RIO 2 : A FUN BUT WEAKER SEQUEL

•April 20, 2014 • Leave a Comment

RIO 2
Sutradara : Carlos Saldanha
Produksi : Blue Sky Studios, 20th Century Fox Animation, 2014

R210

Menyusul ‘Ice Agefranchise, kesuksesan ‘Rio’ di tahun 2011 memang sangat memenuhi syarat untuk dikembangkan menjadi franchise baru Blue Sky Studios. Fabel tentang burung blue Spix’s macaw langka di tengah eksotisme Rio de Janeiro, lengkap dengan music showcase bossa nova, samba dan Brazilian jazz lain dibalik nama Sérgio Mendes sebagai music producer yang dikombinasikan dengan sejumlah musisi latin jazz hingga RnB di deretan voice cast-nya, sudah menyajikan animasi beda yang sangat fun. Apalagi, kemiripan ide lama Saldanha, juga salah seorang co-creator dan sutradara beberapa instalmen ‘Ice Age’, dengan franchiseAngry Birds’ membuat promosinya berjalan mulus di tengah kerjasama mereka dalam sejumlah tie-in products. Dan disini, mereka punya amunisi tambahan, yakni Bruno Mars sebagai salah satu pengisi suaranya.

R22

Rio 2’ berlanjut beberapa tahun setelah film pertamanya, dimana Blu (Jesse Eisenberg) dan Jewel (Anne Hathaway) sudah memiliki 3 anak, Carla (Rachel Crow), Bia (Amandla Stenberg) dan Tiago (Pierce Gagnon). Mengetahui bahwa pemilik Blu dulunya, Linda (Leslie Mann) dan Tulio (Rodrigo Santoro) tengah melakukan ekspedisi ke Amazon dan menemukan populasi Spix’s Macaw langka lain disana, Jewel mengajak Blu dan anak-anaknya untuk kembali ke kehidupan alam bebas. Dibantu rekan-rekan Blu, Rafael (George Lopez), Nico (Jamie Foxx) dan Pedro (will.i.Am), mereka pun menyusul Linda dan Tulio ke Amazon. Disana, Jewel menemukan keluarganya yang sudah lama hilang, ayahnya Eduardo (Andy Garcia) dan kakaknya Mimi (Rita Moreno). Namun kakaktua musuh bebuyutan Blu (Jemaine Clement) yang masih menyimpan dendamnya mengetahui rencana ini, sementara mafia illegal logging Big Boss (Miguel Ferrer) juga siap menghalangi ekspedisi Linda dan Tulio. Masih ada pula Roberto (Bruno Mars), kekasih masa kecil Jewel yang berseteru dengan Blu di tengah anggapan negatif Eduardo terhadapnya.

R28

Walau tetap mengusung judul ‘Rio’ dan jelas mempertahankan elemen terkuatnya, latin jazz showcase yang masih dipegang Sérgio Mendes dan komposer John Powell, skrip dari alm. Don Rhymer (kini bersama Carlos Kotkin, Jenny Bicks dan Yoni Brenner) memindahkan set-nya ke Amazon. Namun tantangan terbesarnya bukan ada disana. Seluruh voice cast intinya yang kembali termasuk penyanyi Bebel Gilberto dan Tracy Morgan pengisi suara Luiz the Bulldog tentu bagus untuk sebuah sekuel, tapi seabrek karakter tambahan sambil masih memberi ruang untuk karakter dari film pertama bisa tetap menyambung benang merah lanjutannya, sayangnya tak begitu.

R25

Bukan berarti karakter-karakter barunya tak tampil bagus sebagai voice cast-nya, selain Andy Garcia yang juga ikut menyumbangkan suaranya dalam OST sekuel ini, ada sejumlah aktris dan penyanyi yang turut memberi warna baru ke dalamnya, dari Kristin Chenoweth yang sangat mencuri perhatian lewat karakter Gabi, katak beracun sidekick Nigel hingga aktris film dan panggung senior Rita Moreno dan tentu saja kehadiran Bruno Mars bersama lagu ‘Welcome Back’ di OST-nya. Sayangnya, blend keseluruhannya terasa hadir dengan subplot tumpang tindih, meninggalkan family plot dan beberapa karakter itu jadi seolah penghias tak penting termasuk karakter Blu yang semakin annoying sebagai lead lewat suara Jesse Eisenberg, tanpa pula bisa menyatu dengan sempurna menuju klimaks klise dibalik pesan moral perlindungan alam yang sangat generik untuk sekuel-sekuel fabel sejenis. Tak seperti pendahulunya, hampir tak ada lagi komedi yang benar-benar menggigit, juga klimaks seseru film pertamanya.

R21

Begitupun, sebagai hiburan, terutama di kualitas animasi cantik, gimmick 3D yang meski tak banyak dipenuhi highlight popped-up namun memberikan kedalaman cukup detil dan sejumlah adegan-adegan musikal yang masih terasa sangat fun, ‘Rio 2’ tetap bisa bekerja sebagai animasi segala umur yang menghibur, dengan box-office potential traces yang tergambar jelas di tiap aspek yang ada tanpa juga harus mengubur kesempatan pengembangan franchise-nya ke depan. Obviously not bad, hanya saja, sedikit jauh bila dibandingkan ke film pendahulunya. Still fun, but unfortunately, a weaker sequel. (dan)

R29

TRANSCENDENCE : A ROMANCE MASQUERADING AS A SCI-FI

•April 18, 2014 • Leave a Comment

TRANSCENDENCE
Sutradara : Wally Pfister
Produksi : Alcon Entertainment, DMG Entertainment, Straight Up Films, Warner Bros, 2014

TR12

Walaupun karirnya sebagai DoP baru benar-benar dikenal sejak kerjasamanya dengan Christopher Nolan di ‘Memento’ dan berlanjut ke film-film Nolan setelahnya, Wally Pfister sudah dikenal sebagai notable cinematographer di industri film mereka. Ditambah sejumlah award dan nominasi yang diperolehnya dalam rentang karir itu, one step ahead as a director tentu bukan tak beralasan. Dan jelas pula, sedikit banyaknya, style itu pasti ikut dipengaruhi oleh pendekatan Nolan di film-filmnya. ‘Transcendence’ yang menjadi debut Pfister sebagai sutradara pun masih punya nama Nolan serta istri sekaligus partner-nya Emma Thomas di kursi executive producers.

TR6

Dibalik ambisi itu, pilihan Pfister memang tak sembarangan. Tercatat sebagai salah satu skrip dalam HollywoodsThe Black List’ 2012 yang ditulis oleh Jack Paglen, juga penulis layar lebar debut yang sudah dikontrak menangani reboot layar lebar ‘Battlestar Galactica’ nantinya, premis ‘Transcendence’ yang akhirnya dirilis setelah disimpan sekian lama, juga terlihat sama ambisiusnya. Sesuai judulnya, istilah yang secara filosofi kerap digunakan dalam idealisme teologis itu membenturkan ekses teknologi dengan humanitas dan kelompok radikal berbasis agama. Trailer-nya mungkin tak jauh beda dengan genre sejenis yang berpremis mirip, dari ‘The Lawnmower Man’ bahkan ‘Terminatorfranchise, only somehow we could predict, kiprah Nolan dan Pfister tak mungkin sekedar linear-linear saja seperti yang lainnya. Dan Pfister masih punya kekuatan lain lewat ensemble cast yang sebagian sudah pernah bekerjasama dengan Nolan dan timnya, plus Johnny Depp yang banyak ditunggu bisa melepas typecast karakter Jack Sparrow dalam filmnya. Oh yeah, there will be a twist, tapi mungkin ini bukan sesuatu yang lazim menjadi bagian dari kolaborasi mereka sebelumnya.

TR4

Bersama istri sekaligus partner, Evelyn (Rebecca Hall) dan sahabatnya Max Waters (Paul Bettany), Dr. Will Caster (Johnny Depp) tengah mengembangkan A.I. (Artificial Intelligence) mutakhir lewat sebuah advance technology dari perangkat komputer canggih yang mereka namakan ‘Transcendence’ untuk merubah masa depan umat manusia. Rencana ini tak hanya memancing perhatian pemerintah yang mengutus agen FBI Donald Buchanan (Cillian Murphy) melalui staf ahli Joseph Tagger (Morgan Freeman), namun juga kelompok radikal technophobic R.I.F.T. (Revolutionary Independent From Technology) untuk bereaksi. Penyerangan yang dipimpin oleh Bree (Kate Mara) itu lantas melakukan sabotase di event launching-nya sekaligus berakibat fatal terhadap Will lewat peluru radioaktif yang ditembakkan oleh salah satu anggotanya (Lukas Haas). Mereka kemudian merancang tindakan untuk tetap mempertahankan pikiran Will di akhir hidupnya dengan meng-upload seisi otak Will ke perangkat itu. Mengecoh Bree dan R.I.F.T. yang kemudian menyandera Max sambil berusaha meyakinkannya, Will dalam bentuk A.I.-nya membangun sentra riset baru bersama Evelyn di sebuah kawasan terpencil lewat bantuan kontraktor lokal Martin (Clifton Collins, Jr.). Melanjutkan tujuan awalnya lewat rekayasa nanotechnology yang bisa mereparasi sel dalam kerusakan apapun, penemuan ini dengan cepat memicu harapan banyak orang setelah sebuah video menyebar secara viral, namun di sisi lain justru jadi tantangan baru terhadap eksistensi kemanusiaan. Baik R.I.F.T., Max, Joseph dan Donald yang akhirnya mengetahui lokasi mereka datang menyambangi dengan maksud masing-masing, namun kekuatan Will sudah terlalu jauh untuk bisa mereka hentikan, bahkan ketika Evelyn mulai goyah dengan hati dan kepercayaannya.

TR1

Okay. Panned by critics hingga hanya memperoleh belasan persen total penilaian di situs Rotten Tomatoes yang banyak jadi acuan generasi soc-med sekarang, ‘Transcendence’ memang punya sisi sangat rumit dalam penyampaian keseluruhannya. Bermain di visi-visi science versus humanity dengan sejumlah paradoks bahkan melebar ke aliran-aliran radikal lewat seabrek karakternya, skrip thought-provoking Jack Paglen memang sedikit terlihat kesusahan membangun fokusnya, terlebih ke kalangan penonton yang mungkin masih jarang-jarang mendengar potensi nanotechnology di terapan-terapan rekayasa seluler masa depan sebagai subjek krusial jauh melebihi A.I. computer machine yang seolah hanya jadi media untuk mengembangkan ide itu. Tak heran kalau lantas banyak orang menganggap sisi sci-fi nya kelewat jauh melewati batas yang ada sekarang. Dinilai too much dan keterlaluan, konflik antara teknologi komputer dan cell repairing system-nya jadi sedikit tumpang tindih buat membangun tema ‘machine goes amok’ yang seharusnya cukup klise dalam genre-genre sejenis.

TR2

Lantas, pengarahan Pfister dalam debut penyutradaraannya ini pun agaknya masih cukup jauh dari sempurna. Seakan tak mampu memancing talenta-talenta nama besar dalam ensemble cast ini untuk tampil secara maksimal, kecuali Depp-Hall dan sedikit lebih untuk Bettany, karakter-karakter lainnya pun tak dikembangkan lebih detil dalam motivasi turnover-nya. Baik Kate Mara yang sebatas penggerak kelompok ekstrimis tanpa jiwa, Morgan Freeman dan Cillian Murphy, Clifton Collins, Jr. yang tak bisa memberi penekanannya sebagai benang merah penting dalam pergerakan plotnya, sampai yang terparah, Cole Hauser dan Falk Hentschel yang terpaksa melewatkan penampilan mereka secara terbatas sebagai algojo-algojo tak penting. Chemistry Depp dan Hall sangat kuat, namun selagi Hall berhak mendapat kredit terbesar atas heartfelt performance-nya yang betul-betul bagus, Depp hanya bagus saat berubah wujud menjadi A.I.-nya, sementara sebagai Will asli masih menyisakan sedikit jejak-jejak karakter Sparrow di penyampaian dialognya yang malas-malasan. Bettany cukup baik sebagai karakter yang dijadikan storyteller keseluruhan plot-nya, namun dillematic turnover-nya tetap tak begitu maksimal untuk terlihat benar-benar believable.

TR7

However, baik Paglen dan Pfister mungkin memang sedang menyamarkan konklusi mereka atas twist utama yang ada di dalamnya lewat segala tetek-bengek sci-fi itu. Jauh lebih dalam daripada thought-provoking science versus humanity conflict yang digelar sebagai highlight utama dalam wujud ‘Transcendence’ sebagai sebuah hi-tech blockbuster lengkap dengan adegan-adegan aksi dan efek spesial, basic plot-nya lebih dalam terasa sebagai sebuah love story yang sangat menyentuh. Pfister sebenarnya sudah memulai semuanya dengan penekanan dramatis sangat kuat di bagian-bagian awal. Ia tak langsung membenturkan science dan pertanyaan-pertanyaan humanitasnmya ke ranah love story semacam ‘Her’, tapi menggunakan DoP Jess Hall seolah jadi mata kedua penyampaian sinematografi yang tetap terlihat sangat Pfister serta scoring Mychael Danna, atmosfer romantisasi itu tetap bisa menyeruak dengan baik di tengah-tengah unsur sci-fi-nya. Hanya saja ia sedikit melupakan elemen ini di second act ke awal-awal klimaksnya dengan bombardir action scenes hingga mendekati konklusi twist and turn cukup unik yang akhirnya membuat ‘Transcendence’ kembali jadi sangat cantik dan solid sebagai sebuah romance driven sci-fi. Bahwa pada akhirnya, kita bisa jelas melihat penyematan elemen-elemen sci-fi versus humanity itu, no matter how thought-provoking, memang hanya sekedar topeng untuk menyampaikan kisah-kisah ala Rahwana dalam nafas ‘how far would you go for someone you loved’ diatas sebuah romance genre dan konklusi yang sebenarnya hendak mereka bangun.

TR5

So, seperti banyak sci-fi lain yang masih harus berurusan dengan persepsi-persepsi beda penontonnya terhadap pendekatan teknologi yang dijadikan subjek utamanya, tak heran kalau ‘Transcendence’ akan memicu resepsi-resepsi yang mixed dan sangat bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Those who loved a romance driven sci-fi akan dengan mudah bisa menyukainya, tapi sebagian lagi akan keberatan dengan elemen sci-fi yang mereka anggap melebar serta keluar jalur. Just put it like this. See it by science versus humanity, you might be lost in the middle. See it by heart, you got yourself a moving and wonderful love story. I’d gladly prefer this as a date movie, and if you’re with me, go see it and don’t listen to such bad critics. A romance masquerading as a sci-fi genre, and still, a very fascinating one! (dan)

TR11

SABOTAGE : A SHOWDOWN GONE AWRY

•April 11, 2014 • Leave a Comment

SABOTAGE
Sutradara : David Ayer
Produksi : Albert S. Ruddy Productions, Crave Films, QED International, Roth Films, Open Road Films, 2014

SB12

Pasca karir politik dan usianya yang semakin menua, mungkin banyak orang yang meragukan eksistensi seorang Arnold Schwarzenegger sebagai screen’s action hero. Toh kemunculannya dalam level makin meningkat di franchise ‘The Expendables’, ‘Escape Plan’ bahkan ‘Last Stand’ sudah menunjukkan bahwa ia masih pantas memegang label itu, meski bukan lagi beraksi hanya sendirian seperti di film-filmnya dulu.

SB5

Meneruskan pola itu, ‘Sabotage’ yang semula berjudul ‘Ten’ ini melangkah ke racikan baru yang sebenarnya sangat menarik. Helmed by David Ayer, writer-director yang dikenal dengan gritty touch-nya di ranah action-thriller kriminal, membuat tema itu hadir dengan sebuah subtlety yang kelihatan beda dengan film-film lain di genre sejenisnya, dari ‘Training Day’, ‘Fast And The Furious’, ‘Dark Blue’, ‘Street Kings’ ke ‘End Of Watch’, film ini sungguh punya potensi yang sangat spesial.

SB11

Pertama, meski bukan saduran langsung, ’Sabotage’ adalah sebuah gruesome, not just light, action yang berdiri diatas inspirasi novel terkenal Agatha Christie, ‘And Then There Were None’, also titledTen Little Niggers’ atau ‘Ten Little Indians’, sebagai salah satu novel Agatha yang paling sering diangkat baik sebagai source atau sekedar inspired ke layar lebar, bahkan sampai ke India (‘Gumnaam’, 1965) dan perfilman daerahnya.

SB6

Lantas lihat kolaborasi-kolaborasi yang ada di dalamnya. Bukan saja oleh skrip yang ditulis Ayer bersama Skip Woods, penulis dibalik well-known blockbusters dari ‘Swordfish’, ‘X-Men Origins : Wolverine’, ‘The A-Team’ hingga ‘A Good Day to Die Hard’, deretan nama dalam ensemble cast-nya juga menjanjikan. Mendampingi Arnie, ada Sam Worthington, penerusnya di ‘Terminator : Salvation’, Terrence Howard, Joe Manganiello, Josh Holloway, Max Martini dan Olivia Williams. So you see, elemen-elemen yang ada di ‘Sabotage’ sungguh tak sekedar main-main.

SB7

Dalam sebuah penggerebekan kartel narkoba yang berakhir kacau atas raibnya uang sejumlah 10 juta USD bahkan kehilangan salah satu anggota mereka, agen-agen dalam sebuah tim elit DEA (Sam Worthington, Joe Manganiello, Terrence Howard, Josh Holloway, Max Martini, Kevin Vance, Mireille Enos) yang dipimpin oleh John ‘Breacher’ Wharthon (Arnold Schwarzenegger) diskors, berbalik menjadi tersangka dan tercerai-berai. Namun tak lama setelah Floyd (Martin Donovan) tak bisa menemukan bukti, satu-persatu ditemukan tewas secara misterius. Penyidik Caroline Brentwood (Olivia Williams) dan partnernya Darius Jackson (Harold Perrineau) yang masuk ke dalam lingkaran ini malah menemukan kenyataan pelik di tengah intrik berbelit diantara anggota tim yang tersisa.

SB2

Sinked at box office and panned by most critics, bukan berarti ‘Sabotage’ sama sekali tak punya kelebihan. Meski kelihatan miscast, bagi sebagian orang mungkin akan sangat menarik melihat Arnie beranjak meninggalkan typecast-nya ke sebuah gory-sadistic action berbalut whodunit mystery plot yang tetap mengedepankan gritty atmosphere Ayer biasanya, pendukung-pendukung itu pun sebenarnya tampil dengan baik. Meski sebagian tak diberi kesempatan lebih, muncul dengan tampilan berbeda, Worthington, Manganiello, Olivia Williams dan Harold Perrineau bergantian mencuri layar lewat penampilan mereka. Namun yang paling menonjol adalah Mireille Enos dengan aura tough female kuat sebagai Lizzy.

SB4

Salahnya, kolaborasi Ayer dan Woods memang jadi bumerang ke filmya sendiri. Kesalahan terbesarnya ada pada skrip yang muncul bagaikan racikan minuman dengan rasa yang berantakan. Being not well blend, selagi Ayer terlihat sibuk memasukkan signature-nya, Woods kerap menggelar twist and turn-nya secara tak rapi. Akibatnya, action dan twisted mystery plot-nya seperti benar-benar berjalan terpisah tanpa bisa benar-benar menyatu. Pace-nya kacau, setup-setup-nya terasa overbuilt tanpa kaitan kuat satu sama lain, dan bangunan karakterisasi yang kelewat dangkal hampir tak mampu menyisakan chemistry diantara seabrek karakter itu, bahkan ke rentetan aksi di adegan klimaks yang jadi terasa berlalu begitu saja.

SB3

So yes, ini benar-benar sayang sekali. Berbeda dengan trailer-nya yang sangat menjanjikan inovasi berbeda diatas racikan elemen-elemen baru itu, hasilnya malah berbalik melakukan sabotase terhadap karir orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kecuali adegan aksi serba sadis dan tampilan fisik ensemble cast yang mungkin masih lumayan bisa dinikmati sebagai sisi hiburannya, ‘Sabotage’ tak lagi punya sesuatu yang lebih. Seperti premisnya, a showdown that gone awry, and that’s too bad. (dan)

Here’s a much better poster design :

SB10

CAPTAIN AMERICA : THE WINTER SOLDIER ; ANOTHER MARVEL’S MARVEL

•April 7, 2014 • 1 Comment

CAPTAIN AMERICA : THE WINTER SOLDIER
Sutradara : Anthony Russo & Joe Russo
Produksi : Marvel Studios, 2014

CA211

Di tangan President Of Marvel Studios, Kevin Feige, adaptasi komik Marvel memang tengah terus membuat keajaiban. Visinya yang kabarnya sudah menyiapkan lineup film lebih lagi dalam Marvel Cinematic Universe (MCU) hingga 2028, mostly to The Avengers Trilogy sama sekali bukan didasari oleh effort asal-asalan. Sambil menunggu sejumlah rights dari tokoh Marvel lain kembali ke mereka dan meninggalkan pesaingnya, DC Comics, jauh di belakang, ia sudah merancang semua dengan sangat cermat, bahkan dalam hal konsistensi, jauh dari pencapaian sineas manapun yang pernah mengadaptasi superhero universe dalam komik-komiknya. Everything is connected, dan semua sudah dimulai even sebelum penonton bisa mereka-reka koneksinya. Pendeknya, mereka-mereka di Marvel ini sudah tahu pasti apa langkahnya ke depan. Bukan berupa usaha-usaha bongkar pasang dari plot hingga bidikan cast-nya.

CA23

Menyusul ‘Iron Man 3’ dan ‘Thor : The Dark World’ sebagai setup entries MCU Phase 2 ke ‘The Avengers 2’, ‘Captain America : The Winter Soldier’ pun kabarnya disiapkan bagi sebagian penonton yang selama ini menganggap karakter ini jadi pengembangan Marvel terlemah dalam universe-nya. Anyone who loved the comics pasti sudah tahu bahwa film pertamanya, meminjam genre classic WWII dengan sutradara Joe Johnston sebagai topengnya memang secara cermat sudah meletakkan karakter itu ke sisi terpentingnya sebagai seorang leader diantara rekan-rekannya. No matter the action might seems a little old fashioned, sesuai timeline universe-nya, mereka sudah meletakkan fondasi kuat sebagai awal. Dengan 5 kontrak film ke depan, meskipun diwarnai isu pensiunnya Chris Evans sebagai aktor, bahkan desas-desus rencana mengurangi dominasi Robert Downey, Jr. dalam franchise-nya, Feige dan kru-nya sudah siap menaikkan karakter itu ke level berikutnya.

CA210

Konsepnya pun dirancang tak kalah unik. Menggamit duo sutradara Anthony Russo dan Joe Russo yang mungkin belum punya rekor kuat di genre-nya, bagi banyak orang ini seperti perjudian besar-besaran. Lihat saja filmografi mereka sebelumnya, yang paling hanya menyisakan ‘Welcome To Collinwood’ atau ‘You, Me and Dupree’ di luar serial ‘Arrested Development’, yang kesemuanya lebih berupa komedi. Tapi mereka datang dengan approach action yang mereka akui secara terus terang, entah sengaja atau tidak di luar kedekatan waktu rilisnya, sangat diinspirasi kesukaan mereka atas ‘The Raid’. Mengurangi CGI dan mengedepankan hand to hand close combat fight diatas atmosfer plot yang seolah jadi tribute ke recruitment aktor legendaris Robert Redford ke dalam MCU, a strong political conspiracy thriller alaThree Days Of Condor’ bersama ‘The Parallax View’ atau ‘Marathon Man’, mereka mulai mengacak-acak eksistensi S.H.I.E.L.D. di wilayah-wilayah lebih gelap tanpa melupakan entertaining factor kuat yang tak pernah mau dikompromikan Feige di franchise-nya. Saat kebanyakan adaptasi superhero mau mengikuti jejak ‘The Dark Knight’ yang ternyata melembek dan malah balik mengekor Marvel di ‘The Dark Knight Rises’, Marvel jelas adalah pemenangnya.

CA26

Dua tahun setelah assembled event di ‘The Avengers’, Steve Rogers aka Captain America (Chris Evans) masih setia mengabdi pada S.H.I.E.L.D. dan Nick Fury (Samuel L. Jackson). Namun setelah menuntaskan misinya bersama Natasha Romanoff aka Black Widow (Scarlett Johannson) di atas Lemurian Star, sebuah kapal S.H.I.E.L.D. yang disatroni pembajak Algeria Georges Batroc (Georges St-Pierre), Rogers mulai tak betah mengetahui Fury menyimpan banyak rahasia dibalik proyek terbaru S.H.I.E.L.D. bernama Project Insight, senjata massal yang juga jadi ambisi atasan mereka Alexander Pierce (Robert Redford). Bersamaan dengan itu, Fury yang diserang oleh sekelompok pembunuh misterius yang dikepalai sosok misterius bernama The Winter Soldier (Sebastian Stan) malah memilih Rogers sebagai satu-satunya orang yang bisa ia percaya. Dengan Fury yang dianggap berkhianat, mau tak mau Rogers pun menemukan dirinya sebagai target dari Pierce dan agen-agen S.H.I.E.L.D.s S.T.R.I.K.E. team yang dipimpin oleh Brock Rumlow (Frank Grillo). Berjuang memulihkan nama, menghadapi amukan The Winter Soldier sambil harus memilih siapa kawan dan siapa lawan sebenarnya bersama Romanoff dan partner barunya Sam Wilson aka Falcon (Anthony Mackie), plus agen Maria Hill (Cobie Smulders) dan Agent 13 (Emily VanCamp) yang punya hubungan ke masa lalunya, Rogers akhirnya menemukan kenyataan bahwa misi terdahulu yang membawanya ke masa depan belum lagi berakhir sampai disitu.

CA24

Sekilas, dayatarik utama sekuel ini memang terletak pada adegan-adegan aksi persis seperti yang dijanjikan Feige lewat kiprah duo Russo plus konseptornya Ed Brubaker dari action cult tahun 2009 ‘Angel Of Death’, yang ternyata memang tampil dengan sangat meyakinkan. Efek visual CGI dari ILM serta sejumlah company lain tentu masih sangat mewarnai filmnya sebagai action-fantasy blockbuster, plus gimmick 3D yang tak terlalu spesial, tapi dengan pengurangan porsi untuk menggantikannya dengan close combat fightings, ‘Captain America : The Winter Soldier’ jadi terasa sangat remarkable. Terasa sangat seru, meski dibatasi level kesadisan berbeda namun dalam intensitas fighting scenes nyaris seperti ‘The Raid’, sisi ini menciptakan keajaiban baru secara berbeda dengan Marvel entries lainnya. Fighting choreography dari James Young, stunt performers yang juga berada dibalik cult women prison actionRaze’ tahun lalu di-handle dengan sangat baik mostly oleh Evans, Johannson, Sebastian Stan dan Frank Grillo (karakter Rumlow juga dikenal sebagai Crossbones di komiknya) yang mendapat porsi paling besar untuk adegan-adegan itu.

CA28

Jauh dari gelaran adegan-adegan close combat fights yang memang menaikkan level karakternya yang banyak dianggap tak sekuat rekan-rekan lain di ‘The Avengers’, plus treatment Captain America’s shield-nya yang makin sejajar dengan Thor’s mjolnir atau Iron Man’s suits, Anthony dan Joe Russo tetap tak melupakan pengembangan karakterisasi Steve Rogers diatas sebuah konsistensi plot thriller konspirasi itu dengan sangat kuat. Skrip yang tetap ditangani oleh duo penulis pendahulunya, Christopher Markus dan Stephen McFeely (Narnia franchise, ‘Pain & Gain’) itu dengan taktis menyematkan dialog-dialog untuk memberi penekanan soldier-type yang dimiliki Rogers dalam leadership demand-nya diantara kolaborasi para superhero Marvel ini. Bangunan plot-nya sebagai conspiracy thriller yang dipenuhi characters’ paranoia itu juga tampil dengan solid tanpa sekalipun melupakan sisi fun-nya sebagai tontonan berkelas blockbuster. Dan ini juga tak kalah penting, bahwa kiprah composer baru-nya, Henry Jackman, ternyata tak menyampingkan main theme dari Alan Silvestri di film pertama. Meski tak dipadukan jadi elemen baru dalam scoring yang cukup kuat mengiringi nuansa thrilling serta action-nya, memorable theme itu masih digunakan langsung di banyak adegan untuk memperkuat benang merah karakternya.

CA29

Bersama detil-detil variasi kostum yang keren, Chris Evans tetap memainkan Steve Rogers di tengah dilemmatic paranoia dan keteguhan super-soldier serba Amerika-nya dengan bagus, begitu juga Scarlett Johannson yang makin menunjukkan kekuatannya sebagai heroine di genre-genre sejenis. While Redfords appearance bersama interaksinya dengan Samuel L. Jackson jadi highlight sangat kuat disini, pendukung lain juga tak kalah baik, terutama Anthony Mackie dengan kostum Falcon dan sentuhan komedik yang pas, Frank Grillo dan Emily VanCamp sebagai karakter baru yang sangat mencuri perhatian. Namun yang benar-benar bergerak bersama kekuatan konsep Feige adalah Sebastian Stan sebagai The Winter Soldier. Sosoknya mungkin tak kelewat spesial sekuat karakternya yang dijadikan judul, serta tak pula diberi kesempatan beraksi terlalu banyak, namun yang kita lihat dengan jelas, casting-nya di film pertama benar-benar punya alasan kuat untuk dikembangkan sebesar itu, persis menyamai sosok dalam komiknya di sekuel ini. Masih ada penampilan Toby Jones, Garry Shandling dan Jenny Agutter, cameo Stan Lee sepeti biasanya serta mid-credit yang jauh lebih mengundang ketimbang post-credit scene-nya, mengantarkan kita ke Aaron Taylor-Johnson, Elizabeth Olsen dan Thomas Kretschmann sebagai sosok-sosok baru yang akan makin membuat stars factor di sekuel ‘The Avengers’ nanti bakal makin hebat.

CA25

So be it. Inilah dominasi Marvel di ranah adaptasi superhero mereka. Sebuah kekuatan konsep yang benar-benar menunjukkan kehebatan visi secara berimbang di keseluruhan elemen-elemennya. Ketika penontonnya masih mereka-reka akan disuguhkan hasil seperti apa, mereka terus menciptakan keajaiban baru dalam pendekatan berbeda di instalmen film-filmnya. Another Marvel’s marvel, yang lagi-lagi sudah membuktikan kedigdayaan itu di perolehan box office-nya. (dan)

CA21

DIVERGENT : A DAUNTLESS PERFORMANCE OVER A WEAK ADAPTATION

•April 5, 2014 • Leave a Comment

DIVERGENT
Sutradara : Neil Burger
Produksi : Red Wagon Entertainment, Summit Entertainment, Lionsgate, 2014

DV11

Ah, another YA (Young Adults) adaptation dengan plot yang meski banyak punya eksplorasi beda, tapi secara keseluruhan bisa dibilang generik dalam genre-nya. Mirip seperti ‘The Hunger Games’, at least, dalam struktur adaptasi novel, ‘Divergent’ yang diangkat novel series karya Veronica Roth ini lagi-lagi adalah kisah pendewasaan seorang gadis yang harus memilih jalannya di sebuah dystopian future. Tapi tentu saja, dalam demand pasar terhadap trend-nya, produk-produk seperti ini bukan harus selalu berakhir sebagai pengikut.

DV3

 

Jauh melebihi subtext atau detil-detil lain yang bakal diributkan fans ataupun kritikus, faktor terpentingnya tetaplah bagaimana mereka membangun entertaining values sebagai sebuah tontonan lewat penggarapan keseluruhan dan penempatan cast-nya. Dalam hal ini, pemilihan sutradara Neil Burger dari ‘Limitless’ dan ‘The Illusionist’ tentu kelihatan sangat pas. Dua film itu sudah menunjukkan bahwa Burger akan mampu menggarap YA science fantasy seperti ini. Cast-nya pun cukup menarik, memuat bongkar pasang Shailene Woodley dengan pasangan main di film-filmnya yang lain, Ansel Elgort dari ‘The Fault In Our Stars’ dan Miles Teller dari ‘Spectacular Now’ plus bintang-bintang muda lain yang tengah naik daun, Zoe Kravitz dan Jai Courtney bersama aktor-aktor lebih senior dari Maggie Q, Tony Goldwyn, Ashley Judd sampai Kate Winslet.

DV6

In Chicago’s dystopian future, mewakili sifat manusia, masyarakatnya terbagi dalam lima faksi yang ditentukan lewat pilihan saat mereka beranjak dewasa. Abnegation yang selalu menolong orang lain, Amity yang bekerja di ladang-ladang selayaknya petani, Candor yang memegang teguh kejujuran, Erudite ; kelompok orang-orang pintar dan Dauntless ; orang-orang berani yang melindungi kota. Berbeda dengan kakaknya, Caleb (Ansel Elgort) yang memilih Erudite, Beatrice ‘Tris’ Prior (Shailene Woodley) yang dibesarkan sebagai Abnegation oleh ayah ibunya, Andrew dan Natalie (Tony GoldwynAshley Judd) memilih masuk ke faksi Dauntless walaupun Tori (Maggie Q) menyembunyikan kelainan Tris sebagai seorang divergent , memiliki lebih dari satu kesesuaian sifat yang dianggap sebagai ancaman. Tris pun segera memulai inisiasinya di bawah bimbingan instruktur Dauntless, Four (Theo James) yang bersimpati padanya, namun sebuah rencana jahat oleh Erudite dan pimpinannya, Jeanine (Kate Winslet), seketika menempatkan keluarga Tris termasuk keberadaannya sebagai seorang divergent menjadi target.

DV2

Walau masih bermain-main di wilayah konflik serta penggambaran masa depan yang serba mirip dengan sebagian source YA lain, premis ‘Divergent’ memang tetap menarik. Membenturkan human and society nature di tengah paradoks-paradoks politik, coming of age story dan pencarian jatidiri untuk membangun konflik-konfliknya, lengkap dengan sempalan lovestory, friendship dan family sebagai elemen-elemen wajib genre sejenis, ‘Divergent’ seharusnya bisa menjadi pembuka instalmen dalam rencana franchise jagoan baru Summit pascaTwilight’. Desain produksinya, dari bangunan set hingga kostum juga punya detil-detil yang sangat lumayan buat menekankan rencana itu.

DV8

Sayangnya naskah yang ditulis oleh Evan Daugherty (‘Snow White and The Huntsman’, ‘Killing Seasonand the upcomingTeenage Mutant Ninja Turtles’) dan Vanessa Taylor (‘Hope Springs’) tergolong lemah. Introduksi pengenalan universe dan karakter intinya cukup rapi, tapi sama sekali tak mampu membangun subtext yang kuat sebagai fondasi penceritaan yang paling tidak bisa sedalam ‘The Hunger Games’. Lantas semakin ke belakang karakterisasi tokoh-tokohnya malah dipenuhi inkonsistensi yang cukup mengganggu. Terlalu banyak berfokus ke interaksi para Dauntless di tahapan-tahapan training yang meski mungkin diperlukan buat memberi jalan pada Neil Burger menggelar adegan-adegan aksi lumayan seru, tapi sedikit melebar kelewat panjang hingga menyampingkan karakter-karakter lain yang seharusnya cukup penting, turnover mereka pun kerap jadi terasa kedodoran dan semakin parah menuju klimaks saat beberapa karakter tadi dieliminasi satu-persatu.

DV7

Para pendukungnya juga tak bekerja kelewat banyak memberi penekanan penting di karakter mereka. Baik Zoe Kravitz, Ansel Elgort, Maggie Q, Tony Goldwyn, Ashley Judd dan Kate Winslet tak mendapat kesempatan lebih, sementara Theo James yang presence-nya cukup bagus jadi kelihatan tak konsisten akibat skripnya. Jai Courtney lagi-lagi hanya kebagian peran serba keras dan Miles Teller, seperti biasa, selalu lebih terasa annoying ketimbang convincing dengan tampang tak seriusnya, itupun dengan turnover karakterisasi paling parah disini.

DV10

But however, sulit untuk menampik performa kuat Shailene Woodley. Bahkan seakan nyaris berjuang sendiri menjadi poros penting film ini diatas aktor-aktor seusia bahkan lebih senior seperti Judd dan Winslet, bahkan ketika skrip itu kadang keterusan menggerus empati karakternya terhadap pendukung lain, dari hubungannya dengan keluarga, sahabat sampai sisi romance-nya yang naik turun dengan Four. Woodley menghadirkan sebuah paduan kecantikan, kemampuan fisik di adegan-adegan aksi serta pendalaman yang cukup bagus, which magically keeps the audience rooting for her. Penampilannya-lah yang akhirnya sangat berperan dalam keseluruhan ‘Divergent’, ditambah scoring lumayan dari Junkie XL dan sejumlah adegan-adegan aksi parkour, Dauntless’ way of jumping on and off a train yang keren serta close combat fightings, membuat skrip yang serba lemah tadi bisa sedikit tertutupi.

DV5

So begitulah. While the entertaining factor-nya tetap terasa sangat kuat, where we could see the sequel inevitably coming, dan bahwa ‘Divergent’ bukan juga sebuah adaptasi YA yang sepenuhnya gagal, sayangnya masih banyak sisi penggarapan yang membuatnya tak bisa benar-benar berdiri kuat sebagai pembuka franchise baru. Satu yang jelas terlihat adalah karir Woodley yang pasti akan semakin menanjak dengan modal besar yang dimilikinya sebagai female lead. A dauntless performance, mostly by Shailene Woodley, over a weak adaptation. (dan)

THE MONUMENTS MEN : A WW2 SUBGENRE RARITIES

•March 31, 2014 • Leave a Comment

THE MONUMENTS MEN
Sutradara : George Clooney
Produksi : Columbia Pictures, Fox2000 Pictures, Smokehouse Pictures, Studio Babelsberg, 2014

TMM9

In cinematic history, tak banyak mungkin subgenre WW2 movies tentang treasure hunt adventures / heist 0r caper movies. ‘Escape To Athena’ (1979, George Pan Cosmatos) dan ‘Kelly’s Heroes‘ (1970, Brian G. Hutton) ada diantara yang paling diingat hingga sekarang. Sedikit berbeda, tapi masih dalam cakupan subgenre yang sama, di luar penggunaan ensemble cast yang rata-rata selalu muncul, ‘The Monuments Men’ kini mengangkat sebuah kisah nyata yang mungkin masih jarang-jarang didengar banyak orang kecuali yang benar-benar rajin mengulik sejarahnya. Tertuang dalam buku yang dijadikan sumber adaptasinya, ‘The Monuments Men : Allied Heroes, Nazi Thieves and the Greatest Treasure Hunt in History’ karya Robert M. Edsel, ini memang filmnya George Clooney. Where every director has a signature, bukannya tak pernah, tapi Clooney memang tak pernah benar-benar menyerah untuk berkompromi ke dalam budaya pop dalam film-film yang digarapnya sendiri, dimana subtext menjadi hal sangat penting dalam presentasi keseluruhannya.

TMM5

So, itu mungkin yang menjadi masalahnya. Di saat promo yang menonjolkan ensemble cast dibalik WW2 comedy adventure itu terkesan bakal menyajikan sesuatu yang seru, paling tidak seperti Ocean’s franchise dengan latar WW2, yang kita dapat sama sekali tak seperti itu. Lewat kolaborasi rutinnya dengan Grant Heslov, ‘The Monuments Men’ tetap punya elemen-elemen adventure dan comedy, namun ada subtext anti perang yang terus membatasi keseluruhan penyajiannya. Walaupun cukup kuat, mungkin ini jadi two sides of coins yang memberikan resepsi beda-beda bagi pemirsanya. Di saat penonton yang mengharapkan hiburan mungkin tak mendapatkannya secara cukup, bagi kritikus-kritikus serius, kompromi ini banyak dinilai masih kurang seimbang dalam patokan mereka. Anyway, here’s the plot.

TMM1

Di tahun 1943, saat Perang Dunia II berlangsung ke arah kemenangan sekutu, Lt. Frank Stokes (George Clooney) mendesak Presiden Truman untuk memberikan kepeduliannya terhadap ulah Hitler yang disinyalir mengambil kesempatan untuk mencuri benda-benda seni bersejarah saat menyerang negara-negara Eropa lawannya. Stokes pun membentuk satuan ‘The Monuments Men’ yang menggabungkan kurator seni, pengelola museum dan ahli sejarah bersama prajurit-prajurit sekutu untuk melacak keberadaan harta karun curian yang disembunyikan di berbagai tempat oleh Hitler. James Granger (Matt Damon), Richard Campbell (Bill Murray), Preston Savitz (Bob Balaban), Walter Garfield (John Goodman) dari pihak AS, Donald Jeffries (Hugh Bonneville) dari Inggris dan Jean Claude Clemont (Jean Dujardin) dari Perancis masing-masing ditugaskan ke lokasi berbeda, dan mereka harus bekerjasama dengan kurator museum di Paris, Claire Simon (Cate Blanchett) yang menyimpan dendam terhadap prajurit Nazi Viktor Stahl (Justus von Dohnányi) yang melarikan isi museum di depan mata Claire. Usaha itu ternyata tak berjalan mudah bahkan harus memakan korban diantara mereka, namun ini juga sekaligus jadi motivasi untuk terus menemukan benda-benda seni itu, kalau perlu berpacu dengan waktu sebelum pihak Rusia masuk menggantikan daerah-daerah dudukan Jerman setelah perang berakhir.

TMM6

Sebagai co-production dari Columbia – Fox bersama Studio Babelsberg yang didanai German Federal Film Fund (DFFF), setnya yang berlokasi dari Amerika, Inggris hingga Jerman memang memperlihatkan akurasi cukup baik, namun selebihnya merupakan loose adaptation dari kisah nyatanya. Sebagian besar nama karakternya diganti bersama jumlah keseluruhan ‘The Monuments Men’ yang dipadatkan menjadi hanya tujuh dari paling tidak puluhan orang yang benar-benar terlibat. Tapi ini jelas dilakukan Clooney yang menulis skripnya bersama Heslov untuk kepentingan storytelling agar tak lantas jadi terlalu melebar, walaupun harus mengorbankan sebagian akurasi sejarah aslinya. In true event adaptations, jelas juga sah-sah saja.

TMM2

Namun mereka memang sedikit keterusan dalam membagi kepentingan karakternya. Filled with well known names, some were even big ones, dalam ensemble cast itu, Selain terlalu samar di motivasi pemilihan karakter-karakter unlikely-nya, skrip Clooney dan Heslov terkesan sedikit mengesampingkan karakter non-Amerika untuk tujuan dramatisasinya. Kita bisa melihat masing-masing elemen wajib genre-nya yang disisipkan ke dalam plot-nya, termasuk juga homage-homage ke film WW2 klasik, namun elemen komedi satir yang berjalan bersama subtext anti perang yang terlihat lebih jelas pun tak menemukan balance yang pas dalam penceritaannya, begitu juga dengan sempalan lovestory antara James Granger dan Claire, belum lagi, meski ini adalah sebuah pilihan, terlalu sedikit kompromi dalam membangun ketegangan dibalik latar perang dunia yang paling tidak akan diharapkan oleh banyak penyuka genre WW2.

TMM7

However, informasi yang digelar sebagai latar real event-nya tetap terasa sangat menarik. Bersama subtext anti perang yang jelas terasa di subgenre yang biasanya jatuh ke tontonan pop ini, ‘The Monuments Men’ juga memberikan sedikit perbedaan. Meski Clooney kelihatan kelewat santai dengan gaya suave-nya sehingga kerap kehilangan emosi yang diperlukan dalam karakternya, tapi chemistry-nya dengan yang lain masih cukup baik. Kecuali Jean Dujardin bersama Bill MurrayBob Balaban yang lebih mendapat porsi duo untuk penempatan komedinya, tak ada yang terlalu spesial juga dengan John Goodman, Matt Damon dan Cate Blanchett, tapi toh tetap sulit untuk menolak paduan ensemble cast semenarik ini. Sinematografi dari award nominee DoP Phedon Papamichael dan scoring dari Alexandre Desplat juga mewarnai penggarapannya dengan bagus.

TMM10

With its ups and downs, ‘The Monuments Men’ jelas bukan film yang jelek. Ia boleh jadi tak sebaik film-film garapan Clooney yang lain atas balance yang tak terbangun dengan maksimal diantara elemen-elemennya, tapi tema dan historical trivias tentang the greatest art heist in history, indeed, yang disampaikannya tetap merupakan sesuatu yang penting serta menarik untuk disimak. Dan dengan deretan nama-nama di ensemble-nya, paling tidak ini bisa cukup mengobati kerinduan ke genre WW2 dan subgenre rarities-nya yang sudah semakin jarang muncul sekarang. (dan)

THE RAID 2 : BERANDAL ; AN EXTENSIVE SCALE OF BONE-CRUNCHING ACTION

•March 30, 2014 • 4 Comments

THE RAID 2 : BERANDAL
Sutradara : Gareth Evans
Produksi : PT Merantau Films, XYZ Films, 2014

The Raid 2

Bukan saja di perfilman lokal Indonesia, tapi juga Asia bahkan dunia, ‘The Raid’ (2011) sudah membawa standar baru dalam genre action. Sebuah rollercoaster ride of action, sekaligus memperkenalkan seni bela diri Pencak Silat yang sejak lama digeluti sutradara asal Wales Gareth Evans termasuk di film debutnya, ‘Merantau’, menjadi sebuah cult hit dengan pencapaian mendunia, dari pembelian rights untuk distribusi dan remake oleh Sony Pictures hingga membawa aktor-aktor Indonesia seperti Iko Uwais dan Joe Taslim mendapat world’s recognitions. Kesuksesan itu memang memberikan jalan bagi Gareth untuk membangun networking lebih luas bersama L.A. based genre-specialist sales and production company XYZ Films dengan partnership ke situs film Twitch yang sudah seakan jadi bible for cult movie lovers dalam kolaborasi mereka.

TR24

Pertaruhan dalam banyak kesuksesan sejenis di genre ini memang hanya satu. Saat banyak kiprah remarkable Asia lain seperti Tony Jaa dengan ‘Ong Bak’ dan ‘Tom Yum Goong’ yang ternyata mentok hanya sampai disana, seberapa jauh Gareth bisa menaikkan level dari pencapaian gemilang ‘The Raid’ ke dalam sekuelnya? Dan hype itu semakin menjulang kala penayangannya di Sundance kemarin mendapat reaksi begitu luarbiasa dari pengamat-pengamat luar. Dalam rentang 3 tahunan dari berbagai publikasi dan promo-promonya, penantian itu kini berakhir bersama perilisan ‘The Raid 2 : Berandal’ di sejumlah negara termasuk AS yang didistribusikan bertahap hingga menjangkau 1200 theatres disana. So, is it that good?

TR215

Continues where the first movie ends, Rama (Iko Uwais) dihadapkan pada kenyataan bahwa sindikat mafia dan polisi korup itu jauh lebih kompleks dari yang diperkirakannya. Demi keselamatan keluarganya, Rama terpaksa menerima permintaan Bunawar (Cok Simbara), komandan pasukan khusus anti-korupsi, untuk menyelusup ke sindikat itu dengan identitas barunya. Dilempar ke penjara hingga menjadi orang kepercayaan Bangun (Tio Pakusadewo), lewat putranya, Uco (Arifin Putra) sosok ambisius dalam mengambil alih kepemimpinan Bangun yang terbagi bersama mafia Jepang pimpinan Goto (Kenichi Endo), Rama sekali lagi harus mempertaruhkan semuanya untuk bisa keluar hidup-hidup sekaligus meringkus sindikat korup itu hingga ke puncaknya.

TR25

Sedikit berbeda dari ‘The Raid’, Gareth memang merancang sekuel ini tak lagi sebagai sekedar sebuah pameran nonstop action. Benang merah plot yang sudah dimulai secara tak lazim lewat karakter-karakter di film pertama kini dikembangkannya jauh lebih kompleks bahkan masih lagi menyisakan unrevealed clues lewat penggambaran multikarakter yang semakin penuh sesak mewarnai plot sekuel ini. Dari karakter polisi-polisi ke para mafia seperti Arifin Putra, Donny Alamsyah, Alex Abbad, Zack Lee, Oka Antara, Tio Pakusadewo, Roy Marten, Cok Simbara, Pong Hardjatmo, tiga aktor Jepang Kenichi Endo, Ryuhei Matsuda dan Kazuki Kitamura dari ‘Killers’ hingga Deddy Sutomo yang masing-masing meng-handle part-nya dengan baik, star studded cast lintas generasi ini mau tak mau membuatnya jadi sangat menarik. Sisi emosional Iko kali ini lebih tergali, sementara Alex Abbad dan Oka Antara sangat menonjol tapi kredit terbesarnya layak diberikan pada Arifin Putra dalam eksplorasi akting yang melebihi kiprahnya di ‘Rumah Dara’.

TR210

Masih ada pula sisipan subplot yang menampilkan aktor yang belakangan jadi langganan Gareth dan kolaboratornya, Epy Kusnandar, Marsha Timothy berikut Yayan Ruhian yang kembali dengan karakter berbeda bersama sekaligus tiga villain opponents sebagai pengganti karakter Mad Dog di film pertama. Ada duo Julie Estelle dan Very Tri Yulisman sebagai ‘Hammer Girl’ dan ‘Baseball Bat-Man’ yang kabarnya akan diberikan spin-off comic franchise serta Cecep Arif Rahman, pencak silat artist dari Padepokan Kasundan sebagai sosok misterius ‘The Assassin’.

TR212

Plot-nya boleh saja berkembang lebih kompleks di ranah kombinasi thriller suksesi keluarga mafia dengan intrik polisi korup ataupun mole rat cop yang bukan lagi baru dibalik template-template tema sejenis dari ‘The Godfather’ hingga film-film Asia seperti ‘Tiger Cage’ atau ‘Infernal Affairs’. Tapi selain dikemas dengan interpretasi menarik diatas style sinematik Gareth yang tampak semakin terbentuk solid, termasuk sejumlah penempatan objek-objek fantastis dalam distinctive style kemasan set-nya, dari lumpur, puing-puing gedung hingga salju, Gareth kelihatan cermat sekali mengatur detil dalam desain dan teknis produksinya dari tata artistik, rias, kostum hingga tata kamera yang tetap dipegang Matt Flannery dan Dimas Imam Subhono, semua dalam level yang meningkat dibanding ‘The Raid’. Plus kali ini, penerjemahan dialog dalam skripnya juga jauh lebih rapi. Masih ada beberapa kekurangan, namun kerja Nadia Yuliani membuat dialog-dialognya jadi tak lagi terasa bagai sebuah language adapted script. Inspirasi demi inspirasi yang terasa juga sangat mengingatkan ke film-film aksi Asia, mostly Koreans, itu juga bukan lantas jadi mengganggu, tapi memberi penekanan bahwa Gareth memang membangun reference style dan skill-nya sebagai genre-aficionado dan cult lover yang sangat kuat.

TR214

Dan ini yang terpenting. Bermain diatas plot dengan kompleksitas multikarakter hingga memakan durasi kurang lebih 150 menitnya, Gareth tak lantas melupakan amunisi terbesar dalam franchise ini. Menaikkan level-nya secara lebih dan lebih lagi, namun tetap dengan batas tegas tanpa sampai jadi keterusan seperti apa yang dilakukan Tony Jaa dan timnya di ‘Tom Yum Goong 2’ barusan, Gareth membawa gelaran rumbling action-nya begitu ekstensif mengeksplorasi pencak silat sebagai martial arts hingga ke detil-detil asesoris senjata lokal yang disini menghadirkan kerambit (dalam bahasa Minang disebut karambiak), pisau genggam kecil melengkung dari Asia Tenggara, shootout hingga car chase scenes yang terasa sangat intens bahkan tak pernah terbayangkan bisa ada di film kita, ditambah bloodbath gruesomeness yang makin over the top dan gila-gilaan tanpa kompromi.

TR22

Detil-detil koreografi masing-masing karakternya, dari Rama, Prakoso, Hammer Girl, Baseball Bat-Man hingga The Assassin tertata dengan rapi dan berbeda, angle-angle shot-nya secara dahsyat, highly skilled mengikuti gerakan demi gerakan itu dengan kecepatan tinggi tanpa harus memunculkan slow motions, dan pace editing dari Gareth dan Andi Novianto juga sama kencangnya. Sound dari Brandon Proctor pun memberi detil lebih bersama scoring Fajar Yuskemal, Aria Prayogi serta Joseph Trapanese yang masuk dengan pas membangun intensitas ketegangannya. Kecuali 20-30 menit terakhir, gelaran keseluruhannya mungkin tak lagi bagai sebuah rollercoaster seperti ‘The Raid’, tapi masing-masing action scenes yang tampil di tengahi jeda penelusuran plot dan storytelling-nya tadi melebihi intensitas pacuan adrenalin yang ada dalam film pertama. Mostly never before seen in our movies, apalagi continuous final showdown antara RamaHammer GirlBaseball Bat-Man dan Rama vs The Assassin sebagai salah satu final showdown paling dahsyat yang pernah ada dalam world’s genre-nya. Bersama scene ending penuh homage ke film-film cult action Asia klasik, rasanya kita tak ingin end credits-nya cepat-cepat bergulir.

TR213

So yes, it is that good. Apa yang ada dalam ‘The Raid 2 : Berandal’ ini benar-benar menunjukkan skill dan keseriusan tinggi dari apa yang selama ini sudah dilakukan Gareth dalam industri perfilman kita. Level yang terus meningkat, eksplorasi ke referensi-referensi baru yang tetap menarik, serta penggarapan teknis luarbiasa demi menghadirkan pencapaian baru dalam genre-cinema yang diusungnya. An elevated, extensive scale of crazy bone-crunching and gruesome action, yang lagi-lagi akan memancing pertanyaan yang terus sama. Kalau Gareth bisa, mengapa yang lain tidak? (dan)

TR29

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,350 other followers