3 SRIKANDI: A DISNEY MATINEE-KIND OF SPORTS BIOPIC

•August 19, 2016 • Leave a Comment

3 SRIKANDI

Sutradara: Iman Brotoseno

Produksi: MVP Pictures, 2016

3 srikandi

            Kita tak punya terlalu banyak genre olahraga dalam film nasional, itu benar. Kalaupun ada, biasanya kebanyakan membahas sepak bola. Ada ‘King’ yang bicara soal bulu tangkis, dan sekarang ‘3 Srikandi’ muncul dengan soal panahan – cabang olahraga yang sayangnya tak pernah terlalu memunculkan hype di masyarakat kita. Paling tidak, rilis yang tepat saat Olimpiade Rio di balik harapan-harapan keberhasilan atlit kita, bisa sedikit lebih mendorong animonya. Tapi apa yang diangkat sebagai kisah nyata dari Olimpiade Seoul 1988 memang perlu diketahui lebih luas. Mendapat medali perak dalam panah beregu, di tahun itu – adalah sesuatu yang sangat spesial.

            Menjelang Olimpiade Seoul 1988, Sekjen PERPANI Udi Harsono (Donny Damara) mempersiapkan atlitnya untuk berlaga. Namun satu-satunya harapan untuk melatih atlit wanita ada pada Donald ‘Pandi’ Pandiangan (Reza Rahadian), mantan atlit nasional yang dijuluki ‘Robin Hood Indonesia’, namun frustrasi karena kecewa kegagalan keberangkatan ke Moskow 4 tahun sebelumnya dicampuri urusan politik. Sempat menolak, Pandi akhirnya bersedia melatih tiga yang terpilih, Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari), Lilies (Chelsea Islan) dan Kusumawardani (Tara Basro). Tapi ini bukan perkara mudah karena gemblengan Pandi yang disiplin harus diwarnai konflik intern ala wanita di antara 3 srikandi panahan ini.

            Walau punya background iklan yang pas dengan genre-nya, debut sutradara Iman Brotoseno ternyata masih cukup tertatih-tatih buat bercerita. Ada beberapa detil yang terasa melompat, sementara ia juga gagal menaikkan level-nya di klimaks final yang seharusnya bisa lebih mendebarkan dalam memperkenalkan panahan lewat film kita. Ada beberapa usaha yang terlihat, namun dengan minimnya detil-detil informasi dan rules of the game dalam kompetisi cabang olahraga yang diangkat – yang rata-rata tak diketahui banyak lapisan selayaknya cabang lain, sebagian montase-montase klimaksnya malah terasa kelewat bombastis ketimbang meyakinkan. Masa iya rakyat kita di tahun itu sebegitu antusiasnya mengikuti hasil panahan lewat radio hingga lapis masyarakat terkecilnya?

         Belum lagi soal justifikasi disiplin atlit menjelang pengujungnya, di mana tahapan-tahapan dialog dalam skrip Swastika Nohara bersama Iman (supervisi oleh Adi Nugroho) malah memberi impact cukup fatal ke persuasi rasa patriotisme yang seharusnya muncul lewat tema seperti ini. Penutup yang seharusnya bisa jauh lebih menyentuh buat membidik puncak hubungan 3 Srikandi dengan Pandi di tengah kemenangan mereka pun seakan jadi menguap begitu saja.

            Begitupun, penggarapan teknis terutama tata artistik Frans X.R. Paat dengan pendekatan nostalgik 80an-nya bisa dibilang cukup baik. Tata kamera dari Ipung Rachmat Syaiful juga bekerja dengan baik di bagian-bagian terpentingnya. Begitu pula gimmick-gimmick ‘80an lain dengan OST vintage dari Kla Project, Ruth Sahanaya plus Vonny Sumlang di selipan adegan musikal yang cukup padu dengan tone penceritaan yang mereka pilih sejak awal. Dari dramatisasi klise konflik atlit dengan orangtuanya ke romantisasi love parts di tengah ketiga karakter ini plus secuil tragedi – yang juga tak kalah klise, ‘3 Srikandi’ memang seakan tak pernah menempatkan dirinya sebagai sports biopic klasik tapi lebih ke pola Disney Matinee sports dengan elemen ‘Girls Just Want to Have Fun’ di bangunan interaksi karakter-karakternya. Bisa jadi flaws buat yang mengharapkan tontonan lebih serius, tapi jelas tak mengapa.

         Memerankan Pandi, meski masih ada sedikit pengaruh peran Habibie dan dialek yang masih belum seratus persen pas, Reza Rahadian tetap bertransformasi begitu jempolan seperti biasanya. Selebihnya bermain baik, tapi yang paling menonjol justru Chelsea Islan dengan gestur teledor di balik dialek Jawa Timur medoknya. Bunga Citra Lestari mungkin tak mendapat treatment sebesar itu bahkan dibandingkan Tara Basro, tapi mereka tetap bermain baik dengan dukungan supporting cast yang bagus terutama dari Donny Damara, Indra Birowo dan Mario Irwinsyah.

            Dengan kelebihan dan kekurangan itu, ‘3 Srikandi’ untungnya tetap tak terjebak sebagai biopik olahraga yang gagal. Meski tak bisa benar-benar maksimal memanfaatkan potensi yang dimilikinya, juga dalam membangkitkan rasa patriotisme lewat turnamen olahraga,  ini paling tidak masih bisa menghibur bak film-film matinee Disney dalam genre sama. Tak jelek secara keseluruhan, tapi tetap – sayang sekali. (dan)

 

SUICIDE SQUAD: A PARTY-SIZED MESS OF A BIG CONCEPT

•August 18, 2016 • 3 Comments

SUICIDE SQUAD

Sutradara: David Ayer

Produksi: DC Entertainment, RatPac-Dune Ent, Atlas Ent, Warner Bros, 2016

SS

            Sebagai instalmen ke-3 dari DCEU (DC Extended Universe), adaptasi komik DC yang bakal menyatukan semua tokoh-tokoh komik mereka seperti apa yang dilakukan pesaing mereka, Marvel Comics – yang sudah berada jauh di atasnya, ‘Suicide Squad’ sebenarnya menanggung beban cukup berat. Walau karakter-karakternya yang kebanyakan terdiri dari karakter-karakter jahat yang digambarkan sebagai antihero, ia menjadi benang merah penghubung dari bangunan universe yang masih terseok-seok, apalagi dengan kegagalan ‘Batman v Superman: Dawn of Justice’ kemarin. Trailer yang terus-menerus berubah plus isu-isu reshoot dan edit ulang mewarnai proses akhirnya sebelum dilepas ke pasar.

