HERCULES : A NEW RETELLING LIKE YOU’VE NEVER SEEN BEFORE

•September 16, 2014 • Leave a Comment

HERCULES

Sutradara : Brett Ratner

Produksi : Flynn Picture Company, Radical Studios, Paramount Pictures, MGM, 2014

HER2

            Dari Steve Reeves ke Lou Ferrigno, termasuk serial TV legendaris Kevin Sorbo ke versi Kellan Lutz barusan, ‘Hercules’ adalah sosok mitos/legenda yang tak berhenti diangkat ke layar lebar. Bagi sebagian orang, ini sudah seperti tired myth yang tak lagi menyisakan dayatarik kecuali bagi generasi baru calon penikmatnya. Apalagi ketika ‘The Legend of Hercules’ dari Summit Entertainment barusan hampir tak memberi gaung apa-apa seperti yang diprediksikan banyak orang.

HER3

            Begitupun, retelling yang satu ini, yang diangkat dari novel grafis ‘Hercules : The Thracian Wars’ dari Radical Comics, yang awalnya sempat jadi subjudulnya, karya Steve Moore dan ilustrator komik asal Indonesia, Admira Wijaya, punya sesuatu yang berbeda di luar faktor Dwayne Johnson sebagai karakter utamanya. Dari skrip Ryan J. CondalEvan Spiliotopoulos yang disutradarai Brett Ratner, racikannya lain dari yang sudah-sudah. Nanti dulu soal twist ini dan itu soal Hercules’ origin, walau tetap ada di genre sword and sandals, yang jauh lebih menarik adalah pendekatannya ke action subgenre ‘heroes with comrades’ yang memungkinkannya menghadirkan ensemble characters ketimbang one man show seperti biasanya.

HER1

             Tak persis serupa dengan legenda yang dikenal banyak orang tentang eksistensi kedewaannya sebagai anak Zeus dalam menyelesaikan 12 Tugas (Twelve Labors) dibalik rencana jahat Dewi Hera lewat penceritaan keponakannya Iolaus (Reece Ritchie), Hercules (Dwayne Johnson) ternyata punya sepasukan tentara bayaran tangguh. Ada peramal Amphiaraus (Ian McShane), pencuri jago pisau Autolycus (Rufus Sewell), manusia liar bernaluri hewan Tydeus (Aksel Hennie) dan pemanah wanita Amazon Atalanta (Ingrid Bolsø Berdal) dan Iolaus sendiri. Kepahlawanan Hercules lantas membawanya pada Ergenia (Rebecca Ferguson) atas permintaan ayahnya, Lord Cotys (John Hurt) dari kerajaan Thrace untuk membantu mereka mengalahkan invasi suku barbar di bawah pimpinan Rheseus (Tobias Santelmann). Mengambil alih tugas panglima perang Cotys, Jenderal Sitacles (Peter Mullan), Hercules dan pasukannya pun melatih serdadu Thrace untuk menghadapi Rheseus, hingga akhirnya Hercules pelan-pelan menyadari misi ini menyimpan rahasia ke masa lalu pahit yang memisahkannya dengan istrinya, Megara (Irina Shayk) dan anak-anaknya.

HERC10

            Dengan basic perombakan origin yang dibalut twist atas eksistensi Hercules sebagai manusia setengah dewa putra Zeus yang selama ini dikenal, ‘Hercules’ versi Ratner dengan sendirinya sudah punya sisi menarik untuk penceritaan ulangnya. Misi legendaris ‘Twelve Labors’ dengan semua mythical creatures dari Singa Nemea, Hydra ke Cerberus berikut sejarah gelap Hercules yang sering luput dari banyak adaptasi secara lengkap (kecuali dalam serial televisi ‘The Legendary Journeys’ dengan durasi panjang) demi mengedepankan sosoknya sebagai pahlawan tanpa tanding juga dibesut dengan pendekatan lebih realistis buat membangun logika yang tengah jadi sebuah demand di banyak benak penonton sekarang.

HERC9

            Ini sekaligus membuat Ratner bersama duo penulis skrip berdasar source novel grafis itu bisa menarik batas jauh berbeda dari adaptasi Hercules yang sudah-sudah. Selain action yang jelas jadi syarat utamanya, seperti signature Ratner dalam menyempalkan komedi sebagai fun-factors di blockbuster-blockbuster karya penyutradaraannya, ia juga jadi sangat leluasa meracik paduan dari elemen-elemen itu diatas penceritaan multi-karakter yang membuat studionya tak sia-sia menggamit nama-nama aktor yang sudah cukup dikenal.

HERC8

           Jagoan utamanya jelas tetap Hercules yang diperankan dengan solid oleh Dwayne Johnson, formerly known as The Rock, dengan tampilan sedikit beda di filmnya yang sudah-sudah. Tapi dukungan sebarisan aktor dari Ian McShane, Rufus Sewell, Peter Mullan, John Hurt hingga Joseph Fiennes yang memerankan Raja Eurystheus juga tak sembarangan. Masih ada Ingrid Bolsø Berdal yang sangat mencuri perhatian sebagai Atalanta the Amazonian Archer dan Stephen Peacocke, aktor Australia yang diberi porsi lebih sebagai Stephanos, salah seorang Thracian Army. Sinematografi DoP langganan Ratner, Dante Spinotti, dan scoring Fernando Velázquez, komposer Spanyol dari ‘The Orphanage’ dan ‘The Impossible’ juga cukup baik.

HERC11

               Selebihnya, above all, adalah action yang dibangun diatas subgenreheroes with comrades’ yang biasa jadi resep baku di film-film aksi dengan ensemble characters. Tired plot and all-cliché elements yang masih tetap bisa jadi sajian menarik dengan kehadiran ensemble cast yang pas dan chemistry bagus, seperti ‘The Magnificent Seven’, ‘The Wild Bunch’ untuk western, ‘The Wild Geese’ atau ‘The Dirty Dozen’ bahkan ‘The Expendables’ untuk war genre ataupun ‘7 Magnificent Gladiators’ untuk genre sword and sandals sendiri. Fun factors-nya begitu kuat di tengah paduan aksi dengan komedi, sementara origin twist-nya masuk dengan blend berikut storytelling bagus buat menggaris perbedaan dari banyak instalmen ‘Hercules’ sebelumnya dari adegan-adegan awal ke sedikit penggalan lukisan di end credits-nya. So yes, ini jauh bila dibandingkan dengan ‘The Legend of Hercules’-nya Renny Harlin kemarin. A new Hercules retelling like you’ve never seen before, sekaligus summer surprise yang jauh dari pesimisme banyak orang. (dan)

HERC6

LUCY : A MYTH BASED ON 90% MYTH

•September 7, 2014 • 2 Comments

LUCY 

Sutradara: Luc Besson

Produksi : Canal +, Ciné+, EuropaCorp, TF1 Films Production

LUC9

            Selamat datang di era dimana 90% pengetahuan populer kebanyakan orang berasal dari google. And oh yeah, walaupun tagline itu kedengaran seperti science terapan yang keren, dalam neuroscience, rata-rata manusia menggunakan hanya 10% dari kapasitas otaknya, tak peduli awalnya datang dari siapa, bahkan Albert Einstein sekalipun, adalah mitos. Kita bisa saja mereka-reka kemana penjelasan selanjutnya bisa dibawa lewat banyak bagian pop culture yang mengetengahkan tema yang sama, bahwa penggunaan kapasitas otak secara lebih bisa membuat manusia bisa punya kemampuan telekinetik, telepati atau apapun, tapi lagi, dasarnya, adalah sebuah mitos.

