CINTA DALAM KARDUS : UNIQUELY TOLD, SIMPLE AND SWEET

CINTA DALAM KARDUS

Sutradara : Salman Aristo

Produksi : Kompas Gramedia Studio, 2013

CDK11

            Baru saja ‘Cinta Brontosaurus’ dan cerita kesuksesannya berlalu dari hadapan kita, dan kini Raditya Dika menyambungnya lagi dengan ‘Cinta Dalam Kardus’. Datang dari PH dan sutradara berbeda, no, it’s not actually a sequel, tapi sebagai bagian dari kiprah Dika yang secara taktis ia siapkan dengan serial komedi ‘Malam Minggu Miko’ dari dua webseries/webisode yang sukses berpindah ke tayangan Kompas TV, itu benar. Satu yang membuatnya terasa lebih unik adalah fenomena stand up comedy yang jadi bagian lekat dari storytelling lewat skrip yang ditulisnya bersama Salman Aristo. Trailer-nya sudah menunjukkan itu, dimana sebagian besar penceritaannya bergaya monolog seperti acara-acara live stand up comedy, dan ini jelas lebih sulit dari sekedar rom-com gaya Dika dari dua film sebelumnya.

CDK9

            Lagi-lagi, batu sandungannya ada pada sesuatu yang bernama trend. Bagi sebagian orang, style lawakan Raditya Dika sangat menjelaskan comedy taste generasi sekarang, namun di lain sisi, masih banyak penonton yang merasa tak akrab dengan gaya komedinya. Salman mungkin cukup cermat membaca ketimpangan selera dalam beda-beda persepsi ini, seakan bukan hanya mencoba menciptakan sebuah film yang laku dan murni komersil, tapi mencari jalan tengah agar lawakan Dika bisa diterima dengan baik oleh kelompok orang yang sebelumnya mencemooh film-filmnya. Pemilihan storytelling itu penuh resiko, memang, terlebih ke perolehan penonton sekaligus taruhan kredibilitasnya sebagai film ketiga yang menguji kemampuan penyutradaraan Salman. Tapi mungkin penyampaian baru yang tak juga terlalu mengikuti pakem serial komedinya yang tetap segmented itu akan bisa lebih mendekatkan beda-beda resepsi terhadap style lawakan Dika tadi, siapa tahu? ‘Cinta Dalam Kardus’, di tengah perubahan konsep pengembangannya dari film monolog menjadi seolah sebuah real stand up comedy shows yang justru tampil lebih berani dengan delapan puluh persen ber-setting panggung, adalah jawabannya.

CDK10

            Plotnya masih tak jauh dari hal-hal yang dibahas dalam 24 episode Kompas TV plus 2 webisode-nya. Tentang Miko (Raditya Dika), yang tinggal di sebuah rumah kontrakan dengan sahabatnya Rian (Ryan Adriandhy) dan pembantunya Anca (Hadian Saputra), dengan segala galau-galau kehidupan cintanya. Percaya bahwa cinta itu selalu menuntutnya untuk tak pernah jadi dirinya sendiri dengan hubungan yang akhirnya selalu kandas, di tengah puncak zona tak nyamannya pada Putri (Anizabella P. Lesmana), Miko naik ke panggung standup comedy. Melawan interaksi pengunjung cafe termasuk pasangan ABG Caca dan Kipli (Dahlia Poland & Fauzan Nasrul) yang mulai terganggu dengan uneg-unegnya, sebuah kardus berisi barang-barang peninggalan 21 orang mantan gebetannya yang terbawa ke kafe menjadi amunisi Miko mempertahankan ideologi mbeling-nya tentang cinta. Namun ia tak pernah tahu, disitu justru letak jawaban pencariannya selama ini.

CDK1

            I  tell you what. Di saat banyak sineas kita berkarya diatas template sinematis yang satu sama lain tak jauh berbeda, Salman Aristo justru hadir dengan sebuah kekuatan konsep yang terasa sangat berani. Mendobrak layar lebar komedi Indonesia dengan gaya semi monolog dibalik tampilan stand up comedy show yang serba sederhana dalam menyusun mosaik-mosaik komedinya jadi satu, asesoris dan eksplorasi konsepnya sama sekali tak se-sederhana itu. Konsep itu bahkan berlanjut ke macam-macam simbol dalam storytelling penuh flashback scenes yang unik sebagai deskripsi absurditas ideologi-ideologi cinta dari puitis, komikal sampai nyeleneh, bersama tata artistik Rico Marpaung, sinematografi Joel F. Zola  dan editing Cesa David Luckmansyah – Ryan Purwoko yang sama-sama membuat ‘kardus’ jadi bagian solid dalam judulnya. Ramuan jokes dalam mocking dialogues about relationships yang sangat kental memuat style Raditya Dika mungkin sebagian masih hit and missed untuk terus memancing tawa ger-geran, tapi konsep itu tak sekalipun membuat senyum tadi pergi dari wajah penontonnya. Bittersweetly goes along the way, tanpa harus terjebak kelewat konyol atau sentimentil, apalagi dengan dua highlight scene yang menampilkan Lukman Sardi bersama sentuhan animasi komik di adegan bandara.

CDK2

            Di luar kekuatan konsep itu, adalah Raditya Dika yang sekali ini cukup berhasil menjadi fokus utamanya. Meninggalkan dua karakter penting dalam ‘Malam Minggu Miko’ cukup sebagai latar yang memperjelas karakternya, Dika yang tak terlalu dipaksa berakting justru bisa kelihatan santai mengeksplorasi potensi komedinya. Apalagi, Salman memperkuat penampilan Dika lewat semua supporting cast lainnya, termasuk Tony Taulo sebagai manager cafe, aktor senior Fuad Idris, duet kompak Dahlia Poland dan Fauzan Nasrul sampai seabrek pemeran mantan gebetan Miko termasuk Anizabella Lesmana, Tina Toon dan Sharena Gunawan. Scoring dari Andhika Triyadi berikut soundtrack dari Endah n Rhesa yang ikut tampil dalam sebuah adegannya juga jadi dayatarik lain yang cukup bagus. Dan masih ada opening credits bersama eksekusi ending keren yang menolak untuk berhenti begitu saja di template-template klise seperti biasanya.

CDK5

            You might not like stand up comedy shows that much, atau juga film-film komedi yang didominasi monolog, tapi percayalah. ‘Cinta Dalam Kardus’ memang punya amunisi kuat untuk membuat penontonnya bisa menikmati sebuah pertunjukan yang berbeda. Seperti kardus berisi barang-barang tak  berharga yang sebenarnya pernah jadi bagian dari hidup kita, sekilas ia boleh kelihatan sangat sederhana, tapi sebenarnya sarat makna. About love and its absurdity. Uniquely told, simple and sweet! (dan)

CDK6

~ by danieldokter on June 18, 2013.

3 Responses to “CINTA DALAM KARDUS : UNIQUELY TOLD, SIMPLE AND SWEET”

  1. belum pernah filmnya Radit sama sekali, tapi begitu tau konsepnya seperti Malam Minggu Miko, jadi tertarik banget. Apalagi setelah baca review mas Daniel..

  2. […]  13.  CINTA DALAM KARDUS […]

  3. […] membawa signature komedi dengan konklusi-konklusi soal hati seperti ‘Marmut Merah Jambu’ dan ‘Cinta Dalam Kardus’; namun ‘Single’ benar-benar membawanya naik kelas dengan konsep yang lebih paripurna dari […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: