DILEMA : A PERFECT BLEND OF TALENTS

•February 24, 2012 • Leave a Comment

DILEMA

Sutradara : Adilla Dimitri, Rinaldy Puspoyo, Yudi Datau, Robert Ronny, Robby Ertanto

Produksi : WGE Pictures, 2012

Sebuah film dengan segmen-segmen film di dalamnya, baik yang dibubuhi judul or else, ditangani sutradara-sutradara berbeda di masing-masing segmen, can be called an omnibus or anthology. Omnibus ini bisa saja memiliki kaitan berupa benang merah yang mengarah ke karakter, set atau yang lain, bahkan yang akhirnya digelar jadi segmen tersendiri. Contohnya ‘Paris, Je t’aime’, atau dari dalam negeri sendiri, ‘Jakarta Maghrib’ tempo hari. Then there’s a style called interwoven, interlinked, atau sebutan-sebutan lain, yang merupakan plot yang dibangun dari karakter-karakter dengan pusat konflik masing-masing, seakan tumpang tindih tapi punya benang merah dari beberapa diantaranya. Walau mirip segmen, tapi alurnya yang berjalan bersamaan dengan sutradara sama tak selalu dianggap sebagai omnibus. Like ‘Traffic’, ‘Crash’, ‘Valentine’s Day’ atau ‘New Year’s Eve’ barusan.

Dilema’, film Indonesia yang hadir minggu ini, punya kasus sedikit berbeda. Tampilan sebenarnya adalah sebuah omnibus, 5 segmen dengan sutradara berbeda. Namun dari benang merah yang dimiliki plotnya, ia disuguhkan sebagai sebuah interwoven plot. Segmen-segmen yang punya sutradara beda itu tak lantas disuguhkan dengan judul untuk mengawali satu-persatu namun dibiarkan bergulir seperti puzzle tanpa kesinambungan menuju tautan benang merahnya secara perlahan. If you saw a Korean movie titled ‘Romantic Heaven’, yang meski hanya punya satu sutradara tapi menekankan omnibus-nya lewat segmen yang hadir satu-persatu dengan judul, ini kurang lebih seperti itu. It’s formerly an omnibus, tapi disuguhkan dengan style interwave.  Multi-naratif dalam berbagai style, seperti film-film Alejandro González Iñárritu. So yes, kita boleh punya omnibus sebelumnya, tapi dari narasinya, ini adalah sesuatu yang spesial, dan benar-benar spesial. Kelima segmen anthology itu seakan dicampur ke dalam satu kuali lewat editing yang kemudian memisah-misahnya tanpa aturan. It’s like you go through the puzzle dan mendapat jawabannya ketika seluruh puzzle itu selesai. Belum lagi dari barisan bintang senior dan junior yang dipertemukan Wulan Guritno yang selain ikutan main, juga duduk di kursi produser lewat karya perdana rumah produksinya, WGE. Satu lagi yang penting, ‘Dilema’ menuangkan isu yang dekat ke kehidupan kita sedikit lebih dalam ketimbang menjual cinta-cintaan secara komersil, sebagai human drama dengan sindiran sosial dan balutan benang merah sebagai sebuah drama kriminal. Now let’s go to the segments.

Dalam ‘The Officer’ karya Adilla Dimitri yang mengawali ‘Dilema’ seperti bagian awal thriller-thriller polisi/kriminal luar, kita dibawa ke karakter Brigadir Ario Bayu Sustoyo (Ario Bayu), polisi idealis yang baru memulai patroli hari pertama tugasnya bersama seniornya, Bowo (Tio Pakusadewo), polisi korup yang tengah mencari biaya untuk tindakan operasi putrinya. Tugas membawa mereka ke sebuah konflik intern antar ulama berbeda aliran di sebuah mesjid.

Garis Keras’ yang disutradarai Robby Ertanto Soediskam mengisahkan tentang ormas Islam yang keluar jalur dalam memerangi kemaksiatan dan problema-problema Islam di lingkungan mereka. Pasalnya, dua penggerak utamanya yang sekaligus adalah sahabat lama, Said (Winky Wiryawan) dan Ibnu (Baim Wong) semakin terdorong ke garis berseberangan. Di saat Ibnu mulai menyadari perjuangan agama yang semakin keluar jalur dan ditunggangi banyak orang demi alasan ekonomi, Said justru diserahi kontrak berbahaya dari seorang pengusaha besar yang tak bisa ditolaknya demi menghidupi putri kecilnya.

The Big Boss’ karya Rinaldy Puspoyo mengetengahkan sosok Adrian (Reza Rahadian), arsitek muda sukses yang sudah memiliki firmanya sendiri bersama sahabat setianya, Bari (Abimana Aryasatya), yang seketika didatangi wanita paruhbaya yang bernama Hetty (Jajang C.Noer) dan memaksanya untuk menyambangi pengusaha besar Sony Wibisono (Roy Marten) yang terbaring menunggu ajal. Adrian tak menyadari bahwa ada rencana besar menyangkut hidupnya yang diinginkan Sony.

Rendezvous’ karya Yudi Datau mengisahkan gadis galau bernama Dian (Pevita Pearce) yang tengah menyepi di sebuah cottage tepi pantai namun diajak oleh Rima (Wulan Guritno) untuk berbaur di pesta yang digelar putranya. Dua wanita beda usia dengan masalah masing-masing, Dian yang merasa kurang perhatian dari sosok ayah dan Rima dengan latar belakang kekecewaan pada lelaki ini mulai mencoba mengenal satu sama lain, dan Dian tak menyadari adanya rencana dibalik perkenalan itu.

The Gambler’ dari sutradara Robert Ronny membawa kita ke sebuah kasino gelap dalam dunia underworld crime dimana seorang pria tua, Sigit (Slamet Rahardjo) kini kembali untuk menebus kekalahan lamanya dari bos Gilang (Ray Sahetapy), pemilik kasino itu. Anjuran dari manajer kasino (Lukman Sardi) yang mengingatkan Sigit tak lagi didengarnya. Tanpa modal cukup, Sigit memutuskan untuk merubah nasibnya disana.

Inisial SW pada salah satu karakter yang merupakan benang merah utama dari segmen anthology ‘Dilema’ ini mungkin sedikit mengingatkan ke karakter nyata bernama belakang sama untuk menggelar kisah kriminalitas mafia dibalik kedok pengusaha kaya berinisial belakang sama, lengkap dengan kerjasama dan seterunya pada penegak hukum plus kritik-kritik sosialnya. Meski menggunakan Jakarta sebagai setnya, ini merupakan fenomena yang tak hanya ada di ibukota, tapi juga di kota-kota besar lain sebagai bagian dari isu-isu yang hampir setiap hari kita jumpai di media. Dari sana, sutradara-sutradara muda ini menggagas bangunan plot serta karakter-karakter yang saling terkait satu sama lain dalam konflik-konflik dilematis sesuai judulnya. Problem sampingannya bisa jadi sama klise dengan kisah-kisah itu, namun yang hadir dalam ‘Dilema’ adalah suatu kewajaran tanpa sekali pun bergerak keluar dari jalurnya. Jahitan benang merah itu dijalin dengan rapi melalui segmen-segmennya, tanpa style penyutradaraan yang kelihatan timpang satu dengan lain, namun masing-masing hadir sama kuatnya. Sinematografi dari tiap segmennya terasa berjalan secara sinergis, blended perfectly ke editing Sastha Sunu yang juga sangat kuat memisah-sambung tiap segmen menuju konklusi yang saling menubrukkan karakter dari tiap segmen ke opening twist yang meski sebagian besar tertebak tapi tetap punya sisi surprise dan tak mengakhirinya dengan hitam putih. All human, dengan usaha membuat interwave omnibus itu menyatu dengan sempurna. Skoring musik dari Tya Subiakto juga semakin memberikan kesan majestis ke tiap pengadeganannya.