LUC8

            However, dalam sebuah genre fantasi, semua bisa kemana saja. The rest, adalah seberapa besar pembagian sub-genre di dalamnya bisa membentuk satu kesatuan cerita yang meyakinkan. Sebelum ‘Lucy’ sudah ada ‘Limitless’ yang punya premis dengan penelusuran serba mirip. Bedanya, selain pairing up Scarlett Johannson dan Choi Min-sik yang jelas jadi nilai jual tinggi, ‘Lucy’ adalah filmnya Luc Besson sekarang, bukan dulu. Jadi mau kemanapun ambisi Besson seperti yang dijelaskan dalam banyak press release, bahwa ‘Lucy’ merupakan sci-fi action yang menggabungkan ‘Leon : The Professional’, ‘Inception’ dan ‘2001 : A Space Oddysey’ – tak jauh pula dari ‘The Tree Of Life’ dengan seabrek filosofi lebih, lagi, pada dasarnya, ini adalah filmnya Besson.

LUC2

            Dijebak oleh kekasihnya, mahasiswi Amerika di Taiwan, Lucy (Scarlett Johansson) seketika menemukan dirinya berada di tengah kekuasaan drug lord Korea, Mr. Jang (Choi Min-sik). Ia pun tak bisa menolak saat sindikat Jang menugaskannya menjadi kurir penyeludup obat bius sintetis bernama CPH4 yang disembunyikan di dalam perutnya. Salahnya, dalam sebuah kekacauan, kantungan obat itu pecah dan masuk ke sistem tubuh Lucy, dan secara tak terduga, ia mulai menemukan bahwa dirinya memiliki kekuatan super yang terus menanjak bersama perkembangan penggunaan kapasitas otaknya. Menelusuri kejelasan anomali ini lewat Professor Samuel Norman (Morgan Freeman), ilmuwan yang tengah meriset hal yang sama tentang kapasitas otak sambil berusaha menggagalkan paket lain ke Paris melalui kapten polisi Pierre Del Rio (Amr Waked), Mr. Jang ternyata juga tak semudah itu melepaskan Lucy begitu saja.

LUC6

            In terms of fantasy genre, memang tak ada yang salah dengan usaha Besson yang kelihatannya begitu menganggap ‘Lucy’ sebagai karya personal high-concept-nya yang akan jadi monumental. Bujet yang digunakan Besson juga tak tanggung-tanggung, termasuk penggunaan IMAX camera, lokasi lintas negara hingga efek visual oleh ILM, sebagai produksi termahal EuropaCorp. Namun mencampurkan filosofi-filosofi penciptaan berikut pandangan science yang kental, oh yeah, that includes the visualization of ‘the missing link’ theory dibalik sejarah nama yang diusung karakternya sebagai Australopithecus aferensis yang dibangun mirip dengan sekuens di ‘2001 : A Space Oddysey’, banyak pendekatan superhero serta explosive heroine action yang kerap jadi spesialisasinya sejak ‘La Femme Nikita’,  salahnya, ‘Lucy’ tidak membentuk blend yang sempurna.

LUC4

            Adegan-adegan aksi dengan tambahan efek visual yang keren memang bekerja dengan baik sebagaimana film-film heroine action Besson biasanya. Bersama pace yang cukup kencang, Scarlett Johansson juga berhasil memanfaatkan aura-nya ke dalam karakter yang membuat penontonnya punya koneksi kuat terhadap ‘Lucy’. Sementara Morgan Freeman tetap tampil dalam wilayah-wilayah aman di sejumlah genre sama seperti ‘Transcendence’, mereka tak sia-sia mengontrak Choi Min-sik jauh-jauh dari Korsel untuk jadi villain utama yang mengerikan. Aktor Mesir Amr Waked juga cukup baik memerankan sidekick dalam wilayah action tadi. Selebihnya, atmosfer Besson sangat terasa lewat sinematografi Thierry Arbogast dan scoring Éric Serra yang kerap jadi tim Besson.

LUC1

            Salahnya, penelusuran science fiction-nya memang tak bisa terbangun se-menarik premisnya. Meski teorinya adalah mitos, tapi banyak eksplorasi thought-provoking yang membuat penontonnya semakin asyik menebak tiap-tiap tahapan peningkatan brain activity-nya. Dan fantasi, meski semuanya bisa kemana saja, namun saat filosofi-filosofi sains mulai bercampur ke dalamnya, even in something called fictions, toh tetap ada logika yang perlu dijaga.

LUC3

           Di bagian-bagian awal, cara Besson mengembangkan ini masih berada dalam penelusuran logika yang rapi, namun meski masih sibuk memuat kaitan terapan ilmu biomolekuler sel dan jaringan dengan teknologi informasi internet mapping and nodes yang menarik, mirip dengan apa yang dilakukan lewat ‘Transcendence’, more than ‘Inception’, sayangnya semua makin berantakan menuju klimaksnya. Belum lagi usaha untuk memuat filosofi manusia lewat adegan-adegan absurd yang berjalan bersamaan itu jadi bergerak semakin jauh mengganggu pacing plot-nya, hingga adegan ending yang benar-benar kehilangan arah, termasuk memvisualisasikan human’s living cells seperti Spider-Man’s black symbiote, dan meluluhlantakkan semua elemen thought-provoking itu sendiri.

LUC7

           So begitulah. Sebagai sebuah action hi-tech, apalagi dengan sentuhan Besson di action signature-nya dan penampilan Scarlett Johannson bersama Choi Min-sik, ‘Lucy’ memang masih bisa bekerja sebagai tontonan hiburan yang seru. Tapi meng-handle high concept-nya dengan eksplorasi sci-fi dibalik keberadaan elemen utama premisnya sebagai mitos, paruh akhirnya benar-benar berantakan. A myth based on 90% myth, yang hanya meninggalkan 10% brain activity penonton yang mengharapkan ‘Lucy’ bisa lebih dari sekedar no-brainer boom-bang action. If you wanted more action, thenLucyis for you, tapi untuk brain capacity sci-fi myth dengan relevansi jauh lebih kuat, tontonlah lagi ‘Limitless’. (dan)

LUC5

YASMINE : BRUNEI’S FIRST PUNCH FROM THE HEART

•August 25, 2014 • 9 Comments

YASMINE

Sutradara : Siti Kamaluddin

Produksi : Origin Films, 2014

YAS4

            Okay. You might have heard everything luxurious about Brunei. But no, soal film, mereka memang tertinggal jauh dari negara-negara Asia Tenggara yang lain. Begitupun, selalu ada yang pertama untuk semua hal, dan inilah momentum Brunei untuk perfilman negaranya. Datang dari semangat dan gagasan seorang Siti Kamaluddin, sutradara asal Brunei yang juga berdarah Singapura, bersama saudaranya Khairuddin Kamaluddin di kursi produser, nafas feminisme dari tema coming of age – martial arts drama dibalik keberadaan Brunei sebagai negara yang menerapkan syariat Islam membuat ‘Yasmine’ yang dibandrol subjudul ‘The Final Fist’ untuk peredaran internasionalnya ini langsung mendapat buzz lebih kuat dari langkahnya ke berbagai festival internasional, diantara Hong Kong, PiFan dan Cannes. Sayang, entah atas keputusan siapa, theatrical poster-nya untuk bioskop-bioskop kita sama sekali tak menarik.

YAS11

            Terlepas dari itu, Indonesia agaknya boleh bangga menjadi bagian penting dari momentum awal kebangkitan sinema mereka. Walau kru-nya turut melibatkan Malaysia terutama di peralatan dan sebagian well known actors-nya seperti Carmen Soo, Nabila Huda (putri Amy Search), Dato’ M. Nasir dan Dian P. Ramlee, anak angkat sineas legendaris P. Ramlee, Australia di tata kamera dan desain produksi, Hong Kong dengan menggamit Chan Man-ching, koreografer aksi di sederet film Jackie Chan hingga ‘Hellboy II : The Golden Army’ hingga Polandia, talenta-talenta kita mengisi elemen-elemen utama dalam produksinya. Ada Salman Aristo sebagai penulis skripnya, Cesa David Lukmansyah sebagai editor, Aghi NarottamaBemby Gusti di music scoring, Khikmawan Santosa di tata suara, Nidji untuk lagu tema ‘Menang Demi Cinta’, dan tentu saja aktor-aktor yang dijual lebih sebagai supporting cast-nya ; Reza Rahadian, Agus Kuncoro, Dwi Sasono plus Arifin Putra. So, sejauh mana relevansi tema coming of age – martial arts yang diusung Siti dalam ‘Yasmine’ bagi kebangkitan film Brunei sendiri?  Let’s look at the plot, first.

YAS9

            Masalah finansial sang ayah, Fahri (Reza Rahadian), yang hanya punya profesi sebagai seorang pustakawan terpaksa membuat Yasmine (Liyana Yus) terpisah dari teman-teman sekolahnya. Pindah ke sekolah rakyat yang makin melebarkan gap diantara mereka, perasaan Yasmine yang lama terpendam pada Adi (Aryl Falak), mantan teman sekolah yang sudah menjadi atlit silat profesional dan kini dekat dengan musuh bebuyutannya, Dewi (Mentari De Marelle) membangkitkan motivasi Yasmine untuk ikut serta dalam kejuaraan silat nasional antar sekolah. Ia pun mengajak dua teman barunya, Nadiah (Nadiah Wahid) dan Ali (Roy Sungkono) untuk berguru pada Jamal (Agus Kuncoro), mantan jagoan silat setelah master Tong Lung (Dwi Sasono), pembimbing silat sekolahnya tak memberikan apa-apa bagi mereka. Sayangnya, Yasmine mendapat pertentangan keras dari Fahri dan rahasia masa lalu yang selama ini disimpan Fahri rapat-rapat darinya. Belum lagi niatnya karena rasa cemburu itu mulai berkembang jadi ambisi yang kian merusak persahabatannya dengan Nadiah serta Ali yang mulai jatuh cinta padanya. Kini Yasmine benar-benar berada di persimpangan untuk menentukan motivasi, tujuan serta jati diri yang selama ini tak pernah disadarinya.

YAS7

            Kalau mau jujur, kombinasi kisah-kisah coming of age dengan genre martial arts, bukanlah lagi sesuatu yang baru., dan dalam konteks itu, ada ‘The Karate Kid’ yang legendaris hingga yang baru saja berlalu, ‘Sang Pemberani’ yang juga ditulis oleh Salman Aristo namun sangat mentah di penggarapannya. Okelah, kalaupun banyak sisi yang bisa tergali dari sana termasuk mengedepankan budaya Silat Melayu dalam tendensi penting momentum kebangkitan perfilman mereka, sejak dulu, plot soal pencarian jati diri yang berujung pada pembuktian dalam sebuah turnamen olahraga malah sudah masuk ke kotak tired plot bagi banyak orang. Lantas karena ini punya nafas feminisme? I guess not. Instalmen ke-4 ‘The Karate Kid’ pun memindahkan karakternya ke wanita, dan masih banyak pula film Asia lain dalam genre dan tema yang sama.

YAS10

            Tapi Siti mungkin tahu, bahwa ia punya formula yang pas untuk disuguhkan lewat karya perdananya ini. Bukan saja soal pengenalan kultur lintas usia dan deskripsi geografis Brunei lewat sinematografi dari James Teh (Australia) yang jelas akan menarik untuk disimak di film pertama dari negaranya, nafas anak muda di tema coming of age yang mewarnainya dengan sangat ceria mengimbangi dramatisasinya dengan komedi ataupun dentuman pukulan yang jelas akan berbeda di tengah garapan Chan Man-ching sebagai koreografer dan action director-nya. Bersama editing Cesa, ini membentuk blend yang sangat up-to-date, bahwa di tengah tema-tema seperti itu, adegan aksi terutama turnamen silat dengan hard punch and kicks-nya tetap bisa terasa memicu adrenalin tanpa terlihat main-main. Tata suara Khikmawan pun bekerja dengan balance yang bagus bersama anthemic theme song dari Nidji dan scoring Aghi – Bemby yang pas sekali memanfaatkan latar belakang kulturnya.

YAS12

          Sementara soal penuangan ide ke skripnya, walaupun Salman Aristo sudah terlihat jelas membangun konflik-konflik motivasinya dengan rapi bahkan cukup dalam bicara batas abu-abu ambisi, cinta dan keteguhan hati karakter-karakternya dibalik sebuah twist yang meski mudah tertebak tapi punya penekanan penting soal filosofi silat, storytelling dari Siti belumlah benar-benar sempurna. Masih ada beberapa kontinuitas yang masih naik turun di sepanjang penceritaan itu, meninggalkan beberapa karakter sampingan yang sedikit tak tergarap cukup, padahal jadi dayatarik tersendiri dari segmentasi negara penontonnya. Tapi jauh diatas semuanya, ‘Yasmine’ benar-benar bersinar dengan sebuah kekuatan ekstra dari jajaran cast utamanya. You just can’t say no to those lovely ensemble.

YAS2

            Sulit rasanya percaya bahwa aktor-aktor muda di deretan supporting cast itu, Nadiah Wahid dari Brunei, Roy Sungkono dan Mentari De Marelle dari Indonesia serta Aryl Falak dari Malaysia bisa tampil begitu baik dan membentuk chemistry sangat erat di penampilan perdana (sebagian untuk layar lebar) mereka. Sementara, Reza Rahadian, Dwi Sasono dan Agus Kuncoro yang kelihatan sangat fasih menampilkan dialek Melayu Brunei berganti-ganti menunjukkan mengapa kualitas keaktoran mereka sangat layak menjadi daya jual spesial untuk ‘Yasmine’.

YAS8

            Namun juaranya tetaplah Liyana Yus yang sangat berhasil membawa ‘Yasmine’ begitu mengalir untuk disaksikan, membuat kita melupakan semua kekurangannya dengan sebuah incredible screen presence aktris utamanya. Melebihi kemampuan akting menokohkan seorang remaja yang terombang-ambing dalam pencarian jati diri bahkan kecantikan gestur dan gerakan meng-handle koreografi silat-nya, bisa terlihat ceria, lembut, emosional sekaligus garang, Liyana benar-benar menunjukkan bahwa dirinya punya aura lead sejati yang sulit untuk dipertanyakan lebih jauh lagi. Sebuah irresistible appearance yang benar-benar menghidupkan ‘Yasmine’ buat bercerita tentang semua perjuangan seorang remaja belia di tengah tantangan, made us deeply root for her character.

YAS1

            So, inilah kiprah pertama Brunei di kebangkitan film layar lebarnya. Go see it, dan jangan pedulikan tampilan posternya disini. Dengan hasil serta gaung mendunia yang sungguh tak sekedar main-main, ini memang layak didukung dan mudah-mudahan perfilman mereka bisa tetap konsisten ke depannya nanti. This is Brunei’s first punch, and one that comes from the heart! (dan)

GUARDIANS OF THE GALAXY : HOW MARVEL CREATED THEIR SPACE ADVENTURE

•August 24, 2014 • 2 Comments

GUARDIANS OF THE GALAXY

Sutradara : James Gunn

Produksi : Marvel Studios, Walt Disney Studios Motion Pictures, 2014

GOTG16

            Ooga chaka. Oh yeah, kita sudah melihat saat Marvel Studios dan Kevin Feige saat mereka bersenang-senang di ‘The Avengersand many ways to it. Berserius-serius di ‘Captain America : The Winter Soldier’ kemarin. Tapi kita belum pernah melihat mereka bercanda. I mean, totally joking. Believe it or not, inilah hasilnya.

GOTG2

 

            And oh yes, biar sebagian comic-geeks, mostly Marvel’s, sudah tahu siapa-siapa saja yang pernah menjadi ensembleGuardians of the Galaxy’ sepanjang sejarah sejak kemunculan pertama mereka di tahun 1969 dengan banyak character crossover yang saling bersinggungan dalam comic universe tersebut, ‘Guardians of the Galaxy’ bukanlah sepopuler ‘The Avengers’ dan tokoh-tokoh lain dari Marvel yang jauh lebih dikenal. However, Feige dkk memang sudah menyiapkan jalan bagi superheroes ensemble ciptaan Dan Abnett dan Andy Lanning ini untuk digabungkan ke dalam Marvel Cinematic Universe.

GOTG6

            Satu yang terasa aneh adalah ketika mereka mempublikasikan nama James Gunn untuk menggarap film ini. To those who know, dalam karir dan deretan filmografinya, Gunn lebih dikenal sebagai sineas dibalik segudang film-film yang lebih berstatus nyeleneh ketimbang potensi-potensi yang lain. Dari produksi-produksi Troma-nya Lloyd Kaufman yang masuk ke kelas B – low budget cult seperti ‘Tromeo and Juliet’ atau ‘The Toxic Avenger IV’ hingga ‘Slither’ dan ‘Super’, pun kalau ada dua blockbuster disana, ‘Scooby-Doo’ dan ‘Dawn of the Dead’, juga hanya sebagai penulis skrip. Tak heran kalau Lloyd Kaufman selalu muncul di film-filmnya sebagai cameo atas jasa sebagai mentor sekaligus Troma yang sudah membesarkan namanya.

GOTG8

            Tapi inilah Marvel. Seperti nama yang diusungnya, mereka selalu punya cara untuk membentuk unlikely elements menjadi sebuah keajaiban. Feige seakan tahu, di tangan James Gunn, dukungan mereka akan membuat ‘Guardians of the Galaxy’ yang sama-sama dialamatkan Gunn sebagai sekumpulan oddballs, outcasts and geeks serta diarahkan ke ranah space adventure akan membuat tone-tone epigon serba ngaco terlihat seperti pionirnya. ‘Star Crash’, ‘The Ice Pirates’, ‘Battle Beyond The Starsor evenFlash Gordon’ ‘80an yang terlihat semegah ‘Star Wars’ dalam kualitasnya. Tambahkan nods ke vintage pop culture dari ‘70s rock classic ke Motown’s legendary pop hits sebagai pelengkap candaannya, selagi saingannya DC jatuh bangun menciptakan konsep, oh yes, apapun yang disentuh Feige seakan berubah jadi emas. We’re now looking at a critically acclaimed sekaligus kandidat summer’s biggest success tahun ini. Ooga chaka!

GOTG14

            Tepat sepeninggal ibunya karena kanker di tahun 1988, Peter Quill (dewasanya diperankan Chris Pratt), diculik dari bumi (Terra) oleh The Ravagers, space pirates yang dipimpin Yondu Udonta (Michael Rooker). Tumbuh besar sebagai salah satu dari mereka yang menjuluki dirinya Star-Lord, usahanya mencuri sebuah orb dari Planet Morag diintervensi oleh Korath (Djimon Hounsou), algojo Ronan (Lee Pace) dari ras Kree. Walau berhasil memperoleh barang tangkapannya, ulahnya hendak mempecundangi Yondu yang sudah seperti ayahnya sendiri membuat ia jadi diburu oleh The Ravagers ke planet Xandar yang dijaga oleh Nova Corps di bawah pimpinan Irani Rael (Glenn Close). Disini, Quill juga harus menghadapi Gamora (Zoe Saldana), pembunuh bayaran putri angkat penguasa galaksi Thanos (Josh Brolin, uncredited) yang dikirim Ronan, bersama dua bounty hunter, rakun rekayasa genetik Rocket (Bradley Cooper) dan asistennya, humanoid berbentuk pohon Groot (Vin Diesel). Kekacauan itu membuat Quill, Gamora, Rocket dan Groot dilempar ke penjara Klyn. Disitulah mereka lantas bertemu Drax (Dave Bautista) yang menyimpan dendam terhadap Ronan yang sudah membunuh keluarganya. Atas motivasi masing-masing, mereka lantas terpaksa bekerjasama untuk melarikan diri dari Klyn, kejaran Yondu dan juga Ronan lewat saudara angkat Gamora, Nebula (Karen Gillan), sekaligus seketika menemukan takdir mereka berjuang menyelamatkan kehancuran galaksi dari Infinity Stone, isi orb berkekuatan tanpa batas yang diperebutkan Ronan dan Thanos.

GOTG13

            I tell you what. Meski punya chaotic plot dibalik ensemble karakter yang bukan juga hal baru di genre sejenis, skrip James Gunn dan Nora Perlman, script doctor di ‘Thor : The Dark World’-lah yang dengan unik mengalihkannya jadi petualangan seru diatas konsistensi nyeleneh bak film-film Troma atau epigon-epigon space adventures setelah kesuksesan ‘Star Wars’. Seakan dibangun dengan sketsa-sketsa penuh canda, lepas dari 5 menit scene awal menuju post credit yang tak disadari banyak orang memuat tribute ke sejarah penting dari jatuh bangun adaptasi film Marvel dulu lewat salah satu unlikely superhero character mereka yang kita belum tahu bakal diarahkan kemana, bahkan tanpa harus punya detil di set dan pendalaman universe-nya, visualisasinya menjadi begitu hidup diatas detil konsep karakter beserta cast-nya.

GOTG5

           Dengan kesempurnaan jauh di luar ekspektasi, Chris PrattZoe Saldana, this time in greenDave Bautista plus Bradley Cooper dan Vin Diesel, masing-masing sebagai rakun nyentrik dan manusia pohon ala Han Solo dan Chewbacca, membentuk ensemble yang solid bahkan lebih dari apa yang bisa kita temukan di tiap ensemble berbeda dalam sejarah panjang komiknya. Begitu menariknya bentukan karakter ini memberikan ruang tak terbatas bagi mereka untuk berganti-ganti mencuri layar sebagai straightly memorable characters hanya dengan satu instalmen pemula.

GOTG9

            Di saat karakter-karakter Marvel lain yang sudah jauh lebih dikenal saja membutuhkan jalan panjang untuk membentuk assemble-nya di ‘The Avengers’, karakter-karakter ini bisa langsung melekat dengan cepat baik bagi fans maupun pemirsa yang belum pernah menikmati source aslinya. Kebengalan Rocket dalam layer berbeda dengan Star-Lord, ketangguhan Gamora dan kerasnya temperamen Drax, menyatu bersama jargon ‘I Am Groot’ yang begitu iconic dibalik karakter kids-friendly Groot yang langsung mencuri hati tiap pemirsanya. Dan walau sebagian dari kita bisa percaya bahwa sebenarnya mereka tak juga perlu aktor sebesar Cooper atau Diesel untuk menghidupkan Rocket dan Groot, inilah digdaya Marvel menunjukkan taringnya dalam ranah comicbook movies atau fantasy blockbusters.

GOTG15

           Bersama itu, visual dengan detil warna-warni hasil sinematografi Ben Davis yang membuat presentasi 3D-nya makin cantik, pameran CGI, performance capture hasil keroyokan MPC (Moving Picture Company, Framestore, Luma Pictures, Method Studios, Sony Picture Imageworks dan ILM) dan gelaran aksi, dari combat fights, shootouts ke intergalactic wars with exploding spaceships-nya pun membentuk paduan solid bersama pop-culture nods lewat tampilan ‘80s gadgets-nya.

GOTG4

         Dari walkman ke tapedeck dengan ikon ‘Awesome Mixtapes’ yang bukan hanya bekerja sebagai asesoris tapi juga jadi salah satu konklusi terpenting plot, action highlights that’s gonna leave you go ‘woohoo!’ sekaligus ke bangunan karakter utamanya, alunan soundtrack classic hits dengan genre crossover dari David Bowie, Eric Carmen & Raspberries10cc, The Runaways, Norman Greenbaum, Marvin Gaye & Tammi Terrell, The Jackson 5 plus ‘Hooked On A Feeling’-nya Blue Swede dan scoring Tyler Bates itu pun membuat ‘Guardians of the Galaxy’ jadi begitu bernyawa. Tanpa pernah dibayangkan sebelumnya, bisa sukses menggabungkan petualangan luar angkasa yang seru dan beat yang membuat kaki bisa ikut bergoyang jauh setelah film berakhir seperti bonus scene-nya Groot. Tone-nya boleh jadi lebih dekat ke epigon space adventures genre daripada balutan serius seperti ‘Star Wars’, tapi blend keseluruhannya, jelas ada di blockbuster kelas satu.

GOTG11

           Masih ada pula dukungan cast yang tak kalah keren dari ensemble utamanya. Dari Karen Gillan yang baru muncul dalam ‘Oculus’ sebagai Nebularival seimbang bagi Gamora, Michael Rooker, Lee Pace, Gregg Henry ke award class cast seperti John C. Reilly, Djimon Hounsou hingga Benicio Del Toro sebagai Taneleer Tivan/The Collector yang sudah kita lihat di post creditsThor : The Dark World’, uncredited Josh Brolin sebagai Thanos bahkan Glenn Close, ini tentu bukan ada di kelas yang main-main. Dan seperti biasanya, ada pula cameo dari Stan Lee, dan karena ini filmnya James Gunn, jelas ada Lloyd Kaufman dan dirinya sendiri di deretan cameo itu.

GOTG12

         Becoming the winner of this summer, bahkan mungkin sepanjang tahun ini, or Star Wars of this generation, sekali lagi, inilah kedigdayaan Marvel dan Feige. Kekuatan konsep dalam menuangkan adaptasi komik-komik mereka ke sebuah universe yang solid bernama Marvel Cinematic Universe. Saat kita berpikir mereka sudah sampai ke puncak yang tak mungkin bakal bisa lebih lagi, inovasi baru itu tak henti-hentinya mengejutkan kita. Dan ‘Guardians of the Galaxy’ jelas merupakan salah satu bukti paling kuat dari MCU, bahwa di saat menyuguhkan sesuatu dengan konsep penuh canda dari less popular characters dan kiprah seorang unlikely director saja, hasilnya bisa se-luarbiasa ini. This is how Marvel created their space adventure, and trust me, you’ll be hooked on a feeling. Ooga chaka! (dan)

GOTG10

THE EXPENDABLES 3 : THE FUN ACTION TRIVIA

•August 24, 2014 • Leave a Comment

THE EXPENDABLES 3

Sutradara : Patrick Hughes

Produksi : NuImage, Millennium Films, Lionsgate, 2014

EX35

            Jauh dari hanya sekedar action legends ensemble, atau dari beberapa aktor di dalamnya, sebuah reuni, ‘The Expendables’ memang sudah berkembang menjadi sebuah franchise dengan target pasar yang cukup solid. Begitupun, dengan elemen utama bongkar pasang cast dalam pengembangannya, Sylvester Stallone bersama Avi Lerner dari Millennium Films sebagai penggagasnya tentu tak bisa sekedar mengandalkan itu terus-menerus dalam paket jualannya. At least, memasuki instalmen ketiga ini, mereka sadar akan perlunya inovasi lebih dalam menggabungkan screen’s action icons ke dalam instalmen-instalmennya.

EX31

            Dalam ‘The Expendables 3’, disamping mengajak serta ikon-ikon film aksi dari Wesley Snipes, Antonio Banderas, Mel Gibson hingga Harrison Ford plus ikon antagonis Robert Davi, Stallone juga menambahkan bintang-bintang muda potensial di genre-nya lebih lagi demi mendongkrak box office-nya. Jika di film sebelumnya ada Liam Hemsworth yang tak lebih hanya jadi sekedar penghias, disini ada Kellan Lutz, Glen Powell, plus petinju profesional Victor Ortiz serta MMA artist Ronda Rousey. Menggamit duo penulis skrip dari ‘Olympus Has Fallen’ dan sutradara asal Australia Patrick Hughes (‘Red Hill’ dan remake HollywoodThe Raid’), kekuatannya jelas sangat menjanjikan. Sayangnya, beberapa minggu sebelum perilisannya, ‘The Expendables 3’ bocor ke internet, dan ini mau tak mau memang punya ekses ke perolehan box office-nya.

EX32

            Menempuh sebuah misi penyelamatan membebaskan Doctor Death (Wesley Snipes) dari sebuah penjara militer untuk mengajaknya ikut serta dalam tugas lain ke Somalia, Barney Ross (Sylvester Stallone), Lee Christmas (Jason Statham), Gunnar Jensen (Dolph Lundgren), Toll Road (Randy Couture) dan Hale Caesar (Terry Crews) ternyata dijebak oleh Conrad Stonebanks (Mel Gibson) yang punya hubungan ke masa lalu ‘The Expendables’. Merasa bersalah terhadap timnya dan ingin menuntut balas, Ross kemudian menjumpai Bonaparte (Kelsey Grammer) untuk merekrut anggota-anggota baru termasuk ex-marinir John Smilee (Kellan Lutz), ahli komputer Thorn (Glen Powell), sniper Mars (Victor Ortiz). Walau ditentang rekan-rekannya, Ross tetap meminta bantuan CIA operative Max Drummer (Harrison Ford) dan rival-nya, Trench (Arnold Schwarzenegger) yang sudah melacak keberadaan Stonebanks di Rumania. Tapi ternyata Stonebanks memang tak semudah itu bisa dikalahkan. Saat anggota barunya tertangkap dan menjadi sandera, Ross mau tak mau membiarkan seorang sharpshooter bermulut besar Galgo (Antonio Banderas) untuk membantunya. Rekan-rekannya pun tak tinggal diam, termasuk Drummer, Trench dan Yin Yang (Jet Li) yang sudah berpindah ke kubu Trench. The war is on again.

EX333

            Oh, you’ll be so naive kalau mengharapkan franchise seperti ‘The Expendables’ akan pernah punya inovasi di sisi plot-nya. Seperti target pasar dan pakem ‘80s no-brainer old fashioned action, resep selebihnya sudah jelas. Hanya ada plot yang dirancang seperlunya buat meletakkan karakter-karakternya saling beradu di medan perang yang baru lagi. Sepanjang masih ada living action legends yang tersisa untuk diajak serta diatas sebuah pameran aksi yang tetap bisa tergelar seru, so be it. Mau rating-nya jatuh ke PG-13 seperti yang banyak dikeluhkan pun, dari awal, franchise ini jelas bukan ‘Rambo’ yang penuh darah.

EX36

            However, bukan berarti ‘The Expendables 3’ ini sama sekali tak punya inovasi, dan tentu bukan hanya terletak di kontribusi bintang-bintang muda untuk merebut pasar tambahannya. Walau nyaris tak dikenal kecuali Lutz, mereka masih bisa membentuk side-ensemble yang sungguh tak jelek, apalagi Ronda Rousey yang bisa punya screen presence layak diantara para jago-jago tua ini. Skrip yang ditulis Creighton Rothenberger dan Katrin Benedikt dari ‘Olympus Has Fallen’ memang sekilas terlihat biasa dan bolak-balik hanya mencari alasan untuk sebuah pertempuran final, namun sentuhan Patrick Hughes menyempalkan sedikit subtext dramatisasi tentang ‘family’ diatas karakter-karakter mercenary ini masih bisa membawa tone yang sedikit berbeda dari kedua instalmen sebelumnya.

EX38

            Tapi hal terbaik dalam ‘The Expendables 3’ adalah bentukan karakter dalam ensemble barunya. Lebih dari apa yang mereka lakukan terhadap Chuck Norris, Bruce Willis, Schwarzenegger di instalmen sebelumnya, Snipes, Banderas dan Ford dipoles dengan banyak trivia ke filmografi terkenal mereka. Selagi Snipes membawa penggabungan ex-prisoner misteriusnya dalam ‘Demolition Man’ dan african-american hunk di ‘Passenger 57plus keahlian pisau ala ‘Blade’, Ford dan Banderas-lah juaranya. Never having this much fun sinceStar Wars’, Ford beraksi bak seorang Han Solo yang membantu Luke Skywalker menghancurkan Death Star di aksi klimaksnya, sementara Banderas mengulang salah satu karakter terbaik dalam filmografinya bersama Stallone, a bigmouthed-ambitious ass dalam ‘Assassins’ plus kenakalan ‘Puss In Boots’ ke dalam karakter Galgo. Dan jangan lupakan juga, tanpa ‘The Expendables’, sama seperti Van Damme di film sebelumnya, kita mungkin tak akan pernah melihat Mel Gibson diadu satu frame dalam one on one fight bersama Stallone.

EX37

            So yes, meski tetap punya segmentasi ke penggemar film action, sebagaimana instalmen-instalmen pendahulunya, ‘The Expendables 3’ sungguh bukan jadi sekedar pengulangan tak penting. Sama seperti penggunaan beragam kata trivia, bagi orang-orang di luar segmentasi itu, it could be just an unimportant facts. Tapi sebaliknya, jangan ditanya. Elemen-elemen barunya tetap bisa menghadirkan fun factor yang makin asyik dengan kombinasi bongkar-pasang serta keseruan baru mengulik homage-homage yang ditampilkan baik dalam dialog atau bentukan karakternya. Ini bukan hanya sebuah ensemble action yang eksplosif, but more than that, a real fun action trivia! (dan)

EX34

PLANES : FIRE AND RESCUE ; AN OVERLY SERIOUS AND MISFIRED DISASTER-TOON

•August 22, 2014 • Leave a Comment

PLANES : FIRE AND RESCUE

Sutradara : Roberts Gannaway

Produksi : DisneyToon Studios, Prana Studios, Walt Disney Pictures, 2014

PFR4

            It’s true. Kita sudah sampai ke zaman dimana animasi bukan lagi hanya jadi milik anak-anak semata. Tapi bukan berarti animasi-animasi kids-friendly sudah kehilangan pasarnya. Hanya saja, dalam budaya sinema, di tengah kian majunya teknologi dan inovasi dalam genre-nya, animasi-animasi kids-friendly ini jadi kerap disambut dengan sinis oleh penonton dewasa yang selalu mencari keseimbangan di dalamnya. However, mereka lupa, bahwa family movie, selalu punya celah untuk bisa berjaya di box office oleh jumlah penonton lebih dari orang dewasa yang membawa anaknya ke bioskop. Apalagi, ada bonus untuk segmentasi penonton dewasa lewat tributeTop Gun’ yang disempalkan sedikit ke dalamnya.

PFR1

            So, itulah yang terjadi dalam ‘Planes’ di tahun 2013 kemarin. Mau dituding hanya jadi aji mumpung Disney untuk pemasaran salah satu merchandise terlarisnya, dianggap sebagai spin-off yang tak perlu kecuali untuk memanjangkan umur franchiseCars’ di layar lebar, perolehan worldwide lebih dari empat kali lipat bujetnya, jelas memberi jalan untuk pengembangan sekuelnya. Dan oh, Disney bukan tak tahu itu. Meski punya predikat spin-off produksi Pixar, ‘Planes’ mereka alihkan ke divisi DisneyToon yang notabene memang lebih diperuntukkan untuk animasi-animasi kids-friendly ketimbang ada di kelas yang bisa mengakomodasi penonton dari segala kalangan umur.

PFR6

            Salahnya, kuping para eksekutif Disney termasuk John Lasseter agaknya jadi sedikit panas menghadapi cibiran-cibiran tadi. Ketimbang meneruskan ‘Planes’ tetap di ranah DisneyToon, mereka mulai mencari-cari inovasi untuk membungkam mulut pemirsa-pemirsa dewasa. Oke, trailer-nya paling tidak mengisyaratkan hasil yang ingin mereka capai. Sebuah gambaran disaster genre dalam balutan animasi yang jelas-jelas dibandrol judul ‘Fire And Rescue’. Toh, karakter-karakter pesawat hidup yang digagas seolah fable dengan karakter hewan itu tetap memberikan kesan kids-friendly-nya. Tapi apakah benar tak ada yang dikorbankan dalam usaha itu? Now let’s see the plot.

PFR3

            Melanjutkan kisah kemenangan Dusty Crophopper (tetap disuarakan Dane Cook) di ‘Wings Around The Globerace, karirnya terus menanjak, hingga sebuah peristiwa menghentikan semuanya. Mengetahui gearbox-nya rusak berat tanpa bisa diganti karena spareparts-nya tak lagi diproduksi, Dusty terpaksa menerima keputusan Dottie si forklift (Teri Hatcher) untuk memasang lampu peringatan dengan catatan ia tak bisa lagi melaju sekencang-kencangnya. Tapi musibah lain yang jauh lebih parah datang menyambung, membuat Dusty terpaksa meninggalkan rekan-rekannya menuju Piston Peak National Park, mengganti fungsinya menjadi pesawat pemadam api. Di bawah bimbingan Blade Ranger (Ed Harris), mantan aktor serial televisi terkenal ‘ChoPs’, Dusty yang masih uring-uringan lagi-lagi ditimpa masalah. Saat sebuah kebakaran besar membuat ia terjebak bersama Blade yang cedera, disitu pula ia menyadari trauma masa lalu Blade bisa benar-benar menepis keraguannya menjadi pesawat firefighter sejati.

PFR5

            So you see. Ada sesuatu yang mengganjal blend keseluruhannya untuk bisa menyatu menjadi apa yang mereka harapkan dari produk DisneyToon kali ini. Seperti air dengan minyak, plot kelewat adult-oriented plus disaster theme kebakaran hutan yang digagas Lasseter bersama Peggy Holmes, sutradara Roberts Gannaway dan penulis skrip Jeffrey M. Howard yang memang sebelumnya sudah banyak berkiprah di produk-produk DTV mereka, terasa terlalu jauh dengan tampilan lucu pesawat-pesawat spin-off ini.

PFR2

            Belum lagi, Howard terlihat kepayahan membangun pendewasaan karakter itu sampai hampir sama sekali melupakan sisi fun-nya sebagai animasi kids-friendly yang menyenangkan. Lihat saja bagaimana mereka menempatkan karakter Dusty bak seorang lead yang terus-terusan gagal hingga mengalami disabilitas ini dan itu seperti karakter yang saking sialnya sampai kehilangan body parts berkali-kali. Ini jelas menempatkan pemirsa kanak-kanaknya dalam situasi sangat tidak nyaman, dan masih ditambah pula dengan soal-soal trauma karakter Blade yang dibawakan Ed Harris secara terlalu serius dibalik pameran kebakaran hutan yang digelar dengan intensitas ala genre disaster.

PFR8

            Paling-paling hanya menyisakan sedikit kelucuan dari homage plesetannya ke serial teve ‘ChiPs’, lengkap dengan main theme serta icon-nya, aktor Erik Estrada yang menyuarakan karakter Nick ‘Loop’n’ Lopez, partner Blade, itu pun dalam segmentasi usia pemirsa yang jauh lebih tak se-universal nods ke ‘Top Gun’ di film pertama, karakter lainnya dari sederet nama-nama cukup dikenal seperti Julie Bowen, Wes Studi, Jerry Stiller sampai Hal Holbrook serta Teri Hatcher, Cedric The Entertainer dan Stacy Keach yang kembali sebagai Dottie, Leadbottom dan Skipper Riley-pun tak bisa tampil se-menarik side characters di film pendahulunya. Oke, scoring dari Mark Mancina memang bekerja membangun seru-seruan firefights-nya, namun dua theme song, ‘Still I Fly’ dari Spencer Lee dan ‘Runway Romance’ dari Brad Paisley sama sekali tak bisa mengulang atmosfer yang sama dalam ‘Planes’.

PFR7

             So, begitulah. Walau ‘Fire And Rescue’ ini tetap bisa dinikmati sebagai disaster toon yang seru, namun tone heroisme dan bangunan karakternya yang kelewat serius ternyata benar-benar menggerus semua fun factor untuk sasaran utamanya, yang notabene ada di kalangan pemirsa anak-anak sesuai divisi DisneyToon sendiri. Ini benar-benar not fun and cheerless, dan itu artinya jelas tak bagus, secara barisan penonton yang datang pertama kali ke bioskop adalah anak-anak yang menggandeng orangtuanya, bukan kebalikannya. Overly serious and misfired. Sayang sekali. (dan)

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES : COWABUNGA!

•August 12, 2014 • Leave a Comment

TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES

Sutradara : Jonathan Liebesman

Produksi : Nicklodeon Movies, Platinum Dunes, Gama Entertainment, Mednick Productions, Paramount Pictures, 2014

TMNT10

            Oh yeah. Just google it. As a word, ‘Cowabunga’, walau punya etimologi jelas dari sebuah serial TV anak-anak di AS, ‘The Howdy Doody Show’ (1947-1960), dan dipercaya berasal dari native American exclamation, punya sejarah penggunaan yang sangat panjang dan beragam. Maknanya bisa jadi mengarah ke hal-hal yang sama, sebagai sebuah eksklamasi kesenangan atau kegembiraan, tapi tetap saja, yang paling melekat padanya adalah ‘Teenage Mutant Ninja Turtles’ (TMNT).

TMNT2

 

 

            Berasal dari comic book series ’80-an dari Mirage Studios, ciptaan Kevin Eastman dan Peter Laird, popularitas superhero kura-kura ninja-mutan dengan nama yang diilhami 4 renaissance artists ini menanjak pesat menjadi pop kultur ikonik di akhir ’80 ke awal ‘90an lewat serial animasi berjudul sama yang bertahan dari 1987 ke 1996, diikuti perkembangan comic series dengan tone saling jauh berbeda, termasuk versi manga dan Archie Comics yang paling mendekati serial animasi itu, anime series, live-action series, film franchise (3 instalmen dari film pertamanya yang meraih sukses fenomenal tahun 1990 plus CGI animated movie 2007) hingga serial animasi terakhir yang dipegang Nicklodeon.

TMNT7

            So, sejarah panjang dengan berbagai rekor kesuksesan itu jelas membuatnya sangat pantas untuk terus dihidupkan kembali. Masalahnya, dalam deretan summer movies tahun ini, cukup banyak cibiran atas anggapan-anggapan bahwa franchise-nya sebenarnya sudah kehabisan nafas. Apalagi, pembaharuan tampilan Ninja Turtles dalam live-action reboot yang cenderung terasa agak menyeramkan dibalik teknik motion capture performance ini sedikit banyak menjadi tantangan cukup besar. Then again, yang mendampingi Nicklodeon mewujudkan ide ini adalah Michael Bay dengan Platinum Dunes-nya. Sebagaimana hujatan yang baru saja menyerang ‘Transformers’, kritikus boleh saja tetap membenci Bay plus reuninya dengan Megan Fox, meski penyutradaraannya ada di tangan Jonathan Liebesman (‘Battle L.A.’, ‘Wrath Of The Titans’). Tapi toh pada akhirnya, perolehan box-office-lah yang akan bicara. Dan Bay, jelas tahu bagaimana menggerakkan pasar.

TMNT9

            Sebagai reporter berita Channel 6 News di New York, April O’Neil (Megan Fox) yang selalu didampingi kameramen Vernon Fenwick (Will Arnett) yang diam-diam menaruh hati padanya, merasa jenuh dengan rutinitas pekerjaan yang dirasanya tak punya tantangan. Melawan atasannya (Whoopi Goldberg), April mulai mengikuti sepak terjang organisasi misterius Foot Clan dibawah pimpinan Shredder (Tohoru Masamune) yang kerap mengancam keselamatan New York. Penyelidikan ini kemudian membawanya pada sebuah pertemuan dengan sekelompok kura-kura vigilante dengan keahlian ninja yang berukuran dan bisa berbicara selayaknya manusia ; Leonardo (Pete Ploszek, voiced by Johnny Knoxville), Raphael (Alan Ritchson), Michelangelo (Noel Fisher) dan Donatello (Jeremy Howard). Sayangnya, tak ada yang percaya dengan cerita April termasuk Fenwick, kecuali kolega almarhum ayahnya, ilmuwan Eric Sacks (William Fichtner), yang didatangi April untuk memastikan kecurigaannya atas asal-usul mereka sebagai produk mutasi eksperimen masa lalu Sacks dan ayahnya (Paul Fitzgerald). Di saat yang sama, tikus Splinter (Danny Woodburn, voiced by Tony Shalhoub) yang mengasuh dan melatih empat Ninja Turtles ini memerintahkan mereka untuk mengamankan April. Dari Splinter-lah April akhirnya mengetahui sejarah masa lalu itu, namun Shredder dan Foot Clan sudah siap menyerbu gorong-gorong tempat persembunyian mereka dibalik niat jahat menghancurkan seisi kota dengan virus mematikan. April pun terpaksa bergabung dengan Ninja Turtles untuk menghentikan Shredder sekaligus menyelamatkan New York.

TMNT5

            Dengan sedikit twist untuk perombakan kecil origin story-nya, which is okay, karena sejarah panjang franchiseTMNT’ memang punya relativitas universe sangat longgar – variatif, sebenarnya skrip dari duo Josh AppelbaumAndré Nemec (‘M:I Ghost Protocol’) dan Evan Daugherty (‘Divergent’) ini tak terlalu jauh beda dengan konsep yang diusung instalmen pertama live action film-nya tahun 1990. Menggabungkan elemen-elemen dalam serial animasi ’80an-nya, dimana April O’Neil adalah seorang reporter dan beda masing-masing warna topeng Ninja Turtles sebagai pembeda teratas karakternya. Dark tone komik orisinilnya tetap terasa, hanya saja, sentuhan Bay memang menahannya tetap ada di ranah sangat pop ketimbang ‘TMNT’ versi 1990 yang jauh lebih kuat di feel independennya. Apalagi, Jonathan Liebesman sama-sama dikenal lebih mementingkan sisi komersil lewat sejumlah blockbuster dalam filmografinya.

TMNT6

              Dan mereka juga tak memerlukan karakter Casey Jones untuk mendistraksi porsi lead Ninja Turtles bersama April O’Neil yang ternyata bisa dibawakan dengan sangat baik lewat mo-cap performance aktor-aktornya bersama Megan Fox. Cukup dengan modifikasi karakter Vernon Fenwick, kameramen/rival April dalam serial animasinya, yang bisa bekerja dengan proporsional lewat akting komikal Will Arnett. Malah, dibandingkan instalmen-instalmen film ‘TMNT’ lainnya, versi 2014 inilah yang paling berhasil menghidupkan semua percampuran rupa-rupa elemen karakter Ninja Turtles plus Splinter, tak terkecuali Shredder dan algojo-algojo Foot Clan dibalik Japanese background-nya, yang pernah ada dalam sejarah panjang franchise-nya dengan solid, lengkap dengan sejumlah nods dan mocking ke genre-nya lewat dialog-dialog keren yang digelar Appelbaum-Nemec dan Daugherty, dari ‘X-Men’, ‘Batman’ hingga ‘Star Wars’, homage ke pop kultur ’90-an yang mewarnai sempalan komedinya dengan fun factor yang dahsyat (salah satunya lihat lift scene-nya), serta tentu saja persyaratan wajib makanan kegemaran mereka, pizza. With extra, even 12 layers of different cheese.

TMNT11

            Di tangan Megan Fox, usaha Bay dan timnya untuk mengingatkan kita bahwa salah satu template paling klise kisah-kisah superhero tentang female reporter yang setengah mati berniat membongkar origin karakter superhero sebenarnya bisa terlihat fresh dan sangat asyik,  juga tampil begitu hidup. Jauh dari tipikalisme ‘damsel in distress’ yang dilakoninya di ‘Transformers’, walau di beberapa bagian masih terasa auranya, Fox bisa membentuk blend yang erat bersama para kura-kura ninja dengan dayatarik luarbiasa yang dimilikinya. Meyakinkan kita bahwa sosoknya punya fungsi sangat besar berada di tengah-tengah plot klise genre-nya plus action sequence eksplosif ala Bay, berkali-kali, Will Arnett dan aktor lebih senior seperti William Fichtner sampai terlihat berakting dengan penuh kecanggungan saat berada dalam satu frame dengannya.

TMNT4

          Mo-cap characters-nya pun sama. Tak peduli tampilannya seaneh melihat 4 Ice Cube dalam satu film, hanya dengan dua voice actor yang dikenal, Johnny Knoxville dan Peter Shalhoub, bentukan karakter Ninja Turtles ini hadir dengan detil sangat kuat untuk bisa langsung dikenali, lengkap dengan interaksi khas antara karakter yang sering berseteru hingga asesoris senjata unik masing-masing dibalik potensi karakter favorit yang akan berbeda bagi tiap penontonnya, apakah itu Leo, boyscout paling lurus dengan leadership kuat, Raph the bad boy, free spirited Mikey atau Donnie the tech-geek.

TMNT1

        Namun yang paling menggelegar tentulah adegan-adegan aksi dan pameran efek visualnya. Sekali lagi, walau hanya sebagai produser, dari sejarah karir yang sangat dipengaruhi dua moguls di industrinya, Steven Spielberg dan Jerry Bruckheimer, Bay menunjukkan kedigdayaannya meng-handle faktor ini, menutupi sepenuhnya keberadaan Liebesman yang memang belum punya signature khas dari film-film sebelumnya termasuk benar-benar memanfaatkan teknologi teratas yang dimiliki ILM (Industrial Light & Magic), bahkan scoring Brian Tyler-pun terasa sangat Bay. Dengan peningkatan intensitas yang rapi dari awal menuju ke klimaks, ‘TMNT’ memang tak lantas seheboh boom-bangTransformers’, namun dari fights choreography-nya ke adegan ski-snow action yang meninggalkan semua action sequence James Bond jauh ke belakang plus roof-top explosive climax, adalah sesuatu yang tak pernah kita bayangkan bisa muncul di franchiseTMNT’. Gimmick 3D-nya hadir dengan depth yang bagus plus beberapa popped-up yang meski tak banyak tapi menyisakan satu out-of-frame scene yang keren. And oh, just when you thought they were forgetting that iconic word, ‘Cowabungayell-nya akan menaikkan level of excitement itu berlipat ganda.

TMNT3

              So, lagi-lagi, abaikan kebencian kritikus terhadap kiprah Bay memanjakan penontonnya dengan suguhan eye-candy dan pure form of entertainment. And no, trust me, kebanyakan mereka tak akan punya antusiasme sebesar itu buat mengikuti sejarah franchise pop culture macam ‘TMNT’. Selagi generasi baru penontonnya akan mendapat pengenalan yang solid, bothTMNTfans or even Splinter could never have guessed that their Leo, Raph, Mikey and Donnie could reach this level of awesomeness. Ketika franchise sekelas Nicklodeon bisa dengan mudah menggeser ‘Guardians of the Galaxy’-nya Marvel dari puncak box-office, semua kita akan tahu selebar apa jalan yang sudah disediakan Bay dan timnya untuk kelanjutannya nanti. Dan itu artinya, Cowabunga! (dan)

TMNT8

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 6,995 other followers