            Agen rahasia Amanda Waller (Viola Davis) menginisiasi sebuah program untuk merekrut penjahat-penjahat super ke dalam misi rahasia. Walau dipandang beresiko karena membalik keberadaan mereka menjadi mitra pemerintah buat menyelamatkan dunia dari prediksi ancaman meta-human, program ini tetap terpaksa dijalankan dengan Rick Flag (Joel Kinnaman) sebagai eksekutornya. Ada Deadshot (Will Smith), pembunuh bayaran dan sniper handal, Harley Quinn (Margot Robbie) – psikiater yang beralih menjadi kekasih kriminal Joker (Jared Leto), perampok Captain Boomerang (Jai Courtney), manusia berkekuatan api El Diablo (Jay Hernandez), Slipknot (Adam Beach), manusia buaya Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje) dan arkeolog June Moone (Cara Delevigne) yang sukmanya dikuasai penyihir jahat Enchantress.

            Premis menarik ini sayangnya dikembangkan sutradara David Ayer yang sudah teruji dari film-film cop – criminal thriller dengan kesalahan yang notabene sama dibalik kegagalan ‘BvS’. Pertama adalah soal layer terdasar yang terasa agak mengada-ada di atas kekhawatiran kebangkitan Superman dari endingBvS’ – di mana pihak pemerintah seakan cenayang yang bisa memperkirakan Superman bakal bangkit dan beresiko menjadi makhluk jahat, sementara dua personil Justice League yang dimunculkan memberangus mereka sebelum disatukan tak diberi koherensi menghentikan inisiasinya di balik kekacauan parah yang terjadi di set kota tetangga universe utamanya.

          Tetap ada set up yang cukup asyik di atas nonsensical ideas tadi bersama penggunaan lagu-lagu vintage yang mau tak mau harus diakui terinspirasi ‘Guardians of the Galaxy’-nya Marvel, namun berjalan semakin lari arahnya dengan character arcs yang penuh sesak dan tumpang tindih tanpa justifikasi seimbang menuju klimaks yang tak lagi jelas memuat motivasi konflik siapa melawan siapa. Though anything goes in a fantasy, nalar dan logika pemirsanya malah diruntuhkan ke taraf mempertanyakan motivasi pemilihan personil tanpa balance yang masih dipenuhi lagi oleh seabrek tim dan karakter pendamping, sementara kunci kekacauannya justru datang dari mereka sendiri ketimbang tetek-bengek misi yang awalnya disampaikan. Yang akhirnya tampil hanya noisy boom-bangs, itu pun dengan pace naik turun – termasuk di adegan tim antihero ini sempat-sempatnya mabuk-mabukan di bar kosong sekacau tampilan posternya yang bak benang kusut di atas color tone yang sangat tak nyambung ke universe-nya.

           Selagi Will Smith’s Deadshot dan Margot Robbie’s Harley Quinn jadi fokus terdepan, sebagian besar karakternya seakan tertinggal sia-sia tanpa justifikasi seimbang tadi. Tim inti yang dihadirkan pun tak semua terjelaskan di bagian awal, termasuk Slipknot yang diperankan Adam Beach yang seolah jadi penghias dalam durasi luarbiasa singkat. Jai Courtney’s Captain Boomerang was mostly doing nothing, Killer Croc looks like a joke dan Jay Hernandez’ El Diablo tergambarkan punya kemampuan begitu dahsyat tanpa lagi membutuhkan ‘Squad’.

        Joker versi Jared Leto sebenarnya tak terlalu jelek meski jelas masih jauh dibandingkan semua aktor yang pernah memerankan tokohnya, namun juga seperti tak diberi ruang lebih di atas motivasi dan flashback tak penting, begitu juga Scott Eastwood dan Karen Fukuhara sebagai pendamping karakter Rick Flag (mandor proyek yang diperankan oleh Joel Kinnaman dengan baik) yang membuat ansambelnya makin penuh sesak, sementara kemunculan spesial Batman (tetap diperankan Ben Affleck) dan Flash (Ezra Miller, yang akan kelewatan dalam sekali kedipan) dalam universe-nya tak juga menyisakan kesan berarti. Viola Davis tampil cukup meyakinkan sebagai Amanda Waller, namun lagi-lagi di atas bentukan key character yang justru cenderung bagai perusuh ketimbang inisiator visioner, dan terakhir, sebagai Enchantress – dr. June, meski Cara Delevigne cukup bagus namun set up-nya berakhir lebih sebagai villain yang tetap terasa tak seimbang meski penuh polesan.

            Begitupun, di samping hype yang melonjak dengan kemarahan fans DC atas review negatifnya, ‘Suicide Squad’ tetap punya nilai jual lebih lewat seru-seruan adegan aksi dengan sempalan komedi yang sayangnya juga masih dipenuhi hit and miss. But like a party-sized mess of a big concept yang lebih enak dinikmati dalam keadaan mabuk, nikmati ini hanya jika Anda mengharap sajian penuh aksi sekaligus masih mengharapkan kebangkitan film-film adaptasi DC dengan kecerdasan racikan yang harus diakui masih jauh di bawah Marvel, tapi jelas – tak lebih dari itu. (dan)

STAR TREK BEYOND: FAST AND FURIOUS IN SPACE

•August 4, 2016 • Leave a Comment

STAR TREK  BEYOND

Sutradara: Justin Lin

Produksi: Paramount Pictures, Bad Robot Prod, Skydance, Alibaba Group, 2016

star trek beyond

            50 tahun setelah serial TV orisinil kreasi Gene Roddenberry ditayangkan pertama kali, ‘Star Trek’ kini sudah mencapai film layar lebar ke-13-nya, dan instalmen ke-3 reboot baru yang digagas oleh J.J. Abrams. Menaikkan level-nya ke trend blockbuster yang penuh efek spesial dan action seru dalam genre fiksi ilmiah, Abrams kini mempercayakan penyutradaraannya ke Justin Lin yang karirnya melonjak setelah serangkaian seri ‘Fast and Furious’. Selain Leonard Nimoy, pemeran Spock asli yang tutup usia bersama Anton Yelchin di tahun ini, hype-nya juga semakin bertambah dengan keikutsertaan Joe Taslim sebagai salah satu villain bernama Manas. Pertanyaannya sekarang, ke mana Justin Lin membawa franchise ini?

            Setelah insiden yang terjadi di film sebelumnya, kru USS Enterprise; Kapten James T. Kirk (Chris Pine), Spock (Zachary Quinto), McCoy/Bones (Karl Urban), Chekov (Anton Yelchin), Sulu (John Cho), Scotty (Simon Pegg) dan Uhura (Zoe Saldana) kini terperangkap di sebuah planet tak dikenal setelah Enterprise diluluh-lantakkan oleh musuh baru bernama Krall (Idris Elba). Saling terpisah dan menyelamatkan diri, mereka lantas bergabung dengan Jaylah (Sofia Boutella), korban Krall sebelumnya yang tanpa mereka sadari menyimpan rahasia terhadap sebuah misi masa lalu Starfleet.

            Abrams mungkin merasa dua instalmen untuk membalik universe reboot ini secara cerdas, menghadirkan alternate universe dengan karakter-karakter yang sama, sudah cukup sebagai introduksi ke penggemar baru sekaligus fans service ke para penggemarnya. Untungnya, reboot itu memang punya pilihan cast yang tepat. Chris Pine jelas punya kharisma se-level William Shatner di masa mudanya, selagi Zachary Quinto begitu mengingatkan kita ke awkward style Leonard Nimoy menokohkan Spock, dan tentu Karl Urban ke DeForest Kelley yang di dua instalmen pertamanya terasa masih underused.

        Dan sebuah franchise tentu tak akan bisa lama bertahan dengan formula serupa terus-menerus. Menaikkan level-nya ke pameran aksi jauh lebih lagi, penggagasnya melakukan langkah berani ke pameran aksi yang menyamai bahkan melebihi franchise yang sering dianggap – walaupun sebenarnya tidak – pesaingnya, ‘Star Wars’ dengan boom and bang action lewat sentuhan Justin Lin. But more than that, skrip yang berpindah ke tangan Simon Pegg (bersama Doug Jung) juga tergolong berani – karena Pegg yang dipasang sebagai Scotty baru memang punya signature di ranah komedi. Dua elemen racikan ini memang hanya punya satu terjemahan – blockbuster musim panas yang sangat meriah.

            Walau sangat potensial buat kelangsungan franchise-nya dari sisi box office, di lain sisi, sebenarnya ini sekaligus sangat beresiko bagi para Trekkies, nama yang disemat untuk fans setia franchise-nya. Namun rentang waktu begitu jauh mungkin juga sudah menyisakan sangat sedikit Trekkies purist dengan masuknya fans dari barisan generasi baru. Pakem penceritaannya memang secara drastis berubah lebih serba menonjolkan aksi bercampur komedi – bahkan bermain-main dengan hingar-bingar pop kultur – rock n’ roll dan Beastie Boys, termasuk theme songSledgehammer‘ dari Rihanna plus dialog-dialog komedik yang cenderung konyol hingga lebih menyerupai ‘Fast and Furious’ di set luar angkasa.

            Namun tanpa bisa disangkal, semua racikan itu memang luar biasa seru di tengah pameran VFX dan CGI kelas satu, dan yang terpenting, mereka tetap menyisakan respek – walau tak terlalu banyak, ke source material orisinil yang disesuaikan di sana-sini ke universe baru yang diciptakan Abrams bersama Roberto Orci dan Alex Kurtzman di dua film sebelumnya. ‘Star Trek Beyond’ memang berubah menjadi Star Trek yang serba hantam kromo ketimbang menonjolkan strategi, tapi team play-nya tetap muncul dengan solid dan tak sekalipun tertinggal di belakang. Malah, Pegg bersama Lin menambahkan lagi karakter-karakter baru serta elemen penting yang selama ini sedikit terlupa di chemistry dan relationship Spock dan Bones (McCoy) dengan porsi Karl Urban yang menanjak cukup jauh.

            Sisanya adalah performa. Menambah daya jual dari deretan cast reboot yang sudah cukup masuk ke para pemirsanya, kemunculan Idris Elba sebagai Krallvillain utama dengan twist di pengujungnya juga menjadi salah satu daya tarik lebih bersama Joe Taslim yang mendapat porsi lumayan banyak buat penonton Asia khususnya Indonesia. Benar bahwa ia kebanyakan muncul dalam full makeup sebagai Manas, namun jika benar-benar jeli, ada flashback scene lewat layar televisi berikut foto yang menampilkan wajah asli Joe, dan masih ada Sofia Boutella sebagai calon kru baru yang memainkan perannya dengan menarik sekaligus jadi scene stealer yang tetap ingin kita lihat di sekuel berikutnya.

          So be it. Resepsinya boleh saja berbeda-beda sesuai dengan referensi tiap generasi fans-nya. Tapi apapun ceritanya, 50 tahun mungkin sudah cukup untuk membuka ranah baru pengembangannya, dan Abrams dkk. tergolong sukses menjaga balance-nya. Boldly go where no entries have gone before, benar bahwa Star Trek sekarang lebih mirip ‘Fast and Furious in Space’ tapi tetap di atas respek ke elemen-elemen wajib yang ada di franchise aslinya. (dan)

 

BANGKIT! : A VALIANT EFFORT OVER DISJOINTED STORYTELLING AND SUBSTANDARD CGI

•July 29, 2016 • 1 Comment

BANGKIT!

Sutradara: Rako Prijanto

Produksi: Suryanation, Kaninga Pictures, Oreima Pictures, 2016

bangkit

            Genre disaster memang masih jarang-jarang ada dalam sinema kita. Kalaupun ada, pendekatannya masih hanya berupa latar atau justru lebih ke paparan dokumentasi kejadian nyata yang direkonstruksi ke film tanpa elemen-elemen yang terlalu fiktif. Dari banyak subgenre latar bencananya – dari bencana alam ke traffic/transport accident, tercatat di antaranya ada ‘Kabut di Kintamani‘ (1972),  ‘Krakatau’ (1977), ‘Operasi Tinombala’ (1977), ‘Tragedi Lembah Sinila’ (1979) dan ‘Tragedi Bintaro’ (1989). Ada pula yang menyorotnya lebih ke fantasi mistis  seperti ‘Jin Galunggung‘ (1982).

           Namun dalam pendekatan ke blockbuster pop – fiktif Hollywood ala film-film Roland Emmerich seperti ‘The Day After Tomorrow’, ‘2012’ ataupun film-film semacam ‘San Andreas’, ‘Bangkit!’ agaknya jadi yang pertama. Walau memang didukung sebuah company buat menyampaikan ide campaign yang diusung produk mereka, ini usaha yang sangat mengundang perhatian sekaligus terasa luarbiasa ambisius karena di tengah keterbatasan produksi soal standard bujet dan SDM kita, genre ini jelas bermain banyak di efek visual.

            Pertemuan dua fenomena iklim yang mengakibatkan bencana banjir yang beresiko menenggelamkan Jakarta mempertemukan petugas Basarnas Addri (Vino G. Bastian) yang tengah berjuang menyelamatkan keluarganya (Putri Ayudya, Andryan Bima & Yasamin Jasem) dengan Arifin (Deva Mahenra), analis BMKG yang batal menikah dengan kekasihnya, dokter Denanda (Acha Septriasa) akibat kejadian itu. Sambil berusaha menyelamatkan diri, mereka pun berusaha mencari jalan keluar di balik keberadaan rahasia sebuah terowongan Belanda yang hanya letaknya hanya diketahui oleh Profesor Pongky (Yayu A.W. Unru), pasien yang selama ini dirawat Denanda.

            Lewat plot yang dipilih, Anggoro Saronto yang menulis skripnya sebenarnya sudah melakukan PR-nya sesuai dengan koridor tipikal film-film yang menjadi inspirasi mendasarnya. Penelusuran multikarakter dalam usaha survival di tengah bencana itu memang terdengar sangat Hollywood, namun dibarengi drama soal interaksi keluarga hingga isu sosial lain serta sorotan profesi tokohnya tetap membuatnya terasa ikut dibalut dengan muatan lokal yang kuat.

            Dan tak ada yang salah juga dengan hal-hal yang dikenal secara filmis sebagai ‘suspension of disbelief’ dalam plot sejenis yang meninggalkan logika menempatkan tokoh-tokohnya sebagai sorotan utama di tengah kebetulan-kebetulan dalam memilih siapa selamat maupun tidak. Paling tidak dalam pakem film-film tadi, kita tahu bahwa satu-dua keluarga karakter utama yang paling disorot selalu punya cara buat menyelamatkan diri.

         Sayangnya, skrip Anggoro serta penyutradaraan Rako tak cermat menggarap kesinambungan kisahnya. Storytelling-nya melompat-lompat jumpalitan seperti jahitan tanpa kontinuitas, seperti cut yang menghilangkan satu scene di tengah-tengah dua yang tampil, dan masih disertai beberapa bloopers – seperti soal jarum suntik dalam prosedur pembersihan luka dengan spuit yang lupa dicabut jarum bahkan penutupnya, begitu juga dengan gambaran impact yang banyak mencuatkan banyak pertanyaan dalam logika-logika faktual yang bukan hanya bisa disadari pekerja-pekerja BMKG atau profesi lain yang ditampilkan. Dalam lingkup keparahan bencana yang dipaparkan, misalnya, kita masih berkali-kali melihat safe spots yang berpotensi sangat mengganggu bangunan suspense-nya, dan masih ada juga penggampangan serta kebetulan lain yang terasa kelewat melecehkan logika ketimbang masih bisa diterima sebagai ‘suspension of disbelief‘ tadi.

            Sudah begitu, penggunaan efek visual dalam usaha ambisius itu pun sayangnya gagal menyamai standar sinematis yang sudah dicapai film-film luar bahkan Asia sampai film-film dari negara tetangga terdekat kita sekali pun. Benar ia bisajadi lebih dari film-film kita yang lain dengan effort yang jelas terlihat, tapi entah karena keterbatasan waktu walau bujetnya terasa cukup mahal melebihi standar rata-rata film kita yang mesti disesuaikan dengan bidikan angka penontonnya, padahal sudah menggamit tenaga luar dari Thailand, Watcharachai Paniksuk, buat bekerja bersama VFX artist kita Raiyan Laksamana, latar CGI yang tak benar-benar menyatu dengan set aslinya jelas kelihatan di banyak adegan. Ketimbang memilih cara untuk menutupi agar VFX frame-nya tak terlalu banyak lewat celah penceritaan, mereka justru memilih ketidaksempurnaan ini buat mendominasi daya jualnya tanpa memperhitungkan respon yang akan muncul dari penonton kritis atau yang punya reference lebih.

              Begitupun, ’Bangkit!’ bukan lantas benar-benar jatuh menjadi banyak genre efforts yang gagal total di film-film kita seperti ‘Dunia Lain: The Movie‘, ‘Glitch‘ ataupun ‘Garuda Superhero‘. Ini masih jauh sekali berada di atas film-film itu. Di atas faktor teknis dan elemen lain yang masih tergarap baik seperti tata suara dari Khikmawan Santosa serta scoring Aghi Narottama yang mengadopsi scoring-scoring khas genre-nya dengan baik plus lagu tema anthemic dari Nidji, ‘Bangkit!’ masih punya faktor ansambel akting yang baik berikut fans service kuat dari para pendukungnya terutama Vino, Acha, Putri dan Deva sebagai cast utamanya.

          Dua pemeran cilik-nya, terutama Andryan Bima yang diserahi klimaks penuh emosi bersama Vino pun tampil baik, dan masih ada nama-nama pendukung lain seperti Donny Damara, Ferry Salim, Khiva Iskak, Ade Firman Hakim hingga Yayu Unru. Bersama beberapa usaha pendekatan pop yang masih bisa bekerja buat suspense dan emosinya – dari drama keluarga ke sematan romansa, terutama ke kalangan penonton awam yang memang tak mau repot mempedulikan detil-detil sinematis lain, ini paling tidak masih bisa menyelamatkan ‘Bangkit!’ sebagai sebuah effort yang tetap mesti dihargai serta didukung lebih.

         So yes, it had serious issues of disjointed storytelling over substandard CGI, namun setidaknya, mereka mau mencoba – dan ini yang terpenting, membuka jalan untuk keberanian sineas kita melangkah ke genre-genre berbeda. Jika memang ini bisa menjadi sebuah awal seperti tagline-nya yang cukup menohok – Karena Menyerah Bukan Pilihan, juga hashtag #bangkitfilmindonesia -nya, bolehlah. Quite a valiant effort in our rare disaster genre. (dan)

THE LEGEND OF TARZAN: A WEIRD YET THE TRUEST ADAPTATION TO DATE

•July 20, 2016 • 2 Comments

THE LEGEND OF TARZAN

Sutradara: David Yates

Produksi: Village Roadshow Pictures, Jerry Weintraub Productions, Riche/Ludwig Productions, Beaglepug Productions, RatPac Entertainment, 2016

The Legend of Tarzan

            Semua pasti tahu atau at least pernah mendengar soal Tarzan. Tapi coba tanya generasi sekarang. Sudah berapa film adaptasi tokoh rekaan Edgar Rice Burroughs (dipublikasi pertama kali tahun 1912 – majalah, 1914 – buku) yang mereka tonton dari puluhan jumlah yang ada sejak yang pertama di tahun 1918. Dua yang selalu muncul paling ‘Tarzan’ –nya Walt Disney (1997) atau malah porn version-nya – ‘Tarzan X’ yang sangat populer di sini.

             Hanya sebagian mungkin yang masih mengingat film series terbanyaknya yang diperankan oleh Johnny Weissmuller dan dulu populer sekali di bioskop-bioskop kita dari era ‘70 ke awal ‘80an, meski aslinya dirilis jauh sebelum itu. Atau versi Bo Derek ‘Tarzan the Ape Man‘ yang sempat dihebohkan juga di tahun 1981, atau yang jauh lebih serius – ‘Greystoke’-nya Christopher Lambert, apalagi versi lokal yang diperankan Barry Prima. So, meski jauh lebih well known, ini jatuhnya lebih ke character franchise yang kalau tak mau dibilang usang – tapi sudah ada di rentang terlalu jauh ke generasi sekarang, dalam kotak yang sama dengan katakanlah, ‘The Lone Ranger’, ‘John Carter’ atau ‘Flash Gordon’.