Namun untuk penonton awam yang mungkin belum terlalu biasa disuguhkan narasi puzzling seperti ini, daya tarik ‘Dilema’ tetap ada pada barisan castnya yang nyaris sempurna menerjemahkan karakter masing-masing, dari nama-nama senior, generasi tengahnya sampai ke generasi aktor-aktor muda sekarang. Dari Slamet Rahardjo dan Roy Marten yang tampil paling solid menokohkan karakter mereka dengan kekuatan akting yang menunjukkan senioritasnya, Ray Sahetapy, Tio Pakusadewo dan Jajang C.Noer yang memberi nuansa komikal namun tak lantas jadi over, chemistry Winky dan Baim dalam permainan emosi yang naik turun dengan wajar, transformasi Wulan Guritno yang melepas atribut wanita cantiknya, hingga Ario Bayu, Reza Rahadian, Lukman Sardi dan Pevita Pearce yang bermain santai tapi tetap bagus, dan Abimana yang lagi-lagi tampil sedikit tipikal tapi menyimpan kekuatan di penghujung film. Pameran akting lintas generasi ini adalah salah satu kunci yang membuat ‘Dilema’ tetap bisa dinikmati dengan sangat nyaman dibalik puzzling narrative-nya. In the end, semua unsur-unsur sinematis itu sudah membangun jalannya bersama menjadi sebuah tontonan yang beda, sekaligus juara. This is not just a show of stars, but goes with visceral depth beyond a cinematic perfection. Salah satu pencapaian terbaik dari sinema kita yang sangat layak untuk dihargai. Be sure to watch this! (dan)

THE GREY : SYSTEM OF SURVIVAL

•February 23, 2012 • Leave a Comment

THE GREY

Sutradara : Joe Carnahan

Produksi : Lidell Entertainment & Open Road Pictures, 2012

For some, mungkin bukan faktor Liam Neeson yang belakangan bertransformasi  lewat kiprahnya di film-film aksi yang jadi daya tarik utama dalam ‘The Grey’. Meski poster itu juga menjual tampangnya seorang, ini adalah filmnya Joe Carnahan. Mulai debutnya dalam film pendek produksi BMW, ‘The Hire’, Carnahan sudah menunjukkan potensinya dalam menggelar adegan aksi. Then comes ‘Narc’, thriller kriminal yang diproduseri Tom Cruise dan dibintangi Jason Patric-Ray Liotta. Tak begitu laku, tapi dipuji-puji kritikus. Stylenya makin jelas di ranah film aksi yang kelam, serba keras dan sedikit gila. Followed by ‘Smokin’ Aces’ dan yang paling dikenal, ‘The A-Team’, kini Carnahan datang dengan adaptasi cerita pendek berjudul ‘Ghost Walker’ karya penulis Ian MacKenzie Jeffers yang juga ikut menulis skenarionya bersama Carnahan. Premisnya menarik, tentang sekelompok orang di tengah kerasnya rimba salju Alaska yang terjebak di koloni serigala buas pemangsa. Di kursi produser, ada pula nama Ridley dan Tony Scott. Ini memang bukan fantasi penuh CGI manusia serigala macam ‘Wolfman’, ‘Underworld’, bahkan ‘Twilight’. Mengandung filosofi humanis dibalik tema survivalnya, dari serangkaian promonya kita sudah tahu, bahwa serigala-serigala yang sempat menuai protes dari PETA itu digambarkan se-nyata dan se-manusiawi karakter-karakter manusianya. At times, bisa jadi jauh lebih buas dari sekedar fantasi.

Bersama sekumpulan manusia-manusia lain yang bekerja di sebuah situs penggalian minyak di tengah salju Alaska, John Ottway (Liam Neeson) yang bertugas sebagai sniper pembunuh serigala juga punya latar yang sama kelamnya. Ottway malah sempat berniat bunuh diri akibat memendam kekecewaan atas perpisahannya dengan sang istri, Ana (Anne Openshaw) yang dituangkannya lewat sebuah surat. Menjelang masa akhir pekerjaan mereka, pesawat yang mereka tumpangi mendadak mengalami kecelakaan. Ottway menjadi salah seorang diantara segelintir survivor yang lantas mencoba bertahan hidup disana. Pasalnya, mereka terjebak tepat di tengah koloni para serigala yang kapanpun siap menyerang mereka. Satu-persatu mulai menjadi mangsa di tengah usaha mereka mulai mengenali kebiasaan binatang-binatang buas ini, namun lebih dari itu, hubungan satu sama lain juga mulai diuji di tengah ketakutan dan kewarasan masing-masing sebagai manusia.

Jika pernah menyaksikan ‘Alive’ (1993), karya sutradara Frank Marshall yang menggambarkan kisah nyata survival tim rugby Uruguay setelah kecelakaan pesawat di tengah salju pegunungan Andes tahun 1971, Anda pasti sudah bisa menebak atmosfer film ini. Beberapa adegannya, suka atau tidak, memang sangat mengingatkan setiap penonton yang pernah menyaksikan film itu. Namun Carnahan, membawanya lagi ke level yang jauh lebih menegangkan bahkan menyeramkan lewat sinematografi besutan Masanobu Takanayagi dan pastinya, plot yang menghadapkan mereka dengan serigala-serigala buas itu. Shot-shotnya dipenuhi close-up pada ekspresi karakternya yang seakan berada dalam tekanan terberat yang belum pernah terbayangkan. Wajah dan tangan-tangan kotor, percikan darah lewat serangkaian adegan yang cukup gory, seakan kita melihat keringat yang jadi kontradiktif dibalik atmosfer eerie dinginnya pegunungan salju itu. Bahkan garis-garis kerutan dibalik ekspresi tadi tampak sama hidupnya. Liam Neeson sekali lagi menunjukkan transformasi akting yang cukup baik, namun yang muncul lebih kuat dalam transformasi itu justru Dermot Mulroney yang memang kerap memainkan karakter-karakter berbeda dalam karirnya, dari koboi pengunyah sirih yang mencuri layar dari Charlie Sheen-Emilio Estevez-Kiefer Sutherland dkk di ‘Young Guns’ sampai leading man dalam rom-com ‘My Best Friend’s Wedding’ dan ‘The Wedding Date’. Skor yang semakin menekankan tiap sisi ketegangannya dari Marc Streitenfeld pun bekerja dengan baik bersama sinematografi dan penyutradaraan Carnahan. Dan ‘The Grey’ tak lantas berhenti di sebuah film aksi manusia lawan serigala dalam tendensi hiburan murni. Di tengah plot simpel yang sekilas kelihatan klise, Carnahan membangun skenarionya dengan kedalaman filosofis dari basic instinct dua spesies berbeda buat bertahan hidup di tengah alamnya. Seringkali terkesan informatif,  sekaligus membawa tampilan serigala-serigala-nya sebagai karakter penting yang lebih menyeramkan dari sekedar monster-monster biasa. Sama dengan karakter-karakter manusianya, tak ada hero atau villain dalam batas hitam putih. Seperti salju yang jadi kelam, yang ada hanya garis tipis serba abu-abu seperti judulnya. In the end, dari open ending berikut scene after credits yang bukan juga memberikan konklusi simpel terhadap putusan hidup dan mati yang dangkal, this is about a system of survival, where you should kill or be killed, or eat or be eaten. Anda akan beranjak dari bioskop dengan perasaan tak karuan, dan itu tandanya, Carnahan sudah sangat sukses membungkus semua gagasannya. Deeply Intense! (dan)

GHOST RIDER : SPIRIT OF VENGEANCE ; HE WHO PEES FIRE

•February 17, 2012 • Leave a Comment

GHOST RIDER : SPIRIT OF VENGEANCE

Sutradara : Mark Neveldine & Brian Taylor

Produksi : Hyde Park Entertainment, Imagenation Abu Dhabi, Marvel Knights, Columbia Pictures, 2012

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau ‘Ghost Rider‘, kencingnya api. Saya tak tahu joke sejelek ini berasal dari mana, apalagi dengan visualisasi plus dialog yang terang-terang menanyakan itu. Like ‘Mister, I wanna know how you pee”. Apakah dari salah satu penulisnya, yang notabene merupakan penulis komik serta skenario yang lagi dipuja-puji karena kolaborasinya dengan seorang Christopher Nolan, David S. Goyer, atau Scott Gimple dan Seth Hoffman. Atau, justru dari duo sutradara yang dipilih buat meneruskan estafet dari Mark Steven Johnson sebagai sutradara film pertamanya, Mark Neveldine & Brian Taylor (credited as Neveldine/Taylor), yang memang sepertinya agak terganggu. Oh ya, mereka adalah orang-orang yang menghasilkan ‘Crank’-nya Jason Statham, ‘Gamer’ yang juga hampir sama nyelenehnya, berikut adaptasi ‘Jonah Hex’ (sebagai penulis skenario). Dan mungkin karena Stan Lee-Avi Arad dari Marvel sendiri menganggap franchisenya sebagai franchise kelas dua mereka di bawah bayang-bayang ‘The Avengers’, sekuel ini menjadi film kedua di bawah bendera divisi Marvel Knights setelah ‘Punisher : Warzone’ yang menurut Stan Lee dikhususkan ke karakter Marvel yang kurang dikenal dan stylenya lebih gelap. Begitu ya?

