CRIMINAL: A DECENT SCI-FI THRILLER WITH POWER PACKED STARS

•May 24, 2016 • Leave a Comment

CRIMINAL

Sutradara: Ariel Vromen

Produksi: Millennium Films, BenderSpink, Campbell-Grobman Films, Summit Entertainment, 2016

Criminal

            Adalah trend sekarang bagi sebagian aktor-aktor kelas A Hollywood dengan penuaan usia dan penurunan karir untuk bermain di film-film produksi kelas B. Begitupun, produksi B sekelas Summit atau Millennium lebih mirip dengan apa yang dilakukan Cannon Films di tahun ‘80an dulu. Menggabungkan banyak bintang senior dengan nama yang masih sangat diingat dengan beberapa juniornya yang masih sangat settle ke dalam sebuah film yang masih punya tanggung jawab, mereka masih berada di atas produksi-produksi DTV (direct to video) yang lebih sepenuhnya menjual bintang-bintang yang pamornya mulai pudar.

            Sebagai salah satunya, ‘Criminal’ menjadi reuni Kevin Costner, Tommy Lee Jones dan Gary Oldman dari ‘JFK’-nya Oliver Stone yang ada di kelas beda dengan dukungan masih banyak nama dari Alice Eve, Gal Gadot, Michael Pitt hingga Ryan Reynolds dalam penampilan singkatnya.

            Kegagalan agen Bill Pope (Ryan Reynolds) melindungi kebocoran proyek rahasia yang digagas Xavier Hemdahl (Jordi Molla) atas program pemecah kode nuklir buatan hackerThe Dutchman’ (Michael Pitt) yang berpaling ke CIA membuat petingginya Quaker Wells (Gary Oldman) mencari cara untuk memindai memori Pope ke subjek baru buat melacak keberadaan uang tebusannya. Ia pun merekrut Dr. Franks (Tommy Lee Jones), penemu teknologi yang belum pernah dilakukan ke manusia itu. Hanya saja, keterbatasan dalam tahapan risetnya membuat pilihan mereka jatuh ke kriminal berbahaya Jericho Stewart (Kevin Costner) yang tengah ditahan dengan keamanan tingkat tinggi. Eksperimen itu berhasil meninggalkan kekacauan memori Stewart yang kemudian menyambangi istri Pope, Jillian (Gal Gadot) untuk mendapat informasi, sementara Heimdahl tak begitu saja menyerah dan The Dutchman malah berbalik berniat menjual programnya ke pihak Rusia.

            Ada alasan mengapa penulisan skrip ‘Criminal’ diserahkan ke duo penulis Douglas CookDavid Weisberg dari action legendaris Michael Bay, ‘The Rock’. Menggabungkan elemen perekrutan kriminal dengan elemen sci-fi halus ala ‘Face/Off’ namun kini ada di soal perpindahan memori, ‘Criminal’ sebenarnya punya premis sangat fresh di genre-nya. Sayang, sutradara Ariel Vromen dari thrillerThe Iceman’ tak mau repot-repot buat mengeksplorasinya lebih. Action shows-nya cukup baik tapi tetap terasa ada di bujet terbatas – kelas rata-rata produksi Millennium biasanya, sementara konflik dan intriknya sebagai thriller juga tak sepenuhnya dibarengi pace yang benar-benar konsisten di keseluruhan film.

           Begitupun, membelokkannya lebih ke arah action dengan aksi badass bintang gaek ala ‘Taken’ yang meneruskan aksi Costner setelah bermain di pakem yang sama dalam ‘3 Days to Kill’, namun kali ini punya character origin sangat bertolak belakang, mereka masih sanggup menyelingi ‘Criminal’ dengan karakter-karakter sampingan yang selain cukup kuat, juga punya faktor hati cukup besar menuju konklusi berupa setup ke kemungkinan sekuel dalam bentukan karakter utamanya. Elemen sci-fi-nya justru sedikit lebih baik, atas detil-detil medis hingga teknis yang dibangun dari hipotesis sangat masuk akal.

          Penampilan Oldman dan Lee Jones dengan interaksi mereka di beberapa adegan penting, plus Gal Gadot yang kali ini mengeksplorasi peran cukup berbeda masih bisa muncul tak sekedar jadi tempelan tak penting menuju konklusi pembuka franchise yang ada di pengujungnya. Di luar penampilan Alice Eve, Michael Pitt plus Ryan Reynolds yang hanya mengisi prolognya, masih ada juga nama-nama seperti Antje Traue (‘Man of Steel’) dan Jordi Molla, namun sayang Scott Adkins tak bisa digunakan maksimal buat penekanan aksi badass action-nya.

         So, ini jelas tak jelek, bahkan jauh lebih baik juga – kalau ada yang membanding-bandingkannya – dan ini tak salah, dengan sci-fi thriller Ryan Reynolds, ‘Self/Less’ yang agak senada namun sebenarnya jauh berbeda. Hanya saja, kita bisa tahu jelas kalau dengan potensi yang dimilikinya, ‘Criminal’ sebenarnya bisa jauh lebih lagi dari ini. Still, a decent sci-fi thriller with  power packed stars. (dan)

X-MEN: APOCALYPSE; PUZZLES, HINTS AND ENCLOSED ROLLER COASTER – 3D RIDE

•May 22, 2016 • Leave a Comment

X-MEN: APOCALYPSE

Sutradara: Bryan Singer

Produksi: Marvel Entertainment, Bad Hat Harry Productions, The Donners’ Company,  Hutch Parker Productions, Kinberg Genre, 20th Century Fox, 2016

Xmen Apocalypse

            9 instalmen dalam waktu 16 tahun – termasuk ‘The Last Stand’ yang tak lebih dari sampah, pantasnya dilupakan saja – dan kegagalan ‘X-Men Origins: Wolverine’ oleh resepsi kritikus dan unfinalized screener yang bocor di internet sehingga memupus excitement-nya – tentu tetap merupakan kesuksesan. Walau begitu, ‘Apocalypse’ ini secara timeline merupakan seri ketiga dalam kontinuitas universe peremajaan franchise-nya dan jadi terusan ‘Days of Future Past (DoFP)’ yang lebih berupa bridge untuk merombak blunder besar ‘The Last Stand’, dengan penggantian cast ke aktor-aktor yang lebih fresh. Selagi universe itu sudah punya ikon-ikon barunya, ‘Apocalypse’ menambah lagi deretan aktor-aktor muda sebagai cast-nya.