            Versi terbaru setelah adaptasi animasinya tahun 2014 yang disuarakan Kellan Lutz dan berlalu begitu saja kini datang dari David Yates yang dikenal luas sejak kiprahnya di ‘Harry Potter’ sejak ‘The Order of the Phoenix’ hingga instalmen terakhir termasuk spinoffFantastic Beasts’ yang akan datang. Legenda origin-nya yang punya elemen Inggris sangat kental memang agaknya lebih pantas dibesut oleh sutradara Inggris ketimbang Amerika. Dan seperti biasa, di mana karakter Jane seringkali justru lebih dijual ketimbang Tarzan karena rata-rata harus menonjolkan exquisite sexiness bersama karakter anak hutan bak superhero dengan sebutan raja rimba atau ‘King of the Apes’ ini, faktor Margot Robbie agaknya lebih menarik ketimbang Alexander Skarsgård yang didapuk menjadi Tarzan mengalahkan perenang Michael Phelps, Henry Cavill, Charlie Hunnam hingga Tom Hardy.

            Didahului serangkaian latar sejarah Berlin Conference yang membuat kekuasaan di Kongo terpecah, Kerajaan Belgia yang berada di ambang kebangkrutan lantas mengirim Leon Rom (Christoph Waltz) mencari permata legenda Opar ke sana (fabled diamonds of Opar ini memang beberapa kali dimunculkan dalam buku dan beberapa adaptasi Tarzan). Permata itu ternyata bukan tahayul, namun dikuasai oleh pemimpin suku Chief Mbonga (Djimon Hounsou) yang menawarkan pertukaran dengan Tarzan atas sebuah dendam lamanya. Padahal, Tarzan tak lagi berada di rimba Afrika setelah identitas aslinya sebagai John Clayton II a.k.a. Lord Greystoke sudah membawanya bersama Jane, menikah dan kembali ke kehidupan aristokrat Inggris. Bertepatan dengan itu, melalui PM Inggris (Jim Broadbent), tokoh pejuang politik George Washington Williams (Samuel L. Jackson – diambil dari real life character bernama sama) meminta Tarzan mengunjungi Kongo buat menjadi saksi pelaporan kasus perbudakan yang dilakukan oleh Belgia. Maka petualangan baru Tarzan pun dimulai di balik kesepakatan jahat Rom dan Mbonga.

            Meski karakternya merupakan tokoh fiktif rekaan Burroughs, plot kisah-kisah petualangan Tarzan memang bukan baru sekali ini menggabungkan elemen historis dalam bangunannya. Apa yang dilakukan David Yates dan produser Jerry Weintraub lewat skrip yang ditulis oleh Adam Cozad dan Craig Brewer sebagai pembuka jalan ke reboot barunya sebenarnya cukup unik. Mereka menolak untuk kembali mengulang origin story Tarzan yang kerap kita saksikan di sejumlah film adaptasinya, tapi tak lantas menghilangkannya sama sekali. Bagian-bagian cerita yang sudah diketahui banyak orang ke elemen-elemen wajib perkenalan Tarzan dan Jane dengan dialog legendaris ‘Me Tarzan, You Jane’ itu mereka jadikan sebagai layer terdasar yang tak serupa dalam back and forth storytelling-nya.

        Di satu sisi, ini memang resiko bagi pemirsa baru yang bisa jadi merasa penceritaannya berjalan agak aneh, apalagi kalau Anda sempat membaca beberapa berita di mana Yates memasukkan elemen-elemen ‘nakal’ ke dalamnya, yang untungnya urung digunakan di final version-nya. Namun di sisi lain, ini juga merupakan keputusan cukup cerdas ketimbang kembali lagi ke hal yang itu ke itu saja. Menggabungkan banyak elemen-elemen dari film-film adaptasi yang sudah ada, plus homage-homage yang entah disengaja atau tidak ke gaya flashback dan beberapa action lawas Sergio Leone, versi Yates jadi seolah sekuel ke ‘Greystoke’ tahun 1984 yang lebih banyak membahas culture clash Tarzan yang kembali ke kehidupannya sebagai bangsawan Inggris, dan ada sensitivitas lebih ala Yates yang sangat terasa di tiap sentuhan penceritaan itu.

          Dan di sana pula, Cozad dan Brewer jadi leluasa untuk menyemat elemen historikalnya buat membangun versi update karakternya secara humanis seperti yang tengah jadi trend sekarang. Meski tetap menempatkan Tarzan sebagai hero yang lebih dari orang biasa, ia bukan lagi superhero komik yang dibesarkan kawanan kera hingga bisa berkomunikasi verbal dengan hewan-hewan penghuni hutan, tapi lebih ke komunikasi telepati yang lebih wajar seperti seorang pawang. Ada batasan-batasan intelegensia manusia, hewan sekaligus alam yang digagas dengan rapi ke dalam faktor-faktor kewajaran logika yang sangat terjaga hingga klimaksnya, termasuk ke motivasi seru pertarungan Tarzan dengan saudara-saudara kera-nya dalam hukum rimba berikut pilihannya menghadapi suku pedalaman Mbonga.

             Begitupun, bukan berarti Yates melupakan sisi action-nya. Dari banyak adaptasi Tarzan setelah era Johnny Weissmuller, ‘The Legend of Tarzan’ justru jadi salah satu yang paling setia ke old skool pattern-nya tanpa harus terus bermodalkan teriakan legendarisnya. Might be a flaw to some, tapi yang lebih penting, bahwa Tarzan bukan hanya sekedar berperang dengan musuhnya yang rata-rata perusak alam dan lingkungannya dengan ayunan-ayunan mautnya dari pohon ke pohon yang di sini ditampilkan jauh lebih seru dengan sentuhan VFX dan koreo yang juga up to date meski sebagiannya terasa kelewat singkat, tapi animal raid scenes yang padat, from river to land – menampilkan berbagai jenis hewan secara tidak klise ala film-film biasanya pun, muncul dengan solid di sini.

         Karakter-karakternya pun dibangun dengan taktis. Ada humor-humor ala buddy movie yang bisa jadi terasa sedikit aneh antara Tarzan dan G.W. Williams meski chemistry-nya bagus, some works and some not, tapi Jane tak mereka tinggalkan sebagai damsels in distress di tangan Margot Robbie yang selalu bisa memadukan kecantikan – keseksian dengan dominasi feminisme yang kuat. Lihat adegannya diserang kuda nil yang lebih sering digambarkan jinak di film-film lain sebagai salah satu highlight-nya.

          Christoph Waltz sebagai villain dibiarkan berada dalam garis kontras bersama Djimon Hounsou – antara komikal seperti penampilannya yang biasa dengan Mbonga yang lebih humanis lewat motivasi karakternya, namun menyemat gambaran dilematis Tarzan secara psikologis yang sadar betul dirinya dijadikan eksploitasi sebagai manusia rimba bahkan dijual ke dalam bentuk komik – bukan buat berkomedi ria – that’s a really smart one. Di situ, sosoknya jadi terasa begitu humanis untuk memulai sebuah franchise baru Tarzan yang up to date ke trend sekarang. Dan Skarsgård memang melakonkannya dengan baik, termasuk membangun chemistry bagus ke Robbie menuju romance conclusion dari penggalan-penggalan flashback-nya di adegan penutup yang sayangnya di sini dibabat lembaga sensor kita tanpa kira-kira.

        Selebihnya, ‘The Legend of Tarzan’ masih punya sinematografi jempolan dari Henry Braham bersama gimmick 3D yang baru ini muncul dalam adaptasi live action-nya dan scoring bagus dari Rupert Gregson-Williams. So, ini memang kembali lagi ke soal-soal reference dari sebuah franchise dengan instalmen ratusan bahkan epigon lebih banyak lagiyang memang punya rentang kelewat jauh dari generasi dulu ke generasi sekarang. Para pemirsa yang sudah lebih banyak menikmati berbagai variasi adaptasi atau lebih mendalami source material-nya memang akan lebih bisa merasakan effort baru dalam segala elemen dari penceritaan ke gelaran aksi yang ada ketimbang yang seumur hidupnya baru menyaksikan dua atau tiga instalmen Tarzan tanpa sederet classic series Johnny Weissmullerno, it’s not Disney’s – yang jadi signature terkuat franchise-nya.

          Dan oh ya, pemilihan awal Michael Phelps-pun, memang digagas produser Jerry Weintraub yang tak punya hubungan dengan produser Sy Weintraub dari film-film Tarzan Weissmuller, yang juga seorang atlit renang, untuk menyamai trivia ini. So, ini jelas bukan sebuah adaptasi atau reboot Tarzan yang gagal, if you think so. Fun, seru tanpa meninggalkan romantic glimpse antara Tarzan – Jane yang jadi racikan wajibnya, it might felt a little bit weird at some parts, but also the truest adaptation to date. (dan)

SABTU BERSAMA BAPAK: A MISGUIDED ESSENCE OF A POTENTIAL FAMILY DRAMA

•July 16, 2016 • 2 Comments

SABTU BERSAMA BAPAK

Sutradara: Monty Tiwa

Produksi: Max Pictures, Falcon Pictures, 2016

SBB

INT. RUANG TAMU (MASA KINI) – DAY

CAKRA duduk di tengah-tengah SATYA dan ibu mereka, ITJE, menunggu gambar keluar dari layar. Rasa berdebar-debar bercampur kangen, bukan saja karena ini pertama kalinya sejak waktu cukup lama mereka melihat rekaman di layar televisi, tapi juga karena mereka akan kembali melihat Bapak.

Gambar muncul di layar.

INTERCUT:

INT. RUANG TAMU (MASA LALU) – DAY

Tempat sama di mana mereka kini duduk, tapi dulu. Tanggal di sudut menunjukkan tanggal rekaman. “27 Desember 1991”. Sosok yang tidak asing bagi mereka muncul. GUNAWAN. Bapak bagi Cakra dan Satya. Kakang bagi Itje. Gunawan mengenakan setelan jas lengkap, menatap ke kamera sambil tersenyum lebar.

GUNAWAN

Hai Satya ! Hai Cakra !

Satya dan Cakra bagai kembali menjadi anak kecil mendengar ucapan itu. Ucapan sama yang dulu mengawali tiap Sabtu mereka.

SATYA & CAKRA

Bapak…

GUNAWAN

Kalian sedang melihat rekaman bapak paling terakhir. Tapi sebenarnya ini adalah pesan yang paling pertama bapak rekam. Bapak lakukan ini agar karena di hari yang spesial ini, bapak ingin kalian lihat bapak saat masih dalam kondisi sehat.

Gunawan muda menengok ke ruang sebelah, menanti seseorang datang, lalu berkata lagi ke kamera.

GUNAWAN

Satya, Cakra, hari pernikahan adalah hari paling penting dalam hidup. Hari pertama dari sisa hidup kalian menjadi kepala rumah tangga. Menjadi imam pasangan kalian. Kalian harus kuat. Tidak boleh lemah, ya…

Sosok Itje muda muncul. Ia juga mengenakan gaun yang amat indah.

ITJE

Kang, gagah dan senang sekali kamu hari ini.

Gunawan berdiri dan menggamit tangan Itje dan tersenyum. Mata Itje tampak berkaca-kaca.

Gunawan menekan tombol tape deck di belakangnya. ‘LAGU CINTA’ oleh Iwan Fals melantun. Gunawan membawa Itje melantai, berdansa pelan sambil berpelukan dengan sangat erat.

GUNAWAN

Kamu tahu kenapa saya begitu senang ? Karena hari ini saya berbahagia. Saya mengantar anak kita ke pelaminan.

Satya, Cakra dan Itje menatap rekaman dengan mata berkaca-kaca. Rindu yang tadi menggumpal tumpah di air mata mereka.

Gunawan dan Itje muda berdansa sampai lagu selesai. Gunawan muda mencium tangan Itje dan kembali duduk lantas berkata ke kamera.

GUNAWAN

Ibu kalian, wanita yang paling cantik di hadapan bapak. Kalian sayang ibu kalian, kalian juga harus sama sayangnya sama istri kalian, ya.

Gunawan menatap ke kamera sambil tersenyum lama.

GUNAWAN

Hari ini, bapak hadir untuk mengantar kalian ke pelaminan. Walau sudah tiada,bapak selalu ada.

Gunawan berdiri sambil mematikan kamera.

Kerongkongan Cakra tercekat. Air matanya mengalir pelan. Di kiri dan kanannya, ada Satya dan Itje yang menggenggam kedua tangannya. Erat.

CUT TO :

            Okay. Itu hanya sekedar berandai-andai, ke adegan yang seharusnya menjadi konklusi terdalam dari adaptasi novel ’Sabtu Bersama Bapak’ karya Adhitya Mulia, penulis yang popularitasnya cukup besar di kalangan sosmed, yang diangkat ke film oleh sutradara Monty Tiwa. Adaptasi novel memang masih jadi komoditas nomor satu dalam film kita. Apalagi, yang menjual kesedihan di balik tema-tema penderitaan akibat penyakit. Sebagai novel berstatus best seller yang sebenarnya berdiri di atas elemen itu, ‘Sabtu Bersama Bapak’ sebenarnya bisa sedikit menutupi eksploitasi soal tadi lewat sebuah pendekatan interaksi keluarga yang menyentuh. Itu juga yang membuat adaptasi filmnya cukup ditunggu-tunggu setelah deretan pemerannya yang memuat nama-nama terkenal diumumkan, bersama nama Monty yang punya kredibilitas cukup baik di film kita. Seringkali miss saat duduk menjadi sutradara, tapi sebagai penulis skrip, dalam memuat ide-ide witty atau kritik sosial, ia jempolan.

            Mengetahui bahwa dirinya berada dalam kondisi terminal akibat kanker yang dideritanya dengan vonis hanya setahun, Gunawan (Abimana Aryasatya) memilih menyerah namun menyiapkan pendidikan ke anak-anaknya lewat video yang ia buat untuk diputar setiap Sabtu. Berpegang pada nasehat-nasehat itu, kehidupan Itje (Ira Wibowo), istri berikut kedua putranya pun berlanjut hingga Satya (Arifin Putra) sudah membina rumahtangga dengan Rissa (Acha Septriasa) dan berdomisili di Perancis, sementara Cakra (Deva Mahendra) masih sibuk mencari tambatan hatinya pada sosok karyawan baru di kantornya, Ayu (Sheila Dara Aisha). Namun muncul lagi masalah baru kala Itje kembali didiagnosis dengan tumor yang beresiko merenggut nyawanya.

            Plot itu memang klise a la banyak film kita; didasari hal-hal tak kalah klise soal sudah jatuh tertimpa tangga dan masih ditimpa musibah lain lagi. Tapi meminjam elemen dari film luar ‘My Life’ (Bruce Joel Rubin, 1991 – dibintangi Michael Keaton dan Nicole Kidman) soal bapak di ambang kematian yang menyiapkan video bagi anak-anaknya berikut subplot soal keluarga, Adhitya yang menulis skripnya bersama Monty mungkin berusaha untuk menutupi klise-klise tadi, juga terhadap kewajaran dan motivasi karakter yang beresiko untuk dipertanyakan; ke harga kaset video 8 untuk model handycam di tahun itu terhadap pilihan berobat, misalnya. Di satu sisi, tetap ada potensi kuat yang membuatnya jadi terasa beda. Menyampingkan layer yang sangat digandrungi sineas kita terhadap elemen-elemen medis tadi buat hanya tampil sebagai latar terhadap grand idea soal banyak aspek dalam inter-relasi keluarga yang kaya, sayangnya, ‘Sabtu Bersama Bapak’ tak lantas bisa jadi maksimal karena lagi-lagi diwarnai salah kaprah informasi yang jadi salah satu kelemahan terbesar penulis-penulis kita.

          Selain pada dasarnya tak bisa membedakan kanker dengan tumor dalam penelusuran utama plotnya, berikut tampilan Hengky Solaiman sebagai dokter yang seakan memvonis diagnosis pasien dengan sugesti penuh ancaman, ada hal yang sangat fatal soal diagnosis kanker lewat surat kiriman dari yayasan terkait – bukan dokter lewat pemeriksaan pendukung, yang sangat mengganggu serta menyalahi etik bagi pemirsa yang paham. Ini menjadi flaws yang banyak sekali mendasari film kita dalam soal penyematan informasi umum yang akhirnya ikut membuat persepsi pemirsanya terhadap hal-hal yang menyangkut keahlian jadi salah kaprah – satu yang harusnya bisa dihindari dalam konten-konten sejenis, walau mungkin alasannya menghindari klise-klise aspek adegan dokter menginformasikan diagnosis pada pasiennya.

              Dan bukan hanya itu, secara visual; ‘Sabtu Bersama Bapak’ masih terasa agak mengganggu dari beberapa tone warna, tampilan gambar terutama penggunaan teknik lens flare di penyampaian flashbacks-nya yang sebenarnya tak lazim, mendistraksi sinematografi Rollie Markiano dan tak diperlukan dalam menambah bangunan emosinya, yang memang tak digagas Adhitya dan Monty sebagai penulisnya dengan kepekaan lebih seperti penggagas yang benar-benar mencintai source material-nya sepenuh hati. Instead, mereka cukup membiarkan saja aspek-aspek adaptasi filmisnya berjalan sebagaimana adanya bahkan sibuk menambah konflik dan subplot tanpa mencoba lebih memberi kesan dan penekanan esensi dalam tatanan emosi yang harusnya tampil paling depan dalam tema-tema sejenis. Belum lagi scoring Andhika Triyadi yang terasa kelewat stirring untuk menggiring kesedihan penonton di elemen-elemen drama yang sebenarnya terkesampingkan dari sematan komedinya.

             Di sini, justru elemen komedi-nya lah yang justru sangat berhasil, seperti signature Monty yang memang kuat buat menyentil kelucuan dalam karya-karyanya. Bukan berarti Abimana Aryasatya dan Ira Wibowo tak bermain kuat sebagai Gunawan dan Itje di tengah perbedaan usia dan balutan tata rias yang cukup detil dari Rinie May buat meng-handle resiko itu. Acha Septriasa malah tampil paling menonjol – all out dan tak sekalipun overacting men-tackle emosinya walaupun kerap kali tak mendapat interaksi sebanding dari Arifin Putra. Lihat salah satu adegan dramatis yang paling bekerja saat Rissa menelefon Itje yang tengah berjuang dengan penyakitnya untuk mengadukan masalahnya dengan Satya. At least, chemistry mereka masih cukup believable, dan masih ada tata artistik yang niat dari Angga ‘Bochel’ Prasetyo namun memang tenggelam oleh elemen-elemen komedi dari subplot Cakra yang diperankan Deva Mahenra bersama pendatang baru Sheila Dara Aisha yang bisa begitu mencuri perhatian.

            Inilah yang menjadi highlight terbaik untuk menutupi banyaknya kekurangan tadi, termasuk para pemeran ciliknya yang kaku, bahwa Deva – memainkan Cakra sesantai dan sekocak penampilannya di sitcom sebuah TV swasta kita, bermain lepas membangun kelucuan bersama dukungan Ernest PrakasaJenny Arnelita plus Sheila bahkan komedian Mongol yang tampil di salah satu momen komedi terbaik dengan timing pas yang meledakkan tawa. Namun lagi, ini sebenarnya adalah bumerang, dimana sematan komedinya justru jadi elemen terdepan yang menenggelamkan sisi drama yang jadi inti cerita hingga plot utamanya soal Bapak dan keluarga. Masih ada yang bisa menyentuh, namun tak pernah terasa dibesut benar-benar maksimal dengan lebih banyak miss ketimbang hit.

            Walaupun ini jadi bagian terbaiknya untuk bisa nyaman dinikmati buat menutupi aspek-aspek disease/suffering porn berbalut banyak kesalahan informasi tadi, rasanya salah juga kalau sasarannya justru berpaling ke komedi. Judulnya ‘Sabtu Bersama Bapak’. Plot-nya maunya menyentuh dan mengingatkan kita tentang sosok Bapak serta hubungan-hubungan intern antar keluarga secara dramatis. Hashtag promo-nya pun #RinduAyah. But like a misguided essence of a potential family drama, kala kita melangkah ke luar bioskop setelah bangunan emosi yang gagal memuncak bahkan berlalu begitu saja di konklusi klimaksnya, yang lebih menempel di benak kita justru banyolan Cakra dan rekan-rekan kantornya; Firman dan Wati (Ernest dan Jennifer) yang berduet luarbiasa kocak – bahkan Mongol, lebih daripada Bapak. Jatuh lagi-lagi menjadi film dengan penggarapan tak maksimal yang harus diselamatkan oleh performa ensemble cast dan elemen lucu-lucuan yang sama sekali bukan sasaran utamanya, ini sayang sekali. Sayang sekali. (dan)

 

RUDY HABIBIE (HABIBIE & AINUN 2): A GLOSSED OVER AND GLORIFIED BIOPIC

•July 14, 2016 • Leave a Comment

RUDY HABIBIE (HABIBIE & AINUN 2)

Sutradara: Hanung Bramantyo

Produksi: MD Pictures, 2016

Rudy Habibie

            Menjadi serangkaian rencana sekuel ke film-film sukses dari MD Pictures – seperti franchise blockbuster luar yang diumumkan di setiap comic-con atau perhelatan tahunan sejenis lainnya, di satu sisi, ‘Rudy Habibie’ memang sangat memenuhi syarat melihat perolehan box office film pertamanya. ‘Habibie & Ainun’ di tahun 2012 berhasil mengumpulkan lebih dari 4,5 juta penonton dan masih berada di peringkat kedua film Indonesia terlaris sepanjang masa. Tapi pertanyaannya, berbeda dengan film-film luar seperti fantasi atau superhero, layakkah sebuah biopik dikembangkan ke dalam cinematic universe yang dalam wujud terluarnya adalah sebuah drama ini?

            Walau tetap dibandrol sub judul ‘Habibie & Ainun 2’, ini sebenarnya lebih ke prekuel yang membawa kita kembali ke masa kecil salah satu mantan Presiden RI sekaligus teknokrat tersebut. Tumbuh besar di masa penjajahan Jepang dari kedua orangtuanya (Donny Damara & Dian Nitami) hingga melanjutkan kuliah di RWTH Aachen dengan kondisi terbatas karena bukan termasuk ikatan dinas, Rudy (tetap diperankan Reza Rahadian) harus berhadapan dengan persahabatan, pengkhianatan sekaligus cinta di tengah janjinya kepada orangtua untuk membuat pesawat berikut niat mulianya untuk menjadi mata air yang berguna buat orang banyak. Untuk Indonesia.

            Meski bukan ‘Habibie & Ainun’ yang notabene lebih universal memuat ide kisah cinta sejati dua tokoh yang sudah dikenal sedemikian luas – terutama dalam membangun dayatarik dan keterikatan dengan penontonnya, ‘Rudy Habibie’ sebagai sekuel sebenarnya masih punya dasar pengembangan yang baik dan cukup beralasan. Di sana, kita bisa lebih mengenal sosok lewat karakter legendaris itu berikut visi-visinya yang memang menginspirasi sekaligus berpotensi buat dikemas menjadi drama biopik berlatar sejarah yang menarik.

            Sayangnya skrip dari Ginatri S. Noer dan Hanung agak terdistraksi dengan usaha-usaha bombastisme dramatisasi a la Bollywood yang selain membuat kita acap kali mempertanyakan kewajaran bangunan dan situasi sesuai tahunnya, juga mem-blur-kan motivasi-motivasi sebagian karakter penting yang terpaksa terus-menerus disemat dengan dialog repetitif tentang kebangsaan dan patriotisme, kerap terlihat bingung membagi elemen plot lovestory dan glorifikasi subjeknya yang lebih bak seorang superhero ketimbang penemu cerdas, serta masih berakhir pula ke melodrama cinta klise di tengah peron kereta api yang sangat India.

         Elemen-elemen ‘lintas waktu’ secara sembarangan ini bukan baru sekali pula hadir di film-film produksi MD Pictures. Benar bahwa dalam mewujudkan sebuah adaptasi ke ranah sinematis kadang ada faktor-faktor disbelief yang diperlukan, necessarily needed buat jualannya. Penempatan cast dari looks hingga usia, misalnya, yang kalau bisa di-handle dengan baik, bisa menghindar dari flaws. Tapi rasanya dalam menghadirkan latar historis berikut semua elemen-elemennya, sulit akhirnya berkompromi dengan hal-hal yang jatuhnya seperti pembodohan publik.

           Di sini, salahnya, entah dari sumber atau (seolah) unflitered script tadi, ada banyak sekali permasalahan yang perlu dipertanyakan; dari soal kondom di latar Indonesia tahun ’40-an, sambungan telefon internasional hingga (lagi-lagi) keabsahan elemen-elemen medis di balik gambaran TBC tulang yang diderita Habibie kala kuliah di Jerman. Belum lagi soal latar penceritaan Habibie sebagai mahasiswa non-ikatan dinas yang membiayai sendiri kuliahnya sampai kehabisan duit tapi tetap tampil necis dengan wardrobe serba glossy-nya, dan selipan pesan-pesan reliji yang lagi-lagi lebih mengarah ke rupa-rupa glorifikasi ketimbang realita.

            Namun begitu, production values-nya yang memang ada di kelas bujet cukup tinggi bisa terlihat. Penggarapan teknis yang baik dengan kesan mewah itu paling tidak memang bekerja buat demand kebanyakan penonton kita. Ada sinematografi bagus seperti biasanya dari Ipung Rachmat Syaiful, sementara scoring Tya Subiakto yang walau seringkali terasa kelewat majestis masih membentuk blend yang baik ke tampilan serba mewah plus dua theme song-nya, ‘Mencari Cinta Sejati’ dari Cakra Khan dan ‘Mata Air’ yang bunyi komposisinya sangat India dari Coboy Junior.

           Dan bagian terbaiknya tentulah penampilan Reza Rahadian kembali sebagai salah satu ikon akting terbaiknya bersama ansambel akting tak kalah menarik dari Indah Permatasari yang paling mencuri perhatian – membuat kita melihat balik penampilannya di film lain sebelum ini, Chelsea Islan, Cornelio Sunny serta trio komika; Ernest Prakasa, Pandji Pragiwaksono dan Boris Bokir yang tampil dengan solid di tengah pilihan-pilihan bahasa yang kerap terasa terlalu modern di skripnya, sebagai supporting actors – bukan komedian.

          Pendukung-pendukung lain dari Donny Damara, Dian Nitami, Leroy Osmani, Paundrakarna – meski sebagiannya digagas kelewat komikal, plus Verdi Solaiman yang bermain cukup mengesankan dalam penampilan singkatnya, pun ikut memberikan dayatarik tambahan buat keseluruhannya. A glossed over and rather too glorified biopic yang masih bisa terselamatkan lewat beberapa faktor, tapi jelas tak sebaik pendahulunya yang bicara lebih universal soal cinta melebihi glorifikasi karakter-karakternya. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,421 other followers