaupun ada, female comedy leads agaknya tak pernah mendominasi komedian pria di Hollywood. Melissa McCarthy adalah satu diantara yang cukup jarang itu, apalagi dalam usianya yang tak lagi muda. Yang dijual pastilah tampilan fisiknya yang memang kerap dijadikan bulan-bulanan fat-lady jokes untuk tendensi komedi. Begitupun, meski sudah punya sejumlah film sebagai lead, semua harus mengakui kalau orang yang paling mengerti meng-handle bakatnya adalah Paul Feig ; one of the hottest names in Hollywood comedy industry sekarang, sekaligus orang paling berjasa dalam melambungkan karir McCarthy lewat ‘Bridesmaids’ yang langsung mendaratkannya sebagai Oscar nominee untuk best supporting actress.

            Setelah ‘The Heat’, Feig’s buddy action comedy yang memasangkannya dengan Sandra Bullock, McCarthy melaju sebagai single lead dalam espionage parody ini. Sebagai comic version dari James Bond, ‘Spy’ memang tak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Tapi di tangan Feig dan McCarthy, ditambah kolaborasi supporting cast menarik dari Jude Law, Rose Byrne and surprisingly, Jason Statham, yang terbaca jelas adalah comedy blockbuster yang bahkan berani bertarung di tengah hangatnya persaingan boom-bang franchise lain dalam musim panas ini.

            Sebagai veteran di CIA, Susan Cooper (Melissa McCarthy) memang sudah lama mendambakan posisi operatif lapangan ketimbang tugasnya dibalik headset dan layar komputer untuk memandu agen Bradley Fine (Jude Law), suave ladykiller yang diam-diam dikaguminya. Kesempatan itu muncul kala pemasok senjata Rayna Boyanov (Rose Byrne) berhasil mempecundangi Fine dalam salah satu misinya melacak penjualan nuklir pada gembong mafia Italia DeLuca (Bobby Cannavale). Walau ditentang mati-matian oleh Rick Ford (Jason Statham), agen rahasia Inggris bermulut besar yang suka ceroboh, Susan berhasil meyakinkan Elaine Crocker (Alison Janney), atasannya, untuk terjun ke lapangan menyelidiki kasus ini. Tentu saja semua berjalan penuh kekacauan, terlebih dibalik identitas rahasianya yang kerap menempatkan Susan sebagai bahan olok-olokan ketimbang seorang agen wanita tangguh.

            Yes, it’s an espionage spoof, yang sudah berulangkali menjadi resep baku komedi aksi diatas template-template baku ala James Bond. Namun ‘Spy’ punya racikan yang sangat fokus di tangan Feig sebagai orang yang tahu benar potensi McCarthy. Skrip yang seperti biasa, ditulis oleh Feig sendiri, memang tahu menempatkan dayajualnya pada kekonyolan demi kekonyolan serta harsh fat-lady jokes yang dipicu McCarthy sebagai tokoh sentralnya. Sementara elemen-elemen parodinya termasuk opening credits dengan tampilan khas James Bond, lengkap dengan theme song and silhouette styles. Hampir tak ada missed tendencies dari tiap comedic scene di bawah kolaborasi mereka, bahkan sebagian besar diantaranya punya kualitas memorable yang masih terus bisa membuat pemirsanya tertawa hanya dengan mengulang cerita.

            Namun yang membuat ‘Spy’ jadi makin bersinar dalam wrapping keseluruhannya adalah racikan unik dalam bangunan no holds barred action yang tak ragu-ragu menginjeksikan violence ke dalamnya, serta supporting ensemble yang benar-benar bisa bekerja dalam setup-setup komedi dengan chemistry juara. Dibalik tampilan suave-nya sebagai James Bond wannabe, Jude Law jelas pilihan tepat. Rose Byrne sebagai female villain pun sama baiknya bersama Miranda Hart yang memerankan Nancy, partner sekaligus sahabat Susan dan Allison Janney sebagai atasannya. Masih ada gimmick penuh mocking dari 50 Cent yang lagi-lagi memerankan dirinya sendiri dalam film komedi, plus aktris Bollywood Nargis Fakhri yang kebagian satu action highlight lewat violent catfight scene-nya dengan McCarthy.

            Terakhir tentulah kejutan terbesarnya diatas penampilan Jason Statham ke tengah-tengah ensemble ini. Bentukan Feig ke karakter bigmouthed Ford dengan dialog-dialog bombastis ala Chuck Norris’ myths benar-benar berhasil dibawakan Statham dengan luarbiasa menggelitik. Tak ada yang berubah dari gestur dan temperamennya seperti di film-film aksi Statham biasanya, namun disini semua berbalik menjadi lelucon konyol yang menempatkan Statham sebagai bulan-bulanan dalam distraksi komedinya, dari awal kemunculannya ke adegan penutup yang gokil hingga dua adegan tambahan di awal serta akhir end creditsSpy’. In comedy terms, Feig jelas sudah membidik tiap targetnya dengan presisi tepat. A straight out fun and espionage spoof, yang bahkan mungkin membuat kita menginginkan petualangan Susan Cooper and her fellow agents tak berhenti hanya sampai disini. Freakin’ hilarious! (dan)

TOMORROWLAND : A GRAND CONCEPT THAT FAILED TO IGNITE

•May 24, 2015 • Leave a Comment

TOMORROWLAND 

Sutradara : Brad Bird

Produksi : Walt Disney Studios Motion Pictures, 2015

tomorrowland

            Sebut salah satu film yang paling memicu rasa penasaran saat publikasinya diluncurkan, ‘Tomorrowland’ pasti ada diantaranya. Through the teasers, then, kita mulai bisa membaca bahwa film unggulan Disney untuk musim panas ini memang digagas dibalik sebuah kekuatan konsep, a grand one, yang membuatnya dikemas dengan penuh kerahasiaan. Oh yes, walau judulnya sudah mengisyaratkan sebuah theme park – inspired, area tepatnya, yang kini menghias bagian terbesar rata-rata Disneyland buat menampung inspirasi futuristik/ sci-fi dalam produk-produk mereka, dari traditional Space Mountain hingga Star Tours, ada hints yang mengacu pada sejarah Disneyland dan most likely, Walt Disney sendiri.

            For those who loved them more than life, this could be Disney’s highest inventiveness, apalagi yang tahu sejarah dan latarbelakang berdirinya area itu berdasar visi Walt Disney terhadap filosofi dan inovasi masa depan di tahun 1955. Bukan juga sekedar transformasi theme park – rides excitement seperti ‘Pirates of the Caribbean’ atau ‘The Haunted Mansion’, tapi ada potensi yang jauh lebih dari itu. Nanti dulu soal keikutsertaan Damon Lindelof di skrip dan George Clooney sebagai main cast-nya, tapi nama Brad Bird yang jelas ada di lini kedua pemegang legacy terbesarnya setelah John Lasseter, jelas sangat menjanjikan.

            Dibuka dengan bumper Disney yang luarbiasa menarik dalam nafas sci-fi futuristiknya, opening scenes-nya, yang boleh jadi terasa awkward dan tak biasa lantas mengantarkan kita pada keberadaan dunia futuristik dibalik sebuah theme park dalam event kompetisi teknologi tahun 1964. Bocah Frank Walker (Thomas Robinson) yang memamerkan jetpack buatannya pada ilmuwan Nix (Hugh Laurie) langsung menarik perhatian gadis kecil bernama Athena (Raffey Cassidy) yang lantas memberikannya sebuah pin misterius bersimbol ‘T’, mengantarkan Frank ke sebuah dunia yang belum pernah dibayangkannya. Melompat ke masa sekarang, Casey (Britt Robertson), gadis remaja cerdas putri ilmuwan NASA Eddie Newton (Tim McGraw) secara tak sengaja menemukan pin misterius sama yang seketika mentransportasikannya ke dunia futuristik tersebut. Dibantu adiknya Nate (Pierce Gagnon), Casey pun mencoba menyelidiki hal ini ke sebuah toko sci-fi memorabilia dimana ia bertemu dengan Athena yang tiba-tiba datang menyelamatkannya. Belum sepenuhnya menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Athena membawa Casey ke rumah Frank dewasa (George Clooney), dimana satu demi satu rahasia itu terbuka, menghubungkan Casey dan Frank ke sebuah impian panjang yang sempat terputus, demi menyelamatkan dunia ke masa depan yang lebih baik.

            Lebih dari sekedar mentransformasikan berbagai bentuk theme park’s excitements-nya ke dalam sebuah kisah futuristik yang meneruskan sebuah Utopian Dream, mimpi Walt Disney terhadap dunia idealis masa depan, kita bisa melihat betapa usaha Brad Bird menggagas tema penuh inspirasi ini berdiri begitu imajinatif diatas desain produksi yang cermat serta seabrek tribute ke elemen-elemen Disney dari theme park area, film-film sci-fi Disney dari ‘The Blackholeke newly owned ‘Star Wars‘, hingga karya-karyanya bersama Disney selama ini. Konsep yang terpapar dengan jelas, penuh trivia hingga banyak set piece dan sequence yang sudah memulai ‘Tomorrowland’ dengan luarbiasa menarik bersama theme song Disneyland ciptaan The Sherman Brothers, ‘It’s a Small World (After All)’.

            Sayangnya, visual excitements yang digelar bersama puzzle menarik terhadap kisah paralel yang menemukan titik intertwine-nya menuju paruh kedua masa putar ‘Tomorrowland’ tak dibarengi dengan koherensi penuh dari skrip yang ditulis Bird bersama Damon Lindelof. Di satu sisi imajinasi Bird yang sudah membuat baik ‘The Iron Giant’, ‘Ratatouille’ serta tentu saja ‘The Incredibles’ dibalik beda-beda gayanya ada di deretan klasik karya-karya Disney begitu terasa, pendekatan layered twists Lindelof secara perlahan mulai membuat ‘Tomorrowland’ kehilangan pace bersama magical approach-nya. Di titik ini, mereka seakan lupa apa alasan semua orang rela mengantri panjang untuk menikmati wahana-wahana yang ada Disneyland. Sisi fun, jauh lebih dari sekedar pembelajaran, yang tak pernah boleh dilupakan.

            Seperti kolaborasi yang berbalik saling menenggelamkan potensi utamanya, sentuhan heartful Bird yang begitu sensitif di paruh awal terasa semakin tergerus oleh gaya penceritaan Lindelof yang sudah kita saksikan di banyak filmnya, sedikit slow burn, dan ini benar-benar tak bisa menyatu dengan baik. Layered mysteries yang digelar diatas gaya Lindelof, yang pada titik paling dasar seakan mau melayangkan protes terhadap banyak Young Adults yang bernada pesimistis terhadap distopia masa depan, seolah mendominasi storytelling dan visualisasi Bird serta perlahan mulai merusak semua, menghilangkan feel Disney dengan segala magical excitement-nya, semakin melencengkan relevansi tema penuh inspirasi itu ke ranah-ranah gagasan worldpeace yang kelewat preachy hingga tak lagi punya sedikitpun elemen child-friendly, kehilangan homage, komunikasi yang melemah dan yang cukup parah, membuat pendekatan terhadap satu-persatu cover-up dibalik interaksi beda usia tiga karakter utamanya muncul dengan chemistry yang bukan erat tapi luarbiasa awkward.

             Potensi besar yang ada di subplot boy meets girl ataupun father to daughter, yang seharusnya bisa menjaga sensibilitas paruh awalnya terus berjalan dengan konsisten, benar-benar berlalu begitu saja dengan character-arch maupun konklusi yang terkesan dangkal tanpa koherensi logika sci-fi yang ketat, membuat semua metafora-metafora harapan dan optimisme yang ada dibalik desain set-nya ikut menjadi kabur. Bird masih terlihat mencoba mengembalikan konsistensi itu ke sekuens-sekuens klimaks ‘Tomorrowland’, tried to be more fun, namun sayang, semuanya sudah terasa sangat terlambat. Bahkan homage ke jetpack scene alaThe Rocketeer’ yang sudah di-set-up dengan menarik di bagian-bagian awal pun tak bisa lagi mengimbangi ketimpangannya, dan meski penutupnya masih bisa mempertahankan uplifting tone ide-idenya dengan kuat, wrapping third act ini tak lagi bisa menjadi payoff yang benar-benar layak.

             Di departemen akting, sungguh tak ada yang spesial dari George Clooney. Menokohkan Frank Walker dewasa sebagai estafet dari akting pemeran kecilnya, Thomas Robinson yang jauh lebih ekspresif, dibalik rahasia masa lalu dan penolakannya terhadap potret mimpi yang digagas bersama ide imajinatif Bird, Clooney seolah tampil malas-malasan, kelewat nyata tanpa sedikitpun spirit Disney-lead dengan kualitas comically attractive. Untunglah Britt Robertson yang memulai debut dibalik kemiripan nama depan dan sosoknya dengan aktris Brit Marling masih cukup kuat menyelamatkan ‘Tomorrowland’, apalagi Raffey Cassidy yang paling juara dan luarbiasa lovable sebagai Athena yang meski ada dibalik mereka namun tampil dengan potensi key character yang sangat memorable. Masih ada penampilan menarik dari musisi country Tim McGraw dan Kathryn HahnKeegan-Michael Key sebagai duo pemilik toko sci-fi memorabilia yang jadi salah satu highlight dalam ‘Tomorrowland’ dalam homage-nya ke old fashioned sci-fi, lengkap dengan comical violent approach-nya, dan ini lebih dari Hugh Laurie yang hanya mengandalkan different looks tanpa character-arch yang memadai.

             Dalam penggarapan teknis selebihnya, scoring Michael Giacchino serta sinematografi Claudio Miranda juga tak bisa disepelekan. Selagi scoring itu masih bisa menahan ketidakkonsistenan kolaborasi BirdLindelof di atmosfir yang tetap terasa sangat Disney, sinematografi Miranda juga berhasil menerjemahkan tiap perpindahan set-nya lebih ke imaginative tone ala Bird ketimbang pendekatan-pendekatan kaku Lindelof.

             So, begitulah. ‘Tomorrowland’ jelas tak lantas jatuh ke karya Disney yang sepenuhnya gagal. In many missed opportunities-nya buat memindahkan relevansi theme park existence bersama sejarah Walt Disney, ‘Tomorrowland’ masih tetap punya banyak trivia-trivia informatif sekaligus imajinatif yang cukup menarik buat disimak. Hanya saja, as a theme park – inspired film for all ages yang harusnya digagas dengan penuh respek ke dunia Disney yang penuh keajaiban, terlebih Disneyland, it doesn’t have enough visual excitements. A grand concept that failed to ignite. (dan)

MAD MAX: FURY ROAD ; AN OUT OF THIS WORLD-ACTION MADNESS

•May 17, 2015 • Leave a Comment

MAD MAX: FURY ROAD

Sutradara : George Miller

Produksi : Kennedy Miller Mitchell, Village Roadshow Pictures, Warner Bros, 2015

madmaxfuryroad

            Walaupun memang merupakan proyek ambisius untuk memulai debutnya di ranah fiksi perfilman layar lebar Australia, bersama rekannya – produser Byron Kennedy yang meninggal dalam kecelakaan helikopter tak lama setelah filmnya dirilis, George Miller mungkin tak pernah meramalkan bahwa ‘Mad Max’ akan jadi seperti sekarang. Menembus perfilman dunia, breaking box office record, melambungkan nama Mel Gibson sebagai international action star sekaligus membuka jalan bagi genre Australian new wave. Sekuelnya bahkan menelurkan rip-off post-apocalyptic theme yang marak di era ’80-an dari industri film kelas B Amerika hingga Eropa. Action dengan plot polisi kontra geng motor mungkin sudah banyak, begitu juga revenge story dalam banyak pakem yang serupa, butMad Maxis one of its kind.

            Letak kesuksesannya jelas. Selain latar belakang karir George Miller sebagai seorang dokter yang lama bertugas di instalasi gawat darurat dan menangani banyak kasus kecelakaan jalan raya (ini sekaligus jadi caranya mengumpulkan dana untuk pembuatan ‘Mad Max’, sebagai on-call medical doctor bagi komunitas motorbike) membuat Miller bisa menggambarkan kesadisan verbal itu terlihat nyata, ‘Mad Max’ digagas di sebuah subtext yang relevan terhadap awal-awal krisis bahan bakar yang marak di era itu berikut prediksi-prediksi eksesnya di masa depan. Setelah ‘Mad Max’, Miller juga masih menunjukkan kiprah yang mirip di film-filmnya; termasuk ‘Happy Feet’ yang terang-terang menggambarkan global effect diatas sebuah animasi musikal untuk keluarga.

            Kesuksesan ‘Mad Max’ lantas membuka jalan untuk jadi sebuah franchise lewat ‘Mad Max 2a.k.a.The Road Warrior’ (international title) yang jauh lebih sukses lagi. Memindahkan pakem (pseudodystopian revenge story menjadi kisah petualangan seorang lone drifter on the wasteland, yang atas tempat dan waktu yang salah menjadi savior dalam batas tipis super – antihero, tetap diatas subtext humanitas yang jelas, ‘The Road Warrior’ menciptakan keajaiban visual dalam genre post-apocalyptic road action yang sulit tertandingi oleh film manapun. Bersama dentuman aksi dahsyatnya, penggarapan teknis termasuk tata kostumnya pun menjadi reference yang mewarnai perkembangan berbagai kultur pop dunia terus hingga sekarang.

           Memang, semua seakan berakhir di instalmen ketiganya, ‘Mad Max: Beyond Thunderdome’ yang selain melanjutkan kesuksesan ‘Mad Max’ juga menggamit ladyrocker Tina Turner di tahun 1985. Bukan film itu tak bagus, namun diatas konsep visionernya terhadap world events dan ekses-ekses tadi, sayangnya, tak ada pencapaian yang baru dalam sisi aksi serta teknisnya. Sempat dikabarkan akan berlanjut di awal-awal 2000-an, dengan kembalinya Gibson sebagai ‘Mad Max’, rencananya baru terwujud tepat 30 tahun setelah ‘Thunderdome’.

         Tertunda berkali-kali bahkan nyaris jatuh ke development hell, trailer yang akhirnya muncul dengan Tom Hardy sebagai Max baru, kita sudah melihat pencapaian ala ‘The Road Warrior’, tentu saja dengan perbandingan teknologi sinematis yang ada sekarang. But way beyond that, ada gritty realism yang membuat semua pemirsanya berdecak kagum, dan bagi generasi sekarang, a real tease to explore the franchise. And oh yeah. Ini sebagai kisah petualangan Max yang lain, dibalik benang merah ke instalmen-instalmen yang jelas diselipkan Miller disana-sini walau tak mesti mengharuskan pemirsa barunya menonton dulu film-film itu, this is absolutely a sequel. Benar bahwa ia me-refresh legenda ‘Mad Max’ yang selalu muncul di ending dua film terdahulunya, tapi sama sekali bukan sebuah reboot.

         Masih terus bertahan hidup di tengah gurun pasir tandus setelah kepunahan peradaban, Max Rockatansky (Tom Hardy) seketika mendapatkan dirinya ditawan oleh War Boys, serdadu-serdadu mutan King Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne) yang didewakan pengikut-pengikutnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan darah Max sebagai donor universal, salah satunya bagi Nux (Nicholas Hoult). Sebelum sempat melepaskan diri, panglima Joe, Furiosa (Charlize Theron), wanita tangguh bertangan satu, keburu melakukan pemberontakan. Melarikan lima istri Joe (Rosie Huntington-WhiteleyRiley KeoughZoë KravitzAbbey LeeCourtney Eaton), mantan tawanan-tawanan cantik yang dijadikan Joe tak lebih dari alat perkembangbiakan ke tengah gurun diatas sebuah War Rig dengan persenjataan lengkap, Joe pun segera mengerahkan seluruh pasukannya untuk menghentikan Furiosa. Terikat bersama kendaraan Nux yang masih membutuhkan darahnya, Max mau tak mau terlibat ke tengah-tengah pertikaian ini. Sekali lagi, ia mesti memilih untuk meneruskan pengembaraannya, atau justru berbalik membantu Furiosa yang menyimpan rahasia masa lalu dibalik perjuangan itu. A reason called humanity.

            Okay. No matter how good, George Miller punya satu masalah dalam menggarap sekuel film-filmnya. Ia pernah terjatuh dalam ‘Babe: A Pig in The City’, ‘Happy Feet Two’ bahkan ‘Beyond Thunderdome’ atas beberapa effort yang mengakibatkan perubahan cukup drastis yang meski tak jelek namun bukan seperti yang diinginkan kebanyakan penontonnya. Tapi ‘Fury Road’ jelas bukan satu diantaranya. Treating the movie as his baby, ‘Fury Road’ yang memang sudah melalui jatuh bangun pengembangannya sejak lama ini seolah sebuah mimpi panjang untuk menghidupkan kembali karakter yang sangat dihargai Miller sebagai debut karir yang memulai segalanya.

            Menggamit Brendan McCarthy, artis komik Inggris yang memang menggemari genre post apocalyptic dalam komik-komiknya sekaligus banyak terinspirasi oleh ‘The Road Warrior’ dan Nico Lathouris (juga bermain dalam ‘Mad Max’), skrip ‘Fury Road’ memang diarahkan untuk pameran aksi, tapi tak sekalipun meninggalkan humanity subtexts-nya. Ini hebat, karena di tengah minimnya dialog, mereka bisa mengedepankan konsep dalam storytelling yang mengemas semuanya dengan rapi. Ada banyak film futuristik dengan subtext humanitas yang sama, dari ‘Handmaid’s Tale’ ke ‘Children of Men’ tapi yang bisa menonjolkan drama dari pameran aksinya, dimana hampir tiap adegan itu bisa bercerita lewat bahasa visual secara universal, lagi-lagi, Miller sudah membuat ‘one of its kindachievement.

            Miller malah melangkah ke penggambaran karakter yang jauh lebih ekstrim lagi, dari tampilan anak-anak ke nafas feminisme sangat kuat sebagai sentral konfliknya. Thanks to the cast, semua karakter wanita itu tak sekalipun menjadi ‘damsels in distress’, tapi malah menyeruak sekuat karakter Max sebagai titular character-nya. Lima pemeran ‘the wives’ dari Kravitz ke Huntington-Whiteley, Jason Stathams real life supermodel partner yang berkembang jauh sejak penampilannya dalam ‘Transformers: Dark of the Moon’ tampil dengan screen presence tak main-main, tapi diatas semuanya, Charlize Theron-lah yang paling bersinar menokohkan Furiosa yang memang memegang kunci dari plot yang disiapkan Miller sejak lama bahkan sempat disiapkan sebagai subjudulnya. Gestur dan sorot mata itu tampil sama kuat dengan transformasi akting Theron di film-film drama di tengah kualitas yang menyamai (bahkan mungkin melebihi) kegilaan aksi Max.

            Menerima estafet perannya dari Mel Gibson, physically, jelas tak ada yang salah dengan Tom Hardy. Ia mungkin tak punya ekspresi gila sekuat Gibson yang belakangan membuat karakter Martin Riggs dalam ‘Lethal Weapon’ dalam banyak similaritas dengan Max Rockatansky jadi begitu hidup dalam action characters bible, namun paling tidak, sisi melankolis Max yang tak pernah tertinggal dari raut wajahnya, tergelar dengan sangat meyakinkan. Cerdasnya Miller, ia mengemas ide refresh karakter ini dengan trivia-trivia yang jelas akan sangat bisa dikenali fans franchise-nya, dari character flashbacks ke jaket ikonik Max, termasuk villain yang diperankan aktor yang sama dengan pemeran Toecutter di instalmen pertama, Hugh Keays-Byrne (tanpa tampilan wajah yang jelas namun cukup mengerikan), hingga membuat Hardy benar-benar terlihat sebagai pilihan sempurna buat menggantikan Gibson. Di luar itu, masih ada Nicholas Hoult sebagai Nux yang tak kalah hebat mencuri perhatian, serta jangan lupakan musisi/gitaris/dancer/stage actor asal Australia, Sean Hape a.k.a. iOTA sebagai salah satu highlight paling gila (sekaligus paling asyik) dalam mengiringi bombardir adegan aksi itu seolah sebuah live rock soundtracks.

            But above all, sisi paling luarbiasa dalam ‘Mad Max: Fury Road’ memang sama, bahkan mungkin melampaui pencapaian Miller dalam ‘Mad Max’ atau ‘The Road Warrior’ di eranya dulu. Sebuah action extravaganza yang luarbiasa impresif hingga hanya bisa diterjemahkan dengan decak kagum tak henti-henti selama durasinya yang sedikit melewati 120 menit. Saat rata-rata film aksi menghibur kita lewat kemasan CGI mutakhir, Miller dan timnya membawa nama aksi kembali ke dalam pameran practical stunts yang seolah dikemas minim efek, padahal berisi lebih dari 1500 effect shots, jauh diatas ‘The Road Warrior’ dulu. Begitu hebatnya presentasi aksi dengan detil-detil luarbiasa tadi hingga membuat pemirsanya menahan nafas dan bertanya-tanya bagaimana tiap adegan aksi bisa dikemas Miller yang sudah menginjak usia 70 tahun jadi sedahsyat itu, tanpa lantas membuat penonton jadi lelah dengan bombardir over the top – boom & bang yang nyaris nonstop tanpa jeda.

            Selain sinematografi ke setting yang digelar di gurun Namibia itu, bersama fast paced editing dari Margaret Sixel dan award winning Jason Ballantine, kiprah John Seale (‘BMX Bandits’, ‘Dead Poets Society‘, ‘The English Patient’, ‘The Perfect Storm’; diantara karya-karya terbaiknya), yang kembali dari istirahat panjangnya sebagai DoP veteran berusia 71 tahun, juga asal Australia, benar-benar menerjemahkan konsep Miller dalam menggelar tiap adegan aksi termasuk monstrous vehicles dan crash sequence sebagai elemen wajibnya secara ajaib. Plus detil-detil teknis dalam menghadirkan 3D-nya bukan jadi sekedar gimmick, dan sentuhan musik yang tak pernah jadi bagian tak penting dalam franchise-nya, dari Brian May (Australian film composer) ke Maurice Jarre dan kini Junkie XL, sulit rasanya menghitung ada berapa banyak ‘never before seen-action sequence’ yang dihadirkan Miller bersama timnya dalam ‘Fury Road’. Raised every bars in the genre, hingga sulit untuk memperhitungkan akan seperti apa effort lebihnya nanti kalaupun ada.

           So yes. Sama seperti bagaimana Miller membuat generasi penontonnya begitu takjub menyaksikan ‘Mad Max’ dan ‘The Road Warrior’ di eranya dulu, ‘Fury Road’ bahkan punya pencapaian lebih lagi. It’s like Miller has dared everyone, you won’t get something like this in action genre even in a decade or more. Sebuah hype diatas seabrek bahasa puitis penuh pujian di tiap review-review bombastis dari lokal hingga internasional yang tak bisa tidak harus kita yakini. Bahwa presentasi-presentasi ‘overblown’ atau ‘over the top’ dalam genre aksi bukan berarti tak bisa menghasilkan resepsi yang positif. An out of this world – action madness. Now hold on to your seats, and witness! (dan)

THE FORGER : A FAMILY HEIST WITH BIG HEARTS AND SMALL THRILLS

•May 6, 2015 • 1 Comment

THE FORGER 

Sutradara : Philip Martin

Produksi : Saban Films, Code Entertainment & Freedom Media, 2015

the forger

            Kombinasi family drama dan heist genre dalam film mungkin tak lagi merupakan sesuatu yang baru. Namun yang menggabungkan tiga generasi aktor sebagai karakternya, masih bisa dihitung dengan jari. Salah satu pionirnya adalah ‘Family Business’, film Sidney Lumet di pengujung era ’80-an, yang mempertemukan Sean ConneryDustin Hoffman dan Matthew Broderick. Walau cenderung terlupakan, film itu punya eksplorasi unik dalam turnover genre-nya, dari komedi berbalik menjadi drama tragis sebagai konklusinya.

            ‘The Forger’ yang kembali membawa John Travolta setelah cukup lama tak muncul sebagai lead, sedikit banyak ada di wilayah itu. Dua pendampingnya adalah Christopher Plummer dan dari generasi sekarang, ada Tye Sheridan (‘The Tree of Life’, ‘Mud’) yang punya filmografi cukup remarkable di karirnya yang masih sangat muda.  Tapi seperti judulnya, ‘The Forger’ yang memang ada di kelas berbeda (baca = di bawahnya), bukanlah sebuah forge product. Hanya saja, mungkin, dalam membangun tema keluarganya, ia punya hati sebesar film Lumet tadi.

            Premis tentang seorang pemalsu lukisan kawakan yang terpaksa sekali lagi mengerahkan keahliannya, pun generik. Ray Cutter (John Travolta), master forger yang mendekam di penjara, memilih meminjam uang pada gembong narkoba Tommy Keegan (Anson Mount) untuk menyogok hakim demi kebebasannya. Tujuannya hanya satu, menyambung kembali hubungan tak harmonis dengan putra semata wayangnya, Will (Tye Sheridan), remaja berusia 15 tahun yang selama ini diasuh kakeknya Joseph (Christopher Plummer) dan diprediksi bakal hidup tak lama akibat penyakit tumor otak yang dideritanya. Walau hubungan mereka masih naik turun, juga terhadap Joseph yang selalu menganggap Ray sebagai bapak tak becus, Ray berusaha memenuhi permintaan terakhir Will dari bertemu ibunya (Jennifer Ehle) hingga bercinta dengan PSK. Tentu saja semua tak semudah itu. Selain Ray terpaksa menyanggupi misi terakhir pencurian lukisan klasik MonetWoman with a Parasol’ dari sebuah museum di Boston demi hutangnya pada Keegan, ia juga harus mengelabui dua polisi, agen Catherine Paisley (Abigail Spencer) dan partnernya (Travis Aaron Wade) yang terus membayang-bayangi Ray.

            Tak ada yang terlalu salah sebenarnya dari skrip yang ditulis Richard D’Ovidio dari ‘The Call’. Mengemas elemen-elemen klise dalam genre sejenis seperti yang ada pada sinopsis tadi, step-step awalnya sudah dibangun dengan meyakinkan. Bangunan karakter-karakternya juga baik, dimana selain tiga generasi pria dalam satu keluarga ini tetap menjadi sentralnya, rata-rata karakter sampingannya tak sekalipun jadi terpinggirkan. Dari awal, ada percikan-percikan penuh hati yang mengiringi dramatisasi ‘over generations-father to son’-nya dengan bagus, berikut detil-detil soal praktik pemalsuan lukisan yang hadir sangat informatif.

            Apalagi, deretan aktornya, walaupun popularitas Travolta sudah jauh menurun, sungguh bukan sembarangan. Chemistry yang cukup solid membuat interaksi Travolta bersama Plummer dan Sheridan yang memang punya bakat besar sebagai aktor ini mengalir sangat asyik. Supporting cast-nya, terutama dua female cast, Jennifer Ehle dan Abigail Spencer, dengan screen presence yang bisa mencuri perhatian, sama sekali tak tampil hanya sebagai tempelan. Sebagai villain, Anson Mount-pun cukup menarik.

            Sayangnya, mirip seperti problem utama dalam ‘The Call’ yang begitu kuat di awal namun melemah di paruh keduanya, skrip itu seakan tak bisa seimbang membagi kombinasi genre-nya. Penyutradaraan Philip Martin, sutradara film-film serial TV Inggris yang baru memulai debut pertamanya di layar lebar, pun tak bisa banyak membantu. Terkesan jauh lebih fokus menggagas dramatisasi dalam interaksi karakter, intensitas konfliknya menuju klimaks yang sebenarnya sudah dibangun dengan setup bagus sejak awal jadi ketinggalan tanpa kekuatan sama. Tak hanya atmosfer thriller yang lemah, elemen ‘heist’ yang seharusnya jadi sesuatu yang wajib dalam genrenya agak berantakan. Belum lagi sisi medis yang sama sekali tak tertangani dengan detil yang baik, dimana karakter Will yang tengah menjalani kemoterapi sama sekali tak terlihat seperti penderita penyakit terminal. Closing scene-nya pun mengecewakan, dibanding banyak heartful scenes yang ditabur Martin di sepanjang film.

           Begitupun, bukan berarti ‘The Forger’ benar-benar jadi film yang gagal. Walau penggarapannya tak sempurna, interaksi akting para pendukungnya, terutama TravoltaSheridan, and mostly Plummer yang lagi-lagi menunjukkan kualitas keaktorannya, jelas masih membuat ‘The Forger’ sangat layak untuk disimak. A family heist with load of hearts, but unfortunately, small thrills. (dan)

CINTA SELAMANYA : A MEMOIR OF LOVE AND LOSS

•May 4, 2015 • 3 Comments

CINTA SELAMANYA 

Sutradara : Fajar Nugros

Produksi : Demi Istri Production, Kaninga Pictures, Wardah, 2015

cinta selamanya

            Fokus ke kisah perjalanan cinta dalam sebuah biopik memang sudah merupakan hal biasa. Bahkan dalam biopik yang menempatkan tokoh-tokoh pahlawan atau pemerintahan sebagai subjeknya, lovestory seringkali jadi elemen penarik yang tak bisa dilepaskan dalam kepentingan jualannya. Namun ‘Cinta Selamanya’ sedikit berbeda. Lebih terus terang sebagai sebuah love memoir ketimbang biopik meskipun subjeknya merupakan tokoh nyata yang juga dikenal cukup luas di skup media dan entertainment, ‘Cinta Selamanya’ memang diangkat dari novel memoir Fira Basuki dengan mendiang suaminya, ‘Fira dan Hafez’.

            Yang lantas membuat memoir ini menjadi begitu menarik bukan saja karena sosok Fira sebagai public figure dibalik kesibukannya sebagai single mother yang berkarir sebagai penulis sekaligus pemred majalah Cosmopolitan, namun berisi penceritaan cukup unik yang sebagiannya tersusun dari interaksi mereka lewat twitter, di atas sebuah ujung tragis yang membuat memoir itu punya penyampaian lebih dalam serta intim. Ada bait-bait puitis serta penelusuran firasat yang jelas relatable bagi kalangan pembacanya. So yes, kisah Fira memang sangat memenuhi syarat untuk diangkat jadi sebuah film layar lebar dengan romantic tone yang jelas tergambar sejak promo-promonya mulai dipublikasi. Kehadiran pasangan suami istri Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan sebagai cast-nya, tentu juga merupakan daya tarik tersendiri. Selain sudah cukup sering muncul bersama dalam satu film, pemilihan Atiqah dibalik kemiripan fisiknya dengan Fira, juga pas.

            Status Fira Basuki (Atiqah Hasiholan) sebagai single mother di tengah kesibukan berkarir sebagai novelis sekaligus pemred sebuah majalah lifestyle membuatnya tak mudah untuk mendapatkan pasangan kembali. Merasa sudah cukup bahagia hidup bersama putrinya, Syaza (Shaloom Razade), lewat sebuah event pencarian bakat, Fira lantas bertemu dengan Hafez Agung Baskoro (Rio Dewanto), pria yang meski berusia jauh lebih muda darinya namun sungguh-sungguh menunjukkan keseriusannya. Namun kebahagiaan yang berlanjut hingga pernikahan itu tak berlangsung lama. Di tengah penantian anak pertama mereka, ada sebuah tragedi yang meluluhlantakkan semuanya.

            Masalah utama yang dipikul ‘Cinta Selamanya’ sebagai adaptasi sebuah love memoir adalah storytelling. Selagi novel Fira dengan jeli memanfaatkan penggalan-penggalan 140 karakter lewat tweet-tweet mereka dengan sensitivitas lebih diatas bahasa-bahasa puitis yang memang menunjukkan kehilangan yang begitu besar seperti yang kita lihat di tagline kuatnya (‘Mata menatap, hati menetap’), skrip yang ditulis Piu Syarif (segmen ‘Otot’ dalam ‘Pintu Harmonika’) sayangnya tak bisa secara sempurna memindahkan gap bahasa novel dan film untuk penceritaannya. Belum lagi konten luas menyangkut benang merah konflik-konfliknya yang terpaksa dipangkas untuk kepentingan durasi. Tampilan-tampilan tweet itu pun kerap terlewat begitu saja hingga tak mampu memberi penekanan lebih terhadap penceritaannya.

           Apa yang hadir ke layar jadinya lebih mirip penggalan-penggalan sketsa yang kurang utuh, menyisakan hanya pengenalan karakter yang memang cukup baik berikut eksplorasi budaya Jawa yang berperan kuat dalam hubungan mereka, namun tak pernah cukup membangun detil-detil motivasi tiap karakternya secara benar-benar solid. Di tengah begitu banyaknya konflik potensial yang bisa diangkat lebih dalam termasuk soal karir atau rentang usia dalam hubungan, skrip itu kerap bergerak linear bercerita soal ‘boy meets girl’ dengan cliche aftermaths. Bagian-bagian akhir yang sebenarnya bisa jauh lebih emosional itu juga sedikit terseret-seret menuju konklusi penting soal love and loss di pengujungnya.

            Minimnya konflik ini akhirnya membuat storytelling Fajar Nugros jadi terkesan bertumpu hampir sepenuhnya pada scoring Tya Subiakto, yang seperti biasa, tampil majestis dan punya fungsi penuh mengisi kekosongan ruang dalam bangunan emosinya. Bersama scoring Tya, juga ada tembang campursari milik Didi Kempot yang aslinya memang jadi lagu penting dalam hubungan Fira & Hafez, ‘Kangen Kowe’ yang dinyanyikan langsung oleh Rio Dewanto dalam aransemen ulang yang jauh lebih modern. Sayangnya lagi, modern rendition dari lagu dengan nafas tradisional yang kuat ini sedikit kelewat sering dimunculkan, padahal mungkin akan menarik juga bila diselingi dengan versi asli dalam kontras loyalitas budaya Jawa Fira dan Hafez terhadap visual dan kehidupan serba modern yang menggambarkan hiruk-pikuk world fashion scenes dengan background negara-negara Eropa.

            However, secara visual, ‘Cinta Selamanya’ memang menyajikan tampilan sinematis yang sangat enak untuk dilihat. Tata kamera Yadi Sugandi bisa menutupi kekurangan storytelling itu lewat sinematografi cantik termasuk berhasil merekam setting luar negerinya dengan baik bersama tata teknis lainnya, terutama tata kostum dari Wandahara, tata rias dari Retno Ratih Damayanti dan artistik dari Benny Lauda, yang sedikit banyak bisa menyajikan blend cukup kuat terhadap latar dunia fashion dan lifestyle dalam karir Fira.

            Departemen aktingnya juga jelas punya kelebihan. Dibalik adanya sedikit kemiripan fisik mereka, Atiqah secara luwes menerjemahkan gestur Fira sebagai subjeknya dengan sangat baik. Bersama Rio Dewanto yang juga tampil bagus dibalik romantic chemistry yang kuat, seperti seorang model yang jadi pusat perhatian di atas sebuah catwalk, Atiqah benar-benar berhasil jadi fokus utama diantara ensemble lain yang juga diisi oleh nama-nama terkenal seperti Tio Pakusadewo, Dewi Irawan, Nungky Kusumastuti, Widi Mulia, Joanna Alexandra, Arumi BachsinAmanda Soekasah, Janna Joesoef dan Muhadkly Acho berikut cameo Dwi SasonoAgus Kuncoro dan Lukman Sardi. Sementara ada Tantry Agung Dewani, adik Hafez yang memerankan dirinya sendiri berikut penampilan debut yang cukup baik dari Shaloom Razade, putri Wulan Guritno, yang memerankan Syaza dengan lepas.

            Kelebihan visual, scoring dan teknis lain serta akting inilah yang akhirnya bisa menyelamatkan ‘Cinta Selamanya’ dari beberapa kelemahan dalam penceritaannya. Jangan lupakan juga theme song bagus berjudul sama dari Rieka Roeslan. Paling tidak, tetap ada atmosfer romantis yang pada akhirnya tetap bisa mengiringi konklusinya dalam berbicara bukan saja hanya soal cinta dan kehilangan, tapi juga persepsi-persepsi untuk bangkit dan meneruskan hidup. Not that strong, but still, a moving love memoir. (dan)

TOBA DREAMS : LIFE’S TRUE LINE OF COMMAND

•May 2, 2015 • 2 Comments

TOBA DREAMS

Sutradara : Benni Setiawan

Produksi : TB Silalahi Center, Semesta Production, 2015

toba dreams

            Dengan potensi pariwisata cukup besar yang dimilikinya, Danau Toba memang pernah beberapa kali menjadi lokasi set film kita sejak dulu. Sebut diantaranya, ‘Bulan di Atas Kuburan’, ‘Sorta’, ‘Secangkir Kopi Pahit’ sampai ‘Tapi Bukan Aku’ dan ‘Rokkap’ yang keduanya sayang kurang punya penggarapan layak. Menyusul remakeBulan di Atas Kuburan’ barusan, ‘Toba Dreams’ yang digagas oleh T.B. Silalahi, mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Kabinet Pembangunan VI sebagai adaptasi dari novel fiksi berjudul sama karyanya, kembali mengangkat latar set itu di tengah penelusuran budaya Batak yang sama-sama kental. Oh ya, walaupun menggunakan namanya sebagai karakter utama yang diperani Mathias Muchus, ‘Toba Dreams’ bukanlah sebuah biopik.

