RISE OF THE PLANET OF THE APES : THE EMO-LUTION RISINGS

RISE OF THE PLANET OF THE APES

Sutradara : Rupert Wyatt

Produksi : 20th Century Fox, 2011

Sebagai salah satu sci-fi terbaik yang pernah dibuat, ‘Planet Of The Apes’ (1968) yang merupakan adaptasi lepas dari novel Perancis karya Pierre Boulle (1963) memang mendapat hasil yang sejajar dengan ambisinya. Namun karena Hollywood adalah Hollywood, film itu pun berkembang menjadi sebuah franchise diikuti 4 film berikutnya. Sekuel keduanya, ‘Beneath The Planet Of The Apes’ (1970), yang sebelumnya menjadi persyaratan aktor besar jaman itu, Charlton Heston, untuk mau melanjutkan perannya asal nilai klasiknya tak dirusak lebih jauh dan ditamatkan disana, sayangnya berakhir seperti rata-rata sekuel lain yang tak bisa menyaingi pendahulunya. Walau sebenarnya memegang kunci dari penyelesaian yang tak pernah ada di novel awalnya, Beneath bersama 3 sekuel berikutnya plus serial tevenya, tak bisa mempertahankan franchise ini lebih panjang lagi. Rencana untuk me-remake-nya pun berlangsung ribet dengan bongkar pasang kru dan pemain, sampai akhirnya Tim Burton memenangkan proyeknya di tahun 2001. Remake yang digagas dengan pendekatan berbeda namun menjaga pakem futuristiknya dengan feel yang setia ke film aslinya ini sebenarnya cukup baik. Namun di luar departemen teknik (make-up dan kostum) yang dinominasikan di BAFTA, ending yang sangat memberikan rasa penasaran ke sekuelnya serta perolehan box office melewati 300 juta dolar di peredaran dunianya, Fox ternyata tak berniat untuk melanjutkannya lagi dengan Burton. Nilai rasa klasiknya tetap kalah, dan resepsi kelewat beragam dari yang suka dengan yang mencerca juga hampir sama banyak. Baru satu dekade kemudian para eksekutif itu menemukan ramuan pas untuk kembali membawa primate-primata ini ke layar lebar. Trend reboot dengan penceritaan detil dari awal, dan pastinya yang semakin berakar di benak tipe rata-rata penonton sekarang. Realistis dan mendekati dunia nyata lebih penting ketimbang porsi fantasi yang bombastis. Begitulah.

Didorong atas penyakit ayahnya, Charles (John Lithgow) yang menderita Alzheimer (kepikunan degeneratif), ambisi Will Rodman (James Franco), seorang ilmuwan di perusahaan farmasi Gen-Sys di San Francisco, AS, untuk mengembangkan obat ampuh selama 5 tahun akhirnya menemukan jalan lewat eksperimen genetik lewat serum dari sebuah retrovirus yang dilakukan pada simpanse percobaan. Namun Rodman melupakan satu hal tentang insting hewan yang akhirnya membuat simpanse itu mengamuk. Proyek untuk melanjutkan eksperimen pada manusia akhirnya gagal. Atas permintaan Franklin (Tyler Labine), pengurus primata-primata di lab, keturunan sang simpanse akhirnya dibawanya ke rumah demi menyelamatkannya dari perintah atasannya, Jacobs (David Oyelowo) untuk membunuh semua yang terkontaminasi eksperimen tadi. Caesar (Andy Serkis), nama yang diberikan sang ayah untuk simpanse itu kemudian dirawat Rodman sampai besar sambil melakukan pengamatan, bahwa kepintarannya diwarisi dari gen ibunya yang sudah terkontaminasi eksperimen tadi. Atas saran seorang primatologis kebun binatang, Caroline Aranha (Freida Pinto) yang lantas lengket dengan Rodman, Caesar yang mulai mendambakan kebebasan dilatih mereka di sebuah hutan lindung disana. Rodman akhirnya tak bisa menahan diri untuk mulai mencoba serum itu ke Charles. Ternyata keberhasilan di awal tak menunjukkan perkembangan seterusnya. Penyakit Charles yang kembali membuat Caesar menyerang tetangga dan terpaksa diungsikan ke penangkaran primata milik John Landon (Brian Cox) yang ternyata tak menjaga Caesar diperlakukan dengan buruk oleh anaknya, Dodge (Tom Felton). Sementara Jacobs makin tertarik untuk melakukan eksperimen generasi baru serum itu secara lebih intens, efek samping terhadap manusia semakin terkuak. Charles meninggal dan Franklin yang terekspos mulai mengkontaminasi tetangga Rodman. Usaha Rodman ke Jacobs untuk menghentikan eksperimen pun ditolak mentah-mentah. Dan Caesar, yang sudah tak tahan dengan perlakuan manusia mulai merancang sebuah pemberontakan. Ia menyelinap ke rumah Rodman, mencuri serum itu dan memberikannya pada seluruh primata disana untuk memulai revolusi terhadap umat manusia. Chaos happens!