            Menyambung hint di after credits sceneDoFP’, ‘Apocalypse’ dimulai dengan introduksi ke En Sabah Nur (Oscar Isaac), mutan tertua dari zaman Mesir kuno yang bangkit lagi di tahun 1983 dan menjalankan misinya merekrut kaki tangan baru ‘The Four Horsemen’; mutan Storm (Alexandra Shipp), Psylocke (Olivia Munn), Angel (Ben Hardy) dan sasaran akhirnya; Erik Lehnsherr alias Magneto (Michael Fassbender) yang menghilang untuk memulai hidup baru setelah perpecahannya dengan Profesor Charles Xavier (James McAvoy) ke Polandia.

       Sementara Mystique (Jennifer Lawrence) membawa Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee) ke sekolah mutan Charles bergabung bersama Cyclops (Tye Sheridan), Beast (Nicholas Hoult) dan Jean Grey (Sophie Turner), mereka menyelidiki keberadaan Sabah Nur lewat agen CIA Moira MacTaggert (Rose Byrne). Namun serangan Sabah Nur tetap tak bisa dicegah, apalagi ada gerakan antimutan dari militer William Stryker (Josh Helman) yang berniat menangkap mereka ke fasilitasnya. Dengan Quicksilver (Evan Peters), putra Magneto yang ikut bergabung untuk menyelamatkan ayahnya, pertempuran antara para mutan ini pun kembali pecah di tengah usaha Sabah Nur menguasai kekuatan mereka sekaligus menghancurkan dunia.

             Kembali ke tangan Bryan Singer setelah pembuka yang fresh dari Matthew Vaughn (‘First Class’), sejak ‘DoFP’ yang lebih berupa perbaikan keseluruhan, franchise ini memang seakan dibawa Singer kembali ke tradisi awalnya. Bersama skrip dari Simon Kinberg, pentolan Marvel di Fox, over his ups and downs in the Fox’s Marvel universe, crossover dan rombakan universe-nya mau tak mau memang menyisakan banyak puzzle yang jelas lebih bisa dipahami secara mendalam oleh tiap lapisan beda fans-nya sehingga mungkin punya dampak kecil ke guliran pace-nya.

          Selagi James McAvoy dan Michael Fassbender mengulang peran mereka yang makin solid atas love-hate relationship Prof. X / Charles Xavier dan Magneto, begitu juga karakter-karakter yang sudah muncul dari ‘First Class’ menjadi ikon franchise-nya, Jennifer Lawrence dan Rose Byrne serta Nicholas Hoult, Lucas Till dan mostly Evan Peters dari ‘Days of Future Past’ yang kembali mengulang scene-stealer quality-nya sebagai Quicksilver – dikemas pula sebagai ikon yang membawa sematan ‘80s pop culture yang seru dari homage-homage ke Atari, Pac-Man, Pinball bahkan The Six Million Dollar Man dan hit single ’80an EurythmicsSweet Dreams (Are Made of This)’, sayangnya sebagian cast muda barunya tak bisa menampilkan kualitas merata dengan mereka.

           Kecuali Tye Sheridan sebagai Scott Summers / Cyclops, salah satu karakter ‘X-Men’ terpenting yang sempat dirusak habis-habisan oleh Brett Ratner di ‘The Last Stand’, dan Sophie Turner dari ‘Game of Thrones’ sebagai Jean Grey, cast muda lainnya tergolong sangat lemah. Olivia Munn sebagai Psylocke mungkin sedikit tertutup oleh babe status dari kecantikan fisiknya, namun baik Kodi Smit-Mc-Phee yang jatuh kelewat annoying sebagai Nightcrawler dan Ben Hardy sebagai Angel – muncul dengan kuat di balik kemiripan sosoknya dengan Ben Foster di awal namun tertinggal di belakang setelahnya – tak cukup kuat. Yang terparah adalah Alexandra Shipp sebagai Storm. Bukan hanya karena cukup sulit menyaingi ikon yang sudah dibentuk Halle Berry, ia terlihat sama sekali tak punya ketangguhan sebagai salah satu rekrutan En Sabah Nur – yang diperankan cukup baik oleh Oscar Isaac di balik makeup namun memang terasa belum maksimal sebagai iconic villain seperti yang dipaparkan dalam skripnya. Sebagai William Stryker, Josh Helman juga terasa kelewat singkat.

        Begitupun, secara keseluruhan, walau masih ada kekurangan di skrip Kinberg, penyutradaraan Singer tetap bisa mengemasnya dengan menarik terutama lewat action seru plus tampilan 3D – sejauh ini paling baik di tahun ini – bak atraksi enclosed/indoor roller coaster di theme park, a really wild one, membuat re-introduksi itu bisa berjalan lancar bersama hint-hint karakter baru sekaligus kejutan-kejutan wajib ala franchise-nya yang paling ditunggu dari penampilan singkat Hugh Jackman. Masih ada juga komposisi main theme yang paling memorable dari keseluruhan franchise-nya oleh John Ottman.

             So, ini memang akan terpulang lagi pada banyak persepsi berbeda dari fans dan para pemirsanya. Selagi generasi terdahulu akan tetap menganggap ‘X-2’ sebagai titik kulminasi franchise-nya sementara tetap banyak yang memilih ‘First Class’ sebagai ultimate benchmark, Singer tetap membawa ‘Apocalypse’ ke pencapaian terdekat dengan dan nyaris seseru ‘X-2’ dengan blend elemen-elemen yang ada. Namun satu yang jelas, dengan hit and miss itu, bersama hint menarik yang disisipkan ke kejutan penampilan Hugh Jackman serta after credits scene-nya, kelanjutan franchise berikut instalmen soloX-Men’ masih akan terbentang sangat panjang ke depannya nanti. (dan)

 

CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR; THE REAL DEAL OF COLLATERAL DAMAGE

•May 19, 2016 • 1 Comment

CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR

Sutradara: Anthony & Joe Russo

Produksi: Marvel Studios, Walt Disney Studios Motion Pictures, 2016

Civil War

            Ada kata bergaris bawah tebal yang jelas-jelas menunjukkan mengapa adaptasi komik superhero DC tak pernah bisa mengungguli Marvel, secara rata-rata baik dari resepsi kritikus maupun angka penjualan. Bahwa Marvel, di tangan presidennya Kevin Feige, adalah kekuatan konsep. Benar, dalam konsep yang mereka namakan Marvel Cinematic Universe (MCU) itu, mereka berproses, bermetamorfosis, punya modifikasi juga sesekali, tapi, mereka jelas tahu benar konten yang mereka miliki. Bukan sekedar mencoba-coba lewat proses trial and error tanpa bisa move on dari satu kesuksesan.

            Ada keputusan tertentu juga mengapa ‘Civil War’, salah satu bagian terpenting komiknya yang menempatkan para superhero Marvel ini dalam perseteruan hebat didapuk menjadi instalmen soloCaptain America’, selagi bagian cerita lain yang memuat perseteruan lain para karakternya, ‘Infinity War’ nanti jadi instalmen gabungannya di ‘The Avengers’.

            Satu hal lagi yang terpenting, dalam persaingan sengit dua kubu produsen franchise superhero ini, selagi DC suka terlihat mencari peluang tanpa perhitungan cermat, Marvel justru sering seperti memperbaiki kesalahan yang dilakukan DC. Lihat ketika ‘Man of Steel’ dicerca karena soal collateral damage, di ‘Age of Ultron’, mereka memberi fokus lebih ke perjuangan para karakternya menyelamatkan penduduk sekitar. Sekarang, saat ‘Batman v Superman’ barusan dinilai gagal meneruskan kesalahan itu ke plot-nya sebagai motivasi utama yang malah tenggelam dengan banyaknya sempalan, ‘Civil War’ – tanpa disangka banyak orang atas usaha rapi menyimpan plot-nya – menggagas motivasinya dari hal yang sama. So where it all leads, mari kita lihat.

            Dari aksi Captain America (Chris Evans) dkk. menghentikan Crossbones (Frank Grillo) di Nigeria, bibit perpecahan yang sudah dimulai di ‘Age of Ultron’ jadi semakin meruncing ketika sekretaris negara Thaddeus Ross (William Hurt) yang mulai resah dengan banyaknya korban sampingan meminta mereka jadi organisasi resmi PBB di bawah pengawasan. Terpecah jadi dua kubu, penandatanganan perjanjian di Sokovia kembali mengambil korban dengan Bucky Barnes (Sebastian Stan) sebagai tersangka utamanya. Maka pecahlah perang di antara dua kubu The Avengers – satu yang sangat dijual sebagai tagline promosinya tanpa harus sok asyik dengan singkatan ‘vin depicting the wordversus’, #TeamCap dan #TeamIronMan – sementara Black Panther (Chadwick Boseman) masuk ke tengah-tengah atas kematian ayahnya, Raja Wakanda yang turut jadi korban, juga sosok misterius bernama Helmut Zemo (Daniel Bruhl). Selagi Tony Stark/Iron Man (Robert Downey, Jr.) mau meringkus Bucky, Captain America justru mencoba melindunginya karena tetap menganggap bahwa sosok Bucky sebagai The Winter Soldier adalah korban rekayasa HYDRA yang perlu diselamatkan.

            Di luar adegan-adegan aksi body combat seru dengan templateThe Raid’ yang sangat terasa tetap digarap oleh Joe Russo dan Anthony Russo, berikut kemunculan satu tokoh Marvel yang sudah lama ditunggu-tunggu kembali ke rumahnya (yang sudah menyaksikan trailer-nya tentu tahu) plus Ant-Man (Paul Rudd), kekuatan utama ‘Civil War’ adalah skrip yang digarap Christopher Markus dan Stephen McFeely. Tak sepenuhnya mengambil source instalmen ‘Civil War’ versi komik, mereka lebih berpegang pada konsep yang selama ini sudah menjadi gagasan instalmen baik kolaborasi maupun solo acts karakter-karakternya.

            Di skrip itu, elemen-elemen genre-nya bisa berpadu luarbiasa erat, dari bentukan karakter yang sudah digagas sebelumnya ke konflik perpecahan yang jelas ketimbang hanya menyemat kata ‘versus’ seperti ‘Batman v Superman’ tempo hari, membuat pemirsanya dengan mudah bisa menyatu dan memilih keberpihakan mereka ke tagline promosi tadi di atas opsi dan prinsip abu-abu buat penekanan manusiawi kisahnya. Tak hanya Captain America dan Iron Man sebagai pentolannya, semua karakternya mendapat story-arcs yang jelas dalam memilih kubu dan menyuarakan pilihan keberpihakannya, bahkan menyemat atmosfer dan subgenre khas dengan benang merah jelas dari instalmen solo para karakter itu.

            Di sana pula, kolaborasi aktor-aktornya bukan jadi sekedar meramaikan, tapi masing-masing tampil dengan solid menokohkan karakter masing-masing. Chris EvansRobert Downey, Jr.Sebastian Stan adalah fokus utamanya, sementara Don Cheadle, Anthony Mackie, Scarlett Johannson, Jeremy Renner, Paul Bettany dan Elizabeth Olsen mendapat porsi bak peran mereka di ‘The Avengers’. Masih ada dukungan Emily Van Camp, Frank Grillo, Alfre WoodardMartin Freeman dan William Hurt dari instalmen Hulk yang belum berlanjut, tapi spotlight terbesar selain fokus utama itu adalah Chadwick Boseman, Paul Rudd dan Tom Holland plus Marisa Tomei dengan reunion hint bersama Downey, Jr. dari romcom hit tahun 1994, ‘Only You’. Sebagai Black Panther, Boseman bahkan sebentar lagi mendapatkan instalmen solo-nya. Terakhir adalah Daniel Bruhl dalam konsep karakter biasa – tak seperti komiknya – namun walau motivasinya klise, menyimpan potensi kuat sebagai seorang villain dengan balutan hati.

            But above all, hal terbaik dalam ‘Civil War’ adalah bagaimana Russo bersaudara bersama Markus dan McFeely menggagas motivasi collateral damage-nya buat semakin membelokkan franchise raksasa ini ke ranah-ranah serba dark menjadi sebuah instalmen paling heartbreaking, punya segudang hati dengan luka-luka akibat perseteruan yang sangat terasa, tanpa lantas menggampangkan penyelesaiannya seperti ‘BvS’ dengan faktor Martha yang lebih berupa blunder konyol kemarin. Tampilannya lebih ke full combat action ala Russo sehingga sinematografi Trent Opaloch tak perlu terlalu panoramik seperti Larry Fong dalam ‘BvS’, begitu pula tampilan bombastic VFX dan gimmick 3D-nya, namun guliran plot itu benar-benar dibalut dengan big hearts, tak pula melupakan sisi fun excitements-nya lewat comedic scenes dan punchlines seru, termasuk dari scoring Henry Jackman yang tetap memberi ruang ke bagian-bagian komposisi utama ‘Captain America’-nya Alan Silvestri buat mempertegas bandrol instalmennya.

            So, lagi-lagi inilah digdaya Feige dan Marvel Studios menggagas konsep universe-nya, dari keseluruhan film ke hint-hint menarik di after credits scene-nya. Salah satu instalmen terbaik Marvel yang akan sulit buat bisa disaingi pesaingnya sekaligus lagi-lagi memberi contoh telak dalam menggagas motivasi utama yang sama. Selagi DC mengaku berserius ria namun gagal menyentuh kedalaman plot-nya, Marvel tetap melaju dengan konsep fun tapi bisa menjadi luarbiasa dalam. So you want collateral damage? This IS collateral damage. The real deal in the genre. (dan)

ADA APA DENGAN CINTA? 2: THE MAGIC RECAPTURED

•May 15, 2016 • Leave a Comment

ADA APA DENGAN CINTA? 2

Sutradara: Riri Riza

Produksi: Miles Films, Legacy Pictures, Tanakhir Films, 2016

AADC2

            Banyak mungkin orang yang bertanya, film apa yang dianggap sebagai monumen kebangkitan film nasional setelah mati suri di akhir ‘90an? ‘Petualangan Sherina’-kah? ‘Jelangkung’-kah? Atau ‘Ada Apa Dengan Cinta?’? Dari banyak konteks, entahlah jumlah penonton, antusiasme atau berapa bulan lamanya film itu bertahan di jumlah layar yang sangat terbatas karena bioskop yang mati satu-persatu di zaman itu, kita mungkin tak benar-benar punya jawabannya.

           Tapi yang jelas, kecermatan Mira LesmanaRiri Riza lewat Miles Films membuat ‘Petualangan Sherina’ di tahun 2000 dalam membaca pasar anak-anak dan orangtua yang kala itu jengah dengan konten anak-anak yang ada, memindahkannya ke template lagu-lagu penyanyi cilik Sherina Munaf yang jauh lebih berkelas dengan orkestrasi penuh tapi tetap child-friendly, membuahkan sambutan yang bagus sekaligus menciptakan brand yang kuat buat Miles sendiri. Itu, harus diakui punya peranan dalam meletakkan dasar yang kuat untuk ‘Ada Apa Dengan Cinta? (AADC)’ dua tahun berikutnya.

        And okay. Ada banyak film kita di genre yang sama, film remaja yang tak juga pernah mati – dalam gambaran tipikal kisah cinta. Tapi yang bisa membuat karakternya jadi punya status legendaris, hanya segelintir. Rangga dan Cinta adalah sebuah fenomena yang menyamai Romi dan Yuli ataupun Galih dan Ratna dari ‘Gita Cinta dari SMA’. Ia tak sepenuhnya bermain dengan trend, tapi justru menciptakan trend di tengah banjirnya film remaja luar dengan gang cewek SMU lantas menyemat sosok anak muda introvert yang menggemari puisi sambil membawa tribute ke ‘Aku’-nya Chairil Anwar buat jadi idola di atas interaksi bahasa yang tak seperti remaja dan orang-orang kebanyakan. Dian Sastro, Nicholas Saputra, semua pemeran pendukung, musik dan lagu hingga keberadaan Miles Films-nya Mira Lesmana dan Riri Riza sebagai salah satu brand terbesar rumah produksi film nasional bersinergi begitu kuat menerjemahkan elemen-elemen tak biasa-nya, menghantarkan ‘AADC’ bak sebuah keajaiban, sebagai sebuah simbol kesuksesan baru.

            Butuh 14 tahun bagi Miles untuk akhirnya menggelontorkan sekuelnya, berkolaborasi dengan Legacy Pictures-nya Robert Ronny dan Tanakhir Films-nya Mandy Marahimin, di tengah banyaknya anggapan miring sejalan dengan fenomena industri kita – bahwa kebanyakan sekuel biasanya jadi penanda rumah produksinya butuh pengembalian modal atas sederet karya yang gagal di pasaran – atau kasus ‘Pendekar Tongkat Emas’ yang tak mencetak box office sebanyak yang diharapkan. Tapi toh terbukti bahwa rentang selama itu ternyata tak membuat penonton melupakan Rangga dan Cinta. Sementara film pendek yang diproduksi salah satu brand aplikasi komunikasi sosmed tempo hari juga jadi tools buat uji pasarnya, walau tak secara langsung berhubungan, kisah Rangga dan Cinta kini berlanjut.

            Dengan penyutradaraan yang berpindah dari Rudy Soedjarwo ke Riri Riza, ‘AADC 2’ mempertemukan kembali Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra) yang menghilang beratus-ratus purnama setelah pertemuan mereka 9 tahun yang lalu di New York. Bertemu di Jogja saat Cinta mengadakan perjalanan reuni bersama teman-temannya (Adinia Wirasti, Sissy Priscillia, Titi Kamal) sebelum menikah dengan Trian (Ario Bayu), Cinta sekali lagi harus diombang-ambingkan oleh perasaan untuk benar-benar bisa menentukan pilihan hatinya.

            Selagi feel reuni dan nostalgia menjadi salah satu titik kesuksesan Mira-Riri mengulang kembali keajaiban dan status pionir-nya di tengah sulitnya film kita mengumpulkan penonton, sebenarnya ‘AADC 2’ bukan sama sekali tak punya kekurangan. Musiknya, tetap dari Melly Goeslaw dan Anto Hoed dengan theme song berjudul ‘Ratusan Purnama’ mungkin tak sekuat pendahulunya. Kala kita punya lebih dari tiga tracklist favorit di soundtrack AADC yang masih memorable hingga sekarang, ‘Ratusan Purnama’ yang dibawakan Melly bersama Marthino Lio menjadi satu-satunya yang paling kuat, itu pun butuh waktu untuk bisa jadi addictive bagi para pemirsanya tanpa langsung menempel seperti AADC-nya Melly dan Eric dulu.

            Sementara elemen puisi yang kini terasa jauh lebih kontemporer oleh Aan Mansyur juga lebih segmental ke penikmat bait-bait puisi yang lebih free-style ketimbang berima seperti apa yang dilakukan Rako Prijanto di AADC. Jangan lupa juga, bagi sebagian orang, kegagalan mereka mengajak Ladya Cheryl kembali menokohkan Alya, side characters yang paling menohok di film pertamanya di atas visi-visi yang sudah jauh berbeda, walau ini tak relevan karena AADC memang berbicara tentang Cinta bukan Alya, sedikit banyak jadi disappoinment bagi penyuka karakternya.

             Dan kalaupun mau menyebut satu lagi, kehadiran karakter baru bernama Sukma yang harusnya jadi benang merah penting ke re-interaksi itu tak sepenuhnya berhasil dibawakan oleh Dimi Cindyastira yang nantinya akan bermain dalam produksi Miles berikut, begitu pula side characters baru lainnya yang tak bisa masuk ke tengah-tengah yang sudah ada dengan percikan kekuatan yang sama baik dari akting maupun screen presence mereka – termasuk Ario Bayu bahkan Christian Sugiono yang tak lebih dari sekedar cameo.

            Namun begitu, hal terbaik dalam ‘AADC 2’ sebagai sekuel adalah bagaimana Riri menerjemahkan skrip Mira dan Prima Rusdi yang mentransformasi kelanjutan kisah Rangga dan Cinta ke dalam sebuah road trip semalam berkeliling Jogja – dalam membangun sisi-sisi re-interaksi karakter-karakternya. Tidak hanya terhadap Rangga dan Cinta sebagai fokus utamanya – tetap dimainkan Dian dan Nico dengan charm dan magnetic sparks yang berproses sama kuat ke film pertamanya, tapi juga side characters yang sudah kita kenal seperti Milly – dibawakan dengan sangat luwes oleh Sissy Priscillia, Karmen (Adinia Wirasti) yang kini punya porsi lebih untuk menggagas subplot dan motivasinya, Maura (Titi Kamal) bahkan Mamet (Dennis Adhiswara) lewat sebuah twist lucu.

              Bertolak ke template trilogi ‘Before Sunrise’ yang juga melontarkan karakter Jesse – Celine-nya Ethan Hawke dan Julie Delpy sebagai salah satu on-screen couple legendaris, re-interaksi ini dibangun Mira dan Riri dengan cermat bukan hanya pada gambaran ataupun kepentingan promosi Miles biasanya atas situs-situs wisata eksotis Indonesia yang belum tergali – di sini, Jogja secara lebih kuat dari film apapun dengan jualan set yang sama, tapi lebih ke esensi mengapa trilogi itu begitu berhasil dengan rentang panjang kisah asmara dua karakternya.

              Bahwa ada detil-detil ‘grown-up process’ dan ‘the loss of innocence’ berbeda dari perjalanan usia karakter di tiap dekade instalmennya, ‘AADC 2’ hadir dengan sensitivitas tinggi di atas sense of playfulness dari Riri menampilkan tahapan-tahapan itu, yang akhirnya membuat proses re-interaksi itu mengalir luarbiasa rapi dan lancar di atas detil-detil juara dari gestur, ekspresi hingga chemistry mereka yang tampil begitu apa adanya. Kekakuan serta awkward romanticization yang makin mencair secara bertahap dan membuat penonton meleleh serta bereaksi kuat di tiap adegannya juga punya fondasi luarbiasa kuat ke nostalgic glimpse-nya, termasuk keberadaan musik dan puisi sebagai unsur yang padu, sebagai sebuah reuni yang sangat berhasil mengulang keajaiban film pertamanya.

           Selebihnya adalah sisi teknis yang juga tergarap dengan baik, menunjukkan production values sepadan melebihi ekspektasi ke teaser dan trailer-nya yang masih cukup jauh berada di bawah feature pendek yang digarap Mira bersama brand aplikasi komunikasi sosmed sebelumnya. Ada sinematografi cantik dan konseptual dari Yadi Sugandi di balik kompromisme Riri ke beberapa shots yang mungkin tak seperti karya dia biasanya – namun tak lantas mendarat kelewat aji mumpung termasuk beberapa placement serta ending yang dikeluhkan sebagian orang namun punya relevansi jelas terhadap tujuannya sebagai produk yang memang mau menjual nostalgia.

           Apapun itu, di atas semuanya, ‘AADC 2’ punya kekuatan jelas untuk menyadarkan kita bahwa kontinuitas sebuah brand besar tak akan bekerja tanpa keputusan cermat orang-orang yang ada di balik penciptaannya. At last, a huge box office we all deserve di atas rekor mengembalikan jumlah penonton yang sudah bertahun-tahun tak mampu dicapai banyak film kita yang laku di pasaran, bahkan saat harus bersaing jumlah layar dengan blockbuster luar sebesar ‘Captain America: Civil War’. Penantian panjang para fans-nya yang merambah ke negara-negara tetangga secara begitu fenomenal akhirnya terpuaskan tak hanya dengan pencapaian yang layak, tapi juga seperti produk awalnya, membuat kita ingin selalu menikmatinya lagi dan lagi. It’s not easy to recapture the magic, but ‘AADC 2’ just did it smoothly after hundreds of full moons. Ini luarbiasa. (dan)

THE 8th OKINAWA INTERNATIONAL MOVIE FESTIVAL: EXCLUSIVE INTERVIEW WITH YOKO NARAHASHI

•May 11, 2016 • Leave a Comment

EXCLUSIVE INTERVIEW WITH YOKO NARAHASHI

            Behind big Hollywood blockbusters with asian elements, mostly Japanese, like ‘Babel’, ‘Memoirs of a Geisha’, ‘The Last Samurai’, ’47 Ronin’, ‘The Wolverine’, ‘Emperor’ to ‘Unbroken’, not many people knew Yoko Narahashi as the casting director. Considered as ‘Japan’s gatekeeper to Hollywood’, Narahashi started her career as Steven Spielberg’s assistant in the 1987’s Oscar nominee ‘Empire of the Sun’.

               Since then, Narahashi played her role as a casting director and bringing many famous Asian or Japanese actors to Hollywood movies. Among them are such big names like Ken Watanabe, Rinko Kikuchi, Zhang Ziyi and many more.

             As a director, Narahashi had directed three movies; ‘The Winds of God’ (1995), ‘Waiting for the Sun‘ (2008) and the latest one, also screened at the 8th Okinawa International Movie Festival (OIMF), titled ‘Hold My Hand’ (Teo tsunaide Kaerouyo’) (2016), based on a theatrical play by the late writer/actor Masayuki Imai. Attending this year’s OIMF as one of the special guests, the interview was held in ANA Harbour View Hotel, Naha City, Okinawa.

hold my hand

Q: Beside directing a movie you’re also a famous casting director in many Hollywood blockbusters. Though crucially important, it’s often considered an underappreciated job in movie departments. What makes you choose this line of career long before you direct a movie for yourself?

A: It’s just happened after I’m working as an assistant on Steven Spielberg’s ‘Empire of the Sun’ from 1987. But actually I always wanted to direct film, and my first one is a long time ago, which I made but I’ve never really shown to anybody, then I made a bigger one, a professional one; ‘The Winds of God’, then I made another one for the internet, and ‘Hold My Hand’ is my third one. So, I always want to direct a film, but you know, you had to find a story that’s so amazing for me to direct. ‘Hold My Hand’, I think is the one I really wanted to do because my actor and my scriptwriter who passed away before the movie was shot, called me about less than half a year before he died, if I could direct his script with him as the lead. He also wrote my first movie, and same like that, I’ve seen the stage version of the movie, I loved it and I said yes. Later I know that he had cancer and I’ve never thought this could happen to such a strong – energetic, aggresive person, and it made me wanted to finish the movie even more.

Q: Did you ever shoot any sequence with him?

A: Actually no, he just been on the set once in March, when I shot, if you’ve seen the movie, the cherry blossom parts. It’s one the important parts of the movie, but he was there watching and showed the child actor how to act the scene. He’s already sick and getting skinny that time. So we never talked about the rest of it. I couldn’t say that to him and he never told me he give up, too. He was a very dear person to me. We’ve been working together like a family, so this has the special meaning to the movie, and the process is really coming together and I felt he’s always with us during the filming. I had to asked actors I know and he knows, too, at least some of them. Jay is also like a brother to him, and although I never asked him, somehow I knew he would be happy and we’re like making this movie for him. There are many miracles, beyond coincidence. I just think it’s a lovely event in the way because it shows up that you can come together for the sake of somebody good. Anyway, we’ll be releasing this movie on May 28, and that’s exactly one year from the day he died.

Q: Out of many blockbusters you worked as a casting director, which one interest you the most?

A: I think it’s obviously The Last Samurai. I’ve spent two years, fully, in doing that movie. All of us, including the director, producer and even the distributors, they didn’t know how it will be received. But they were very, very respectful , trying to make everything as true as possible, and of course, I also participated as an associate producer for the movie. I learned a lot, I fully devoted myself during that time and I cherished that.

Yoko Narahashi 1

Q: You know that most Asian parts in Hollywood movie just set so the movie could be sell well in the Asian market. Did you ever convince your producer to give them a bigger part for Asian actors in the movie?

A; In a very good way after The Last Samurai, there were more movies, like Memoirs of a Geisha. So I knew that the time was coming for more Asian actors to play in a Hollywood movie instead just being an added-selling factor for Asian markets. But it’s true, American movie is not selling that well in their own markets. So now they interested more in actors abroad like Japanese or Chinese. I wouldn’t say it’s wrong because it’s the way the market is developing. I think Indonesia, too, in the near future, because now I’m also working in a Malaysian partner on a film fund, and we are definitely thinking of using their actors.

Q: Beside Japanese and a few Chinese, are there any other Asian actors you ever cast in the movie you worked as a casting director?

A: I tried for some more Chinese, and I have a project now where I’m hoping to cast some other Asian actors like Malaysian or Indonesian. But that’s further. It’s a TV series but it’s a great project because it’s gonna be all Asian actors.

Q: Okay, let’s go back to ‘Hold My Hand’. What really draws you into making this movie?

A: I loved the script, but it’s mostly for Masayuki, it really is.

Yoko Narahashi 2

Q: Was there other choices before you choose to direct ‘Hold My Hand’?

A: Yes. I was supposed to do my own. It’s called ‘Essence’ – about a mother and a daughter, before Masayuki came and asked me to direct this.  I don’t think I want to sacrifice my own movie, of course, but I really think Masayuki’s script is that good and going to be great as a movie, so I found it as an amazing reason.

Q: Is there any particular type of learning disabilities you wanted to portray in ‘Hold My Hand’?

A: Nothing particular, but I think there’s a purity in this movie and the main role. That’s something I loved to depict. I also wrote a song titled ‘Beautiful Name’. I loved the idea that every child is beautiful, every child is different, and that so many people had a lack of confidence, but we should love the diversity in everyone. My father was a diplomat, too, and I’ve been working with themes of disability like in ‘Babel’ and also my first movie, ‘The Winds of God’, so I think we should appreciate the diversity.

Q: You’ve been working on many blockbusters. Did it ever occured to you to do a bigger movies like action or war?

A: No, let’s leave it to Hollywood. They’re good at it. It’s their thing. Millions of dollars, months of shooting schedule. I’d rather make a small independent film that Hollywood can’t make. I like to move towards with actors, working to get the best acting possible, even though the process is a very, very short time.

Q: Beside the acting and the emotional story, I found ‘Hold My Hand’ having another powerful elements in beautiful cinematography and music scoring. Could you tell me about the process?

A: I’m glad you noticed them. I took a long time with ‘Face to Fake’ to decide what kind of music I really wanted to be in this movie. I refused some of them, too. The last song, ‘My Way’ is also the song Masayuki and I really wanted in this movie. We couldn’t use the Gypsy Kings’ version of the song and we’re kind of remaking them into our own Japanese version with same twists. About the cinematography, he (Yuji Imai) was an assistant camera in my first film. He was young, 30 something then, and he has helped me a lot since then.

image (13)

Q: Is Sumire and Nanami your first choice for the role? I found them both were very stunning to put together in this movie.

A: I think so. Nanami has the light, the right presence just like I needed, and Sumire was funny, and yet she has the beauty kind of grace, and a bit of a mystery in her.

Q: Okay, the last question. Is there any message about the bullying part that you want to convey in this movie?

A: Let’s hope there is. I was almost going to make a film about a family who sort of dying because of the bullying. There are many social points in here, but certainly bullying, you know, I’m very much into justice, so if that ever happened, I’d do something about it. And one more thing, I’m now doing something, named after another actor who died that I was going to help, which is the theme of my next film of kids who are abused.  I’m gonna work to make people aware that these kinds of kids really need help and supports because they don’t have good parents.

 

THE 8th OKINAWA INTERNATIONAL MOVIE FESTIVAL: EXCLUSIVE INTERVIEW WITH HA JUNG-WOO

•May 11, 2016 • Leave a Comment

EXCLUSIVE INTERVIEW WITH HA JUNG-WOO

           As one of the special guests of the 8th Okinawa International Movie Festival (OIMF), South Korean actor and director Ha Jung-woo attended the festival to present his latest movie, ‘Chronicle of a Blood Merchant’ (허삼관) in the Special Invitation segment on April 22nd. The 2015 South Korean film, written and directed Jung-woo himself, was based on the Chinese best selling novel written by Yu Hua in 1995. The interview was held in AEON Mall Kitanagasuku’s Cinema Rycom after his stage appearance for the screening.

Ha Jung woo 5

Q: I saw ‘Chronicle of a Blood Merchant’ last year on February 2015. Aside of the family conflicts, I found the film depicts very informative things about an illegal blood donor in 1950s Korea. What is the particular reason you choose this Yu Hua’s 1995 Chinese novel as your second directorial movie?

A: When I read that novel written by Yu Hua, I thought it was so interesting and could be shaped with a good style of filmmaking. I loved the story but what interest me the most is it has black comedy and really good characters. I also have seen the previous films of Mr. Ahn Dong-gyu (producer of ‘The Perfect Match’ (2002), ‘APT’ (2006), ‘Traces of Love’ (2006), ‘The Grand Heist’ (2012)) who has been developing this project for almost 20 years. When he came to me with this project, I decided to take this project cause I think it will be a very interesting movie.

Q: Is there any difference or particular interest to you both as an actor or director in choosing your project?

A: Definitely. As an actor, I focused on thinking about the audience first. How audience going to take the film, if it could be accepted by the audience. But as a director, I directed two films so far, ‘Rollercoaster / ‘Fasten Your Seatbelt’ (2013) and this film, I focused on thinking if it’s fit into my style in directing a movie.

Q: But these two films were actually having a very different tone, although both can be described as a black comedy, or at least had that element.

A: Yes, I supposed you could say so.

image (15)

Q: Okay, since my other profession is also a doctor, I always admire how Korean movies featured the details of medical scenes right, and so ‘Chronicles of a Blood Merchant’ in its medical elements, whether in details and in the film’s 50s sets. Is there any medical consultant you hired in the process of making this film?

A: Really? Great and thanks for saying that. I didn’t really hire a medical consultant in this movie but I did research at the library a lot and lot of helps, too on the sets. The thing is I really think it’s very important to lawn how it actually happened in Korea, and I learned that in twenty years from the ‘50s to ‘70s when we didn’t have more than red cross, yet that the illegal blood donation had happened in Korea. So I studied a lot in the library and I have to localize some based evidence from the actual China set in the novel into the ‘50s Korea sets in my movie, including what it possibly did to Korean society those times, too.

Q: We have CGV cinema chain in Indonesia. They imported a lot Korean movies into our theatres and it’s getting really big now. I think you should know that most of your movies always released in Indonesian theatres since ‘The Berlin File’, means you are one of the most famous Korean actors in our country. What’s your vision about Korean cinema these days, why it’s growing bigger and even beat Chinese of Japanese movies? Is it the perspective of emotions that appeared in most of your movies like many people said or do you think of other factors?

A: (laugh) Thanks, I’m so happy to know that. I’ve been to Bali and East Timor, too. Hope one day I can come to present my own film there. So about our movies, I think the people in our cinema industry have a really strong passion to make our best out of filmmaking even we don’t have enough budgets. That issue became the strong power to make the best out of it, and of course the money is quite important to make great films but actually we cannot buy those passions with money. I also think it’s not only in the Korean film industry but also in every country, but when it comes to Korean films, maybe passion is our power. The idea isn’t always thoroughly original, but our filmmakers wrapped it with more hearts and passions, and also our strong culture, I could say so.

Ha Jung woo 1

Q: Your female lead, Ha Ji-won is also a very well known Korean actress in Indonesia. Is she your first choice to play Hae Ok-ran in this movie?

A: You saw the film, so you know that she played the role from a beautiful girlfriend to a mother, it’s a 15 year life span role. So when I thought who can play the role with that kind of difficulties, Ha Ji-won comes first to my mind. I thought she’s the best female actress to play the role, and it’s not only my idea but also the producers. They also thought that she would fit best for the role.

Q: How about yourself? Did you also think you’re the best choice to portray the role since the casting process?

A: (thinking) I’m sorry, I couldn’t answer that question, actually. I may need to-think a little bit more (laugh).

Ha Jung woo 3

Q: No problem (laugh). So among your upcoming projects, which interests you the most?

A: As you may already know, I had Park Chan Wook’s ‘Agasshi (The Handmaiden)’ is coming up in June after the world premiere in Cannes, then ‘Tunnel’ is coming in August, and there’s this new project I’m gonna start shooting next month, it’s a Kim Yong-hwa’s film titled ‘With God’. I think each movie has different challenges to me as an actor. It’s really hard to choose one.

 

HOLD MY HAND (TEO TSUNAIDE KAEROUYO): A MOVING TALE OF SOUL SEARCHING AND LOVE REDISCOVERED; OKINAWA 2016 REVIEW

•May 7, 2016 • Leave a Comment

HOLD MY HAND (TEO TSUNAIDE KAEROUYO)

Director: Yoko Narahashi

Production Company: United Performers Studio, 2016

Distributor: KATSU-do

hold my hand

            Having another career as a prominent Japanese casting director in many Hollywood blockbusters, from ‘Babel’, ‘Memoirs of a Geisha’ to ’The Last Samurai’, ’47 Ronin’ and ‘The Wolverine’, director Yoko Narahashi referred as a Japan’s gatekeeper to Hollywood.

              Also listed as a producer  (‘Emperor’ & ‘The Last Samurai’), actress and even screenwriter, ‘Hold My Hand’ (Teo Tsunaide Kaerouyo = Hold my Hand and Take me Home) is her third directorial feature after ‘Winds of God’ (1995; won Special Jury Prize in Yubari International Fantastic Film Festival in 1993) and ‘Waiting for the Sun’ (2008).

          ‘Hold My Hand’ is more like a labor of love for Narahashi over her long-span friendship with the screenwriter, Masayuki Imai (‘Winds of God’ was also based on his play), who passed awazy when in the movie casting process. Masayuki Imai himself was supposed to star in the film but the role goes to the actor Jay Kabira as his condition deteriorated.

           The film tells the story of Makoto (Jay Kabira), who suffers from a slight learning disability that causes him to be bullied and humiliated since high school days. Later married to a high school best friend with similar affliction, Sakura (Nanami), Makoto fell into crime activities in attempts to protect Sakura. Years later, Makoto sets up a journey to recall his promise of the honeymoon he never had with Sakura and meets Reiko (Sumire) along the way, as the twist of fate begins to reveal itself.

OIMF Hold my Hand

            While there might be nothing new about the plot, part of road trip, anti-bully morals and family – friendship – love drama about self finding could blend into a touching human story; a moving tale about soul searching and love rediscovered. It’s not once fell into a cheesy Asian melodrama but restrained in a sophisticated way. The back and forth storytelling also puts some insights about Japanese culture smoothly.

           As the center of the story, though no detailed explanations about the level of learning disability, Jay Kabira puts a certain sensitivity to portray Makoto, make the audience feel for him. There’s a powerful chemistry, too, with both Sumire and Nanami who got her part in an audition as a newcomer in their movie industry. The panoramic cinematography by Yuji Imai is another good thing from ‘Hold My Hand’, one that depicts their strong intimacy with the subject.

              Though another true winner in ‘Hold My Hand’ is the music scoring by Face 2 Fake. Resembles what Japanese dramatic feature did best once in 2004 melodrama ‘Be With You (Ina, Ai Ni Yukimasu)’ with Suguru Matsutani’ scoring parts, without having to steer our emotions too much, the composition is a truly beautiful one, plus the theme song by JAY’ED, a cover of a classic hits ‘My Way’ with a Latin flamenco twist from the music arranger Yasuaki Maejima, who is well known as an original member of Qrquesta de la Luz.  (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,081 other followers