            Sebagai karya ambisius yang memang ditangani langsung oleh T.B. Silalahi dalam porsi co-director bersama sutradara Benni Setiawan, ‘Toba Dreams’ yang berbicara soal cinta, ambisi terutama mimpi seperti judulnya, memang dipenuhi banyak gagasan. Dalam karir panjangnya termasuk di luar militer, tak heran kalau T.B. menuangkan banyak pesan moral dari perjuangan prajurit TNI dalam memegang nilai-nilai hidup, toleransi agama, kampanye anti narkoba hingga lingkungan yang menyangkut daerah sekitar tempat kelahirannya keatas sebuah family drama dengan racikan-racikan tambahan.

        Ada lovestory, father to son conflict, komedi sampai action bahkan PSA (Public Service Announcement) yang membaur di dalamnya. Sedikit banyak, dengan bumbu penuh sesak itu, percampuran rasa dalam durasi yang mencapai 144 menit ini memang mirip seperti film India, tanpa sekalipun mencoba pretensius dalam storytelling yang dipaparkan Benni. Semua mengalir dengan ringan bahkan cenderung klise, tapi bukan berarti tak punya kelebihan. Malah, bagi sebagian orang, terutama bagi etnis yang jadi fokus, karakternya bisajadi sangat relatable.

            Seusai menunaikan masa baktinya sebagai prajurit TNI-AD, Sersan T.B./Tebe (Mathias Muchus) memilih melanjutkan perjuangan ke daerah kelahirannya di punggiran Danau Toba, Sumatera Utara. Selagi istrinya (Tri Yudiman) dan dua putra putrinya Sumurung (Haykal Kamil) – Taruli (Vinessa Inez) mau tak mau menyetujui kepindahan ini, putra sulung Tebe, Ronggur (Vino G. Bastian) awalnya menolak mentah-mentah. Ideologi yang berbeda, apalagi hubungan yang tengah dijalin Ronggur dengan Andini (Marsha Timothy) tanpa restu orangtua Andini dan diatas semua, keinginan Ronggur untuk bisa mengubah nasibnya, kemudian melebarkan konflik diantara ayah otoriter dan anak pemberontak ini. Ronggur yang tak betah berlama-lama tinggal di rumah neneknya (Jajang C. Noer) di kampung lantas diam-diam kembali ke Jakarta untuk meraih mimpinya. Tapi cara yang dipilihnya tak lantas bisa begitu saja memenangkan respek yang sebenarnya ia idamkan dari sang Ayah. Batas tipis cinta dan kebencian itu pun memuncak kala keduanya sama-sama menyadari tak ada lagi titik balik dari kesalahan demi kesalahan yang sudah mereka mulai sejak lama.

            Memuat begitu banyak gagasan yang ada dalam novel berikut ambisi T.B. untuk mengetengahkan pesan moral kuat atas banyak aspek, Benni Setiawan untungnya bisa menampung semua itu lewat pencapaian storytelling yang sudah cukup lama hilang dari karya-karyanya sejak ‘3 Hati 2 Dunia 1 Cinta’. Skripnya bisa jadi tak sempurna menyusun kisah yang meski klise namun kompleks dalam rentang timeline cukup melebar, namun karakter-karakter yang bergantian menjadi fokusnya tetap terbangun dengan baik dibalik penekanan budaya dan latar prinsip-prinsip militer secara kental bersama dialog-dialog penuh punchlines dan tampilan emosi campur aduk dalam pengadeganan sama kuat.

            Memang benar, ada kompromi yang tak bisa terhindarkan dalam kepentingan-kepentingan PSA termasuk soal sekolah unggulan Soposurung dan latar karakter yang sulit juga tanpa melewati relative details dalam penekanannya, seperti bumbu lovestory yang harus berklise-klise di pertentangan orangtua atau economic rivalry, bahkan kampanye antinarkoba penuh konsep karma, namun tak sampai merusak tatanan keseluruhannya. Malah, sebagian besarnya bisa secara substansial menampar pemirsanya dengan pendekatan dan konklusi yang masih jarang-jarang ada di film lain dengan elemen-elemen yang mirip. Beberapa adegannya juga bisa dinobatkan menjadi deretan adegan terkuat yang ada dalam sejarah film kita, termasuk drunk scene, toleransi doa sebelum makan malam dan adegan perkawinan Batak dengan detil tampilan budaya khasnya yang unik.

            Keberhasilan ini juga sangat didukung oleh akting bersama chemistry kuat para pendukungnya. Sebagai karakter utama, Vino G. Bastian dan Mathias Muchus bertransformasi dengan sangat baik menerjemahkan nafas karakter dalam konflik father to son-nya. Di tengah interaksi penuh emosi yang kerap tampil meledak-ledak tapi tak sekalipun terasa berlebih, gestur dan sorot mata mereka tak pernah gagal meyakinkan kita akan harapan-harapan yang ada dibalik kerusakan hubungan anggota keluarga diatas keteguhan prinsip yang sulit untuk menemukan kompromi.

           Supporting characters lainnya pun sama kuat. Ada Marsha Timothy yang dengan chemistry-nya bersama Vino, her real life spouse, bisa menciptakan love scenes yang sangat believable, Haykal Kamil yang bertransformasi dengan baik menokohkan turnover-nya sebagai seorang pendeta, the right use of Ramon Y. Tungka dan Tri Yudiman, masing-masing dengan sisi temperamen dan melankolisnya, hingga aktor cilik Fadhel Reyhan yang memenangkan hati kita di bagian-bagian pengujungnya. Apalagi Jajang C. Noer yang meski tampil singkat tapi diserahi adegan tepat, dan ultimate scene stealer-nya, standup comedian Boris Bokir yang memerankan Togar, sahabat Ronggur. Almost in every scenes, celotehan-celotehan berdialek Batak itu berhasil mengisi highlight komedik di adegan-adegan yang melibatkan dirinya.

            Lalu jangan lupakan presentasi teknisnya. ‘Toba Dreams’ dipenuhi oleh keindahan shot dari DoP senior Roy Lolang , yang berhasil merekam tiap atmosfer set-nya untuk ikutserta sebagai pemeran penting ketimbang sekedar latar, kadang simbolik secara religius pula. Tata artistik dari Oscart Firdaus juga cukup baik, editing Andhy Pulung dan scoring Viky Sianipar yang tak sekalipun terpeleset menjadi stirring atau kelewat bombastis, tapi tetap memberi penekanan etnisnya hingga ke pemilihan lagu yang ikut dibubuhi teks untuk lebih bisa diserap penonton di luar etnis Batak.

            Namun pada akhirnya, yang benar-benar membuat ‘Toba Dreams’ menjadi karya yang bagus secara keseluruhan tetaplah bagaimana storytelling itu bisa mengemas semua elemen-elemen yang berpotensi sebaliknya dalam durasi panjang yang sama sekali tak terasa melelahkan. Bersama kombinasi genre yang masing-masing bisa mencapai sasarannya – tertawa keras melihat cultural bumps sekaligus luarbiasa tersentuh dengan airmata mengambang saat drama keluarganya tampil begitu menghujam, menyemat moral demi moral dari cinta, ambisi, agama hingga lingkungan yang menyentuh aspek teramat luas dalam kehadiran karakter-karakter lintas generasi diatas penggambaran keteguhan prinsip serta akar budayanya, ia tak sekalipun menghakimi secara hitam atau putih, tapi tetap terasa sangat humanis.

              Di lapisan terdalamnya, ‘Toba Dreams’ tetap menyeruak diatas ide pembentukan manusia dari generasi pendahulunya, yang pada akhirnya akan memunculkan sosok-sosok dengan harapan serta tujuan berbeda untuk jadi lebih baik, atau justru sebaliknya. Bahwa diatas semua garis komando atau pertentangan prinsip yang ada, keluarga tetap menjadi kunci terkuatnya. Life’s true line of command. (dan)

ROMEO + RINJANI : A FRESH IDEA WITH RUGGED MIX OF GENRES

•April 28, 2015 • 1 Comment

ROMEO + RINJANI 

Sutradara : Fajar Bustomi

Produksi : Starvision, 2015

romeo rinjani

            Genre, lagi-lagi, adalah sebuah keterbatasan dalam sinema kita. Ketimbang menggali wilayah-wilayah baru, PH dan sineas kita kerap lebih senang bermain di ranah yang sama demi kepentingan jualan. Walau bujet dan resepsi rata-rata jumlah penonton memang sering ada dibalik alasannya, satu-dua ada tetap ada yang mencoba sedikit lebih kreatif. ‘Romeo + Rinjani’ bisa dibilang ada di wilayah itu. Walau dasarnya tetap berupa sebuah drama, tampilan promo dari poster hingga trailer-nya sudah menyiratkan sesuatu yang berbeda. Selagi posternya tak memberi cukup informasi genre tersebut, kita bisa melihat banyak elemen yang digabungkan dalam trailer-nya. Dari lovestory, adventure hingga sepenggal tone yang mengarah ke thriller dengan twist.

            Storytelling awalnya dengan lancar memperkenalkan kita pada sosok Romeo (Deva Mahenra), fotografer playboy yang ternyata menyimpan sebuah trauma masa kecil dengan sebuah kelemahan. Lewat kelemahan ini, salah seorang kekasihnya, Raline (Kimberly Ryder), akhirnya mulai bisa meluluhkan hati Romeo yang sebenarnya belum terlalu yakin untuk menikahinya. Berangkat menuju Rinjani untuk menyelesaikan kontrak tugas fotografinya, Romeo bertemu dengan Sharon (Alexa Key), cewek seksi yang membawa Romeo pada sebuah petualangan baru namun berakhir tak diduga. Raline yang muncul sebagai dewa penyelamat membuat Romeo akhirnya yakin untuk mengakhiri petualangannya, namun cerita tak lantas berakhir sampai disini.

            Keberadaan twist dalam sebuah bangunan plot jelas merupakan hal menarik, even a layered one. Namun masalah dalam skrip ‘Romeo + Rinjani’ yang ditulis oleh Angling Sagaran ini adalah usaha terlalu berlebih yang akhirnya membuat storytelling Fajar Bustomi jadi sulit untuk benar-benar rapi, apalagi untuk meracik genre crossover-nya dengan lancar. Dalam jarak sangat dekat, Angling menyemat kelewat banyak turnover ‘ternyata dan ternyata’ yang sebagiannya disusun lewat flashback sequence agak tumpang tindih pula, memuat penjelasan demi penjelasan jalinan plotnya hingga jadi sedikit menggelikan buat diikuti.

            Belum lagi sejumlah ‘suspension of disbelief’ yang bisajadi agak mengganggu pemirsa yang lebih memahami detil-detil dalam elemen pendakian gunung itu. Meski tak lantas jadi terlalu mengganggu keseluruhan universe penceritaan yang walau ada di kehidupan nyata tapi dari awal tetap digagas Fajar secara komikal, ‘Romeo + Rinjani’ kerap terlihat ragu-ragu untuk menyajikan subgenre lebih ekstrim yang seharusnya bisa menutupi bolong-bolong plot demi menyemat layered twist tersebut. Salah satunya adalah belokan ke subgenre thriller, a glimpse yang sebenarnya sudah dimulai dengan potensial tapi kemudian ditahan hanya sebatas pengiring singkat tanpa pernah sekalipun muncul seimbang dan malah didistraksi dengan unnecessary comedy.

            Padahal, secara mendasar idenya cukup fresh buat film kita. Berdiri diatas konklusi yang menghadirkan ‘common fears of marriage’s bad aftermath’ dimana masing-masing pasangan berubah dari malaikat menjadi monster berikut ekses-ekses ke krisis kepercayaan dan hubungan anggota keluarga, kehadiran twist demi twist itu sebenarnya bisa digagas jauh lebih kuat dari apa yang kita saksikan sebagai hasilnya. ‘Romeo + Rinjani’ sayangnya lebih memilih selling factors-nya yang kemudian terlalu cepat pula disambung dengan benang merah komedi ngalor-ngidul serta drama keluarga dan love conlusion yang terus terang, tak punya fondasi yang kuat, sekaligus meluluhlantakkan bangunan karakter Romeo yang sudah dimulai cukup baik sejak awal.

            However, ada estetika sinematis lewat tata teknis cukup lumayan serta pameran ‘pretty faces’ yang akhirnya tetap membuat ‘Romeo + Rinjani’ menjadi ‘feast for the eye‘ yang bisa bekerja dalam durasinya yang singkat. Akting dan chemistry tiga karakter utamanya, termasuk Deva Mahenra yang terlihat masih sangat melekat dengan karakternya di sebuah sitcom salah satu stasiun televisi kita, meski tak spesial, tetap masing-masing bisa memberi dayatarik lewat tampilan fisik mereka. Apalagi Alexa Key yang memang dieksploitasi sebagaimana mestinya serta sederet supporting characters yang diisi standup comedians seperti Sammy Notaslimboy, Fico Fachriza, Uus, dua personil Cherrybelle plus Donna Harun dan Gary Iskak. Tak spesial, namun tetap menarik.

        Sinematografi Paps Bill Siregar pun begitu. Ia tak pernah jadi terlalu remarkable dalam mengeksplorasi panorama lokasi aslinya di Rinjani, namun bukan sama sekali membuat sempalan judul itu jadi tak berarti. Dan scoring Tya Subiakto, walau jauh dari kesan megah yang biasa ia tampilkan, masih lebih baik daripada kiprahnya di film pesaing minggu ini. Jadi begitulah. Diatas ide cukup fresh dan penggabungan genre tadi, walau tak sepenuhnya halus, paling tidak, ‘Romeo + Rinjani’ mencoba untuk tampil beda. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 8,636 other followers