DAWN OF THE PLANET OF THE APES : AN EMOTIONALLY GRIPPING MO-CAP TOUR DE FORCE

•July 16, 2014 • Leave a Comment

DAWN OF THE PLANET OF THE APES 

Sutradara : Matt Reeves

Produksi : Chernin Entertainment, 20th Century Fox, 2014

DOA1

            Sebelum kemana-mana, let me ask you one thing. How well did you rememberPlanet Of The Apes’? Oh, tentu bukan versi Tim Burton, yang meski punya visual effects sangat unggul namun lebih ke pure fantasy ataupun predecessor-nya yang juga jadi salah satu summer blockbuster terbaik tiga tahun lalu, tapi franchise awal dari tahun 1968-1973, not to mention serial teve dan animasinya. Sama seperti gagasan panjang yang ada dalam source aslinya, novel berjudul sama karya penulis Perancis Pierre Boulle, yang harus diingat, reboot ini bukanlah kali pertama mereka mengangkat interspecies conflict between apes and human dengan latar politik dan thought-provoked revolution theme yang kental di dalamnya. Pun bagi yang kelewat memuji darker exploration-nya, tak ada yang bisa mengungguli sekuel adaptasi pertamanya, ‘Beneath The Planet Of The Apes’ (1970) yang benar-benar melawan arus di tengah salah satu ending paling nihilistik yang sangat menakutkan di zamannya, di luar ribut-ribut soal justifikasi keterlibatan aktor Charlton Heston dalam pakem sekuel masa itu.

DOA6

            But, jauh dari sekedar nafas asli source-nya, kekuatan terbesar ‘Rise Of The Planet Of The Apes’ yang sebenarnya punya premis mirip dengan instalmen keempat/kelima franchise aslinya, adalah eksplorasi emosi dalam menuangkan tema itu. Jauh lebih dalam dari sekedar war ideas dan beda-beda interkoneksi dua spesies yang masih saling terhubung dari teori evolusi ini, ataupun usaha-usaha untuk membalik timeline di tengah twist post apocalyptic earth menjadi sebuah reboot dengan penjelasan origin lebih lagi buat menghubungkannya langsung ke core revolution theme itu. Padahal sebelumnya tak banyak yang meyakini langkah mereka memilih sutradara Rupert Wyatt serta duo penulis Rick Jaffa dan Amanda Silver untuk bisa berperang bersama summer blockbuster lain di tahun 2011 yang jelas-jelas jauh lebih high-profile darinya. Dan jangan lupakan pula pencapaian performance capture ataupun mo-cap, apapun sebutannya, serta visual effects lain dari Weta Digital yang sudah menunjukkan bahwa teknologi sinema sudah sampai ke detil-detil yang dulu tak pernah bisa terbayangkan.

DOA3

            Di tangan sutradara barunya, Matt Reeves, dari ‘Cloverfield’ dan ‘Let Me In’ yang jelas sudah punya profil lebih dibanding Wyatt di film pertama, masuknya penulis Mark Bomback dari ‘Total Recall’ dan ‘The Wolverine’, tetap bersama Jaffa dan Silver untuk menyambung benang merah kekuatan emosi itu, sekuel ini jelas menjanjikan. Selain efek-efek mo-cap yang sudah terlihat sangat dahsyat dari promo-promo-nya, mereka dengan berani membawa gagasan revolusi primata ini kembali mendekati plot aslinya. Rentang timeline-nya tetap jauh seperti instalmen-instalmen lamanya, namun kini dengan serangkaian shorts yang jadi penghubung untuk menjelaskan apa yang terjadi setelah ending ‘Rise’. Dengan konsep sama, bahkan nyaris tanpa star factor kecuali Gary Oldman yang jauh lebih dikenal ketimbang Jason Clarke dan Keri Russell, mereka tetap meletakkan kekuatan utamanya pada performa Andy Serkis sebagai Caesar, kini ditambah Toby Kebbell yang melanjutkan peran Koba, primata pendendam yang sudah muncul sebelumnya (di film pertama diperankan Christopher Gordon).

DOA11

            10 tahun setelah serangan virus ALZ-113 dari film pertama mulai memusnahkan peradaban umat manusia sejak tahun 2016, Caesar (Andy Serkis) memimpin spesiesnya ke tengah pedalaman Muir Woods. Disana, lewat anak Caesar bersama Cornelia (kini diperankan Judy Greer), Blue Eyes (Nick Thurston), mereka kembali berhadapan dengan sekelompok manusia yang karena panik menembak Ash (Doc Shaw), anak sahabat Caesar, Rocket (Terry Notary). Curiga dengan aktifitas manusia yang memasuki wilayah mereka untuk mencari source energi hidroelektrik, meski Caesar mengampuni mereka, atas saran Koba (Toby Kebbell) yang masih menyimpan kebencian terhadap kaum manusia, menyelidiki eksistensi mereka di sebuah situs terisolasi di San Francisco. Malcolm (Jason Clarke), salah satu dari mereka, bersama istrinya Ellie (Keri Russell) dan putranya, Alexander (Kodi Smit-McPhee), berusaha mempertahankan perdamaian dengan meyakinkan pimpinan manusia, Dreyfus (Gary Oldman) untuk membiarkannya mendekati Caesar. Sayangnya, Koba yang bergerak sendiri atas prasangka berlebihannya membuat semuanya berantakan. Berbalik merancang pemberontakan, perang antara dua spesies ini pun tak terhindarkan di tengah prinsip berbeda untuk mempertahankan eksistensi masing-masing.

DOA2

            Sama seperti pendahulunya, kekuatan utama ‘Dawn Of The Planet Of The Apes’ juga ada pada eksplorasi emosi yang sangat solid bersama plot yang bergulir sejak awal. Bertolak belakang dengan franchise aslinya yang kerap kurang memberi batas jelas dengan keberpihakan yang saling berpindah di sepanjang instalmennya, bersama Bomback, Jaffa dan Silver sekali lagi berhasil memberi penekanan-penekanan kuat dalam latar kisah-kisah revolusi tanpa penghakiman, menempatkan karakter-karakternya dengan lapis-lapis motivasi berbeda, meski masih punya batasan hitam putih, but with various causes and consequences secara sangat wajar, menggugah emosi sekaligus thought-provoking atas banyak peristiwa yang ada sekarang ini.

DOA4

        Yang lebih membuatnya terasa unik, bersama eksplorasi solid itu, mereka juga tak sekali pun menghilangkan feel-nya sebagai sebuah blockbuster. Meski memang terbentur pada kepentingan fun factor yang digerus sedalam mungkin, lebih ke tipikal sekuel blockbuster melankolis kegemaran kritikus dan penikmat tontonan serius ala ‘Empire Strikes Back’ bahkan ‘The Dark Knight’, Reeves menjaga keseimbangan storytelling-nya tak jadi kelewat berputar-putar secara ruwet atau njelimet. Dialog-dialog dan turnover para karakternya tetap terasa sangat pop dengan mengandalkan quote-quote cukup memorable baik dari interaksi spesies sama ataupun berbeda, terlebih buat memberi penjelasan bahasa primata lewat subtitel hingga kemampuan sebagian apes character ini berbahasa manusia, semua bisa dihadirkan dengan wajar serta cukup pas. Ini juga yang membuat pace-nya sedikit bisa melebihi ‘Rise’. Mungkin tak sampai sedahsyat salah satu promo poster-nya yang lagi-lagi menjual tampilan Golden Gate Bridge menggantikan ikon patung Liberty di franchise lamanyanamun peningkatannya menuju klimaks rampage battle itu masih terbilang sangat seru. Satu yang terpenting, bahkan dengan detil yang membuatnya jadi seolah missing link dari instalmen-instalmen selama ini, mereka tak perlu menggagas konklusi-nya jadi se-nihilistik ‘Beneath The Planet Of The Apes’ sambil menahan realitanya untuk tak terbentur jadi sebuah pure fantasy tanpa kedalaman lebih, dan dengan sendirinya sudah punya pakem baru untuk membangun atmosfernya sendiri, tapi tak juga berarti mengkhianati political elements yang ada dalam source aslinya.

DOA9

           Dan jangan tanyakan sisi teknisnya. Performance capture dan visual effects tambahan lain dari Weta Digital yang dimotori Joe Letteri dan Dan Lemmon bahkan secara luarbiasa melampaui detil-detil pencapaian mereka di film pendahulunya. Lihat saja serangkaian proses-proses teknis pembuatannya, yang mengundang ketakjuban kala melihat hasilnya. Dari tiap gerakan, ekspresi hingga sorot mata para primata terutama tokoh-tokoh sentralnya, karakterisasi itu sudah terbangun sedemikian detil, bahkan lebih dari live actors-nya. Sinematografi Michael Seresin, DoP senior belum pernah tampil sebagus ini sejak kiprahnya di ‘Midnight Express’ dulu, begitu pula pace editing dari William Hoy, editor senior yang memang sudah biasa meng-handle film-film besar sampai kecil degan kedalaman lebih, dan scoring dari Michael Giacchino pun terdengar jauh lebih epik serta megah dibanding apa yang dilakukan Patrick Doyle di film sebelumnya. Konversi 3D-nya memang tak menyembul, tapi memberikan depth yang bagus.

DOA5

         Kalaupun ada satu-satunya kekurangan, justru pada deretan human characters-nya yang tak bisa sebaik ensemble yang ada di ‘Rise Of The Planet Of The Apes’. Jason Clarke masih cukup lemah meng-handle potensinya sebagai lead, Keri Russell dan Kodi Smit-Mc Phee tak diberi kesempatan lebih, dan Gary Oldman, meski tetap tak perlu ditanyakan kualitas keaktorannya, tak mendapat justifikasi ending yang layak buat penjelasan karakter yang tetap hanya terbatas sebagai side character tanpa bisa mengungguli John Lithgow di instalmen pertamanya. Tapi toh pakem franchise-nya memang kerap lebih menempatkan aktor-aktor yang mengisi peran primata seperti yang ada di judulnya, sebagaimana dulu Roddy McDowall lebih diingat ketimbang Charlton Heston atau aktor-aktor lain seperti James Francsicus atau Ricardo Montalban yang melanjutkan sekuel-sekuelnya. Andy Serkis dan Toby Kebbell adalah dua yang sangat patut mendapat kredit lebih tanpa memunculkan sosok asli mereka dalam permainan mo-cap yang sebenarnya juga punya eksplorasi akting sama bahkan mungkin jauh lebih sulit ini.

DOA8

         So, memang tak berlebihan kalau resepsi ‘Dawn Of The Planet Of The Apes’ baik dari sisi kritikus maupun penonton terdengar sangat meyakinkan. Ini memang bukan sekedar summer blockbuster yang melulu hanya menjual fun factor, yang tetap perlu ada satu atau dua di tengah pameran boom-bangs dan gegap gempita keseluruhan selebrasinya. Bukan saja jadi kandidat summer blockbuster terbaik tahun ini, but also one of the year’s best and absolutely the best among allPlanet Of The Apesinstallments. An emotionally gripping mo-cap tour de force! (dan)

DOA7

BLENDED : THE PERFECT BLEND OF SANDLER – BARRYMORE

•July 13, 2014 • Leave a Comment

BLENDED 

Sutradara : Frank Coraci

Produksi : Happy Madison, Gulfstream Pictures, Karz Entertainment, Warner Bros Pictures, 2014

BL5

            Mungkin Adam Sandler adalah versi aktor dari sutradara Michael Bay di mata para kritikus. Mungkin. Then again, memang ada batasan kenapa dalam konteks film sebagai produk hiburan, penonton kebanyakan dan kritikus menjadi arch enemy to each others. Sekali waktu, kritikus berhasil menenggelamkan box office film yang mereka hajar habis-habisan, tapi di waktu yang lain, suara mereka seakan sama sekali tak berarti, dengan beda-beda tipe movie buffs dan like or dislike in comedic style seorang komedian yang ada di tengah-tengahnya.

BL12

          Dan jangan salah juga, meski sudah berkali-kali diganjar Razzie Awards atas tuduhan bahwa komedi Sandler kebanyakan membodohi generasinya, ada banyak argumen kenapa Sandler merupakan one of the biggest comedian in this century di luar hasil box office film-filmnya. Sesekali ia bisa lari, bahkan mencari pembuktian lewat film-film macam ‘Punch Drunk Love’, ‘Spanglish’, evenFunny People’. Tapi bagi kolega-koleganya, Sandler tetap punya jasa besar mengangkat sebagian besar mereka ke puncak popularitasnya. Like a big brother who cares for more, ada kenyataan, bahwa dibalik sickjokes cenderung kasar, gila dan kurangajar yang digelarnya, ia tak pernah lupa memuat pesan di konklusi cerita-ceritanya, memutar balik komedi ke heartfelt atmosphere yang membuat mata penontonnya basah di tengah tawa mereka. Satu yang jelas, Sandler jalan terus. Dari sosok komedian kurus ceking ke penuaan usia dan postur yang berubah, ia selalu meng-update komedinya dengan bagus.

BL7

              And so, di salah satu senjata terkuat yang lahir sejak ‘The Wedding Singer’, Sandler menemukan chemistry luarbiasa dengan Drew Barrymore serta berlanjut ke ’50 First Dates’, ia tahu kalau penonton masih menunggu reuni itu kembali. Here comesBlended’, yang bukan saja mempertemukannya kembali dengan Barrymore dan sutradara Frank Coraci dari ‘The Wedding SingerplusThe Waterboy’ dan ‘Click’, ketiganya adalah film-film terbaik Sandler, tapi juga menandakan awal kerjasama Sandler dan PH Happy Madison-nya bersama Warner Bros. Oh sure, tomat busuk bagi kritikus pun bisa jadi permata bagi penonton kebanyakan yang masih menyukai kombinasi sickjokes – heartfelt ala Sandler.

BL6

           Bermula dari sebuah blind date berujung kacau, serangkaian peristiwa malah terus mempertemukan Lauren Reynolds (Drew Barrymore), janda cerai dengan dua putra ; Brandon (Braxton Beckham) – Tyler (Kyle Red Silverstein) dan Jim Friedman (Adam Sandler), duda dengan tiga putri ; Hillary (Bella Thorne), Espn (Emma Fuhrmann) dan Lou (Alyvia Alyn Lind). Di tengah masalahnya masing-masing dengan keluarga mereka, dimana Lauren masih kerap didatangi mantan suaminya Mark (Joel McHale) dan Jim terus berurusan dengan trauma kematian istrinya ke anak-anaknya, mereka tak bisa menolak tiket ke Afrika yang batal digunakan sahabat Lauren, Jen (Wendi McLendon-Covey) dan atasan Jim. Kedua keluarga ini pun terpaksa berinteraksi dalam sebuah liburan penuh kekacauan di Afrika, yang tak pernah mereka sadari merupakan program yang dinamakan ‘blended familymoon’ bagi pasangan keluarga baru dimana masing-masing makin mengenal satu sama lain lebih dekat dibalik rasa antara Lauren dan Jim yang mulai berbalik.

BL11

             Biarpun skripnya ditulis oleh penulis baru Clare Sera bersama Ivan Menchell yang jauh sebelum ini pernah menulis komedi ‘The Cemetery Club’ versi teater dan layar lebar, yang muncul paling kental tetap saja sickjokes Sandler untuk menghantarkan keseluruhan plot-nya. Bersama resep baku komedi Sandler, dari kemunculan cameo rekan-rekannya (meskipun kali ini tak sebanyak biasanya, but includes Alexis Arquette dan Allen Covert – masing-masing dari ‘The Wedding Singer’ dan ’50 First Dates’), strong tribute reference to 80s – 90s musical touch – soundtracks dan karakter-karakter pendukung cukup dikenal diantaranya Kevin Nealon, Joel McHale, Shaquile O’Neal dan former football star Terry Crews dari ‘The Expendables’ yang dipaksa melucu sambil menyanyi dan menari, masih ada aktor-aktor baru yang mencuri perhatian sebagai side characters-nya seperti Bella Thorne, Zak Henri, Jessica Lowe dan Abdoulaye N’Gom sebagai Mftana the concierge.

BL10

       Tapi tetap saja dayatarik utamanya ada pada chemistry sempurna antara Sandler dan Barrymore yang ternyata tak lekang tergerus waktu. Dalam update karakter berbeda mengikuti usia mereka, from pre-marriage young couple di ‘The Wedding Singer’, grown-ups di ’50 First Dates’ dan widower to divorcee disini, chemistry itu masih terjalin dengan kekuatan luarbiasa, dari dramatisasi, romantic scenes ke comedic response masing-masing. Sulit rasanya membayangkan ‘Blended’ bisa membentuk blend sebaik ini tanpa kehadiran mereka.

BL1

      Di tengah faktor tersukses chemistry pasangan ini, subplot-subplot komedi dan dramatisasi itu bisa bergabung membentuk blend yang sangat nyaman buat disaksikan. Komedi dan sickjokes-nya lucu dan hilarious, sementara sisi drama di tiap side characters-nya bisa mengimbangi secara luarbiasa menyentuh. Sandler bukan saja membahas hubungan-hubungan yang gagal dalam interaksi keluarga, tapi juga ke masalah kehilangan sosok tercinta yang lebih dalam lewat bentukan family figures dan konflik-konflik yang sangat relatable ke setiap kelas usia pemirsanya. Di satu sisi, karakter-karakter ini bisa terlihat gila dan sangat unlikely dalam penyampaian komedinya, namun di sisi lain, they’re also everyone of us. Scoring dari Rupert Gregson-Williams juga bisa meng-handle turnover emosinya dengan bagus.

BL9

           So go figure. Hanya kalau Anda memang sangat membenci style komedi Sandler, ‘Blended’ mungkin akan dipandang punya banyak sisi ketololan dalam bangunan komedi itu. But I’ll tell you what, menepis begitu saja heartfelt emotions yang tak pernah lupa disempalkan Sandler di setiap filmnya would be your loss, too. Di tengah hingar-bingar gempuran boom-bangs penuh efek visual summer blockbusters, adalah sebuah hal bagus kalau Hollywood masih tak melupakan film-film simple yang tetap mengingatkan kita ke interaksi-interaksi keluarga seolah memberikan cermin untuk berkaca sambil tertawa bersama fun factor tak kalah solid. Dan jangan lupa bahwa komedi terbaik, adalah komedi yang bisa membuat kita tertawa keras dengan mata berkaca-kaca. Trust me, ‘Blended’ masih bekerja sebagaimana kita dulu dibuat begitu terhanyut dengan elemen-elemen yang ada dalam ‘The Wedding Singer’ dan ’50 First Dates’, mostly in the perfect blend of that chemistry. Films may come and go, but Sandler and Barrymore, stays. (dan)

BL2

DELIVER US FROM EVIL : UNUSUAL TAKES ON EXORCISM HORROR

•July 13, 2014 • Leave a Comment

DELIVER US FROM EVIL

Sutradara : Scott Derrickson

Produksi : Jerry Bruckheimer Films & Screen Gems, 2014

DUFE1

            To avid horror fans, jauh sebelum waktu rilisnya, ‘Deliver Us From Evil’ sudah jadi film horor yang ditunggu-tunggu. Bukan hanya karena tema exorcism adalah salah satu yang paling populer di horor Hollywood serta juga potentially creepy, ini adalah filmnya Scott Derrickson, sutradara yang sudah menghasilkan ‘The Exorcism of Emily Rose’, ‘Sinisterand if you paid more attention, ‘Scream 4uncredited writer. Co-writer-nya, Paul Harris Boardman, juga seperti life long partner Derrickson di kebanyakan filmografinya, dengan sentuhan kental di genre horor.

DUFE3

            Last but not least, tentulah karena ‘Deliver Us From Evil’ memang dijual sebagai sebuah adaptasi buku non fiksi ‘Beware The Night’ karya Ralph Sarchie dan Lisa Collier Cool, film berdasar real life account of Sarchies exorcism events, NYPD Sergeant turned demonologist, yang jika ditarik panjang juga punya hubungan dengan sejumlah paranormal lain yang pernah diangkat ke layar lebar, salah satunya Ed & Lorraine Warren dari ‘The Conjuring’.Dan okay, faktor Jerry Bruckheimer yang duduk di kursi produser mungkin tak termasuk salah satunya, secara Bruckheimer memang tak punya kredit meyakinkan di genre-nya, tapi belum tentu tak bisa memberikan sentuhan baru terhadap pendekatannya.

DUFE4

            Menyelidiki serangkaian kasus pembunuhan misterius dengan latar supranatural yang saling terhubung dan sulit terjelaskan, walau awalnya ditentang partnernya, Butler (Joel McHale), NYPD officer Ralph Sarchie (Eric Bana) mau tak mau terpaksa bekerjasama dengan pendeta Castilian Catholic urakan Joe Mendoza (Edgar Ramirez). Misi yang bukan saja menenggelamkan Sarchie dalam obsesi-obsesi terpendam terhadap rahasia masa lalunya, tapi juga punya resiko terbesar, menempatkan istri dan putrinya (Olivia Munn & Lulu Wilson) dalam bahaya.

DUFE9

            Kredibilitas Derrickson meng-handle elemen-elemen krusial dalam genre horor, creating goosebumps dari usual jumpscares, exorcism scenes, pengaturan angle dan feel found footage sebagai pelengkap ke penggunaan simbol-simbol wajib seperti children toys, jelas tak perlu diragukan. Seperti ‘Sinister’ dan ‘The Exorcism of Emily Rose’, bersama feel vintage sinematografi Scott Kevan dan score Christopher Young, style-nya juga sangat terasa dalam ‘Deliver Us From Evil’. Namun tanpa bisa dihindari, pendekatan plot yang dibangun lewat skrip atas porsi partnership-nya dengan karakter Mendoza dengan latar belakang drugs junkie dan sedikit sempalan classic rock reference, mostly dari ‘The Doors’ di soal-soal keterlibatan demoniknya mau tak mau memang menciptakan sebuah tahanan kuat untuk bisa sepenuhnya bermain di horror pace itu.

DUFE2

            Disini juga mungkin sentuhan Bruckheimer, yang lebih terbiasa bermain di ranah-ranah buddy movie, jadi terasa sangat mendistraksi atmosfer horor-nya. Walau tetap lumayan menyeramkan, sempalan komedi yang secara alami harus terbangun dalam skrip itu, bukan saja dari dialog tapi juga dari penjelasan unlikely characters-nya, terutama Mendoza dengan rambut gondrong ala rocker dan Butler dengan asesoris Red Sox-nya, ternyata punya potensi mengecewakan penggemar horor yang mengharapkan pendekatan murni genre-nya. Namun di sisi lain, ini seperti menghadirkan suatu racikan baru diatas banyaknya tema-tema sama yang sudah pernah kita saksikan di film-film sejenis.

DUFE5

            Eric Bana jelas pilihan tepat untuk memerankan Sarchie. Dari Queens accent ke aura war-vet serta tough cop tipikalnya yang kuat, ia juga membangun chemistry unik dengan gaya rocker Mendoza yang di-handle Edgar Ramirez dengan baik sekali. Dari karir awalnya sebagai pin-up model ke sejumlah film-film kelas B, walau tetap memberikan dayatarik lebih ke filmnya, Olivia Munn mungkin tak diberi kesempatan lebih, namun Joel McHale benar-benar berhasil mencuri perhatian di tengah fokus duet Bana serta Ramirez.

DUFE7

            So this really depends on what you’re looking for. ‘Deliver Us From Evil’ bisa jadi sedikit mengecewakan bagi para penggemar horor yang mengharapkan purity dalam substansi genre-nya, tapi buat yang mau melihat lebih, walau belum sepenuhnya membentuk perfect blend, ini benar-benar menciptakan kombinasi unik secara keseluruhannya. Guliran plot-nya bisa jadi tetap klise, tapi tidak demikian dengan detil-detilnya. Now go figure, kapan terakhir kita melihat buddy movie yang tak lantas meninggalkan sentuhan komedi serta sedikit action namun dibalut bersama konklusi horor? Dan kapan pula sebuah exorcism-horror dilengkapi dengan referensi musik rock secara kental di dalamnya? Unusual takes on exorcism horror, dan itu artinya bagus. (dan)

DRIVE HARD : A FAILED SPEED TEST

•July 6, 2014 • Leave a Comment

DRIVE HARD

Sutradara : Brian Trenchard-Smith

Produksi : Odyssey Media, 2014

DH5

            Rata-rata cult classic lovers pasti tahu siapa Brian Trenchard-Smith. Sutradara kawakan asal Australia yang terbilang cukup konsisten menekuni karirnya di genre cheesy action ini sudah menghasilkan ‘The Man From Hong KongJimmy Wang Yu dan George Lazenby (1975), ‘Turkey Shoot’ (1982), ‘BMX Bandits’ (1983), ‘The Siege Of Firebase Gloria’ (1989) hingga satu-satunya blockbuster terbesar dalam sejarah karirnya, ‘Sahara’ (1995), sebelum akhirnya terjebak ke sejumlah DTV (Direct To Video) Movies.

DH2

            Kini, dengan aktor-aktor yang juga belum bisa keluar dari ranah yang sama, John Cusack dan Thomas Jane, kolaborasinya mungkin terdengar punya potensi sebagai comeback vehicle bagi ketiganya. Tapi sayangnya tak begitu. Skala produksinya juga tak jauh beda. Datang dari studio yang sebelumnya juga memproduksi film-film DTV dan hanya jadi konsumsi bioskop di beberapa negara Asia, satu paket dengan ide cerita oleh duo scriptwriter Chad dan Evan Law dari sederet DTV Movies yang dibintangi Cuba Gooding, Jr.

DH3

            Peter Roberts (Thomas Jane), instruktur mengemudi mantan pembalap profesional, seketika mendapatkan dirinya berada dalam penyanderaan Simon Keller (John Cusack), pembunuh bayaran yang hendak membersihkan namanya dari hukum sekaligus merancang pembalasan terhadap kelompok mafia yang menjebaknya. Meski awalnya kerap mencoba melarikan diri, lama kelamaan Peter mulai memahami motivasi Simon, sekaligus menggunakan kesempatan ini demi sebuah pembuktian diri terhadap istri (Jesse Spence) dan putrinya.

DH6

            Oh ya, plot se-simple itu memang bukan hal baru lagi dalam film-film Trenchard-Smith sebelumnya. ‘Drive Hard’ juga bukan sama sekali gagal membangun chemistry antara dua lead actor-nya. Komedinya cheesy tapi masih bisa bekerja dengan cukup baik. Set Gold Coast yang tak jauh-jauh dari kampung halaman Trenchard-Smith pun bisa memberikan latar visual agak beda dari kebanyakan produk Hollywood. Hanya saja, dialog-dialog dalam skripnya tak bisa membawa ‘Drive Hard’ keluar dari box-nya, selain urusan action, terutama car chase scenes yang mungkin harus berhadapan dengan budget terbatasnya sebagai DTV. Ini bisa bagus kalau saja Trenchard-Smith membuatnya seheboh poster promonya, car chase trash alaThe Vanishing Point‘ atau ‘Gone In 60 Seconds‘ versi jadul. Sayangnya, tak bisa maksimal, ketimbang sebuah car chase action, ‘Drive Hard’ malah cenderung terlihat seperti road comedy yang hanya mengandalkan interaksi Jane dan Cusack dimana atraksi kejar-kejarannya hanya sebatas jadi tempelan.

DH7

      Meskipun Thomas Jane sudah terlihat mencoba masuk ke peran berbeda bersama John Cusack yang seharusnya bisa mengulang tipikal charming antihero character yang sangat cocok buat sosoknya seperti dalam ‘The Grifters‘ atau ‘Grosse Pointe Blank’, akting keduanya tetap terlihat seadanya. Ada juga aktris Australia Zoe Ventoura yang cukup mencuri perhatian sebagai Agent Walker yang mengejar mereka. Namun sisi terbaik ‘Drive Hard’, mungkin ada di scoring-nya. Membentuk blend yang baik dengan tone old fashioned drive-in trash-nya, score dari Bryce Jacobs, musisi all-rounder Australia yang sudah jadi bagian dari banyak orkestrasi Hans Zimmer dan Ramin Djawadi dari ‘Happy Feet’, ‘Clash Of The Titans’, ‘Pirates Of The Caribbean’ hingga ‘Rush’, mengiringi ‘Drive Hard’ dengan sentuhan melodic rock dan elektronik keren plus salah satu single Jacobs sebagai end credits songGolden Sunset’.

DH4

       Okay, being one of the ‘so bad it’s quite entertaining’ trashy action comedy, ‘Drive Hard’ mungkin sedikit lebih baik dari DTV Movies lain yang digarap Trenchard-Smith ataupun deretan filmografi Chad dan Evan Law, terlebih untuk penyuka John Cusack atau Thomas Jane. Namun secara keseluruhan ia tetap saja jadi action serba tanggung yang berpotensi forgettable dan lewat begitu saja, apalagi sebagai comeback vehicle yang layak untuk nama-nama itu. A failed speed test, namun untuk sekedar trashy-nostalgic entertainment, bolehlah. (dan)

TRANSFORMERS : AGE OF EXTINCTION ; BAY GOES MAXIMUM OVERDRIVE

•June 30, 2014 • 1 Comment

TRANSFORMERS : AGE OF EXTINCTION 

Sutradara : Michael Bay

Produksi : Paramount Pictures, di Bonaventura Pictures, Hasbro, China Movie Channel, Jiaflix Enterprise, 2014

TF410

            If it really means a destiny you can’t avoid, then to his haters, Michael Bay might be the real fault in their stars. Oh yeah, bukan saja karena orang-orang yang membenci eksploitasi Bay dalam menggarap action dengan tons of destructions itu rata-rata memang sejatinya adalah para moviegoers, Bay memang sudah menciptakan fenomena unik dalam industri perfilman, khususnya dalam hal groundbreaking technology yang hampir selalu muncul di film-filmnya. Fondasinya jelas serba dangkal, if that’s how you describe it, luarbiasa klise, money oriented, tapi rata-rata kiprahnya selalu menciptakan standar baru dalam teknologi visual. Raising the bars bagi penggunaan efek-efeknya. Even lineup Criterion Collection yang dijadikan standar tertentu bagi sebagian penikmat film saja harus mengakui dua karya Bay yang sebenarnya benar-benar sangat mainstream.

TF43

            Dan ‘Transformers’, jelas adalah sebuah franchise yang sangat dibenci para haters, mostly critics, tapi lagi-lagi, selalu mereka tonton dengan antusiasme lebih, entah untuk menemukan kejelekan atau mencari silver linings. But then again, inilah industrinya. Dimana sebuah penilaian sebenarnya punya patokan-patokan berbeda antara penikmat dan pengamat, penonton ataupun kritikus bahkan kalangan sama dengan standar-standar berbeda. Bahwa standar-standar itu tak melulu harus ada di kedalaman penceritaan maupun tetek-bengek sejenisnya, tapi seperti theme park rides yang seru, punya kekuatan hiburan dan never before seen visual excitement.

TF45

            Bay jelas tahu itu. Sekali ini, seakan tengah naik pitam dengan cercaan panjang tadi, ia menyiapkan sebuah ultimate challenge terhadap pemirsanya, dan pukulan balik ke haters-nya. Memilih untuk meneruskan franchise yang diangkat dari produk Hasbro ini, tetap dengan dukungan Steven Spielberg sebagai executive producer-nya, ia menggagas instalmen keempat ‘Transformers’ dengan bombardir tanpa batas. Menggamit investor dari China sebagai pelaku joint venture-nya, dengan sedikit pembaharuan di cast dan soundtrack, ia menunjukkan bujet ketat dibalik seabrek product placement, bahkan terang-terangan menyentil ‘Pacific Rim’ yang bermain di wilayah tak jauh beda,  bisa bekerja menciptakan teknis visual dan box office yang solid di tengah overlong 165 mins durasinya. Like a guy raving mad, Bay melaju sekencang-kencangnya. Maximum overdrive.

TF48

                Dibuka dengan sepenggal prolog prehistorik, ‘Age Of Extinction’ berlanjut lima tahun setelah event di ‘Dark Of The Moon’, dimana bukan hanya Decepticons, tapi para Autobots juga sudah tersingkir dan balik diburu pemerintah bersama agen CIA Transformers-phobic Harold Attinger (Kelsey Grammer) lewat bantuan bounty hunter dari spesies mereka sendiri, Lockdown (disuarakan Mark Ryan) dan ilmuwan ambisius Joshua Joyce (Stanley Tucci) yang mengembangkan teknologi Transformers buatan manusia dari bahan baku baru yang jauh lebih dahsyat bernama Transformium. Jauh di pinggiran Texas, Cade Yaeger (Mark Wahlberg), duda penemu amatir bersama asistennya Lucas (T.J. Miller), tak sengaja menemukan Optimus Prime (tetap disuarakan Peter Cullen) yang bersembunyi sebagai truk rongsokan. Penemuan ini dengan cepat tercium oleh Attinger dan menempatkan putri Yaeger, Tessa (Nicola Peltz) serta kekasihnya Shane Dyson (Jack Reynor) dalam bahaya. Menyadari niat baik Yaeger, Optimus pun mengumpulkan Autobots yang tersisa ; Bumblebee, Hound (John Goodman), Crosshairs (John DiMaggio) dan Transformers samurai Drift (Ken Watanabe). Melarikan diri dari kejaran CIA dan Lockdown berikut Galvatron (disuarakan Frank Welker), human-made Transformers  inkarnasi Megatron, bersama the Seed, sebuah bom yang disiapkan merubah Hong Kong menjadi transformium, menuju pertempuran klimaks di Beijing, mau tak mau Optimus dan rekan-rekannya harus sekali lagi berperang demi keselamatan umat manusia.

TF46

              There you go. Meski mengganti karakter manusia utamanya dari Shia LaBeouf menjadi Mark Wahlberg sambil menambahkan elemen father-daughter-boyfriend conflict alaArmageddon’ dalam plotthe hunters become the hunted’ yang membawa celah origin baru Transformers plus kemunculan Grimlock dan Dinobots, Transformers’ legendary knights yang sejak lama ditunggu, jelas tak ada yang benar-benar baru dalam plot yang kembali ditulis Ehren Kruger dari dua instalmen sebelumnya. Bergerak ke ranah-ranah yang lebih gelap sekalipun, termasuk sedikit lebih menonjolkan kontroversi-kontroversi collateral damage yang tengah banyak dibicarakan banyak orang dalam deskripsi blockbusters, Bay tetaplah Bay. Dramatisasinya tetap se-klise biasanya, lebih dibangun dengan menonjolkan signature dan warna-warna khas adegannya ketimbang eksplorasi karakter, lengkap dengan kibaran bendera untuk penekanan American patriotism dan pretty-sexy young female lead-nya berlarian di tengah chaos pertempuran intergalactic robots ini.

TF41

              Sameold, sameold, meski Bay tetap meng-handle emosi-emosi dangkalnya tetap bisa bekerja dalam batasan blockbusters as true form of entertainment dibalik anthemic scoring serba megah dari Steve Jablonsky (also additional score dari Hans Zimmer), sound design dari electronic musician Skrillex dan theme songBattle Cry’ yang kini membawa Imagine Dragons menggantikan Linkin’ Park, karakter-karakter manusianya pun cukup diberi batasan superfisial dengan dialog-dialog tolol tanpa melebihi feel manusiawi para Autobots di tengah dilema mereka sebagai pembela umat manusia. That they’re bleed, hurt and as mortal as human dibalik ketangguhan luarbiasanya. Wahlberg dan Reynor tak jauh beda dengan LaBeouf, Peltz pun nyaris serupa dengan any Transformers’ babes, hingga Stanley Tucci yang menggantikan gambaran grey-comical John Torturro di instalmen-instalmen sebelumnya. Pendeknya, garis bawahnya cukup tegas, that one important rule in blockbusters, dumb could be fun.

TF42

            Tapi disini juga racikan di sepanjang durasi panjang itu tak lantas jadi terlalu melelahkan. Selain subplot anti-government-nya sedikit lebih baik tanpa military fetish ala Bay yang kelewatan, perpindahan set ke Hong Kong dan Beijing tergarap dengan cukup baik, dengan guest stars-cameos aktor Asia seperti Li Bingbing, and if you noticed, ada Ray Lui, Michael Wong serta ex Super Junior Han Geng, dan yang terpenting bagi real fans-nya ; kemegahan visual dinobots dan antusiasme terhadap kemungkinan sekuel yang bisa jadi bakal bergerak menuju Cybertron atas eksistensi misterius ‘The Creator’ yang masih dihadirkan secara samar disini. Ditambah karakter-karakter baru Transformers yang lebih terbatas hingga masing-masing bisa terfokus lebih detil, terutama Drift, Samurai Transformer yang disuarakan Ken Watanabe serta clear patterns dari giant robots movies, westerns, spy actions and some industrial satire, most of all, it’s like many blockbusters rolled into the explosive one.

TF44

               Dan jangan tanya soal sisi teknis serta visualnya. Okay, penggarapan Bay secara keseluruhan juga masih tak jauh dari biasanya. Tapi kolaborasinya bersama remarkable DoP Amir Mokri sejak ‘Bad Boys II’ dan ‘Dark Of The Moon’ terasa semakin sakti disini. Mengisi small moments-nya dengan sangat elegan, tetap menyisakan taste dari indie roots-nya, keseluruhan durasi panjang itu dipenuhi banyak sekali iconic – jawdropping moments, even more than dozens never before seen visual achievements bersama kerja solid ILM (Industrial Light And Magic) dengan supervisi Pat Tubach di visual effects-nya. Lihat bagaimana mereka meng-handle eksotisme Hong Kong dan Beijing diatas set asli maupun pengganti yang digabungkan dengan bagus sambil tetap merekam proses transforming, giant robots’ realistic shape-shifting, aksi Autobots menangkap human characters-nya yang terlempar dan melayang-layang, ekspresi mata mereka ke penampakan Dinobots ini dengan clarity, kompleksitas serta detil-detil mencengangkan, serba jelas dan di tengah set siang hari pula. Bahkan penggabungan practical effects ledakan, animated effects, rigid effects di race dan massive destruction scenes serta particle effects sangat detil bisa berpadu dengan astonishing popped-up 3D gimmick atau IMAX treatment yang begitu keren. Semua dengan bujet yang tak sebesar film lain dengan pencapaian yang masih rata-rata berada di bawahnya, dimana penempatan product placement seperti apapun akan dengan mudah membuatnya bisa termaafkan.

TF47

              So, inilah Bay-someness, his special aesthetics dalam membangun keunggulan dan kompleksitas visual ke dalam karya-karyanya. Satu yang jelas tak dimiliki semua sineas, dan tak boleh diremehkan begitu saja dalam keberadaan film sebagai blockbuster dengan bombardir hiburan yang sangat menghentak sekaligus memanjakan mata. Just when we thought it couldn’t go any bigger, he still push it over the limits. Sebagian orang, mostly serious critics, mungkin tak akan bisa dengan mudah memahami sisi ini, but then again, seperti excitement mengarungi theme park rides yang seru, in the scale of the whole theme park, ini tetap sebuah power factor that comes bigger, louder, longer and even better. Bahwa critical bombs pun tak akan mampu menahan haters-nya sendiri untuk tak ikut menikmati hype serbuan Transformers dalam intensitas tanpa batas terhadap perolehan box office-nya. Goes maximum overdrive and off limits, this one is more than meets the eye, oops… expectationsBay rules! (dan)

TF49

THE FAULT IN OUR STARS : A POETICALLY INSIGHTFUL LOOK INTO A SICK-LIT ADAPTATION

•June 29, 2014 • Leave a Comment

THE FAULT IN OUR STARS

Sutradara : Josh Boone

Produksi : Temple Hill Entertainment, 20th Century Fox, 2014

TFIOS7

            Here’s a little irony. Tak seperti template baku banyak melodrama Asia yang mengeksploitasi kematian dan penyakit-penyakit terminal sebagai fondasi tearjerking love stories-nya, Hollywood ataupun film-film luar Asia lainnya sekarang agaknya tergolong cukup jarang menyentuh tema-tema ini. Padahal, salah satu yang membuat trend-nya merebak dulu adalah popularitas ‘Love Story’ (1970), adaptasi novel Erich Segal yang masih diingat hingga sekarang, yang notabene datang dari Hollywood. Okelah, bukan lantas sama sekali tak ada, sesekali, film-film seperti ‘My Sister’s Keeper’, ‘50/50’ ataupun yang jauh lebih mirip, ‘Restless’-nya Gus Van Sant (produksi Amerika-Inggris) masih muncul, namun potensi eksploitatifnya tetap punya batasan berbeda.

TFIOS3

            ‘The Fault In Our Stars’, a much anticipated adaptation dari novel best seller karya solo keempat John Green ini juga kurang lebih seperti itu. Walau plot-nya lebih ultimate, menggambarkan love betwen the terminally ill patients dari dua karakter utamanya seperti ‘Restless’, bahkan lebih, ia tak lantas jadi anotherLove Story’. Tema kanker terminalnya dikemas dalam konteks-konteks berbeda, nyaris seperti romcom seperti ‘Benny & Joon’ atau ‘The Other Sister’ yang masing-masing membahas sort of autism dan keterbelakangan mental. Source-nya pun sama. Beyond the sick-lit controversy in children’s books to young adult yang banyak dituding sebagai eksploitasi tak mendidik, dimana’The Fault In Our Stars’ masuk ke dalam banyak bestselling lists sekaligus critically acclaimed novel, karya John Green ini memang berbeda.

TFIOS10

            Ketimbang mengeksploitasi tema kematian dan penyakit-penyakit terminalnya, Green lebih mengarahkannya menjadi sebuah kisah inspiratif atas ide yang datang saat ia melakukan tugas sosial di tengah anak-anak/remaja penderita kanker di sebuah rumahsakit khusus. Meraciknya dengan banyak simbol dan metafora dari science, math, sejarah hingga sastra, salah satunya judul yang terinspirasi dari penggalan drama Shakespeare, Julius Caesar, juga dengan gaya penyampaian yang sangat child to teen-oriented, ‘The Fault In Our Stars’ jadi terasa lebih berupa kisah humanisme dengan banyak percikan-percikan pengharapan diatas tema sentral lovestory-nya.

TFIOS5

            Walaupun Kanker Tiroid terminal yang sejak lama sudah bermetastasis ke paru-parunya masih membuat Hazel Lancaster (Shailene Woodley) bertahan di usianya yang ke-16 atas sebuah temuan yang mengarah ke eksperimen terapeutik, ia tetap tumbuh menjadi seorang gadis depresif yang dipaksa ibunya (Laura Dern) buat bergabung bersama grup konseling penderita kanker di sebuah gereja. Disanalah ia kemudian bertemu dengan Augustus ‘Gus’ Waters (Ansel Elgort), penderita Osteosarkoma yang sudah kehilangan sebelah kakinya. Berbeda dengan Hazel, Gus yang berteman dekat dengan Isaac (Nat Wolff), penderita tumor mata yang baru kehilangan seluruh penglihatannya bersifat sangat optimis terhadap remisi penyakit setelah tindakan amputasi tersebut. Keduanya menjadi sangat dekat bersama kegemaran dan rasa penasaran mereka terhadap ending novel favorit Hazel, ‘An Imperial Affliction’ karya penulis Belanda misterius Peter Van Houten (Willem Dafoe) yang juga mengisahkan gadis penderita kanker dan dianggap Hazel mewakili keadaannya. Gus kemudian membantu lewat asisten Van Houten, Lidewij (Lotte Verbeek) untuk langsung menemui Van Houten ke Amsterdam. Disana hubungan mereka semakin berkembang, membawa Hazel lebih jadi lebih tegar, bahkan saat sebuah rahasia tentang penyakit Gus kemudian terkuak dengan cinta sebagai satu-satunya harapan untuk saling menyelamatkan dan membawa mereka ke akhir kisah masing-masing.

TFIOS2

            Meski tak mungkin menangkap semuanya secara persis, kredit duo penulis Scott Neustadter dan Michael H. Weber dari ‘(500) Days Of Summer’ dan ‘The Spectacular Now’ (juga filmnya Shailene Woodley) jelas menjadikan mereka orang yang tepat untuk memindahkannya ke skrip. Atmosfer insightful Green diatas dialog-dialog puitis penuh simbol serta metafora yang dihadirkan Neustadter dan Weber menjadi hal paling menarik untuk penyampaian ceritanya. Bukan hanya benar-benar menyampingkan kemungkinan-kemungkinan eksploitatif secara cemen dengan fokus ke penelusuran penyakit yang sekedar jadi latar namun tetap tersampaikan dengan informatif dan cukup akurat, juga membangun chemistry antara karakternya. Meski tak membentuk blend yang benar-benar sempurna, akting Woodley dan Elgort bukan lantas jadi gagal.

TFIOS9

            Okay, turnover karakter Gus mungkin masih sedikit agak lemah di bagian-bagian awal namun bersama pengembangan chemistry-nya, Elgort tetap bisa menghadirkan kerapuhan tanpa terpeleset jadi over sambil tetap menonjolkan sisi charming-nya menjadi leading man yang harus mengimbangi akting Woodley yang jauh lebih baik diatas naik turun emosinya membawa narasi keseluruhan kisah ini. On the other hand, lebih dari penampilan senior-senior seperti Laura Dern dan Willem Dafoe, yang sayangnya oleh skrip itu gagal dengan fungsi perannya sebagai karakter penyambung yang benar-benar natural, Nat Wolff dan Lotte Verbeek sangat mencuri perhatian dengan kemunculan mereka. Masih ada Sam Trammell dari HBO’s ‘True Blood’, aktor berparas sangat mirip Jim Carrey yang juga tak jelek.

TFIOS8

 

               Penyampaian yang sangat teen-oriented dibalik segmentasi soundtrack bagus dari Ed Sheeran (theme song-nya, ‘All Of The Stars’), Birdy dan M83  mungkin juga membuat persepsi rasa dan potensi tearjerking-nya akan sangat relatif, namun agaknya Josh Boone, sutradara yang sebelum ini sudah menghadirkan small star-studded rom-com secantik ‘Stuck In Love’ memang sengaja ingin menangkap nafas asli tone Green dalam novelnya. Bersama scoring Mike Mogis dan Nate Walcott yang tak juga kelewat mendayu-dayu, bahkan di banyak sisi penceritaannya seakan sengaja menahan ledakan-ledakan emosi tanpa satupun klimaks yang melonjak, Boone seperti ingin menarik batasan bahwa ‘The Fault In Our Stars’ bukan sepenuhnya bertujuan untuk mengeksploitasi emosi, tapi lebih menonjolkan sisi thoughful serta uplifting terutama ke pemirsa yang benar-benar merasa related dengan karakter-karakternya. Seperti mengikuti terapi suportif di grup konseling, you might have a lump in your throat, tersentuh dengan sebagian adegannya, tapi ketimbang meneteskan airmata, selipan metafora sejarah Anne Frank, thought and fear of oblivions dan dialog-dialog puitis, terutama yang hadir lewat eulogy-nya jauh lebih thought-provoking terhadap kaitan-kaitan nyata ke balance antara gambaran komikal dan humanisme karakter yang tengah berada dalam state of struggle menghadapi penderitaan-penderitaan mereka. Bahwa pada akhirnya, lovestory antara Gus dan Hazel bisa menjadi everybody’s story.

TFIOS6

         So yes, semuanya memang terpulang lagi terhadap ekspektasi masing-masing penontonnya. Sebagian mungkin mengharapkan ‘The Fault In Our Stars’ bisa lebih banyak menghabiskan tissue yang sudah mereka bawa, namun kenyataannya, source aslinya memang bukanlah sebuah disease-porn dengan tendensi eksploitasi airmata yang kelewat vulgar. Instead, tanpa hal-hal klise itu, ‘The Fault In Our Stars’ tetap bisa terlihat cantik serta sangat menggugah. A poetically insightful look at a sick-lit adaptation, dan itu artinya, tak biasa. (dan)

TFIOS1

SELAMAT PAGI, MALAM : NECESSARY ROUGHNESS ON JAKARTA NIGHT RIDE

•June 24, 2014 • Leave a Comment

SELAMAT PAGI, MALAM

Sutradara : Lucky Kuswandi

Produksi : PT Kepompong Gendut, Sodamachine Films, 2014

SPM3

            Ada banyak cara untuk mendefinisikan Jakarta. Sebagai social satire, in movies, dalam berbagai macam bentuk dan pendekatannya, yang rata-rata memang bertujuan untuk membawa penonton terutama segmentasinya berkaca dan menertawakan diri mereka sendiri, ini juga bukan hal baru. Dari ‘The Big Village’ hingga ‘Arisan’, masing-masing membawa kritik sosialnya ke dinamika lintas zaman dan generasi diatas trend-trend yang berbeda terhadap kehidupan metropolitan dan krisis identitas manusia-manusia yang ada di dalamnya.

SPM2

         Namun seorang Lucky Kuswandi, sineas yang sudah cukup lama malang-melintang di scene film indie hingga akhirnya bergerak ke layar lebar lewat salah satu segmen dalam dokumenter ‘Pertaruhan (At Stake)’ dan debut feature-nya ‘Madame X’, memang membuat apa yang hadir dalam ‘Selamat Pagi, Malam’ tetap terasa fresh. Kacamata atas protes-protesnya mungkin berdiri di hal-hal yang tak jauh beda dengan yang lain, mostly menyentil artificalism dalam lifestyle kebanyakan pelakunya, namun penyampaiannya tak sama. Menyempitkan benang merah penggarapan interwoven plot-nya ke perjalanan mengarungi sebuah malam di Jakarta lewat karakter-karakter yang ada, kiprahnya juga membentuk blend yang bagus ke style new wave – kontemporer produksi-produksi Kepompong Gendut-nya Sammaria Simanjuntak yang sudah kita lihat dalam ‘Cin(t)a’ dan ‘Demi Ucok’. Ada banyak kegelisahan yang ia munculkan lewat naskah yang memang ditulisnya sendiri dan kabarnya memakan keseluruhan proses 8 tahun, namun penyampaiannya punya keseimbangan yang bagus diantara fokus masing-masing segmen dan karakter yang dipadukan jadi satu itu.

SPM1

              Sepulangnya dari menimba pendidikan di New York, Anggia / Gia (Adinia Wirasti) merasakan Jakarta tak lagi sama seperti rumahnya dahulu. Satu-satunya harapannya, Naomi / Nai (Marissa Anita), pasangannya di New York yang lebih dulu pulang ke Jakarta, ternyata sudah berubah mengarungi kehidupan hedonis, kebarat-baratan dan penuh topeng demi pengakuan status di segmentasi pergaulannya. Sementara Indri (Ina Panggabean), seorang pegawai gym, terus mencoba menaikkan derajat hidupnya dengan memilah-milih pasangan lewat random chatting via smartphone-nya. Ada pula Ci Surya (Dayu Wijanto), seorang wanita paruh baya yang berada dalam sebuah state of shock kala mengetahui alm. suaminya yang baru saja meninggal ternyata punya simpanan wanita malam di sebuah klub. Semuanya terjebak dalam pertentangan jiwa masing-masing, di tengah kehidupan artifisial atas harapan, nafsu dan mimpi-mimpi kaum urban yang berbeda, dimana semuanya meledak dalam perjalanan semalam yang bertemu di sebuah benang merah. Motel bernama Lone Star. Jakarta.

SPM4

          Hal paling menarik dalam ‘Selamat Pagi, Malam’ adalah kontras dari bentukan karakter-karakter yang dipilih Lucky untuk menyampaikan kegelisahannya memandang apa yang ada di sekitarnya sekarang. Bahwa ia tak lantas membangun sisi satirikalnya jadi terbatas hanya dalam deskripsi penuh hura-hura, dan bukan pula jadi melulu berupa sarkasme serba cerewet. Diatas sebuah atmosfer malam Jakarta yang sekaligus menangkap kecantikan dan keburukan penuh kegelisahan itu tak hanya puitis tapi juga luarbiasa kasar serta nakal, tiga karakter utama beserta pendamping-pendampingnya itu berpadu menciptakan sebuah balance yang benar-benar terasa hidup. Dialog-dialognya sangat menohok, dan kontras set yang dibangun production designer Christyna Theosa beserta tim artistiknya membuat deskripsi benturan derajat serta keinginan berbeda itu jadi penuh simbol bahkan secara solid dituntaskan dengan near ending scene dibalik alunan acapella lagu klasik ‘Pergi Untuk Kembali’ dari karakter Dira Sugandi yang sangat haunting. Pretty, dark, sekaligus kontemplatif.

SPM7

            Kekuatan kedua jelas ada di pemilihan cast-nya. Ketimbang bermain dengan wajah-wajah yang sudah sangat dikenal, mereka mengutamakan tampilan realisme untuk membuat interwave antar segmen-segmennya menciptakan relatable feel ke penontonnya. Di luar Adinia Wirasti yang memang bekerja dengan baik sebagai main vehicle dibalik tipikalisme karakter serba cuek dan free spirited-nya, seluruh cast-nya dengan mengejutkan tampil dengan luarbiasa, mostly Marissa Anita. Bukan saja meng-handle porsi besar pertama perannya dengan begitu cantik, chemistry-nya dengan Adinia juga juara. Ina Panggabean, Trisa Triandesa, Dayu Wijanto dan Mayk Wongkar juga bermain begitu lepas, sama sekali tak malu-malu, even ketika Lucky membombardir kenakalannya ke sejumlah adegan yang beresiko berhadapan dengan sensor lebih. Begitupun, kasar-kasarnya joke dan sindiran ini tak lantas membuat pengadeganan mengarungi Jakarta night ride ini jadi tak relevan. Necessary roughness on the look of Jakarta’s face, dan melemparkan struggling choices dan social critics lain tepat ke tengah-tengah pemirsanya, untuk berkaca dan menertawakan diri mereka sendiri. Sama seperti sindirannya, hilarious on the surface, tapi menyedihkan di dalamnya.

SPM5

            Dalam penyampaian kontemporer di sisi sinematisnya, ‘Selamat Pagi, Malam’ yang punya international title keren, ‘In The Absence Of The Sun‘ ini juga cukup solid. Tata kamera dari M. Budi Sasono yang merekam sisi-sisi Jakarta malam hari itu bersinergi dengan pas bersama simbolisme yang dihadirkan Lucky, detil-detil tata rias dan kostum, masing-masing dari Stella Gracia dan Yufie Safitri untuk menekankan layer-layer derajat serta mimpi itu juga bagus, begitu juga tata musik dari Ivan Christian Gojaya. Masih ada juga cameo serta penampilan singkat yang menarik baik dari wajah-wajah yang selalu muncul di produksi Kepompong Gendut ; Lina Marpaung aka Mak Gondut, Sunny Soon dan Sammaria Simanjuntak sendiri, Adella Fauzi, Nazyra C. Noer, Paul Agusta, Aming, Dira Sugandi bahkan pengamat film senior Indonesia Yan Widjaya yang muncul hanya lewat foto. Dan terakhir, tentu saja lagu-lagu untuk mengiringi soundtrack-nya, yang selalu jadi kekuatan ekstra di produksi PH ini. Ada ‘Selamat Pagi Malam’ dari Agustine Oendari, ‘To NY’ dari Aimee Saras dan ‘Pergi Untuk Kembali’ dari Karta Tanuwidjaya.

SPM8

            Lagi-lagi, dengan waktu perilisan yang sebenarnya pas menjelang HUT Jakarta, dimana social satire yang menohok wajah kehidupan di kotanya harusnya bisa jadi sesuatu yang spesial, sayang sekali sambutan penonton kita jauh dari yang diharapkan. Okelah, walau harus berhadapan dengan segmentasi penonton, mostly penghuni Jakarta atau paling tidak kota-kota besar lain yang bisa benar-benar menyelami sarkasme-sarkasmenya, tapi sambutan  terhadap ‘Selamat Pagi, Malam’ seharusnya bisa jauh dari kenyataan yang ada. Tapi satu yang pasti, ini adalah social satire dengan keseimbangan protes serta nafas kontemplasi yang pas. That even at the worst nights, ia tetap menyemangati kita buat bertahan menunggu pagi. Take you dive into Jakarta night scenes where artifical lives and real passions collide, ‘Selamat Pagi, Malamis exuberantly hilarious! (dan)

SPM6

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,759 other followers