Meski sudah digagas dari trend yang tengah berkembang menghidupkan kembali Batman, James Bond, Robin Hood sampai Star Trek yang rata-rata berhasil itu, reaksi awal terhadap pemberitaan remake Planet Of The Apes awalnya penuh dengan cibiran. Baik dari penonton yang menyukai remake Burton, yang tak suka sampai menganggapnya tak perlu diremake lagi. Teaser trailer awalnya juga tak terlalu membuka amunisi yang dimiliki Fox, sementara nama Rupert Wyatt sebagai sutradara juga belum terlalu dikenal. Hanya sebuah film kecil Inggris yang berjudul ‘The Escapist’ yang memang mengangkat sedikit namanya di Sundance Film Festival 2008. Dan oh ya, Fox juga sempat ragu dengan reaksi banyak orang sampai menghilangkan ’Planet Of The’ di press rilis awalnya agar tak banyak yang ngeh bahwa ini adalah kemunculan kembali franchise itu ke layar lebar. But then, boom! Peluncuran awalnya membuat hype terhadap ekspektasinya begitu menjulang dari rata-rata review kritikus yang memuji-muji reboot ini. Semuanya pun jadi penasaran. So what is so special about it, kecuali adegan rampage para primata bak monster menyerang kota yang biasanya jadi satu kegagalan rata-rata film monster?

Here’s the answer! Ini tidak hanya soal ’cerita lain’ yang bukan sebuah kontinuitas atau remake penuh dari aslinya. Ini bukan sekedar ujug-ujug dunia post apocalyptic dan penemuan planet lain di masa mendatang yang didominasi primata dengan twist bahwa once upon a time it was our earth. Mengulang kembali semua dari awal dengan sebuah persepsi baru, satu yang tak dimiliki franchise awalnya, termasuk film keempat, ‘Conquest Of Planet Of The Apes’ (1972) yang punya kemiripan premis dengan Rise, adalah bangunan emosi yang terlupakan di semua filmnya. Kisah-kisah hewan memberontak akibat perlakuan manusia, yang menyindir tingkat ke-primitif-an dua makhluk hidup berbeda ini mungkin sudah dari dulu kita nikmati. Tapi yang secara seimbang membangun plotnya dengan emosi tanpa juga melupakan highlight ala blockbuster yang paling ditunggu-tunggu penonton, efek dengan intensitas adegan aksi yang membuat orang berteriak ’wow!’, itu tak banyak. Put it like ‘King Kong’-nya Peter Jackson atau ‘Jurassic Park’, Rise Of The Planet Of The Apes‘ bahkan lebih komunikatif menggelar ceritanya di masa kini bahkan mengakhirinya dengan sejuta kemungkinan sekuel bernafas kontaminasi virus ala film-film zombie yang lebih modern untuk persepsinya ke kalangan penonton.

Dan jangan lupakan juga kedigdayaan CGI untuk melebur semuanya jadi pengadeganan yang jauh lebih realistis dengan efek-efeknya, terutama di adegan-adegan chaos dan tentu saja Andy Serkis yang menerjemahkan semua reaksi Caesar dengan teramat sangat hidup serta, walaupun saya tak ingin mendiskreditkan John Lithgow yang lagi-lagi berakting begitu baik, menenggelamkan karakter-karakter live actionnya. Rick Jaffa dan Amanda Silver sebagai penulisnya tak perlu lagi menggambarkan hitam putih dengan karakter baik buruk di masing-masing spesies makhluk hidup antara manusia dan primata. Ini hanya sebuah butterfly effect terhadap keinginan dan perlakuan yang jadi ekses dari kemajuan teknologi, and they’re all captured our hearts bahkan sejak menit-menit pertama. Sebuah bangunan dengan fondasi sedemikian mantap, yang kala dieksekusi dengan gelaran efek spesial kelas blockbuster di klimaks revolusi para primata sebagai awal mula dari esensi franchise-nya akan menjadi bom yang meledak-ledak dengan dahsyat. Oke, musim panas ini sudah punya ‘X-Men:First Class’ dan ‘Super 8’ sebagai sebarisan jagoannya melebihi franchise penuh efek yang hanya menjual kesenangan. ‘Rise Of The Planet Apes‘ is absolutely something else, dan sangat layak ditempatkan ke barisan para juara itu. This is not just an evolution nor a revolution. This is a emo-lution of a long awaited classic reborn, and it’s rising now! Don’t miss it! (dan)

~ by danieldokter on September 12, 2011.

2 Responses to “RISE OF THE PLANET OF THE APES : THE EMO-LUTION RISINGS”

  1. […] Rise of the Planet of the Apes […]

  2. […] Grossman and Alex Henning REAL STEEL – Erik Nash, John Rosengrant, Dan Taylor and Swen Gillberg RISE OF THE PLANET OF THE APES – Joe Letteri, Dan Lemmon, R. Christopher White and Daniel Barrett TRANSFORMERS : DARK OF THE […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: