NIGHTCRAWLER : A RELENTLESS, SOUL-SICK SATIRICAL THRILLER

•November 20, 2014 • Leave a Comment

NIGHTCRAWLER 

Sutradara : Dan Gilroy

Produksi : Open Road Films, Entertainment One, Elevation Pictures, Madman Entertainment, 2014

NC1

            Dari sekian banyak tipe film, hal paling menarik dari tampilan ‘Nightcrawler’ mungkin adalah isi yang susah untuk ditebak, kecuali kita sudah membaca-baca tentangnya lewat media. Muncul bagai sebuah indie piece di tengah-tengah fall blockbusters yang jauh lebih senyap dari summer namun rata-rata punya kualitas lebih secara konten ketimbang sekedar hiburan, rasanya tak ada yang menyangka sejauh mana ia bisa menyerang secara begitu ofensif menyampaikan ide liar screenwriter Dan Gilroy dari keluarga sineas Hollywood, The Gilroys, that if you paid more attention, punya talenta yang sangat pantas buat disimak lebih jauh.

            Dari sang ayah, Frank Daniel Gilroy, yang lebih dikenal sebagai Pulitzer winning American playwright namun juga menulis dan menyutradarai film, yang paling dikenal mungkin Tony Gilroy, penulis franchise Bourne hingga ‘The Devil’s Advocate’ bahkan ‘Armageddon’ sebagai co-writer, dan mendapat nominasi Oscar untuk ‘Michael Clayton’ yang disutradarainya sendiri. Sementara Dan Gilroy, yang baru memulai debut penyutradaraannya, memang tak punya kredit sebesar kakaknya dan selama ini berada lebih dibalik bayang-bayang istrinya, Rene Russo. Begitupun, selain sebagai penulis film-film lebih kecil seperti ‘Chasers’, ‘Freejack’ dan ‘Two for the Money’, ia juga ada dibalik ide ‘Real Steel’ dan ikut menulis instalmen Bourne terakhir.

            ‘Nightcrawler’ memulai kisahnya lewat pengenalan singkat seorang sosiopat penuh ambisi, Lou Bloom (Jake Gyllenhaal), yang tak kunjung sukses mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya di tengah jantung West Coast AS, Los Angeles. Namun pertemuannya dengan videografer amatir Joe Loder (Bill Paxton) yang memburu berita kriminal untuk dijual ke stasiun televisi mengubah segalanya. Mengikuti jejak Loder, dengan bantuan Rick (Riz Ahmed), pengangguran yang diiming-iminginya kesuksesan sebagai asistennya, Bloom menggelar permainannya. Lebih dari sekedar mengungguli kompetitornya, like a mastermind, ia mulai melintas batas kewarasan tak terbayangkan untuk menguasai lapangan ini sekaligus menaikkan posisi penawarannya terhadap Nina (Rene Russo), news director berita pagi di sebuah stasiun TV yang juga dijadikan sasaran obsesinya.

            So you see. Ide yang diikutsertakan ke kontes pembiayaan film dari The California Film Tax Credit program dan tak terpilih namun mendapat alokasi sebagian bujetnya dari badan yang sama ini mungkin tak sepenuhnya punya elemen yang benar-benar baru. Namun cara Dan Gilroy meracik semua elemennya, menyatukan gritty satire tentang kegilaan media televisi dan jurnalisme kotor seperti ‘Network’ dibalik west coast culture and paranoia bersama feel L.A. crime thrillers dengan respek tinggi ke film-film klasik hingga cult ’70 ke ‘80an dalam genre-nya, dari ‘Chinatown’ ke ‘To Live and Die in L.A.’, lengkap dengan atmosfer sodium glare dan luminous glow-nya, untuk berbaur menjadi sebuah konsep yang benar-benar fresh dan orisinil diatas gambaran media madness in digital age menyelami nocturnal underbelly wilayahnya yang kelam, memang luarbiasa. Sebagian kombinasi penuh homage ini boleh jadi sudah kita lihat dalam ‘Drive’, yang datang dari sebagian produser yang sama, tapi dengan elemen-elemen tambahannya, ‘Nightcrawler’ bahkan mencapai kedalaman lebih lagi.

        Seakan belum cukup, bangunan karakter hingga konflik-konfliknya juga dipenuhi referensi serba klasik. Ada nafas psikologis dan studi karakter ala ‘Taxi Driver’ dengan Travis Bickle-nya yang sangat terasa berikut elemen-elemen perjalanan tokoh utama yang mirip dengan karakter legendaris Chuck Tatum, diperankan Kirk Douglas dalam Billy WildersAce in the Hole’. With these nods to those classics, bentukan karakter-karakter dalam ‘Nightcrawler’ jelas jadi fondasi sangat kuat untuk keseluruhan bangunan plot-nya. Dan jangan lupakan juga bahwa atmosfer itu tak akan bekerja tanpa Robert Elswit, DoP langganan Paul Thomas Anderson serta scoring James Newton Howard yang begitu mendukung vintage ambiance-nya.

         Tapi ‘Nightcrawler’ tak akan jadi sebaik itu tanpa Jake Gyllenhaal. Seperti apa yang dilakukan Robert De Niro dalam ‘Taxi Driver’, memerankan seorang sosiopat yang meyakinkan penonton akan kesanggupannya melangkah sejauh mana demi sebuah ambisi, ‘Nightcrawler’ menjadi showcase terbaiknya. Awkward gesture dan tatapan kosong menerjemahkan kegilaan terpendam itu tampil dengan luarbiasa terjaga dengan intensitas kian menanjak ke menit-menit terakhir ‘Nightcrawler’ dibalik makeover riasan dan tampilannya secara keseluruhan, tanpa sekalipun melepaskan secuil empati bagi sebentuk keberpihakan ke sosok miringnya hingga ke let loose ending bak pilot episode dari sebuah TV series, bukan dalam artian jelek tentunya, yang membuat kita ingin terus menyaksikan kelanjutannya.

       Pendukung-pendukung lainnya pun remarkable. Di usianya yang sudah menginjak kepala 6, Rene Russo masih menyisakan elegant sparks, seksi dan begitu seduktif, menyamai penampilan terbaiknya dalam remakeThe Thomas Crown Affair’ memerankan seorang pekerja media oportunis, sementara sebagai sidekick Bloom, Riz Ahmed, British – Pakistani actor – rapper yang sebelumnya sudah bermain kuat dalam ‘The Reluctant Fundamentalist’, berakting penuh emosi sebagai Rick, mewarnai kegilaan karakter Gyllenhaal memberi balance yang sempurna. Masih ada juga Bill Paxton sebagai karakter kunci turnover plot-nya. Singkat, tapi proporsional.

             So yes, tanpa ekspektasi ini-itu, ‘Nightcrawler’ ternyata merupakan tontonan sangat spesial, jauh di luar apa yang kita perkirakan sebelumnya. Dibalik gritty satire tentang criminal journalism dan local news TV culture yang boleh jadi terasa agak cerewet dan nauseous seolah sebuah dark comedy namun tersampaikan dengan atmosfer statis penuh ambiguitas jalanan serta atmosfer eastside L.A. tanpa kehilangan unsur pulse-pounding thriller yang cukup intens, ‘Nightcrawler’ bukan saja jadi sebuah bold directing debut dari Dan Gilroy tapi juga showcase terbaik bagi Jake Gyllenhaal. A relentless, soul-sick satirical thriller! (dan)

FURY : A RARE WW2 TANK PLATOON SUBGENRE

•November 17, 2014 • Leave a Comment

FURY

Sutradara : David Ayer

Produksi : Le Grisbi Productions, QED International, Lstar Capital, Crave Films, Columbia Pictures, 2014

FUR10

            Tak seperti di era ‘70an ke awal ‘80an, genre WW2 bukan lagi jadi trend sekarang. Kalaupun ada, kebanyakan hanya menggunakannya sebagai set dengan fokus lebih ke genre drama atau biopik. Tapi bukan berarti kita tak mendapat satu dua yang bagus diantara jumlah keseluruhan yang tergolong minim itu. Malah, hampir satu dekade lalu, ‘Saving Private Ryan’ dan ‘The Thin Red Line’ pernah hadir dalam waktu bersamaan dengan kelebihan masing-masing dari pendekatan yang jauh berbeda.

FUR1

            Datang dari ide David Ayer, ‘Fury’ sebenarnya sangat menjanjikan sebagai sebuah penyegaran tema. Menyorot subgenre tank war, yang malah lebih jarang lagi diangkat jadi fokus utamanya, deretan cast-nya pun terasa penuh respek kepada template war classics yang hampir selalu hadir dengan ensemble cast. Bergabung bersama Brad Pitt di porsi lead-nya, ada 4 Jewish actors ; Shia LaBeouf, Jon Bernthal, Logan Lerman dan Jason Isaacs, dan masih ada Michael Peña, plus Xavier Samuel dan Scott Eastwood, putra Clint Eastwood, di porsi supporting yang sama sekali tak terlihat menonjol. Begitupun, nilai paling lebihnya tetaplah ada di soal tank war, battle atau tank platoon yang dihadirkan dengan detil-detil luarbiasa melebihi film-film WW2 yang selama ini ada. Seriously.

FUR9

              Di tengah serbuan final pihak sekutu menumpas Nazi di masa-masa akhir PD2, US Army Sgt. Don ‘Wardaddy’ Collier (Brad Pitt) dari 66th Armored Regiment, 2nd Armored Division, mengepalai peleton tank dengan M4A3E8 Sherman tank, dijuluki ‘Fury’ dalam misi mereka. Kru-nya pun diisi oleh para veteran tank, Boyd ‘Bible’ Swan (Shia LaBeouf), penembak yang relijius, pengisi amunisi Grady ‘Coon-Ass’ Travis (Jon Bernthal) yang temperamental dan Trini ‘Gordo’ Garcia (Michael Peña), pengemudi yang jauh lebih tenang. Terbunuhnya salah satu kru mereka membuat posisi asisten driver/gunner diisi oleh Norman Ellison (Logan Lerman), juru tik yang belum pernah terjun ke tengah-tengah perang. Pelan-pelan, Ellison mulai dibentuk oleh Collier untuk menjadi kru tangguh dengan julukan barunya, ‘Machine’, hingga akhirnya mereka harus menerima takdir menjadi satu-satunya tank yang tersisa dalam peletonnya saat berhadapan dengan batalion infanteri Nazi setelah mengalahkan tank Tiger I Jerman.

FUR8

             Oh yes. Hal terbaik dalam ‘Fury’ jelas adalah subgenre tank war-nya sendiri, yang mengusung titular tank name-nya di judul singkat, pasaran tapi tetap menjual itu. Akurasi hal-hal technical dari senjata, kostum ke latar sejarahnya, mostly tanks, dengan kuat bisa dituangkan Ayer di skrip yang digawanginya sendiri, terinspirasi dari buku-buku dokumentasi WW2 dengan detil jauh lebih ketimbang film-film dengan subgenre sama yang pernah kita saksikan. Selagi subgenre U-boat sudah mencatat ‘Das Boot’ dan serangkaian film lain dengan detil yang sama kuat, dalam soal tank, terlebih untuk orang-orang yang menaruh perhatian lebih ke jenis persenjataan seputar WW2 ini, ‘Fury’ jelas jadi pemenangnya.

FUR5

               Sementara ranah dramatisasinya, walau tak spesial, bisa mengalir dengan chemistry yang bagus diantara cast-nya. Kisah mentor to protege bukan lagi sesuatu yang benar-benar baru, tapi di tangan ensemble cast-nya, ada bidikan-bidikan lain yang memuat penekanan khas Ayer bermain di konflik-konflik gritty sambil tetap menggelar anti-war message-nya di tengah pengadeganan penuh kekerasan secara lebih realistis tapi manusiawi di sepanjang film, bahkan menyerempet ke salah satu adegan terbaiknya dari kamar tidur ke meja makan di sebuah rumah Jerman bersama aktris Anamaria Marinca dan Alicia von Rittberg sebagai pretty yet haunting distraction terhadap tema perang lewat penelaahan human’s basic instinct. It felt a bit naughty, but never out of places.

FUR7

              Hal-hal filmis lainnya pun tertata dengan sangat baik. Sinematografi Roman Vasyanov, DoP asal Rusia yang sudah bekerja bersama Ayer di ‘End of Watch’ berikut sejumlah film-film kecil dengan resepsi bagus, ‘The Motel Life’, ‘The East’ dan ‘Charlie Countryman’ yang juga dibintangi Shia LaBeouf, tak pernah melepaskan fokusnya dari penggambaran perang yang tak perlu terlalu kolosal namun menjadikan tank serta kru-nya sebagai subjek utama. Scoring dari Steven Price juga sama baiknya dalam penekanan emosi-emosi karakternya.

FUR4

          Dan di departemen akting, pilihan cast-nya juga juara. Kita sudah tahu bagaimana Brad Pitt, Jon Bernthal, bahkan Michael Peña meng-handle peran-peran mereka selama ini, namun transformasi Shia LaBeouf ke peran-peran serius jarang-jarang bisa sebaik ini. Menempatkan Logan Lerman sebagai rookie player di tengah-tengah mereka pun bisa bekerja dengan cukup baik mengisi sentral plot mentor to protege-nya bersama Pitt.

FUR2

           Sayangnya, endingnya, generically, lagi-lagi sangat Ayer. Seakan memilih cara termudah untuk menyematkan konklusi patriotisnya, sama seperti idealisme karakter polisi di rata-rata filmnya, kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi dari detik pertama klimaks itu digelar. Bagi sebagian orang, ini memang menyelamatkan ‘Fury’ dari rasa-rasa sangat pop dalam sebuah blockbuster Hollywood, hanya saja mungkin mereka lupa, in nowadays trend, ini juga mulai bergulir jadi satu penyelesaian generik dari film-film yang mau terlihat lebih berkelas, namun tak terlalu didasari pengantar yang baik selain hanya sebuah cara mudah untuk menarik garis akhir sebagai ending film.

FUR3

           However, ‘Fury’ jelas sama sekali bukan film perang yang gagal. With its harder effort in WW2 tank war subgenre, ia sudah jauh lebih dari apapun kekurangan yang ada di dalamnya. Hanya saja, pertanyaan yang akan timbul lagi-lagi sama. Bagi sebagian orang, akankah ‘Fury’ terasa sebaik ini bila dibesut dengan ending yang berbeda? You decide. (dan)

JOHN WICK : A STYLIZED – BADASS TAKE ON SHOOT ‘EM UP ACTION CINEMA

•November 16, 2014 • Leave a Comment

JOHN WICK 

Sutradara : Chad Stahelski & David Leitch

Produksi : Summit Entertainment, Thunder Road Pictures, 87Eleven Productions, DefyNite Films, Lionsgate, Warner Bros, 2014

JW3

            Di awal-awal karirnya, mungkin tak ada yang menyangka bahwa Keanu Reeves akan jadi Hollywood’s action icon. Namun dimulai dari ‘Point Break’ yang seolah jadi revelation, ‘Speed’ melejitkannya ke predikat itu, dan tentu saja, puncaknya adalah ‘The Matrix Trilogy’. Toh setelahnya, meski masih beberapa kali bermain di genre action, bintangnya mulai memudar. Bagi penonton kebanyakan, yang paling mereka inginkan dari Reeves adalah aksinya dalam genre itu, apalagi kiprah terakhirnya di ranah tadi, ‘Man of Taichi’, dimana ia memilih mengedepankan aktor laga Asia nyaris tanpa kharisma Tiger Chen dan berpindah ke peran villain, benar-benar merupakan sebuah kerusakan parah.

JW6

            Namun ‘John Wick’ adalah sebenar-benarnya sebuah awal baru buatnya. Semua prediksi awal penuh keraguan atas kiprah terdahulunya mulai rontok bersama peluncuran trailer dan premiere-nya di beberapa festival. Dibesut oleh stunt double Reeves di ‘The Matrix’, Chad Stahelski bersama stunt coordinator David Leitch (credited as producer bersama aktris Eva Longoria), trailer itu memang sangat menjanjikan. Meski bukan benar-benar baru, premisnya jelas, diatas sebuah awkward sense of humor yang mewarnai genre action yang memang tengah jadi trendbadass take’ ke sejumlah aktor seperti Liam Neeson atau Denzel Washington, ataupun nonstop showdown ala ‘The Raid’, seperti yang dilansir Reeves dari sejumlah interview sebelum ‘John Wick’ dirilis untuk publik.

JW4

            John Wick (Keanu Reeves), ex-deadly assassin yang baru saja kehilangan istrinya Helen (Bridget Moynahan) karena kanker menerima pemberian terakhir berupa seekor anak anjing lucu bernama Daisy untuk menemani kesepiannya. Namun pertemuan tak sengaja dengan sekelompok mafia Rusia yang menaruh minat terhadap mobil vintage ’69 Mustang-nya memaksa Wick untuk kembali ke masa lalu terkelam-nya kala Daisy dibunuh dengan mengenaskan. Di tengah assassin’s code of honour yang dipegang Winston (Ian McShane) dibalik keberadaan sebuah hotel misterius bernama Continental yang tetap harus terjaga, Wick pun memulai perang pribadinya, menumpas sindikat ini sampai ke orang teratasnya, Viggo Tarasov (Michael Nyqvist) bersama sekumpulan pembunuh bayaran lain yang disewa untuk menghentikan amukannya.

JW7

            Does whatThe Raiddid to the genre, mostly with all kinds of guns to machine guns tanpa juga meninggalkan aksi perkelahian seru diatas koreografi stunt Stahelski dan Leitch yang jelas sudah teruji bersama Reeves di ‘The Matrix’, ‘John Wick’ memang sama sekali tak main-main meledakkan nonstop shootouts-nya. Skrip yang ditulis oleh Derek Kolstad bisa jadi kelihatan tak spesial dan minim dialog, tapi memuat banyak nods ke genre berikut motivasi utamanya yang sangat kuat, membangun empati sangat mengakar terhadap karakter utamanya, love what he loved and want what he wanted, ‘John Wick’ jadi punya nilai jauh lebih di sisi emosi. Sekilas motivasi dead puppy-nya terasa bagaikan main-main, tapi di titik lain, memicu emosi luarbiasa pada setiap aftermath-nya, where every audience rooted like hell to the main character.

JW5

          Back and forth prologue yang digelar bak gambaran relationship se-emosional apa yang kita saksikan dalam Pixar’sUp‘ bahkan code of honour diatas set Continental Hotel yang dibangun dengan feelDragon Inn’, underworld’s meeting point di sejumlah kisah-kisah martial arts, berikut ensemble cast dan efek ke naik turun interaksi karakter-karakternya, semua bekerja dengan sangat baik bersama potensi pengembangannya menjadi franchise, termasuk yang sudah dimulai di format video game berupa cross-promotion deal dengan sebuah software company. Gambaran action-nya memang punya kedekatan kuat seolah pemain yang sedang memilih lawan atau amunisi untuk menumbangkan lawan-lawannya.

JW2

      Sinematografi serba muram dari Jonathan Sela, production design dari Dan Leigh (‘Eternal Sunshine of a Spotless Mind’) dan scoring dari Tyler Bates dan Joel J. Richard pun membentuk sinergi yang sangat kuat dengan action serta emosinya. Selagi Reeves dan Nyqvist, aktor Swedia yang kian sering bermain sebagai antagonis di film-film Hollywood, muncul dengan powerful chemistry di tengah permainan code of honour itu, masih ada Willem Dafoe, John Leguizamo, Ian McShane dan Lance Reddick untuk mewarnai subplot ini. Alfie Allen sebagai sentral konfliknya juga bagus, dan menambah dayatarik action-nya, ada Adrianne Palicki, David Patrick Kelly hingga aktor laga terkenal Daniel Bernhardt yang mengisi salah satu highlight one on one fight terbaik ‘John Wick’ dengan penuh respek.

JW1

         So yes, ‘John Wick’ memang sangat ampuh menyediakan jalan bagi Keanu Reeves buat kembali ke showcase terbaiknya, beraksi di tengah-tengah rumbling action yang sangat seru dengan segala macam bentuk koreografinya. Not only a badass take on shoot ‘em up action cinema, tapi juga a remarkably stylish one, membawa pemirsanya ke atmosfer komikal yang tak selamanya bisa kita dapatkan dari genre yang sama. Luarbiasa. (dan)

GUNUNG EMAS ALMAYER : A PERIOD ROMANCE OVER A LATE 19th CENTURY STUDY ON MALAYSIAN CULTURE

•November 13, 2014 • 1 Comment

GUNUNG EMAS ALMAYER / HANYUT

Sutradara : U-Wei Bin Haji Saari

Produksi : Media Desa Indonesia, Tanah Licin Sdn. Bhd., 2012

GEA3

            Selagi karyanya begitu ditunggu oleh pemirsa negeri tetangga Malaysia, tak banyak mungkin pemirsa kita yang tahu siapa U-Wei, lengkapnya U-Wei Bin Haji Saari. Dikenal sebagai salah satu award winning director dengan profil tertinggi dalam perfilman mereka atas gebrakannya di sinema independen era awal ’90-an, U-Wei memang tak pernah benar-benar masuk ke ranah komersil film mereka. Walau begitu, film layar lebar pertamanya yang dibintangi aktris fenomenal Sofia Jane, ‘Perempuan, Isteri dan Jalang’, yang akhirnya dilepas badan sensor Malaysia dengan judul ‘Perempuan, Isteri dan …?’ merupakan massive box office hits yang menelurkan antrian sama panjang dengan ‘Jurassic Park’ di tahun 1993. Salah satu adegan paling kontroversial di tengah kritik sosial eksistensi wanita di pandangan konvensional masyarakat mereka, soal ‘nasi kangkang’ jadi salah satu yang paling banyak dibicarakan disana.

GEA5

            Langsung dianggap sebagai pionir yang membawa pembaharuan di sinema negerinya, film ketiga U-Wei yang juga kontroversial dan banyak menuai protes di Malaysia, ‘Kaki Bakar (The Arsonist)’ berhasil menembus Cannes’ Director Fortnight di tahun 1995, bahkan jauh sebelum Singapura dengan ’12 Storeys’-nya Eric Khoo, ataupun 14 tahun berselang, sutradara Malaysia lain, Chris Chong dengan ‘Karaoke’. Dan tak banyak juga film layar lebar setelahnya bersama beberapa film produksi TV, U-Wei masih mempertahankan idealismenya dengan ‘Buai Laju-Laju’ di tahun 2004. Ciri khas garapannya adalah studi kultural bangsanya yang terkesan sangat berani membenturkan tema-tema keluarga, kepercayaan, pandangan-pandangan gender serta seksual, tanpa juga jadi se-distinct karya-karya arthouse yang sama sekali sulit diterima penonton awam dengan faktor emosi yang masih sangat dipertahankan.

GEA6

            Tak banyak pula publikasi yang ada dibalik status ‘Gunung Emas Almayer’, adaptasi dari novel klasik Inggris karya penulis asal PolandiaJoseph Conrad,Almayer’s Folly’ yang aslinya berjudul ‘Hanyut’, yang tiba-tiba berubah status menjadi film Indonesia mengusung nama PH Media Desa Indonesia (‘Merah Putih’) di pengujung tahun ini. Sementara jejak berita rentang panjang produksi hingga penayangannya ke berbagai festival internasional dari Dubai hingga jadi film pembuka ‘JAFF (Jogja-Netpac Asian Film Festival)‘ 2013, masih dengan judul ‘Hanyut’ dan diproduksi oleh PH Malaysia, Tanah Licin Sdn. Bhd. dengan dukungan dana dari FINAS, korporasi nasional pengembangan film mereka, masih dengan mudah bisa diakses dimana-mana.

GEA11

          Oh ya, ‘Gunung Emas Almayer’, judul yang akhirnya dipakai untuk peredaran internasional agar lebih menarik atas status novelnya yang sudah dikenal banyak orang, tak salah juga ketimbang judul semula ‘Hanyut’ yang bisajadi lebih akrab dengan persepsi Melayu namun bermakna jauh lebih filosofis, memang memuat talenta-talenta film kita di dalamnya. Selain Alex Komang dan El Manik, ada juga Rahayu Saraswati yang masih punya kaitan sangat dekat dengan Media Desa. U-Wei pun memang sebelumnya sudah sering bekerja sama dengan salah satu film composer kita, Embie C. Noer, di beberapa karyanya. Peran utamanya sendiri dipegang oleh aktor Australia Peter O’Brien yang kebanyakan berkiprah di serial televisi seperti ‘The Flying Doctors’, ‘Queer as Folk’, serta pernah pula tampil dalam ‘X-Men Origins : Wolverine’.

GEA1

        Selagi media negaranya sendiri masih bertanya-tanya di awal publikasi rilis perdananya di Indonesia, mungkin yang lebih penting adalah statement U-Wei sendiri, dimana ia mengatakan bahwa karyanya tak akan komplit kalau tak bisa ditonton secara luas. Mari tak mempermasalahkan lebih jauh apa yang ada dibalik kolaborasi ini, yang jelas, tiga tahun setelah tahun pembuatan dan perjalanannya ke berbagai festival tadi, akhirnya kita bisa menikmati karya U-Wei yang memakan proses hampir tujuh tahun sebagai salah satu film Malaysia berbujet paling tinggi ini.

GEA10

         Kasper Almayer (Peter O’Brien), pedagang Belanda yang hidup di tengah-tengah situasi kolonial MalaysiaMalaka akhir abad ke-19, tengah berada dalam kondisi sulit. Selagi obsesinya menemukan emas dibalik mitos penduduk di daerah pegunungan tak kunjung berhasil atas halangan dari tentara kolonial, ulah bajak laut serta kepentingan politik Raja Ibrahim (El Manik) dan orang kepercayaannya, Orang Kaya Tinggi (Khalid Salleh, aktor langganan U-Wei dari ‘Kaki Bakar’ dan ‘Jogho’), kepulangan putrinya Nina (Diana Danielle), hasil pernikahan negosiasinya dengan wanita lokal, Mem (Sofia Jane setelah lama tak tampil di layar lebar), yang kini bermusuhan dengannya, malah menimbulkan masalah baru. Nina yang kini punya pandangan modern hasil menuntut ilmu dengan budaya barat di Singapura, tak bisa memenuhi harapan Almayer dengan impian-impian kosongnya. Menolak permintaan anak pedagang Arab Sahed Rasyid (Bront Palarae) melalui pamannya (Alex Komang), Nina malah menjalin hubungan dengan Dain Maroola (Adi Putra), putra mahkota salah satu kerajaan Melayu, yang semakin dalam menjanjikan harapan atas gunung emas dibalik rencana lain melawan kolonialisme Inggris dengan menyeludupkan bubuk mesiu. Pertentangan Almayer atas hubungan ini akhirnya memuncak bersama rencana pelarian Nina dan Dain di tengah pencarian tentara kolonial yang menganggap Dain sebagai buronan, sementara masih ada penjual kue asal Jawa, Tamina (Rahayu Saraswati) yang selama ini mencintai Dain.

GEA8

         Sama seperti film-film U-Wei yang lain, sebenarnya tak sulit untuk menemukan jawaban mengapa ia memilih novel Joseph Conrad untuk kembali ke layar lebar setelah cukup lama stagnan dalam karirnya. Dibalik kisah percintaan lintas budaya di tengah kolonialisme zaman itu, ada konflik keluarga serta gambaran lapisan masyarakat Melayu dengan ragam kultur yang kuat membentuk karakter-karakter serta motivasi mereka. Dan judul Gunung Emas sama sekali tak membawanya ke ranah adventure, walaupun ada elemen itu disana, namun lebih menjadi simbol kuat atas keangkuhan dan harapan-harapan dari tokoh-tokohnya.

GEA9

         Sophisticated touch U-Wei masih jelas terlihat di tengah pendekatan-pendekatan dramatisasi yang cenderung sangat teatrikal tapi tak lantas kehilangan sentuhan komunikatifnya diatas bangunan set, teknis dan production values lain dari desain produksi Sam Hobbs (‘Beneath Hill 60’) yang dibangun di Kuala Lipis dan Pekan, PahangMalaysia, dan memang jelas menggambarkan bujetnya yang tak sedikit. Malah, tak jadi kelewat kolosal maupun bombastis, elemen-elemen ini berhasil menciptakan latar yang kuat serta terlihat cukup megah untuk guliran plot-nya. Scoring dari Cezary Skubiszewski (‘Beneath Hill 60’, HBO series’ ‘Serangoon Road’) dan sinematografi DoP Polandia Arkadiusz Tomiak juga sama baiknya dalam menekankan konflik interkultural beserta lapis-lapisannya ini.

GEA7

           Bagi sebagian orang, yang paling muncul ke permukaan setelah penjelasan panjang karakternya mungkin adalah sebuah kisah cinta yang mungkin terasa tak benar-benar matang, tapi percayalah, novel aslinya pun tak pernah mengedepankan sisi itu, melainkan lebih ke character study diatas penelusuran antropologis terhadap koneksi interkultural di masa kolonialisme Malaysia tadi. Dan semua bisa tersampaikan dengan baik oleh akting-akting kuat para pendukungnya. Chemistry-nya sedikit naik turun, memang, baik antara Diana Danielle dengan Peter O’ Brien dan Adi Putra, namun masing-masing bisa tampil cukup baik, terlebih Sofia Jane yang selalu bisa jadi sorotan utama, Khalid Salleh, bersama sederet aktor-aktor kita terutama El Manik dan Rahayu Saraswati yang memang mendapat porsi lebih dibanding Alex Komang. Sementara Bront Palarae, rising actor di industri film mereka yang barusan muncul dalam film Nik Amir Mustapha, ‘Nova : Terbaik dari Langit’ juga jadi dayatarik lebih bagi pemirsa lokalnya.

GEA4

          Sayang sekali memang promosi atas rilis perdananya di Indonesia masih terasa kurang maksimal di tengah banyaknya pertanyaan-pertanyaan tak terjawab atas status kepemilikan filmnya sendiri, belum lagi digerus oleh dua blockbuster Hollywood paling ditunggu tahun ini, ‘Interstellar’ dan ‘Big Hero 6’ yang jauh lebih menyita perhatian. Begitupun, ‘Gunung Emas Almayer’ tetaplah karya sinematis yang sangat layak untuk disimak dan sayang sekali kalau sampai terlewat. Memuat studi atas kultur masyarakat Melayu di zamannya, dari masalah kolonialisme ke perdagangan antar bangsa hingga hubungan-hubungan lintas kultur ini juga sekaligus jadi media yang bagus untuk lebih mengenal sepak terjang U-Wei menunjukkan sisi berbeda sinema Malaysia yang selama ini mungkin luput dari perhatian kita. (dan)

KUNG FU JUNGLE (一个人的武林) : THE REAL KNOCKOUT TRIBUTE TO HK ACTION CINEMA’S UNSUNG HEROES

•November 12, 2014 • 1 Comment

KUNG FU JUNGLE (一个人的武林) 

Sutradara : Teddy Chan

Produksi : Emperor Motion Pictures, Sun Entertainment Culture, Beijing Silver Moon Productions, 2014

KFJ11

            Tak ada yang menyangkal kalau bahkan melebihi Jet Li atau Jackie Chan, sekarang, Donnie Yen, adalah HK Cinema action hero terdepan. Sayangnya, satu kekurangan Yen di rentang panjang naik turun karir yang sudah dimulai sejak awal ’80-an itu, adalah inkonsistensi dalam pemilihan peran. Ia memang sudah kembali berada di puncak sejak ‘Seven Swords’ dan bertahan dengan sejumlah film-film action HK terbaik seperti ‘SPL (Sha Po Lang)’, ‘Flashpoint’, ‘Bodyguards and Assassins’ dan tentu saja ‘Ip Man’. Namun beberapa film terakhirnya di genre aksi, dari ‘Special ID’, ‘Iceman’ dan ‘The Monkey King’ yang benar-benar kacau balau walaupun jadi box office hits, lebih berupa continued misfires untuknya.

KFJ6

            Walau tak sampai menurunkan pamornya, mau tak mau, ekspektasi itu sedikit menurun kala ‘Kung Fu Jungle’, yang lagi-lagi, seperti beberapa filmnya, tak semulus itu menempuh waktu cukup panjang dengan berbagai perombakan judul untuk dirilis, dari ‘Last of the Best’ ke ‘Kung Fu Killer’. Tapi ternyata di tangan sutradara Teddy Chan (‘Bodyguards and Assassins’), resepsi-resepsi awalnya muncul dengan sangat menjanjikan. Ditambah sebuah tribute effort dari Chan dan produser Albert Lee menuangkan suatu meta baik ke sosok Yen dibalik kemampuan mixed martial arts mencakup boxing, Brazilian Jiu-Jitsu, Judo, Kickboxing, Taekwondo, Wing Chun, Bruce Lee’s Jeet Kune Do, Wrestling hingga Wushu dan sejarah panjang sinema aksi HK, ini seperti jalan yang tepat untuk kembali.

KFJ9

            Ha Hou Mo (Donnie Yen), guru silat paling disegani di Hong Kong yang menjalani profesinya sebagai instruktur bela diri di kepolisian, terpaksa menyerahkan diri kepada polisi atas sebuah kasus pembunuhan. Namun tiga tahun kemudian, ia terpaksa kembali ke jalan dibalik perjanjian kerjasama dengan inspektur wanita Luk Yuen-sum (Charlie Young) ketika sebuah pembunuhan berantai menyerang mantan-mantan jago bela diri seangkatannya. Sementara tersangka utama, Fung Yu-sau (Wang Baoqiang), lelaki pincang dengan motivasi misterius mulai memaksa Hou Mo membuka rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat bersama cat and mouse game untuk menebak korban berikutnya, bahkan dari partner sekaligus kekasihnya, Sinn Ying (Michelle Bai) yang juga kini ikut terancam bahaya.

KFJ10

            Tak ada yang terlalu spesial dalam plot whodunit murder mystery yang bukan juga disimpan rapat diatas predictable twist lain yang disiapkan Teddy Chan bersama dua penulis lain, Lau Ho-leung dan Mak Tin-sau di pengujung ceritanya. Namun satu hal paling unik adalah bagaimana mereka memuat various forms dari Chinese Martial Arts berikut filosofi-filosofinya untuk membangun sebuah serial murder thriller diatas gelaran adegan-adegan pertarungan seru yang sudah dimulai sejak menit-menit awal ‘Kung Fu Jungle’ lewat 1 against 17 prison riot fight scene.

KFJ5

            Belum lagi, selipan tribute seperti yang sudah dilansir Chan sejak lama. Menampilkan lebih dari tigapuluh nama-nama besar dalam industri lokal genre aksi mereka sebagai cameo, baik sutradara, produser, action choreographer hingga aktor, bahkan seperti Jackie Chan dan Lau Kar Leung yang hanya sekedar tampil lewat excerpts layar kaca mengiringi plot-nya, dari era Shaw Brothers ke sinema modern-nya termasuk David Chiang (credited as John Chiang), Randy Meng Hai, Yuen Cheung-yan, Andrew Lau, Kirk Wong, Bruce Law hingga Raymond Chow berikut Louis Fan Siu Wong dan Xing Yu sebagai supporting actor-nya, ini jadi dayatarik tersendiri bagaikan menebak-nebak ‘who’s who’ di sepanjang filmnya bersama nostalgic feel, terlebih untuk penonton yang tumbuh besar dengan genre ini.

KFJ1

            Memerankan karakter klise film aksi jagoan pensiun yang terpaksa turun gunung akibat keadaan, di usianya yang ke-51, Donnie Yen tampak masih sangat tangguh meng-handle kemampuan mixed martial arts-nya buat berpadu dalam koreografi aksi yang tak main-main, jadi salah satu kiprah terbaik dalam sejarah karirnya dibantu oleh aktor/koreografer Stephen Tung Wai. Sisipan dramanya juga bisa diselipkan dengan racikan yang pas dalam memuat filosofi-filosofi bela diri sekaligus jadi motivasi kuat dari karakter-karakter sentralnya. Dukungan dari Charlie Young dan Michelle Bai juga menghadirkan distraksi cantik tapi tak kalah tangguh di tengah perseteruan kung fu masters ini, sama sekali bukan sekedar damsels in distress, sementara masih ada aktor lawas Alex Fong yang masih sangat sering muncul di film-film HK belakangan.

KFJ3

            Namun yang paling mencuri perhatian adalah aktor Wang Baoqiang yang mungkin tak pernah diperhitungkan bakal jadi toughest opponent buat Donnie Yen. Walau punya skill kung fu didikan Shaolin Temple, paling dikenal lewat kiprahnya dalam ‘A World Without Thieves’ dan massive China hitLost In Thailand’, dan sebenarnya sudah bermain bersama Yen di ‘Iceman’, Baoqiang tergolong jarang menunjukkan kemampuan bela diri-nya dalam film. Mungkin tersandung fisiknya yang tak punya paras memikat, disini, memerankan lelaki pincang dengan ambisi luarbiasa bersama sempalan dramatisasi diatas motivasinya, karakternya terlihat sangat convincing, punya emotional sparks, sekaligus mematikan.

KFJ7

            Dan hal terbaik dari ‘Kung Fu Jungle’ pastilah ada pada final fight yang memang jadi satu yang ditunggu-tunggu baik oleh fans maupun penyuka sinema aksi HK sebagai syarat penilaian utama film-film aksi Donnie Yen. Di-set pada malam hari di tengah-tengah jalan bebas hambatan yang dilalui truk melaju kencang, one on one climax antara Donnie Yen vs Wang Baoqiang menggunakan segala jenis jurus hingga pertarungan toya bambu penyangga berukuran panjang ini benar-benar muncul dengan intensitas tinggi bahkan melebihi pencapaian terbaiknya di ‘SPL’ atau ‘Flashpoint’. Ada sedikit anti-klimaks demi penekanan martial arts philosophy-nya, but the rest, no holds barred and absolutely breathtaking.

KFJ4

            Seakan excitement-nya masih belum cukup, tunggu hingga closing credits-nya bergulir dengan penghormatan luarbiasa Teddy Chan terhadap nama-nama besar dalam tribute effort tadi. Paying his respect like an ultimate ode to HK action cinema, diiringi dengan chinese traditional music yang berdentum mengantarkan excerptsKung Fu Jungle’ berisi cameo para sineas yang dianggap berjasa terhadap genre-nya, ini jadi penutup yang sangat megah ke keseluruhan filmnya. Not only marked the comeback of Donnie Yen at what he did best, but also the real knockout tribute to these unsung heroes! (dan)

KFJ2

INTERSTELLAR : A LARGER THAN LIFE – GREATER THAN LOVE SPACE ODYSSEY

•November 9, 2014 • 1 Comment

INTERSTELLAR

Sutradara : Christopher Nolan

Produksi : Syncopy, Lynda Obst Productions, Legendary Pictures, Warner Bros, 2014

INS11

            Bukan rahasia lagi kalau sebagai sutradara dalam film-filmnya, visi seorang Christopher Nolan hampir selalu terlihat berusaha melampaui pencapaian sinematis di film-film dia sebelumnya. Bergerak dari sana, ‘Interstellar’ sebenarnya bukanlah ide asli Nolan. Datang dari produser Lynda Obst dan gravitational – astrophysics expert Kip Thorne, yang sebelum ini sudah bekerjasama di adaptasi Carl Sagan, ‘Contact’ yang disutradarai Robert Zemeckis, ‘Interstellar’ pada awalnya diperuntukkan buat Steven Spielberg, yang mengontrak Jonathan Nolan untuk menulis skripnya.

INS8

            Namun perpindahan DreamWorks ke Walt Disney membuat Paramount mengalihkannya ke Christopher Nolan atas saran Jonathan. Rewriting Jonathans script, ‘Interstellar’ sungguh tak secepat itu kembali ke proses produksi. Lagi-lagi, visi Nolan untuk menuangkan fantasi sedekat mungkin ke realitas secara logis, membutuhkan riset panjang tentang aspek-aspek astrofisika-nya, dari usaha Jonathan belajar lebih dalam tentang teori relativitas ke institusi teknologi di California hingga konsultasi-konsultasi lebih dalam dengan sejumlah key persons ke fasilitas-fasilitas NASA.

INS4

            Hasilnya, ‘Interstellar’ memang jadi proyek Nolan paling ambisius dalam sejarah karirnya. Sejumlah referensi sci-fi yang sudah dilansirnya sejak jauh hari, dari ‘2001 : A Space Odyssey’, ‘The Right Stuff’ di space odyssey part dan proses-prosesnya, ‘Alien’ dan ‘Star Wars’ di desain produksi hingga spirit utama ke sci-fi klasik Spielberg seperti ‘Close Encounters of the Third Kind’ dan ‘Jaws’ untuk menekankan status blockbuster serta tema keluarga yang diusungnya sebagai inti permasalahan di tengah pertanyaan mendalam ‘Interstellar’ tentang eksistensi manusia di tengah dimensi alam semesta dan jagat raya yang kebanyakan masih terjelaskan secara teoritis.

INS1

            Dan inilah yang sebenarnya sama menarik dengan penelusuran astrophysics science itu, dari teori-teori dimensional angkasa luar, blackhole or wormhole, Murphy’s Law, Newton, fisika kuantum atau aplikasi relativitas waktu oleh Einstein, yang mungkin tak sedalam itu juga dimengerti pemirsa yang tak mendalami bidang keahliannya. Bahwa seperti apa yang dilakukan Alfonso Cuarón lewat ‘Gravity’ tahun lalu, melemparkan spirit tentang motherhood ke tengah bintang-bintang dalam kisah perjalanan angkasa luarnya, core terkuat penceritaan ‘Interstellar’ dibangun dari sebuah father to daughter theme yang sudah terbaca dari sebelumnya. Sementara soal cast, satu yang menjadi sangat krusial di film-film Nolan, berupa ensemble ‘A-class actors’ yang tetap dipertahankan, selalu jadi bonus yang memperkuat ambisi serta idealismenya ke teknik-teknik sinematis.

INS12

            In the near future, dimana bumi tak lagi bersahabat terhadap manusia, terutama dengan serangan badai debu yang meluluhlantakkan produksi pertanian, sebuah keluarga petani, sang ayah – duda Cooper (Matthew McConaughey), mantan calon pilot NASA, mertuanya, Donald (John Lithgow) dan dua putra-putrinya, Tom (dewasanya diperankan Casey Affleck) dan Murph (dewasanya diperankan Jessica Chastain) terpaksa berhadapan dengan takdir yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Minat lebih Cooper dan Murph tentang science atas fenomena-fenomena aneh yang terjadi di perpustakaan pribadi Murph membawa mereka ke pusat penelitian rahasia NASA yang dikepalai oleh Professor Brand (Michael Caine). Soon after that, melawan larangan Murph, Cooper terpaksa menerima permintaan Brand, bergabung bersama putri Brand, Amelia (Anne Hathaway), ahli fisika Romily (David Gyasi) dan geography-expert Doyle (Wes Bentley) menjadi pilot pesawat angkasa eksperimental ‘Endurance’ melintasi perbedaan ruang dan waktu melalui blackhole yang mereka namakan ‘Gargantua‘ menyusul misi pertama yang masih terjebak mencari peradaban baru di galaksi lain demi menyelamatkan masa depan kemanusiaan dan generasi penerusnya. Tentu saja, perjalanan itu tak semudah yang mereka perkirakan. Revealing the rest, could be a huge spoiler. And no, ini bukan ‘Armageddon’ walaupun keyword-nya adalah saving mankind and humanity.

INS5

            Yes, ‘Interstellar’ tetap adalah sebuah sci-fi blockbuster. Outer space epic ambisius yang dibuat di bawah visi Nolan menggelar pemikiran-pemikiran distinct-nya dalam memandang teknologi sinematis, yang jelas bukan sekedar menjual boom-bang action secara bombastis. Dan ini berbeda lagi dengan ‘Gravity’ walaupun di tengah pertanyaan dan metafora filosofisnya tentang eksistensi manusia, perbandingan antara keduanya sulit untuk dihindari. Selagi Cuarón menggelar minimalistic filmmaking dari ide, set hingga karakter untuk membangun filosofi-filosofinya, Nolan sama sekali tak begitu. Again, dibalik segmen-segmen ide yang jauh lebih kompleks serta thought-provoking yang seakan membuat ceritanya mungkin terlihat mustahil untuk dirangkai jadi satu walaupun durasinya mau tak mau harus melebar, dipenuhi layered twist serta tetap menyisakan pertanyaan-pertanyaan ala Nolan, ‘Interstellar’ adalah sebenar-benarnya sebuah sci-fi blockbuster.

INS14

 

            Dan Nolan tentu tak berusaha membuat semua teori astrofisika yang walaupun sudah melalui riset ini itu tapi sebagian besar implikasinya masih terbatas di literatur itu menjadi nyata. Ia hanya melangkah dengan usaha akurasi yang bisa terasa lebih logis dalam menyatukan ujung-ujung benang merah ide ambisius itu ketimbang terlihat hanya berupa khayalan belaka. Skrip yang ditulis duo Nolans ini pun tak berniat membuat pemirsanya terjebak dalam kebingungan mengaplikasikan istilah-istilah ilmiah itu, dimana seperti tenaga ahli yang tengah membuat tulisan awam secara umum, penjelasan-penjelasan singkatnya tetap diusahakan muncul dalam dialog-dialognya. Sebagian orang boleh saja berpanjang-panjang meributkan plothole ini dan itu, namun tata visualnya menyusun segmen-segmen pemikiran tadi menjadi sebuah gambaran utuh yang mengarah pada satu konklusi penting dan sangat universal tentang eksistensi manusia di tengah semesta penuh misteri benar-benar mampu membuat kita tercengang.

INS7

              Desain produksi dari Nathan Crowley (juga bekerja di sebagian besar film-film Nolan), sinematografi Hoyte von Hoytema (‘Tinker Taylor Soldier Spy’ dan ‘Her’) yang menggantikan Wally Pfister serta VFX supervisor Paul Franklin dari Double Negative (‘Inception‘) sudah menghasilkan visual sempurna mengantarkan seluruh adegannya dengan penekanan-penekanan penting di penelusuran science-nya. In Nolans cinematic style, dimana format film pun akan punya arti, IMAX jadi sesuatu keharusan, ketimbang mentok jadi sekedar asesoris. Ada sedikit cacat yang diributkan banyak orang dalam tata suaranya, meski tak sampai merusak bangunan apapun, tapi scoring Hans Zimmer, meski tetap hadir dengan feel majestic seperti biasanya, tak pernah gagal mengantarkan sparks of emotions dalam tiap pengadeganannya.

INS6

            Di departemen akting, ‘Interstellar’ juga tak sekedar menempatkan A-list actors-nya secara sia-sia. Walau tetap memerankan typical southern hunkMatthew McConaughey, dalam salah satu penampilan terbaiknya, menerjemahkan emosi luarbiasa bersama chemistry-nya dengan pemeran Murph muda, Mackenzie Foy, serta Jessica Chastain walaupun mereka nyaris tak pernah bertemu dalam scene yang sama. Anne Hathaway mengisi perannya dengan female lead distraction yang kuat di tengah-tengah father to daughter theme sebagai sentral utama, dan masih ada Wes Bentley, Casey Affleck, David Gyasi, David Oyelowo hingga senior macam Ellen Burstyn, John Lithgow dan of course, Michael Caine, yang merepresentasikan father to daughter plot lain dengan Hathaway, plus Topher Grace dan Matt Damon yang juga ikut meramaikan ensemble cast ini. Bahkan Bill Irwin dan Josh Stewart yang mengisi suara robot TARS dan CASE, dalam visi non-bombastic Nolan menggambarkan robotic lifeform yang minimalis, ikut memberikan sentuhan yang bagus.

INS15

            But above all, being something way more than you can imagine, bahkan terhadap penonton yang sudah membaca outline kisahnya akan jadi seperti apa, hal terkuat dalam ‘Interstellar’ adalah core terbesar yang dibidik Nolan sebagai konklusi penyampaiannya soal dimensi galaksi yang berbeda diatas planet bernama bumi yang kita huni sekarang. Menggelar adegan klimaks yang teramat sangat menggetarkan, bahkan membuat kita terhenyak dalam tangis seindah visual luarbiasa dimana seluruh jawabannya terhubung satu dengan yang lain, ia tak lantas kelihatan memilih salah satu antara science atau reliji / biblical thoughts seperti kelemahan terbesar Zemeckis membesut ide luarbiasa Carl Sagan dalam ‘Contact’, tanpa juga membuat kita memikirkan kemungkinan-kemungkinan ini itu. ‘2001 : A Space Odyssey‘ atau ‘Contact‘ bersama beberapa space travel film lainnya boleh jadi sudah memulai gambaran mereka diatas bab-bab kecil teori relativitas waktu dalam astrofisika, tapi melengkapinya seperti satu textbook lengkap memuat teori lain yang saling bersinggungan, ‘Interstellar‘ cukup mengambangkan semua pertanyaannya menuju satu konklusi yang sangat universal bernama cinta diatas penjelasan seluruh fenomena science-nya. Mindblowing, breathtaking yet also heartbreaking, dibalik Caines character recite of Dylan Thomasfamous refrain of the poem that haunted us long after the film ends, ‘Do not go gentle into that goodnight. Rage, rage, into the dying of the light.’

INS13

            Dan tak perlu juga mengerti sedalam apa konklusi ini menjadi metafora yang mengantarkan sepenggal epilog heroik di bagian pengujungnya, bahkan kalau perlu meninggalkan segala tetek-bengek teori science-nya, Nolan cukup meminta kita merasakan perjalanan spiritual yang digelarnya di sepanjang adegan multi-dimensional ‘Interstellar’ dengan hati sebagai bagian terbaik film ini, seperti yang diakui Nolan, bahwa ‘Interstellar‘ sekaligus berupa love letter sangat personal yang diperuntukkan buat putrinya. As simple as father to daughter love diatas heartful question yang sangat menyentuh ‘What if the answer to ‘how far would you go for someone you loved’ is a lifelong years?’ sebagai motivasi terdasar yang ingin ia sampaikan ke tengah-tengah space odyssey-nya di ‘Interstellar’ . That only love can transcend time and space, sekaligus jadi kunci untuk sebuah peradaban agar terus bisa mencari jalan buat bertahan. A larger than life – greater than love space odyssey, one of the best in years, yang jelas akan segera jadi salah satu touchstone for future films di genre-nya, lama diingat setelah ini, dan lagi-lagi, film yang membuat kita ingin segera pulang, memeluk erat dan melewatkan waktu bersama orang-orang terdekat kita. A masterpiece. (dan)

[TIFF TOKYO REVIEW] BIG HERO 6 : DISNEY’S LOVE LETTER TO JAPAN CULTURE, BUT NOT ENOUGH

•November 5, 2014 • Leave a Comment

BIG HERO 6

Sutradara : John Lasseter

Produksi : Walt Disney Studio Animation, 2014

BH611

 

            Saat edisi ke-27 ‘Tokyo International Film Festival (TIFF)’ merayakan genre animasi sebagai sorotan spesialnya di Tokyo kemarin, proses pemilihan produk terbaru Disney, ‘Big Hero 6’ sebagai sajian pembukanya adalah sebuah serendipity. Jelas-jelas, ‘Big Hero 6’ yang diilhami dari database Marvel dibalik kolaborasi resmi pertama mereka setelah akuisisi raksasa itu dari source-nya saja sudah dipenuhi nods ke kultur anime Jepang. Dan walau datang dari ide sutradara Don Hall (‘Winnie the Pooh’) atas perintah CEO Disney Bob Iger, bersama Chris Williams (‘Bolt’) yang belakangan bergabung, key factor-nya adalah John Lasseter, yang lagi-lagi, punya kecintaan begitu besar pada kultur negeri ini atas inspirasi karir dan persahabatannya dengan seorang Hayao Miyazaki.

BH62

            Lagipula, dengan kenyataan Jepang sebagai penyumbang terbesar kesuksesan luarbiasa ‘Frozen’, meski ‘Big Hero 6’ sudah digagas jauh sebelum itu, again, a serendipity, lengkaplah sudah motivasinya. Setelah ‘Wreck-it Ralph’ yang juga mengemas tribute cross-culture ke ranah video game, ini hampir berupa hadiah penuh terimakasih untuk Jepang dengan elemen anime-nya. Jelas tak ada yang lebih pantas menjadi film pembuka festival film internasional mereka yang tengah menyorot fokus animasi daripada ‘Big Hero 6’.

BH63

            Di tengah prosesnya, perbedaan ide boleh saja memicu perseteruan antara Disney-Marvel yang sudah diberitakan sebelumnya, namun jelas, Disney yang sudah mengakuisisi Marvel tetap punya bargaining power lebih tinggi. So be it, dengan desain final untuk penyatuan source asli yang dipoles jauh ke ranah Disney, status akhirnya lebih ke sebuah inspirasi ketimbang adaptasi. Apalagi, rights ke dua karakter dalam timnya sudah keburu dipegang studio lain dan belum bisa dilepas. Hasilnya adalah sebuah cross-culture animation dengan high concept dari karakter hingga ke background set-nya yang berupa fictional hybrid city bernama San Fransokyo. You guess, tapi sejauh mana keseimbangannya menciptakan sebuah benchmark baru setelah standar Disney dilambungkan teramat jauh oleh ‘Frozen’?

BH67

            Berbeda dengan kakaknya Tadashi (disuarakan Daniel Henney), sesama yatim piatu yang diasuh bibinya, Aunt Cass (Maya Rudolph) yang sama-sama punya otak encer dibalik talenta seorang roboticist, bocah 14 tahun Hiro Hamada (Ryan Potter) lebih memilih menggunakan keahliannya berjudi di arena underground battlebot. Mengetahui keahlian adiknya, Tadashi pun mengenalkan Hiro ke dunianya, di pusat riset San Fransokyo Tech, dimana ia tengah merancang sebuah caregiving robot bernama Baymax (Scott Adsit) bersama rekan-rekannya, all robotic geeks, Gogo si insinyur jenius (Jamie Chung), Wasabi, spesialis laser (Damon Wayans, Jr), Honey Lemon si ahli kimia (Génesis Rodriguez) dan Fred the college dropout nerd-slacker (T.J. Miller). Sayangnya, sebuah bencana kemudian meluluhlantakkan hubungan Hiro dan Tadashi dibalik keberadaan Baymax sebagai satu-satunya harapan, sementara takdirnya membawa mereka semua ke nemesis baru bernama Yokai / Mr. Kabuki yang mencuri penemuan Hiro untuk rencana jahatnya.

BH65

            Oh yeah. Begitu cantiknya tim Disney merancang cross culture animation ini dengan detil-detil di gambaran background set San Fransokyo. Menggabungkan landmark-landmark dari kedua kota beda negara itu dengan kreativitas tinggi, skrip yang ditulis oleh Robert L. Baird, Dan Gerson (keduanya dari franchise ‘Monsters, Inc.’) dan Jordan Roberts juga menyematkan sejumlah nods ke plot standar anime yang tak jarang menyentuh wilayah lebih gritty dengan kesulitan lebih para jagoan mengalahkan musuh mereka. Sementara tema sentral brother to brother-nya digagas dengan dramatisasi ala Asia yang dipenuhi hati, kadang mendayu-dayu namun sangat emosional menyentuh realitas keintiman interaksi karakter sekelas produk-produk Pixar, sambil tak lupa menggelar gegap-gempita komedi ala Disney ke dalamnya.

BH68

            Efek animasi untuk menciptakan adegan-adegan aksinya pun tak main-main. Dari sisi ini, ‘Big Hero 6’ menjadi hiburan yang sangat seru di tengah kompleksitas racikannya. Desain Baymax yang diilhami teknologi pumped vinyl robot pun jadi karakter dengan kualitas instant classic untuk segera bersanding dengan karakter-karakter legendaris Disney. Begitu mencuri perhatian diantara karakter-karakter lain sebagai daya tarik terkuat untuk jualannya ke segmentasi segala umur. Belum lagi scoring Henry Jackman dengan theme song yang juga cukup kuat dari Fall Out Boy, ‘Immortalplus tambahan ballad song khusus untuk Japanese release, ‘Story’ dari artis lokal mereka, Ai sebagai second end credits song-nya.

BH64

            Sayangnya, desain human characters-nya tak bisa mengimbangi background dan teknis VFX-nya. Malah, di sisi ini, ‘Big Hero 6’ seakan masih terasa kelewat Amerika dibalik nama-nama karakter asli Jepang walaupun ada kompromi untuk menjelaskan percampuran origin mereka. Mungkin, di satu sisi, mereka tak mau benar-benar jatuh ke ranah anime, tapi bahkan detil-detil karakter extras pun, hampir sama sekali tak menyisakan cross culture yang seimbang dalam konsep tadi. Ini pilihan, memang, tapi untuk mewujudkan sebuah love letter bagi kultur anime, sungguh belum cukup secara keseluruhannya.

BH66

            Dan lagi, kekurangan terbesarnya adalah fokus yang terasa sangat tak seimbang ke layered conclusions-nya, seakan kita melihat dua ending berbeda dari sebuah film. Saat di satu sisi permainan emosi menjelang ending di subtema ‘coming of age’-nya bisa bekerja begitu kuat, skrip ‘Big Hero 6’ justru meninggalkan peran karakter lainnya tak lebih dari sebatas sidekick ketimbang Hiro dan Baymax, dan membuat konklusi setelahnya, dimana konsep superhero story itu pada akhirnya digelar, jadi tak lagi terasa se-moving yang diharapkan . Kita bisa dengan cepat mengingat karakter-karakter lain, namun screentime-nya, jauh tertinggal di belakang, bahkan terasa tak setia ke judul yang dipilih untuk menggambarkan karakternya sebagai tim. Disini, judul resmi rilisnya di Jepang, ‘Baymax’ mungkin jauh lebih layak ketimbang ‘Big Hero 6’.

BH69

            Though however, kekurangan ini tak lantas membuat ‘Big Hero 6’ jatuh menjadi karya Disney yang berstatus medioker. Tak adil juga membandingkannya dengan kedigdayaan ‘Frozen’ yang berada di ranah classic musical atau ‘Wreck-it Ralph’ dengan tribute factors yang masih jauh lebih kompleks dengan segmentasi terbatas baik dari kelas maupun usia pemirsanya. ‘Big Hero 6’, paling tidak masih punya balance yang bagus di sisi lain sebagai tontonan animasi yang jelas bisa menarik hati setiap penontonnya. Bahwa pada akhirnya ia memilih bermain-main dengan emosi sebagai titik terkuat salah satu konklusinya, universally, in every case, itu artinya, bagus. (dan)

BH610

P.S. : Just like another Marvel’s,  please stay after the  end credits.

BH61 International Poster

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 7,275 other followers