Oke. Film pertamanya, ‘Ghost Rider’ memang banyak mendapat cercaan baik dari kritikus dan penonton. Tapi harus diakui juga bahwa Mark Steven Johnson yang juga menulis ceritanya serta campur tangan Nicolas Cage yang katanya fans setia komiknya, sudah berhasil memperkenalkan karakter ini dengan adaptasi sebagaimana mestinya, in the way of superhero movie genres. Seru, fun dan setia ke komiknya. Box officenya juga lumayan hingga mereka merencanakan sekuel ini. Singkatnya, bagi penggemar atau yang tahu lebih banyak tentang komiknya, ini adalah adaptasi yang cukup bagus. Salahnya, di film kedua ini, baik skenario dan penyutradaraan itu meluluh-lantakkan semuanya. Berbanding terbalik dengan teaser trailernya yang kelihatan sangat seru dan menjanjikan, yang kita dapatkan bukan lagi bentuk nyata dari sebuah sekuel, namun seperti reboot dengan kombinasi style ‘Crank’-‘Drive Angry’ dengan fantasi religius penuh khotbah seperti ‘Legion’ atau ‘Priest’. Boro-boro mau kelihatan seperti ‘DaVinci Code’. Bahkan ‘Drive Angry’ yang serba nyeleneh tapi sesuai tendensinya sebagai homage ke film-film drive-in trash, yang tergolong ‘so bad it’s good’, masih jauh lebih kelihatan lebih baik. Gimmick 3D-nya? Sama saja. Ini memang cukup parah.

Seorang pendeta dari sebuah biara terpencil di Turki, Moreau (Idris Elba), ditugasi untuk menyelamatkan Danny Ketch (Fergus Riordan), seorang yang tengah diincar Roarke (Ciarán Hinds), setan dalam wujud manusia yang ingin menggantikan tubuhnya ke tubuh Danny. Danny yang bersembunyi di sebuah biara di Eropa Timur bersama ibunya, Nadya (Violante Placido) segera disambangi oleh sekawanan bandit sewaan Roarke, Carrigan (Johnny Whitworth). Moreau kemudian meminta pertolongan Johnny Blaze (Nicolas Cage), yang tengah menyepi di Eropa Timur atas penyesalannya setelah melakukan perjanjian dengan setan, yang menyebabkannya menjadi Ghost Rider. Blaze awalnya menolak, namun janji Moreau untuk mengembalikan jiwanya membuat Blaze ikut serta dalam pengejaran itu. Mereka berhasil menyelamatkan Danny dan membawanya ke biara Moreau namun pendeta atasan Moreau, Methodius (Christopher Lambert) berniat menghabisi Danny. Di saat bersamaan, Roarke menyerbu bersama Carrigan yang sudah diberinya kekuatan setan sebagai Blackout. Sementara Blaze yang ingin menolong tak bisa berbuat apa-apa karena Moreau sudah menunaikan janjinya. Ia mendapatkan jiwanya kembali, namun kehilangan kekuatan Ghost Rider. Sekarang pilihannya adalah tetap kembali sebagai Johnny Blaze, atau mengharapkan Danny yang tengah ditawan Roarke untuk mengembalikan sosok Ghost Rider ke dalam dirinya.

Ghost Rider : Spirit Of Vengeance’, seperti yang digembar-gemborkan Cage dalam produksinya akan membawa karakter superhero yang anti-hero ini ke level baru yang serba seru, it’s like ‘he’s getting drunk’, katanya, ternyata memang menepati janjinya. Tapi hasilnya malah berbalik dari yang diinginkan, as ‘drunk’ means real drunk dengan treatment dari Neveldine/Taylor yang memang nyeleneh itu. Dibuka dengan stylish opening scene yang cukup mantap dari adegan kejar-kejaran di Eropa Timur, kredit awalnya kembali memperkenalkan asal-usul ‘Ghost Rider’ dari narasi Johnny Blaze. Namun makin ke tengah, Neveldine/Taylor semakin menunjukkan wujud asli mereka dari skenario yang ternyata juga sama berantakannya, termasuk teori-teori biblical tentang ‘Spirit Of Vengeance’ dalam usaha membuat plotnya terlihat seperti novel-novel Dan Brown.

Dialog-dialognya cheesy dan preachy, hampir seluruh pemerannya bermain overkomikal kecuali Idris Elba yang bisa sedikit membuat karakter Moreau, pendeta jagoan itu lebih menarik. Cage malah jatuh ke taraf akting yang seolah malas-malasan menunjukkan karakter Blaze yang tak lagi konsisten seperti di film pertamanya. Sebentar penuh keluhan namun sebentar lagi bersemangat dengan khotbah-khotbah tak penting. Fergus Riordan sebagai Danny yang harusnya jadi pusat perhatian pun sama datarnya. Sebagai villain, Ciarán Hinds dan Johnny Whitworth yang sekilas terlihat seperti versi serius Jim Carrey namun kemudian di make-up mirip Prince Nuala-nya ‘Hellboy’ dengan kemampuan membusukkan lawannya hingga berjamur itu pun tak lagi bisa menyelamatkan meski tampil cukup lumayan. Bahkan aktor senior Perancis Christopher Lambert yang sudah lama tak muncul sampai rela menggunduli kepalanya pun hanya numpang lewat secara tersia-sia.

Visual adegan aksinya dibesut dengan CGI yang sangat tak perlu dan menurunkan intensitasnya. Tak jarang, di tengah showdown yang seharusnya bisa tampil seru, Neveldine/Taylor merusaknya dengan visual ala animasi videoklip yang seakan mau berinovasi tapi malah anehnya luar biasa, hingga dentuman musik cadas yang digeber terus-terusan bersama gimmick 3D konversinya pun tak lagi bisa menolong. Namun yang paling parah memang adalah soal ‘pees fire’ itu, yang entah dengan tujuan apa dimunculkan sampai lebih dari sekali, diawali dialog konyol pula. Sama konyolnya dengan adegan Ultraman dalam ‘Crank : High Voltage’ tempo hari. The main thing, Mr. Neveldine and Mr. Taylor, kami tak bakal perduli dengan bagaimana tokoh superhero ini buang air kecil, tapi bagaimana ia beraksi dengan lemparan rantai dan kobaran api dimana-mana, itu yang penting. Kalian bersama Goyer dkk yang sepertinya ikut terganggu itu tak hanya menghilangkan simbol rantai sebagai senjata utama ‘Ghost Rider’, tapi juga meredupkan flaming fire-nya mau seberapa banyak pun bensin yang kalian gunakan. Ini benar-benar tak lagi kelihatan seperti genre superhero dan secara total kehilangan benang merahnya ke film pertama. As for me, mudah-mudahan Goyer masih bisa waras untuk nantinya tak memunculkan teori Superman kencing di ‘The Man Of Steel.’ Bah! (dan)

REPUBLIK TWITTER : RETWEET!

•February 16, 2012 • 3 Comments

REPUBLIK TWITTER

Sutradara : Kuntz Agus

Produksi : Amalina Pictures, RupaKata Cinema, 2012

Gadget dan jejaring sosial. Facebook? Kita sudah punya ‘I Know What You Did On Facebook’. Lumayan. Blackberry? Ada ‘My Blackberry Girlfriend’. Agak parah. And now comes twitter. ‘Republik Twitter’ yang jauh-jauh hari sudah memulai viral marketingnya lewat jejaring sosial sesuai judulnya, sedikit beda. Ketimbang bermain-main dengan plot, penggagasnya memilih menyajikan sebuah human drama penuh sentilan sosial sampai politik yang membalut sebuah tema paling universal. Cinta. Itu juga yang mungkin membuat sentilan-sentilannya terasa kena ketimbang hanya menggunakan simbol jejaring sosial sebagai ajang selingkuh-selingkuh. Betapa sebuah intrik politik memang banyak bertabur disini. Mau menghina pemerintah dan pejabat sampai character killing terhadap sosok mereka yang kurang disuka? Kalau dulu sulit, sekarang mudah. Adu pendapat? Dari baik-baik sampai ribut-ribut pun ada.  Orang-orang besar itu pun dengan mudahnya berinteraksi tanpa harus takut ini-itu. Mau didengar lebih banyak? Termasuk jualan atau promosi? Gampang. Retweet, and the whole world will hear you, apalagi kalau sampai jadi trending topics. So yes, mau masih ada yang betah ber-facebook ria, burung biru ini sudah muncul sebagai fenomena sosial baru. Dan ini bukanlah sebuah dokumenter. Dari luar, ia mungkin terlihat hanya sebagai kisah cinta cupu untuk membangun komedi satir. Atau sekedar drama sosial atau politik dengan gambaran cukup informatif. But look deeper. Plot yang dibesut oleh E.S. Ito itu sudah efektif memaparkan semua cerminan sosial penggunaan jejaring sosial yang satu ini. Dari kopdar, permainan media sampai politik kotor. Lengkap pula dengan galau-galau generasi tertentu yang jadi satu lagi sisi menariknya. And luckily, mereka mendapatkan kasting cukup solid yang interaksinya penuh dengan akting dan chemistry erat satu dengan yang lain. Like tweeting dimana Anda memakai jempol, ini layak dapat jempol.

Sukmo (Abimana Arya, credited as Abimana Aryasatya), internet geek dari Jogja dengan username twitter @lorosukmo, seketika ingin bertolak ke Jakarta ketika gadis dambaannya, Hanum (Laura Basuki), jurnalis di media Linimasa menantangnya di timeline. Demi sebuah komitmen, ia memaksa ikut dengan sahabatnya, Andre (Ben Kasfayani) yang punya keluarga dan pacar SMU-nya, Nadya (Enzy Storia) di Jakarta. Namun ia kecewa saat tahu Hanum berada jauh di atas harapannya. Keahlian Sukmo kemudian membawanya pada Belo (Edi Oglek), orang Batak pemilik warnet yang menjalankan bisnis pencitraan politik lewat jejaring sosial bersama karyawan-karyawannya, digawangi oleh oportunis Kemal Pambudi (Tio Pakusadewo). Proyek untuk membidik Arif Cahyadi (Leroy Osmani) jadi gubernur DKI atas siasat Kemal ini membuat Sukma mulai percaya diri untuk kembali mengejar impiannya dengan Hanum, apalagi Hanum tengah berusaha keras membuktikan eksistensinya sebagai pemburu berita di dunia jurnalisme. Namun Sukmo tak menyangka, pengorbanan dan usahanya justru bisa merembet menghancurkan orang-orang di sekitarnya.

140 karakter bisa memicu seribu masalah. Premis simpel namun pengembangannya bisa menyentuh banyak problem sosial di seputar fenomenanya. Skenario E.S. Ito yang dipenuhi dialog-dialog menarik tapi sentil sana sentil sini itu terlihat sukses divisualisasikan oleh sutradara Kuntz Agus. Karakterisasinya menarik, dan para pendukungnya menerjemahkan semuanya sama bagusnya. Abimana yang sudah bermetamorfosis dari awal karirnya sejak ‘Catatan Harian Si Boy’ tempo hari, kelihatan makin sakti dengan dialog-dialog yang terlihat bersinergi penuh dengan kewajaran aktingnya. Laura Basuki lagi-lagi menunjukkan kualitasnya sebagai cinematic sweetheart yang mampu menyita perhatian penuh penontonnya tanpa harus berekspresi over. Pemeran pendukungnya, Ben Kasfayani, serta aktor senior Tio Pakusadewo dan Leroy Osmani juga cukup bagus, namun yang tampil dengan kualitas scenestealer adalah Enzy Storia sebagai siswi SMU ababil dan Edi Oglek yang overkomikal but still, funny at times. Chemistry mereka satu sama lain benar-benar terbangun secara mempesona. Pemilihan soundtracknya yang kian sering menghiasi radio-radio kita juga cukup mendukung naik turun konfliknya. Just like twitter itself, kisah yang digelar E.S. Ito tak hanya menyentil jejaring sosial dan dunia maya serta manusia-manusianya, namun sampai ke media cetak dan visual yang ikut membangun komedi-komedi yang terjadi dalam kehidupan bangsa ini sehari-hari. Sepintar usaha penggunanya yang hampir selalu mencoba jadi pintar menuangkan kata namun tak jarang juga jadi kelihatan naif luarbiasa. In the end, apa yang tertuang ke 140 karakter itu memang tak selalu jadi gambaran nyata dan memenangkan mimpi orang-orangnya. Heart is all that matters, dan film ini sudah menunjukkan fenomenanya dengan bagus. A satirical human drama with over-fascinating dialogues and chemistry between characters. Retweet! (dan)

THIS MEANS WAR : KIRK VS BANE OVER A BABE, SPY WAY!

•February 16, 2012 • Leave a Comment

THIS MEANS WAR

Sutradara : McG

Produksi : Overbrook Entertainment, Robert Simonds Production, Type A Films, 20th Century Fox, 2012

Bila Indonesia punya ‘Bila’ dan ‘Malaikat Tanpa Sayap’, Hollywood punya ‘The Vow’ dan ‘This Means War’ buat sajian Valentine. Silahkan nilai sendiri. However, benang merahnya tetap satu. Cinta. Lovestory. And yes, baik ‘The Vow’ maupun ‘This Means War’, pastinya, adalah sasaran empuk bantaian kritikus, but holds to audience’s hearts. ‘This Means War’, nyata-nyata adalah hiburan dengan porsi gede. Di kursi sutradara ada Joseph McGinty Nichol a.k.a McG, yang sudah melekat dengan ‘Charlie’s Angels’, and even the cast is bigger. Mengapit Reese Witherspoon, ada dua Hollywood’s heartthrob yang sama-sama sedang terus menanjak ke puncak karir dengan peran-peran penting. Pine sebagai Captain Kirk-nya ‘Star Trek’ baru, serta Hardy bakal muncul sebagai villain Batman-nya Nolan dan meneruskan franchise ‘Mad Max’. Both have great looks behind their blue eyes and those lips, yang pastinya merupakan ultimate invitation terutama ke penonton wanita. Dan tak hanya itu, di kursi produser, ada nama Will Smith pula, bersama Robert Simonds yang dulu memproduksi beberapa film-film Adam Sandler. Premisnya jelas, Spy Vs Spy, over a girl. Poster itu mungkin kelihatan cheesy, tapi cheesy toh tak selamanya berarti jelek dalam konteks hiburan. So be it. Tontonan Valentine, a rom-com, penuh bintang, dan yang jelas, ini filmnya McG. Anda tak sedang menyaksikan ‘Extremely Loud and Incredibly Close’, atau ‘We Need To Talk About Kevin’. Mau wajar atau tak wajar, ini hiburan murni, dan mari melihatnya dari sisi itu. Even Tom Hardy, nama yang belakangan jadi penarik di film-film serius, needs a break.

Dua top operative CIA agents sekaligus sahabat karib, FDR (Chris Pine) dan Tuck (Tom Hardy) sejak dulu bekerja bahu-membahu di lapangan. Namun di tengah kasus jaringan internasional milik Heinrich (Til Schweiger) yang tengah mereka tangani, perhatian mereka terpecah. Pasalnya, Lauren (Reese Witherspoon), wanita karir yang sibuk mencari pasangan setelah ditinggal pacarnya, masuk ke kehidupan mereka secara tak sengaja. Mengetahui mereka mengincar gadis yang sama, FDR dan Tuck yang tetap ingin menjaga profesionalisme mereka sebagai agen memutuskan untuk bersaing secara sehat. Tapi cinta, kadang tak seperti itu. FDR dan Tuck pun mulai menggunakan keahlian mereka di lapangan untuk memenangkan hati Lauren, apapun caranya, meski harus berdiri berseberangan sebagai musuh yang saling berseteru. Dan sewaktu-waktu, ini bisa jadi sasaran empuk bagi Heinrich yang terus mengincar mereka.

Rom-com dengan bumbu action. Kuncinya jelas terletak pada sejauh apa chemistry karakter utamanya membangun komedi dibalik plot lovestory-nya, apalagi sebagai sajian menyambut momen Valentine’s Day. Satu lagi, sajian aksi, yang pastinya sudah jadi spesialisasi McG. Oh ya, lupakan soal plot dan kewajaran ini-itu yang tak termasuk di dalamnya. Dan semuanya tergelar dengan baik. Di luar keberhasilan McG menggelar aksi dalam porsi cukup eksplosif namun tak lantas menenggelamkan rom-comnya, lengkap dengan pameran device yang menekankan agensi dua tokoh utamanya, Chris Pine jelas tak punya masalah memunculkan pesona badboy-nya dalam karakter playboy FDR. Sudah biasa. Witherspoon, seperti biasanya, masuk ke karakter serba naif Lauren yang memang pantas diperankannya dengan pancaran inner beauty dibalik penampilannya yang tak terlalu spesial. Namun yang paling menyegarkan adalah transformasi Tom Hardy yang semakin menunjukkan potensi bunglonnya tampil di tema apa saja.  Otot dan leher raksasanya tersembunyi dengan baik dibalik usaha Hardy melebur bersama sisi komedi yang ditambah dengan sempalan karakter Trish (Chelsea Handler), rekan Lauren. Ramuannya sebagai produk Valentine juga makin lengkap dengan alunan ‘Smooth Operator’-nya Sade bahkan excerpt singkat dari ‘Titanic’. Anyway, Awards season toh sudah hampir berakhir. It’s time to have some fun, dan ‘This Means War’ adalah sajian yang ampuh untuk itu. It’s Kirk vs Bane over a babe, spy way! Fun and hilarious! (dan)

ONE DAY : LONG JOURNEY OF LOVE

•February 13, 2012 • Leave a Comment

ONE DAY

Sutradara : Lone Scherfig

Produksi : RandomHouse Films, Film4, Color Force, Focus Features, 2011

We might all agree that ‘An Education’ adalah sebuah drama kisah cinta yang bagus. Remarkable one. Bersama nama Carey Mulligan, sang sutradara wanita asal Denmark, Lone Scherfig, juga ikut terangkat. Kesensitifannya membesut ‘An Education’, mau tak mau membuat kita percaya, genre ini adalah keahliannya. And there goes ‘One Day’, lagi sebuah love story yang diadaptasi dari novel David Nicholls di tahun 2009, yang sesaat menjelang peredarannya sudah menimbulkan hype cukup besar di kalangan penggemar film-film romantis. Ah ya, poster itu mungkin jadi salah satu poster terindah di tahun lalu. Sekaligus memberikan keingintahuan besar terhadap filmnya, bersama Anne Hathaway yang dipasangkan dengan Jim Sturgess. A cinema’s sweetheart and a heartthrob. Set London dan Paris yang serba panoramik ala Eropa pun semakin menguatkan keindahannya. Already feels like a romantic movie trip. But is that so?

Seperti tiap chapter novelnya melukiskan satu tanggal yang sama dalam rentang teramat panjang, 20 tahun, terhadap hubungan dua manusia free-spirit, gadis Yorkshire Emma Morley (Anne Hathaway) dan playboy Dexter Mayhew (Jim Sturgess), begitulah Scherfig menggelar filmnya. 15 Juli, tanggal itu, dimulai dari tahun 1988 dimana Emma dan Dexter melewatkan semalam bersama namun berikrar untuk tetap menjadi sahabat, menyimpan perasaan mereka mereka yang saling menyukai satu sama lain. Tahun demi tahun, problem demi problem, bertemu, berpisah dan saling merindu, Dexter dan Emma sampai pada pencarian hati yang sebenarnya. Namun takdir berkata lain.

Plot itu menyampaikan storytellingnya dengan unik, walau sebenarnya bukan lagi hal baru dalam ranah drama-drama romantis yang menggelar tarik-ulur perjalanan panjang dua hati untuk mempertemukan dunia mereka bersama. ‘One Day’, sebenarnya sudah punya semua unsur yang diperlukan untuk menggelar romantismenya ke atas angin. Sedikit mirip dengan ‘Before Sunrise’ atau ‘500 Days Of Summer’ yang penuh dialog bertranslasi cinta di tiap sekuensnya, namun sayangnya, Hathaway dan Sturgess tak bertransformasi selekat Ethan Hawke-Julie Delpy dan Joseph Gordon Levitt-Zooey Deschanel di dua film itu. Bisa jadi, rentang waktu 20 tahun memang punya sisi penerjemahan yang sulit untuk mempertahankan karakterisasinya se-lovable itu. Dan entah novelnya sama atau tidak (I didn’t read it, either), bentukan karakter Dexter dan Emma memang kerap lebih terlihat tolol ketimbang menggambarkan kemisteriusan perasaan. Akibatnya, konflik, perjalanan panjang dan dialognya jadi terasa lumayan melelahkan untuk berjalan sinergis bersama atmosfer romantisnya. Anne Hathaway memang kelihatan benar-benar mencoba berakting dengan dialek Yorkshire dibalik sosok aslinya yang asal Amerika, walaupun tak juga terlalu cemerlang, sementara lebih dari separuh film digunakan Sturgess lebih pada permainan jual pesona ketimbang berserius-serius menyelami karakter Dexter yang sebenarnya kompleks di tengah kepopuleran dan problem intern keluarganya. Dan ini berdampak tak begitu baik ke sekuens akhir setelah sedikit kejutan menghentak namun tak lagi baru untuk penikmat film-film romantis tahun ‘70an (termasuk Indonesia) dengan ending berbelok seketika, yang harusnya bisa luarbiasa jadi menyentuh.

But however, in terms of romantic entertainment, mostly on this moment of love celebration yang dipilih buat peredarannya disini, mau bagaimanapun akting dan chemistry itu muncul, Hathaway dan Sturgess pastinya merupakan dua sosok yang tetap jadi feast for audience’s eyes bersama romantisasi set ala Eropa yang digelar Scherfig. Sinematografi besutan Benoît Delhomme bekerja dengan sangat baik, begitu juga skor musik dari Rachel Portman plus theme song ‘Tear Off Your Own Head’ dari Elvis Costello. Serba romantis. Sedikit banyak, kolaborasi ini bisa menolong tampilan plot yang draggy dan kadang terasa pointless dengan simbol-simbol lain genrenya sebagai sebuah lovestory. Jadi begitulah. Di balik kekurangan-kekurangannya, ‘One Day’ memang punya atmosfer romansa seindah fotografi dan tone color yang sangat menjelaskan cinta pada posternya. Cantik!  Happy Valentine’s Day! (dan)

THE IDES OF MARCH : INTENSE LIKE A THRILLER

•February 12, 2012 • 4 Comments

THE IDES OF MARCH

Sutradara : George Clooney

Produksi : Smokehouse Pictures, Appian Way Productions, Columbia Pictures, 2012

If you ever read Julius Caesar story, then you’ll know what’s ‘The Ides Of March’. Datang dari bahasa Latin, ‘idus’, Ides Of March adalah hari ke-15 bulan Maret di penanggalan Romawi, saat mereka memperingati pemujaan terhadap Dewa Mars. Ini menjadi hari terkenal dalam legenda itu, dimana Julius Caesar dibunuh di depan senat Romawi oleh sebuah konspirasi dari pengikut-pengikutnya sendiri, termasuk Brutus sebagai orang kepercayaannya. Itulah yang menjadi metafora ke judul thriller (atau drama?) politik yang dibesut George Clooney dari drama panggung tahun 2008 berjudul ‘Farragut North’, dimana ia bersama penulis aslinya, Beau Willimon ikut menulis skenario adaptasinya bersama Grant Heslov. Willimon yang mengaku mendapat inspirasinya dari perjalanan politik Howard Dean, salah satu kandidat presiden dari demokrat tahun 2004, memang mendukung sekali niat Clooney yang keukeuh mempertahankan judul metafora ini meskipun petinggi Sony/Columbia awalnya hendak maju dengan judul asli drama panggungnya. Sempat digadang-gadang menjadi salah satu kandidat Oscar namun akhirnya kalah pamor dengan film Clooney lainnya, ‘The Descendants’, sementara Ryan Gosling yang banyak dijagokan, justru tak memperoleh satupun nominasi. However, skenario Clooney-Heslov-Willimon tetap masuk ke dalam list nominee-nya. Dan di kursi eksekutif produser, ada pula nama Leonardo DiCaprio, yang tetap memilih berada di belakang layar.

Sebagai deputi kampanye Mike Morris (George Clooney), gubernur Pennsylvania sekaligus kandidat presiden dari demokrat, Stephen Meyers (Ryan Gosling) merupakan sosok idealis yang langsung mengundang perhatian saingannya dari partai republik, Tom Duffy (Paul Giamatti). Namun seteguh apapun Meyers mempercayai perjuangan Morris, idealismenya mulai jatuh ketika Duffy mulai mengajaknya ke politik kampanye kotor partai republik. Kenyataan bahwa Duffy telah menyuap senator Franklin Thompson (Jeffrey Wright) yang memegang kontrol terhadap 356 delegasi dengan janji jabatan Menlu untuk memenangkan kandidat mereka, Ted Pullman (Michael Mantell), semakin membuat Meyers goyah, apalagi Meyers menganggap atasannya, Paul Zara (Phillip Seymour Hoffman), tak berterus terang padanya. Begitupun, Meyers tetap menolak ajakan Duffy untuk menyeberang ke republik hingga hubungannya dengan Molly Stearns (Evan Rachel Wood), petugas kampanye Morris sekaligus putri seorang chairman partai demokrat, membuka sebuah skandal tak terduga. Sekarang Meyers berada di tengah-tengah Zara yang memecatnya karena menganggap ia tak loyal, kasus Molly yang bunuh diri karena takut skandalnya terbuka, sementara Duffy pun menolaknya dengan sebuah nasehat untuk menjauh dari permainan politik. Mau tak mau, Meyers pun menggunakan kartu As-nya dalam kasus Molly untuk kembali memimpin permainan. Namun melepas idealismenya sebagai manusia yang punya hati pun tak bisa semudah itu.

Meski punya plot yang sudah tergolong klise di genre-genre sejenis, dari idealisme karakter utamanya, intrik politik kampanye yang rata-rata sama hingga ke skandal seks menjadi puncak konfliknya, ‘The Ides Of March’ tak lantas jadi lemah dalam penampilannya. Susunan cast yang penuh dengan nama-nama berkelas itu  tak muncul dengan sia-sia. Semuanya tampil dengan powerhouse act yang sama sekali tak sembarangan, dan walaupun sepanjang filmnya penuh dengan dialog-dialog berat yang memaparkan intrik politik kampanye penuh sarkasme yang mungkin tak bisa dilewatkan sambil santai, adalah Gosling sebagai kartu As yang membawa intensitas thrillingnya begitu menyeruak ke permukaan. Turnover karakter Meyers yang diawali sosok boyscout naif diterjemahkan Gosling dengan ekspresi dan bahasa tubuh luarbiasa untuk menyatu pada setiap naik turun konflik karakternya. Giamatti dan Seymour Hoffman juga tampil menarik sebagai pimpinan kampanye yang berseteru dari jarak jauh mengapit karakter Gosling. Skor dari Alexander Desplat dan sinematografi besutan Phedon Papamichael pun kian menambah kelasnya. Namun sedikit diatas powerful cast itu, pemenang utama dalam ‘The Ides Of March’ adalah skenario yang kembali menyajikan kolaborasi Clooney dengan Grant Heslov, yang sudah kita saksikan kekuatannya dalam ‘Good Night And Good Luck’ tempo hari. Dialog penuh paparan politik kotor serta sindir-sindiran itu memang membuat tampilannya lebih mirip sebuah studi karakter ketimbang thriller politik. Tak ada karakterisasi hitam putih, hanya sekumpulan orang yang bermain dalam cara berbeda demi memperoleh tujuannya. Tak ada juga atribut thriller seperti kejar-kejaran atau satu dua tampilan senjata. But once you get into it, ketegangan yang terbangun dari konfliknya tak ubahnya sebuah thriller penuh adegan seru menuju open ending ke metafora yang dipilih Clooney dalam titelnya. You might consider it as a drama, but this is intense like a thriller. Gripping, with its powerhouse performances. A straight A’s. (dan)

Indonesian poster (Time becomes Tempo)

 

BILA : JUST BELONGS TO THIS GENERATION

•February 12, 2012 • 2 Comments

BILA

Sutradara : Chiska Doppert

Produksi : Maxima Pictures, 2012

Film kita memang akrab sekali dengan yang namanya trend. Selain horor, dalam drama romantis resep yang digunakan juga hampir seluruhnya sama. Tak ada yang salah memang, secara kebanyakan melodrama Asia yang sering kita jadikan acuan juga seperti itu. Namun sedikit berbeda di pengembangannya, jika mereka membangun kreatifitas dari latar yang sama, kita justru selalu membawa latar itu ke depan tanpa kreatifitas lain bersamanya. Ini sudah berjalan dari satu dekade ke dekade lainnya, dengan style yang juga menggambarkan ciri khas tiap-tiap generasi, mostly di kehidupan remaja yang paling sering menjadi titik eksposnya. Sesekali, kita mungkin punya yang cukup baik serta memorable untuk mewakili zamannya. Dari Romi dan Juli, Galih dan Ratna, Boy dan Vera, Rangga dan Cinta, atau Adit dan Tita. Kadang bukan dari kualitas, tapi dari keberhasilannya meraup penonton dalam jumlah masif hingga jadi karakter-karakter yang selalu diingat orang, bahkan yang tidak berada dalam generasinya. And no, saya tak mengatakan bahwa karakter-karakter dalam ‘Bila‘ lantas mewakili itu, tapi untuk generasi sekarang, suka atau tidak, seumuran atau tidak, inilah bentuk produknya. Dan mengikuti trend yang sekarang sangat dipengaruhi perfilman Asia terutama Korea dan Thailand, hingga ke tampang-tampang pemerannya yang mostly dipenuhi tampilan setengah bule atau serba oriental, plus plot yang terus-menerus di ‘tarik-ulur’ untuk melukiskan sebuah kisah cinta, seperti itulah film ini. Dengan peran sentral yang dibawakan Stefan William, aktor sinetron/FTV yang belakangan populer disebut ‘Aktor Terfavorit 2011‘ dari award-award dunia maya, bersama Shalvynne Chang (credited as Shalvynne) yang baru memulai debut layar lebarnya, ‘Bila‘ yang diluncurkan sebagai tontonan menyambut Valentine’s Day tahun ini memang hadir seolah kita menyaksikan film-film Mario Maurer atau Ha Ji-Won dengan setting lokal.

Bila (Shalvynne) yang sejak kecil hidup bersama ibunya setelah meninggalkan sang ayah yang berselingkuh, bersahabat dengan Shosana (Karina Meita Permatasari) yang jauh lebih populer darinya. Bila pun merasa kalau Shosana dalam segala hal selalu lebih dari dirinya. Namun perasaan itu berubah ketika mereka mengenal Dani (Stefan William), siswa populer di sekolahnya. Meski tetap bersahabat, keduanya lantas bersaing untuk mendapatkan Dani, yang ternyata lebih menyukai kepolosan Bila. Namun pertentangan dari ibu Bila atas sebuah insiden kemudian membuat Bila dan Dani terpisah. Dani memilih menyingkir ke luar negeri. Bila yang patah hati pun melanjutkan hidupnya, hingga akhirnya sekembalinya dari Singapura ia mendapati Dani telah bertunangan, bahkan akan menikah dengan Shosana. Namun jalan terhadap cinta mereka belum berhenti disini.

Dari naskah besutan Cassandra Massardi, ‘Bila‘ memang dipenuhi dengan resep standar film remaja yang serba klise plus dialog-dialog yang terasa sangat lekat dengan ABG bila tak ingin menyebutnya kelewat lebay. Turnover karakter-karakter yang digulirkan Cassandra dalam rentang waktu sangat panjang, berganti dari satu ‘beberapa tahun kemudian‘ hingga ke ‘beberapa tahun kemudian‘ lainnya pun sama. Seringkali reaksi-reaksi terhadap konfliknya juga hadir dengan ke-lebay-an yang secara umum sulit untuk dipercaya. Gambar-gambar dari penyutradaraan Chiska Doppert yang memang sangat senada dengan Nayato juga, meskipun hadir seindah posternya, mungkin tak lagi terasa spesial. Namun tunggu dulu, proses tarik ulur yang seakan-akan mau menyempalkan twist tapi malah dipanjang-panjangkan dengan konflik tambahan justru bisa jadi senjata ampuh bagi sasaran pemirsa belia-nya. Penonton yang bisa jadi sudah melewati generasi itu mungkin akan merasa jenuh tak terkira mengikuti gelaran ceritanya, namun agaknya Cassandra memang menempatkan pikirannya seperti pikiran sasarannya yang notabene generasi SMP-SMU sekarang, dan itu suatu kelebihan, bahkan bagi karakter yang sudah berkembang ke usia dewasa dalam plotnya. Stefan William, Shalvynne bersama Karina pun menghadirkan akting yang sangat senada dengan guliran plot itu, walau chemistry diantara ketiganya cukup lumayan. Kekanak-kanakan,lebay, atau apalah sebutannya bagi sebagian penonton yang lebih dewasa, tapi mari tak men-judge-nya dari situ. Toh generasi sebelum ‘Galih dan Ratna‘ atau anak-anak sekarang mungkin menganggap goretan pisau membentuk hati bertulisan nama di batang pohon, melempar kerikil ke air atau berpuisi-ria untuk melukiskan cinta itu sama konyol bagi mereka. Di saat sebagian penonton merasa jengah, generasi belia sekarang mungkin sangat terhanyut dengan ke-unyu-an yang dihadirkan dari tarik ulur konfliknya. Gemas, tertawa atau menangis mengikutinya. Toh lagi, sebagian melodrama remaja Asia yang bisa dinikmati semua kalangan tak juga jauh-jauh dari kekurangan yang sama. Apalagi ini memang diluncurkan pada momen yang tepat, saat sebagian dari mereka datang ke bioskop untuk menikmati itu. And so, ‘Bila‘ bukanlah sebuah produk yang salah atau jelek. It just belongs to younger generation, dan mari lebih sedikit menghargai itu. (dan)

MALAIKAT TANPA SAYAP : TAK CEMERLANG, TAPI RUPAWAN

•February 9, 2012 • 5 Comments

MALAIKAT TANPA SAYAP

Sutradara : Rako Prijanto

Produksi : Starvision, 2012

Embun tak perlu warna untuk membuat daun tidak jatuh cinta padanya”.

Mencintai bukan berarti memiliki. Mencintai adalah siap untuk pergi, atau siap ditinggal pergi”.

Kamu akan berdegup dengan jantungku. Jantung kita”.

Kadang saya bingung, kenapa seorang Rako Prijanto, yang notabene penulis quote-quote puitis di salah satu film terbaik yang kita punya, ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ serta sudah menelurkan ‘Ungu Violet’ dan ‘Merah Itu Cinta’, keduanya adalah romantisme sinema Indonesia yang cukup baik itu, mau buang-buang waktu dengan sekumpulan karya banyolan yang sama sekali tak penting. Okelah, ‘Ungu Violet’ mungkin penuh dengan tudingan plagiat terhadap sebuah klip musik Korea dari grup mereka, Kiss, ‘Because I’m A Girl’, tapi toh segaris tema yang kemudian dikembangkan jadi sebuah lovestory yang cukup mengharu-biru dengan highlight Dian Sastro dan chemistry luarbiasa dengan Rizky Hanggono yang kala itu baru memulai debut layar lebarnya, dibalik alunan themesong Padi ‘Menanti Sebuah Jawaban’, juga punya pesona yang sulit buat ditampik. ‘Merah Itu Cinta’-nya Marsha Timothy dan Gary Iskak pun sama. Mengalun dengan romantisme berbeda di tengah kekurangan-kekurangannya. Penuh puitisasi dengan visual yang juga lumayan cantik. Entah kalau soal duit, tapi seharusnya Rako lebih rajin mengeksplorasi kelebihannya di genre-genre seperti yang dua ini, plus menahan diri sedikit atas keinginannya menyempalkan twist-twist tak penting yang harusnya tak perlu ada di jalinan plot yang sudah baik, hanya buat mau terlihat berbeda. ‘Malaikat Tanpa Sayap’ yang diluncurkan dalam momen Valentine’s Day bersama ‘Bila’ membawa Rako kembali ke sisi lebih itu.

Sejak kebangkrutan ayahnya, Amir (Surya Saputra), Vino (Adipati Dolken) yang merupakan anak sulung di keluarganya terpaksa putus sekolah. Kepindahan mereka ke kontrakan kecil dan post power syndrome Amir yang terus bertahan dengan harga dirinya pun membuat ibunya, Mirna (Kinaryosih) tega kabur meninggalkan Vino dan adik kecilnya, Wina (Geccha Qheagaveta) yang tertimpa kecelakaan di tengah kegalauannya. Wina yang jatuh di kamar mandi memerlukan perawatan dengan biaya besar untuk tindakan operasi kalau tak mau kehilangan kakinya, sementara Amir tak kunjung mendapat pekerjaan baru. Masalah ini kemudian terdengar oleh seorang calo penjualan organ (Agus Kuncoro) yang berseliweran di rumahsakit. Ia pun mendekati Vino untuk mendonorkan jantungnya dengan bayaran tinggi. Vino yang merasa tak punya jalan lagi menyanggupi transaksi ini tanpa menyadari resipiennya adalah Mura (Maudy Ayunda), anak seorang pengusaha kaya (Ikang Fawzi) yang dikenalnya di rumahsakit. Seorang gadis yang mencoba tegar dibalik kerapuhan fisiknya, yang langsung mencuri hati Vino sekaligus memberinya kembali semangat hidup dan jadi penyelamat keluarganya.

Sama seperti ‘Ungu Violet’, masalah donor-donoran organ dalam sebuah lovestory romantis memang bukan lagi hal baru.  Meski sah saja sebagai resep konflik dalam genre sejenis, tapi dalam konteks karya Rako, ini pengulangan. Plot sampingannya dalam bentukan karakter Vino pun se-klise film-film kita yang dipenuhi problematika keluarga jatuh ketimpa tangga dan kecebur di got pula. Hingga masalah medis yang lagi-lagi, seperti rata-rata film kita, tak dilatarbelakangi survei yang layak dalam menyampaikan masalahnya. Serba ridiculous di tengah usaha mau kelihatan berbeda tapi tetap sama saja. Dari masalah kaki Wina yang seolah separah orang terkena ledakan bom padahal cuma diceritakan jatuh di kamar mandi, carut-marut gambaran fisik Mura hingga sempalan operasi transplantasi yang harus menampilkan Singapura untuk mempertahankan kenyataan padahal berdampak cukup parah pada kewajaran plotnya yang juga lagi-lagi dipaksa muncul dengan twist serba kebetulan yang malah membuat romantisasinya malah jadi sebuah letdown bagi banyak orang. Belum lagi poster dan adegan pembuka sebagai pengantar twist itu yang sebenarnya sudah sedikit blak-blakan menyampaikan sesuatu yang tak perlu ada.

But wait. Di luar kekurangan tipikal itu, Rako ternyata juga sukses membesut sebuah lovestory yang mengharu-biru di segala sisi sinematisnya. Akting bagus para pendukungnya, termasuk Ikang Fawzi yang lama tak muncul dan Surya Saputra yang tak harus merengek-rengek dan overacting demi memancing airmata penonton, digantikan dengan puitisasi ala Rako dalam dialog-dialognya yang bisa tersampaikan tetap wajar dengan ekspresi-ekpresi sama wajarnya. Tak berlebihan, dengan sorot mata yang juga bicara sama bagusnya dalam menggambarkan keterikatan hati antar karakter di tengah konflik-konflik mereka. Semuanya menjelaskan cinta sebagai benang merah utama temanya, bahkan dari sematan komedi pada karakter Agus Kuncoro yang meski mulai terjebak sebuah tipikalisme tetap mampu muncul sebagai daya tarik tersendiri. Dan Rako memang harus diakui cukup peka ke pemilihan aktris dalam film-film drama-nya. Seperti ‘Ungu Violet’ dengan Dian Sastro dan ‘Merah Itu Cinta’ dengan Marsha Timothy, ia membaca pesona Maudy Ayunda dengan sama kuat. Akting natural Maudy dengan mudah membuat penonton jatuh cinta pada karakternya, dan chemistry-nya dengan Adipati terjalin luarbiasa kuatnya. Dialog-dialog yang dihadirkan Rako, percayalah, akan membuat seisi bioskop dipenuhi lenguhan ‘oooh’ dari penonton terutama para wanita yang menyaksikannya, bersama visual yang juga tak pernah jadi berlebihan namun tetap cantik dibalik kepahitan yang ada dalam plotnya. Terakhir, adalah pilihan themesong Dewi Lestari, ‘Malaikat Juga Tahu’ yang memang merupakan salah satu love song Indonesia terindah yang pernah ditulis, yang merangkai semuanya jadi semakin bersinar dalam romantisasi yang digelar Rako. Ini memang sisi lebih yang membuat kita jadi tak lagi sampai hati melibas kekurangan-kekurangan yang ada. Bit ridiculous in many ways, but comes adorably irresistible in its romanticism. Tak bersayap, tak cemerlang, tapi percayalah, ini sangat rupawan. (dan)

UNDERWORLD : AWAKENING ; SELENE GOES TO TOWN

•February 9, 2012 • Leave a Comment

UNDERWORLD : AWAKENING

Sutradara : Måns Mårlind & Bjorn Stein

Produksi : Lakeshore Entertainment, Sketch Films & Screen Gems, 2012

Mengaku jenuh bermain di film-film aksi dan jadi langganan blockbuster, Kate Beckinsale agaknya tak betah juga berlama-lama mengeksplorasi karirnya di film-film yang berskala lebih kecil beberapa tahun terakhir. Bersama remake ‘Total Recall’ yang bakal muncul dalam waktu dekat, sang suami, Len Wiseman, kembali membawa Beckinsale ke ranah blockbusters. And so, setelah prekuel yang kurang darah, ‘Underworld : Rise Of The Lycans’, Wiseman kini melanjutkan lagi petualangan Selene. It’s still vampires vs werewolves, tapi setnya tak lagi di Underworld. Seperti dinosaurus Spielberg yang beranjak menyerangkota, ‘Underworld : Awakening’ kini berset di dunia manusia. Eksplorasi plot ala Hollywood seperti ini memang sah-sah saja, but let’s admit. Kita pasti masih terus ingin melihat aksi Selene jumpalitan beraksi dibalik baju kulit ketatnya. Apalagi, dalam balutan gimmick 3D yang masih terus menjamur ke seluruh industri perfilman dunia.

Setelah mendapatkan kekuatan superior spesies hybrid dari Michael Corvin (Scott Speedman ; di sekuel ini absen dan sekuensnya diisi oleh stock shot lama plus CGI dari pemeran stand-in), Selene (Kate Beckinsale) menemukan dirinya di tengah penemuan manusia atas spesies mereka yang telah memicu perang besar. Ia tertangkap ketika hendak melarikan diri, terpisah dari Michael dan disekap di sebuah lab eksperimen untuk menemukan antidotum terhadap virus vampir dan werewolf, Antigen, yang dikepalai head scientist Dr. Jacob Lane (Stephen Rea). Ketika terbangun dari ruang cryogenic dengan label ’subject 1’, Selene menyadari bahwa 12 tahun telah berlalu, dimana perlawanan manusia sudah berhasil menumpas lebih dari setengah populasi vampir sementara werewolf dikabarkan telah punah. Ia mendapati bahwa ’subject 2’ yang menyelamatkannya adalah Eve (India Eisley), putri hybrid-nya bersama Michael yang hilang entah kemana. Dibantu vampir David (Theo James), putra pimpinan vampir bawah tanah Thomas (Charles Dance) yang membawanya ke bunker perlindungan, Selene bersama Eve kemudian ditolak mentah-mentah oleh para vampir yang menganggapnya pengkhianat. Namun disini juga mereka menyadari bahwa kaum werewolf ternyata hanya menggunakan isu kepunahannya untuk membangun pasukan lebih besar lagi untuk menggempur vampir dan menguasai  dunia manusia. Selene pun harus kembali memulai perjuangan panjangnya demi keselamatan Eve yang dianggap para werewolf penghalang terbesar atas garis darahnya sebagai calon hybrid terkuat, sambil terus berusaha menelusuri keberadaan Michael.

Apapun alasannya, Hollywood memang selalu paling jago meracik kelanjutan sebuah franchise untuk bisa tetap bertahan. Dan Wiseman yang menulis ceritanya bersama John Hlavin, dengan penyutradaraan yang kini diserahkan pada duo sutradara asal Swedia Måns Mårlind & Bjorn Stein yang sebelumnya membesut thriller kecil yang cukup bagus, ‘Shelter‘, membawa perseteruan para vampir dan werewolf ini ke penyegaran dengan set dan karakter-karakter baru yang sepertinya bakal terus berlanjut ke sekuel-sekuel berikutnya. Anda boleh saja menggerutu seperti mengikuti cerita yang terasa dipanjang-panjangkan untuk melanjutkan nafas franchise itu, tapi Wiseman juga kelihatan sadar betul bahwa benang merah ’Underworld’ sebagai franchise blockbuster memang ada di dua sisi koin yang sama kuat ; visual pertarungan yang serba seru dan gore dengan tampilan berdarah-darah saat vampir dan werewolf saling mencabik, serta tentunya, Kate Beckinsale sebagai Selene yang sudah jadi karakter heroine memorable bak seorang superhero yang terus bertambah kuat dalam pengembangan kisahnya. The rest, forget it. Dua hal itu sudah cukup kuat untuk membawa penonton ke gedung bioskop menyaksikan aksi Selene. Toh karakter-karakter barunya juga bisa sedikit bersaing dengan kekuatan karakter-karakter lama Bill Nighy dan Michael Sheen yang tak lagi muncul, dari aktor senior Charles Dance yang memang berwajah dingin dan dari dulu sering diplot menjadi creature villains atau hantu-hantuan, Stephen Rea yang belakangan kian senang berkiprah di jalur komersil, hingga Theo James sebagai vampir muda yang menggantikan porsi Scott Speedman di posisi jagoan pria-nya. Aktris cilik India Eisley juga mampu tampil menarik sebagai Eve walau makeup-nya ketika berubah rupa mungkin sedikit membuat penonton sini teringat ke franchise boobs-horror kita, ’Pulau Hantu’. Di luar itu, balutan gimmick 3D-nya ternyata muncul cukup memikat dalam keberadaaannya sebagai produk konversi. Jadi begitulah, ketika sebuah franchise sudah menemukan resep ampuh untuk kekuatannya sebagai tontonan hiburan, mau digagas dengan cara apapun, mau ke kota atau ke planet lain sekalipun, asal resep itu masih tampil se-jagoan pendahulunya, sulit bagi kita untuk menolak suguhannya. And I assure you, ‘Underworld’, jelas belum akan berakhir disini. (dan)

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 687 other followers